Você está na página 1de 7

( Artikel Tentang Totemisme )

Rafi Nurahman M (29) X-11

Totemisme, apa itu?


Written by Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si Sunday, 21 February 2010 02:54
Pernahkah anda mendengar atau mungkin mengetahui bahwa nama-nama hewan sepert igudel (anak kerbau), pedet (anak sapi), kancil, beluk (anak kuda) dan

sebagainya dijadikan nama diri atau nama panggilan seseorang? Bagi orang yang hidup di masyarakat modern, pemberian nama hewan sebagai nama diri tentu sangat aneh sepertinya kok tidak ada lagi nama lain yang lebih baik. Padahal, nama itu sangat penting karena menyangkut identitas, jati diri dan bahkan harga diri seseorang. Islam bahkan mengajarkan agar kita memberi nama yang baik kepada anak keturunan kita. Harapannya adalah agar kelak si anak akan menjadi orang baik, sebaik nama yang disandang. Kendati pujangga kenamaan Inggris William Shakespeare mengatakan What is in a name? (Apalah arti sebuah nama?), menurut saya persoalan nama bukan masalah sepele. Buktinya, orang bisa marah ketika namanya dilecehkan, dicemarkan atau dibuat permainan. Tidak percaya? Silakan mencoba. Saya yakin anda akan berurusan dengan aparat penegak hukum jika orang yang kita lecehkan namanya tidak terima. Lihat saja itu Dr. Chusnul Mariyah, anggota KPU, saat ini sedang berurusan dengan aparat penegak hukum karena dianggap melecehkan nama baik seseorang.

Kadang-kadang tidak saja nama hewan yang dipakai sebagai nama diri, tetapi juga nama-nama wayang, tanaman (tumbuhan), dan benda tertentu. Saya mempunyai tetangga yang anaknya dipanggil Pedhet. Anehnya, anak tersebut juag menerima saja dengan panggilan tersebut. Bahkan ada juga kerabat saya yang bernama Bagong. Ketika saya masih kecil, saya takut untuk memanggil namanya Pak Bagong. Saya mengira itu bukan nama sebenarnya atau mungkin penggilan akrab bagi orang sebaya. Ternyata saya salah. Bagong adalah nama dia sejak lahir. Padahal, orangnya tinggi besar, sama sekali tidak sama dengan Bagong yang ada dalam

pewayangan, gendhut dan cebol. Saya tidak tahu mengapa orangtuanya memberi nama dia Bagong. Mungkin saja ketika hamil, ibunya sangat suka wayang, khususnya Bagong atau nyidam wayang Bagong. He he! Opo yo ono? Nama Bagong ternyata juga dapat kita temukan di tempat lain. Anda yang sering bepergian Malang-Blitar pasti pernah tahu ada bus yang diberi nama Bagong. Menurut cerita teman saya, nama pemilik bus itu memang Pak Bagong. Kalau begitu, dia pasti orang kaya. Kalau tidak kaya, tidak mungkin dia memiliki beberapa bus. Realitasnya Pak Bagong ini sama sekali tidak sama dengan gambaran wayang Bagong, sebagai salah satu anggotapunokawan, yang merepresentasikan rakyat jelata yang miskin bersama Semar, Petruk, Gareng, dan Limbuk.. Selain Bagong, nama Gareng juga sering kita jumpai di masyarakat. Bahkan di Ponorogo ada penjual nasi tahu lonthong tradisional di tengah kota, langganan saya, bernama mbah Gareng. Nasinya lumayan enak dan bisa membuat kita tuman. Alasan saya semula membeli nasi tahu lonthong di tempat itu karena saya penasaran dengan

nama penjualnya. Seperti apa sih mbah Gareng itu? Jadi tidak karena ingin merasakan seperti apa rasanya nasi tahu lonthongnya. Ternyata orangnya cukup gagah, bahkan lebih gagah ketimbang saya. He he! Anak saya yang paling kecil

pernah nyelethuk orangnya gagah begitu, tapikok bernama mbah Gareng ya Pak? Kalau di pewayangan Gareng kan kecil ya pak? . Tanpa saya duga ternyata mbah Gareng mendengar celethukan anak saya tersebut. Tetapi mbah Gareng, yang ketika itu banyak pembeli yang dilayani, sama sekali tidak marah dan malah senyum-senyum saja mendengar bisik-bisik anak saya itu. Mungkin dia berpikir mengapa dahulu orangtuanya memberi nama dia Gareng. Atau dia berpikir walaupun namanya Gareng yang penting warung nasinya besar dan banyak duitnya daripada namanya mentereng, tapi gak punya duit. He he ! . Lho, kita tidak usah jauh-jauh bahas mbah Gareng yang di Ponorogo atau Pak Bagong yang punya bus jurusan Malang-Blitar. Warga besar Universitas ini kan pernah punya Ketua BEM bernama Obeng ! Dia punya nama asli yang cukup baik. Tetapi di setiap kesempatan, dia selalu mengenalkan diri dengan nama Obeng. Suatu kali saya pernah membuktikan bagaimana dia mengenalkan diri di depan publik. Ternyata benar. Dengan sangat percaya diri dia menyebut namanya Obeng.

Pembaca ! Bagaimana kita menjelaskan fenomena semacam itu dalam sebuah disiplin ilmu tertentu? Para pakar antropologi menyebut fenomena di atas sebagai totemism atau

totemisme. Mungkin tidak banyak orang mengenal istilah totemism atau totemisme, apalagi memahami artinya. Sebab, ia adalah istilah teknis dalam antropologi. Menurut The New Grolier Webster International Dictionary of the English LanguageVolume II (1974: 1040), totemism adalah The practice of having totems; the system of tribal division according to totems; belief in relationships between people or groups of people and totems. Totem sendiri diartikan sebagai Among primitive culture, an object or thing in nature, often an animal, assumed as the token or emblem of a clan, family, or related group; a representation of such an object serving as a distinctive mark of the clan or group. Jika diartikan secara bebas totemisme adalah praktik penggunaan nama-nama hewan, tanaman atau benda tertentu sebagai nama diri karena adanya pandangan tentang hubungan personal yang bersifat sakral antara individu dalam masyarakat primitif dengan hewan, benda, dan tumbuhan tertentu di sekitarnya. Jadi kata kuncinya adalah totemisme terjadi di masyarakat primitif atau tradisional, di mana orang mempercayai bahwa hewan, tumbuhan, atau benda tertentu memiliki nilai sakral. Oleh karena itu, nama-nama hewan, tumbuhan dan benda-benda tertentu seperti pedhet, pecok, kancil, gareng dan sebagainya kita jumpai untuk dijadikan nama diri agar pemakai nama tersebut selamat, banyak rezeki, hidupnya tenteram dan lain sebagainya. Belakangan fenomena totemisme tidak saja dikaji oleh para ahli atau peminat studi antropologi, tetapi juga antropolinguistik dan sosiolinguistik. Dua kelompok pengkaji terakhir berangkat dari tesis SapirWhorf, dua peneliti bahasa dan budaya yang

menawarkan hipotesis language shapes culture, yakni bahasa dapat menentukan sosok kebudayaan. Cara berpikir adalah bagian dari kebudayaan. Jadi bahasa atau kata dapat membentuk sosok pikiran kita. Hipotesis Sapir-Whorf berbeda dengan pandangan para teoretisi sebelumnya yang berasumsi bahwa pikiranlah yang membentuk bahasa. Jadi bahasa terbentuk setelah pikiran ada, sebuah asumsi yang terjadi bagi kebanyakan orang. Dapat diilustrasikan pula bagaimana jika seseorang diberi label maling di sebuah masyarakat. Kata maling tersebut pasti melahirkan sederet definisi atau pandangan tentang orang tersebut, seperti jahat, jelek, dihindari, diwaspadai dan sebagainya. Dengan kata lain, kata maling sangat menyiksa dia. Dengan demikian, bahasa benarbenar telah menjadi penjara bagi orang itu. Language is a real prison. Dengan menggunakan hipotesis Sapir-Whorf tersebut, maka jika Pedhet dipakai sebagai nama diri seseorang kita bisa membayangkan atau berpikir sosok manusia atau orang macam apa pengguna nama pedhet itu. Begitu juga seterusnya untuk nama-nama tumbuhan, atau benda-benda tertentu yang lain. Karena totemisme itu umumnya terjadi di masyarakat primitif atau tradisional, kendati istilah primitif atau tradisional didefinisikan secara berbeda-beda oleh para sosiolog, maka untuk membayangkan sosok pikiran macam apa yang terjadi pada pengguna totemisme tersebut tampaknya kita perlu berempati dulu dengan anggota masyarakat primitif. Para penggagas aliran fenomenologi menganjurkan untuk memahami dunia batin seseorang kita harus belajar berempati dengan seseorang tersebut, kendati kita

tidak harus menjadi dia. Sebab, meminjam istilah Brian Fay dalam Contemporary Philosophy of Social Science (1998: 9)We dont have to be one to know one. Artinya, untuk memahami seseorang, kita tidak harus menjadi orang itu, dan memang tidak mungkin. Tetapi ketika saya sedang mencoba memahami fenomena totemisme secara komprehensif, tiba-tiba dari benak saya muncul pkiran apa benar totemisme itu hanya terjadi di masyarakat primitif atau tradisional, seperti di daerah-daerah pedesaan di Indonesia. Sebab, tidakkah di masyarakat yang super maju seperti Amerika fenomena totemisme juga terjadi? Banyak orang Barat bernama Mr. Hill, Mr. Can, Mr. Wood dan sebagainya. Bahkan, bukankah Presiden Amerika Serikat saat ini bernama Bush, yang dalam bahasa Indonesia berarti semak? Dan, semak adalah nama tumbuhan. Lalu dengan demikian apa kita bisa menyebut Amerika sebagai masyarakat primitif atau tradisional? Kalau begitu pembahasan tentang totemisme memang tidak akan selesai dalam tulisanKolom ini. Lebih baik kita bahas secara tuntas dalam diskusi di matakuliah antropologi, antropolinguistik atau sosiolinguistik. Atau, di lain kesempatan jika waktu memungkinkan.

( Sumber : http://mudjiarahardjo.com/artikel/113-totemisme-apa-itu.html )