Você está na página 1de 14

BAB I PEDAHULUAN A.

Latar belakang Demam Dengue merupakan suatu infeksi arbovirus akut, yang ditularkan oleh nyamuk species Aedes dan sekarang telah dapat diisolasi. Di indonesia terdapat beberapa serotipe yaitu: DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.(6,7,8) Infeksi virus dengue pada manusia mengakibatkan spektrum manifestasi klinis yang bervariasi antara penyakit yang paling ringan (mild undifferentiated febrile illness), demam dengur, demam berdarah dengue (DBD) dan demam berdarah dengue disertai syok (dengue shock syndrome). Manifestasi klinisnya yang bervariasi menunjukkan fenomena gunung es dimana DBD dan DSS sebagai puncaknya sedangkan kasus dengue ringan dan demam dengue merupakan dasarnya.(5,6) Perjalanan penyakit sering sukar diramalkan dimana sebagian kasus dengan renjatan berat dapat disembuhkan walau hanya dengan pengobatan sederhana, dan sebagian lain datang dengan kasus ringan tapi dapat meninggal dunia dalam waktu yang singkat karena tidak mendapatkan perawatan dan pengobatan intensif.(6) Adapun pengertian variasi dari demam itu sendiri dapat didefinisikan seperti berikut. Demam dengue merupakan sebuah syndrom jinak sebab arbovirus dengan karakter demam bifasik, mialgia/ athralgia, leukopenia, dan lympadenopati.(5,7) Demam berdarah dengue ialah suatu demam

berat bahkan sering fatal yang disebabkan oleh virus dengue dengan karakteristik yang timbul akibat peningkatan permeabilitas kapiler, hemostatis yang abnormal, dan pada beberapa kasus berat dengan syndrom syok (DSS) akibat kehilangan protein yang berhubungan dengan peningkatan reaksi imunitas.(4,5,8) Sedangkan dengue shock syndrom merupakan demam berdarah dengue yang disertai renjatan.(4) Demam Berdarah shock syndrome (DSS) adalah bentuk yang paling parah dari demam berdarah dengue (DBD) dan memiliki angka kematian yang tinggi. Ada dua perubahan patologis utama pada DBD menentukan keparahan penyakit, kebocoran plasma dan perdarahan(13) Menurut penelitian yang dilakukan pada anak-anak di Delhi didapatkan ada 92 (67%) kasus DBD dan 42 (33%) kasus DSS. Gejala umumnya demam (93%), nyeri perut (49%) dan muntah (68%). Yang paling umum adalah manifestasi hemoragik hematemesis (39%) yang dapat diikuti oleh epistaksis (36%) dan berdarah

kulit (33%). Hepatomegali diamati di 97 (72%) kasus dan splenomegali dalam 25 (19%) kasus.(1) Epidemi demam berdarah dengue ini sendiri terjadi di Delhi selama tahun 1988. Sebanyak 21 pasien anak dengan demam berdarah dengue / dengue shock syndrome dievaluasi dari bulan September sampai November 1988. Semua pasien mengalami demam, gelisah, bintikbintik ecchymotic dan ascites. Efusi pleura terjadi pada 19 pasien (90%), dan 18 (86%) menunjukkan masing-masing sebagai berikut: muntah,

trombositopenia, dan haemoconcentration. Hepatomegali diamati pada 15 pasien (71%) dan splenomegali dalam tiga (14%).(11) Sedangkan di Indonesia, Demam berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemic yang pada tahun 1994 telah menyebar ke seluruh propinsi di Indonesia. Berdasarkan laporan WHO 1991-1995, Indonesia menduduki peringkat pertama dalam besarnya jumlah kematian kasus DBD.(13) . Angka kejadian DBD pada anak-anak menunjukkan peningkatan yang signifikan baik dalam jumlah pasien dan daerah epidemi. Masalah yang masih ada saat ini adalah kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap DBD yang meninggalkan ketidaksadaran upaya

pencegahan. Pengetahuan yang memadai diduga menjadi faktor yang dapat menurunkan risiko yang ditransmisikan dengan DBD.(10)
B.

Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan Dengue Hemmoragic Fever & Dengue

Shock Syndrome? 2. Apa yang menyebabkan timbulnya Dengue Hemmoragic Fever & Dengue Shock Syndrome? 3. 4. 5. Jelaskan patofisiologi dari Dengue Hemmoragic Fever? Sebutkan manifestasi dari penyakit DHF tersebut? Apa saja pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada klien dengan Dengue Hemmoragic Fever & Dengue Shock Syndrome? 6. Apa saja penatalaksanaan medik dan keperawatan yang dapat dilakukan

pada klien Dengue Hemmoragic Fever & Dengue Shock Syndrome? 7. Sebutkan komplikasi dari penyakit DHF?

8. Bagaimana tingkat pengetahuan dan sikap orang tua tentang penyakit dan perawatan DHF ? B. Tujuan penulisan 1. Tujuan Umum. Secara umum penulisan ini bertujuan untuk mengetahui tentang pengelolaan DHF dan DSS pada anak.

2. Tujuan Khusus. 1. Mengidentifikasi dalam pencegahan DHF dan DSS. 2. Mengidentifikasi gejala DHF dan DSS. 3. Mengidentifikasi tentang pengobatan DHF dan DSS.

C.

Sistematika Penulisan

BAB II Tinjauan Pustaka 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) DHF merupakan suatu sindrom kelanjutan dari pasien yang sudah telah terinfeksi oleh salah satu serotipe dengue dengan gejala berupa timbulnya perdarahan dan kebocoran endotel terhadap infeksi dengan serotipe dengue yang lain. (9) Pada beberapa hari pertama pasien DHF akan memiliki tanda dan gejala yang mirip dengan DF. Namun pada DHF, terjadi kebocoran plasma, yang biasanya terjadi setelah 3 hari. DHF dapat menimbulkan hemokonsentrasi kemudian berlanjut pada komplikasi perdarahan yang parah.
(9)

Yang pada

akhirnya dapat mengakibatkan DSS (Dengue Shock Syndrome) dengan komplikasi yang lebih serius bahkan kematian. Berikut merupakan manifestasi klinis DHF pada anak: (3) - Demam tinggi dengan manifestasi perdarahan - Hepatomegali dengan/tanpa kegagalan sirkulasi - Trombositopenia 100,000 sel/mm3 - Tanda-tanda kebocoran plasma muncul, seiring dengan perkembangan gejala hemoragik seperti pendarahan dari lokasi trauma, perdarahan gastrointestinal, epistaxis, perdarahan gusi dan hematuria - Nyeri abdomen, muntah,kejang demam pada anak

- Penurunan kesadaran - Manifestasi perdarahan yang nyata dengan torniquet tes yang memberikan hasil positif Fase pertama yang relatif ringan dengan demam mulai

mendadak,malaise, muntah, nyeri kepala,anoreksia dan batuk disertai sesudah 2-5 hari olehdeteriorasi klinis cepat dan kollaps. Pada fase kedua ini penderita biasanya menderita ekstremitas dingin, lembab, badan panas,muka merah, keringat banyak, gelisah, iiritabel, dan nyeri mid-epigastrik. Sering kali ada petekie tersebar pada dahi dan tungkai; ekimosis spontan mungkin tampak, dan mudah memar serta berdarah pada tempat pungsi vena adalah lazim. Ruam makular atau makulopapular mungkin muncul, dan mungkin ada sianosis sekeliling mulut dan perifer. Pernafasan cepat dan sering berat. Nadi lemah, cepat dan kecil dan suara jantung halus. Hati mungkin membesar sampai 4 6 cm dibawah tepi kosta dan biasanya keras dan agak nyeri. Kurang dari 10% penderita menderita ekimosis atau perdarahan saluran cerna yang nyata, biasanya pasca masa syok yang tidak terkoreksi(2). Pengelolaan DHF pada anak : (12) 1. Simptomatik antipiretik : paracetamol 2. cairan isotonik : RL/NaCl 0,9% 6-7 cc/kgBB/jam 3. Ukur vital sign 4. Menjelaskan pada pasien tanda-tanda syok 5. MRS, indikasi: hematokrit meningkat

hitung trombosit < 50.000 cumm manifestasi perdarahan

Diagram Pengelolaan Anak dengan DHF : (12) Cairan : RL/NaCl 0,9% 6-7 cc/kgBB/jam

Perbaikan (+) Gelisah (-) Nadi kuat

Monitor vital sign, PCV, trombosit/6jam Gelisah (+) Distres pernapasan

Perbaikan (-)

TD stabil
Diuresis 2cc/kgBB/jam PCV menurun 2x pemeriksaan drip IV Vital sign menurun PCV 5 cc/kgBB/jam Perbaikan (+)
Evaluasi 12-24

Denyut nadi meningkat


TD < 20mmHg Diuresis menurun

drip IV

Perbaikan

10 cc/kgBB/jam bertahap 15cc/kgBB/jam

3 cc/kgBB/jam IVFD stop (24-48 jam) jika vital sgin/PCV/diuresis stabil

Vital sign tidak stabil

Distres respirasi, PCV

PCV

Koloid 20-30 cc/kgBB/jam

Fresh WB 10 cc/kgBB/jam

Perbaikan (+)

2.1.2 Dengue Shock Syndrome (DSS) DSS merupakan komplikasi daripada DHF yang tidak tertangani dengan baik. Kriteria diagnosis dari DSS meliputi: (3) a) Demam onset akut, berkelanjutan selama 2-7 hari b) Manifestasi perdarahan meliputi hasil torniquet yang positif, pendarahan dari lokasi trauma, perdarahan gastrointestinal, epistaxis, perdarahan gusi dan hematuria c) Hepatomegali d) Syok ; kekuatan nadi yang lemah dan cepat, hipotensi, akral dingin, gelisah Tanda-tanda syok : Anak tampak pucat dan gelisah Panas turun, tetapi tampak sakit Akral dingin Produksi urin berkuirang Tekanan darah tidak terukur

Diagram pengelolaan anak dengan DSS: (12)

Oksigenasi

cairan isotonik : RL 5%/ Glukosa Normal Saline 10-20 cc/kg/BB secepatnya (bolus 30 menit) cairan distop sambil melihat vital sign pasien setiap 10 menit selama 30

syok (-)

syok (+)

Kesadaran meningkat Nadi menguat TD > 20 mmHg Sianosis (-) Akral hangat Diuresis > 1 ml/kgBB/jam

Kesadaran menurun Nadi melemah/ tak teraba TD < 20 mmHg Sianosis (+) Diuresis < 1

Infus 10 cc/kgBB (dievaluasi perjam VS-nya) Jika stabil

infus 15-20 cc/kgBB/jam plasma 10-20 maks 30 cc/kgBB/jam

Infus 5 cc/kgBB
Stabil lagi syok (-) Infus 3 cc/kgBB Infus 10 cc/kgBB/jam

evaluasi 1 jam

syok (+)

PCV Infus stop 48jam Infus 5cc/kgBB/jam Koloid 20cc/kgBB/jam Infus 3cc/kgBB/jam

PCV

Transfusi WB 10 cc/kgBB/jam

2.1.3 Pengelolaan secara singkat DHF dan DSS Manajemen memerlukan evaluasisegera tanda-tanda vital dan tingkat hemokonsentrasi, dehidrasi, dan ketidakseimbangan elektrolit. Pemantauan dekat adalah sangat penting selama sekurang-kurangnya 48 jam karena syok dapat terjadi atau kumat dengan cepat pada awal penyakit. Penderita sianosis Penggantian cepat atau mengalami cairan dan nafas berat harusdiberioksigen. sering dapat

elektrolit

intravena

mempertahankan penderita sampai terjadi penyembuhan secara spontan. Bila kenaikan hematokrit menetap sesudah pemberian cairan, pemberian plasma atau preparat koloid plasma terindikasi. Harus hati-hati dilakukan agar tidak terjadi overhidrasi,yang mungkin turut menyebabkan gagal jantung. Transfusi darah segar atau suspensi trombosit dalam plasma mungkin diperlukan untuk mengendalikan perdarahan; transfusi itu tidak boleh diberikan selama hemokonsentrasi tetapi hanya sesudah evaluasi harga hemoglobin atau hematokrit. Salisilat terkontraindikasi karena pengaruhnya pada koagulasi darah.(2) Paraldehid atau kloralhidrat mungkin diperlukan untukanak yang sangat gelisah. Penggunaan pressor amin, agen penyekat -adrenergik, dan aldosteron tidak menyebabkan penurunan mortalitas yang bermakna dibanding dengan yang diamati pada terapi pendukung sederhana. Steroid tidak memperpendek lamanya penyakit atau memperbaiki prognosis pada anak yang mendapat terapi pendukung (suportive) yang teliti.(2)

Hipervolemia selama fase reabsopsi cairan dapat membahayakan jiwa dan ditunjukkan oleh turunnya hematokrit dengan tekanan nadi yang lebar. Diuretik dan digitalisasi mungkin diperlukan.(2)

BAB III PENUTUP

A.

Kesimpulan Demam Dengue merupakan suatu infeksi arbovirus akut, yang ditularkan oleh nyamuk species Aedes. Infeksi virus dengue pada manusia mengakibatkan spektrum manifestasi klinis yang bervariasi antara penyakit yang paling ringan (mild undifferentiated febrile illness), demam dengur, demam berdarah dengue (DBD) dan demam berdarah dengue disertai syok (dengue shock syndrome). Manajemen DHF dan DSS memerlukan evaluasi segera tandatanda vital dan tingkat hemokonsentrasi, dehidrasi, dan ketidakseimbangan elektrolit. Pemantauan dekat adalah sangat penting selama sekurangkurangnya 48 jam karena syok dapat terjadi atau kumat dengan cepat pada awal penyakit. Penggantian cepat cairan dan elektrolit intravena sering dapat mempertahankan penderita sampai terjadi penyembuhan secara spontan. Paraldehid atau kloralhidrat mungkin diperlukan untukanak yang sangat gelisah. Penggunaan pressor amin, agen penyekat -adrenergik, dan aldosteron tidak menyebabkan penurunan mortalitas yang bermakna dibanding dengan yang diamati pada terapi pendukung sederhana. Steroid tidak memperpendek lamanya penyakit atau memperbaiki prognosis pada anak yang mendapat terapi pendukung (suportive) yang teliti.

Hipervolemia selama fase reabsopsi cairan dapat membahayakan jiwa dan ditunjukkan oleh turunnya hematokrit dengan tekanan nadi yang lebar. Diuretik dan digitalisasi mungkin diperlukan.

B.

Saran

Hati-hati terhadap komplikasi yang mungkin terjadi seperti enchepalopahty, kejang, dan shock

Segera hubungi petugas kesehatan saat ditemukan gejala dengue fever di daerah yang sedang terjangkit atau sebelumnya pernah menderita dengue fever

Karena tidak ada vaksin untuk mencegah penyakit ini, maka diperlukan perlindungan pribadi seperti menggunakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh, penggunaan mosquito net, bila memungkinkan melakukan perjalan pada saat pagi-siang hari disaat nyamuk belum aktif. Pengendalian nyamuk dengan bubuk abate pun dapat membantu.(15)