Você está na página 1de 6

Analisa data Pendahuluan Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk penyakit jantung, penyebab utama morbiditas dan

mortalitas, dan menelan biaya sekitat $ 131. juta per tahun untuk pengeluaran perawatan kesehatan. Laporan dari Kesehatan Nasional dan Survei Pemeriksaan Gizi (NHANES), menyebutkan bahwa selama 2005-2008, hampir sepertiga orang dewasa AS memiliki hipertensi, dan kurang dari setengah itu berada di bawah kontrol. Hipertensi yang tidak terkontrol pada orang dewasa dengan hipertensi dikaitkan dengan peningkatan mortalitas Pengobatan hipertensi dan kontrol yang memadai dapat mengurangi kejadian serangan pertama dan berulang jantung dan stroke, gagal jantung, dan penyakit ginjal kronis, dan dapat menyelamatkan nyawa. Laporan ini berfokus pada tiga kelompok orang dewasa dengan hipertensi tidak terkontrol yakni: 1. Orang yang tidak menyadari hipertensi mereka. 2. Mereka yang sadar tetapi tidak diobati dengan obat. 3. Orang-orang yang sadar dan diobati dengan obat tetapi masih memiliki hipertensi yang tidak terkontrol. Temuan dalam laporan ini dapat digunakan untuk menargetkan populasi untuk meningkatkan kontrol hipertensi di Amerika Serikat. Metode Data dari NHANES merupakan data yang kompleks menggunakan sampel probabliltas masyarakat sipil bertingkat dan penduduk sipil non-institusi di AS. Sedangkan survey yang digunakan dalam jurnal ini menggunakan wawancara rumah tangga dan pemeriksaan fisik rinci. Untuk mendapatkan perkiraan statistik yang stabil, data dianalisis dari 2-tahun siklus survei pada empat tahun terakhir (2003-2010) yakni 2 tahun lebih awal dan 2 tahun setelah survey dari NHANES di mana total terdapat 22.992 partisipan berusia 18 tahun diwawancarai dan diperiksa.

Pengecualikan dari analisis ini adalah wanita hamil (n = 732), data pengukuran tekanan darah yang hilang atau informasi tentang penggunaan obat hipertensi saat ini yang dilaporkan sendiri oleh penderita yang hilang (n = 1.318), dan data kovariat bunga peserta yang hilang (n = 183). Klasifikasi pasien yang tidak menyadari hipertensi mereka, yang sadar tetapi tidak diobati dengan obat dan yang sadar dan diobati dengan obat tetapi masih memiliki hipertensi yang tidak terkontrol didasarkan pada jawaban ya pada pertanyaan dalam kuisioner yang berhubungan dengan kondisi yang mereka alami. Semua analisis dilakukan dengan menggunakan software statistik untuk memperhitungkan bobot pengambilan sampel dan untuk menyesuaikan perkiraan varians untuk multistage, contoh desain sampel cluster. prevalensi hipertensi tahap 2/ stadium 2 (sistol 160 mmHg atau diastol 100 mmHg). Karena tren dari waktu ke waktu tidak diperiksa dan beberapa siklus survei, maka perkiraan prevalensi usia tidak disesuaikan. Jumlah penduduk dihitung dengan menggunakan Survei Penduduk yang disediakan oleh NHANES, dengan rata-rata penduduk untuk pemeriksaan empat siklus. Hasil Secara keseluruhan, prevalensi hipertensi pada usia diatas 18 tahun di AS selama 2003-2010 adalah sebesar 30,4% yang diestimasikan sebanyak 66,9 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebesar 53,5% memiliki hipertensi yang tidak terkontrol. Prevalensi hipertensi yang tidak terkontrol di kalangan orang dewasa dengan hipertensi tertinggi di antaranya adalah mereka yang melaporkan tidak menerima perawatan medis di tahun sebelumnya (93,3%), orang-orang yang tidak memiliki asuransi kesehatan (71,8%) atau 35.800.000 orang dengan 32 juta (89,4%) melaporkan memiliki sumber kesehatan biasa , 31,4 juta (87,7%) menerima perawatan medis di tahunsebelumnya, dan 30,5 juta (85,2%) memiliki asuransi kesehatan.Lebih dari separuh (51,8%), diperkirakan 14,1 juta, dari penerima manfaat perawatanmedis dengan hipertensi memiliki hipertensi yang tidak terkontrol.

Sekitar 9,1 juta orang dewasa merupakan penderita hipertensi stadium 2 yang mewakili 13,6% dari semua orang dewasa dengan hipertensi dan 25,4%

dari orang-orang dengan hipertensi tidak terkontrol. Di antara orang dewasa dengan

hipertensi tidak terkontrol, diperkirakan 14,1 juta (39,4%) tidak menyadari keadaan mereka (Tabel).

Prevalensi yang tidak menyadari adalah tertinggi di antara mereka yang melaporkan tidak menerima perawatan kesehatan ditahun sebelumnya (71,5%), yang tanpa sumber perawatan kesehatan biasa(64,3%), orang dewasa berusia 18-44 tahun (56,6%), dan mereka yang tidak memiliki asuransi kesehatan (51,9%). Diperkirakan 5,7 juta orang dewasa (15,8%) sadar tapi tidak menggunakan obat-obatan farmakologi untuk mengobati hipertensi mereka, prevalensi orang-orang yang menyadari hipertensi mereka dan belum diobati juga lebih tinggi di antara mereka tanpa sumber pelayanan kesehatan (25,6%) biasa , orang dewasa berusia 18-44 tahun sebanyak (25,4%), berasal dari etnis Hispanik dan jugaMeksikoAmerika (24,8%), dan orang-orang tanpa asuransi kesehatan (23,5%). Diperkirakan 16 juta (44,8%) menyadari hipertensi mereka dan menggunakan pengobatan farmakologi. prevalensi orang-orang yang menyadari dan diobati dengan obat adalah (60,6%), mereka yang berusia 65 tahun (59,9%), dan mereka yang melaporkan menerima perawatan medis dua kali atau lebih dalam tahun sebelumnya (55,3%).

Kesimpulan dan Komentar Hasil analisis ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah (53,5%) atau sebesar 66,9 juta orang dewasa AS dengan hipertensi memiliki hipertensi yang tidak terkontrol selama periode 2003-2010. Hampir 90% dari 35.800.000 orang dewasa dengan hipertensi tidak terkontrol memiliki sumber perawatan kesehatan, memiliki asuransi kesehatan, dan menerima perawatan kesehatan pada tahun sebelumnya. Hal menunjukan hilangnya kesempatan penyedia layanan kesehatan,dan sistem pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kontrol terhadap penderita hipertensi. Peningkatan kontrol hipertensi akan memerlukan upaya perluasan fokus pada pasien hipertensi, sistem perawatan kesehatan dan dokter. Upaya kontrol terhadap penyakit hipertensi merupakan suatu tantangan tersendiri. Berbagai hambatan yang dapat dialami dalam mengontrol hipertensi antara lain hambatan dari pasien itu sendiri, penyediaan layanan kesehatan, system perawatan kesehatan maupun sifat dari penyakit hipertensi sendiri yang cendeung menetap. Padahal berdasarkan penelitian, peningkatan tekanan darah dapat meningkatkan resiko penyakit kardiovaskuler dan kematian. Untuk peningkatan sistolik sebesar 20 dari tekanan awal 150 dan peningkatan diastolik sebesar 10 dari tekanan awal 75, dapat meningkatkan resiko kematian akibat penyakit jantung iskemik dan stroke 2 kali lipat. Selain itu, hampir 30% orang dewasa dengan hipertensi uncontrolled dan menggunakan pengobatan farmakologi merupakan penderita stadium 2 (systole: 160 mmHg atau diastole 100 mmHg). Pasien tersebut memiliki resiko tinggi gangguan kardiovaskuler. Dalam usaha peningkatan kontrol hipertensi, Peningkatan fokus pada normalisasi tekanan darah dari dokter maupun sistem kesehatan adalah penting. Dalam hal ini, semua penyedia layanan kesehatan harus berpartisipasi, bukan hanya penyedia perawatan primer. Baru-baru ini, salah satu studi menunjukkan bahwa hipertensi terdiagnosis di EHRs (electronic health record) di klinik rawat jalan di daerah Teluk San Francisco, yang melayani sekitar 600.000 pasien. Untuk pasien dengan dua atau lebih pengukuran tekanan darah memiliki tekanan darah 140/90 atau pasien yang mendapatkan resep obat antihipertensi, hanya 63% penderita terdiagnosa hipertensi yang dicatat tepat dalam EHR.

Usaha-usaha peningkatan kontrol hipertensi yang ditawarkan dalam jurnal antara lain:
1. Menggunakan evidence based-practice guideline (pedoman praktek berbasis bukti). 2. model pemberian perawatan kesehatan yang inovatif seperti: perawatan berbasis

tim, berpusat pada pasien rumah sakit, dan intervensi untuk mempromosikan kepatuhan pengobatan.
3. Perawatan berbasis tim, direkomendasikan oleh the Community Preventive Services

Task Force, hal ini bertujuan untuk meningkatkan komunikasi dengan pasien dan penyedia layanan kesehatan lain dan sebagai salah satu metode untuk meningkatkan kepatuhan penggunaan evidence based-practice guideline seperti pedoman BP dari Komite Nasional Bersama Pencegahan, Deteksi, Evaluasi, dan Penanganan Tekanan Darah Tinggi.
4. Individu juga dapat memainkan peran penting dalam mencapai kontrol hipertensi

lebih besar dengan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan, mengukur tekanan darah sendiri, dan diet rendah natrium. Adapun Strategi untuk meningkatkan kontrol hipertensi dalam pengaturan klinis: Meningkatkan pengakuan pasien dan diagnosis hipertensi. Meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan terhadap pedoman hipertensi. Gunakan model pemberian perawatan kesehatan yang inovatif, seperti perawatan berbasis tim, rumah medis berpusat pada pasien,

intervensi apoteker, dan intervensi lain untukmempromosikan kepatuhan terhadap pengobatan. Optimalkan dosis dan penggunaan kombinasi obat antihipertensi yang efektif dan konseling gaya hidup melalui tinjauan rutin dari pengobatan pasien yang terorganisir. Memantau kemajuan pasien terhadap control hipertensi. mempromosikan self-monitoring tekanan darah oleh pasien

dan memberikan pendidikan manajemen diri dalam hal pengendalian hipertensi yang efektif. Mempromosikan gaya hidup sehat untuk semua pasien:

Makan makanan yang sehat, termasuk mengurangi natrium, konsumsi, dan peningkatan konsumsi kalium, buah-buahan, dan sayuran.

Aktivitas fisik yang teratur. Diet penurunan berat badan bagi mereka yang kelebihan berat badan atau obesitas.

Hal-hal penting yang disoroti dalam jurnal ini, yang perlu menjadi alasan perlunya pengadaan control hipertensi yang efektif adalah:
1. Hipertensi

merupakan

faktor

risiko

utama

untuk

penyakit

jantung

dan stroke di Amerika Serikat.


2. Hampir sepertiga dari orang dewasa AS yang disurvei selama 2003-2010 mengalami

hipertensi, dan hamper setengahnya memiliki hipertensi yang tidak terkontrol (tekanan darah sistolik <140 mmHg dan diastolik<90 mmHg).
3. Sekitar 36 juta orang dewasa AS memiliki hipertensi terkendali. Sekitar 39% tidak

tahu mereka memiliki hipertensi, 16% tahu tapi tidak dirawat dengan obat-obatan, dan 45% memakai obat tetapi tidak dikontrol.
4. Hampir seperempat dari orang dewasa dengan hipertensi tidak terkendali tahap 2

(tekanan darah sistolik 160 mmHg atau diastolik 100 mmHg), menempatkan mereka pada risiko tinggi untuk penyakit jantung atau stroke.
5. Meningkatkan

kontrol

hipertensi

memerlukan

upaya

perluasan

sistem pelayanan kesehatan, penyedia layanan kesehatan semuanya harus bekerja sama, dan memberikan perhatian yang lebih besar untuk tekanan darah pasien.