FRAKTUR TIBIAL PLATEAU

1. Definisi Fraktur adalah hilanganya kontinuitias tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun parsial1.

2. Proses Terjadinya Fraktur Untuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, kita harus mengetahui keadaan fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah. Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan tekanan memutar (shearing). Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar, dan tarikan1. Trauma bisa bersifat1 :  Trauma langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.  Trauma tidak langsung. Disebut trauma tidak langsung apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. Tekanan pada tulang dapat berupa 1 :       Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat spiral atau oblik Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasi Kompresi vertical dapat menyebabkan fraktur komunitif atay memecah misalnya pada badan vertebra, talus, atau fraktur buckle pada anak-anak Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu akan menyebabkan fraktur oblik atau fraktur Z Fraktur oleh karena remuk

Trauma karena tarikan pada ligament atau tendo akan menarik sebagian tulang

Gambar 1. Mekanisme Trauma (a) berputar (b) kompresi (c) fragmen triangular butterfly (d) tension (dikutip dari kepustakaan 2)

3. Klasifikasi Fraktur Fraktur dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologis, klinis, dan radiologis. Klasifikasi Etiologis1    Fraktur traumatik. Terjadi karena trauma yang tiba-tiba Fraktur patologis. Terjadi kerana kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan patologis di dalam tulang Fraktur stress. Terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu Klasifikasi Klinis1   Fraktur tertutup (simple fraktur). Fraktur tertutup adalah suatu fraktur yang tidak

mempunyai hubungan dengan dunia luar. Fraktur terbuka (compound fracture). Fraktur terbuka adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam) atau from without (dari luar)

Berdasarkan lokalisasi :                      Diafisal Metafisal Intra-artikuler Fraktur dengan dislokasi 2. karena trauma langsung Fraktur impaksi Fraktur pecah (burst) dimana terjadi fragmen kecil yang berpisah misalnya pada fraktur vertebra. Fraktur dengan komplikasi adalah fraktur yang disertai dengan komplikasi misalnya malunion. nonunion. kalkaneus Fraktur epifisis 3. delayed union. Berdasarkan konfigurasi : Fraktur transversal Fraktur oblik Fraktur spiral Fraktur Z Fraktur segmental Fraktus komunitif. infeksi tulang. Menurut ekstensi Fraktur total Fraktur tidak total Fraktur buckle Fraktur garis rambut Fraktur green stick . Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture). patella. talus. Klasifikasi Radiologis1 1. fraktur lebih dari dua fragmen Fraktur baji biasanya pada vertebra karena trauma kompresi Fraktur avulse. fragmen kecil oleh otot atau tendo misalnya fraktur epikondilus humeri Fraktur depresi.

Klasifikasi Fraktur (dikutip dari kepustakaan 2) .4. Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya   Tidak bergeser (undisplaced) Bergeser (displaced) Bergeser dapat terjadi dalam 6 cara :  Bersampingan  Angulasi  Rotasi  Distraksi  Over-riding  Impaksi Gambar 2.

Periosteum akan terdorong dan dapat mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak. Penyembuhan Fraktur Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase yaitu1 : 1. 2. maka penyembuhan sel berasal dari diferensiasi sel-sel mesenkimal yang tidak berdiferensiasi ke dalam jaringan lunak. Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi pertambahan jumlah dari sel-sel osteogenik yang memberi pertumbuhan yang cepat pada jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas. Apabila terjadi robekan yang hebat pada periosteum. yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskuler tulang yang mati pada sisi-sisi fraktur segera setelah trauma. Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel-sel osteogenik yang berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus interna sebagai aktifitas seluler dalam kanalis medularis. Pada pemeriksaan radiologis kalus belum mengandung tulang sehingga merupakan suatu daerah radiolusen. maka pembuluh darah kecil yang melewati kanalikuli dalam sistem Haversian mengalami robekan pada daerah fraktur dan akan membentuk hematoma diantara kedua sisi fraktur. Setelah beberapa minggu. Bentuk . Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah fraktur akan kehilangan darah dan mati. Tempat osteoblast diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlengketan polisakarida oleh garam-garam kalsium membentuk suatu tulang yang imatur.4. kalus dari fraktur akan membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pembentukan jaringan seluler tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur. 3. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal Pada fase ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi penyembuhan. Fase hematoma Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang. Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis) Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas membentuk tulang rawan.

maka tulang yang baru membentuk bagian yang menyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. perlahan-lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan tetap terjadi proses osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna secara perlahan-lahan menghilang. (e) Remodelling. Gambar 3. Pada fase remodeling ini. Kerusakan jaringan dan perdarahan pada daerah fraktur. (d) konsolidasi. (c) callus. Proses penyembuhan fraktur. (a) hematom. Populasi sel akan berubah menjadi osteoblast dan osteoclast. Kalus intermediat berubah menjadi tulang yang kompak dan berisi sistem Haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk membentuk ruang sumsum. Fase konsolidasi (fase union secara radiologik) Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur lamelar dan kelebihan kalus akan diresorpsi secara bertahap. Pada pemeriksaan radiologi kalus atau woven bone sudah terlihat dan merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur. Terjadi perubahan struktur tulang sehingga akan tampak seperti struktur normalnya (dikutip dari kepustakaan 2) . (b) inflamasi. Fase remodeling Bilamana union telah lengkap. Woven bone diganti oleh tulang lamellar dan fraktur menyatu secara sempurna. 4. Sel-sel inflamasi tampak pada daerah hematom. 5.tulang ini disebut sebagai woven bone.

Mempunyai tiga buah tepi. Eminentia epicondylaris bervariasi dalam bentuk dan sering juga absen5. Pada facies inferior dari permukaan dorsalnya terdapat facies articularis. agak konveks. Di bagian distalnya melekat ligamentum patellae5. Di sebelah inferior dari condylus tibiae terdapat tonjolan ke arah anterior. Sebuah os longum. mempunyai corpus. yaitu (1) facies medialis. (2) margo medialis dan (3) margo interosseus. Pada sepertiga bagian proximal terdapat linea poplitea. Fossa intercondyloidea anterior mempunyai bentuk yang lebih besar daripada fossa intercondyloidea posterior. oleh fossa intercondyloidea anterior. dari anterior ke posterior. bentuk besar. dan akhir distal disebut sebagai pilon (sendi dan medial maleolus)3. membentuk condylus medialis dan condylus lateralis tibiae. sedangkan facies articularis condylus lateralis hampir bundar. ujung proximal dan ujung distal. oval. tubercle. Facies posterior berada di antara margo medialis dan margo interosseus. melanjutkan diri menjadi bagian ventral ujung distal tibia. Condylus lateralis lebih menonjol daripada condylus medialis. mengadakan persendian dengan os femur membentuk articulatio genu. Facies lateralis konkaf. Anatomi Tibia terdiri dari : akhir proksimal disebut sebagai plateau (terbagi menjadi medial yang berbentuk konkaf dan lateral yang berbentuk konvex). . dinamakan facies articularis fibularis. eminence (medial dan lateral). ditempati oleh banyak otot. Facies articularis dari condylus medialis berbentuk oval. Pada posisi berdiri. suatu garis yang oblique dari facies articularis menuju ke margo medialis5. (2) facies lateralis dan (3) facies posterior. batang/shaft. disebut tuberositas tibiae. permukaan licin5. facies proximalis membentuk facies articularis superior. yaitu (1) margo anterior.5. Tepi eminentia intercondyloidea membentuk tuberculum intercondylare mediale dan tuberculum intercondylare laterale. berbentuk lingkaran. Facies articularis ini dibagi menjadi dua bagian. tibia meneruskan gaya berat badan menuju ke pedis. berputar ke arah ventral. Bagian distalnya menjadi konveks. berada di sisi medial dan anterior dari crus. Corpus tibiae mempunyai tiga buah permukaan. Tibial plateau merupakan penopang massa tubuh bagian proksimal dari tibia dan melakukan artikulasi dengan condylus femoralis untuk membentuk sendi lutut4. Ujung proximal lebar. ditutupi langsung kulit dan dapat dipalpasi secara keseluruhan. Fossa medialis datar. mengadakan persendian dengan capitulum fibulae. eminentia intercondyloidea dan fossa intercondyloidea posterior.

Margo anterior disebut crista anterior. Ujung distal tibia membentuk malleolus medialis. medial. Di bagian proximal mulai pada condylus lateralis sampai di apex incisura fibularis tibiae membentuk bifurcatio5. Margo interosseus mempunyai bentuk yang lebih tegas daripada margo medialis. Facies articularis inferior pada ujung distal tibia membentuk persendian dengan facies anterior corpus tali5. Anatomi Tibia Fibula (dikutip dari kepustakaan 3) . Pada permukaan lateral terdapat incisura fibularis yang membentuk persendian dengan ujung distal fibula. lateral dan inferior. posterior. Margo medialis. di bagian proximal mulai dari tepi lateral tuberositas tibiae. Malleolus medialis mempunyai facies superior. tempat melekat membrana interossea. mulai dari bagian dorsal condylus medialis sampai ke bagian posterior malleolus medialis. anterior. dan di bagian distal menjadi tepi anterior dari malleolus medialis. Gambar 4. Pada facies posterior terdapat sulcus malleolaris.tibialis posterior dan m. dilalui oleh tendo m. sangat menonjol.flexor digitorum longus.

lokasi. Factor lain seperti usia dan kualitas tulang juga berpengaruh pada konfigurasi fraktur. Aspek anterior dari kondilus femoralis berbentuk baji. 8. Arah. Fraktur tibial plateau terjadi akibat kompresi langsung secara axial. dengan terjadinya hiperekstensi dari lutut maka kekuatan ditimbulkan oleh gerakan kondilus ke tibial plateau.6. Pasien yang lebih tua dengan tulang yang osteopeni akan lebih cenderung menjadi tipe fraktur depresi karena tulang subkondral nya lebih kaku untuk mengikuti beban6. Faktor Resiko Factor resiko untuk terjadinya fraktur tibial plateau adalah4 : a) Pasien-pasien memiliki resiko untuk cedera ini adalah trauma dengan kecepatan tinggi (usia muda. besar. Epidemiologi Fraktur tibial plateau terjadi pada 1% kasus dari semua fraktur dan 8% kasus terjadi pada pasien yang tua. . serta posisi lutut pada saat trauma akan menyebabkan perbedaan dari pola fraktur. alcohol dan pecandu obat) b) Usia lebih tua dengan kualitas tulang yang jelek memiki resiko fraktur. Mekanisme Trauma Fraktur tibial plateau biasanya terjadi sebagai akibat dari kecelakaan pejalan kaki yang rendah energy mengenai bumper mobil. Fraktur pada medial plateau terjadi pada 23% kasus fraktur plateau sedangkan fraktur lateral plateau terjadi pada 70% kasus. Sebagian besar kejadian fraktur tibial plateau ini juga dilaporkan terjadi akibat dari kecelakaan sepeda motor dengan kecepatan tinggi dan jatuh dari ketinggian. dan tingkat pergeseran. biasanya dengan posisi valgus (paling sering) atau varus (jarang) atau trauma tidak langsung yang besar. laki-laki. dan kombinasi antara keduanya terjadi pada 31% kasus4. 7. Usia muda dengan tulang yang kaku memiliki angka kejadian lebih tinggi untuk terjadinya robekan ligament sedangkan usia tua dengan kekuatan tulang yang menurun memiliki angka kejadian lebih rendah untuk robekan ligament7. Fraktur yang terjadi pada pasien tua merupakan hasil dari trauma dengan energy rendah. dan lokasi dari kekuatan yang ditimbulkan.

maka digunakan klasifikasi Tscherne dan Gotzen. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat simpel. Jika fraktur terbuka maka digunakan klasifikasi Gustilo-Anderson. Klasifikasi Jika kerusakan yang terjadi tertutup. soft tissue cover (-) . tidak terdapat tanda-tanda trauma yang hebat pada jaringan lunak. terdapat sedikit kerusakan jaringan. Grade 2 : Laserasi kulit melebihi 1 cm tetapi tidak terdapat kerusakan jaringan yang hebat atau avulsi kulit. Fraktur tibial plateau dapat diklasifikasikan dengan Schatzker yaitu berdasarkan lokasi dan konfigurasi fraktur8. dan kerusakan otot Klasifikasi fraktur terbuka (Gustilo-Anderson) yaitu 8 : Grade 1 : Luka kecil kurang dan 1 cm. Klasifikasi fraktur tertutup (Tscheme and Gotzen) yaitu8 : Grade 0 Grade 1 Grade 2 : kerusakan jaringan lunak minimal : Abrasi superficial/ kontusio : Dalam. avulse subkutan.Gambar 5. Tanda-tanda impending kompartemen sindrom Grade 3 : kontusio kulit yang luar. abrasi dengan kontusio kulit ataupun otot. oblik pendek atau komunitif. kulit dan struktur neovaskuler dengan kontaminasi yang hebat. Terdapat kerusakan yang sedang dan jaringan Grade 3 : Terdapat kerusakan yang hebat pada jaringan lunak termasuk otot. tranversal. Mekanisme trauma pada fraktur tibial plateau (dikutip dari kepustakaan 6) 9. Dibagi dalam 3 sub tipe: a) grade IIIA : jaringan lunak cukup menutup tulang yang patah b) grade IIIB : disertai kerusakan dan kehilangan jaringan lunak.

Tipe 2 : peremukan kominutif pada kondilus lateral dengan depresi pada fragmen. Fraktur ini mungkin sebenarnya tidak bergeser. tetapi segmen tulang sebelah luar memberikan selembar permukaan sendi yang utuh.c) grade IIIC : disertai cedera arteri yang memerlukan repair segera Klasifikasi fraktur tibial plateau (Schatzer classification)2 : Tipe 1 : fraktur biasa pada kondilus tibia lateral. dengan perobekan ligament kolateral lateral Tipe 5 : fraktur pada kedua kondilus dengan batang tibia yang melesak diantara keduanya Tipe 6 : kombinasi fraktur kondilus dan subkondilus. Fraktur ini mirip dengan tipe 2. Tipe 3 : peremukan komunitif dengan fragmen luar yang utuh. kalau retakannya lebar. Tipe 4 : fraktur pada kondilus tibia medial. Tipe fraktur ini paling sering ditemukan dan biasanya terjadi pada orang tua dengan osteoporosis. atau jelas sekali tertekan dan miring. fragmen yang lepas atau meniscus lateral dapat terjebak dalam celah. Gambar 6. mungkin terdapat retakan vertikan dengan pemisahan fragmen tunggal. Pada pasien yang lebih muda yang tidak menderita osteoporosis berat. Ini kadang-kadang akibat cedera berat. biasanya akibat daya aksial yang hebat. Klasifikasi fraktur tibial plateau (schatzker classification) (dikutip dari kepustakaan 3) .

Pada fraktur tibial plateau.Nyeri bila digerakan. Kecelakan motor. perokok. bengkak. emfisema.  Pemeriksaan Fisis1 1. . Move (Gerakan) . 5.Tenderness (nyeri tekan) pada derah fraktur. Anamnesis lainnya yang pertu ditanyakan adalah factor-faktor komorbid dari pasien yang akan berpengaruh pada terapi ataupun prognosis. Pada anamnesis didapatkan adanya keluhan nyeri. sensasi motorik dan sensorik. perlu . tractus urinarius dan pelvis. pengembalian darah ke kapiler (Capillary refil test). lateral.Nyeri sumbu. ataupun deformitas. Feel (Palpasi) . Look (Inspeksi)  Deformitas : angulasi ( medial. Pemeriksan trauma di tempat lain seperti kepala.Gerakan yang tidak normal yaitu gerakan yang terjadi tidak pada sendinya. posterior atau anterior). 4.Krepitasi. Keluhan lain yang dipaparkan oleh pasien adalah tidak mampu untuk menggerakkan lutut secara seluruhan ataupun sebagian4. Pasien dengan penyakit penyerta seperti penyakit arteri koroner. warna kulit. perpendekan atau perpanjangan). dan ditabrak dengan kendaraan sementara berjalan merupakan contoh mekanisme trauma dengan energi tinggi. thorak. baik gerakan aktif maupun pasif. Pemeriksaan komplikasi fraktur seperti neurovaskular bagian distal fraktur yang berupa pulsus arteri. abdomen. ataupun diabetes tidak terkontrol memiliki resiko besar untuk timbulnya komplikasi dari cedera yang terjadi9. temperatur kulit. Anmnesis penting untuk mengetahui apakah pasien mengalami trauma dengan energy besar atau tidak. . . jatuh dari ketinggian lebih dari 10 kaki.10. Fungsio laesa (hilangnya fungsi gerak)   2. Bengkak atau kebiruan. 3. diskrepensi (rotasi. Diagnosis  Anamnesis Anamnesis merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mengevaluasi pasien dengan fraktur.

nyeri pada lutut dimana pasien tidak dapat memikul berat tubuh. Pasien adalah wanita usia 55 tahun yang jatuh dengan lutut terlebih dahulu ketika berkebun. Foto X-ray digunakan untuk mengidentifikasi garis fraktur dan pergeseran yang terjadi tetapi tingkat kominusi atau depresi dataran mungkin tidak terlihat jelas. Gambar 7. Pasien dibawa ke UGD dengan nyeri dan edem di sekitar lutut (dikutip dari kepustakaan 11) . ligament lateral biasanya robek2. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan standar untuk trauma pada lutut adalah foto Xray dengan posisi anteroposterior (AP). tetapi bila kondilus medial remuk. 6.dilakukan pemeriksaan terhadap arteri popliteal yaitu diantara proksimal dari adductor hiatus dan distal dari soleus serta pemeriksaan nervus peroneal. ligamen medial sering utuh. dan dua oblik. Pada fraktur tibial plateau. Bila kondilus lateral remuk. 11. lateral. Ini adalah X-Ray dari fraktur tibial plateau. Foto tekanan (dibawah anestesi) kadang-kadang bermanfaat untuk menilai tingkat ketidakstabilan sendi. hemarthrosis sering terjadi yaitu berupa edem.

sagital. Magnetic resonance imaging (MRI) digunakan untuk mengevaluasi trauma ataupun sebagai alternative dari CT-scan atau arthroscopy. Gambar 8. serta arthtroscopy menunjukkan fraktur kompres lateral. MRI dapat mengevaluasi tulang serta komponen jaringan lunak dari lokasi trauma. tidak ada indikasi yang jelas untuk penggunaan MRI pada fraktur tibial plateau6. CT-scan potongan sagital meningkatkan akurasi diagnosis dari fraktur tibial plateau dan diindikasikan pada kasus dengan depresi artikular.CT-scan digunakan untuk mengidentifikasi adanya pergeseran dari fraktur tibial plateau. Namun. (dikutip dari kepustakaan 10) . CT-scan Posisi AP.

Pemakaian hinged cast-brace untuk melindungi pergerakan lutut dan beban tubuh merupakan salah satu metode pilihan.7.12. Gambar 9.dan pergerakan aktif dari lutut sebagai stabilitas dapat dilakukan. dan progressif hingga memikul beban tubuh secara keseluruhan. Terapi non-operative. aktif. Hemathrosis diaspirasi dan pembalut kompresi dipasang. Dibolehkan untuk memikul beban tubuh secara partial selama 8-12 minggu. Terapi Terapi pada fraktur tibial plateau dibagi menjadi non-operative dan operative. gips penyangga berengsel dipasang dan pasien diperbolehkan menahan beban sebagian dengan kruk penopang2. maka (b. Terapi dengan long leg cast juga dapat digunakan6. pasif. (a) tampaknya tidak mungkin bahwa fraktur bikondilus yang kompleks ini dapat direduksi dengan sempurna dan difiksasi secara memuaskan dengan operasi. (dikutip dari kepustakaan 2) . Fraktur yang tidak bergeser atau sedikit bergeser biasanya menimbulkan hemathrosis.c) pen traksi bawah dimasukkan dan gerakan dilatih dengan tekun (d) sepuluh hari kemudian sinar X memperlihatkan reduksi yang sangat baik dan hasil akhir sangat bagus. Tungkai diistirahatkan pada mesin gerakan pasif kontinyu dan gerakan lutut dimulai.  Non-operative Fraktur yang non-displaced dan stabil baik untuk diterapi non-operative. Latihan isometric untuk quadriceps. Segera setelah nyeri dan pembengkakan akut telah mereda.

Fragmen kondilus yang besar harus benar-benar direduksi dan difiksasi pada posisinya. seminggu setelah terapi ini penggunaan mesin itu dihentikan dan latihan aktif dimulai. 7 cm di bawah fraktur. Fraktur terbuka 4. Schatzker tipe 2. pen traksi dilepas. Operative Indikasi operasi pada fraktur tibial plateau adalah7 : 1. Pasca operasi lutut diterapi dengan mesin CPM . Instabilitasi >10 derajat dari lutut yang diperpanjang dibandingkan dengan sisi sebaliknya. setelah beberapa hari. Kalau depresi ringan (kurang dari 5 mm) dan lutut stabil atau jika pasien telah tua dan lemah serta mengalami osteoporosis. lutut dapat diterapi sejak permulaan dengan mesin CPM. Pasca operasi lutut diterapi dengan mesin CPM setelah beberapa hari2. Segera setelah fraktur menyatu (biasanya setelah 3-4 minggu). Ini terbaik dilakukan dengan operasi terbuka2. . lutut kemudian difleksikan dan diekstensikan beberapa kali untuk membentuk tibia bagian atas pada kondilus femur yang berlawanan. gips penyangga berengsel dipasang dan pasien diperbolehkan bangun dengan kruk penopang. Pembebanan penuh ditunda selama 6 minggu lagi. fraktur diterapi secara tertutup dengan tujuan memperoleh kembali mobilitas dan fungsi bukannya restitusi anatomis. Fraktur yang bergeser. Depressi pada articular yang dapat ditoleransi adalah <2mm sampai 1 cm. 2. Sindrom kompartemen 5. Fraktur komunitif. 3. mirip dengan fraktur kompresi vertebra. Pada dasarnya ini adalah fraktur kompresi. latihan aktif harus dilakuakn tiap hari. Pada pasien muda dengan fraktur tipe 2. Fraktur yang retak lebih tidak stabil dibandingkan fraktur yang hanya kompresi. untuk semakin meningkatkan rentang gerakan . Kaki diletakkan pada bantal dan dengan 5 kg traksi. Kondilus mulai dibentuk. traksi rangka dipasang lewat pen berulir melalui tibia. Adanya kerusakan vascular. Terapi pembedahan berdasarkan tipe fraktur nya (Schatzker classification) yaitu : Schatzker tipe 1. Setelah aspirasi dan pembalutan kompresi. terapi ini mungkin dianggap terlalu konservatif dan reduksi terbuka dengan peninggian plateau dan fiksasi internal sering menjadi pilihan. Selain itu. latihan aktif dimulai dan setelah 2 minggu pasien dibiarkan dengan gips penyangga yang dipertahankan hingga fraktur telah menyatu.

Cara ini kadang-kadang dapat dilakukan secara tertutup dengan traksi yang kuat dan kompresi lateral. Gambar 10. Tetapi. reduksi terbuka dan fiksasi dapat dicoba.Schatzker tipe 3. Kominusi dengan fragmen lateral yang utuh. Prinsip terapinya mirip dengan prinsip yang berlaku untuk fraktur tipe 2. Fraktur pada kondilus medial. fraktur diterapi dengan traksi atau CPM. reduksi terbuka dan fiksasi diindikasikan. Merupakan cedera berat yang menambah resiko sindrom kompartemen. Kalau ligament lateral juga robek. Fraktur bikondilus sering dapat direduksi dengan traksi dan pasien kemudian diterapi seperti pada cedera tipe 2. Pasien dengan fraktur terbuka pada tibial plateau dengan kominusi yang ekstensif. Kalau fragmen nyata sekali bergeser atau miring. fragmen lateral dengan kartilago artikular yang utuh merupakan permukaan yang berpotensi mendapat pembebanan. Fraktur yang lebih kompleks dengan . Eksternal fiksasi dipasang selama 10 hari sampai jaringan lunak memungkinkan untuk dilakukan definitif fiksasi. jika ini berhasil. maka reduksi yang sempurna lebih penting. ini harus diperbaiki sekaligus2. Schatzker tipe 5 dan 6. Pasca operasi. Kalau reduksi tertutup gagal. (dikutip dari kepustakaan 6) Schatzker tipe 4. Fraktur yang sedikit bergeser dapat diterapi dalam gips penyangga. latihan dimulai secepat mungkin dan 2 minggu kemudian pasien dibiarkan bangun dalam gips-penyangga yang dipertahankan hingga fraktur telah menyatu2.

5. Melalui insisi parapatela longitudinal. fiksasi internal dapat dilakukan2. Fraktur tekanan yang komunitif harus ditinggikan dengan mendorong massa yang terpotong-potong ke atas . Terapi operasi hanya dilakukan kalau tersedia seluruh jenis implant.5 mm dimasukkan dibawah subkondral dan dari raft diatas fragmen plateau. diperlukan juga buttress plat (dikutip dari kepustakaan 2) Reduksi Terbuka dan Fiksasi Fraktur plateau sulit direduksi dan difiksasi. Tujuannya untuk mempertahankan meniskusi sampil sepenuhnya membuka plateau yang mengalami fraktur. kapsul sendi dibuka. Fragmen besar tunggal dapat direposisi dan dipertahankan dengan sekrup kanselosa dan ring tanpa banyak kesulitan. Jika terdapat beberapa fragmen yang bergeser. permukaan osteoartikular kemudian disokong dengan membungkus daerah subkondral dengan cangkokan kanselosa (diperoleh dari kondilus femur atau Krista iliaka) dan dipertahankan di tempatnya dengan memasang plat penunjang yang sesuai dengan kontur . Raft-screw. (a-c) ukuran kortikal screw sebesar 3. Gambar 11. Pada kasus tipe 2. meskipun traksi dan latihan mungkin harus dilanjutkan selama 4-6 minggu hingga fraktur cukup menyatu untuk memungkinkan penggunaan gips penyangga. Ini terbaik dilakuakn dengan memasuki sendi melalui insisi kapsul melintang di bawah meniscus.kominusi berat juga lebih baik ditangani secara tertutup. atau 6.

tungkai ditinggikan dan dibebat hingga pembengkakan mereda. (dikutip dari kepustakaan 2) . Gambar 12. (e) fraktur compels dapat diterapi dengan operasi tetapi. Pasca operasi.dan sekrup pada sisi tulang itu. (c) depresi yang lebih dari 1 cm dapat diterapi dengan peninggian dari bawah dan (d) disokong dengan pencangkokan tulang. Kecuali kalau terobek. gerakan dimulai secepat mungkin dan dianjurkan melakukan latihan aktif. pemaparan luka secara memadai sangat diperlukan. menahan beban sebagian dengan penopang . kecuali kalau reduksi dapat dijamin sempurna. Fraktur kompleks pada tibia proksimal sulit difiksasi dan banyak ahli bedah lebih suka member terapi dengan traksi dan mobilisasi. meniscus harus dipertahankan dan dijahit lagi di tempatnya ketika kapsul diperbaiki2. mengikat fragmen yang menonjol ke atas permukaan sendi akan mengundang osteoarthritis dini. terapi dengan traksi dan gerakan saja mungkin lebih bijaksana .fiksasi. Pada akhir minggu keempat pasien biasanya diperbolehkan dalam gips penyangga. meskipun (b) plat penopang dan sekrup lebih aman. Fraktur tibial plateau. penahanan beban penuh dilanjutkan bila penyembuhan telah lengkap2. Schatzker menganjurkan membelah ligament patella dan membalik patella ke atas. Kalau dipilih terapi operasi. (a) sekrup tunggal mungkin sudah mencukupi untuk retakan sederhana.

Trauma pada jaringan lunak oleh fraktur dengan senergy tinggi pada tibial plateau bias any atidak aman untuk dilakukan operasi segera. dengan control X-Ray. dan fragmen sendi berpegang pada multiple screw. Stabilisasi dengan eksternal fiksasi memungkinkan pembengkakan berkurang dan pasien bisa berisitirahat dengan nyaman.Gambar 13. dua plat buttress digunakan untuk menopang daerah lateral dan posteromedial dari tibial plateau. operasi terbuka dapat dipertimbangkan. (a. hal ini juga dapat digunakan secara perkutaneus. Fraktur tibial plateau yang kompleks – eksternal fiksasi. (dikutip dari kepustakaan 2) Gambar 14. Contohnya. Daripada membuka daerah sendi untuk mengurangi fraktur.(dikutip dari kepustakaan 2) .b) metafisis tibial berpegang pada batang dengan fiksasi eksternal circular. Fraktur tibial plateau yang kompleks – fiksasi internal. (a) ketika keadaan membaik dan biasanya dalam waktu 2 minggu.

Lansinger. terdapat banyak resiko timbulnya kekakuan lutut. dan reduksi. Kaki dan ujung kaki harus diperiksa secara terpisah untuk mencari tanda-tanda iskemia2. Fraktur karena energy tinggi yang diterapi dengan fiksasi eksternal hanya memiliki insidensi sebesar 5% mengenai masalah luka 14. meskipun pembebanan berlebihan pada satu kompartemen secara terus menerus dapat menyebabkan predisposisi untuk osteoarthritis di kemudian hari2. Untungnya. 1. Pada fraktur bikondilus tertutup terdapat banyak perdarahan dan resiko munculnya sindrom kompartemen. Komplikasi lanjut  Kekakuan sendi. Resiko ini dicegah dengan (1) menghindari imobilisasi gips yang lama dan (2) mendorong dilakukannya gerakan secepat mungkin2.  Deformitas. Pada fraktur komunitif berat dan setelah operasi yang kompleks. Fraktur tibial plateau dapat menyebabkan kerusakan yang parah 2. osteoarthritis bukanlah akibat jangka panjang yang lazim dari terapi konservatif.  Kerusakan dari nervus peroneal.  Osteoartritis. Komplikasi dini  Sindroma kompartemen. Insidensi arthritis post trauma dihubungkan dengan usia pasien. Deformitas varus atau valgus yang tersisa amat sering ditemukan baik karena reduksi fraktur tak sempurna ataupun karena meskipun telah direduksi dengan memadai. 3. lokasi dari pergeseran.13. Hal ini umum terjadi pada trauma di aspek lateral dimana nervus peroneal berjalan dari proksimal ke bagian atas dari fibula dan lateral dari tibial plateau7  Laserasi arteri popliteal7 2. Prognosis Prognosis pada fraktur tibial plateau adalah 4 : 1. Komplikasi Komplikasi pada fraktur tibial plateau dapat dibagi menjadi dua yaitu dini dan lanjut. Bertentangan dengan kepercayaan umum. fraktur mengalami pergeseran ulang selama terapi. deformitas yang moderat dapat member fungsi yang baik. dkk (1986) dalam tindak .

melaporkan hasil yang sangat baik atau baik apda 90% pasien bila tidak ada ketidakstabilan ligamentum atau depresi nyata. atau infeksi7.lanjut pada serangkaian kasus besar yang dipantau selama 20 tahun. jika timbul osteoarthritis yang nyeri dan kondilus lateral terdepresi. lutut mungkin tidak terasa nyeri. kominusi. Sekalipun penampilan sinar-X menunjukkan osteoarthritis.  Malunion atau non-union. Tetapi. . kegagalan implant. Hal in sering terjadi pada Schatzker VI dimana terjadi fraktur diantara metafisis-diafisis. fiksasi tidak stabil. operasi rekonstruktif dapat dipertimbangkan2.

The 5-Minute Orthopaedic Consult 2nd edition. Appley’s System of Orthopedics and Fracture 9th Butterworths Medical Publications. http://orthopedics. PhD. Orthopaedic Key Review Concept. Chapman’s Orthopaedic Surgery 3rd edition. Frank dkk. Lippincolt William & Wilkins. Handbook of Fractures 3rd edition. Rasjad Prof. Staged Management of Tibial Plateau. Saunders Elseiver. 7.Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Chairuddin. Available from : edition. Lippincolt William & Wilkins. 2005. 2011 11. Tibial Plateau Fracture. Cluet Jonathan. 2007 10.com/. MD. Koval. Kingsley Chin. Reznik. 2001. American Journal of Orthopaedic. Makassar. 2010. Chapman.DAFTAR PUSTAKA 1. Michael W. Alan Graham Aplpley. Tibial Plateau Fractures. 4. 2006 8. Dirchsl Douglas. 2007 5. 6. Musculoskeletal. Lippincolt William & Wilkins. Frassica. Makasar 2. 2002. Lippuncolt William & Wilkins. dkk. 2008 9. 1st edition. . 3. 2003.about. The Orthopaedic Group. Indonesia. Netter. Luhulima JW. dkk. Netter’s Concise Orthopaedic Anatomy 2nd edition. Kenneth J. Frank H. Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Alan M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful