QO’IDAH DAN KEDUDUKANNYA DI DALAM SYARA’

MAKALAH Diajukan untuk salah satu tugas mata kuliah: Aplikasi Qawa‟id Fiqhiyyah Dalam Istinbath Hukum

Dosen Pembimbing: Dr. H. Sutrisno, RS, M.Ag

Oleh: Mujib Iriyanto Subhan (08 3911013) (08 3911014)

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA PROGRAM PASCA SARJANA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JEMBER APRIL 2013

meliputi berbagai peraturan dalam kehidupan yang menyangkut hubungan manusia dengan khaliknya. . yaitu sebagai petunjuk operasional dalam peng-istimbath-an hukum islam. maka mengetahui kaidah-kaidah yang juga berfungsi sebagai pedoman berfikir dalam menentukan hukum suatu masalah yang tidak ada nashnya. adalah perlu sekali. yang mengelompokkan masalah-masalah fiqih spesifik menjadi beberapa kelompok. Latar Belakang Kaidah fiqih yaitu kaidah-kaidah yang bersifat umum. dan hubungan manusia dengan sesama manusia. Al-Qur‟an dan Hadith. Kaidah Fiqhiyah disebut juga sebaagai Kaidah Syari‟iyah Adapun tujuannya adalah untuk memudahkan Mujtahid dalam mengistimbath-kan hukum yang sesuai dengan tujuan syara dan kemaslahatan manusia. Yang dalam pelaksanaannya juga berkaitan dengan situasi tertentu. Sementara Imam Abu Muhammad Izzuddin Ibnu Abbas Salam menyimpulkan bahwa kaidah fiqhiyah adalah sebagai suatu jalan untuk mendapat kemashalatan dan menolak kerusakan serta bagaimana cara mensikapi kedua hal tersebut. juga merupakan pedoman yang memudahkan penyimpulan hukum bagi suatu masalah. yaitu dengan cara menggolongkan masalah-masalah yang serupa dibawah satu kaidah. Berhubung hukum fiqih lapangannya luas. Jika dikaitkan dengan kaidah-kaidah ushulliyah yang merupakan pedoman dalam mengali hukum islam yang berasal dari sumbernya. kaidah Fiqhiyah merupakan kelanjutannya.1 BAB I PENDAHULUAN A.

5. Mendeskripsikan Sumber-sumber Qaidah Fiqhiyyah. Rumusan Masalah Agar supaya pada pembahasan kali ini tidak melebar dan fokus. maka penulis merumskan sebuah rumusan masalah sebagai berikut: 1. Dan mendeskripsikan Urgeninya dalam istinbath hukum. 2. 5. . Bagaimana Definisi Qaidah Fiqhiyyah? Jelaskan Macam-macam dan Tingkatannya? Bagaimana Sumber-sumber Qaidah Fiqhiyyah? Bagaimana Kehujjahan dan Kegunaan Qaidah Fiqhiyyah? Dan Bagaimana Urgeninya dalam istinbath hukum? C. Mendeskripsikan Definisi Qaidah Fiqhiyyah. Menjelaskan Macam-macam dan Tingkatannya. Mendeskripsikan Kehujjahan dan Kegunaan Qaidah Fiqhiyyah. 4. 3. 3.2 B. 4. Tujuan Pembahasan Adapun tujuan pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. 2.

2 Abd . Menurut Musthafa az-Zarqa. Rahman Dahlan.2 Para fuqoha pada umumnya memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan kaidah fiqhiyyah ialah hukum kulli (kaidah-kaidah umum) yang berlaku pada semua bagian-bagiannya atau cabang-cabangnya. Ushul Fiqh Al-Islami (Iskandariyah Muassasah Tsaqofah Al Jamiiyah. Amzah : Jakarta. Pengertian Kata Qawa‟id merupakan bentuk jama' dari kata Qaidah. Dalam tinjauan terminologi kaidah mempuyai beberapa arti. dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan kata 'Kaidah' yang berarti aturan atau patokan. Kalam Mulia : Jakarta 4 Ibid. Ushul Fiqih. Kaidah-kaidah Ilmu Fiqih (al-Qowaidul al-Fiqhiyyah). 4.3 BAB II PEMBAHASAN A. 1983). Qowaidul Fiqhyah ialah : dasar-dasar fiqih yang bersifat umum dan bersifat ringkas berbentuk undang-undang yang berisi hukumhukum syara‟ yang umum terhadap berbagai peristiwa hukum yang termasuk dalam ruang lingkup kaidah tersebut. Ahmad asy-Syafi„i dalam bukunya ushul fiqh al-islami menyatakan bahwa kaidah adalah: ‫شة‬ٛ‫بث كث‬ٛ‫ُذسج ححج كم ٔاحذة يُٓب حكى جزئ‬ٚ ٗ‫ت انخ‬ٛ‫ب انكه‬ٚ‫انقضب‬ "Hukum yang bersifat universal (kulli) yang diikuti oleh satuan-satuan hukum juz„i yang banyak". . 13 3 Abdul Mudjib.4 1 Ahmad Muhammad Asy-Syafii.3 Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa setiap Qidah Fiqhiyyah telah mengatur dan menghimpun beberapa banyak masalah fiqh dari berbagai bab dan juga diketahui bahwa para fuqoha‟ telah benar-benar mengembalikan masalah-masalah hukum fiqh kepada kaidah-kaidahnya.1 Sedangkan bagi mayoritas ulama ushul mendefinisikan kaidah dengan: ّ‫بح‬ٛ‫ع جزئ‬ًٛ‫ُطبق عهٗ ج‬ٚ ٙ‫حكى كه‬ "Hukum yang biasa berlaku yang bersesuaian dengan sebagian besar bagianbagiannya“.

Dengan menguasai kaidah-kaidah fiqih seorang muslim akan mengetahui benang merah yang menguasai fiqih. diantaranya : ”Sesuatu yang dikenal secara kebiasaan seperti sesuatu yang telah ditentukan sebagai syarat” . kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi dua. yaitu : kaidah yang tidak memiliki pengecualian dan yang mempunyai pengecualian. 319 .4 Maka. Macam-Macam Qa’idah Fiqhiyyah 1. adat kebiasaan. Kaidah-Kaidah Hukum Islam (Ilmu Ushulul Fiqih). karena kaidah fiqih itu menjadi titik temu dari masalah-masalah fiqih. Qa‟idah fiqh mustasnayat Dari sumber pengecualian. Qa‟idah fiqh menurut fungsinya Dari segi fungsi. Akan tetapi tidak sedikit orang yang kurang memahami tentang hal ini. Kaidah fiqh yang berperan sentral. kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi dua. budaya sehingga kaum muslim bisa mencari solusi terhadap problem-problem yang terus muncul dan berkembang dalam masyarakat dengan lebih baik. sosial. Selain itu juga akan menjadi lebih arif dalam menerapkan fiqih pada waktu dan tempat yang berbeda untuk kasus. Kaidah 5 Abdul Wahab Khallaf. 2. Kaidah ini dikenal sebagai al-Qawaid al-Kubra al-Asasiyyat. Dengan mempelajari kaidah fiqih. kaidah yang berfungsi marginal adalah kaidah yang cakupannya lebih atau bahkan sangat sempit sehingga tidak dihadapkan dengan furu. PT Raja Grafindo : Jakarta. diharapkan pada akhirnya juga bisa menjadi lebih moderat dalam menyikapi masalah-masalah politik. yaitu sentral dan marginal. ”Sesuatu yang ditetapkan berdasarkan kebiasaan seperti ditetapkan dengan naskh” Dengan demikian.5 B. karena kaidah tersebut memiliki cakupan-cakupan yang begitu luas. untuk itu perlu kiranya bagi kaum muslim untuk mempelajari dan mengkaji ulang ilmu ini. umpamanya : ”Adat dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum” kaidah ini mempunyai beberapa turunan kaidah yang berperan marginal. keadaan yang berlainan. ekonomi. Qawaidul fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqih) adalah sesuatu yang sangat penting dan menjadi kebutuhan bagi kaum Muslim.

blogspot. Sumber-sumber dan Kehujjahan Qa’idah Fiqhiyyah Menurut riwayat Al-ala‟i al-Syafi‟i. Abu Thahir al-Dabbas menutup masjid karena pengunjung masjid telah pulang. Kaidah fiqh lainnya adalah kaidah yang mempunyai pengecualian kaidah yang tergolong pada kelompok yang terutama diikhtilafkan oleh ulama.html).6 C.com/2012/04/kedudukan-kaidahfiqhiyah-sebagai. Kaidah asasi Adalah kaidah fiqh yang tingkat kesahihannya diakui oleh seluruh aliran hukum islam. dan ibn al-Nujaim mengatakan bahwa Abu Thahir al-Dabbas (ulama abad 4H) telah mengumpulkan 17 kaidah penting dalam madzhab Hanafi. Kaidah-kaidah Fiqhiyyah. dapat dikembalikan kepada satu kaidah. Kaidah diatas merupakan kaidah kunci. Kaidah fiqh segi kwalitasnya Kaidah kunci Kaidah kunci yang dimaksud adalah bahwa seluruh kaidah fiqh pada dasarnya. Kaidah fiqh tersebut adalah : ”Perbuatan/ perkara itu bergantung pada niatnya”. Dalam melestarikan kaidah tersebut. diakses tanggal 05 April 2013 . 3. Abu Thahir al-Dabbas menghafalnya secara berulang-ulang pada setiap malam dimasjid setelah pengunjung masjid lainnya keluar. karena pembentukan kaidah fiqh adalah upaya agar manusia terhindar dari kesulitan dan dengan sendirinya ia mendapatkan kemaslahatan. yaitu : ”Menolak kerusakan (kejelekan) dan mendapatkan maslahat”. Ketika Abu Thahir al-Dabbas telah menghafal sebagian kaidah fiqh yang 6 Tri Winarsih.5 fiqh yang tidak punya pengecualian adalah sabda Nabi Muhammad SAW. Umpamanya adalah: ”Bukti dibebankan kepada penggugat dan sumpah dibebankan kepada tergugat”. Dan ketika itu Abu Sa‟id al-Harawi bersembunyi dibawah tumpukan tikar masjid untuk mendengar hafalan kaidah fiqh Abu Thahir al-Dabbas. al-Suyuthi. (http://annajma92. Pada suatu malam. ”Kesulitan mendatangkan kemudahan” ”Adat dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum”. ”Kenyakinan tidak hilang dengan keraguan”.

dan sesungguhnya bagi seseorang itu hanyalah apa yang ia niati). 64 .” c) Eksistensi niat Para fuqaha” berbeda pendapat dalam mendudukkan niat. Imam Abu Hanifah dan imam ahmad bin hambal mendudukkan niat sebagai syarat perbuatan. Al-Bayyinah: 5) Dan dalam Sabda Nabi Muhammad SAW: َٕ٘‫بث ٔإًَب نكم ايشئ يب‬ُٛ‫إًَب األعًبل ببن‬ Artinya:“(Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat. yaitu:7 1) Kaidah yang Berkaitan Dengan Fungsi Tujuan a) Teks kaidahnya: ْ ‫ذَْب‬ ُ ْٕ‫ي‬ ِ‫ص‬ ِ ‫ًقَب‬ ُ ُ‫اْل‬ َ ِ‫س ب‬ “Setiap perkara tergantung pada tujuannya. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. sedangkan rukun adalah ketentuan yang harus dilakukan bersama dengan perbuatan. Syarat adalah ketentuan yang harus dilakukan mukallaf sebelum terjadinya perbuatan. Sedang imam syafi‟I mendudukkan niat sebagai rukun perbuatan.6 dikuasainya. 2002). Akhirnya Abu Sa‟id al-Harawi dipukul dan dikeluarkan dari masjid oleh Abu Thahir al-Dabbas dan setelah kejadian itu Abu Thahir al-Dabbas tidak pernah mengulangi hafalannya tersebut. (QS. Adapun kaidah-kaidah fiqh Abu Thahir al-Dabbas yang berhasil dihafal Abu Sa‟id al-Harawi adalah lima kaidah pokok. 7 Jaih Mubarok. Kemudian Abu Sa‟id al-Harawi batuk dan Abu Thahir al-Dabbas mendengarnya.” b) Dasar-dasar nash kaidah Firman Allah SWT: ‫َعْ بُذُٔا ا‬ِٛ‫ْل ن‬ ‫يشُٔا إِ ا‬ ْ ‫ي‬ ِّ ‫ٍَ نَُّ ان‬ٛ‫ص‬ ‫ء‬ ُ ٍَٚ‫ذ‬ ِ ِ ‫خه‬ ُ َ‫َّللا‬ ِ ُ ‫يب أ‬ َ ‫حَُفَب‬ َ َٔ Artinya : “Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (jauh dari syirik dan jauh dari kesesatan)”. Kaidah Fiqh Sejarah dan Kaidah-kaidah Asasi.

3. cet. misalnya niat shalat. Kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyah. dan dalam ketidaktentuan itu sama antara batas kebenaran dan kesalahan. sedang setiap hari tidak perlu melakukan niat bila beriman kepada Allah SWT. 105 . baik dengan penganalisaan maupun dengan dalil”.” Yang dimaksud yakin adalah ْ ‫كبٌَ ثَببِخًب بِب نُا‬ ‫ٔان ا‬ َ ‫يب‬ ْ ِ ‫ذن‬ ‫م‬ ُ ٛ َ ‫ش‬ َ ُْ ٍُِْٛ‫َق‬ٛ‫اَ ْن‬ َ ٕ ِ ‫ظ‬ “Sesuatu yang tetap .8 2) Kaidah yang Berkenaan Dengan Keyakinan a) Teks kaidahnya: ‫ل ب ِب ن ا‬ ِّ ‫ش‬ ‫ك‬ ُ ‫ُزَ ا‬ٚ ‫ٍُْ ْل‬ِٛ‫َق‬ٛ‫اَ ْن‬ “Keyakinan itu tidak dapat dihilangkan dengan keraguan. tanpa dapat dimenangkan salah satunya. 1999). Dan ibadah yang tidak membutuhkan niat. Ibadah yang membutuhkan niat adalah ibadah yang amaliyah yang memerlukan penjelasan secara khusus. sedangkan tempatnya didalam qolb (Amaliyah Qolbiyah) yang bersamaan dengan perbuatan (Amaliyah Fi‟liyah). (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.7 Jalaludin abdurrahman as syuyuti menyatakan bahwa waktu niat adalah dipermulaan ibadah.” b) Dasar-dasar nash kaidah Sabda Nabi SAW: ْ َ‫ى فِٗ ب‬ ْ ٍَ‫ي‬ ْ َ‫ئًب فَأ‬ٛ ْ َٚ‫و ْل فَال‬ ْ‫ي‬ ُ‫ذ‬ َ ِ‫إ‬ ‫جا‬ َ‫ش‬ َ ُ ُّ َ ّ ُ‫ح‬ َ َ‫ّ ا‬ ْ‫س‬ ْ َٚ ٗ‫حخا‬ ْ ً ْ َ ‫عه‬ ْ‫ش‬ ٚ ُ ‫خ‬ َ‫ج‬ َ ‫م‬ َ‫ج‬ َ ‫ع‬ َ ً َ ‫ذ‬ َ ‫ش‬ ْ َ‫ْئ ا‬ٛ‫ش‬ َ ‫ش‬ َ‫خ‬ َ ‫ك‬ ْ‫ك‬ َ َ‫ذ ا‬ َ ٔ‫ا‬ ِ‫ج‬ ِ ٍ ِ ‫ج‬ ِٛ ِ ُِ‫ط‬ َ ‫ر‬ ِ َٚ َْٔ‫صْٕ حًب ا‬ ِ ‫س‬ َ‫س‬ َ ‫ان‬ ِ ‫ذ‬ (‫ )سٔاِ يسهى‬. apakah shalat wajib atau sunah. Sedangkan yang dimaksud dengan syak adalah ْ ٕ ْ ‫ان ا‬ َ ‫يب‬ ُ ‫ء‬ َ ‫ان‬ ِّ ‫ش‬ ْ َ‫ددًا ب‬ ‫ش‬ َ ‫ًب‬ َ‫ع‬ َ ٔ َ َ‫ْح ا‬ ْ َ ‫شف‬ َ َ‫بٖٔ ط‬ َ َ‫ع ح‬ َ‫ي‬ َ َ‫يخ‬ ِ ‫ذ‬ ِ‫ح‬ ِ ‫خطَب‬ ِ‫ي‬ ِ‫ذ‬ ِ ُْٕ‫ٍَ انثب‬ٛ ُ ٌَ‫كب‬ َ ِ‫إاب‬ َ ‫ٗ انص‬ َ ‫ث‬ َ ُْ ‫شك‬ ِ ْ‫دْٔ ٌَ حَش‬ َْ َ ّ َ ٕ ِ ‫س‬ ِ َ‫عهَٗ األَخ‬ ِ ٛ‫ج‬ “Sesuatu yang tidak menentu antara ada dan tiadanya. karena bukan ibadah amaliyah yang diperintahkan secara adat.‫حً ب‬ 8 Mukhlis Usman. Pada dasarnya ibadah itu ada yang membutuhkan niat adapula yang tidak membutuhkannya. misalnya iman kepada Allah cukup dilakukan dengan bacaan syahadatain.

Muslim) ْ َٛ‫صهّٗ أ ثَالثًب أَْ اَسْ بَبعًب فَ ْه‬ ‫حبن ا‬ ُ ‫ذ‬ َ ِ‫إ‬ ْ َٚ ‫ى‬ َ ‫س‬ ‫ش ا‬ ُ‫ح‬ َ ‫را‬ ْ َ‫سخ‬ ْ ‫يب‬ ْ َٛ‫ٔ ْن‬ (ٖ‫قٍََ )سٔاِ انخشيز‬ٛ َ ٍ َ‫ط‬ َ ‫ى‬ ْ‫ك‬ ْ َ‫ّ فَه‬ َ ِٗ‫ى ف‬ ْ‫ك‬ َ َ‫ك ا‬ ِ ‫ش‬ ِ ِ‫صالح‬ َ ‫شك‬ َ َٗ‫عه‬ ِ ‫ب‬ ِ ‫ذ‬ “Apabila salah seorang diantara kalian ragu dalam mengerjakan shalat. tidak tahu berapa rakaat yang telah dikerjakan tiga ataukah empat rakaat.8 “Apabila seorang diantara kalian menemukan sesuatu didalam perut kemudian sangsi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya atau belum. maka buanglah keragu-raguan itu dan berpeganglah kepada apa yang diyakini (yang paling sedikit.9 c) Pembagian syak Abu hamid al-Asfiroyini menyebutkan bahwa syak (keraguan) itu terdapat 3 macam. maka air dapat dibuat bersuci sebab pada dasarnya air itu suci.”( HR. Macam keraguan ini dicontohkan khusus penyembelihan binatang dinegara yang penduduknya islam dan majusi. maka sembelihan itu haram dimakan. Keragu-raguan yang tidak diketahui pangkal asalnya. Keragu-raguan yang berpangkal dari yang mubah. 114-115 .”( HR. maka yang yakin adalah rakaat yang paling sedikit. 9 Ibid. Misalnya seseorang ragu-ragu berapa raka‟at yang ia lakukan dalam shalatnya. yaitu: Keragu-raguan yang berpangkal dari yang haram. maka janganlah keluar dari masjid sehingga mendengar suara atau mendapatkan baunya. Thurmudhi). karena pada dasarnya hal tersebut haram. karena yang paling sedikit itu yang yakin sedang yang paling banyak merupakan yang diraguragukan. Pada kedua dalil itu disebutkan bahwa keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguaan. sehingga diketahui benar-benar bahwa yang menyembelih adalah seorang muslim. perubahan itu ada 2 kemungkinan. bisa karena najis dan bisa juga karena sudah lama. atau diketahui bahwa umumnya yang menyembelih binatang disitu adalah orang muslim. Contoh keraguan ini adalah kasus seseorang yang menemukan air yang telah berubah.

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu. Al-Baqarah:185) Dan dalam Sabda nabi SAW: ْ ِ‫ٍ اِنَٗ َّللا‬ ِّ ‫حب ان‬ ِّ ‫ان‬ ْ ُِ‫ح‬ ْ‫ذ‬ ‫فَتُ ان ا‬ٛ )ٖ‫حتُ (سٔاِ انبخبس‬ َ ً ْ‫س‬ َ ‫ان‬ َ َ‫ُسْش ا‬ٚ ٍُْٚ‫ذ‬ ِ ٚ “Agama itu memudahkan. Tentunya syari‟ah itu disesyuaikan dengan tingkat kemampuan dan potensi . dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Artinya: “…. (QS. agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah”. (HR Bukhori) c) Rasionalisasi kemudahan dalam islam Allah SWT sebagai musyari‟ memiliki kekuasaan yang tiada tara.Allah menghendaki kemudahan bagimu. dengan kekuasaannya-Nya itu dia mampu menundukkan ketaatan manusia untuk mengabdi kepadanya. Agar dalam realisasi penghambaan itu tidak terjadi kekeliruan maka dia membuat aturan-aturan khusus yang disebut sebagai syari‟ah demi kemashlahatan itu sendiri. Dan tidak dapat dibedakan antara modal yang haram dan yang halal.9 Contoh keraguan ini adalah kasus bekerja dengan orang yang modalnya sebagian besar haram. supaya kamu bersyukur. 3) Kaidah yang Berkenaan Dengan Kondisi Menyulitkan a) Teks kaidahnya: ْ َ ً ْ ‫شقاتُ حَجْ هِبُ انخا‬ ‫ش‬ ُ ‫س‬ ِ ٛ َ ‫ان‬ “Kesukaran itu dapat menarik kemudahan”. b) Dasar-dasar nash kaidah Firman Allah: ْ ‫ًهُٕا‬ ْ ‫ى‬ ْ ‫ى‬ ‫كبِّشُٔا ا‬ ‫ذ ا‬ ْ ُ‫ٔنِخ‬ ْ َ‫ى ح‬ ُ‫ش‬ ُ ‫عه ا‬ ُ ‫يب َْذَا‬ ُ ِ‫ذ ب‬ ُ ِ‫َّللاُ ب‬ َٔ َ ُ‫ٔنِخ‬ ‫عا‬ ُ ٚ‫ُش‬ ُ ٚ‫ُش‬ ْ ‫ع‬ ْ ُٛ‫ان‬ ُ ‫ان‬ ٰ َ ‫عه‬ ٌَُٔ‫كش‬ َ َ‫َّللا‬ ْ‫ك‬ َ َ ‫ٔن‬ ْ‫ك‬ َ‫س‬ َ‫س‬ ِ ‫ان‬ ِ‫ك‬ ُ‫ك‬ ُ‫ك‬ َ ‫ى‬ َ َ‫ذة‬ َ ‫ش‬ َ ‫ش‬ َ ٗ ِ ٚ ‫ْل‬ ِ ٚ…. Kondisi semacam ini diperbolehkan jual beli karena dimungkinkan modalnya halal dan belum jelas keharaman modal tersebut. namun dikhawatirkan karena itu hukumnya makruh.

Tahfitul ibdal (meringankan dengan mengganti) misal mengganti wudhu dengan tayamum. karena pada dasarnya syari‟ah itu bukan untuk kepentingan tuhan melainkan untuk kepentingan manusia sendiri.10 yang dimiliki seorang hamba. 130-131 . Tahfitul ta‟khir ( meringankan dengan mengakhirkan waktu) misal bolehnya melakukan jama‟ ta‟khir dalam shalat. Tahfitul tanqish (meringankan dengan mengurangi) misal bolehnya mengqoshor shalat dari 4 raka‟at menjadi 2 raka‟at. Tahfitul taqdim (meringankan dengan mendahulukan waktunya) misalnya kebolehan melakukan jama‟ taqdim ketika shalat.10 d) Klasifikasi kesulitan Wahbah Az. karena jika ia melakukannya niscaya akan merusak diri dan memberatkan kehidupannya.11 4) Kaidah yang Berkenaan Dengan Kondisi Membahayakan a) Teks kaidahnya: ‫ل‬ ُ ‫ُزَ ا‬ٚ ‫س‬ ُ ‫اشا‬ َ ‫انض‬ 10 11 Ibid. e) Bentuk-bentuk keringanan dalam kesulitan Syekh Izzudin bin Abdis Salam menyatakan bahwa bentuk-bentuk keringanan dalam kesulitan itu ada enam macam. yaitu: Tahfitul isqoth (meringankan dengan menggugurkan) misal menggugurkan kewajiban shalat jum‟at jika ada udzur. dimana manusia mampu mencari jalan keluarnya sehingga ia belum masuk pada keterpaksaan. Tahfitul tarkhis (meringankan dengan kemurahan) misal bolehnya menggunakan benda najis atau khomr untuk keperluan berobat. 122-124 Ibid. Kesulitan Ghoiru Mu‟tadah adalah kesulitan yang tidak pada kebiasaan .Zuhaili mengklasifikasikan kesulitan dalam 2 kategori: Kesulitan Mu‟tadah adalah kesulitan yang alami. dimana manusia tidak mampu memikul kesulitan itu.

Contoh kaidah diatas yaitu bahwa darah para pejuang islam ketika perang dianggap suci untuk dipakai shalat. karena jika ia tidak diselesaikan maka akan mengancam agama. Sedangkan darurat adalah kesulitan yang sangat menentukan eksistensi manusia. nasab. Pengantar Hukum Islam.12 b) Dasar-dasar nash kaidah Firman Allah SWT : ْ ‫ُحب‬ ‫ٌ ا‬ ًْ َ َ‫َّللا‬ ‫إِ ا‬ ٍَٚ‫ذ‬ ِ‫س‬ ِ ‫ف‬ ُ ‫ان‬ ِ ٚ ‫ْل‬ Artinya:“Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan.” (HR. bila tidak dipenuhi tidak akan membahayakan eksistensi manusia. Al Qoshosh: 77) Dan Sabda nabi SAW: ‫س‬ َ ‫شا‬ َ‫ض‬ َ‫ش‬ َ‫ض‬ َ َ‫ْل‬ ِ َ‫ْٔل‬ َ ‫س‬ “Tidak boleh membuat kerusakan pada diri sendiri serta membuat kerusakan pada orang lain. harta serta kehormatan manusia. Ahmad dan Ibnu Majah) c) Perbedaan antara masyaqot (kesulitan) dengan darurat Masyaqqot adalah suatu kesulitan yang menghendaki adanya kebutuhan (hajat) tentang sesuatu. tetapi bila mengenai orang lain dianggap najis.”(QS.11 “Kemadharatan harus dihilangkan” Kaidah ini adalah suatu kaidah pokok yang dari kaidah tersebut merujuklah sebagian besar masalah-masalah fiqh dan diistinbathkannya berbagai hukum. jiwa. 5) Kaidah yang Berkenaan Dengan Adat Kebiasaan a) Teks kaidahnya: َ ْ‫يح‬ ‫ًت‬ َ ‫عب‬ َ ‫اَ ْن‬ ُ ُ‫د ة‬ َ‫ك‬ “Adat kebiasaan dapat ditetapkan sebagai hukum. 1997).” b) Dasar-dasar Nash Kaidah Firman Allah SWT: ْ ٍَ ْ ِ‫يشْ ب‬ ْ ‫ز‬ ْ‫ع‬ ُ ْ َ ‫ٔأ‬ ٍَِٛ‫ْه‬ َ ‫ان‬ َ ‫ان‬ ِ ‫جب‬ ِ ْ‫بنعُش‬ ُ ‫ٔ ْأ‬ ِ‫خ‬ َ ‫ف‬ َ ٕ َ‫ف‬ ِ ‫شضْ ع‬ ِ ‫ع‬ 12 Teungku Muhammad Hasby As Shidieqy. (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 364 .

karena sejalan dengan akal sehat dan diterima oleh banyak orang.12 Artinya:“Dan serulah orang-orang yang mengerjakan yang ma‟ruf serta berpalinglah dari orang yang bodoh. Al Jurjani misalnya mendefinisikan „adah yaitu suatu perbuatan yang terus-menerus dilakukan manusia. setiap bulan seorang wanita mengalami menstruasi dan cara perhitunganya ada yang menggunakan metode tamyiz (yakni membedakan darah kuat dan darah lemah. Kegunaan Qa’idah Fiqhiyyah Imam Abu Muhammad Izzuddin Ibn Abbas Salam menyatakan bahwa Kaidah Fiqhiyah mempunyai kegunaan sebagai suatu jalan untuk mendapat suatu kemaslahatan dan menolak kerusakan serta bagaimana cara mensikapi kedua hal tersebut. Sedangkan Al-Qarafi dalam al-Furu‟nya menulis bahwa seorang fiqh tidak akan besar pengaruhnya tanpa berpegang kepada kaidah fiqhiyah. Ahmad) c) Pengertian adah dan „uruf Jumhur ulama‟ mengidentikkan „adah dengan „uruf keduanya mempunyai arti yang sama. Al A‟raf: 199) Sabda Nabi SAW: ْ ‫ى‬ ْ ْ‫ح‬ ْ ُ‫ذ ا‬ ُ ‫ٔعَب‬ ْ َ‫شةً ب‬ ْ َ‫دْٔ ااِن‬ ًْ ْ َ ‫عه‬ ْ ‫يب ا‬ ‫يا‬ ‫ً ا‬ ٖ‫ش‬ ُ َٗ‫عه‬ َ‫ع‬ َ ّ َ ُ‫ش انُابس‬ َ ‫عب‬ َ‫خ‬ َ ‫ان‬ ِٛ ِٛ َ ‫ل‬ ِ ُْٕ‫عق‬ ِ‫ك‬ َ ّ َ ‫ان‬ َ َ‫سخ‬ َ ُ‫دة‬ “apa yang dipandang baik oleh muslim maka baik pula disisi Allah. Sedangkan „urufyaitu suatu perbuatan yang jiwa merasa tenang melakukannya..” (HR. Namun sebagian fuqoha‟ membedakannya. Misal „uruf/‟adah yaitu menggunakan kalender haid bagi wanita. dan yang kuat dianggap darah haid) dan ada juga metode „adah ( yakni menganggap haid atas hari-hari kebiasaan keluarnya darah tiap bulan). Op. karena logis dan dilakukan secara terus-menerus. karena jika tidak berpegang pada kaidah itu maka hasil ijtihadnya banyak bertentangan dan berbeda 13 Mukhlis Usman.” (QS. 140-142 .13 D.Cit. Bagi Imam Hanafi mewajibkan penggunaan metode „adah sedang imam Syafi‟I menguatkan metode tamyiz.

Lebih lanjut berbicara tentang kegunaan Kaidah Fiqhiyah ini adalah sebagaimana disebutkan oleh Ali Ahmad al-Nadwi sebagai berikut: 1) Mempermudah dalam menguasai materi hukum karena kaidah telah dijadikan patokan yang mencakup banyak persoalan. diakses tanggal 05 April 2013 Islam.kemenag.go. . 4) Mempermudah orang yang berbakat fiqh dalam mengikuti (memahami) bagian-bagian hukum dengan mengeluarkannya dari thema yang berbedabeda serta meringkasnya dalam satu topik tertentu. kegunaan kaidah fiqh adalah sebagai pengikat (ringkasan) terhadap beberapa persoalan fiqh. 2) Kaidah membantu menjaga dan menguasai persoalan-persoalan yang banyak diperdebatkan. karena kaidah dapat mengelompokkan persoalan-persoalan berdasarkan illat yang dikandungnya.14 E. Secara sederhana.php?a=artikel&id=10117). Urgensi Qa’idah Fiqhiyyah Qa‟idah Fiqhiyyah dikatakan penting dilihat dari dua sudut : 14 Ahmad Supardi Hasibuan. Menguasai suatu kaidah berarti menguasai sekian bab fiqh. Demikian kegunaan kaidah yang disampaikan oleh Ali Ahmad al-Nadwi. Kaidah-kaidah Hukum (http://riau.id/index. Dengan berpegang pada kaidah fiqhiyah tentunya mudah menguasai furu‟-furu‟nya. 5) Meringkas persoalan-persoalan dalam satu ikatan menunjukkan bahwa hukum dibentuk untuk menegakkan maslahat yang saling berdekatan atau menegakkan maslahat yang lebih besar. 3) Mendidik orang yang berbakat fiqih dalam melakukan analogi (ilhaq) dan takhrij untuk mengetahui hukum permasalahan-permasalahan baru. mempelajari kaidah dapat memudahkan orang yang berbakat fiqh dalam menguasai persoalan-persoalan yang menjadi cakupan fiqh. Oleh karena itu. 6) Pengetahuan tentang kaidah merupakan kemestian karena kaidah mempermudah cara memahami furu‟ yang bermacam-macam.13 antara furu-furu‟ itu.

15 Karena cakupan dari lapangan fiqh begitu luas. Dengan berpegang pada kaidah-kaidah fiqhiyah. kaidah merupakan media bagi peminat fiqh Islam untuk memahami dan menguasai muqasid al-Syari‟at. kaidah fiqh dapat dijadikan sebagai salah satu alat dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi yang belum ada ketentuan atau kepastian hukumnya.14 1. ulama dapat menemukan persoalan esensial dalam satu persoalan. baik mengenai perdata. karena dengan mendalami beberapa nash. Cit. . Oleh karena itu. 15 Abdul Wahab Khallaf. Dari sudut sumber. pidana. Abdul Wahab Khallaf dalam ushul fiqhnya bertkata bahwa hash-nash tasyrik telah mensyariatkan hokum terhadap berbagai macam undang-undang. Sedangkan al-Qrafy dalam al-Furuqnya menulis bahwa seorang fiqh tidak akan besar pengaruhnya tanpa berpegang pada kaidah fiqhiyah. yakni dengan menggolongkan masalah yang serupa di bawah lingkup satu kaidah. karena jika tidak berpegang paa kaidah itu maka hasil ijtihatnya banyak pertentangan dan berbeda antara furu‟-furu‟ itu. para mujtahid merasa lebih mudah dalam mengistinbathkan hukum bagi suatu masalah. kaidah fiqh mencakup beberapa persoalan yang sudah dan belum terjadi. Op. maka perlu adanya kristalisasi berupa kaidah-kaidah kulli yang berfungsi sebagai klasifikasi masalah-masalah furu‟ menjadi beberapa kelompok. Dari segi istinbath al-ahkam. Dengan berpegang pada kaidah fiqhiyah tentunya mudah menguasai furu‟nya dan mudah dipahami oleh pengikutnya. Selanjutnya Imam Abu Muhammad Izzuddin ibnu Abbas Salam menyimpulkan bahwa kaidah-kaidah fiqhiyah adalah sebagai suatu jlan untuk mendapatkan suatu kemaslahatan dan menolak kerusakan serta bagaimana menyikapi kedua hal tersebut. 2. ekonomi dan undang-undang dasar telh sempurna dengan adanya nash-nash yang menetapkan prinsip-prinsip umum dan qanun-qanun tasyrik yang kulli yang tidak terbatas suatu cabang undang-undang.

15 .

Dasar pengambilan qawaid fiqhiyah terbagi pada dua yakni: dasar formil dan dasar materiil. Perbedaan qawaid fiqhiyah dengan dhawabit fiqhiyah ialah cakupan dhabith fiqhiyah lebih sempit dari cakupan qawaidh fiqhiyah dan pembahasan qawaid fiqhiyah tidak dikhususkan pada satu bab tertentu. lain halnya dengan dhabith fiqhiyah. qawaid ushuliyyah adalah himpunan sejumlah persoalan yang meliputi tentang dalil-dalil yang dapat dipakai untuk menetapkan hukum. mengingat kaidah ushuliyah memuat pedoman penggalian hukum dari sumber aslinya sedang kaidah fiqhiyah merupakan petunjuk pelaksana dari kaidah ushuliyah tersebut. Pentingnya qawaid fiqhiyah karna kaidah fiqh ini merupakan media bagi peminat fiqh Islam dalam menguasai Maqashid Syariah. Tujuan mempelajari kaidah fiqh itu untuk mempermudah dalam mengetahui prinsip-prinsip umum fiqh dan sebagainya.16 BAB III PENUTUP Dari penjelasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa qawaid fiqhiyah ialah hukum yang biasa berlaku yang bersesuaian dengan sebagian besar bagianbagiannya. dan juga merupakan cakupan persoalan yang sudah maupun belum terjadi. . Perbedaan qawaid fiqhiyah dengan ushul fiqh ialah . Penggunaan masing-masing kaidah tersebut selalu berkaitan. Sedangkan qawaid fiqhiyah merupakan himpunan sejumlah masalah yang meliputi hukum-hukum fiqh yang berada di bawah cakupannya semata. tidak dapat berdiri sendiri.

13 Abdul Mudjib. Rahman Dahlan. 1997). Ushul Fiqih. 1999. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 4. 2003. Kaidah Fiqh Sejarah dan Kaidah-kaidah Asasi. Kaidah-kaidah Fiqhiyyah. 2002 Mubarok. Sejarah dan Kaidah-Kaidah asasi. 3. 105 Teungku Muhammad Hasby As Shidieqy. cet.17 DAFTAR PUSTAKA Abd . RajaGrafindo Persada. Kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyah. Ahmad Supardi Hasibuan. (http://annajma92. 1997 Mukhlis Usman. Fiqh dan Ushul Fiqh. Ushul Fiqh : Kaidah-Kaidah Penetapan Hukum Islam.id/index. 1999). diakses tanggal 05 April 2013 Arifin.com/2012/04/kedudukan-kaidah-fiqhiyahsebagai. Kaidah-kaidah Ilmu Fiqih (al-Qowaidul al-Fiqhiyyah). Pengantar Hukum Islam. 2002). 2002. diakses tanggal 05 April 2013 Usman. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.blogspot. Kementerian Agama RI. Semarang: PT PUSTAKA RIZKI PUTRA. 319 Ahmad Muhammad Asy-Syafii. Kaidah-Kaidah Hukum Islam (Ilmu Ushulul Fiqih). Mukhlis. Kaidah Fiqh Sejarah dan Kaidah-kaidah Asasi. Nazar. 364 Tri Winarsih. Pengantar Hukum Islam. Muhammad Hasby As Shidieqy.kemenag. Miftahul. 3 . Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. Kaidah-kaidah Hukum Islam. Jakarta: Pustaka Amani. RajaGrafindo Persada. Kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyah. Jaih. Jaih Mubarok.php?a=artikel&id=10117). Amzah : Jakarta. Teungku.go.html). 1997 Bakry. 64 Mubarok. Jakarta: PT. PT Raja Grafindo : Jakarta. 2002. Alquran dan Terjemahannya. Kalam Mulia : Jakarta Abdul Wahab Khallaf. Jaih. 1983). Surabaya: Citra Media. Ushul Fiqh Al-Islami (Iskandariyah Muassasah Tsaqofah Al Jamiiyah. (http://riau. Jakarta: PT. cet.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful