P. 1
askep hiperbilirubin

askep hiperbilirubin

|Views: 33|Likes:
Publicado porAndry Rover

More info:

Published by: Andry Rover on Jun 26, 2013
Direitos Autorais:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2013

pdf

text

original

©2003 Digitized by USU digital library 1 ASUHAN KEPERAWATAN DAN APLIKASI DISCHARGE PLANNING PADA KLIEN DENGAN HIPERBILIRUBINEMIA

MULA TARIGAN, SKp Fakultas Kedokteran Program Studi Ilmu Keperawatan Bagian Keperawatan Medikal Bedah Universitas Sumatera Utara Pendahuluan Ikterus merupakan suatu gejala yang sering ditemukan pada Bayi Baru Lahir (BBL). Menurut beberapa penulis kejadian ikterus pada BBL berkisar 50 % pada bayi cukup bulan dan 75 % pada bayi kurang bulan. Perawatan Ikterus berbeda diantara negara tertentu, tempat pelayanan tertentu dan waktu tertentu. Hal ini disebabkan adanya perbedaan pengelolaan pada BBL, seperti pemberian makanan dini, kondisi ruang perawatan, penggunaan beberapa propilaksi pada ibu dan bayi, fototherapi dan transfusi pengganti. Asuhan keperawatan pada klien selama post partum juga terlalu singkat, sehingga klien dan keluarga harus dibekali pengetahuan, ketrampilan dan informasi tempat rujukan, cara merawat bayi dan dirinya sendiri selama di rumah sakit dan perawatan di rumah. Perawat sebagai salah satu anggota tim kesehatan mempunyai peranan dalam memberikan asuhan keperawatan secara paripurna. Tulisan ilmiah ini bertujuan untuk : 1. Agar perawat memiliki intelektual dan mampu menguasai pengetahuan dan keterampilan terutama yang berkaitan dengan asuhan keperawatan pada klien dan keluarga dengan bayi Ikterus (Hiperilirubinemia), 2. Agar Perawat mampu mempersiapkan klien dan keluarga ikut serta dalam proses perawatan selama di Rumah Sakit dan perewatan lanjutan di rumah. Atas dasar hal tersebut diatas maka penulis menyusun tulisan ilmiah dengan judul ”Asuhan Keperawatan dan Aplikasi Discharge Planing pada klien dengan Bayi Hiperbilirubinemia” KONSEP DASAR A. Definisi 1. Ikterus Fisiologis Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah Ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut (Hanifa, 1987): Timbul pada hari kedua-ketiga Kadar Biluirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada kurang bulan. Kecepatan peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per hari Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg % Ikterus hilang pada 10 hari pertama Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadan patologis tertentu 2. Ikterus Patologis / Hiperbilirubinemia Adalah suatu keadaan dimana kadar Bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Brown menetapkan Hiperbilirubinemia bila kadar Bilirubin mencapai 12 ©2003 Digitized by USU digital library 2 mg% pada cukup bulan, dan 15 mg % pada bayi kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%. 3. Kern Ikterus

5. Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus Obstruktif C. 4. Defisiensi G6PD ( Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase ).Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek pada otak terutama pada Korpus Striatum. Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ekstra Hepatik. dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV. Siphilis. Pada bayi yang normal dan sehat serta cukup bulan. sehingga kadar Bilirubin Indirek meningkat misalnya pada berat badan lahir rendah. 20 (beta) . Ikterus ASI yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3 (alfa). Talamus. Makofag BILIRUBIN BERIKATAN DENGAN ALBUMIN Terjadi dalam plasma darah MELALUI HATI BILIRUBIN BERIKATAN DENGAN GLUKORONAT/ GULA . ©2003 Digitized by USU digital library 3 Diagram Metabolisme Bilirubin ERITROSIT HEMOGLOBIN HEM GLOBIN BESI/FE BILIRUBIN INDIR EK ( tidak larut dalal air ) Terjadi pada Limpha. Frekuensi dan jumlah konjugasi tergantung dari besarnya hemolisis dan kematangan hati. serta jumlah tempat ikatan Albumin (Albumin binding site). Gangguan fungsi Hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah seperti infeksi . Metabolisme Bilirubin Segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin (merubah Bilirubin yang larut dalam lemak menjadi Bilirubin yang mudah larut dalam air) di dalam hati. 2. Nukleus merah . Etiologi 1. Kurangnya Enzim Glukoronil Transeferase . diol (steroid). hatinya sudah matang dan menghasilkan Enzim Glukoronil Transferase yang memadai sehingga serum Bilirubin tidak mencapai tingkat patologis. Pendarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran. 3. Hipokampus. misal pada Inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat ketidaksesuaian golongan darah dan anak pada penggolongan Rhesus dan ABO. Nukleus Subtalamus. Kelainan kongenital (Rotor Sindrome) dan Dubin Hiperbilirubinemia. B. Toksoplasmosis. Peningkatan produksi : Hemolisis. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan misalnya pada Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya Sulfadiasine. Ikatan Bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan metabolik yang terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis .

atau pada bayi Hipoksia. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit.RESIDU BILIRUBIN DIREK ( larut dalam air ) Hati BILIRUBIN DIREK DIEKSRESI KE KANDUNG EMPEDU Melalui Duktus Billiaris KANDUNG EMPEDU KE DEUDENUM BILIRUBIN DIREK DI EKSKRESI MELALUI URINE & FECES ©2003 Digitized by USU digital library 4 D. Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan cara memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Menghilangkan Antibodi Maternal dan Eritrosit Tersensitisasi 3. Meningkatkan Badan Serum Albumin 4. sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. dan Hipoglikemia ( Markum. Polisitemia. Menghilangkan Anemia 2. Mudah tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Infus Albumin dan Therapi Obat. maka manejemen bayi dengan Hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari Hiperbilirubinemia. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan. Fototherapi Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan Transfusi Pengganti untuk menurunkan Bilirubin. Transfusi Pengganti. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg/dl. Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh. Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus. Pengobatan mempunyai tujuan : 1. Bilirubin Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah . Menurunkan Serum Bilirubin Metode therapi pada Hiperbilirubinemia meliputi : Fototerapi. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a bound of fluorencent light bulbs or bulbs in the blue-light spectrum) akan menurunkan Bilirubin dalam kulit. Penatalaksanaan Medis Berdasarkan pada penyebabnya. Toksisitas terutama ditemukan pada Bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Hipoksia. 1991). Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorsi . Asidosis. E. Patofisiologi Hiperbilirubinemia Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang.

Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama. 1984). Bayi dengan Hidrops saat lahir. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil. Menghilangkan Serum Bilirubin 4. Tranfusi Pengganti Transfusi Pengganti atau Imediat diindikasikan adanya faktor-faktor : 1. Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch. 8. ©2003 Digitized by USU digital library 5 Secara umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin Indirek 4 -5 mg / dl. Obat ini efektif baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. Beberapa ilmuan mengarahkan untuk memberikan Fototherapi Propilaksis pada 24 jam pertama pada Bayi Resiko Tinggi dan Berat Badan Lahir Rendah. Hemoglobin kurang dari 12 gr / dl. Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3. tetapi tidak dapat mengubah penyebab Kekuningan dan Hemolisis dapat menyebabkan Anemia. setiap 4 . Rh negatif whole blood. Colistrisin dapat mengurangi Bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urine sehingga menurunkan siklus Enterohepatika. 2. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus di Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg / dl. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B yang pendek. 2. Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi (kepekaan) 3. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu. 4. Siphilis dan kadang-kadang Bakteri) .8 jam kadar Bilirubin harus dicek. 7. Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg / dl pada 48 jam pertama. Penggunaan penobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena efek sampingnya (letargi). Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap Antibodi Maternal. ABO atau golongan lain. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama. Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar Bilirubin. Therapi Obat Phenobarbital dapat menstimulasi hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi Bilirubin dan mengekresinya. Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus. 9. 6. Di dalam darah Fotobilirubin berikatan dengan Albumin dan dikirim ke Hati. Penyebab Ikterus terjadi pada 24 jam pertama menurut besarnya kemungkinan dapat disusun sbb: Inkomptabilitas darah Rh. Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir. Infeksi Intra Uterin (Virus. 3.5 mg / dl pada minggu pertama.jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut Fotobilirubin. Meningkatkan Albumin bebas Bilirubin dan meningkatkan keterikatan dengan Bilirubin Pada Rh Inkomptabiliti diperlukan transfusi darah golongan O segera (kurang dari 2 hari). Tes Coombs Positif 5. Transfusi Pengganti digunakan untuk : 1. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi. Penggolongan Hiperbilirubinemia berdasarkan saat terjadi Ikterus: 1. Hasil Fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi Bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine. Toksoplasma.

Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah ABO atau Rh. Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan: Pemeriksaan Bilirubin berkala. sub kapsula dll). Galaktosemia. pendarahan Hepar. . Defisiensi Enzim G6PD. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu pertama. Pelaksanaan dan Evaluasi. Perencanaan. Skrining Enzim G6PD. 4. biopsi Hepar bila ada indikasi. Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya: Karena ikterus obstruktif. Sindroma Criggler-Najjar. Dehidrasi dan Asidosis. Pemeriksaan skrining defisiensi G6PD. ©2003 Digitized by USU digital library 6 Test Coombs. Defisiensi Enzim G6PD atau Enzim Eritrosit lain juga masih mungkin.72 jam sesudah lahir. 3. Pemeriksaan yang perlu dilakukan: Kadar Bilirubin Serum berkala. Biasanya Ikterus fisiologis. biakan darah atau biopsi Hepar bila perlu. 2. Hemolisis perdarahan tertutup ( pendarahan subaponeurosis. Golongan darah ibu dan bayi. Hepatitis Neonatal. Diagnosa Keperawatan. Pemeriksaan skrining Enzim G6PD. Pemeriksaan darah tepi. Darah tepi lengkap. Sindroma Gilbert. Riwayat orang tua : Ketidakseimbangan golongan darah ibu dan anak seperti Rh. Sepsis.Kadang-kadang oleh Defisiensi Enzim G6PD. A. Hipotiroidisme Breast milk Jaundice. Pengaruh obat-obat. Infeksi. Pemeriksaan lain bila perlu. Biakan darah. Hal ini diduga kalau kenaikan kadar Bilirubin cepat misalnya melebihi 5mg% per 24 jam. ©2003 Digitized by USU digital library 7 ASUHAN KEPERAWATAN Untuk memberikan keperawatan yang paripurna digunakan proses keperawatan yang meliputi Pengkajian. Ikterus yang timbul 24 . ABO. atau golongan lain. Polisetimia. Pengkajian 1. Pemeriksaan darah Bilirubin berkala. Polisitemia. Bila keadaan bayi baik dan peningkatannya cepat maka pemeriksaan yang perlu dilakukan: Pemeriksaan darah tepi.

Masalah yang diidentifikasi ditetapkan sebagai diagnosa keperawatan melalui analisa dan interpretasi data yang diperoleh. anjurkan orangtua untuk mengajak bicara anaknya. buka tutup mata saat disusui. masase daerah yang menonjol.37° C. rubah posisi setiap 2 jam. DiagnosaKeperawatan . pantau turgor kulit. dorong orang tua mengekspresikan perasaannya. libatkan orang tua dalam perawatan bila memungkinkan. menangis melengking. Pengkajian Psikososial : Dampak sakit anak pada hubungan dengan orang tua. Hipotonik. 6. apakah orang tua merasa bersalah. Iritabilitas. cek tanda-tanda vital tiap 2 jam. Intervensi : Bawa bayi ke ibu untuk disusui. Diagnosa Keperawatan : Kurangnya volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan. perawatan lebih lanjut. dapat mengidentifikasi gejalagejala untuk menyampaikan pada tim kesehatan Intervensi : Kaji pengetahuan keluarga klien. orang tua dapat mengekspresikan ketidak mengertian proses Bounding. Beri pendidikan kesehatan mengenai cara perawatan bayi dirumah.Infeksi. beri pendidikan kesehatan penyebab dari kuning. Diagnosa Keperawatan : Kecemasan meningkat berhubungan dengan therapi yang diberikan pada bayi. kemampuan mempelajari Hiperbilirubinemia (Cindy Smith Greenberg. 1988) B. 1. masalah Bonding. untuk stimulasi sosial dengan ibu. Diagnosa Keperawatan : Risiko tinggi trauma berhubungan dengan efek fototherapi Tujuan : Neonatus akan berkembang tanpa disertai tanda-tanda gangguan akibat fototherapi . pertahankan suhu antara 35. Obstruksi Pencernaan dan ASI. Pengetahuan Keluarga meliputi : Penyebab penyakit dan pengobatan.5° . Pemeriksaan Fisik : Kuning. Hematoma. 4. 4. beri air diantara menyusui atau memberi botol. pantau intake output. perpisahan dengan anak. 3. dan Intervensi Berdasarkan pengkajian di atas dapat diidentifikasikan masalah yang memberi gambaran keadaan kesehatan klien dan memungkinkan menyusun perencanaan asuhan keperawatan. 3. jaga kebersihan kulit dan kelembabannya. dan diare. pantau bilirubin direk dan indirek . Diagnosa Keperawatan : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan hiperbilirubinemia dan diare Tujuan : Keutuhan kulit bayi dapat dipertahankan Intervensi : Kaji warna kulit tiap 8 jam. fototherapi. Pallor Konvulsi. apakah mengenal keluarga lain yang memiliki yang sama. proses terapi dan perawatannya. Tujuan : Cairan tubuh neonatus adekuat Intervensi : Catat jumlah dan kualitas feses. 2. Letargi. refleks menyusui yang lemah. ©2003 Digitized by USU digital library 8 5. Tujuan : Orang tua mengerti tentang perawatan. 2. Diagnosa Keperawatan : Gangguan parenting berhubungan dengan pemisahan Tujuan : Orang tua dan bayi menunjukan tingkah laku “Attachment” . tingkat pendidikan. Diagnosa Keperawatan : Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan efek fototerapi Tujuan : Kestabilan suhu tubuh bayi dapat dipertahankan Intervensi : Beri suhu lingkungan yang netral. Tujuan .

1994): 1. nafsu menyusui menurun. usahakan agar penutup mata tida menutupi hidung dan bibir. 2. pantau tandatanda vital. garukan . dan kontak sosial) selalu menjadi tanggung jawab orang tua dalam memenuhinya dengan mengikuti aturan dan gambaran yang diberikan selama perawatan di Rumah Sakit dan perawatan lanjutan dirumah. Hindari pakaian bayi yang menggunakan perekat di kulit. Bebaskan kulit dari alat tenun yang basah seperti: popok yang basah karena bab dan bak. kejang. apnoe. neonatus puasa 4 jam sebelum tindakan. Memberikan penjelasan tentang prosedur fototherapi pengganti untuk menurunkan kadar bilirubin bayi. basahi umbilikal dengan NaCl selama 30 menit sebelum melakukan tindakan. Aplikasi Discharge Planing. capilari reffil. ajak bicara dan beri sentuhan setiap memberikan perawatan. ©2003 Digitized by USU digital library 9 Siapkan alat untuk membersihkan mata. amati adanya ganguan cairan dan elektrolit. bradikardi. C. Anjurkan ibu untuk menggunakan alat pompa susu selama beberapa hari untuk mempertahankan kelancaran air susu. daerah perineal dan daerah sekitar kulit yang rusak. catat jenis darah ibu dan Rhesus serta darah yang akan ditranfusikan adalah darah segar. buka penutup mata setiap akan disusukan.Intervensi : Tempatkan neonatus pada jarak 45 cm dari sumber cahaya. apatis. Pertumbuhan dan perkembangan serta perubahan kebutuhan bayi dengan hiperbilirubin (seperti rangsangan. siapkan suction bila diperlukan. Gunakan pelembab kulit setelah dibersihkan untuk mempertahankan kelembaban kulit. matikan lampu. Anjurkan ibu mengungkapkan/melaporkan bila bayi mengalami gangguangangguan kesadaran seperti : kejang-kejang. monitor pemeriksaan laboratorium sesuai program. 4. 3. . buka penutup mata untuk mengkaji adanya konjungtivitis tiap 8 jam. mulut. selama dan sesudah tranfusi. gelisah. Mengajarkan tentang perawatan kulit : Memandikan dengan sabun yang lembut dan air hangat. Melakukan pengkajian yang ketat tentang status gizi bayi seperti : turgor kulit. Menasehatkan pada ibu untuk mempertimbangkan pemberhentian ASI dalam hal mencegah peningkatan bilirubin. Diagnosa Keperawatan : Risiko tinggi trauma berhubungan dengan tranfusi tukar Tujuan : Tranfusi tukar dapat dilakukan tanpa komplikasi Intervensi : Catat kondisi umbilikal jika vena umbilikal yang digunakan. Hindari penggunaan bedak pada lipatan paha dan tubuh karena dapat mengakibatkan lecet karena gesekan Melihat faktor resiko yang dapat menyebabkan kerusakan kulit seperti penekanan yang lama. 5. pertahankan suhu tubuh bayi. 7. Faktor yang harus disampaikan agar ibu dapat melakukan tindakan yang terbaik dalam perawatan bayi hiperbilirubinimea (Whaley &Wong. latihan. biarkan neonatus dalam keadaan telanjang kecuali mata dan daerah genetal serta bokong ditutup dengan kain yang dapat memantulkan cahaya.

kontak dengan sesuatu yang baru 5. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. USA. Cloherty. Cara menyusui 8. Manual of Neonatal Care. Materity and Gynecologic Care. Edisi XVII. al. Mc. Temperatur / suhu 6. gunting) yang mudah dijangkau oleh bayi / balita. Perawatan sirkumsisi 10. Markum.saudaranya. (1984). The Mosby Compani CV. Mengganti popok dan pakaian bayi 4. et. J. Obstetri Williams. A. dan lainnya Menjaga keamanan bayi selama perjalanan dengan menggunakan mobil atau sarana lainnya. listrik. Mayers.Graw-Hill. John (1981). Hazinki. Cara memandikan bayi dengan air hangat (37 -38 ° celsius) 2. Tanda-tanda dan gejala penyakit. Child Health Nursing. Menangis merupakan suatu komunikasi jika bayi tidak nyaman. Pernapasan 7. Biokimia. ( 1995). Pengawasan yang ketat terhadap bayi oleh saudara . J. M. bosan. EGC. (1988). misalnya : letargi ( bayi sulit dibangunkan ) demam ( suhu > 37 ° celsius) muntah (sebagian besar atau seluruh makanan sebanyak 2 x) diare ( lebih dari 3 x) tidak ada nafsu makan. M. (1991). Harper. et. California. J. (1991). (1994). FKUI. Jakarta. 12.. H. Airlangga University Press. Keamanan Mencegah bayi dari trauma seperti. Susan. Toronto. Mencegah benda panas. P. . al. Surabaya.F. R. ©2003 Digitized by USU digital library 10 DAFTAR PUSTAKA Bobak. Precenton. kejatuhan benda tajam (pisau. al. et. Inc. Eliminasi 9. Pritchard.Hal lain yang perlu diperhatikan adalah : 1. Clinical Care Plans Pediatric Nursing. New York. . Perawatan tali pusat / umbilikus 3. Nursing Care of Critically Ill Child. (1985). Imunisasi 11. Buku I.

You're Reading a Free Preview

Descarregar
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->