P. 1
Pendidikan Anak Menurut Perspektif Ajaran Islam

Pendidikan Anak Menurut Perspektif Ajaran Islam

|Views: 43|Likes:
Publicado porJAMRIDAFRIZAL

More info:

Published by: JAMRIDAFRIZAL on May 06, 2013
Direitos Autorais:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/01/2013

pdf

text

original

1

PENDIDIKAN ANAK MENURUT PERSPEKTIF AJARAN ISLAM By jamridafrizal (Pencari ilmu dari kolong langit Allah)
A. Tujuan Mendidik Anak Tujuan mendidik anak sebenarnya berkaitan amat erat, bahkan inherent pada tujuan umum pendidikan. Jika dirangkaikan dengan Islam, maka tujuan tersebut dengan sendirinya berkait amat erat dengan dan bahkan inherent pada tujuan pendidikan Islam. Dan tujuan pendidikan yang tersebut terakhir ini dengan sendirinya harus menjadi tujuan pendidikan anak. 1 Baihaqi AK cenderung merumuskan tujuan pendidikan anak –– sesuai dengan konsepsi Islam tentang pendidikan tersebut –– sebagai upaya menolong anak agar menjadi manusia yang beriman, taat beribadah, berakhlak mulia dan berilmu serta gemar beramal (bekerja keras) sesuai dengan petunjuk ilmu dan tuntunan keimanannya, mampu memimpin umat, cakap mengolah "bumi dan isinya untuk mencapai kebaikan, kesejahteraan dan kemakmuran dunia dan kemenangan akhirat. Upaya pertolongan tersebut harus dilakukan secara sadar, bersungguh-sungguh dan berencana serta rnemenuhi persyaratan-persyaratan metodologis, paedagogis dan psikologis serta terarah dan terpadu menuju tujuan tadi. 2 B. Langkah-Langkah Mendidik Anak Baihaqi AK mengatakan bahwa langah-langkah dalam mendidik anak dapat

diuraikan kedalam dua kategori yaitu 1) Langkah-langkah persiapan melalui pembinaan lingkungan Islami dan 2) anak3 a) Langkah-langkah Persiapan. Setiap orang tua muslim yang bermaksud agar berhasil dalam kegiatannya mendidik anaknya, harus melakukan langkah-langkah persiapan seperlunya melalui pembinaan lingkungan islami, terutama ia mulai dari pembinaan dirinya sendiri. Di antara langkah-langkah tersebut adalah4: 1. Menghormati orang -tua. Pembinaan lingkungan Islami bagi mendidik
1

Langkah-langkah

pelaksanaan pendidikan

anak harus dimulai dengan

Baihaqi AK,Konsepsi Islam Tentang Pendidikan Anak Dalam Rumah Tangga,( Jakarta:UIN Jakarta, 1989),h.394.DIsertasi tidak diterbitkan 2 Ibid.,h.398 3 Ibid.,h.411 4 Ibid

1

2

mendidik diri sendiri, dalam hal ini, dengan menghormati orang tua (ayah dan ibu). Di dalam ajaran Islam terdapat kaitan yang sangat erat antara harapan agar anak menjadi baik (saleh) dengan sikap hormat dan berbakti kepada kedua orang-tua. 5 Di dalam Al Qur'an terdapat banyak ayat yang menjelaskan kewajiban berbakti kepada kedua orang tua, antara lain, seperti terlihat dalam ayat berikut ini:

                                              

Artinya”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia (Al-Isra’: 23) 6 2. Mendo’akan anak. Do’a, meskipun hanya sunat hukumnya dalam ajaran Islam, -sangat memberi makna bagi kehidupan manusia, terutama makna ketenangan batin dan kemantapan perasaan. Dalam realitas kehidupan sosial di Indonesia, umpamanya, terlihat bahwa segala upacara khidmat, termasuk upacara negara, besar atau kecil, senantiasa ditutup dengan do'a, karena dengan itu segala sesuatunya terasa sudah cukup mantap, tenang dan optimis serta dengan harapan masa depan yang terbayangkan akan lebih cerah. 7 Islam, di satu pihak, sangat menganjurkan penganutnya agar selalu berdo'a

                                                          ( ٢٣: ‫ ( ال سراء‬       

kepada Allah SWT, sebagaimana terlihat dalam ayat berikut;

                                                  
Artinya “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (Q.S. Al A'raf : 55)
5 6 7

Ibid

Al-Qur’an:Terjemahan Kata-Perkata, (Bandung:Syamil Al-Quran, 2007),h
Ibid.,416

3

b) Langkah-langkah pelaksanaan (operasional) Dengan melaksanakan hanya langkah-langkah persiapan di atas tipis sekali kemungkinan keberhasilan yang bisa diharapkan dari upaya pendidikan anak oleh orang tua dalam rumah tangga. Oleh karena itu, langkah-langkah persiapan tersebut harus segera diikuti atau malah disekaliguskan dengan langkah-langkah operasional (pelaksanaan). Langkah-langkah ini dapat dibagi dua: (1) Mendidik anak yang masih dalam kandungan dan (2) Mendidik anak setelah lahir. 8 A. Mendidik Anak Dalam Kandungan. Pendapat yang secara umum dikenal adalah bahwa anak mulai dididik setelah lahir atau beberapa tahun kemudian. Kini semakin disadari bahwa anak, sejak di dalam kandungan, sudah dapat dididik melalui ibunya. Sigmud Frued, sebagaimana dijelaskan oleh Lee Salk dan Rita Kramer, menegaskan bahwa pengalamanpengalaman sebelum dan sejak awal setelah lahir merupakan persiapan sikap mental dan response emosional, meskipun pengalaman tersebut terasa sudah terlupakan Penelitian terakhir tentang bayi menusia, menurut Lee Salk, telah memperlihatkan bukti yang kuat bahwa pengalaman-pengalaman awal berpengaruh amat besar bagi pertumbuhan emosi dan intelektual anak. Para pengamat kini menjelaskan bahwa bayi, pada umur 24 jam pertama, sudah mampu belajar. Bahkan, sejak masa dalam kandungan, bayi telah responsive terhadap rangsangan dari luar yang ibunya malah tidak menyadarinya. Penemuan tersebut telah membuat para orang tua menjadi terdorong untuk mempelajari langkah-langkah (metode atau teknik) yang seharusnya diterapkan dalam rangka mendidik anak tersebut guna mencapai tujuan pendidikan yang dianut. Islam telah mengajarkan, jauh sebelum penemuan itu, langkah-langkah mendidik anak di dalam kandungan, sebagai berikut: a. Mempersiapkan diri dengan cara-cara memilih isteri (dan tentunya juga suami) yang beragama –dalam arti mengahayati dan mengamalkannya- dengan harapan agar isteri dan suami bersama-sama mendidik anak-anaknya secara agamawi (Islam) guna mencapai tujuan pendidikan Islam. b. Membina hubungan harmonis antara suami dan isteri dalam rumah tangga. Islam memerintahkan mu'asyarah bi al-ma'ruf (bergaul dengan baik) antara suami dan isteri. Pergaulan yang harmonis itu akan memberi kesan positif terhadap anak yang akan dan sedang dikandung. c. Meningkatkan kasih sayang kepada isteri yang ternyata kandungannya sudah positif, sebagaimana diperlihatkan oleh Nabi SAW ketika isterinya Khadijah sudah hamil. Nabi bersabda:

‫ رواه الطبرانى عن أبن كبشة‬.‫خياركم خيركم للهله‬.
Artinya Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik kepada isterinya. (H.R. Al-Tabrani dari Abi Kabsyah)

8

Ibid.,421

4

d.

e.

Dari hadits terakhir dapat ditarik mafhum (pengertian) sebaliknya, yaitu bahwa manusia yang akan berbahagia adalah yang dahulunya, pada waktu ia masih dalam kandungan ibunya, berada dalam kondisi tenang, tentram dan bahagia. Kondisi menyenangkan semacam itu tidak akan mungkin tercapai jikalau ibu yang mengandungnya menderita, lahir dan atau batin, terutama karena ulah suami dan lingkungannya Mengajak istri untuk menambah ibadahnya dengan, misalnya, shalat sunat, menghadiri pengajian dan sebagainya. Dengan begitu orang tua telah membina situasi dan lingkungan yang baik dan islami untuk anak dalam kandungan. Secara ilmiah sudah dapat dibuktian bahwa anak yang masih dalam perut ibunya responsif terhadap lingkungan semacam itu. Mengajak isteri secara bersama-sama atau sendiri-sendiri, semakin banyak mendo'akan anak yang masih dikandungannya semoga Allah berkenan menjadikannya baik dan sholeh. Berdo'a dalam kondisi semacam itu, besar pengaruh dan kesannya kepada anak dalam kandungan. 9

B. Mendidik Anak Setelah Lahir Setelah anak lahir maka langkah-langkah yang lebih konkrit harus dilakukan oleh orang tua: Pertama :Memperdengarkan Adzan dan Iqamat. Anak, setelah lahir segera disajikan mata pelajaran yang terkandung di dalam lafaz-lafaz adzan dan iqamat dengan metode membacakan dan mendengarkan, melalui telinga kanan dan kirinya. Sebab bayi sepanjang ajaran Nabi SAW, harus tidak diberi kesempatan, meskipun sejenak untuk lebih dahulu mendengar suara apapun kecuali gema adzan dan iqamat tersebut, sesuai dengan petunjuk yang tersirat dalam firman Allah (akan diketengahkan nanti). Hal itu sejalan dengan teori responsifnya Frued yang dikembangkan oleh Lee Salk dan Rita Kramer, yang menjelaskan suara yang didengarnya pada saat awal ia terjun ke dalam dunia akan sangat mempengaruhi sikap jiwa, pertumbuhan intelektual dan tingkah lakunya. Oleh karena itu, jika suara adzan dan iqamat yangpaling awal didengarkannya maka kandungan lafaz-lafaz itulah yang akan sangat mempengaruhinya10. Al-quran telah memberi petunjuk bahwa bayi yang baru lahir dapat memahami dan menghayati – meskipun belum mampu mengamalkan- makna yang terkandung di dalam lafadz-lafadz adzan dan iqamat itu11. Allah berfirman :

9

Ibid.,422-426 Ibid.,426-427 11 Ibid.,430
10

5

                                                                                                        
Arinya "Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari Sulbi mereka dan Allah telah mengambil kesaksian (bai'at) terhadap nyawa-nyawa mereka:"bukankah Aku Tuhanmu?" mereka (semua nyawa-nyawa itu) menjawab: Benar (Engkau Tuhan kami), kami menyaksikan (berbaiat). (Kami lakukan yang demikian) agar di hari qiamat kamu tidak mengatakan:"Sesungguhnya kami mengenai hal itu lengah (tidak tahu). (QS. Al-A'raf : 172) 12 Allah telah membaiat semua nyawa agar menyaksikan dan sekaligus ber-Tuhan kepada-Nya. Dan semua nyawa telah menyaksikan dan mengakuinya. Pembaiatan itu berlangsung sebelum nyawa-nyawa itu bertugas sebagai pemberi "hidup", dengan izin Allah, kepada manusia. Kedua: Memberi Anak Nama Yang Baik. Nama, pada dasarnya diperlukan untuk membedakan antara seseorang anak dengan yang lainnya dan untuk memudahkan mengenalnya. Di zaman Islam banyak nama-nama jelek tersebut ditukar oleh Nabi SAW dengan nama-nama yang bermakna baik, seperti : 'Ashiyah (pendurhaka, pelaku maksiat) ditukar dengan Jamilah (baik, cantik), Harban (perang) dengan silman (damai), al Mudhthaji' (tidur) dengan al-Muntaba' (bangun) dan banyak lagi. nabi SAW menjelaskan bahwa nama-nama itu, lebih-lebih yang jelak, banyak memberi pengaruh dan kesan kepada anak, terutama karena dengan nama itu ia dipanggil oelh orang tuanya dan disebut-sebut oleh teman-temannya. Oleh karena itu, dalam banyak hadis, Nabi SAW menganjurkan agar setiap orang tua memberi nama anaknya yang baik.13 Tinjauan paedagogis dan psikologis memperlihatkan bahwa nama yang baik akan membuat anak tenang, akrab dan tidak merasa rendah atau kecewa. Sebaliknnya, anak yang diberi nama jelek, katak misalnya, tentu akan merasa hina atau rendah dan oleh karenanya, lebih senang mengasingkan dirinya. Akibat peadogogis dan psikologis yang biasanya akan muncul adalah malas belajar, bolos, nakal danbahkan mungkin sekali agresif dan suka mencuri. 14
12 13 14

Al-Qur’an:Terjemahan Kata-Perkata,Op.cit.,h.230
Baihaqi AK,Op.Cit., h.434 Ibid

6

Ketiga.Memberi Anak Makanan Dan Pakaian Yang Halal Makanan dan pakaian dlaam konteks ini dapat bermakna ganda. Pertama, ia dapat bermakna makanan dan pakaian seperti yang lazim difahami dalam percakapan sehari-hari. Dalam hal ini ia berarti bahan-bahan yang dimakan, termasuk yang diminum dan bahan-bahan yang dipakai, seperti kain, alat-alat, perumahan dan sebagainya. Kedua, ia dapat bermakna ilmu sebagai makanan otak atau hati dan akhlak mulia sebagai pakaian tubuh. Dalam upaya mendidik anak, setiap orang tua harus berusaha memberi dirinya dan anaknya makanan dan pakaian yang halal, maksimal, dalam makna pertama dan kedua atau minimal dalaml makna pertama saja. Yang dimaksud dengan halal di sini adalah yang baik dan dibolehkan menurut ajaran Allah dan Rasul-Nya. Setiap muslim, dalam hal itu, pertama, diperintahkan Allah untuk memakan yang halal dan kedua, memberi yang halal pula kepada orang lain, termasuk anak dan isterinya. 15 Keempat:Memberi Contoh Teladan Yang Baik. Piaget, seperti dijelaskan oleh Arthur T. Jersild, mengemukakan bahwa peniruan yang diperlihatkan oleh bayi sejak masa prabicara, melalui gerak panca inderanya, adalah merupakan manisfestasi dari pada intelenjensinya. Meniru bukanlah suatu proses passif, tetapi merupakan proses aktif dalam rangka persiapan untuk menghadapi realita. Yang masih dapat dipertanyakan adalah : apakah gerak-gerik refleks bayi itu dikatagorikan ke dalam gerakan meniru, seperti halnya juga dengan menangis yang biasanya segera terdengar setelah ia lahir. 16 Tetapi, pertanyaan itu sama sekali tidak mempengaruhi kesepakatan ilmiah tentang peniruan oleh bayi yang berproses secara aktif sejak lahir sampai dengan umur tertentu. Selama periode rumah tangga (sejak lahir sampai dengan umur 12 bahkan 15 tahun), orang tua adalah model yang menjadi mode utama tiruan anak. Anak malah sering bertingkah laku sebagai duplilkat orang tuanya. Dalam periode umur tertentu merekalah, dalam pandangan anak, contoh satusatunya. Ia sesungguhnya sudah mulai meniru pada saat ia sudah pandai menangis – jadi, jauh sebelum ia pandai berkata-kata- dalaml bentuk ikut menangis jika ia mendengar anak lain menangis. Proses meniru itu semakin meningkat pada waktu ia sudah mulai mengulang suara yang dibuat oleh orang lain, meskipun belum benar, atau mengulang-ulang suara yang dibuat olehnya sendiri17.
Kelima:Membiasakan anak berbuat baik

15 16 17

Ibid.h.436 Ibid.h.439 Ibid.h.439

7

Dengan hanya memberi teladan yang baik saja tanpa diikuti oleh pembiasaan belumlah cukup bagi menunjang keberhasilan upaya mendidik anak. Apalagi jika dikaji secara berhati-berhati niscaya akan terlihat bahwa dengan hanya memberi teladan oleh pihak orang tua dan dengan hanya meniru oleh pihak anak --tanpa latihan, pembiasaan dan koreksi yang secara psikologis sangat dibutuhkan-- pekerjaan, keterampilan, ibadah ( shhalat ) atau apa saja, biasanya tidak mencapai target tetap, tepat dan benar apalagi mempribadi. 18.

C.

Penerapan Metode Pendidikan Pada Anak Ketepatan orang tua dalam memilih cara (metode) mendidik anak-anak sangat

berpengaruh pada keberhasilan mendidik anak, khusunya dalam rangka membentuk pribadi anak yang saleh. Jika cara yng di tempuh tepat sasaran, niscaya akan memberikan hasil yang memuaskan. Sebaliknya jika cara yang ditempuh kurang tepat, maka keberhasilan pun kurang memuaskan. Pemilihan metode yang sesuai dengan pengembangan kreativitas anak adalah metode yang memungkinkan pemunculan kreativitas pada anak dengan menggunakan sumber belajar yang dapat digunakan untuk merealisasikan kegiatan yang kreatif. Oleh sebab itu metode mempunyai peranan yang sangat penting dalam kemajuan dan kemunduran. Demikian pentingnya metode ini Mukti Ali mengatakan bahwa yang menetukan dan membawa stagnasi dan masa kebodohan dan masa kemajuan bukanlah karena ada atau tidak adanya orang-orang yang jenius, melainkan Karen ametode penelitian dan cara melihat sesuatu. Mengapa orang-orang jenius menyebabkan kemandegan dan stagnasi di dunia. Sedangkan orang-orang yang biasa saja dapat membawa keajuan ilmiah dan kebahaian rakyat ? Mukti Ali menjawab sebab adalah kerana orang yang biasa-biasa saja itu menemukan metode berpikir yang benar dan utuh, sekalipun kecerdasannya biasa, mereka dapat menemukan kebenaran. Sedangkan
18

Ibid.h.461

8

pemikir-pemikir jenius dan besar, apabila tidak mengetahui metode yang benar dalam melihat sesuatu dan memikirkan masalah-masalahnya, maka mereka tidak akan dapat memamfaatkan kejeniusannya.19 Uraian di atas samasekali tidak untuk merendahkan orang-orang jenius. Melainkan yang ingin dikatakan bahwa untuk mencapai suatu kemajuan, kejeniusan saja belum cukup. Melainkan harus dilengkapi dengan ketepatan meilih metode yang akan digunakan untuk kerjanya dalam bidang pengetahuan. Metode dan berpkir yang benar tak ubahnya seperti orang berjalan, seorang yang lumpuh sebelah kakinya tidak dapat berjalan dengan cepat, tetapi memilih jalan yang benar akan mencapai tujuannya lebih cepat dari jago lari itu,ia akan dating terlambat pada tempat yang dituju. Sedangkan orang yang lumpuh sebelah kakinya yang memilih jalan yang benar akan sampai ke tujuan dengan kegiatan. Metode yang tepat adalah masalah pertama yang harus diusahakan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan,20 Abdurrahman An-Nahlawi mengatakan “Pada dasamya, metode pendidikan Islam sangat efektif dalam membina kepribadian anak didik dan memotivasi mereka sehingga aplikasi metode ini memungkinkan puluhan ribu kaum mukmin dapat membuka hati manusia untuk menerima petunijuk Ilahi dan konsep-konsep peradaban Islam. Selain itu, metode pendidikan Islam akan mampu menempatkan manusia di atas luasnya permukaan bumi dan dalam lamanya masa yang tidak diberikan kepada penghuni bumi lainnya. Metode yang dianggap paling penting dan paling menonjol adalah: a. Metode dialog Qur'ani dan Nabawi b. Mendidik melalui kisah-kisah Qur'ani dan Nabawi c. Mendidik melalui perumpamaan Qur'ani dan Nabawi d. Mendidik melalui keteladanan e. Mendidik melalui aplikasi dan pengamalan f. Mendidik melalui ibrah dan nasihat g. Mendidik melalui targhib dan tarhib21
19 20

Abudinata M.A, Metodologi Stady Islam, (Jakarta : Raja Grapindo Persada, 2000) hal 99 Ibid

9

Metode-metode

tersebut

di

atas

dapat

mengajak

umat

Islam

untuk

mengembangkan afeksi ketuhanan dan penalaran kemanusiaan. Melalui itu, kita akan mampu berpikir logis dan sehat serta berperilaku ajeg, baik dalam hubungannya dengan manusia maupun hubungan ilahiah. Jika hal itu terlaksana lahirtah masyarakat dan dunia yang Iercerahkan oleh peradaban Islan me nunuju cahaya ilmu pengetahuan,ketinggian budi pekerti, kebebesan akal dari khurafat dan ilusi, serta kebebasan manusia dari kezhaliman Untuk mendapapatkan pemahaman agak lebih luas maka perlu rasanya penulis menguraian secara ringkas metode-metode pendidikan yang dikemukakan oleh Abdurrahman An-Nahlawi sebagai berikut: a. Mendidik Melalui Dialog Qur'ani dan Nabawi Dialog merupakan salah satu bentuk dalam menyampaikan pesan kepada seseorang, baik berhadapan secara fisik maupun melalui serana komunikasi lainnya. Dialog dapat diartikan sebagai pembicaraan antara dua pihak atau lebih yang dilakukan melalui tanya jawab dan di dalamnya terdapat kesatuan topik atau tujuan pembiciraan. Dengan demikian, dialog merupakan jembatan yang menghubungkan pemikiran seseorang dengan orang laim. sebuah dialog baik akan melahirkan paling tidak dua kemungkinan: kedua belah pihak terpuaskan dan hanya pihak tertentu saja yang terpuaskan. Bagaimamanpun, hasilnya, dialog sangat menguntungkan orang ketiga, yaitu si penyimak atau pembaca. Lewat dialog, seorang pembaca yang betul-betul memperhatikan materi dialog akan memperoleh nilai lebih, baik berupa penambahan wawasan atau penegasan identitas diri. Keuntungan yang diperoleh pihak pembaca, sangat berhu bungan dengan karakteristik yang dimiliki dialog, yaitu : Pertama, biasanya, topik dialog tersaji secara dinamis karena kedua belah pihak menarik dan mengulur materi sehingga tidak membosankan. Bahkan, kondisi itu akan mendorong pembaca mengikuti seluruh pembicaraan. Kedua, lewat metode dialog, pembaia akan tertuntut untuk mengikuti dialog hingga selesai agar dia dapat mengetahui kesimpulan apa yang dihasilkan diarog
Abdurrahman An-Nahlawi. Pendidikan Islam di rumah di sekolah dan Masyarakat. (Jakarta:Gema Insani Press,1995).h.204
21

10

tersebut. Dan biasa-nya, keinginan untuk mengetahui keiimpulan merupakan penetral dari rasa bosan atau jenuh. Ketiga, lewat dialog perasaan dan emosi pembaca akan terbang-kitkan dan terarah sehingga idealismenya terbina dan pola pikimya betul-betul merupakan pancaran jiwa. Keempat, topik pembicaraan disajikan secara realistis dan manusiawi sehingga dapat menggiring manusia pada kehidupan dan perilaku yang lebih baik lagi. prosesi seperti itu sangat menunjang terwujudnya tujuan pendidikn Islam. 22 Ada tiga jenis dialog 1) Dialog Khithabi dan Ta’abbudi Al-Qur'an diturunkan unruk n:enjadi petunjuk dan sebagai kabar gembira bagi orang-orang veng berrakwaa. Di dalamnya pada puluhan tempat,Allah menyeru hamba-hamba yang beriman melalui seruan ya ayyuhal-ladzina amanu. Seorang mukmir, yang membaca seruan tersebut, niscaya akan segera menjawab: ya Rabbi, Aku memenuhi seruan-Mu.hubungan antara seruan Allah dan tanggapan orang mukmin itulah yang melahirkan sebuah dialog23. Keberadaan Al-Qur’an yang membina jiwa anak didik melalui dialog ta'abbudi dan khithabi harus disadari setiap pendidik sehingga mnereka mampu mendeteksi sejauh mana pengaruh dialog tersebut24. 2) Dialog deskriptif Dialog deskriptif disajikan dengan deskripsi atau gambaran orang- orang yang tengah berdialog. Pendeskripsian itu meliputi gambaran kondisi hidup dan psikologis orang-orang yang berdialog sehingga kita dapat memahami kebaikan dan keburukannya. Selain itu, pendeskripsian itu berpengaruh juga pada mentalitas seseorang sehingga perasaan ketuhanan dan perilaku positif manusia akan berkembang. 25 3) Dialog naratif dialog nararif tampil dalam episode kisah yang bentuk dan alur ceritanya jelas sehingga menjadi bagian dari cara arau unsur cerita dalam Al-Qur'an. Walaupun Al-Qur,an mengandung kisah yang di-sajikan dalam bentuk dialog, kita tidak dapat mengindentikkan keberadaannya dengan drama yang sekarang ini muncul sebagai sebuah jenis karya sastra. Artinya, A1-Qur'an tidak menyajikan unsur dramarik walaupun dalam penyajian kisahnya terdapar unsur dialog, seperti surat Hud yang mengisahkan Syu'aib dan kaumnya. Sepuluh ayat pertama dari kisah
22 23

Ibid.h.205 Ibid.h.h.206 24 Ibid.h.h.208 25 Ibid.h..230

11

Syu'aib disajikan dalam bentuk dialog yang ke-mudian diakhiri dengan ayat yang menjelaskan kebinasaan kaum tersebut. Untuk jelasnya, simaklah kisah tersebut: “Dan kepada (penduduk) Mad-yan (kami utus) saudara mereka, Syu'aib. ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, Sesungguhnya aku melihat kamu dalam Keadaan yang baik (mampu) dan Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.Sisa (keuntungan) dari Allah. Mereka berkata: "Hai Syu'aib, Apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar Kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak Kami atau melarang Kami memperbuat apa yang Kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat Penyantun lagi berakal,88. Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.. mereka berkata: "Hai Syu'aib, Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan Sesungguhnya Kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah Kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami.". Syu'aib menjawab: "Hai kaumku, Apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan.". dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. dan tunggulah azab (Tuhan), Sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu.". dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan Dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.. seolah-olah mereka belum pemah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.

12

Demikianlah dialog narratif menimbulkan dampak edukatif yang sangat menakjukan. Di samping dapat mempengaruhi panalaran, dialog naratif pun mampu mempengaruhi mentalitas dan perasaan seseorang. 26 4) Dialog argumentatif Di dalam dialog argumentatif kita akan menemukan diskusi dan perdebatan yang diarahkan pada pengokohan hujjah atas kaum musyrik agar mereka mengakui pentingnya keimanan dan pengesaan kepada-Nya, mengakui kerasulan akhir Muhammad saw, mengakui kebatilan tuhan-tuhan mereka, dan mengakur kebenaran seruan-seruan Rasulullah SAW seperti penjelasan beliau tentang peristirva Isra Mikraj Mi’raj yang dapat kita iihat di dalam ayat berikur ini Artinya “Demi bintang ketika terbenam.Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) Menampakkan diri dengan rupa yang asli.Sedang Dia berada di ufuk yang tinggi.Kemudian Dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah Dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu Dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya, Maka Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,(Yaitu) di Sidratil Muntaha, Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (Q.S.Najmi:1-18) Dalam kutipan ayat di atas, Aliah SWT mengokohkan hujjah atas kaum musyrikin: Rasul-Nya telah menyampaikan berita melalui keyakinan dan penglihatan yang sesungguhnya serta pandangan yang jelas dan tidak menyimpang. Apa yang beliau lihat dan beliau alami bersemayam dalam kalbu yang suci dari dusta. Bentuk argumentatif lain disajikan AI-Qur'an dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan irang mengingkari sese mbahan kaum musyrikin27 5) Dialog nabawi. Pada dasamva, Rasulullah saw. telah menjadikan jenis dan bentuk dialog Qur'ani sebagai pedoman dalam mempraktikkan metode pendidikan dan pengajaran beliau. Hal itu tidaklah mengherankan karena, bagaimanapun, akhlak beliau adalah Al-

26 27

Ibid.,h.225 Ibid.h.227

13

qur’an. Mithode pendidikan dan pengajaran beliau merupakan aplikasi yang dinamis dan manusiawi dari ayat-ayar Allah28. b. Mendidik Melalui Kisah Qur'ani dan Nabawi Dalam pendidikan Islam, dampak edukatif kisah sulit digantikan oleh bentukbcntuk bahasa lainnya. Pada dasarnya, kisah-kisah Al- Qur'an dan Nabawi mnembiaskan dampak psikologis dan edukatif yang baik, konstan, dan cenderung mendalam sampai kapanpun, Pendidikan melalui kisah-kisah tersebut dapat menggiring anak didik pada kehangatan perasaan, kehidupan, dan kedinamisan jirva yang mendorong manusia untuk mengubah perilaku dan memperbaharui tekad nya selaras dengan tuntutan, pengarahan, penyimpulan, dan pelajaran yang dapat diambil dari kisah tersebut Abdurrahman An-Nahlawi menguraikan lebih rinci dampak pendidikan melalui pengisahan adalah: Pertama, kisah dapat mengaktifkan dan membangkitkan kesadaran pembaca tanpa cerminan kesantaian dan keterlambatan sehingga dengan kisah, setiap pembaca akan senantiasa merenungkan makna dan mengikuti berbagai situasi kisah tersebut sehingga pembaca terpengaruh oleh tokoh dan topik kisah tersebut. Hal itu didukung oleh penyampaian kisah Qur'ani dan Nabawi yang cenderung utuh dan biasanya diawali dengan penl,ampaian tunrutan, ancaman) atau peringatan terhadap suatu bahaya. Kadangkadang, sebelum sampai pada pemecahannva, masalah-masalah tersebut berakumulasi dengan tun tutan atau masalah lain sehingga kisah menjadi jalinan cerita yang kompleks dan membuat pembaca menjadi semakin penasaran serra berambisi untuk segera mencapai penyelesaian. Kedua, interaksi kisah Qur'ani dan Nabalvi dengan diri manusia dalam keuruhan realitasnya tecermin dalam pola terpenting vang hendak ditonjolkan oleh Al-Qur'an kepada manusia di dunia dan hendak mengarahkan perhatian pada setiap poia yang
28

Ibid.h.231

14

selaras dengan kepen-tingannya. Dengan demikian, kisah-kisah yang disajikan secara benar, selaras dengan konteks, dan mewujudkan tujuan, pendidikan. Ketiga, kisah-kisah Qur'ani mampu membina perasaan ke tuhanan melalui caracara berikut ini: 1) Mempengaruhi emosi, seperti takut, perasaan diawasi, rela, senang, sungkan) atau benci sehingga bergelora dalam lipatan-lipat-an cerita. 2) Mengarahkan semua emosi tersebut hingga menvatu pada satu ke-simpulan yang menjadi akhir cerita. 3) Mengikutsertakan unsur psikis yang membawa pembaca larut dalam setting emosional cerita sehingga pembaca, dengan emosi-nva, hidup bersama tokoh cerita 4) Kisah Qur'ani memiliki keistimewaan karena, melalui topik cerita,kisah dapat memuaskan pikiran melalui cara-cara berikut ini: a. Pemberian sugesti, keinginan, dan keantusiasan. b. Perenungan atau pemikiran29 c. Mendidik Melalui Perumpamaan Perumpamaan secara umum dapat dimaknai dengan contoh-contoh. Landasan yang dapat kita jadikan untuk metode ini adalah fiman Allah dalam al-Quran dalam surat AL-Baqarah ayat 26

                                                                                                                                   ( ٢۶:‫ ( البقرة‬      
Artinya “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu Adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah,
29

Ibid.h.239-242

15

dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik (QS:2/26) Rasyid Ridha mengatakan Dharbul matsal berarti menyampaikan dan menjelaskan. Dalam tuturan dharbul matsal berarti menuturkan sesuatu guna menjelaskan suatu keadaan yang selaras dan serupa dengan yang dicontohkan, lalu menonjolkan kebaikan dan keburukan yang tersmar.kata adh-dharb memiliki makna mempengaruhi atau mengobarkan meosi sehingga terpilih untuk mengungkapkan pemberiancontoh Seolah-oiah, si pemberi contoh (dharibul matsal)- degan contoh tertentu mengetuk pendengaran penyimak dengan ketukan yang€menembuskan pengaruh ke dalam hati penyimak sehingga berakar pada kedalaman jiwanya30. d. Mendidik Melalui Keteladanan Pada dasamya, manusia sangat cenderung memerlukan sosok teladan dan anutan yang mampu mengarahkan-manusia pada jalan kebenaran dan sekaligus menjadi perumpamaan dinamis yang menjelaskan cara mengamalkan syariat Allah. Oleh karena itu, Allah mengutus rasul-rasul-Nya untuk menjelaskan berbagai syariat31. Dalam konteks ini bisa kita pahami dari firman Allah di bawah ini:                                                                                                               (۶۶-۶٣: ‫ )النحل‬               Artinya “dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,Keteranganketerangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,(QS.Nahlu/4344) 32 e. Mendidik Melalui Praktik dan perbuatan

30 31 32

Abdurrahman An-Nahlawi Op.Cit.h.251-252 Ibid.h.251-260

Al-Qur’an:Terjehamahan Kata-Perkata, Op.Cit.h.272

16

Pada dasamya, Islam merupakan agama yang berrumpu pada hubungan erat antara manusia dengan Rabb pencipta alam semesta. Islam merupakan agama yang menuntut kita merakukan berbagai perbuatan realistis dan amal soleh yang diridhai Allah. Islampun menyuruh umatnya untuk mengarahkan segala perilaku, naluri, dan pola kehidupan menuju perwujudan etika dan syariat ilahiah secara nyata. Hal pokok yang menjadi landasan adalah kenyataan bahwa dunia manusia terbentuk dari ruh dan jasad yang dengan konsep yang realistis, Islam menegakkan keseimbangan antara keduanya serta antara realitas manusia yang bermasyarakat dengan tujuan syariat ilahiah yang ideal. Islam senantiasa menerjemahkan tujuan tersebut ke dalam prilaku praktis yang memadukan perwujudan tuntutan alami manusia dan syariat ilahiah dalam waktu yang bersamaan. Dengan demikian, amal manusia menempati posisi utama dan menentukan keselamatan. 33. Allah sangat membenci orang yang mengatakan bahwa telah melakukan sesuatu padahal semuanya itu tak pemah dilakukannya, sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah sbb; (                                        ) ٣: ‫الصف‬ Artinya Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Qs.61/3) 34 f. Pendidikan Melarui Ibrah dan Mauizah Dilihat dari segi pemakaian, kira menemukan frekuensi pemakaian kedua kata tersebut seolah-olah menunjukkan kesinoniman. Namun, jika kita kaji berdasarkan kamus atau dalam kaitannya dengan ayat- ayat Al-Qur'an, kita akan menemukan bahwa kedua kata tersebut memiliki makna yang berbeda35. 1. Mendidik Melalui 'Ibrah Muhammad Rasydi mengatakan bahwa al-'itibar wal 'ibrah berarti ke adaan yang mengantarkan dari suatu pengetahuan yang terlihat menuju sesuatu yang tidak terlihat, atau jelasnya berarti merenung dan berpikir'. Dengan demikian, 'ibrah dan i'tibar itu merupakan kondisi psikoiogis yang mengantarkan manusia menuju pengetahuan yang dimaksud dan dirujuk oleh suatu perkara yang dilihat,
33 34 35

Abdurrahman An-Nahlawi Op.Cit.h.269

Al-Qur’an:Terjehamahan Kata-Perkata, Op.Cit.h.551
Ibid.h.279

17

diselidiki, ditimbang-timbang, diukur, dan ditetapkan oleh manusia menurut pertimbangan akalnya sehingga dia sampai pada suatu kesimpulan yang dapat mengkhusyukan kalbunya sehingga kekhusyuan itu mendorongnva untuk berperilaku iogis dan sesuai dengan kondisi masyarakat. 'Ibrah yang terdapat dalam Al-Qur'an mengandung dampak edukatif yang sangat besar, yaitu mengantarkan penvimak pada kepuasan berpikir mengenai persoalan akidah. Kepuasan edukauf tersebut dapat menggerakkan kalbu; mengembangkan perasaan ketuhanan; serta menanamkan, mengokohkan, dan mengembangkan akidah tauhid, ketundukan kepada syariat Allah, atau kerundukan pada berbagai perintahNya36. 2. Mendidik Melalui Mau'izhah Di dalam kamus A-Muhith terdapat kata “wa’azhahu, ya ‘izhu,wa’zhan, waman’izhuhu yang berarti meningatkannya terhadap sesuatu yang dapat meluluhkan hatinya dan sesuatu itu dapat berupa pahala maupun siksa. sehingga dia menjadi ingat sementar itu dalam tafsir A l-manar, ketika menafsirkan surat al-baqarah ayat 232 Rasyid Ridha mengatakan bahwa Al-wazhu berarti nasihat dan peringatan dengan kebaikan dan dapat melembutkan hati serta mendorong untuk beramal. Yakni, nasihat melalui penyampaian had (batasan-batasan yang ditentukan Allah) yang disertai dengan hikmah,targhib, dan tarhib. Nasihat itu diberikan kepada orang yang beriman kepada Allah dan kepada adanya pembalasan atas segala amal di akhrat.Karena merekalah yang dapat menerima dan menjadikamya sebagai pelajaran sehingga hatinya khusyu kepada nasihat dan segera mengamalkannya sebagai penerimaan atas pembinaan dari Rabbnya dan sebagai pencarian manfaat di dunia yang disertai harapan mendapat pahala dan keridhaan-Nya di akhirat. Adapun orang-orang yang tidak beriman dengan sesungguhnya kepada semua itu, seperti orang yang menunda-nunda dan mengekor, yaitu orang-orang yang mengatakan "kami beriman" di bibir saja. Mereka mendengar kaumnya mengatakan hal itu, sedang hati mereka tidak beriman sebab mereka tidak menguatkan pokok-pokok keimanannya dengan dalil-dalil Qur'ani dan nabawi yang memiliki tempat dan jalur rasa dalam hati. Sehingga, pemberian nasihat kepada mereka akan sia-sia tanpa guna dan nasihat itu menjadi kata-kata yang tidak disimak. 37. g. Mendidik Melalui Targhib dan Tarhib Berdasarkan analisis-terhadap ayat-ayat Al-qur'an, kita dapat mendefi nisikan istilah targhib dan tarhib sebagai birikut. Targhib adalah janji yang disertai bujukan dan rayuan unruk menunda kemaslahatan,kelezatan, dan kenikmatan. Namun, penundaan itu bersifat pasti baik, dan mumi, serta dilakukan melalui amal saleh atau pencegahan diri dari kelezatan yang membahayakan (pekerjaan

36 37

Ibid. Ibid.h.289

18

buruk).yang jelas semua dilakukan untuk mnencari keridhaan Allah dan hambahambanya38. Tarhib adalah ancaman atau intimidasi melalui hukuman yang disebabkan oleh terlaksananya sebuah dosa, kesalahan, atau perbuatan yang telah dilarang Allah.Selain itu juga karena menyepelekan pelaksanaan kewajiban yang telah diperintihkan Allah.Tarhibpun dapat diartikan sebagai ancaman dari Alla untuk menakur-nakuti hamba-hamba-Nya melalui penonjolan kesalahan atau penonjolan salah satu sifat keagungan dan kekuatan ilahiah agr mereka teringatkan untuk tidak melakukan kesalahan dan kemaksiatan. 39. Firman Allah yang dapat dijadikan landasan pendapat untuk methode ini dalah Surat Maryam ayat 70-72

                                                                                                  

          

Artinya “dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka. Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Dan kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam Keadaan berlutut ( QS:19/70-72) 40.

  

D Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak Menurut Ajaran Islam

a)

Peran Ibu Pada kebanyakan keluarga, ibulah yang memegang peranan yang terpenting terhadap anak-anaknya. sejak anak itu dilahirkan, ibunyalah yang selalu sampingnya. Ibulah orang memberi makan dan minum, memelihara dan selalu bercampur gaul dengan anak-anak. Itulah sebabnya kebanyakan anak lebih cinta kepada ibunya daripada kepada anggota keluarga lainny. 41 Pembentukan identitas anak menurut Islam, dimulai jauh sebelum anak itu

diciptakan. Islam memberikan berbagai syarat dan ketentuan pembentukan keluarga,

38 39 40 41

Ibid.h.295 Ibid.h.295

Al-Qur’an:Terjehamahan Kata-Perkata, Op.Cit.h.310 M.Ngalim Purwanto,Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Jakarta:Rosda Karya, 2000) h.82

19

sebagai wadah yang akan mendidik anak sampai umur tertentu yang disebut balighberakal42. Lebih lanjut Zakiah Darajat menjelskan “Bahwa dalam Islam penyemaian rasa agama dimulai sejak pertemuan ibu dan bapak yang membuahkan janin dalam kandungan,yaitu dimulai dengan do'a dan harapan kepada Allah.Selanjutnya memnajatkan doa dan harapan kepada Allah agar janinnya kelak lahir dan besar menjadi anak yang saleh. Begitu si anak lahir dibisikkan di telinganya"kalimah adzan dan iqamah, dengan harapan kata-kata thaiyibah itulah hendaknya yang pertama kali terdengar oleh anak, kemudian ia berulangkali kali mendengrnya, setiap waktu shalat tiba, baik didengarnya dirumahnya, di luar rumahnya.Kata-kata thaiyibah dan kata-kata lainnya yang berisikan jiwa agama, akan sering didengar anak-anak. Melalui ibunya, waktu ia disusukan, dimandikan, ditidurkan dan diganti pakaian oleh ibunya. ia mendengar tutur kata thaiyibah ketika sedang memperoleh pemenuhan kebutuhan pokoknva. Pengataman yang seperti itu akan menyubutkan tumbuhnya rasa agama di dalam jiwa anak, dan akan tetap hidupdi dalam jiwanya43 b). Peranan Ayah Di samping ibu, orang yang paling berperan pula adalah ayahnya sebagai orang yang tertinggi gengsinya atau prestisenya Peranan ayah dalam pendidikan anak-anaknya yang lebih adalah sebagai: • sumber kekuasaern di dalam keluarga, • Penghubung intern keluarga dengan masyarakat atau dunia luar, • Pemberi perasaan aman bagi seluruh anggota keluarga, • Pelindung terhadap ancaman dari luar, ; • Hakim atau yang mengadili jika terjadi perselisihan, • Pendidik dalam segi-segi rasional. 44 Perlu diketahui, bahwa kualitas hubungan anak dan orang tuanya, akan mempengaruhi keyakinan beragamanya di kemudian hari. Apabila ia merasa disayang

Zakiah Darajat, Pendidikan (Jakarta:Ruhama,1995,h.,41 43 Ibid., h.64-65 44 M.Ngalim Purwanto,Op.cit., h.83
42

Islam

Dlam

Keluarga

dan

Sekolah,

20

dan diperlakukan adil maka ia akan meniru orang tuanya dan menyerap agama dan nilai yang dianut oleh orang tuanya45 Fitrah kasih sayang kepada anak yang tertanam dalam diri setiap orang tua senantiasa mendorong mereka untuk melakukan segala usaha yang diperkirakan baik dalam kerangka upaya mereka meningkatkan taraf hidup anaknya ke arah yang lebih baik dan sejahtera. Untuk mencapai maksud itu orang tua melatih dan mengajar anaknya berabagai macam keterampilan dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. 46 Tanggung jawab pendidikan Islam yang menjadi tanggung jawab orang tua sekurang-kurangnya harus dilaksanakan dalam rangka : 1. Memelihara dan membesarkan anak, ini adalah bentuk yang sederhanadari tanggung jawab setiap orang tua dan merupakan dorongan alami untuk mempertahankan kelangsungan hidup anak. 2. Menerima pengajaran dalam arti luas sehingga anak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat dicapainya. 3. Melindungi dan menjamin kesamaan, baik jasmaniah dan rohaniah, dari berbagai gangguan penyakit dan penyelewengan kehidupan dari tujuan hidup sesuai dengan falsafah hidup agama yang dianautnya. 4. Membahagiakan anak, baik dunia maupun akhirat sesuai dengan pandangan muslim.47 Allah SWT berfirman dalam al-qur’an yang berbunyi :

َ َ ‫كمامل َين ل ِمممن أ‬ َ ‫الوال ِدات يرضعن أ‬ َ َ َ ‫ن‬ ‫ن‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫و‬ ‫ح‬ ‫ن‬ ‫ه‬ ‫د‬ ‫ل‬ ‫و‬ ُ ِ ْ ‫راد َ أ‬ ْ ْ َ َ َ َ ْ َ ْ ّ ْ َ ْ ِ ْ ُ ُ َ َ ْ َ‫و‬ ِ َ ِ‫لمموْد‬ ُ ْ‫مو‬ ْ ‫لمم ى‬ َ َ ‫ة وَع‬ ‫ن‬ َ َ‫ضممماع‬ ِ ّ‫ي‬ ْ ِ‫ه ر‬ َ ‫ر‬ ْ ِ ‫ن وَك‬ ُ ‫لمم‬ َ ‫ال‬ َ ‫تمم‬ ُ ُ ‫زق‬ ّ ُ‫سمموَت ُه‬ ّ ‫همم‬ ّ ‫م ال‬ ْ ِ‫ب‬ ( ٢٣٣ : ‫) البقرة‬..‫ف‬ ِ ْ ‫رو‬ َ ‫مال‬ ُ ْ‫مع‬
“Para ibu hendaknya menyususkan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang inging menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makandan pakain kepada para ibu dengan carayang ma’ruf……(Q.S. AlBaqarah : 233)48
45 46

Ibid., h.66 Baihaqi A. K, Mendidik Anak Dalam Kandungan, (Jakarta : Darul Ulum Press, 2003), Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta : Bumi Aksara, 1996 ),hal 38 Al-Qur’an:Terjehamahan Kata-Perkata Op cit, hal 57

hal 45
47 48

21

Ayat ini menyebutkan hal-hal penting dalam rangka tanggung jawb orang tua terhadap anak : a. Ibu didorong untuk mengasuh anak-anaknya, pengasuhan ini terlihat pada saat kehamilan, yang berarti keamanan anak dari segala sesuatu yang bersifat keduniawian pada saat dalam kandungan. b. Ayat ini menjelaskan tangung jawab bapak untuk menghidupai anak-anaknya, seorang suami adalah orang yang bertanggung jawab bagi kesejahteraan anggota keluarganya dan untuk meyediakan alat untuk memenuhi pangan, pakaian tempat berteduh dan kebutuhan lain untuk istrinya atau mereka mereka yang menjadi tanggung jawabnya dan anak-anaknya. jadi ayah berperan penting dalam kehidupan anak sejak dari awal, tidak hanya sebagai pendamping dalam kehidupan, tetapi juga bertanggung jawab untuk membiayai dan memelihara anaknya. c. Keputusan penting yang menyangkut anak sebaiknya dirundingkan oleh kedua orang tua kejujuran ayah dan ibu sangat penting dlam memelihara anak. Secara psikologis terlihat pula bahwa tanggung jawab pendidikan anak merupakan pemenuhan tuntunan fitrah manusia yang sejak mulai menjadi orang tua (ayah dan ibu) telah memiliki rasa kasih sayang kepada dan mempunyai keinginan untuk mengasuh, memelihara, menyelamatkan dan mendidik anak. Upaya mendidik anak itu merupakan amal ibadah wajib yang berpahala besar. Sebaliknya ajaran tersebut juga mengancam bahwa mereka yang tidak mendidik anak akan mendapat dosa dan azab neraka.49 Jadi, setelah menuanaikan kewajiban dalam hal ini, mendidik anak, menerima dan bahkan menuntut haknya baik yang menyangkut moril maupun materil dari anaknya itu. Barulah berlaku hukum durhaka atas anak melengehkan kewajibannya membantu orang tuanya. Yang dimaksud dengan membantu dalam kontek ini harus dalam bentuk uang atau materi, terutama anak dalam hal itu terhitung lemah, tetapi dapat pula dalam bentukbentuk pengabdian, penghormatan, pengobatan, tenaga, pikiran dan lainnya.50 Inilah tanggung jawab orang tua, baik ayah maupun ibu terhadap anak-anaknya. Mereka tidak mungkin dialihkan kepada selian keduanya.studi empiris telah membuktikan bahwa kebanyakan degradasi anak sekarang ini adalah akibat dari kesalahan orang tua dan para pendidik dalam mendidik mereka.

49 50

Baihaqi A.K, Op cit, hal 60-61 Ibid

22

Jadi, jelaslah betapa penting tanggung jawab orang tua dalam hal ini memberikan pendidikan terhadap anak-anaknya sebagaimana mestinya atau mereka melalaikan dan mengabaikan pendidikan mereka. Maka Allah mengancam mereka dengan siksaan ancaman neraka.

You're Reading a Free Preview

Descarregar
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->