Você está na página 1de 55

Anak laki laki gizi kurang dengan Asma episodik jarang

Ines Damayanti Octaviani 030.08.126 Pembimbing: dr.Hery Susanto, Sp.A

Laporan Kasus

Identitas Pasien
Nama: An. B Umur : 11 tahun Jenis Kelamin : laki - laki Pekerjaan Suku : Jawa Alamat : kertaharja 06/02, Kramat, Tegal Ruangan: Poli Anak Tanggal masuk rs : : Agama : Islam

Identitas Orang Tua


Identitas Ayah Ibu Nama Tn. R Ny. J

Umur

40 tahun

38 tahun

Pekerjan

Pegawai swasta

Ibu Tangga

Rumah

Pendidikan

SMA

SMA

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara auto dan alloanamnesis kepada pasien dan ayahnya di poli anak RSU kardinah pada tanggal 3 Mei 2013 pukul 10.00 WIB

Keluhan Utama

Sesak

Riwayat Penyakit Sekarang

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat Pasien

K Antenatal Ibu Tidak Melahirkan Bayi Ayah laki care memiliki pasien - laki anak tidak lahir masalah pertama ingat langsung kesehatan berat secara menangis, lahir spontan selama dan panjang gerak di kehamilan bidan, aktif. badan bayi BAB lahir cukup dan BAK bulan kurang dari 24

Riwayat Imunisasi
VAKSIN BCG DPT/ DT POLIO CAMPA K HEPATI TIS B 0 bulan 1 bulan 4 bulan 6 bulan 0 bulan 10 bulan 2 bulan 4 bulan 6 bulan 1 bulan 2 bulan DASAR (umur) 4 bulan 6 bulan ULANGAN (umur) -

Kesan : Imunisasi dasar lengkap dan selalu mengikuti jadwal imunisasi yang tertera pada KMS

Riwayat keluarga
No usia Jenis Kelamin Hidup Lahir Mati Abortus Mati Keterang an

11 tahun

Laki - laki

Hidup

sakit

10 tahun

Perempua n

Hidup

Sehat

Corak reproduk si

Silsilah Keluarga

Pasien

Perempuan

Laki-laki

Kesan : tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan seperti pasien.

Pemeriksaan Fisik
Dilakukan tanggal 3 Mei2013, pukul 10.00 wib di ruang tunggu poli anak

Kepala Normochepali, ukuran lingkar kepala 55 cm, rambut hitam terdistribusi merata, tidak mudah dicabut, kulit kepala tidak ada kelainan. Mata Mata cekung (-/-), palpebra oedem (-/-), sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-), katarak kongenital (-/-), glaukoma kongenital (-/-) Hidung Nafas cuping hidung (+/+), bentuk normal, sekret (-/-), septum deviasi (-) Telinga Normotia, discharge (-/-) Mulut Sianosis (-), trismus (-), stomatitis (-), bercak-bercak putih pada lidah dan mukosa (-), bibir kering (-), labioschizis (-), palatoschizis (-) Tenggorok Faring tidak hiperemis, T1-T1, tonsil hiperemis (-), detritus (-), granulasi (-). Leher Pendek, pergerakan baik, tumor(-), tanda trauma (-), pembesaran KGB (-)

Status Generalis

Ekstremitas
Deformitas Akral dingin

Superior - /- /- /< 2 detik Normotoni -/-

Inferior - /-/- /< 2 detik Normotoni -/-

Akral sianosis CRT

Tonus oedem

Pemeriksaan Khusus
Data Antopometri Anak laki-laki usia : 11 tahun

Berat badan : 23 kg Panjang badan : 126 cm Pemeriksaan Status Gizi BB/U : 23/37 x 100% = 62% (rendah) TB/U : 126/144 x 100% = 87,5% (tinggi kurang ) BB/TB : 23/27 x 100% = 85,17% (gizi kurang) Kesan : Berat badan rendah, tinggi kurang dan gizi kurang

Rontgen thoraks AP dan Lateral 3 Mei 2013

Deskripsi: CTR < 50% Tampak kalsifiksasi pada daerah hilus, corakan bronkovaskuler normal Kesan: Bekas TB

Perjalanan Penyakit
3 Mei 2013 S: Sesak nafas, batuk, dan demam O: KU: compos mentis, tampak sakit sedang, Sesak nafas (+), tanda dehidrasi (-). TD: Tidak dilakukan pemeriksaan HR: 144 x/mnt S : 37,40C RR :40 x/ menit Kepala: mesocephaly, rambut distribusi merata, hitam tidak mudah tercabut Mata : Konjungtiva pucat -/-, SI-/-, Cekung -/Hidung : nafas cuping hidung (+/+) Mulut: bibir tidak tampak kering Tenggorokan: faring tidak hiperemis, Tonsil T1-T1, tidak hiperemis, tidak ada detritus dan granulasi Thoraks : Cor/ S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (-) Pulmo/ gerak nafas simetris kanan dan kiri, SN vesikuler +/+, Ronkhi -/- , Wh +/+, hantaran +/+, Retraksi subcostal (+) dan intercostal (+) Abdomen : datar, supel, Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba, thympani, Bising usus (+) 2x/menit, turgor kulit baik. Genitalia: Laki - laki, Testis menggantung,rugae kasar, OUE tidak tampak hiperemis Ekstremitas superior : akral hangat +/+, oedem -/-, CRT <2detik Ekstremitas inferior : akral hangat +/+, oedem -/-, CRT <2detik A: Asma episodik jarang Gizi kurang P: Rawat jalan, Nebulisasi dengan Combiven (Ipratropium bromide 0,52mg, salbutamol sulfate 3,01); Cefixime syr 2 x cth; ambroxol 15 mg, salbutamol 1,5 mg, m.prednisolon 2 mg sacch as pulv 3 x 1

Asma Diagnosis Panas, Status Banding episodik Gizi batuk, Kurang sesak jarang nafas

Penatalaksanaan
Rawat

Program

Saran

Tinjauan Pustaka

ASMA
ASM A
Gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan elemennya.

Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau dini hari.

Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan napas luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan.

Etiologi
Secara etiologis asma adalah penyakit yang heterogen, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti genetik (atopik, hipereaktivitas bronkus, jenis kelamin, dan ras) dan faktorfaktor lingkungan (infeksi virus, pajanan dari pekerjaan, rokok, alergen, dan lain-lain). Interaksi faktor genetik dan faktor lingkungan saling berhubungan

Bakat yang diturunkan Asma Atopi / Alergi Hipereaktifitas bronkus Faktor yang memotifikasi penyakit genetik

Pengaruh lingkungan Alergen Infeksi pernapasan Asap rokok/polusi udara Diet Status ekonomi

Asimptomatik atau asma dini

Manifestasi Klinis Asma (Perubahan ireversibel pd struktur dan fungsi jalan napas)

Interaksi faktor genetik & lingkungan pd kejadian asma

Faktor resiko pada asma

Faktor pejamu
Prediposisi genetik Atopi Hiperesponsif jalan napas Jenis kelamin Ras/etnik

Faktor lingkungan - Mempengaruhi berkembangnya asma pada individu dengan predisposisi asma
Alergen di dalam ruangan Mite domestik Alergen binatang Alergen kecoa Jamur (fungi, molds, yeasts) Alergen di luar ruangan Tepung sari bunga Jamur (fungi, molds, yeasts) Bahan di lingkungan kerja Asap rokok Perokok aktif Perokok pasif

Polusi udara - Polusi udara di luar ruangan - Polusi udara di dalam ruangan Infeksi pernapasan Hipotesis higiene Infeksi parasit Status sosioekonomi Besar keluarga Diet dan obat Obesiti

- Mencetuskan eksaserbasi dan atau menyebabkan gejala-gejala asma menetap


Alergen di dalam dan di luar ruanga Polusi udara di dalam dan di luar ruangan Infeksi pernafasan Exercise dan hiperventilasi Perubahan cuaca Sulfur dioksida Makanan, aditif (pengawet, penyedap, pewarna makanan), obat-obatan Ekspresi emosi yang berlebihan Asap rokok Iritan (a.l. parfum, bau-bauan merangsang, household spray)

PERUBAHAN PATOLOGIS PADA ASMA


hipertrofi otot polos Penebalan Basal membran vasodilatas i

Hiperplasia kelenjar mukus

mukus plug deskuamasi epitel

edema mukosa dan infiltrasi submukosa oleh eosinofil dan neutrofil


39

Gambar 4. Hubungan antara inflamasi akut, inflamasi kronik dan airway remodeling dengan gejala klinis

Inflamasi Akut

Inflamasi Kronik

Airway Remodeling

Gejala (bronkokonstrik si)

Exacerbations non spesific hyperreactivity

Obstruksi persisten aliran udara

Diagnosis
Etiologi? klinis tidak khas Berat penyakit bervariasi Gejala episodik bervariasi

Under diagnose d

Anamnesa Pemeriksaan fisik Faal paru Lain-lain: uji provokasi bronkus & tes alergi

Diagnos is

Gejala : Bersifat episodik, seringkali reversibel dengan atau tanpa pengobatan Gejala berupa batuk , sesak napas, rasa berat di dada dan berdahak Gejala timbul/ memburuk terutama malam/ dini hari Diawali oleh faktor pencetus yang bersifat individu Respons terhadap pemberian bronkodilator Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam riwayat penyakit : Riwayat keluarga (atopi) Riwayat alergi / atopi Penyakit lain yang memberatkan Perkembangan penyakit dan pengobatan

Gejala asma bervariasi sepanjang hari sehingga pemeriksaan fisik dapat normal. Kelainan pemeriksaan fisik yang paling sering ditemukan adalah mengi pada auskultasi.

Spirometri
Manfaat pemeriksaan spirometri dalam diagnosis asma : Obstruksi jalan napas diketahui dari nilai rasio VEP1/ KVP < 75% atau VEP1< 80% nilai prediksi. Reversibiliti, yaitu perbaikan VEP1 15% secara spontan, atau setelah inhalasi bronkodilator (uji bronkodilator), atau setelah pemberian bronkodilator oral 10-14 hari, atau setelah pemberian kortikosteroid (inhalasi/ oral) 2 minggu. Reversibiliti ini dapat membantu diagnosis asma Menilai derajat berat asma

Pemeriksaan penunjang lain


Uji Provokasi Bronkus Uji provokasi bronkus membantu menegakkan diagnosis asma. Pada penderita dengan gejala asma dan faal paru normal sebaiknya dilakukan uji provokasi bronkus. Pengukuran Status Alergi Komponen alergi pada asma dapat diindentifikasi melalui pemeriksaan uji kulit atau pengukuran IgE spesifik serum.Uji tersebut mempunyai nilai kecil untuk mendiagnosis asma, tetapi membantu mengidentifikasi faktor risiko/ pencetus sehingga dapat dilaksanakan kontrol lingkungan dalam penatalaksanaan. Uji kulit adalah cara utama untuk mendiagnosis status alergi/atopi, umumnya dilakukan dengan prick test.. Pengukuran IgE spesifik dilakukan pada keadaan uji kulit tidak dapat dilakukan (antara lain dermatophagoism, dermatitis/ kelainan kulit pada lengan tempat uji kulit, dan lain-lain). Pemeriksaan kadar IgE total tidak mempunyai nilai dalam diagnosis alergi/ atopi

Diagnosis Banding pada anak


Benda asing di saluran napas Laringotrakeomalasia Pembesaran kelenjar limfe Tumor Stenosis trakea Bronkiolitis

Komplikasi
Status Asmatikus Pneumothorax Kor Pulmonale(

Parameter klinis, kebutuhan obat, dan faal paru Frekuensi serangan Lama serangan

Asma episodik Asma episodik Asma jarang sering persisten

< 1x/bulan < 1x/minggu

>1x/bulan >1x/minggu

sering Hampir sepanjang tahun, tidak ada periode bebas serangan Biasanya berat Gejala siang dan malam Sangat terganggu Tidak pernah normal Perlu

Intensitas serangan Diantara serangan Tidur dan aktifitas Pemeriksaan fisik diluar serangan Obat pengendali

Biasanya ringan Biasanya sedang Tanpa gejala Sering ada gejala

Tidak terganggu Sering terganggu normal Mungkin terganggu perlu

Tidak perlu

Penatalaksanaan
Pengobatannon-medikamentosa Penyuluhan Menghindari faktor pencetus Pengendali emosi Pemakaian oksigen

Medikamentosa
Pengontrol (Controllers)
Kortikosteroid inhalasi Kortikosteroid sistemik Sodium kromoglikat Nedokromil sodium Metilsantin Agonis beta-2 kerja lama, inhalasi Agonis beta-2 kerja lama, oral Leukotrien modifiers Antihistamin generasi ke dua (antagonis -H1)

Pelega (Reliever) Agonis beta2 kerja singkat Kortikosteroid sistemik. (Steroid sistemik digunakan sebagai obat pelega bila penggunaan bronkodilator yang lain sudah optimal tetapi hasil belum tercapai, penggunaannya dikombinasikan dengan bronkodilator lain). Antikolinergik Aminofillin Adrenalin

Anak Obat Beklometason dipropionat Budesonid Flunisolid Flutikason Triamsinolon asetonid

Dosis rendah

Dosis medium

Dosis tinggi

100-400 ug 100-200 ug 500-750 ug 100-200 ug 400-800 ug

400-800 ug 200-400 ug 1000-1250 ug 200-500 ug 800-1200 ug

>800 ug >400 ug >1250 ug >500 ug >1200 ug

Tujuan penatalaksanaan Asma jangka panjang


Tujuan: Asma yang terkontrol gejala malam Menghilangkan/ meminimalkan serangan Meniadakan kunjungan ke darurat gawat Meminimalkan penggunaan bronkodilator Aktiviti sehari-hari normal, termasuk latihan fisis (olahraga) Meminimalkan/ menghilangkan efek samping obat Tujuan: Mencapai kondisi sebaik mungkin Gejala seminimal mungkin Membutuhkan bronkodilator seminimal mungkin Menghilangkan atau meminimalkan gejala kronik, termasuk

Keterbatasan aktiviti fisis minimal Efek samping obat sedikit

Faal paru (mendekati) normal Variasi diurnal APE < 20% APE (mendekati) normal

Faal paru terbaik Variasi diurnal APE minimal


APE sebaik mungkin

Daftar Pustaka
Nastiti N Rahajoe, dkk. RESPIROLOGI ANAK. 2010. Jakarta : UKK Pulmonologi IDAI : 228-240 Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru, Prof. dr. Hood Alsagaff, Airlangga University Press, 2002 Hay WW, Levin JM, Sondheimer MJ, Deterding RR. Current Pediatric Diagnosis and Treatment. 17th ed. New York : McGraw-Hill; 2005. Green T, Tanz RR, Franklin W, Pediatrics just the facts.New York : McGraw-Hill;2005. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga,Jilid kedua. Penerbit Media Aesculapius fakultas kedokteran Universitas Indonesia,2001hal 472-479 Barus FA, Yunus F, Wiyono WH. Imunoterapi pada Asma Alergi.Jurnal Cermin Kedokteran. 2003: 141. 39. Global Initiative for Asthma , update December 2011. Available at : http://www.ginasthma.org/uploads/users/files/GINA_Report_2011.pdf Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta. 2004. Danusantoso, Halim. Asthma. Dalam : Ilmu Penyakit Paru. 2000. Jakarta : Hipokrates Ratnawati. J Respir Indones. 2011;31(4):172-5. Available at : http://jurnalrespirologi.org/wp-content/uploads/2012/06/jri-2011-31-4-172.pdf KONSENSUS ASMA. Jakart. 2003. Available at : http://www.klikpdpi.com/konsensus/asma/asma.html Asma Bronkiale. Available at : http://medicastore.com/neo_napacin/asma_bronkial.htm Price SA, Wilson LM. Gangguan Alergi Umum (Diperantai IgE). Dalam :Buku Patofisiologi volume 1. Jakarta. 2006 Rahmawati I, Yunus F, Wiyono WH. Patogenesis dan Patofisiologi Asma.Jurnal Cermin Kedokteran. 2003; 141. 8-9. MorrisMJ.Asthma.[updated2011June13;cited2011June29].Availableat : http://emedicine.medscape.com/article/296301-overview#showall

Terimakasih