QO’IDAH DAN KEDUDUKANNYA DI DALAM SYARA’

MAKALAH Diajukan untuk salah satu tugas mata kuliah: Aplikasi Qawa‟id Fiqhiyyah Dalam Istinbath Hukum

Dosen Pembimbing: Dr. H. Sutrisno, RS, M.Ag

Oleh: Mujib Iriyanto Subhan (08 3911013) (08 3911014)

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA PROGRAM PASCA SARJANA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JEMBER APRIL 2013

Latar Belakang Kaidah fiqih yaitu kaidah-kaidah yang bersifat umum. Yang dalam pelaksanaannya juga berkaitan dengan situasi tertentu. Jika dikaitkan dengan kaidah-kaidah ushulliyah yang merupakan pedoman dalam mengali hukum islam yang berasal dari sumbernya. yaitu sebagai petunjuk operasional dalam peng-istimbath-an hukum islam. Al-Qur‟an dan Hadith. yaitu dengan cara menggolongkan masalah-masalah yang serupa dibawah satu kaidah. Berhubung hukum fiqih lapangannya luas. meliputi berbagai peraturan dalam kehidupan yang menyangkut hubungan manusia dengan khaliknya. maka mengetahui kaidah-kaidah yang juga berfungsi sebagai pedoman berfikir dalam menentukan hukum suatu masalah yang tidak ada nashnya. juga merupakan pedoman yang memudahkan penyimpulan hukum bagi suatu masalah.1 BAB I PENDAHULUAN A. dan hubungan manusia dengan sesama manusia. Sementara Imam Abu Muhammad Izzuddin Ibnu Abbas Salam menyimpulkan bahwa kaidah fiqhiyah adalah sebagai suatu jalan untuk mendapat kemashalatan dan menolak kerusakan serta bagaimana cara mensikapi kedua hal tersebut. . adalah perlu sekali. yang mengelompokkan masalah-masalah fiqih spesifik menjadi beberapa kelompok. kaidah Fiqhiyah merupakan kelanjutannya. Kaidah Fiqhiyah disebut juga sebaagai Kaidah Syari‟iyah Adapun tujuannya adalah untuk memudahkan Mujtahid dalam mengistimbath-kan hukum yang sesuai dengan tujuan syara dan kemaslahatan manusia.

5. Bagaimana Definisi Qaidah Fiqhiyyah? Jelaskan Macam-macam dan Tingkatannya? Bagaimana Sumber-sumber Qaidah Fiqhiyyah? Bagaimana Kehujjahan dan Kegunaan Qaidah Fiqhiyyah? Dan Bagaimana Urgeninya dalam istinbath hukum? C. Mendeskripsikan Sumber-sumber Qaidah Fiqhiyyah. 2. Menjelaskan Macam-macam dan Tingkatannya. Mendeskripsikan Kehujjahan dan Kegunaan Qaidah Fiqhiyyah.2 B. 5. 2. 4. 4. . 3. Mendeskripsikan Definisi Qaidah Fiqhiyyah. Rumusan Masalah Agar supaya pada pembahasan kali ini tidak melebar dan fokus. Dan mendeskripsikan Urgeninya dalam istinbath hukum. 3. maka penulis merumskan sebuah rumusan masalah sebagai berikut: 1. Tujuan Pembahasan Adapun tujuan pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut: 1.

13 3 Abdul Mudjib. dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan kata 'Kaidah' yang berarti aturan atau patokan. 4.1 Sedangkan bagi mayoritas ulama ushul mendefinisikan kaidah dengan: ّ‫بح‬ٛ‫ع جزئ‬ًٛ‫ُطبق عهٗ ج‬ٚ ٙ‫حكى كه‬ "Hukum yang biasa berlaku yang bersesuaian dengan sebagian besar bagianbagiannya“. Kaidah-kaidah Ilmu Fiqih (al-Qowaidul al-Fiqhiyyah). Ahmad asy-Syafi„i dalam bukunya ushul fiqh al-islami menyatakan bahwa kaidah adalah: ‫شة‬ٛ‫بث كث‬ٛ‫ُذسج ححج كم ٔاحذة يُٓب حكى جزئ‬ٚ ٗ‫ت انخ‬ٛ‫ب انكه‬ٚ‫انقضب‬ "Hukum yang bersifat universal (kulli) yang diikuti oleh satuan-satuan hukum juz„i yang banyak". Ushul Fiqh Al-Islami (Iskandariyah Muassasah Tsaqofah Al Jamiiyah. Dalam tinjauan terminologi kaidah mempuyai beberapa arti. Rahman Dahlan. Pengertian Kata Qawa‟id merupakan bentuk jama' dari kata Qaidah. Amzah : Jakarta. Kalam Mulia : Jakarta 4 Ibid. 2 Abd . Qowaidul Fiqhyah ialah : dasar-dasar fiqih yang bersifat umum dan bersifat ringkas berbentuk undang-undang yang berisi hukumhukum syara‟ yang umum terhadap berbagai peristiwa hukum yang termasuk dalam ruang lingkup kaidah tersebut. Menurut Musthafa az-Zarqa. .3 BAB II PEMBAHASAN A.4 1 Ahmad Muhammad Asy-Syafii. Ushul Fiqih. 1983).3 Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa setiap Qidah Fiqhiyyah telah mengatur dan menghimpun beberapa banyak masalah fiqh dari berbagai bab dan juga diketahui bahwa para fuqoha‟ telah benar-benar mengembalikan masalah-masalah hukum fiqh kepada kaidah-kaidahnya.2 Para fuqoha pada umumnya memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan kaidah fiqhiyyah ialah hukum kulli (kaidah-kaidah umum) yang berlaku pada semua bagian-bagiannya atau cabang-cabangnya.

kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi dua. Macam-Macam Qa’idah Fiqhiyyah 1. 319 .4 Maka. Kaidah fiqh yang berperan sentral. yaitu : kaidah yang tidak memiliki pengecualian dan yang mempunyai pengecualian. untuk itu perlu kiranya bagi kaum muslim untuk mempelajari dan mengkaji ulang ilmu ini. keadaan yang berlainan. ekonomi. kaidah yang berfungsi marginal adalah kaidah yang cakupannya lebih atau bahkan sangat sempit sehingga tidak dihadapkan dengan furu. Selain itu juga akan menjadi lebih arif dalam menerapkan fiqih pada waktu dan tempat yang berbeda untuk kasus. Dengan menguasai kaidah-kaidah fiqih seorang muslim akan mengetahui benang merah yang menguasai fiqih. Kaidah 5 Abdul Wahab Khallaf. umpamanya : ”Adat dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum” kaidah ini mempunyai beberapa turunan kaidah yang berperan marginal. Akan tetapi tidak sedikit orang yang kurang memahami tentang hal ini. adat kebiasaan. sosial. yaitu sentral dan marginal. kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi dua. budaya sehingga kaum muslim bisa mencari solusi terhadap problem-problem yang terus muncul dan berkembang dalam masyarakat dengan lebih baik. Qawaidul fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqih) adalah sesuatu yang sangat penting dan menjadi kebutuhan bagi kaum Muslim. karena kaidah tersebut memiliki cakupan-cakupan yang begitu luas. karena kaidah fiqih itu menjadi titik temu dari masalah-masalah fiqih. Qa‟idah fiqh menurut fungsinya Dari segi fungsi. Qa‟idah fiqh mustasnayat Dari sumber pengecualian. Dengan mempelajari kaidah fiqih. 2.5 B. diharapkan pada akhirnya juga bisa menjadi lebih moderat dalam menyikapi masalah-masalah politik. ”Sesuatu yang ditetapkan berdasarkan kebiasaan seperti ditetapkan dengan naskh” Dengan demikian. Kaidah ini dikenal sebagai al-Qawaid al-Kubra al-Asasiyyat. PT Raja Grafindo : Jakarta. diantaranya : ”Sesuatu yang dikenal secara kebiasaan seperti sesuatu yang telah ditentukan sebagai syarat” . Kaidah-Kaidah Hukum Islam (Ilmu Ushulul Fiqih).

karena pembentukan kaidah fiqh adalah upaya agar manusia terhindar dari kesulitan dan dengan sendirinya ia mendapatkan kemaslahatan. Kaidah fiqh segi kwalitasnya Kaidah kunci Kaidah kunci yang dimaksud adalah bahwa seluruh kaidah fiqh pada dasarnya. Umpamanya adalah: ”Bukti dibebankan kepada penggugat dan sumpah dibebankan kepada tergugat”. Abu Thahir al-Dabbas menutup masjid karena pengunjung masjid telah pulang.html). dan ibn al-Nujaim mengatakan bahwa Abu Thahir al-Dabbas (ulama abad 4H) telah mengumpulkan 17 kaidah penting dalam madzhab Hanafi. Kaidah diatas merupakan kaidah kunci. al-Suyuthi.com/2012/04/kedudukan-kaidahfiqhiyah-sebagai. Kaidah fiqh tersebut adalah : ”Perbuatan/ perkara itu bergantung pada niatnya”. ”Kenyakinan tidak hilang dengan keraguan”. Abu Thahir al-Dabbas menghafalnya secara berulang-ulang pada setiap malam dimasjid setelah pengunjung masjid lainnya keluar. Sumber-sumber dan Kehujjahan Qa’idah Fiqhiyyah Menurut riwayat Al-ala‟i al-Syafi‟i. 3. Kaidah fiqh lainnya adalah kaidah yang mempunyai pengecualian kaidah yang tergolong pada kelompok yang terutama diikhtilafkan oleh ulama. Pada suatu malam.blogspot. Ketika Abu Thahir al-Dabbas telah menghafal sebagian kaidah fiqh yang 6 Tri Winarsih. Kaidah asasi Adalah kaidah fiqh yang tingkat kesahihannya diakui oleh seluruh aliran hukum islam. dapat dikembalikan kepada satu kaidah. (http://annajma92. ”Kesulitan mendatangkan kemudahan” ”Adat dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum”. diakses tanggal 05 April 2013 . yaitu : ”Menolak kerusakan (kejelekan) dan mendapatkan maslahat”.5 fiqh yang tidak punya pengecualian adalah sabda Nabi Muhammad SAW.6 C. Kaidah-kaidah Fiqhiyyah. Dan ketika itu Abu Sa‟id al-Harawi bersembunyi dibawah tumpukan tikar masjid untuk mendengar hafalan kaidah fiqh Abu Thahir al-Dabbas. Dalam melestarikan kaidah tersebut.

(QS.” c) Eksistensi niat Para fuqaha” berbeda pendapat dalam mendudukkan niat. 2002). Akhirnya Abu Sa‟id al-Harawi dipukul dan dikeluarkan dari masjid oleh Abu Thahir al-Dabbas dan setelah kejadian itu Abu Thahir al-Dabbas tidak pernah mengulangi hafalannya tersebut. dan sesungguhnya bagi seseorang itu hanyalah apa yang ia niati). 64 . 7 Jaih Mubarok.6 dikuasainya. Kaidah Fiqh Sejarah dan Kaidah-kaidah Asasi. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Kemudian Abu Sa‟id al-Harawi batuk dan Abu Thahir al-Dabbas mendengarnya. Syarat adalah ketentuan yang harus dilakukan mukallaf sebelum terjadinya perbuatan. sedangkan rukun adalah ketentuan yang harus dilakukan bersama dengan perbuatan.” b) Dasar-dasar nash kaidah Firman Allah SWT: ‫َعْ بُذُٔا ا‬ِٛ‫ْل ن‬ ‫يشُٔا إِ ا‬ ْ ‫ي‬ ِّ ‫ٍَ نَُّ ان‬ٛ‫ص‬ ‫ء‬ ُ ٍَٚ‫ذ‬ ِ ِ ‫خه‬ ُ َ‫َّللا‬ ِ ُ ‫يب أ‬ َ ‫حَُفَب‬ َ َٔ Artinya : “Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (jauh dari syirik dan jauh dari kesesatan)”. Imam Abu Hanifah dan imam ahmad bin hambal mendudukkan niat sebagai syarat perbuatan. Sedang imam syafi‟I mendudukkan niat sebagai rukun perbuatan. yaitu:7 1) Kaidah yang Berkaitan Dengan Fungsi Tujuan a) Teks kaidahnya: ْ ‫ذَْب‬ ُ ْٕ‫ي‬ ِ‫ص‬ ِ ‫ًقَب‬ ُ ُ‫اْل‬ َ ِ‫س ب‬ “Setiap perkara tergantung pada tujuannya. Adapun kaidah-kaidah fiqh Abu Thahir al-Dabbas yang berhasil dihafal Abu Sa‟id al-Harawi adalah lima kaidah pokok. Al-Bayyinah: 5) Dan dalam Sabda Nabi Muhammad SAW: َٕ٘‫بث ٔإًَب نكم ايشئ يب‬ُٛ‫إًَب األعًبل ببن‬ Artinya:“(Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat.

7 Jalaludin abdurrahman as syuyuti menyatakan bahwa waktu niat adalah dipermulaan ibadah. Dan ibadah yang tidak membutuhkan niat. Kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyah.” Yang dimaksud yakin adalah ْ ‫كبٌَ ثَببِخًب بِب نُا‬ ‫ٔان ا‬ َ ‫يب‬ ْ ِ ‫ذن‬ ‫م‬ ُ ٛ َ ‫ش‬ َ ُْ ٍُِْٛ‫َق‬ٛ‫اَ ْن‬ َ ٕ ِ ‫ظ‬ “Sesuatu yang tetap . apakah shalat wajib atau sunah.8 2) Kaidah yang Berkenaan Dengan Keyakinan a) Teks kaidahnya: ‫ل ب ِب ن ا‬ ِّ ‫ش‬ ‫ك‬ ُ ‫ُزَ ا‬ٚ ‫ٍُْ ْل‬ِٛ‫َق‬ٛ‫اَ ْن‬ “Keyakinan itu tidak dapat dihilangkan dengan keraguan. sedang setiap hari tidak perlu melakukan niat bila beriman kepada Allah SWT. Ibadah yang membutuhkan niat adalah ibadah yang amaliyah yang memerlukan penjelasan secara khusus. 1999). misalnya iman kepada Allah cukup dilakukan dengan bacaan syahadatain. tanpa dapat dimenangkan salah satunya.” b) Dasar-dasar nash kaidah Sabda Nabi SAW: ْ َ‫ى فِٗ ب‬ ْ ٍَ‫ي‬ ْ َ‫ئًب فَأ‬ٛ ْ َٚ‫و ْل فَال‬ ْ‫ي‬ ُ‫ذ‬ َ ِ‫إ‬ ‫جا‬ َ‫ش‬ َ ُ ُّ َ ّ ُ‫ح‬ َ َ‫ّ ا‬ ْ‫س‬ ْ َٚ ٗ‫حخا‬ ْ ً ْ َ ‫عه‬ ْ‫ش‬ ٚ ُ ‫خ‬ َ‫ج‬ َ ‫م‬ َ‫ج‬ َ ‫ع‬ َ ً َ ‫ذ‬ َ ‫ش‬ ْ َ‫ْئ ا‬ٛ‫ش‬ َ ‫ش‬ َ‫خ‬ َ ‫ك‬ ْ‫ك‬ َ َ‫ذ ا‬ َ ٔ‫ا‬ ِ‫ج‬ ِ ٍ ِ ‫ج‬ ِٛ ِ ُِ‫ط‬ َ ‫ر‬ ِ َٚ َْٔ‫صْٕ حًب ا‬ ِ ‫س‬ َ‫س‬ َ ‫ان‬ ِ ‫ذ‬ (‫ )سٔاِ يسهى‬. cet. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. misalnya niat shalat.‫حً ب‬ 8 Mukhlis Usman. baik dengan penganalisaan maupun dengan dalil”. Sedangkan yang dimaksud dengan syak adalah ْ ٕ ْ ‫ان ا‬ َ ‫يب‬ ُ ‫ء‬ َ ‫ان‬ ِّ ‫ش‬ ْ َ‫ددًا ب‬ ‫ش‬ َ ‫ًب‬ َ‫ع‬ َ ٔ َ َ‫ْح ا‬ ْ َ ‫شف‬ َ َ‫بٖٔ ط‬ َ َ‫ع ح‬ َ‫ي‬ َ َ‫يخ‬ ِ ‫ذ‬ ِ‫ح‬ ِ ‫خطَب‬ ِ‫ي‬ ِ‫ذ‬ ِ ُْٕ‫ٍَ انثب‬ٛ ُ ٌَ‫كب‬ َ ِ‫إاب‬ َ ‫ٗ انص‬ َ ‫ث‬ َ ُْ ‫شك‬ ِ ْ‫دْٔ ٌَ حَش‬ َْ َ ّ َ ٕ ِ ‫س‬ ِ َ‫عهَٗ األَخ‬ ِ ٛ‫ج‬ “Sesuatu yang tidak menentu antara ada dan tiadanya. 105 . Pada dasarnya ibadah itu ada yang membutuhkan niat adapula yang tidak membutuhkannya. dan dalam ketidaktentuan itu sama antara batas kebenaran dan kesalahan. 3. karena bukan ibadah amaliyah yang diperintahkan secara adat. sedangkan tempatnya didalam qolb (Amaliyah Qolbiyah) yang bersamaan dengan perbuatan (Amaliyah Fi‟liyah).

atau diketahui bahwa umumnya yang menyembelih binatang disitu adalah orang muslim. maka yang yakin adalah rakaat yang paling sedikit. Keragu-raguan yang berpangkal dari yang mubah. karena pada dasarnya hal tersebut haram. 114-115 . Contoh keraguan ini adalah kasus seseorang yang menemukan air yang telah berubah. maka sembelihan itu haram dimakan. tidak tahu berapa rakaat yang telah dikerjakan tiga ataukah empat rakaat. Keragu-raguan yang tidak diketahui pangkal asalnya. Misalnya seseorang ragu-ragu berapa raka‟at yang ia lakukan dalam shalatnya. maka air dapat dibuat bersuci sebab pada dasarnya air itu suci.8 “Apabila seorang diantara kalian menemukan sesuatu didalam perut kemudian sangsi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya atau belum.”( HR. yaitu: Keragu-raguan yang berpangkal dari yang haram. Muslim) ْ َٛ‫صهّٗ أ ثَالثًب أَْ اَسْ بَبعًب فَ ْه‬ ‫حبن ا‬ ُ ‫ذ‬ َ ِ‫إ‬ ْ َٚ ‫ى‬ َ ‫س‬ ‫ش ا‬ ُ‫ح‬ َ ‫را‬ ْ َ‫سخ‬ ْ ‫يب‬ ْ َٛ‫ٔ ْن‬ (ٖ‫قٍََ )سٔاِ انخشيز‬ٛ َ ٍ َ‫ط‬ َ ‫ى‬ ْ‫ك‬ ْ َ‫ّ فَه‬ َ ِٗ‫ى ف‬ ْ‫ك‬ َ َ‫ك ا‬ ِ ‫ش‬ ِ ِ‫صالح‬ َ ‫شك‬ َ َٗ‫عه‬ ِ ‫ب‬ ِ ‫ذ‬ “Apabila salah seorang diantara kalian ragu dalam mengerjakan shalat. Pada kedua dalil itu disebutkan bahwa keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguaan. Thurmudhi). 9 Ibid. maka buanglah keragu-raguan itu dan berpeganglah kepada apa yang diyakini (yang paling sedikit.9 c) Pembagian syak Abu hamid al-Asfiroyini menyebutkan bahwa syak (keraguan) itu terdapat 3 macam. karena yang paling sedikit itu yang yakin sedang yang paling banyak merupakan yang diraguragukan. sehingga diketahui benar-benar bahwa yang menyembelih adalah seorang muslim. maka janganlah keluar dari masjid sehingga mendengar suara atau mendapatkan baunya.”( HR. bisa karena najis dan bisa juga karena sudah lama. perubahan itu ada 2 kemungkinan. Macam keraguan ini dicontohkan khusus penyembelihan binatang dinegara yang penduduknya islam dan majusi.

agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah”. b) Dasar-dasar nash kaidah Firman Allah: ْ ‫ًهُٕا‬ ْ ‫ى‬ ْ ‫ى‬ ‫كبِّشُٔا ا‬ ‫ذ ا‬ ْ ُ‫ٔنِخ‬ ْ َ‫ى ح‬ ُ‫ش‬ ُ ‫عه ا‬ ُ ‫يب َْذَا‬ ُ ِ‫ذ ب‬ ُ ِ‫َّللاُ ب‬ َٔ َ ُ‫ٔنِخ‬ ‫عا‬ ُ ٚ‫ُش‬ ُ ٚ‫ُش‬ ْ ‫ع‬ ْ ُٛ‫ان‬ ُ ‫ان‬ ٰ َ ‫عه‬ ٌَُٔ‫كش‬ َ َ‫َّللا‬ ْ‫ك‬ َ َ ‫ٔن‬ ْ‫ك‬ َ‫س‬ َ‫س‬ ِ ‫ان‬ ِ‫ك‬ ُ‫ك‬ ُ‫ك‬ َ ‫ى‬ َ َ‫ذة‬ َ ‫ش‬ َ ‫ش‬ َ ٗ ِ ٚ ‫ْل‬ ِ ٚ…. (QS. namun dikhawatirkan karena itu hukumnya makruh. Dan tidak dapat dibedakan antara modal yang haram dan yang halal. dengan kekuasaannya-Nya itu dia mampu menundukkan ketaatan manusia untuk mengabdi kepadanya. Agar dalam realisasi penghambaan itu tidak terjadi kekeliruan maka dia membuat aturan-aturan khusus yang disebut sebagai syari‟ah demi kemashlahatan itu sendiri.Allah menghendaki kemudahan bagimu. Al-Baqarah:185) Dan dalam Sabda nabi SAW: ْ ِ‫ٍ اِنَٗ َّللا‬ ِّ ‫حب ان‬ ِّ ‫ان‬ ْ ُِ‫ح‬ ْ‫ذ‬ ‫فَتُ ان ا‬ٛ )ٖ‫حتُ (سٔاِ انبخبس‬ َ ً ْ‫س‬ َ ‫ان‬ َ َ‫ُسْش ا‬ٚ ٍُْٚ‫ذ‬ ِ ٚ “Agama itu memudahkan. Artinya: “….9 Contoh keraguan ini adalah kasus bekerja dengan orang yang modalnya sebagian besar haram. 3) Kaidah yang Berkenaan Dengan Kondisi Menyulitkan a) Teks kaidahnya: ْ َ ً ْ ‫شقاتُ حَجْ هِبُ انخا‬ ‫ش‬ ُ ‫س‬ ِ ٛ َ ‫ان‬ “Kesukaran itu dapat menarik kemudahan”. dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Kondisi semacam ini diperbolehkan jual beli karena dimungkinkan modalnya halal dan belum jelas keharaman modal tersebut. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu. Tentunya syari‟ah itu disesyuaikan dengan tingkat kemampuan dan potensi . (HR Bukhori) c) Rasionalisasi kemudahan dalam islam Allah SWT sebagai musyari‟ memiliki kekuasaan yang tiada tara. supaya kamu bersyukur.

Tahfitul tarkhis (meringankan dengan kemurahan) misal bolehnya menggunakan benda najis atau khomr untuk keperluan berobat. dimana manusia tidak mampu memikul kesulitan itu. yaitu: Tahfitul isqoth (meringankan dengan menggugurkan) misal menggugurkan kewajiban shalat jum‟at jika ada udzur. e) Bentuk-bentuk keringanan dalam kesulitan Syekh Izzudin bin Abdis Salam menyatakan bahwa bentuk-bentuk keringanan dalam kesulitan itu ada enam macam. Tahfitul ibdal (meringankan dengan mengganti) misal mengganti wudhu dengan tayamum. Tahfitul taqdim (meringankan dengan mendahulukan waktunya) misalnya kebolehan melakukan jama‟ taqdim ketika shalat. karena jika ia melakukannya niscaya akan merusak diri dan memberatkan kehidupannya. Tahfitul tanqish (meringankan dengan mengurangi) misal bolehnya mengqoshor shalat dari 4 raka‟at menjadi 2 raka‟at. 122-124 Ibid. 130-131 .11 4) Kaidah yang Berkenaan Dengan Kondisi Membahayakan a) Teks kaidahnya: ‫ل‬ ُ ‫ُزَ ا‬ٚ ‫س‬ ُ ‫اشا‬ َ ‫انض‬ 10 11 Ibid.Zuhaili mengklasifikasikan kesulitan dalam 2 kategori: Kesulitan Mu‟tadah adalah kesulitan yang alami.10 yang dimiliki seorang hamba. karena pada dasarnya syari‟ah itu bukan untuk kepentingan tuhan melainkan untuk kepentingan manusia sendiri. Tahfitul ta‟khir ( meringankan dengan mengakhirkan waktu) misal bolehnya melakukan jama‟ ta‟khir dalam shalat.10 d) Klasifikasi kesulitan Wahbah Az. Kesulitan Ghoiru Mu‟tadah adalah kesulitan yang tidak pada kebiasaan . dimana manusia mampu mencari jalan keluarnya sehingga ia belum masuk pada keterpaksaan.

jiwa. 5) Kaidah yang Berkenaan Dengan Adat Kebiasaan a) Teks kaidahnya: َ ْ‫يح‬ ‫ًت‬ َ ‫عب‬ َ ‫اَ ْن‬ ُ ُ‫د ة‬ َ‫ك‬ “Adat kebiasaan dapat ditetapkan sebagai hukum. nasab.12 b) Dasar-dasar nash kaidah Firman Allah SWT : ْ ‫ُحب‬ ‫ٌ ا‬ ًْ َ َ‫َّللا‬ ‫إِ ا‬ ٍَٚ‫ذ‬ ِ‫س‬ ِ ‫ف‬ ُ ‫ان‬ ِ ٚ ‫ْل‬ Artinya:“Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan. bila tidak dipenuhi tidak akan membahayakan eksistensi manusia. Contoh kaidah diatas yaitu bahwa darah para pejuang islam ketika perang dianggap suci untuk dipakai shalat. Pengantar Hukum Islam. Al Qoshosh: 77) Dan Sabda nabi SAW: ‫س‬ َ ‫شا‬ َ‫ض‬ َ‫ش‬ َ‫ض‬ َ َ‫ْل‬ ِ َ‫ْٔل‬ َ ‫س‬ “Tidak boleh membuat kerusakan pada diri sendiri serta membuat kerusakan pada orang lain.11 “Kemadharatan harus dihilangkan” Kaidah ini adalah suatu kaidah pokok yang dari kaidah tersebut merujuklah sebagian besar masalah-masalah fiqh dan diistinbathkannya berbagai hukum. 364 . Sedangkan darurat adalah kesulitan yang sangat menentukan eksistensi manusia. Ahmad dan Ibnu Majah) c) Perbedaan antara masyaqot (kesulitan) dengan darurat Masyaqqot adalah suatu kesulitan yang menghendaki adanya kebutuhan (hajat) tentang sesuatu.”(QS. karena jika ia tidak diselesaikan maka akan mengancam agama. tetapi bila mengenai orang lain dianggap najis. 1997).” b) Dasar-dasar Nash Kaidah Firman Allah SWT: ْ ٍَ ْ ِ‫يشْ ب‬ ْ ‫ز‬ ْ‫ع‬ ُ ْ َ ‫ٔأ‬ ٍَِٛ‫ْه‬ َ ‫ان‬ َ ‫ان‬ ِ ‫جب‬ ِ ْ‫بنعُش‬ ُ ‫ٔ ْأ‬ ِ‫خ‬ َ ‫ف‬ َ ٕ َ‫ف‬ ِ ‫شضْ ع‬ ِ ‫ع‬ 12 Teungku Muhammad Hasby As Shidieqy. (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra.” (HR. harta serta kehormatan manusia.

Namun sebagian fuqoha‟ membedakannya. Al A‟raf: 199) Sabda Nabi SAW: ْ ‫ى‬ ْ ْ‫ح‬ ْ ُ‫ذ ا‬ ُ ‫ٔعَب‬ ْ َ‫شةً ب‬ ْ َ‫دْٔ ااِن‬ ًْ ْ َ ‫عه‬ ْ ‫يب ا‬ ‫يا‬ ‫ً ا‬ ٖ‫ش‬ ُ َٗ‫عه‬ َ‫ع‬ َ ّ َ ُ‫ش انُابس‬ َ ‫عب‬ َ‫خ‬ َ ‫ان‬ ِٛ ِٛ َ ‫ل‬ ِ ُْٕ‫عق‬ ِ‫ك‬ َ ّ َ ‫ان‬ َ َ‫سخ‬ َ ُ‫دة‬ “apa yang dipandang baik oleh muslim maka baik pula disisi Allah. karena logis dan dilakukan secara terus-menerus. Sedangkan Al-Qarafi dalam al-Furu‟nya menulis bahwa seorang fiqh tidak akan besar pengaruhnya tanpa berpegang kepada kaidah fiqhiyah. Bagi Imam Hanafi mewajibkan penggunaan metode „adah sedang imam Syafi‟I menguatkan metode tamyiz. Ahmad) c) Pengertian adah dan „uruf Jumhur ulama‟ mengidentikkan „adah dengan „uruf keduanya mempunyai arti yang sama. Al Jurjani misalnya mendefinisikan „adah yaitu suatu perbuatan yang terus-menerus dilakukan manusia.12 Artinya:“Dan serulah orang-orang yang mengerjakan yang ma‟ruf serta berpalinglah dari orang yang bodoh. Op.” (QS.. dan yang kuat dianggap darah haid) dan ada juga metode „adah ( yakni menganggap haid atas hari-hari kebiasaan keluarnya darah tiap bulan). 140-142 . Kegunaan Qa’idah Fiqhiyyah Imam Abu Muhammad Izzuddin Ibn Abbas Salam menyatakan bahwa Kaidah Fiqhiyah mempunyai kegunaan sebagai suatu jalan untuk mendapat suatu kemaslahatan dan menolak kerusakan serta bagaimana cara mensikapi kedua hal tersebut. karena sejalan dengan akal sehat dan diterima oleh banyak orang. karena jika tidak berpegang pada kaidah itu maka hasil ijtihadnya banyak bertentangan dan berbeda 13 Mukhlis Usman. Misal „uruf/‟adah yaitu menggunakan kalender haid bagi wanita.Cit. setiap bulan seorang wanita mengalami menstruasi dan cara perhitunganya ada yang menggunakan metode tamyiz (yakni membedakan darah kuat dan darah lemah. Sedangkan „urufyaitu suatu perbuatan yang jiwa merasa tenang melakukannya.13 D.” (HR.

php?a=artikel&id=10117). diakses tanggal 05 April 2013 Islam. Kaidah-kaidah Hukum (http://riau. Menguasai suatu kaidah berarti menguasai sekian bab fiqh. 2) Kaidah membantu menjaga dan menguasai persoalan-persoalan yang banyak diperdebatkan. Urgensi Qa’idah Fiqhiyyah Qa‟idah Fiqhiyyah dikatakan penting dilihat dari dua sudut : 14 Ahmad Supardi Hasibuan. 6) Pengetahuan tentang kaidah merupakan kemestian karena kaidah mempermudah cara memahami furu‟ yang bermacam-macam.14 E. Lebih lanjut berbicara tentang kegunaan Kaidah Fiqhiyah ini adalah sebagaimana disebutkan oleh Ali Ahmad al-Nadwi sebagai berikut: 1) Mempermudah dalam menguasai materi hukum karena kaidah telah dijadikan patokan yang mencakup banyak persoalan. 5) Meringkas persoalan-persoalan dalam satu ikatan menunjukkan bahwa hukum dibentuk untuk menegakkan maslahat yang saling berdekatan atau menegakkan maslahat yang lebih besar. 4) Mempermudah orang yang berbakat fiqh dalam mengikuti (memahami) bagian-bagian hukum dengan mengeluarkannya dari thema yang berbedabeda serta meringkasnya dalam satu topik tertentu.go. kegunaan kaidah fiqh adalah sebagai pengikat (ringkasan) terhadap beberapa persoalan fiqh.kemenag. 3) Mendidik orang yang berbakat fiqih dalam melakukan analogi (ilhaq) dan takhrij untuk mengetahui hukum permasalahan-permasalahan baru. Dengan berpegang pada kaidah fiqhiyah tentunya mudah menguasai furu‟-furu‟nya. . karena kaidah dapat mengelompokkan persoalan-persoalan berdasarkan illat yang dikandungnya. Secara sederhana. Oleh karena itu.id/index.13 antara furu-furu‟ itu. mempelajari kaidah dapat memudahkan orang yang berbakat fiqh dalam menguasai persoalan-persoalan yang menjadi cakupan fiqh. Demikian kegunaan kaidah yang disampaikan oleh Ali Ahmad al-Nadwi.

Oleh karena itu. Dari sudut sumber. baik mengenai perdata. Op. ekonomi dan undang-undang dasar telh sempurna dengan adanya nash-nash yang menetapkan prinsip-prinsip umum dan qanun-qanun tasyrik yang kulli yang tidak terbatas suatu cabang undang-undang. pidana. Sedangkan al-Qrafy dalam al-Furuqnya menulis bahwa seorang fiqh tidak akan besar pengaruhnya tanpa berpegang pada kaidah fiqhiyah. Selanjutnya Imam Abu Muhammad Izzuddin ibnu Abbas Salam menyimpulkan bahwa kaidah-kaidah fiqhiyah adalah sebagai suatu jlan untuk mendapatkan suatu kemaslahatan dan menolak kerusakan serta bagaimana menyikapi kedua hal tersebut. kaidah fiqh mencakup beberapa persoalan yang sudah dan belum terjadi. kaidah fiqh dapat dijadikan sebagai salah satu alat dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi yang belum ada ketentuan atau kepastian hukumnya. ulama dapat menemukan persoalan esensial dalam satu persoalan. Dengan berpegang pada kaidah fiqhiyah tentunya mudah menguasai furu‟nya dan mudah dipahami oleh pengikutnya. Dari segi istinbath al-ahkam. Dengan berpegang pada kaidah-kaidah fiqhiyah. kaidah merupakan media bagi peminat fiqh Islam untuk memahami dan menguasai muqasid al-Syari‟at. . 2. Abdul Wahab Khallaf dalam ushul fiqhnya bertkata bahwa hash-nash tasyrik telah mensyariatkan hokum terhadap berbagai macam undang-undang.15 Karena cakupan dari lapangan fiqh begitu luas.14 1. yakni dengan menggolongkan masalah yang serupa di bawah lingkup satu kaidah. para mujtahid merasa lebih mudah dalam mengistinbathkan hukum bagi suatu masalah. karena dengan mendalami beberapa nash. karena jika tidak berpegang paa kaidah itu maka hasil ijtihatnya banyak pertentangan dan berbeda antara furu‟-furu‟ itu. maka perlu adanya kristalisasi berupa kaidah-kaidah kulli yang berfungsi sebagai klasifikasi masalah-masalah furu‟ menjadi beberapa kelompok. Cit. 15 Abdul Wahab Khallaf.

15 .

16 BAB III PENUTUP Dari penjelasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa qawaid fiqhiyah ialah hukum yang biasa berlaku yang bersesuaian dengan sebagian besar bagianbagiannya. lain halnya dengan dhabith fiqhiyah. Perbedaan qawaid fiqhiyah dengan dhawabit fiqhiyah ialah cakupan dhabith fiqhiyah lebih sempit dari cakupan qawaidh fiqhiyah dan pembahasan qawaid fiqhiyah tidak dikhususkan pada satu bab tertentu. Tujuan mempelajari kaidah fiqh itu untuk mempermudah dalam mengetahui prinsip-prinsip umum fiqh dan sebagainya. . dan juga merupakan cakupan persoalan yang sudah maupun belum terjadi. Perbedaan qawaid fiqhiyah dengan ushul fiqh ialah . tidak dapat berdiri sendiri. Dasar pengambilan qawaid fiqhiyah terbagi pada dua yakni: dasar formil dan dasar materiil. qawaid ushuliyyah adalah himpunan sejumlah persoalan yang meliputi tentang dalil-dalil yang dapat dipakai untuk menetapkan hukum. mengingat kaidah ushuliyah memuat pedoman penggalian hukum dari sumber aslinya sedang kaidah fiqhiyah merupakan petunjuk pelaksana dari kaidah ushuliyah tersebut. Penggunaan masing-masing kaidah tersebut selalu berkaitan. Pentingnya qawaid fiqhiyah karna kaidah fiqh ini merupakan media bagi peminat fiqh Islam dalam menguasai Maqashid Syariah. Sedangkan qawaid fiqhiyah merupakan himpunan sejumlah masalah yang meliputi hukum-hukum fiqh yang berada di bawah cakupannya semata.

3. Pengantar Hukum Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Kalam Mulia : Jakarta Abdul Wahab Khallaf. 13 Abdul Mudjib. PT Raja Grafindo : Jakarta. Ahmad Supardi Hasibuan.17 DAFTAR PUSTAKA Abd . Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 64 Mubarok. RajaGrafindo Persada. 2002.com/2012/04/kedudukan-kaidah-fiqhiyahsebagai. Kaidah-kaidah Hukum Islam. Sejarah dan Kaidah-Kaidah asasi. 1999). Teungku. 3 . 1997 Mukhlis Usman. (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. Kaidah Fiqh Sejarah dan Kaidah-kaidah Asasi. 2002). Kaidah-Kaidah Hukum Islam (Ilmu Ushulul Fiqih). Fiqh dan Ushul Fiqh.id/index. Pengantar Hukum Islam. Mukhlis. Ushul Fiqh Al-Islami (Iskandariyah Muassasah Tsaqofah Al Jamiiyah. 4. Kaidah-kaidah Ilmu Fiqih (al-Qowaidul al-Fiqhiyyah). Amzah : Jakarta. Semarang: PT PUSTAKA RIZKI PUTRA. cet. 2002 Mubarok. diakses tanggal 05 April 2013 Usman. Kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyah. Jakarta: PT. 1983). 1999. Jaih. 1997).go. Jakarta: PT. Ushul Fiqih.kemenag. RajaGrafindo Persada. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. (http://riau. Rahman Dahlan. 105 Teungku Muhammad Hasby As Shidieqy. Kaidah-kaidah Fiqhiyyah. Nazar. Miftahul. Muhammad Hasby As Shidieqy.html). 1997 Bakry. Kaidah Fiqh Sejarah dan Kaidah-kaidah Asasi.php?a=artikel&id=10117). cet. Jaih Mubarok. (http://annajma92. Jaih. Kementerian Agama RI. Jakarta: Pustaka Amani. Alquran dan Terjemahannya. 319 Ahmad Muhammad Asy-Syafii. Surabaya: Citra Media. diakses tanggal 05 April 2013 Arifin. 2002. 2003.blogspot. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyah. 364 Tri Winarsih. Ushul Fiqh : Kaidah-Kaidah Penetapan Hukum Islam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful