P. 1
ANALISIS SPATIAL PATTERN DAN SPATIAL AUTOCORRELATION PADA INDUSTRI GERABAH DI KABUPATEN KEBUMEN.docx

ANALISIS SPATIAL PATTERN DAN SPATIAL AUTOCORRELATION PADA INDUSTRI GERABAH DI KABUPATEN KEBUMEN.docx

|Views: 606|Likes:
Publicado porErie Sadewo

More info:

Published by: Erie Sadewo on Apr 26, 2013
Direitos Autorais:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2015

pdf

text

original

ANALISIS SPATIAL PATTERN DAN SPATIAL AUTOCORRELATION PADA INDUSTRI KERAJINAN GERABAH DI KABUPATEN KEBUMEN

1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Sektor industri dianggap sebagai salah satu sektor yang cukup penting dalam perekonomian karena dua hal. Pertama, kemampuannya untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor lain. Kedua, sektor ini memiliki kemampuan untuk menyerap tenaga kerja dalam skala yang lebih besar dibandingkan dengan sektor lainnya, terutama dalam industri yang bersifat padat modal. Dengan demikian, dalam perjalanannya kedua kelebihan tersebut kemudian menjadikan sektor ini memiliki perkembangan yang lebih baik dibandingkan sektor ekonomi lainnya di Indonesia. Selain, karena kedua kelebihan yang dimilikinya, sektor industri juga dapat digunakan sebagai indikator kemajuan ekonomi wilayah. Pada sebagian besar daerah yang baru berkembang, sektor pertanian serta penggalian biasanya dijadikan sebagai andalan utama pendapatan masyarakat. Sementara pada adaerah yang maju, sebagian besar sektor ekonomi yang berkembang biasanya berada pada perdagangan serta jasa. Sektor inustri memiliki peranan sebagai jembatan yang menghubungkan transformasi dari sektor ekonomi tradisional pertanian serta pertambangan,m menjadi sektor perdagangan serta jasa. Namun demikian, dalam perjalanannya sektor industri memiliki tingkat perkembangan yang berbeda-beda antara daerah. Hal ini merupakan akibat dari ketergantungan industri terhadap barang modal seperti; tanah, tenaga kerja, uang, kewirausahaan, serta teknologi. Optimasi dari kombinasi ketersediaan berbagai barang modal tersebut merupakan penentu dari perkembangan sektor industri suatu wilayah. Diperlukan adanya kesesuaian antara potensi serta daya dukung daerah, sehingga pada pada akhirnya, di setiap wilayah akan terjadi pengelompokan atau spesialisasi jenis industri yang berkembang. Spesialisasi jenis industri tersebut juga terjadi di wilayah Kabupaten Kebumen. Daerah di selatan Pulau jawa ini memiliki kondisi wilayah yang berupa pegunungan di bagian utara, terdapat berbagai sungai yang mengalir menuju ke daerah persawahan dan tegalan di wilayah daerah selatan. Akibatnya struktur tanah yang dilalui menjadi subur, dan sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan berbagai kerajianan gerabah. Pada tahun 2011 berdasarkan data Dinas Sumber Daya Alam, Pertambangan dan Energi dapat diidentifikasi bahwa usaha penggalian Batu Lempung masih merupakan usaha penambangan galian C terbesar yaitu sebanyak 625 usaha.

Sementara itu, data besarnya eksploitasi bahan galian sampai dengan tahun 2011 belum bisa dideteksi padahal sektor pertambangan merupakan sektor yang perlu diperhatikan mengingat kaitannya dengan kelestarian lingkungan hidup. Di sisi lain, terdapat jenis industri yang telah lama berkembang dengan menggunakan bahan baku tersebut, yaitu industri batu bata dan genteng. Industri ini sangat penting bagi masyarakat Kabupaten Kebumen karena walaupun bukan merupakan jenis industri terbanyak, namuan nilai tambah yang dihasilkan, serta jumlah pekerja yang diserap merupakan yang terbesar dibandingkan dengan sektro industri lainnya. Selama ini industri batu bata dan genteng berkembang pada 21 dari 26 di Kabupaten Kebumen, dengan jumlah desa/kelurahan sentra industri pada tahun 2011 mencapai 133 buah. Angka ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2008 yang mencapai 92 buah. Sementara di tinjau dari segi jumlah, pada tahun 2011 terdapat 2090 buah industri, meningkat sebesar 14,39 persen dibandingkan dengan tahun 2008 yang hanya sebesar 1827 unit usaha. Begitu pentingnya industri ini bagi masyarakat, sehingga batu bata dan genteng diabadikan dalam lambang daerah Kabupaten Kebumen. Tabel 1. Perbandingan Jumlah Desa Sentra Industri Serta Jumlah Industri kerajinan Gerabah di Kabupaten Kebumen Tahun 2008 dan 2011 Menurut Kecamatan Kode Wilayah (1) 010 020 030 040 050 060 070 080 081 090 091 100 110 111 120 130 140 150 Jumlah Desa/Kelurahan (3) 18 20 23 21 24 21 32 22 11 13 9 19 16 11 29 13 21 23 Jumlah Desa Sentra Industri 2008 2011 (4) (5) 3 1 6 7 11 3 11 10 1 10 1 13 1 1 5 1 10 6 1 3 6 9 8 8 11 9 5 Jumlah Industri 2008 (6) 40 130 47 84 24 10 1 10 80 1 100 537 630 2011 (7) 3 52 14 85 312 156 1 1 55 3 137 399 605 46

Nama (2) Ayah Buayan Puring Petanahan klirong Bulus Pesantren Ambal Mirit Bonorowo Prembun Padureso Kutowinangun Alian Poncowarno Kebumen Pejagoan Sruweng Adimulyo

160 Kuwarasan 22 1 8 170 Rowokele 11 180 Sempor 16 7 6 190 Gombong 14 1 1 200 Karanganyar 11 2 4 210 Karangayam 19 4 1 220 Sadang 7 2 1 221 Karangsambung 14 6 3305 Kab. Kebumen 460 92 113 Sumber : Pendataan Potensi Desa Tahun 2008 dan 2011, BPS 1.2. Permasalahan

2 61 5 3 27 35 1827

26 46 8 87 3 3 48 2090

Perkembangan jumlah industri gerabah tersebut tentunya akan membawa dampak yang sangat baik bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun karena perkembangannya sangat dipengaruhi oleh daya dukung lingkungan, maka perlu juga dipikirkan bagaimana agar perkembangan industri yang tergantung kepada sumber daya alam tersebut dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa menimbulkan dampak lingkungan yang serius di kemudian hari. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengelompokkan industri tersebut ke dalam cluster. Clustering merupakan salah satu upaya pendekatan startegis untuk membawa industri kepada bentuk kerjasama pembiayaan, penelitian, dan meningkatkan pemasukan. Selain itu, clustering juga akan memudahkan dalam upaya penerapan regulasi, serta menyediakan sarana bagi industri tersebut untuk lebih kuat dalam menghadapi berbagai isu dalam perekonomian. Brookings Institution’s dalam laporannya “Sizing the Clean Economy” menyatakan bahwa pada periode 2003 dan 2010, perusahaan yang berada dalam cluster tumbuh 1,4 persen lebih cepat dibandingkan usaha yang menyendiri (terisolasi).1 Hasil penelitian Wang, Liu, dan Mao (2011) mengenai mekanisme cluster industri dan fenomena Cambridge menunjukkan bahwa cluster industri regional dibentuk berdasarkan penyebaran mengenai pengetahuan dan teknologi. Cluster industri lebih cocok dipergunakan oleh usaha kecil, dan skala optimalnya ditentukan oleh upah buruh, biaya sewa tanah, dan permintaan serta penawaran lokasi usaha. Selain itu usaha padat karya dan padat teknologi dengan permintaan wilayah yang terbatas lebih memiliki kecenderungan untuk menjadi cluster.2

1

http://www.forbes.com/sites/rebeccabagley/2012/02/09/the-cluster-effect

2

Wang, Z., Liu, C., Mao, K., (2012), Industry cluster: spatial density and optimal scale, Anresc vol. 49, p. 719731

Mengingat betapa pentingnya pembentukan cluster dalam upaya meningkatkan pertumbuhan industri gerabah di Kabupaten Kebumen, maka diperlukan adanya informasi mengenai mengenai persebaran industri tersebut secara spasial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola spasial dari persebaran industri gerabah di Kabupaten Kebumen, serta bentuk autokorelasi spasial yang mungkin terjadi. Berdasarkan informasi tersebut diharapkan bahwa dapat diperoleh suatu rekomendasi untuk pengelolaan kebijakan dalam rangka meningkatkan pertumbuhan industri kerajinan gerabah sebagai salah satu industri startegis di Kabupaten Kebumen.

2.

Analisis dan Pembahasan

2.1. Analisis Deskriptif Secara geografis Kabupaten Kebumen terletak pada 7°27′ – 7°50′ Lintang Selatan dan 109°22′ – 109°50′ Bujur Timur. Kabupaten Kebumen secara administratif terdiri dari 26 kecamatan dengan luas wilayah sebesar 128.111,50 hektar atau 1.281,115 km², dengan kondisi beberapa wilayah merupakan daerah pantai dan perbukitan, sedangkan sebagian besar merupakan dataran rendah. Dari luas wilayah Kabupaten Kebumen, pada tahun 2011 tercatat 39.768,00 hektar atau sekitar 31,04% merupakan lahan sawah dan 88.343,50 hektar atau 68,96% lahan kering. Secara kewilayahan, Kabupaten Kebumen memiliki berbagai potensi alam yang dapat digunakan untuk pengembangan industri berbasis sumber daya alam seperti kerajinan gerabah. Pada tahun 2008, konsentrasi industri kerajinan gerabah berada di wilayah Kecamatan Sruweng dan Pejagoan. Sementara wilayah lain yang memiliki jumlah industri kerajinan gerabah yang cukup besar diantaranya Kecamatan Buayan serta Kebumen. Dalam skala yang lebih kecil, industri tersebut juga terkonsentrasi di Kecamatan Sempor, Petanahan, dan Kutowaringin. Sepintas terlihat bahwa tidak terdapat pola pengelompokan tertentu dari industri kerajinan gerabah tersebut sebagaimana terlihat pada Gambar 1. Gambar 1. Kepadatan Industri Kerajinan Gerabah Kabupaten Kebumen Menurut Kecamatan Th 2008

Pada Tahun 2011, terjadi perubahan pola kepadatan industri kerajinan gerabah pada beberapa wilayah. Terjadi penurunan konsentrasi industri kerajinan gerabah di wilayah Kecamatan Sempor, Buayan, serta Pejagoan. Sementara itu, peningkatan konsentrasi jumlah industri justru terjadi di wilayah Kecamatan Karanganyar, Klirong, serta Bulus Pesantren. Hasilnya, secara sepintas terlihat bahwa telah terjadi perubahan pola pengelompokan industri kerajinan gerabah di Kabupaten Kebumen dari menyebar pada tahun 2008 menjadi mengelompok pada tahun 2011 dimana wilayah-wilayah yang berdekatan memiliki kepadatan yang hampir serupa (Gambar 2). Gambar 2. Kepadatan Industri Kerajinan Gerabah Kabupaten Kebumen Menurut Kecamatan Th 2011

2.2. Analisis Inferensi 2.2.1. Analisis Pola Spasial Analisis pola spasial dilakukan terhadap jumlah desa/kelurahan sentra industri kerajinan gerabah di Kabupaten Kebumen Tahun 2011. Dalam analisis ini, desa/kelurahan yang memiliki industri kerajinan gerabah dianggap sebagai titik pengamatan. Pengujian dilakukan dengan menggunakan tiga metode, untuk membandingkan hasil yang didapatkan, yaitu Quadrat Test untuk mendapatkan Varians to Means Ratio, Uji Kolmogorov Smirnov, serta Nearest Neighborhood Index (NNI). Dari pengolahan dengan menggunakan Microsoft Excell, didapatkan hasil sebagai berikut:

2.2.1.1. Quadrat Test-Varians To Mean Ratio (VMR) H0 dalam uji ini adalah bahwa jumlah sentra industri kerajinan gerabah di Kabupaten Kebumen menyebar secara seragam.Langkah pertama dalam melakukan Quadrat Test adalah menghitung jumlah quadrats (area yang akan diobservasi). Dalam penelitian ini, unit observasi adalah kecamatan, sehingga jumlah quadrat diasumsikan adalah sebanyak jumlah kecamatan di wilayah Kabupaten Kebumen, yaitu 26 unit. Setelah itu dilakukan penghitungan terhadap mean (rata-rata) jumlah sentra industri dari ke-26 kecamatan tersebut sehingga dihasilkan nilai mean sebesar 4,35 unit. Kemudian didapatkan nilai varians dari ke-26 pengamatan tersebut sebesar 15,59, sehingga nilai rasio varians terhadap means sebesar 3,59. Berdasarkan rasio tersebut, selanjutnya didapatkan nilai statistik signifikansi sebesar 89,71. Angka tersebut kemudian dibandingkan dengan nilai statistik berdistribusi Chi-square dengan tingkat kepercayaan 95 persen sebesar 14,61. Karena nilai signifikansi lebih besar dibandingkan dengan nilai teoritis, maka H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa jumlah sentra industri kerajinan gerabah di Kabupaten Kebumen tahun 2011 tidak menyebar secara seragam. Nilai VMR yang lebih besar dari 1 (satu) mengindikasikan bahwa terdapat pengelompokan dalam pola spasial penyebaran jumlah industri tersebut. 2.2.1.2. Quadrat Test-Kolmogorov Smirnov Test Metode ini menguji pola dalam quadrat dengan membandingkan frekuensi yang diamati, dengan distribusi statistik tertentu. Dalam penelitian ini, H0 adalah frekuensi pengamatan merupakan proses acak yang mengikuti fungsi distribusi Poisson. Hasil uji Kolmogorov Smirnov menghasilkan nilai statistik sebesar 0,354, yang merupakan selisish absolute terbesar antara distribusi sebenarnya dengan distribusi teoritis. Nilai tersebut kemudian dibandingkan dengan nilai kritis sebesar 5 persen sebesar 0,267. Karena nilai hasil perhitungan lebih besar dibandingkan dengan nilai kritis, maka H0 ditolak, sehingga dapat disimpilkan bahwa jumlah sentra industri dalam setiap Quadrat menunjukkan pola yang tidak acak, atau dengan kata lain terdapat pola mengelompok dalam persebaran jumlah sentra industri di wilayah Kabupaten Kebumen tahun 2011. 2.2.1.3. Nearest Neigborhood Index Metode ini membandingkan antara rata-rata jarak yang didapatkan dari setiap titik dan tetangga terdekatnya, dengan rata-rata jarak yang diharapkan akan muncul jika data mengikuti distribusi normal. Karena data jarak antara setiap kecamatan tidak diketahui, maka dilakukan pendekatan dengan menggunakan jarak Euclidean yang dihasilkan dari pengukuran titik tengah

antar kecamatan. Dari kumpulan tersebut, diambil jarak terkecil antar dua kecamatan, sehingga diperoleh hasil berikut: Tabel 2. Jarak Terdekat Antar Kecamatan di Kabupaten Kebumen Kode Wilayah Nama Tetangga Terdekat (1) (2) (3) 010 Ayah Buayan 020 Buayan Kuwarasan 030 Puring Adimulyo 040 Petanahan klirong 050 klirong Bulus Pesantren 060 Bulus Pesantren klirong 070 Ambal Bulus Pesantren 080 Mirit Bonorowo 081 Bonorowo Mirit 090 Prembun Kutowinangun 091 Padureso Poncowarno 100 Kutowinangun Prembun 110 Alian Poncowarno 111 Poncowarno Padureso 120 Kebumen Kutowinangun 130 Pejagoan Kebumen 140 Sruweng Pejagoan 150 Adimulyo Kuwarasan 160 Kuwarasan Gombong 170 Rowokele Sempor 180 Sempor Gombong 190 Gombong Karanganyar 200 Karanganyar Gombong 210 Karangayam Pejagoan 220 Sadang Karangsambung 221 Karangsambung Alian Sumber : Pemetaan 2009 BPS, Data diolah Jarak (Km) (4) 7,20 9,44 6,24 4,80 4,64 4,64 5,92 5,12 5,12 5,12 5,12 5,12 5,76 5,12 6,40 6,72 5,12 6,00 5,76 7,36 6,72 4,48 4,48 8,32 6,72 6,24

Dari tabel 2, diperoleh rata-rata jarak terdekat antar kecamatan di Kabupaten Kebumen adalah sebesar 5,91 Km, sementara nilai jarak yang diharapkan sebesar 3,51 Km. Dengan demikian diperoleh nilai indeks NNI sebesar 1,68. Selanjutnya dilakukan pengujian dengan menggunakan statistik Z, diperoleh nilai sebesar 6,67. Nilai tersebut jauh lebih besar jika dibandingkan dengan nilai statistik teoritis untuk tingkat kepercayaan 95 persen sebesar 1,96. Akibatnya H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pola yang acak. Dengan kata lain, kepadatan industri kerajinan gerabah di Kabupaten Kebumen tahun 2011 mengikuti pola tertentu.

2.2.2. Uji Autokorelasi Spasial Analisis uji autokorelasi spasial dilakukan terhadap jumlah industri kerajinan gerabah yang terdapat dalam setiap kecamatan di kabupaten Kebumen tahun 2011. Dalam analisis ini, kecamatan dianggap sebagai suatu area yang mengandung nilai tertentu, yaitu jumlah industri kerajinan gerabah. Pengujian dilakukan dengan menggunakan metode Moran I Global, LISA dengan menggunakan Moran I, serta metode Getis. Pengolahan dengan menggunakan software Microsoft Excell dan Geoda. Namun sebelumnya dilakukan pembuatan penimbang kedekatan spasial dengan metode Queen Contiguity diperoleh matriks berikut:

Berdasarkan matriks tersebut terlihat bahwa secara spasial, terdapat hanya satu kecamatan yang berbatasan dengan satu kecamatan saja. Sementara itu, dua kecamatan berbatasan hanya dua kecamatan lain, empat kecamatan yang berbatasan dengan setidaknya tiga kecamatan, lima kecamatan berbatasan dengan setidaknya empat kecamatan, tujh kecamatan berbatasan dengan setidaknya lima kecamatan, dan tujuh kecamatan lainnya berbatasan dengan setidaknya enam kecamamatan

3.2.2.1. Uji Moran I Global Metode Morans I digunakan untuk mengetahui korelasi antara nilai yang dihasilkan suatu kecamatan, dengan rata-rata nilai di kecamatan di sekitarnya. Nilai ini dihitung baik secara unstandardized maupun standardized. Hasilnya kemudian diuji signifikansi dengan menggunakan statistik Z. dengan H0 adalah tidak terdapat autokorelasi spasial. Nilai unstandardized Morans I sebesar 0,04 mengindikasikan bahwa tidak terdapat autokorelasi spasial, dan kepadatan jumlah industri kerajinan gerbah di tiap kecamatan menyebar secara acak. Dengan nilai harapan statistik I sebesar -0,04 dan varians I sebesar 0,014 maka didapatkan nilai statistik Z untuk Morans I yang tidak distandarkan sebesar 0,678. Karena nilai Z kurang dari 1,96 maka tidak cukup bukti untuk menolak H0. Namun jika matriks penimbang kedekatan tersebut distandarkan, maka didapatkan nilai Morans I sebesar 0,297. Hasil yang sama dihasilkan antara perhitungan secara manual dengan menggunakan Microsoft excel dan Geoda mengindikasikan bahwa terdapat pola autokorelasi spasial antar jumlah industri kerajinan gerabah pada setiap kecamatan. Dengan nilai harapan statistik I sebesar -0,04 dan varians I sebesar 0,006 maka didapatkan nilai statistik Z untuk Morans I yang tidak distandarkan sebesar 4,397. Karena nilai Z lebih besar dari Z tabel dengan α = 5 persen, maka H0 ditolak. Artinya dengan menggunakan penimbang kedekatan yang ditandarkan, terdapat pola autokorelasi spasial serta indikasi bahwa jumlah industri kerajinan gerabah di Kabupaten Kebumen menyebar mengikuti pola tertentu. Gambar 3. Scatter Plot untuk Standardized Morans I

Dari Gambar 3 terlihat bahwa terdapat tujuh daerah yang memiliki nilai spatial autocorrelation positif yang tinggi atara kecamatan tersebut dengan wilayah di sekitarnya. Sementara itu terdapat empat daerah yang autokorelasi spasialnya negatif rendah, namun daerah di sekitarnya tinggi. Sementara sisanya memiliki nilai autokorelasi spasial positif yang sama-sama rendah antara kecamatan tersebut dengan daerah di sekitarnya. 3.2.2.1. Uji Moran I Local (Anselin’s LISA) Metode LISA dengan Morans I digunakan untuk mengetahui korelasi antara nilai yang dihasilkan suatu kecamatan, dengan rata-rata nilai di kecamatan di sekitarnya dalam versi local, yaitu penghitungan dilakukan dengan memperhatikan batas wilayah bersama antar kecamatan. Nilai ini dihitung baik secara unstandardized maupun standardized. Hasilnya kemudian diuji signifikansi dengan menggunakan statistik Z. dengan H0 adalah tidak terdapat autokorelasi spasial. Nilai unstandardized Morans I sebesar 0,17 mengindikasikan bahwa tidak terdapat autokorelasi spasial, dan kepadatan jumlah industri kerajinan gerbah di tiap kecamatan menyebar secara acak. Namun jika matriks penimbang kedekatan tersebut distandarkan, maka didapatkan nilai Morans I sebesar 0,297, sama dengan nilai Morans I secara global. Hasil yang sama dihasilkan antara perhitungan secara manual dengan menggunakan Microsoft excel dan Geoda mengindikasikan bahwa terdapat pola autokorelasi spasial antar jumlah industri kerajinan gerabah pada setiap kecamatan. Berdasarkan nilai tersebut, dapat dibuat tingkat signifikansi antar masing-masing kecamatan, dimana dari Gambar 4 terlihat bahwa terdapat enam kecamatan yang signifikan pada α = 1 persen, empat kecamatan signifikan pada α = 5 persen, sementara 16 kecamatan sisanya tidak signifikan. Gambar 4. Peta Signifikansi Morans I LISA

Maka dari tingkat signifikansi tersebut dapat dibuat suatu model cluster, dimana Kecamatan Petanahan, Klirong, Kebumen, Pejagoan, serta Sruweng yang memiliki autokorelasi spasial local positif tinggi antar masing-masing wilayah dapat diklasisikasikan sebagai cluster utama untuk wilayah pengembangan industri kerajinan gerabah. Wilayah ini dapat dikembangkan dengan memasukkan Kecamatan Karanggayam, dan Adimulyo, karena walaupun rendah, keduanya memiliki spasial autokorelasi positif dengan daerah disekitranya. Sementara untuk Kecamatan Padureso dan Prembun, memiliki autukorelasi spasial yang rendah. Gambar 5. Peta Cluster Morans I LISA

3.

Kesimpulan dan Saran

3.1. Kesimpulan i) Pada tahun 2008, konsentrasi industri kerajinan gerabah berada di wilayah Kecamatan Sruweng dan Pejagoan. Sementara wilayah lain yang memiliki jumlah industri kerajinan gerabah yang cukup besar diantaranya Kecamatan Buayan serta Kebumen. Pada Tahun 2011, terjadi penurunan konsentrasi industri kerajinan gerabah di wilayah Kecamatan Sempor, Buayan, serta Pejagoan. Sementara itu, peningkatan konsentrasi jumlah industri justru terjadi di wilayah Kecamatan Karanganyar, Klirong, serta Bulus Pesantren. Hasilnya, secara sepintas terlihat bahwa telah terjadi perubahan pola pengelompokan industri kerajinan gerabah di Kabupaten Kebumen dari menyebar pada tahun 2008 menjadi mengelompok pada tahun 2011. ii) Uji analsis pola spasial dengan menggunakan tiga metode yaitu Quadrat Test untuk mendapatkan Varians to Means Ratio, Uji Kolmogorov Smirnov, serta Nearest Neighborhood Index (NNI) menghasilkan kesimpulan yang sama, jumlah sentra industri kerajinan gerabah di Kabupaten Kebumen tahun 2011 tidak menyebar secara seragam. iii) Uji autokorelasi spasial dengan menggunakan metode Morans I global menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Dengan menggunakan matriks penimbang kedekatan yang tidak distandarkan, diperoleh nilai Morans I yang mengindikasikan bahwa tidak terdapat autokorelasi spasial, dan kepadatan jumlah industri kerajinan gerbah di tiap kecamatan menyebar secara acak. Sementara jika menggunakan matriks penimbang yang distandarkan, diperoleh nilai Morans I yang mengindikasikan sebaliknya. iv) Sebagaimana pada uji autokrelasi spasial secara global, uji autokorelasi spasial dengan menggunakan metode Morans I LISA, juga menghasilkan kesimpulan yang serupa. Uji tersebut menghasilkan enam kecamatan yang signifikan pada α = 1 persen, empat kecamatan signifikan pada α = 5 persen, sementara 16 kecamatan sisanya tidak signifikan. 3.2. i) Saran Diperlukan pembinaan serta kebijakan khusus untuk mencegah menurunnya jumlah usaha industry kerajinan gerabah seperti di Kecamatan Sempor, Buayan, serta Pejagoan. ii) Cluster untuk industry kerajian gerabah di Kabupaten Kebumen dapat dibuat pada kelompok Kecamatan Petanahan, Klirong, Kebumen, Pejagoan, serta Sruweng untuk memudahkan pembinaan serta pengembangan. iii) Ke depannya cluster tersebut dapat dikembangkan dengan memasukkan Kecamatan Karanggayam dan Adimulyo.

You're Reading a Free Preview

Descarregar
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->