Você está na página 1de 4

Analisis Proses Mediasi Sebagai Metode Penyelesaian Sengketa Non-Litigasi

Oleh : Muhammada Anugrah Putra Mawaddi Lubby Febri Harianto Aji Peri Sandria

Perkembangan hubungan antar negara di dunia yang semakin pesat di era globalisasi menyebabkan berkembangnya potensi konflik antar negara yang diakibatkan berbagai perbedaan mengenai sebuah fakta. Baik fakta hukum maupun fakta sosial. Konflik tersebut tak jarang menimbulkan sengketa internasional antar negara. Menurut Mahkamah Internasional, Sengketa internasional adalah suatu situasi ketika dua negara mempunyai pandangan yang bertentangan mengenai dilaksanakan atau tidaknya kewajiban-kewajiban dalam perjanjian 1. Dalam rangka menyelesaikan sengketa tersebut, dikenal dua cara, yakni melalui jalur kekerasan atau perang dan melalui jalur damai. Namun Hukum Internasional melalui konferensi Den Haag tahun 1899 dan 1907 menyatakan bahwa para negara (anggota) berupaya secara maksimal untuk menyelesaikan sengketa internasional secara damai2. Oleh karena itu dewasa ini, guna mewujudkan perdamaian dan keamanan internasional, Hukum Internasional seperti konvensi Den Haag maupun Piagam PBB sudah mewajibkan bagi setiap negara anggota untuk menyelesaikan sengketa Internasional melalui jalur damai. Disamping Konvensi Den Haag dan Piagam PBB, metode penyelesaian sengketa internasional secara damai diatur juga dalam Briad Kelloct Pact 1928. Penyelesaian sengketa melalui jalur damai dikenal terdapat

beberapa macam, yang salah satu di antaranya adalah melalui proses


1

Martin Dixon and Robert McCorquodale, Cases and Materials on International Law, London:Blackstone, 1991, hlm. 511. 2 Huala Adolf, Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Jakarta, cetakan ke-3, 2008, hlm. 11

mediasi. Mediasi adalah Mediasi adalah penyelesaian sengketa yang biasanya dilakukan secara informal yang membutuhkan peran pihak ke tiga yang netral untuk membantu para pihak untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi diantara para pihak yang sedang mengalami sengketa. Pihak ketiga tersebut dapat negara, organisasi internasioal maupun individu . di mana pihak tersebut harus berperan netral dan aktif dalam menyelesaikan sengketa antar kedua belah pihak. Dalam menjalankan fungsinya mediator tidak tunduk pada suatu aturan hukum acara tertentu dan ia dapat menyelesaikan sengketa atas inisiatifnya sendiri ataupun karena diminta oleh kedua belah pihak yang bersengketa. Mediator bebas untuk menentukan bagaimana proses penyelesaian sengketa berlangsung. Mediator dapat menggunakan asas ex aequo et bono (kepatutan dan kelayakan). Oleh karena itu, mediasi sering kali digunakan untuk menyelesaikan sengketa yang sifatnya sensitif3. Mediasi bertujuan untuk menciptakan adanya suatu kontrak atau hubungan langsung diantara para pihak. Dengan kata lain tujuan dari proses mediasi adalah dapat tercapainya kesepakatan diantara negara yang berkonflik atau paling tidak dapat terjalin komunikasi diantara negara yang berkonflik mengenai permasalahan yang sedang mereka hadapi. Sedangkan fungsi mediasi adalah untuk merencanakan suatu penyelesaian yang dapat memuaskan kedua pihak. Yang dapat berperan menjadi mediator dalam sebuah proses mediasi bisa negara, individu, organisasi internasional, atau pihak lain yang dapat membantu penyelesaian sengketa diantara negara yang berkonflik. Mediator dapat bertindak atas inisiatif sendiri dengan menawarkan jasanya sebagai mediator, atau menerima tawaran untuk menjalankan fungsinya atas permintaan dari salah satu atau kedua belah pihak yang bersengketa. Yang terpenting adalah mediator disepakati oleh para pihak yang bersengketa. Dalam proses mediasi, terdapat beberapa tahapan. Riskin dan Westbrook membagi tahapan mediasi menjadi 5 tahapan yaitu:
3

Ibid, hlm. 34

1. Sepakat untuk menempuh proses mediasi; 2. Memahami masalah-masalah; 3. Membangkitkan pilihan-pilihan pemecahan masalah; 4. Mencapai kesepakatan; 5. Melaksanakan Kesepakatan. Sedangkan Kovach membagi proses mediasi kedalam 9 tahapan sebagai berikut: 1. Penataan atau pengaturan awal; 2. Pengantar atau pembukaan oleh mediator; 3. Pernyataan pembukaan oleh para pihak; 4. Pengumpulan informasi; 5. Identifikasi masalah-masalah, penyusunan agenda, dan kaukus; 6. Membangkitkan pilihan-pilihan pemecahan masalah; 7. Melakukan tawar menawar; 8. Kesepakatan; 9. Penutupan.4 Proses penyelesaian sengketa ini hampir mirip dengan konsiliasi. Perbedaannya , pada mediasi umumnya mediator memberikan usulan penyelesaian sengketa secara informal dan usulan tersebut didasarkan pada laporan yang diberikan oleh para pihak dan bukan dari hasil pengamatannya sendiri. Dan saran yang diberikan oleh mediator tidak bersifat mengikat, melainkan hanya berupa saran dan bersifat rekomendatif. Sehingga tidak menutup kemungkinan bagi kedua belah pihak untuk tetap menyelesaikan sengketanya melalui jalur pengadilan.
4

http://wisnu.blog.uns.ac.id/2011/05/15/mediasi-sebagai-salah-satu-penyelesaiansengketa-internasional/ diposting oleh Wisnu tanggal May 15, 2011 at 11:18 pm