SEJARAH LAHIRNYA QO’IDAH FIQHIYAH

Diajukan untuk salah satu tugas mata kuliah: Aplikasi Qawa’id Fiqhiyyah Dalam Istinbath Hukum

Dosen Pembimbing: Dr. H. Sutrisno, RS, M.Ag

Oleh: Wildana Setia Warga Dinata Zaenal Arifin (08 3911015) (08 3911016)

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA PROGRAM PASCA SARJANA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JEMBER MARET 2013

Selain itu juga akan lebih moderat di dalam menyikapi masalah-masalah sosial. Hal ini tidak lain karena kaidah fiqh sebagai hasil dari cara berfikir induktif. Dengan demikian. politik. Latar Belakang Qawaid fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqh) merupakan salah satu kebutuhan bagi kita semua. Jika kita lihat. Dengan menguasai kaidah-kaidah fiqh kita akan mengetahui benang merah dalam menguasai fiqh. penelusuran terhadap sejarah pertumbuhan. Untuk itu penulis merasa perlu untuk melakukan sebuah kajian mengenai kaidahkaidah fiqhiyah ini yang nantinya kan menjadikan sebuah pemahaman secara komprehensip tentang masalah kaidah fiqhiyah ini. Kitab-kitab sejarah perkembangan hukum Islam tidak mengkaji qawaid fiqhiyyah. apalagi sampai menjelaskan kegunanaan (urgensi) dan kedudukannya dalam hukum Islam. keadaan yang berlainan. adat kebiasaan. tentang latar belakang sejarah perkembangan hukum Islam tidak mengkaji qawaid fiqhiyyah secara menyeluruh. dengan meneliti materi-materi fiqh yang banyak sekali jumlahnya yang tersebar di dalam ribuan kitab fiqh. Begitu juga. . sejarah perkembangan hukum Islam (Tarikh Al-Tasyri’ Al-Islami) tidak menguraikan qawaid fiqhiyyah secara komperhensif (menyeluruh). sedikit banyak akan dapat memberikan kejelasan tentang kegunaan (urgensi) dan kedudukan qawaid fiqhiyyah dalam hukum Islam.1 BAB I PENDAHULUAN A. perkembangan dan pengkodifikasian qawaid fiqhiyyah sangat penting dilakukan. ekonomi. budaya dan lebih mudah mencari solusi terhadap problem-problem yang terus muncul dan berkembang dalam masyarakat. Penelusuran tersebut. karena kaidah fiqh itu menjadi titik temu dari masalahmasalah fiqh dan lebih arif dalam menerapkan fiqh dalam waktu dan tempat yang berbeda untuk kasus. Namun pada kesempatan kali ini penulis hanya membahas pada seputar sejarah kaidah fiqhiyah tersebut.

Bagaimana Sejarah Lahirnya Qa’idah Fiqhiyyah pada masa Pembentukan? Bagaimana Sejarah Lahirnya Qa’idah Fiqhiyyah pada masa Perkembangan dan masa kematangan? C. Mendiskripsikan Pembentukan. maka penulis merumskan sebuah rumusan masalah sebagai berikut: 1. . 2.2 B. Mendeskripsikan Sejarah Lahirnya Qa’idah Fiqhiyyah pada masa Sejarah Lahirnya Qa’idah Fiqhiyyah pada masa Perkembangan dan masa kematangan. 2. Tujuan Pembahasan Adapun tujuan pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Rumusan Masalah Agar supaya pada pembahasan kali ini tidak melebar dan fokus.

dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan kata 'kaidah' yang berarti aturan atau patokan. 1969). Dan berdasarkan hadith Nabi SAW ‫مه يزد هللا به خيزا يفمهه فً الذيه‬ 1 Ahmad Muhammad Asy-Syafii. makna tersebut diambil dari firman Allah SWT: ‫ليخفمهىا فً الذيه‬ Artinya: "Untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama"(QS. 4. Min Falsafatil Tasyri' Islam.3 BAB II PEMBAHASAN A. Ahmad ash-Syafi'i dalam Bukunya Ushul Fiqih Islami menyatakan bahwa kaidah adalah: ‫المضايا الكليت الخً ينذرج ححج كل واحذة منها حكم جزئياث كثيزة‬ Arinya: "Hukum yang bersifat universal (kulli) yang diikuti oleh satuan-satuan hukum juz'i yang banyak". 2 Sedangkan arti Fiqhiyah diambil dari kata al-fiqh yang diberi tambahan ya' nisbah yang berfungsi sebagai penjenisan atau membangsakan. at-Taubah: 122). yaitu qawaid dan fiqhiyah. 171-172.1 Sedangkan bagi mayoritas ulama ushul mendefinisikan kaidah dengan: ‫حكم كلي ينطبك علً جميع جزئياحه‬ Artinya: "Hukum yang biasa berlaku yang bersesuaian dengan sebagian besar bagian-bagiannya". Pengertian Dalam pengertian ini ada dua term yang perlu penulis jelaskan terlebih dahulu. dalam tinjauan terminologi kaidah mempuyai beberapa arti. 2 Fathi Ridwan. 1983). Kata qawaid merupakan bentuk jama' dari kata qaidah. Secara etimologi makna fiqih lebih dekat dengan mekna ilmu sebagaimana yang banyak dipahami oleh para sahabat. (Kairo: Darul katib al-Araby. Ushul Fiqh Al-Islami (Iskandariyah Muassasah Tsaqofah Al Jamiiyah. .

3 Atau dengan kata lain: ‫الفضايا المخعلمت باألسس الخً بنً عليها الشارع أحكامه واألغزاض الخً لصذ إليها بخشزيسعه‬ Artinya: "Hukum-hukum yang berkaitan dengan asas hukum yang di bangun oleh syari' serta tujuan-tujuan yang dimaksud dalam pensyariatannya". Masa Pembentukan Sejarah Qawa’id Fiqhiyyah sebenarnya tidak terlepas dari masa terdahulu. 25 Ibid. Pada masa-masa ini keberadaan sebuah ilmu masih dalam bentuk bakunya yang bersumber dalam Al-Quran maupun keterangan-keterangan Nabi Muhammad yang dikenal dengan Sunnah. Prosesnya inilah yang selanjutnya melahirkan 3 4 Hasbi as-siddiqy. Akan tetapi.5 Beliau adalah penjelas utama dari kandungan ayat-ayat al-Quran dalam menghadapi problematika kehidupan yang memerlukan hukum baru. 27 5 Ahmad Sudirman Abbas. 1975). Rasululah akan menggali hukum dengan beristinbat terhadap ayat-ayat al-Quran apabila keterangannya masih global. Konteks keilmuan secara umum pada abad-abad pertama belum memiliki sistematika dan metodologi khusus. Bukhari Muslim) Dari uraian pengertian diatas baik mengenai Qawaid maupun Fiqhiyah maka yang dimaksud dengan Qawaidul Fiqhiyah adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam tajjudin as-Subki: ‫األمز الكلً الذي ينطبك عليه جزئياث كثيزة يفهم أحكامها منها‬ Artinya: "Suatu perkara yang bersesuaian dengan juziyah yang yang banyak yang dari padanya diketahui hukum-hukum juziyat itu". (Jakarta: Bulan Bintang.4 B. Pengantar Hukum Islam. masa Sahabat. Hal ini disebabkan segala persoalan yang dihadapai ketika itu dijelaskan secara langsung oleh Nabi Muhammad. Sejarah Qawa’id Fiqhiyyah (Jakarta: Radar Jaya Offset. 2004). dan masa Tabi’in. Akibatnya ijtihad yang masih berada diantara benar atau salah tidak diperlukan.4 Artinya: "Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah niscaya diberikan kepadanya kepahaman dalam agama". Di sisi lain. 1 .(HR. yaitu pada masa Nabi Muhammad SAW. benih-benih kaidah sebenarnya sudah ada semenjak masa Nabi.

Atas dasar ciri dominan tersebut. Dengan demikian. Artinya pada masa Nabi ini setiap ada permasalahan yang muncul. dianggap sebagai zaman kejumudan. Periode Nabi Muhammad SAW Berlangsung selama 22 tahun lebih (610-632 H). ulama menetapkan bahwa hadith yang mempunyai ciri-ciri tersebut dapat dijadikan kaidah fiqh. yang mendirikan mazhab jaririyah. Pada periode ini. oleh sahabat langsung ditanyakan kepada Nabi. ketika fiqh telah mencapai puncak kejayaan. Oleh karena itulah periodesasi sejarah kaidah fiqih dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. dan zaman tabi’in serta tabi’ tabi’in yang berlangsung selama 250 tahun (724-974 M / 100-351 H). Pada proses munculnya Qawaid Fiqhiyyah dapat dikelompokan dalam tiga fase. yaitu:6 1. Tahun 351 H / 1974 M. Ilmu pengetahuan hanya berkisar pada masalah qira’ah dan mendengarkan Hadith-Hadith Nabi serta mengaplikasikan dan mengembangkan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Nabi ketika menghadapi persoalan-persoalan yang baru. tidak ada spesialisasi ilmu tertentu yang dikaji dari al-Qur’an dan al-Hadith.5 proses pembentukan hukum-hukum Islam termasuk Qawaid Fiqhiyyah. kaidah fiqh baru dibentuk dan ditumbuhkan. banyak memaki pola qaidah umum yang artinya dapat mencakup dan 6 Ibid. Atas Keterangan di atas dapat dipahami bahwa keberadaan Qawaid Fiqhiyyah pada periode awal masih dalam tunas perkembangan. Ciri-ciri kaidah fiqh yang dominan adalah Jawami al-Kalim (kalimat ringkas tapi cakupan maknanya sangat luas). Ulama pendiri mazhab terakhir adalah Ibn Jarir al-Thabari (310 H/ 734 M). Semangat Sahabat sepenuhnya dicurahkan kepada jihad dan mengaplikasikannya apa yang diperoleh dari Nabi berupa ajaran al-Qur’an dan alHadith. 12 . Hadith-Hadith Nabi yang membicarakan tentang hukum. karena tidak ada lagi ulama pendiri mazhab.

Op. 256 H) dalam kitabnya Shahih al-Bukhari: ‫( مماطع الحمىق عنذ الشزوط‬Penerimaan hak berdasarkan kepada syarat-syarat). Cit. ‫( الخزج بالضمان‬hak menerima hasil karena harus menanggung kerugian) b.6 menempuh seluruh persoalan-persoalan fiqih (Jawami’ al Kalim). 9 . Walaupun Hadith tersebut secara formal belum disebut kaidah tetapi tetap sebagai hadith saat itu. Qawa’id Fiqhiyyah (Jiddah: Da’r al-Basyir. Hadith-Hadith diatas berbentuk ungkapan yang berpola qaidah fiqih. Pernyataan Umar bin Khatab ra (w. Pinjaman adalah amanah b. Hutang harus dibayar c.23 H) yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (w. seperti: a. ‫( العجماء جزحها جبار‬kerusakan yang dibuat oleh kehendak binatang sendiri tidak dikenakan ganti rugi) Menurut para ahli fiqih. karena turut serta membentuk kaidah fiqh. Periode Sahabat Sahabat juga berjasa dalam ilmu kaidah fiqh. yaitu mereka adalah murid Rasulullah SAW dan mereka tahu situasi yang menjadi turunnya wahyu dan terkadang wahyu turun berkenaan dengan mereka. 7 8 Al-Allamah Jalal Al-Faqih Mustafa Dziraq. Para sahabat dapat membentuk kaidah fiqh karena dua keutamaan. Athar (pernyataan) sahabat yang dapat dikatagorikan Qawaid Fiqhiyyah diantaranya adalah sebagai berikut: a. 90 Ahmad Sudirman Abbas. Berdasarkan uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa dari sekian ribu Hadith terdapat Hadith-Hadith yang memiliki karakter yang sama dengan kaidah fiqih yang keberadaannya sangat penting dalam ilmu fiqh. 2000).8 2. Orang yang menjamin adalah penanggung Hadith-Hadith diatas memiliki arti umum yang mencakup beberapa aspek hukum dan merangkul masalah-masalah yang bersifat subordinatif. Seperti Hadith yang berbunyi:7 a.

Pernyataan Ali bin Abi Thalib ra (w. dan f. An-Nakahi di Kuffah. fiqih tidak hanya mampuh menjelaskan persoalanpersoalan Waqi’iyyah (aktual) namun lebih dari itu. d. 12-13 .211 H): ‫( مه لاسم الزبح فال ضمان عليه‬Orang yang membagi keuntungan tidak harus menanggung kerugian). Dimana hal yang menonjol pada masa ini yaitu dimulai pendasaran terhadap ilmu fiqih. Cit. Thawus di Yaman. Hasan al basri di Basrah. Atha bin Abi Rabah di Makah.9 3. Sejarah Qaidah Fiqhiyah. (http://nurieas. Sehingga. Athar Umar bin Khatab ra di atas menjadi kaidah dalam masalah syarat. c. b. Kelompok kajian ini pada setiap daerah biasanya di kepalai oleh para tabi’in seperti:10 a. Op. 40 H) yang diriwayatkan oleh Abd alRazaq (w. e. seperti mudharabah dan syirkah. Berbeda dengan masa Khulafa al-Rasyidun.com. 9 Nur Aslami. Banyak hukum fiqih yang di produksi oleh proses penalaran terhadap teori di bandingkan hukum fiqih yang di hasilkan dari pemahaman terhadap kasus-kasus yang pernah terjadi sebelumnya yang disamakan dengan kasus baru. pada masa ini kajian fiqih masuk dan lebih condong pada wilayah teori. Athar Ali bin Abi Thalib menjadi kaidah yang subur dalam bidang persoalan harta benda.blogspot.7 b. Makhul di Syam. Periode Tabi’in Mengenai keberadaan Qawaid Fiqhiyyah pada masa tabi’in. 2011) diakses tanggal 20 Maret 2013 10 Ahmad Sudirman Abbas. bisa dikatakan pada masa ini adalah masa awal perkembangan fiqih. Said bin Musayyab di Madinah. Pada periode ini juga ditandai dengan munculnya para ulama-ulama fiqih atau para pembesar dan muridmuridnya yang memberikan pengarahan-pengarahan kepada kelompok masarakat yang mengkaji fiqih ketika itu.

Hal ini berbeda dengan masa khulafa al-rasyidun yang menjadikan fiqih berada dalam wilayah praktek sebagaimana yang ada pada masa Nabi. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa ada masa pendasaran ini adalah awal dari kecenderungan fiqih untuk berada pada wilayah teori.11 Melalui proses yang panjang dalam masa perkembangan dan pembentukan akhirnya melahirkan nama baku untuk kajian keilmuan ini yaitu Ilmu al-Qawaid al-Fiqhiyyah (kaidah-kaidah fiqih) atau dalam terminolgi lain dikenal alAsybah wa al-Nazhair (hal yang serupa dan sebanding). Djazuli. periode ini merupakan awal perubahan fiqih dari sifatnya yang Waqi’iyah (aktual) menjadi nazariyyah (teori). . Op. Maarif al-Afrad dan al-Khiyal. Hal ini ditandai dengan banyaknya bermunculan madzhabmadzhab yang diantaranya adalah madzhab yang empat (Madzhab Hanafi. al-Faruq. 134 A. 7 13 Ahmad Sudirman Abbas.Afrad. al-Alghaz.13 Setelah melewati masa pendasarannya ilmu fiqh mengalami perkembangan yang sangat pesat. Muthorohat al. 2010). Masa Perkembangan Dan Pembentukan Uraian mula-mula metode ini diberi nama atau di kenal dengan al-Qowaid atau ad-Dhawabid. 11 12 Al-Allamah Jalal Al-Faqih Mustafa Dziraq. 2000). Cit. Qawa’id Fiqhiyyah (Jiddah: Da’r al-Basyir. Kidah-Kaidah Fiqih : Kidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan MasalahMasalah yang Praktis (Jakarta: Fajar Interpratama Offset. Sehingga. Madzhab Maliki.12 1. banyak hukum fiqih yang di produksi oleh proses penalaran terhadap teori di bandingkan hukum fiqih yang di hasilkan dari pemahaman terhadap kasus-kasus yang pernah terjadi sebelumnya yang disamakan dengan kasus baru. Pada periode ini adalah adalah masa awal perkembangan fiqh karena pada masa inilah dimulai pendasaran terhadap ilmu fiqih. fiqih tidak hanya mampuh menjelaskan persoalan-persoalan waqi’iyyah (aktual) namun lebih dari itu. Masa Perkembangan Perkembangan Qawaid fiqhiyyah terjadi pada masa tabi’in. Disamping itu juga.8 C. Dengan masuknya fiqih pada wilayah teori. Madzhab Syafi’i dan Madzhab Ahmad) sebagaimana yang telah kita ketahui.

Djazuli digambarkan bahwa skema pembentukan kaidah fiqih adalah sebagai berikut:15 Al-Qur’an. Dalam buku kaidah-kaidah fiqih karangan A. dikalangan ulama di bidang fiqih menyebutkan bahwa Abu Thahir al-Dibasi. Setelah kurang lebih seratus tahun kemudian. pembukuan. Hadith (1) Ushul Fiqh (2) Fiqh (3) Kaidah Fiqh (4) Kaidah Fiqh (6) Fiqh (7) Qanun (8) Pengujian Kaidah (5) 14 15 A. Cit. 13-14 . hingga penyempurnaannya pada akhir abad ke-13 H. 12 Ibid. 2. Walaupun demikian. datang Ulama besar Imam Abu Hasan alKarkhi yang kemudian menambah kaidah fiqih dari Abu Thahir menjadi 37 kaidah. Masa Pembentukan Sulit diketahui siapa pembentuk pertama kaidah fiqih yang jelas dengan meneliti kitab-kitab kaidah fiqih dan masa pembentukannya secara bertahap dalam proses sejarah hukum Islam. Maka para Ulama membutuhkan metode yang mudah untuk menyelesaikan masalah kemudian muncullah kaidah-kaidah fiqih.14 Kemudian Abu Saad Al-Harawi.9 Perkembangan berikutnya mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Ketika itu. dari menulis. tantangan dan masalah-masalah yang harus dicarikn solusinya bertambah beriringan meluasnya wilayah kekuasaan kaum muslim. Keterangan diatas menerangkan bahwa kaidah-kaidah fiqih muncul pada akhir abad ke-3 Hijriah. Djazuli. Op. ulama dari mazhab Hanafi yang hidup diakhir abad ke-3 dan awal abad ke-4 H telah mengumpulkan Kaidah fiqih mazhab Hanafi sebanyak 17 kaidah. seorang ulama mazhab Syafi’i mengunjungi Abu Thahir dan mencatat kaidah fiqih yang dihafalkan oleh Abu Thahir.

12 Yaitu kitab Ta’sir al-Nadlar karya al-Dabusi. Cit. Setelah ini. Hal ini terbukti dengan ditemukan kitab tentang qaidah pada abad ini. diperkirakan abad ke-4 H adalah tahap kedua dari periode kemunculan dan awal penulisan kaidah fiqhiyyah. al-Suyuti dan Ibnu Nujaim.10 D. Pada abad ke-7 H qaidah fiqhiyyah mengalami perkembangan yang sangat signifikan walaupun terlalu dini untuk dikatakan matang. Masa Kematangan Menurut. 33-34 . Imam Izzudin Abdul as Salam (w. Diantara ulama yang menulis kitab qaidah pada abad ini adalah Al Allamah bin Ibrohim AL Jurjani al Sahlaki (W. Adapun orang yang pertama kali memberikan informasi tentang pengumpulan kaidah fiqhiyyah dalam mazhab Hanafi adalah Imam al-Ala’i alAyafi’i. data sejarah bahwa ahli fiqih yang pertama kali menekuni kaidah dan memperluas sampai pada furu’nya untuk dijadikan kaidah adalah ahli fiqih dari kalangan mazhab Hanafi seperti yang dilakukan oleh Imam Muhammad dalam kitab al-Ashal. 16 Ahmad Sudirman Abbas. Pada abad ke-5. 660 H) dengan karyanya Qawaid al-Ahkam fi mashalih al Anam. datang Ulama besar Imam Abu Hasan alKarkhi yang kemudian menambah kaidah fiqih dari Abu Thahir menjadi 37 kaidah. Muhammad bin Abdullah bin Rasyid al Bakri al Qafshi (w. 613 H) dengan karyanya al-qawaid fi furu’I al Syafi’iyyah.16 Sedangkan dari mazhab syafi’i ialah Abu Saad Al-Harawi yang mengunjungi Abu Thahir dan mencatat kaidah fiqih yang dihafalkan oleh Abu Thahir. Op. Oleh sebab itu. 685 H) dengan karyanya Al Mudzhab fi Qawaid al Madzhab. baru pada abad ke-6 muncul satu kitab yang ditulis oleh Ala’uddin Muhammad bin ahmad al-Samarqandi dengan judul Idhah al-Qaidah. Masa Kematangan dan Penyempurnaan 1. Setelah kurang lebih seratus tahun kemudian. Imam Abu Zaid al-Dabusi menambah jumalah kaidah imam karakhi.

karya Muhammad bin Muhammad Al-Zubairiy(w. Al-majmu’u Al.716 H). kitab itu ia beri nama. karya al-la’i AlAyafi’i.794 H). dan e) Al-Qawa’id wa al-dlawaabid karya abdul hadi (w.758 H).771 H). e) Al-Sybah wa al-Nazair.880 H). karya bahruddin al-Zarkasyi al-Syafi’I (w.761 H).799). b) Kitab Al-qawa’id. Para ulama fiqih ikut andil besar dalam kemajuan ini.772 H). dia juga menyeleksi kitab. karya ibnu wakil as-syafi’i (w. f) Al-Mantsur fi al-qawaid.829 H) d) Nazmu al-dakhoir fi al-asybah wa al-Nazair. c) Al-ma’ju’ al-mudzhab fi dlabti qawa’idi al-mazhab.Muhadzab fi Qawa’idi Al-Mazhab. Urutan kitab-kitab qa’idah terkenal yang ditulis pada abad ini sebagai berikut: a) Al-asybah wa al nazair.11 Abad ke-8 H adalah masa perkembangan dan dan kemajuan dari qoidah fiqih. Pada abad ke-9 H bermunculan karya-karya baru yang masih menggunakan metode lama. karya al-‘Ala’i. karya Ali bin Utsman al-Ghazi (w.Qawa’id fi al-fiqhi. karya jamaluddin Al-isnawi Al-syafi’ i(w. karya Tajuddin al-subkhi al-Syafi’i (w. karya ibnu Haa’im al-Mqdisi (w. Tahriru Al-Qawaidi al-‘Alayyah wa Tamhidu al-Masaliki Al-fiqhiyyah. 17 Ibid.kitab-kitab lainnya adalah:17 a) Asman al-Maqhasaid fi tahrir al-Qawa’id. karya maqori al-maliki (w. c) Al-Qawaid. seperti ibnu mulaqqin(804 H) menulis kitab Qa’idah dengan mengikuti pola kitab subkhi. (w.876 H).707 H) b) Al-qawa’id. karya Taqiyuddin al-Hisniy (W. g) Al. karya Abdurrahman bin ali al muquddasi yang biasa di panggil dengan.795). d) Al-Sybah wa al-Nazair.713 H).syuqair (w. di samping itu. 38 . karya ibnu rajab al-hambali (w. dan h) Al-Qawa’id fi al-Furu’.

Periode ini ditandai dengan munculnya kitab Majallah al Ahkam al Adliyyah.18 18 Ibid.12 2. Masa Penyempurnaan Setelah melewati masa pertumbuhan. Melalui pengumpulan dan penyeleksian kitab-kitab fiqih yang kemudian di bukukan dan di gunakan sebagai sumber acuan dalam menetapkan hukum di beberapa Mahkamah pada masa pemerintahan Sultan Al Ghazi Abdul Aziz Khan al Utsmani pada akhir abad ke-13 H. 49-50 . masa perkembangan dan masa kodifikasi akhirnya tibalah pada penyempurnaan qaidah fiqih yang dilakukan oleh para pengikut dan pendukungnya.

banyak bermunculan persoalan-persoalan baru yang tidak ada pada masa Nabi. Tabi’in. Jika pada masa Nabi suatu masalah yang terjadi waktu itu. oleh para sahabat langsung di hadapkan pada beliau akan tetapi setelah beliau wafat. Kaidah fiqih ini tumbuh dan berkembang setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Para sahabat Nabi.13 BAB III PENUTUP Menurut penuis bahwa qawaid fiqihiyyah adalah sebuah metamorfosa ilmu hukum yang tumbuh dan berkembang hingga sempurna itu tidak terlepas dari para pendahulu kita yang berawal dari Nabi Muhammad SAW. dan hingga tabi’in at-tabi’in yang sangat berjasa dalam pengadaan dan penyempurnaannya. Disinilah mulai muncul Ijtihad dan penalaran-penalaran para mujtahid dalam memecahkan persoalan hukum yang tentu dalam metode pengambilan hukumnya disandarkan kepada al-Qur’an dan Al Sunnah. .

Fathi. Jakarta: Radar Jaya Offset. Mustafa Qawa’id Fiqhiyyah Jiddah: Da’r al-Basyir. Al-Allamah Jalal Al-Faqih Mustafa. 1983. Qawa’id Fiqhiyyah Jiddah: Da’r al-Basyir.14 DAFTAR PUSTAKA A. (http://nurieas. Dziraq. Kairo: Darul katib al-Araby. Ushul Fiqh Al-Islami. Kidah-Kaidah Fiqih : Kidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-Masalah yang Praktis (Jakarta: Fajar Interpratama Offset. Aslami. Abbas. 1969. Jakarta: Bulan Bintang. Ahmad MuhammaD. Asy-Syafii.. Ridwan. Djazuli. Muassasah Tsaqofah Al Jamiiyah. Min Falsafatil Tasyri' Islam.blogspot. 2011. 2004. Ahmad Sudirman. Pengantar Hukum Islam. Hasbi. Nur. 2011) diakses tanggal 20 Maret 2013 as-siddiqy. Sejarah Qaidah Fiqhiyah. Dziraq. 1975. 2010. Iskandariyah . Sejarah Qawa’id Fiqhiyyah. Al-Allamah Jalal Al-Faqih. 2000.com. 2000.