Você está na página 1de 9

1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Dengan semakin padatnya penduduk sebuah kota, maka semakin terasa bahwa peruntuk an tanah bagi suatu permukiman semakin berkurang. (Bambang Sutrisno, 1991) Permu kiman dan perkembangan penduduk adalah dua faktor yang tidak saling terlepas, di tambah lagi faktor keterbatasan lahan kota telah menyebabkan permukiman menjadi suatu yang sangat mahal bagi manusia. Untuk menolong kaum menengah ke bawah, dal am hal permukiman, pemerintah mencoba mencontoh kota-kota lainnya, seperti Kuala lumpur, Singapura, Mexico City, untuk membangun rumah tinggal susun atau flat. D i Jakarta sendiri, perumahan yang layak dan sehat dirasakan semakin sedikit dipe roleh. Hal ini disebabkan karena lahan untuk permukiman yang terbatas dan harga semakin tinggi, sementara pertambahan penduduknya cukup besar. Keadaan ini memak sa sebagian warga kota terutama warga kota golongan bawah menempati tanah yang d ianggap kosong, sehingga membentuk kantong-kantong kumuh yang akhirnya mudah men imbulkan kerawanan; sehingga di Jakarta kehadiran rumah susun tidak bisa dihinda rkan akan menjadi tempat hunian tetap yang dibutuhkan untuk mengatasi kebutuhan akan tempat tinggal bagi penduduk kota. Di Indonesia, sejarah rumah susun telah dimulai sejak tahun 1980, berawal dengan didirikannya rumah susun di Kelurahan K ebon Kacang, Kecamatan Tanah Abang Jakarta, letaknya benar-benar di pusat kota. Pembangunan rumah susun ini kemudian menyebar ke berbagai kota besar lainnya di Indonesia seperti kota Surabaya, kota Bandung, kota Palembang, kota Semarang dan kota-kota lainnya. Ide dasar membangun rumah susun ini adalah merombak kampungkampung kota yang sangat padat penduduknya yang dinilai sudah tidak memenuhi sya rat lagi untuk dihuni, sementara lahan yang ada sangat terbatas.

2 Kota Semarang sebagai Ibu Kota profinsi Jawa Tengah. Dengan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,65% dari setiap masing-masing kecamatan yang ada sampai tahun 2010, maka dapat diprediksikan bahwa penduduk kota Semarang pada tahun tersebut akan mencapai 1.633.711 jiwa (RTRW kota Semarang, Bappeda kota Semarang, 2005). Penduduk kota Semarang tersebar di 16 kecamatan, yaitu kecamatan Semarang Tenga h, Semarang Timur, Semarang Selatan, Gajahmungkur, Candisari, Semarang Barat, Se marang Utara, Genuk, Gayamsari, Pedurungan, Tembalang, Banyumanik, Gunungpati, M ijen, Ngaliyan, dan Kecamatan Tugu. TABEL 1 PROYEKSI TINGKAT PERTUMBUHAN PENDUDUK HINGGA TAHUN 2010 DIRINCI PER KECA MATAN DI SEMARANG BWK KECAMATAN Semarang Tengah I Semarang Selatan Semarang Timu r Candisari Gajahmungkur Semarang Utara Semarang Barat IV V VI VII VIII IX X Gen uk Pedurungan Gayamsari Tembalang Banyumanik Gunungpati Mijen Ngaliyan Tugu r 1,50 % 0,01 % - 2,50 % 0,24 % 1,39 % 3,50 % 0,40 % 3,50 % 4,58 % 0,85 % 3,93 % 2 ,86 % 2,60 % 3,40 % 3,25 % 1,35 % 147.866 207.227 JUMLAH PENDUDUK TAHUN 2010 II III 340.369 88.456 282.809 144.626 137.265 65.927 73.263 145.903 1.633.711 Sumber : RTRW Kota Semarang, Bappeda Kota Semarang, 2005

3 Pertambahan jumlah penduduk ini terjadi tidak hanya dari angka kelahiran tapi ju ga dari arus urbanisasi dari wilayah-wilayah lain di Jawa Tengah dan sekitarnya. Semakin bertambahnya jumlah penduduk mengakibatkan semakin tinggi pula kebutuha n akan rumah tinggal, sedangkan pembangunan perumahan di kota-kota besar baik ya ng ditangani pemerintah maupun swasta belum dapat mengimbangi kebutuhan rumah ti nggal yang terus meningkat. Dengan melihat besarnya jumlah tersebut maka dapat d ipastikan kebutuhan akan tempat tinggal/rumah tentunya akan semakin meningkat pu la. Pembangunan perumahan skala besar tidak dapat dilakukan serentak karena haru s berhadapan dengan masalah pertanahan. Kelangkaan tanah dan tingginya harga tan ah menjadi kendala yang harus dihadapi pemerintah kota dalam upaya pengadaan rum ah tinggal. TABEL 2 PROYEKSI KEBUTUHAN RUMAH DI KOTA SEMARANG TAHUN 2010 BWK Jml.Pddk Th.201 0 207.227 147.866 340.369 88.456 282.809 144.626 137.265 65.927 73.263 145.903 1 .663.711 Kebutuhan Rumah Besar 4.145 2.957 6.807 1.769 5.656 2.893 2.745 1.319 1 .465 2.918 32.674 Sedang 12.433,62 8.871,96 20.422,14 5.307,36 16.968,54 8.677,5 6 8.235,90 3.955,62 4.395,78 8.754,18 98.023 Kecil 24.867 17.744 40.844 10.615 3 3.937 17.355 16.472 7.911 8.792 17.508 196.045 Luas Rumah (ha) Besar 130 132 304 111 295 181 172 95 68 182 1.668 Sedang 194 198 455 166 441 272 258 142 102 274 2.502 Kecil 194 199 457 166 441 271 257 142 102 273 2.501 Luas Total (ha) 518 52 8 1.216 442 1.177 723 686 378 272 730 6.671 I II III IV V VI VII VIII IX X Total Sumber : RTRW Kota Semarang, Bappeda Kota Semarang, 2005 Kondisi permukiman di Kota Semarang masih belum tertata dan belum sesuai dengan rencana tata ruang kota. Tidak terencananya pembangunan perumahan, tingginya keb utuhan unit rumah tinggal, dan kelangkaan tanah memaksa pemanfaatan tanah secara maksimal hingga melanggar garis sempadan.

4 Hal ini menciptakan suatu lingkungan permukiman yang kumuh tanpa sarana dan pras arana yang memadai. Lingkungan permukiman berkepadatan tinggi ini terbentuk seba gian di daerah sub urban karena pertimbangan faktor kemudahan aksesibilitas dan kedekatan dengan tempat kerja. Pertimbangan ini juga menjadi penyebab terbentukn ya lingkungan permukiman yang padat, tidak sehat dan tidak tertata karena tidak memenuhi persyaratan teknis. Menurut Bambang Panudju (1999), untuk memenuhi kebu tuhan perumahan yang layak dalam lingkungan yang sehat dan mewujudkan perumahan yang serasi dan seimbang sesuai dengan pola tata ruang, tata daerah, dan tata gu na lahan yang optimal, maka perlu dikembangkan perumahan dan permukiman dalam be ntuk rumah susun karena penduduk di perkotaan padat sedangkan tanah yang tersedi a terbatas. Membangun hunian vertikal merupakan salah satu solusi objektif untuk menyelesaikan masalah perumahan di tengah kelangkaan tanah di pusat kota. Salah satu wilayah sub urban di kota Semarang yang memiliki permasalahan dalam bidang penyediaan lahan permukiman yang layak huni adalah kelurahan Kaligawe Kecamatan Gayamsari. Kelurahan Kaligawe memiliki luas wilayah 108,88 Ha. Kelurahan Kaliga we terbagi atas 7 Rukun Warga dan 53 Rukun Tetangga. Pada wilayah Kelurahan Kali gawe Kecamatan Gayamsari Semarang terdapat sebuah tanah bengkok yang dihuni seca ra liar oleh sekelompok masyarakat setempat karena mereka tidak memiliki rumah t inggal. Keadaan rumah-rumah liar di atas tanah ini tidak layak dengan sistem san itasi yang buruk sehingga tingkat kesehatan para penghuni tidak terjamin. Disamp ing itu rumahrumah ini tidak memiliki legalisasi karena berdiri tanpa izin di at as tanah milik Pemerintah Kota. Selain rumah-rumah liar tersebut, sebagian masya rakat Kelurahan Kaligawe yang tinggal di bantaran Kali Tenggang beberapa tahun i ni terkena banjir akibat luapan Kali Tenggang pada musim penghujan. Hal ini meng akibatkan rumah-rumah di bantaran Kali Tenggang semakin kumuh dan tidak layak di huni. Sementara di bantaran sungai Banjir Kanal Timur terdapat kios-kios pedagan g kaki lima yang sebagian dipergunakan sekaligus sebagai

5 rumah tinggal oleh para pedagang karena pedagang tersebut tidak memiliki rumah t inggal sendiri. Hal ini menimbulkan permasalahan di bidang tata guna lahan, kare na bantaran Sungai Banjir Kanal Timur tidak direncanakan untuk lahan permukiman. Beberapa kenyataan di atas perlu segera mendapatkan solusi berupa adanya permuk iman baru yang selain dapat menampung keberadaan masyarakat tersebut juga dihara pkan mampu memberikan fasilitas serta sistem sanitasi yang lebih memadai dan keb eradaan tanah yang legal kepemilikannya secara hukum. Wilayah Kelurahan Kaligawe Kecamatan Gayamsari Semarang memiliki permasalahan yang juga dialami oleh wilay ah lain di Semarang yaitu keterbatasan lahan permukiman. Disamping keterbatasan tersebut, harga tanah yang mahal menyebabkan kesulitan dalam penyediaan luasan l ahan yang memadai bagi kebutuhan rumah tinggal masyarakat. Dengan kondisi semaca m ini, pembangunan rumah tinggal dengan sistem vertikal (rumah susun) menjadi al ternatif yang paling memungkinkan baik secara teknis maupun secara ekonomis. Man usia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Manusia selalu berusaha untuk mengatasi konflik yang mungkin terjadi dalam setiap interaksi adaptasi. Meskipun demikian, manusia tetap memiliki kete rbatasan dan untuk menutupi keterbatasan tersebut dibutuhkan teknologi. Demikian halnya dengan lingkungan hunian vertikal ini, yang menuntut penyesuaian perilak u penghuninya. Penyelesaian yang memperhatikan berbagai aspek arsitektural seper ti aspek teknis, kinerja, kontekstual, pencitraan, dan fungsional pembangunan li ngkungan hunian vertikal ini diharapkan dapat membantu penghuni dalam melakukan adaptasi terhadap berbagai kondisi baru yang diakibatkan adanya bentuk lingkunga n yang vertikal. Dari uraian di atas maka diperlukan suatu hunian berupa rumah s usun sederhana di Kelurahan Kaligawe Kecamatan Gayamsari Semarang yang mampu mem enuhi kebutuhan masyarakat setempat secara kuantitatif, maupun menyediakan fasilitas dan sistem sanitasi yang memadai sehingga memudahkan para penghuni dalam beradaptasi dengan keadaan baru dalam menempati hunian vertikal.

6 Sasaran calon penghuni rumah susun yang direncanakan untuk peremajaan lingkungan adalah permukiman liar yang terdapat di tanah bengkok di atas tanah milik negar a di wilayah RW 05 Kelurahan Kaligawe Kecamatan Gayamsari, PKL di bantaran Sunga i Banjir Kanal Timur dan rumah-rumah kumuh yang diakibatkan adanya banjir dan ro b di bantaran Kali Tenggang Kelurahan Kaligawe Kecamatan Gayamsari Semarang. 1.2 Rumusan Permasalahan Bagaimana konsep perencanaan dan perancangan pembangunan rumah susun, dengan pen ekanan pada tata ruang yang efektif bagi penghuni rumah susun dan penyediaan fas ilitas bagi penghuni rumah susun di Kaligawe Semarang. 1.3 Tujuan dan Sasaran Pembahasan Tujuan Pembahasan : Menyusun konsep dasar perencanaan perancangan tata ruang yan g efektif dan penyediaan fasilitas pada bangunan rumah susun di Kaligawe Semaran g. Sasaran Pembahasan : Menghasilkan suatu rumusan konsep perencanaan dan peranc angan tata ruang yang efektif dan penyediaan fasilitas pada bangunan rumah susun di Kaligawe Semarang, sehingga akan terjawabnya permasalahan yang diungkapkan d an ditekankan. 1.4 Lingkup Pembahasan Lingkup pembahasan utama ditekankan pada permasalahan yang diungkapkan dan ditek ankan. Untuk masalah-masalah lain yang berada di luar lingkup arsitektural bila dianggap mendasar dan menentukan akan dibahas dengan menggunakan asumsiasumsi se rta logika praktis sesuai dengan kemampuan yang ada.

7 1.5 Metode Pembahasan Pembahasan dilakukan dengan cara yaitu : 1. Pengumpulan data - Melakukan observa si lapangan - Wawancara dengan nara sumber yang berkompeten dengan bidang peruma han, permukiman, dan perkotaan - Studi literatur dilakukan untuk memperoleh info rmasi tambahan yang relevan dengan pembahasan 2. Analisa terhadap masalah dengan menggunakan metode deskriptif analitis yaitu melakukan pembahasan terhadap perm asalahan yang berkaitan dengan berdirinya rumah-rumah kumuh dan liar di atas tan ah milik Negara di Kelurahan Kaligawe Semarang serta keberadaan PKL dan rumah di sepanjang Kali Tenggang, menganalisis permasalahan tersebut sesuai dengan kebij akan pemerintah, menyimpulkan hasil analisis tersebut dan menjadikan sebagai acu an bagi perencanaan dan perancangan rumah susun di Kelurahan Kaligawe Semarang. 1.6 Sistematika Pembahasan BAB I PENDAHULUAN Berisi tentang latar belakang, tujuan dan sasaran, manfaat, li ngkup pembahasan, metode pembahasan, dan sistematika pembahasan BAB II TINJAUAN PEREMAJAAN LINGKUNGAN, RUMAH SUSUN DAN STUDI BANDING RUMAH SUSUN Berisi tinjauan peremajaan lingkungan, pengertian rumah susun, sejarah dan perkembangan rumah susun, klasifikasi, sert a studi banding rumah susun.

8 BAB III TINJAUAN KOTA SEMARANG, KELURAHAN KALIGAWE SEMARANG DAN LOKASI RUMAH SUSUN Berisi tinjauan umum Kota Semarang, kon disi dan kebijakan tata ruang BWK V Semarang, tinjauan Kelurahan Kaligawe, perma salahan dan potensi Kelurahan Kaligawe serta tinjauan lokasi rumah susun. BAB IV ANALISA PENDEKATAN SERTA KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Berisikan tentang analisis dan konsep-konsep dasar p erencanaan dan perancangan rumah susun di Kelurahan Kaligawe Semarang, yang sela njutnya digunakan sebagai dasar acuan untuk mendapatkan hasil desain.