Você está na página 1de 56

Anatomi dan Fisiologi Gaster (Lambung) ANATOMI LAMBUNG (GASTER) Lambung berbentuk seperti huruf J dan merupakan pembesaran

dari saluran pencernaan. Lambung terletak tepat dibawah diafragma pada daerah epigastrik, umbilikal, dan hipokardiak kiri di perut. Bagian superior lambung merupakan kelanjutan dari esofagus. Bagian inferior berdekatan dengan duodenum yang merupakan bagian awal dari usus halus. Pada setiap individu, posisi dan ukuran lambung bervariasi. Sebagai contoh, diafragma mendorong lambung ke bawah pada setiap inspirasi dan menariknya kembali pada setiap ekspirasi. Jika lambung berada dalam keadaan kosong bentuknya menyerupai sosis yang besar, tetapi lambung dapat meregang untuk menampung makanan dalam jumlah yang sangat besar. Lambung dibagi oleh ahli anatomi menjadi empat bagian, yaitu bagian fundus, kardiak, body atau badan, dan pilorus. Bagian kardiak mengelilingi lower esophageal sphincter. Bagian bulat yang terletak diatas dan disebelah kiri bagian kardiak adalah fundus. Di bawah fundus adalah bagian pusat yang terbesar dari lambung, yang disebut dengan body atau badan lambung. Bagian yang menyempit, pada daerah inferior adalah pilorus. Tepi bagian tengah yang berbentuk cekung dari lambung disebut dengan lesser curvature atau lekukan kecil. Tepi bagian lateral ( samping ) yang berbentuk cembung disebut dengan greater curvature atau lekukan besar. Pilorus berkomunikasi dengan bagian duodenum dari usus halus melalui sphincter yang disebut dengan pyloric sphincter. Dinding lambung disusun oleh empat lapisan dasar yang sama dengan dinding saluran pencernaan, dengan beberapa modifikasi. Ketika lambung berada dalam keadaan kosong, mukosa berada dalam bentuk lipatan-lipatan besar yang dinamakan rugae, yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Pemeriksaan mikroskopis dari mukosa menampakkan lapisan epitel kolumna yang sederhana (sel permukaan mukosa) mengandung banyak lubang sempit yang memanjang sampai lamina propria yang disebut gastric pits. Pada bagian bawah lubang adalah mulut atau lubang dari kelenjar lambung (gastric glands). Setiap kelenjar terdiri dari empat tipe sel sekretori, yaitu : zymogenic, parietal, mucous, dan enterendocrine. Zymogenic (peptic) atau sel kepala (chief cells) mengeluarkan prekursor utama enzim lambung, pepsinogen. Asam klorida (HCL) terlibat dalam perubahan pepsinogen menjadi enzim aktif yaitu pepsin, dan faktor intrinsik, terlibat dalam penyerapan vitamin B12 untuk produksi sel darah merah, yang diproduksi oleh sel parietal. Sel mukosa, merupakan lapisan pertama (terdalam) yang mengeluarkan mukus. Sekresi dari sel zymogenic, parietal dan mucous secara bersama-sama disebut dengan gastric juice. Sementara itu, sel enteroendocrine mengeluarkan hormon gastrin yang merupakan hormon yang dapat merangsang sekresi dari asam klorida (HCl) dan pepsinogen, dapat merangsang kontraksi dari lower esophageal sphincter, meningkatkan motilitas saluran pencernaan dan membuat pyloric sphincter berelaksasi. Lapisan submukosa (lapisan kedua) pada lambung tersusun atas jaringan ikat lunak yang menghubungkan mukosa dengan otot (muskularis). Lapisan muskularis (lapisan ketiga), tidak seperti daerah lain pada saluran pencernaan, lambung mempunyai tiga lapisan otot (muskularis) halus ; lapisan longitudinal di sebelah luar, lapisan otot miring (oblique) di tengah, lapisan sirkular (melingkar) dibatasi oleh bagian badan dari lambung. Susunan serat

ini memungkinkan lambung berkontraksi dalam berbagai cara untuk mengaduk makanan, memecahnya menjadi partikel-partikel kecil, mencampurnya dengan gastric juice dan membawanya ke duodenum. Lapisan yang terakhir yaitu lapisan serosa yang menutupi lambung adalah bagian dalam peritonium. Pada kurvatura minor, dua lapisan visceral peritonium menyatu dan memanjang ke atas hingga ke liver (hati) menjadi omentum minus. Pada kurvatura mayor, visceral peritonium melanjutkan ke bawah menjadi omentum majus menggantung di atas usus.

FISIOLOGI LAMBUNG (GASTER) Fungsi lambung terdiri dari: 1. menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh peristaltik lambung dan getah lambung. 2. getah asam lambung yang dihasilkan: Pepsin, fungsinya memecah putih telur menjadi asam amino (albumin dan pepton) HCl, fungsinya mengasamkan makanan, sebagai antiseptik dan desinfektan, dan membuat suasana asam pada pepsinogen sehingga menjadi pepsin Renin, fungsinya sebagai ragi yang membekukan susu dan membentuk kasein dari kaseinogen (kaseinogen dan protein susu) Lipase lambung, jumlahnya sedikit memecah lemak menjadi asam lemak yang merangsang sekresi getah lambung Otot lambung yang tebal berfungsi untuk mengaduk dan menggerus bahan makanan didalamnya serta mencampur secara sempurna dengan getah sekret pencernaan yang dikeluarkan oleh lambung. Dinding lambung terdiri atas 4 lapisan, yaitu : 1. mukosa, berfungsi mensekresikan sesuatu yang diperlukan untuk mengabsorpsi vitamin B12. Didalam mukosa terdapat kalenjar yang berbeda yang dibagi menjadi tiga zona, yaitu : kelenjar kardia, berfungsi menghasikan lisozom kelenjar lambung, berfungsi mensekresikan asam, enzim-enzim, mukus, dan hormon-hormon. kelenjar pilorus, berfungsi menghasilkan hormon dan mukus. 2. submukosa, mengandung pembuluh darah, pembuluh limfa dan syaraf perifer. 3. muskularis 4. serosa, mengandung banyak lemak apabila umur bertambah.

PENCERNAAN DI LAMBUNG 1. MEKANIK Beberapa menit setelah makanan memasuki perut, gerakan peristaltik yang lembut dan berriak yang disebut gelombang pencampuran (mixing wave) terjadi di perut setiap 15-25 detik. Gelombang ini merendam makanan dan mencampurnya dengan hasil sekresi kelenjar lambung dan menguranginya menjadi cairan yang encer yang disebut chyme. Beberapa mixing wave terjadi di fundus, yang

merupakan tempat penyimpanan utama. Makanan berada di fundus selama satu jam atau lebih tanpa tercampur dengan getah lambung. Selama ini berlangsung, pencernaan dengan air liur tetap berlanjut. Selama pencernaan berlangsung di perut, lebih banyak mixing wave yang hebat dimulai dari tubuh dan makin intensif saat mencapai pilorus. Pyloric spinchter hampir selalu ada tetapi tidak seluruhnya tertutup. Saat makanan mencapai pilorus, setiap mixing wave menekan sejumlah kecil kandungan lambung ke duodenum melalui pyloric spinchter. Hampir semua makanan ditekan kembali ke perut. Gelombang berikutnya mendorong terus dan menekan sedikit lagi menuju duodenum. Pergerakan ke depan atau belakang (maju/mundur) dari kandungan lambung bertanggung jawab pada hampir semua pencampuran yang terjadi di perut. 2. KIMIAWI Prinsip dari aktivitas di perut adalah memulai pencernaan protein. Bagi orang dewasa, pencernaan terutama dilakukan melalui enzim pepsin. Pepsin memecah ikatan peptide antara asam amino yang membentuk protein. Rantai protein yang terdiri dari asam amino dipecah menjadi fragmen yang lebih kecil yang disebut peptide. Pepsin paling efektif di lingkungan yang sangat asam di perut (pH=2) dan menjadi inakatif di lingkungan yang basa. Pepsin disekresikan menjadi bentuk inakatif yang disebut pepsinogen, sehingga tidak dapat mencerna protein di sel-sel zymogenic yang memproduksinya. Pepsinogen tidak akan diubah menjadi pepsin aktif sampai ia melakukan kontak dengan asam hidroklorik yang disekresikan oleh sel parietal. Kedua, sel-sel lambung dilindungi oleh mukus basa, khususnya setelah pepsin diaktivasi. Mukus menutupi mukosa untuk membentuk hambatan antara mukus dengan getah lambung. Enzim lain dari lambung adalah lipase lambung. Lipase lambung memecah trigliserida rantai pendek menjadi molekul lemak yang ditemukan dalam susu. Enzim ini beroperasi dengan baik pada pH 5-6 dan memiliki peranan terbatas pada lambung orang dewasa. Orang dewasa sangat bergantung pada enzim yang disekresikan oleh pankreas (lipase pankreas) ke dalam usus halus untuk mencerna lemak. Lambung juga mensekresikan renin yang penting dalam mencerna susu. Renin dan Ca bereaksi pada susu untuk memproduksi curd. Penggumpalan mencegah terlalu seringnya lewatnya susu dari lambung menuju ke duodenum (bagian pertama dari usus halus). Rennin tidak terdapat pada sekresi lambung pada orang dewasa.

PENGOSONGAN LAMBUNG Pengosongan lambung terjadi bila adanya faktor berikut ini : Impuls syaraf yang menyebabkan terjadinya distensi lambung (penggelembungan) Diproduksinya hormon gastrin pada saat makanan berada dalam lambung. Saat makanan berada dalam lambung, setelah mencapai kapasitas maksimum maka akan terjadi distensi lambung oleh impuls saraf (nervus vagus). Disaat bersamaan, kehadiran makanan terutama yang mengandung protein merangsang diproduksinya hormone gastrin. Dengan dikeluarkannya hormone gastrin akan merangsang esophageal sphincter bawah untuk berkontraksi, motilitas lambung meningkat, dan pyloric sphincter berelaksasi. Efek dari serangkaian aktivitas tersebut adalah pengosongan lambung.Lambung mengosongkan semua isinya menuju ke duodenum dalam 2-6 jam setelah makanan tersebut dicerna di dalam lambung. Makanan yang banyak mengandung karbohidrat menghabiskan waktu yang paling

sedikit di dalam lambung atau dengan kata lain lebih cepat dikosongkan menuju duodenum. Makanan yang mengandung protein lebih lambat, dan pengosongan yang paling lambat terjadi setelah kita memakan makanan yang mengandung lemak dalam jumlah besar. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECEPATAN PENGOSONGAN LAMBUNG Pompa Pilorus dan Gelombang Peristaltik Pada dasarnya, pengosongan lambung dipermudah oleh gelombang peristaltik pada antrum lambung, dan dihambat oleh resistensi pilorus terhadap jalan makanan. Dalam keadaan normal pilorus hampir tetap, tetapi tidak menutup dengan sempurna, karena adanya kontraksi tonik ringan. Tekanan sekitar 5 cm, air dalam keadaan normal terdapat pada lumen pilorus akibat pyloric sphincter. Ini merupakan penutup yang sangat lemah, tetapi, walaupun demikian biasanya cukup besar untuk mencegah aliran chyme ke duodenum kecuali bila terdapat gelombang peristaltik antrum yang mendorongnya. Oleh karena itu, untuk tujuan praktisnya kecepatan pengosongan lambung pada dasarnya ditentukan oleh derajat aktivitas gelombang peristaltik antrum. Gelombang peristaltik pada antrum, bila aktif, secara khas terjadi hampir pasti tiga kali per menit, menjadi sangat kuat dekat insisura angularis, dan berjalan ke antrum, kemudian ke pilorus dan akhirnya ke duodenum. Ketika gelombang berjalan ke depan, pyloric sphincter dan bagian proksimal duodenum dihambat, yang merupakan relaksasi reseptif. Pada setiap gelombang peristaltik, beberapa millimeter chyme didorong masuk ke duodenum. Daya pompa bagian antrum lambung ini kadang-kadang dinamakan pompa pilorus. Derajat aktivitas pompa pilorus diatur oleh sinyal dari lambung sendiri dan juga oleh sinyal dari duodenum. Sinyal dari lambung adalah : 1) Derajat peregangan lambung oleh makanan, dan 2) Adanya hormon gastrin yang dikeluarkan dari antrum lambung akibat respon regangan. Kedua sinyal tersebut mempunyai efek positif meningkatkan daya pompa pilorus dan karena itu mempermudah pengosongan lambung. Sebaliknya, sinyal dari duodenum menekan aktivitas pompa pilorus. Pada umumnya, bila volume chyme berlebihan atau chyme tertentu berlebihan telah masuk duodenum. Sinyal umpan balik negatif yang kuat, baik syaraf maupun hormonal dihantarkan ke lambung untuk menekan pompa pilorus. Jadi, mekanisme ini memungkinkan chyme masuk ke duodenum hanya secepat ia dapat diproses oleh usus halus. Volume Makanan Sangat mudah dilihat bagaimana volume makanan dalam lambung yang bertambah dapat meningkatkan pengosongan dari lambung. Akan tetapi, hal ini tidak terjadi karena alasan yang diharapkan. Tekanan yang meningkat dalam lambung bukan penyebab peningkatan pengosongan karena pada batas-batas volume normal, peningkatan volume tidak menambah peningkatan tekanan dengan bermakna,. Sebagai gantinya, peregangan dinding lambung menimbulkan refleks mienterik lokal dan refleks vagus pada dinding lambung yang meningkatkan aktivitas pompa pilorus. Pada umumnya, kecepatan pengosongan makanan dari lambung kira-kira sebanding dengan akar kuadrat volume makanan yang tertinggal dalam lambung pada waktu tertentu. Hormon Gastrin Peregangan serta adanya jenis makanan tertentu dalam lambung menimbulkan dikeluarkannya hormon

gastrin dari bagian mukosa antrum. Hormon ini mempunyai efek yang kuat menyebabkan sekresi getah lambung yang sangat asam oleh bagian fundus lambung. Akan tetapi, gastrin juga mempunyai efek perangsangan yang kuat pada fungsi motorik lambung. Yang paling penting, gastrin meningkatkan aktivitas pompa pilorus sedangkan pada saat yang sama melepaskan pilorus itu sendiri. Jadi, gastrin kuat pengaruhnya dalam mempermudah pengosongan lambung. Gastrin mempunyai efek konstriktor pada ujung bawah esofagus untuk mencegah refluks isi lambung ke dalam esofagus selama peningkatan aktivitas lambung. Refleks Enterogastrik Sinyal syaraf yang dihantarkan dari duodenum kembali ke lambung setiap saat, khususnya bila lambung mengosongkan makanan ke duodenum. Sinyal ini mungkin memegang peranan paling penting dalam menentukan derajat aktivitas pompa pilorus, oleh karena itu, juga menentukan kecepatan pengosongan lambung. Refleks syaraf terutama dihantarkan melalui serabut syaraf aferen dalam nervus vagus ke batang otak dan kemudian kembali melalui serabut syaraf eferen ke lambung, juga melalui nervus vagus. Akan tetapi, sebagian sinyal mungkin dihantarkan langsung melalui pleksus mienterikus. Jenis-jenis faktor yang secara terus menerus ditemukan dalam duodenum dan kemudian dapat menimbulkan refleks enterogastrik adalah : derajat peregangan lambung, adanya iritasi pada mukosa duodenum, derajat keasaman chyme duodenum, derajat osmolaritas duodenum, dan adanya hasil-hasil pemecahan tertentu dalam chyme, khususnya hasil pemecahan protein dan lemak. Refleks enterogastrik khususnya peka terhadap adanya zat pengiritasi dan asam dalam chyme duodenum. Misalnya, setiap saat dimana pH chyme dalam duodenum turun di bawah kira-kira 3.5 sampai 4, refleks enterogastrik segera dibentuk, yang menghambat pompa pilorus dan mengurangi atau menghambat pengeluaran lebih lanjut isi lambung yang asam ke dalam duodenum sampai chyme duodenum dapat dinetralkan oleh sekret pankreas dan sekret lainnya. Hasil pemecahan pencernaan protein juga akan menimbulkan refleks ini, dengan memperlambat kecepatan pengosongan lambung, cukup waktu untuk pencernaan protein pada usus halus bagian atas. Cairan hipotonik atau hipertonik (khususnya hipertonik) juga akan menimbulkan refleks enterogastrik. Efek ini mencegah pengaliran cairan nonisotonik terlalu cepat ke dalam usus halus, karena dapat mencegah perubahan keseimbangan elektrolit yang cepat dari cairan tubuh selama absorpsi isi usus. Umpan Balik Hormonal dari Duodenum Peranan Lemak Bila makanan berlemak, khususnya asam-asam lemak, terdapat dalam chyme yang masuk ke dalam duodenum akan menekan aktivitas pompa pilorus dan pada akhirnya akan menghambat pengosongan lambung. Hal ini memegang peranan penting memungkinkan pencernaan lemak yang lambat sebelum akhirnya masuk ke dalam usus yang lebih distal. Walaupun demikian, mekanisme yang tepat dimana lemak menyebabkan efek mengurangi pengosongan lambung tidak diketahui secara keseluruhan. Sebagian besar efek tetap terjadi meskipun refleks enterogastrik telah dihambat. Diduga efek ini akibat dari beberapa mekanisme umpan balik hormonal yang ditimbulkan oleh adanya lemak dalam duodenum. Oleh karena itu, saat ini, sukar menilai efek lemak duodenum dalam menghambat pengosongan lambung, walaupun efek ini penting untuk

proses pencernaan lemak dan absorpsi lemak. Kontraksi Pyloric Sphincter Biasanya, derajat kontraksi pyloric sphincter tidak sangat besar, dan kontraksi yang terjadi biasanya dihambat waktu gelombang peristaltik pompa pilorus mencapai pilorus. Akan tetapi, banyak faktor duodenum yang sama, yang menghambat kontraksi lambung, dapat secara serentak meningkatkan derajat kontraksi dari pyloric sphincter. Faktor ini menghambat atau mengurangi pengosongan lambung, dan oleh karena itu menambah proses pengaturan pengosongan lambung. Misalnya, adanya asam yang berlebihan atau iritasi yang berlebihan dalam bulbus duodeni menimbulkan kontraksi pilorus derajat sedang. Keenceran Chyme Semakin encer chyme pada lambung maka semakin mudah unruk dikosongkan. Oleh karena itu, cairan murni yang dimakan, dalam lambung dengan cepat masuk ke dalam duodenum, sedangkan makanan yang lebih padat harus menunggu dicampur dengan sekret lambung serta zat padat mulai diencerkan oleh proses pencernaan lambung. Selain itu pengosongan lambung juga dipengaruhi oleh : Pemotongan nervus vagus dapat memperlambat pengosongan lambung. Vagotomi menyebabkan atoni dan peregangan lambung yang relatif hebat. Keadaan emosi, kegembiraan dapat mempercepat pengosongan lambung dan sebaliknya ketakutan dapat memperlambat pengosongan lambung.

SEKRESI ASAM LAMBUNG Sekresi dari getah lambung diatur oleh mekanisme syaraf dan hormonal. Impuls parasimpatis yang terdapat pada medulla dihantarkan melalui syaraf vagus dan merangsang gastric glands untuk mensekresikan pepsinogen, asam klorida, mukus, dan hormon gastrin. Ada tiga faktor yang merangsang sekresi lambung, yaitu : fase sefalik, fase gastrik, dan fase intestinal. Fase (refleks) sefalik Fase ini muncul sebelum makanan masuk ke lambung dan mempersiapkan lambung untuk mencerna. Penglihatan, bau, rasa dan pikiran tentang makanan merangsang refleks ini. Impuls syaraf dari cerebral korteks atau feeding centre di hipotalamus mengirimkan impuls ke medulla oblongata di otak kemudian medulla oblongata menyampaikan impuls melalui serabut parasimpatis pada syaraf vagus untuk merangsang sekresi dari kelenjar. Fase Gastrik Terjadi ketika makanan memasuki lambung. Semua jenis makanan menyebabkan penggelembungan (distension) dan merangsang reseptor yang terdapat pada dinding lambung. Reseptor mengirim impuls ke medulla kelenjar lambung merangsang sekresi dari getah lambung. Protein dan kafein yang tercerna sebagian merangsang mukosa pilorus untuk mensekresikan hormon gastrin, selanjutnya hormon gastrin merangsang kelenjar lambung untuk mensekresikan getah lambung Kelenjar lambung yang merangsang sekresi sejumlah besar getah lambung, juga menimbulkan kontraksi lower esophageal spinchter dan ileocecal spinchter. Sekresi gastrin terhalang saat pH cairan lambung (HCl) mencapai 2.0. Mekanisme negative feedback ini membantu menyediakan pH optimal untuk

memfungsikan enzim-enzim di perut. Fase Intestinalis Fase ini terjadi saat makanan meninggalkan lambung dan memasuki usus halus. Saat protein yang telah tercerna sebagian memasuki duodenum, protein ini merangsang lapisan mukosa pada dinding duodenum untuk melepaskan enteric gastrin, hormon yang merangsang kelenjar gastrik untuk melanjutkan sekresi.

FAKTOR PENGHAMBAT SEKRESI LAMBUNG Kehadiran chyme selama fase intestinal Kehadiran chyme dapat menginisiasi refleks enterogastrik yang menimbulkan rangsangan untuk menghambat rangsangan syaraf parasimpatis dan merangsang aktivitas syaraf simpatis, yang pada akhirnya akan menghambat sekresi lambung. Beberapa Hormonal Intestinal Hormon sekretin, koleosistokinin (CCK), dan Gastric Inhibiting Peptide (GIP). Ketiga hormon ini menghambat sekresi lambung dan mengurangi motilitas dari saluran pencernaan. GIP juga merangsang pelepasan insulin. Sekretin dan kolesistokinin juga penting dalam pengendalian sekresi usus halus dan pankreas, kolesistokinin juga membantu meregulasi sekresi empedu dari kantung empedu.

Fungsi Lambung Posted on 28/11/2012 by iksan

Organ Lambung adalah organ yang mempunyai peran atau fungsi penting di dalam tubuh. Lambung terdiri dari tiga bagian yaitu Kardia, Fundus dan Antrum. Dinding organ lambung terdiri dari empat lapisan yaitu Mucosa, Submucosa, Muscularis dan Serosa. Jika kita lihat organ tubuh manusia ini berbentuk seperti kandang kedelai. Secara umum Fungsi Organ Lambung adalah untuk mencerna dan sedikit menyerap sari-sari semua makanan yang dikonsumsi oleh kita. Adapun peran atau fungsi lain dari organ lambung dintaranya adalah: 1. Memproses dan mengubah protein menjadi peptone. 2. Lemak yang masuk ke dalam tubuh akan mulai dicerna di dalam organ lambung. 3. Membekukan susu dan mengeluarkan kasein. 4. Semua makanan yang kita konsumsi atau kita makan akan dicairkan dan dicampurkan dengan asam hidroklorida. Jika semua itu telah dilakukan, usus siap untuk mencerna cairan-cairan yang datang dari organ lambung. Namun jika lambung sudah terluka atau sudah terserang bakteri, maka organ ini tidak akan berfungsi atau bekerja dengan baik, dan akan menimbulkan berbagai penyakit di dalam tubuh, diantaranya adalah: 1. Maag atau Gastritis Jika di dalam organ lambung anda terdapat bakteri Helicobacter Pylori lalu melukai dinding lambung anda maka akan timbul penyakit, yaitu penyakit maag. Akan timbul berbagai gejala seperti mual, muntah, sendawa, dan ulu hati merasa terbakar. Jika penyakit ini sudah parah atau kronis akan menimbulkan komplikasi atau menimbulkan penyakit-penyakit lain, seperti penyakit kanker lambung dan penyakit jantung yang bisa menyebabkan kematian. 2. Kolik Kolik merupakan penyakit yang mungkin masih asing bagi anda. Penyakit ini biasanya menyerang anakanak bayi, yang ditandai dengan menangis yang sangat kuat, perut bayi merasa nyeri, dan rewel.

Penyebab timbulnya penyakit ini adalah karena adanya bakteri Klebsiella pada organ lambung si anak bayi dan biasanya terjadi peradangan pada lambungnya. Itulah sedikit penjelasan tentang peran atau fungsi organ lambung, semoga dapat bermanfaat bagi anda semua.

Fungsi Lambung Lambung manusia terletak pada daerah kiri atas rongga perut dan merupakan bagian penting dari sistem pencernaan. Lambung terletak tepat di bawah diafragma dan otot. Jika memperhatikan gambar saluran pencernaan, lambung didahului dengan kerongkongan dan diikuti oleh duodenum. Dengan kata lain, lambung merupakan bagian dari sistem pencernaan yang ditempatkan antara kerongkongan dan duodenum. Esophageal sphincter mengontrol pergerakan makanan dari kerongkongan ke lambung dan sfingter pilorus bertanggung jawab untuk mengatur gerakan makanan dicerna sebagian dari lambung ke duodenum, yang merupakan bagian pertama dari usus kecil.

Struktur Lambung

Jika Anda melihat pada berbagai organ yang membentuk saluran pencernaan, lambung adalah yang paling melebar. Terlepas dari yang melebar, juga diperluas. Ini adalah struktur kantung-seperti dengan volume kosong sekitar 45 sampai 50 ml (pada manusia). Namun, pada manusia dewasa normal, itu bisa diperbesar, sehingga terus 1 sampai 3 liter makanan. Hal ini tidak berlaku untuk bayi, yang bisa memegang hanya 30 ml dalam lambung mereka. Singkatnya, ukuran lambung akan mendapatkan diubah sesuai jumlah makanan di dalamnya. Pada orang dewasa rata-rata, lambung memiliki panjang sekitar dua belas inci dan lebar sekitar lima belas inci.

Bagian-bagian Lambung

Lambung memiliki empat bagian, yang dinamakan sebagai kardia, fundus, korpus (tubuh), antrum dan pilorus. Sementara kardia adalah bagian pertama dari lambung, yang menerima makanan dari kerongkongan, fundus adalah bahwa bagian lambung yang dibentuk oleh besar kelengkungan. Tubuh corpus membentuk wilayah pusat utama organ dan pilorus bersama dengan antrum membentuk bagian terakhir yang mengosongkan isi lambung ke duodenum.

Lapisan Dinding Lambung Lapisan terdalam dari dinding lambung disebut mukosa dan asam lambung diproduksi dan disekresikan dalam lapisan ini. Lapisan berikutnya adalah submukosa, yang terbuat dari jaringan ikat. Lapisan ini ditutupi oleh externa muskularis dan kemudian serosa. Externa muskularis terdiri dari tiga lapisan otot, yang bertanggung jawab untuk mencampur makanan dengan enzim dan gerakan makanan. Jadi, lapisan ini memiliki peran penting dalam fungsi lambung Lapisan terluar adalah serosa, yang terbuat dari jaringan ikat.

Sekresi Lambung Permukaan dalam lambung memiliki berbagai jenis sel epitel yang memproduksi berbagai sekresi yang membantu proses pencernaan. Ini termasuk sel lendir yang memproduksi lendir, yang bersifat basa di alam. Lendir ini mencegah kerusakan pada lapisan dalam lambung dari asam. Ada sel-sel utama yang menghasilkan enzim yang disebut pepsin (membantu dalam fungsi lambung mogok protein) dan sel parietal yang menghasilkan asam klorida (perkelahian mikroorganisme dan mencerna makanan). Tipe lain dari sel epitel di lambung adalah sel G yang menghasilkan hormon yang disebut gastrin. Permukaan dalam lambung memiliki beberapa foldings yang disebut sebagai ruge, yang meratakan sebagai lambung mengembang. Apa Fungsi Lambung? Sekarang, Anda memiliki gagasan dasar tentang struktur lambung dan fungsi bagian ini. Ini adalah upaya yang terkoordinasi dari bagian-bagian yang merupakan fungsi lambung. Kita semua tahu bahwa fungsi utama adalah pengumpulan dan mogok makanan. Mari kita lihat bagaimana ini terjadi. Makanan yang kita makan dikunyah di mulut, dan dikatakan bahwa proses pencernaan dimulai di mulut. Apa yang terjadi di lambung dapat dianggap sebagai tahap kedua pencernaan. Mengunyah makanan sampai ke lambung dan mendapatkan dicampur dengan asam dan enzim yang diproduksi dalam organ. Campuran ini disebut chyme, yang disimpan di lambung dan dilepaskan ke usus kecil dalam jumlah yang lebih kecil. Setelah itu, itu adalah fungsi usus halus untuk lebih memecah chyme dan menyerap nutrisi. Jadi, fungsi utama dari lambung adalah mogok makanan dan mencampurnya dengan asam pencernaan dan enzim. Selain itu, sekresi lambung membunuh mikroorganisme berbahaya seperti beberapa bakteri.

Pemeriksaan Sistem Pencernaan 1. Inspeksi keadaan umum abdomen : ukuran, kontur, warna kulit dan pola pembuluh vena(venous pattern) 2. Auskultasi abdomen untuk mendengarkan bising usus3. Palpasi abdomen untuk menentukan : lemah, keras atau distensi, adanya nyeri tekan, adanyamassa atau asites 4. Kaji adanya nausea dan vomitus 5. Kaji tipe diet, jumlah, pembatasan diet dan toleransi terhadap diet 6. Kaji adanya perubahan selera makan, dan kemampuan klien untuk menelan 7. Kaji adanya perubahan berat badan 8. Kaji pola eliminasi : BAB dan adanya flatus 9. Inspeksi adanya ileostomy atau kolostomi, yang nantinya dikaitkan dengan fungsi (permanenatau temporal), kondisi stoma dan kulit disekitarnya, dan kesediaan alat 10. Kaji kembali obat dan pengkajian diagnostik yang pasien miliki terkait sistem GI.

Pemeriksaan Fisik Pencernaan

RIWAYAT KEPERAWATAN : n Jenis makanan n Nafsu makan n Pola bab n Gangguan yg pernah & sedang dialami n Pola sehat/sakit (riw kesh : skrg, dahulu, keluarga, pola pemeliharaan kesh) n Keluhan utama (pqrst)

n Fungsi sist. Pencernaan (nyeri mulut, kerongkongan, perut, rektum, sulit telan) n Pembedahan, penggunaan laksative/enema n Pola pemeliharaan kesehatan : merokok (ca mulut), alkoholik, kafein, perawatan gigi & gusi, aktifitas olahraga, sumber stress

PEMERIKSAAN PADA MULUT DAN FARING : 1. Dilakukan dgn posisi klien duduk. 2. Pencahayaan hrs baik. 3. Dimulai dg mengamati bibir, gusi, lidah, selaput lendir, pipi bagian dalam, lantai dasar mulut, palatum & faring.

INSPEKSI MULUT & FARING l Klien duduk berhadapan dg perawat (sejajar) l Amati keadaan bibir : cyanosis, kering/basah, luka, labioschizis. l Anjurkan membuka mulut, atur pencahayaan, amati gusi & gigi : normal? Sisa makanan, kebersihan & bau, caries, karang gigi, perdarahan, abses. l Pemeriksaan gigi dg cara mengetuk secara sistematis, bandingkan gigi kanan, kiri, atas, bawah. l Lidah : warna, kotor/bercak-bercak, kesimetrisan. l Selaput lendir : warna, pembengkakan, tumor, sekresi, peradangan, ulkus, perdarahan. l Dgn spatel lidah yg terbungkus kassa, anjurkan klien utk membuka mulut, tekan lidah ke bwh. l Kemudian amati faring thd kesimetrisan uvula. l Amati labiopalatoschizis, luka, tonsil, meradang?, perubahan suara, dahak/lendir yg menutup, benda asing.

PALPASI MULUT & FARING Tujuan : mengetahui bentuk & kelainan yg dpt diketahui dg palpasi. Meliputi : pipi, dasar mulut, palatum & lidah.

Upayakan klien tdk muntah. Posisi duduk berhadapan dg perawat. Anjurkan klien membuka mulut.

Pegang pipi diantara ibu jari & telunjuk (telunjuk berada di dalam). Palpasi pipi & perhatikan adanya tumor/pembengkakan. Bila ada, determinasikan menurut ukuran, konsistensi, nyeri. Lanjutkan palpasi pd palatum dg jari telunjuk & rasakan adanya pembengkakan & fisura.

Palpasi dasar mulut. Suruh klien mengatakan el kemudian palpasi dasar mulut dg jari telunjuk tangan kanan. Bila perlu, beri sedikit penekanan dg ibu jari dibawah daguuntuk memudahkan palpasi. Catat bila ada pembengkakan. Palpasi lidah dg cara klien disuruh menjulurkan lidah, pegang lidah dgn kassa steril menggunakan tangan kiri. Dg jari penunjuk tangan kanan lakukan palpasi lidah terutama bagian belakang dan batasbatas lidah.

PEMERIKSAAN FISIK PADA ABDOMEN GEJALA PENYAKIT ABDOMEN


Nyeri abdomen Gangguan fungsi Perdarahan gi Gejala sistemik Tanda dekompensasi organ Obstruksi organ berongga Iritasi peritoneum

NYERI ABDOMEN Sumber nyeri : visera berongga, organ padat, peritoneum. Karakteristik yg membedakan : sifat, lokasi, penyebaran, gejala yg berkaitan. Lokasi nyeri sesuai letak organ.

Nyeri alih : dirasa ditempat lain.

GANGGUAN FUNGSI 5 gejala umum : ikterus, nausea, vomitus, konstipasi dan diare. 1. IKTERUS : pigmentasi kuning pada kulit dan mukosa oleh pigmen empedu, nyeri, gatal, warna kencing. 2. VOMITUS : oleh distensi organ visera, radang usus, iritasi mukosa lambung, rangsang saraf muntah. 3. DIARE & KONSTIPASI : karena proses primer : kebiasaan makan, efek obat, bahan kimia atau hormon pada mukosa usus atau motilitas usus, peradangan atau infeksi usus besar, obstruksi lumen usus. 4. DIARE : feses cair, sering, jumlah banyak.

PERDARAHAN GI Radang / tumor usus Darah segar, hematokesia, melena. Hematemesis, muntah ampas kopi.

MANIFESTASI SISTEMIK Anoreksia Penurunan berat badan Demam

TANDA DEKOMPENSASI ORGAN HATI : Ikterus Ascites

OBSTRUKSI 1. Organ berongga : obstruksi mekanis 2. Kolik, distensi, nyeri tekan. 3. Usus, sal kencing, sal empedu

PERITONITIS 1. Radang peritoneum oleh karena darah, isi usus, pus. 2. Nyeri spontan, nyeri tekan, nyeri gerak. 3. Respon : nyeri pantul.

PERSIAPAN ALAT, TEKHNIK & METODE PEMERIKSAAN ABDOMEN n Persiapan klien : posisi berbaring, kepala berbantal, relaks, tgn disamping, lutut sedikit fleksi, daerah abdomen hrs terbuka. n Persiapan alat : stetoskop. n Persiapan lingkungan : sketsel, perawat berdiri/duduk di sebelah kanan klien, hangatkan telapak tangan, pencahayaan. n Inspeksi n Auskultasi n Perkusi n Palpasi

UNTUK MEMUDAHKAN RELAKSASI : Kandung kemih hrs kosong. Klien berbaring terlentang dg bantal bawah kepala & bawah lutut. Kedua lengan disamping atau menyilang pd dada.

Gunakan tgn yg hangat, permukaan stetoskop yg hangat, kuku pendek. Minta klien menunjukkan area yg sakit & memeriksa area sakit terakhir. Lakukan pemeriksaan perlahan, hindarkan gerakan cepat & tiba-tiba. B/p ajak klien bicara. Bila klien takut/geli, genggam kedua tangannya. Selalu lakukan pemeriksaan dengan memperhatikan ekspresi klien.

INSPEKSI Tujuan : mengetahui bentuk & gerakan abdomen. Amati : bentuk abdomen (busung/buncit, datar/flat), benjolan/massa (catat bentuk & lokasinya), bayangan pembuluh darah vena di kulit abdomen, umbilicus menonjol?, tepi perut menonjol?.

LANGKAH-LANGKAH INSPEKSI : Atur posisi tepat (telentang). Amati bentuk perut scr umum, kontur permukaan perut, retraksi, penonjolan, ketidaksimetrisan. Suruh klien untuk inspirasi dalam, juga suruh klien untuk batuk. Amati gerakan kulit perut saat inspirasi. Amati keadaan kulit dg teliti : pertumbuhan rambut & pigmentasi, tanda malnutrisi & dehidrasi, sikatrik, striae, obesitas/ascites/tumor/distensi gi.

AUSKULTASI o Tujuan : mendengarkan 2 suara perut, yaitu suara perut/peristaltik (yg disebabkan perpindahan gas atau makanan sepanjang intestinum), dan suara pembuluh darah. Juga dapat dipergunakan untuk mendengarkan djj pada wanita hamil.

LANGKAH-LANGKAH AUSKULTASI : l Siapkan stetoskop, hangatkan tangan & bagian stetoskop. l Tanyakan jam terakhir makan.

l Tentukan bagian stetoskop yg akan dipakai (diafragma utk suara usus, bell utk suara pemb drh). l Letakkan dg tekanan ringan pada setiap area kuadran/regio & dengarkan suara peristaltik aktif (normalnya terdiri dari clicks & gurgles dg frek 5-35 per mnt, tergantung status pencernaan). Catat frek dlm 1 menit. l Dalam pencatatan, tulis : terdengar, tdk ada/hipoaktif/sgt lambat, meningkat. Pastikan 3 5 menit. l Letakkan bell diatas aorta, arteri renal, arteri iliaka. Dengarkan suara2 arteri/bruits. Auskultasi arteri renal dilakukan dg cara meletakkan stetoskop pd garis tengah perut atau ke arah kanan kiri dari garis perut bagian atas mendekati panggul. Auskultasi arteri iliaka dg cara meletakkan stetoskop pd area bawah umbilikus di sebelah kanan kiri garis tenah perut.

LOKASI AUSKULTASI :

Letakkan bagian bell diatas area preumbilikal utk mendengarkan bising vena. Bila auskultasi daerah hepar & lien, kaji kemungkinan terdengar suara gesekan 2 benda (hepar : stetoskop di sisi bwh kanan tlg rusuk, lien : stetoskop di area bwh tlg rusuk di garis axilaris ant. Suruh nafas dalam).

PERKUSI n Tujuan : mendengarkan adanya gas,cairan atau massa dalam perut, mengetahui posisi lien & hepar, memperkirakan ukuran organ. n Bunyi perkusi normal adalah tympani. Organomegali : redup (di area bawah arkus costae kaki). Terlalu banyak cairan : hipertympani (seluruh dinding perut), terkadang pekak.

LANGKAH-LANGKAH PERKUSI : l Dimulai dari kuadran kanan atas kmd bergerak searah jarum jam (dari sudut pandang klien). l Perhatikan & catat reaksi klien (nyeri/nyeri tekan). l Perhatikan suara perkusi. Tympani : nada lebih tinggi dr resonan, dpt didengarkan pada rongga yg berisi udara. Redup : lebih rendah/datar dr resonan, dapat didengar pd massa padat spt ascites, distensi kk, tumor)

PALPASI

q Tujuan : mengetahui bentuk, nyeri, benjolan, turgor, letak, ukuran & konsistensi organ dan struktur intra abdominal, t/u hepar, lien, ginjal & kdg kemih. q Berdasarkan tujuannya, bisa dilakukan palpasi ringan atau palpasi dalam. q Palpasi daerah tertentu : suprapubic (cystitis), titik mc burney (apendicitis), regio epigastrica (gastritis), iliaca (adneksitis). q Persiapan : kuku pendek, tangan hangat. q Ingat : daerah nyeri dilakukan palpasi terakhir.

PALPASI RINGAN u Utk mengetahui adanya ketegangan otot, nyeri tekan. u Posisi tangan & lengan bawah horisontal sedalam 1 cm, dg menggunakan telapak ujung jari bersamasama, lakukan gerakan menekan yg lembut & ringan. Hindarkan gerakan yg menghentak. Cari massa/organ, nyeri tekan. u Perhatikan ekspresi klien. u Lakukan palpasi pada waktu ekspirasi. u Catat hasil palpasi spt ukuran, konsistensi, nyeri tekan, suhu, warna, pergerakan, perlekatan, berdasarkan kuadran/regio.

PALPASI DALAM n Untuk mengetahui adanya pembesaran organ/adanya massa. n Dikerjakan dgn cara menekankan distal permukaan tangan pada tangan yg lain yg diletakkan di dinding perut klien. n Boleh menggunakan 1 tangan. Bila kesulitan, gunakan 2 tangan, dg 1 tangan diatas yg lain.

YG PERLU DIPERHATIKAN Sblm palpasi, mintalah klien utk batuk & temukan letak nyeri. Atau dg cara nyeri tekan lepas yaitu dg jari tekan perut dg kuat, kmd tiba-tiba lepaskan. Bila saat dilepaskan timbul nyeri, berarti nyeri tekan lepas (rebound tenderness) positif.

PALPASI HEPAR & LIEN Perawat berdiri di sisi kanan klien. Palpasi dilakukan scr bimanual. Letakkan tgn kiri di bwh pinggang kiri. Atau sebaliknya. Angkat dg hati2 ke atas untuk meninggikan massa hepar/lien ke lokasi yg lebih mudah dicapai. Khusus palpasi lien, klien terlentang sedikit miring ke kanan. Palpasi hepar dpt juga dilakukan dg tekhnik mengait. Utk hepar : deskripsikan uk hepar dr tepi bwh arcus costae (cm/jari tangan), perabaan (keras, lunak, biasa), tepi hepar (tajam, tumpul), permukaan (rata, berbenjol2), nyeri tekan/tidak. Utk lien : catat bila ada pembesaran menurut garis schuffner (si-viii).

TEKHNIK PEMERIKSAAN KHUSUS Pemeriksaan ascites Pemeriksaan apendiksitis Pemeriksaan kolesistitis akut

PEMERIKSAAN ASCITES Test suara redup berpindah. Petakan area tympani dan pekak dg posisi klien berbaring & miring. Maka akan didapatkan area sisi abdomen yg semula pekak menjadi tympani, & area yg semula tympani menjadi pekak. Keadaan ini disebut shifting dullness. Test undulasi. Mintalah klen/asisten utk menekan garis tengah abdomen dg kedua pinggir tangan. Ketuk pada 1 sisi, & tangan yg lain merasakan thd adanya perpindahan gelombang ke sisi yg lain. Bisa dilakukan dg stetoskop. The puddle sign. Minta klien telungkup bbrp menit dg bertopang pd tgn & lutut.tempelkan stetoskop pd bagian terendah abdomen yg menggantung. Kmd sentil berulang2 dg jari2. Rasakan intensitas suara gelombang cairan.

PEMERIKSAAN APENDIKSITIS Nyeri tekan lepas

Rovsing sign. Tekan dalam2 kuadran ki bwh, lepas mendadak. Bila kuadran ka bwh merasa nyeri ketika tekanan kuadran ki bwh dilepas menandakan rovsing sign (+). Psoas sign. Letakkan tgn perawat di lutut kanan klien, minta klien utk mengangkat lututnya melawan tgn perawat. Timbulnya/bertambahnya nyeri menandakan psoas sign (+). Obturator sign. Tekuk tungkai klien pd sendi paha dg lutut menekuk, kmd putar ke dlm. Nyeri hypogastrik kanan menunjukkan obturator sign (+)

PEMERIKSAAN KOLESISTITIS AKUT Murphys sign. Kaitkan ibu jari & jari2 tgn kiri di bawah lengkung iga kanan, di bawah pinggir bawah hati. Minta klien utk menarik nafas dalam. Amati pernafasan & derajat nyerinya. Penambahan rasa sakit yg tajam yg ditandai dg berhentinya inspirasi scr mendadak menunjukkan murphys sign (+).

PEMERIKSAAN FISIK PADA ANUS v Tujuan : mendapatkan data mengenai kondisi anus & rektum. Pada klien pria, utk mengetahui keadaan prostat.

LANGKAH KERJA PEMERIKSAAN ANUS n Atur posisi litotomi atau miring sisi kiri. Tutup bagian tubuh yg tidak diperiksa. Nampakkan pantat. n Inspeksi anus : hemoroid, lesi, kemerahan. n Pakai handscoon beri gel pd telunjuk, perlahan masukkan jari ke anus & rektum.

Palpasi dinding rektum, rasakan ada tidaknya nodula, massa, nyeri tekan. Bila ditemukan, catat lokasinya dg jelas. Mis ; teraba benjolan pd ddg anterior 2 cm proksimal thd spincter ani internal. Pada pria, palpasi ddg anterior utk mengetahui glandula prostat. N = teraba d 4 cm & tdk nyeri tekan. Pada wanita, palpasi serviks uterus mell ddg anterior. N = serviks teraba licin, melingkar, tegas & dpt digerakkan. Selesai, tarik jari keluar. Amati adanya feses/darah di handscoon. Catat!

Pemeriksaan Diagnostik Untuk Saluran Pencernaan Posted on November 30, 2010. Filed under: Uncategorized | Pemeriksaan yang dilakukan untuk sistem pencernaan terdiri dari:

Endoskop (tabung serat optik yang digunakan untuk melihat struktur dalam dan untuk memperoleh jaringan dari dalam tubuh) Rontgen Ultrasonografi (USG) Perunut radioaktif Pemeriksaan kimiawi.

Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosis, menentukan lokasi kelainan dan kadang mengobati penyakit pada sistem pencernaan. Pada beberapa pemeriksaan, sistem pencernaan harus dikosongkan terlebih dahulu; ada juga pemeriksaan yang dilakukan setelah 8-12 jam sebelumnya melakukan puasa; sedangkan pemeriksaan lainnya tidak memerlukan persiapan khusus. Langkah pertama dalam mendiagnosis kelainan sistem pencernaan adalah riwayat medis dan pemeriksaan fisik, tetapi gejala dari kelainan pencernaan seringkali bersifat samar sehingga dokter mengalami kesulitan dalam menentukan kelainan secara pasti. Kelainan psikis (misalnya kecemasan dan depresi) juga bisa mempengaruhi sistem pencernaan dan menimbulkan gejala-gejalanya. Endoskopi Endoskopi adalah pemeriksaan struktur dalam dengan menggunakan selang/tabung serat optik yang disebut endoskop. Endoskop yang dimasukkan melalui mulut bisa digunakan untuk memeriksa:

kerongkongan (esofagoskopi) lambung (gastroskopi) usus halus (endoskopi saluran pencernaan atas).

Jika dimasukkan melalui anus, maka endoskop bisa digunakan untuk memeriksa:

rektum dan usus besar bagian bawah (sigmoidoskopi) keseluruhan usus besar (kolonoskopi).

Diameter endoskop berkisar dari sekitar 0,6 cm-1,25 cm dan panjangnya berkisar dari sekitar 30 cm-150 cm. Sistem video serat-optik memungkinkan endoskop menjadi fleksibel menjalankan fungsinya sebagai sumber cahaya dan sistem penglihatan. Banyak endoskop yang juga dilengkapi dengan sebuah penjepit kecil untuk mengangkat contoh jaringan dan sebuah alat elektronik untuk menghancurkan jaringan yang abnormal. Dengan endoskop dokter dapat melihat lapisan dari sistem pencernaan, daerah yang mengalami iritasi, ulkus, peradangan dan pertumbuhan jaringan yang abnormal. Biasanya diambil contoh jaringan untuk keperluan pemeriksaan lainnya. Endoskop juga bisa digunakan untuk pengobatan. Berbagai alat yang berbeda bisa dimasukkan melalui sebuah saluran kecil di dalam endoskop:

Elektrokauter bisa digunakan untuk menutup suatu pembuluh darah dan menghentikan perdarahan atau untuk mengangkat suatu pertumbuhan yang kecil Sebuah jarum bisa digunakan untuk menyuntikkan obat ke dalam varises kerongkongan dan menghentikan perdarahannya. Sebelum endoskop dimasukkan melalui mulut, penderita biasanya dipuasakan terlebih dahulu selama beberapa jam. Makanan di dalam lambung bisa menghalangi pandangan dokter dan bisa dimuntahkan selama pemeriksaan dilakukan. Sebelum endoskop dimasukkan ke dalam rektum dan kolon, penderita biasanya menelan obat pencahar dan enema untuk mengosongkan usus besar.

Komplikasi dari penggunaan endoskopi relatif jarang. Endoskopi dapat mencederai atau bahkan menembus saluran pencernaan, tetapi biasanya endoskopi hanya menyebabkan iritasi pada lapisan usus dan perdarahan ringan. Laparoskopi Laparoskopi adalah pemeriksaan rongga perut dengan menggunakan endoskop Laparoskopi biasanya dilakukan dalam keadaan penderita terbius total. Setelah kulit dibersihkan dengan antiseptik, dibuat sayatan kecil, biasanya di dekat pusar. Kemudian endoskop dimasukkan melalui sayatan tersebut ke dalam rongga perut. Dengan laparoskopi dokter dapat:

mencari tumor atau kelainan lainnya mengamati organ-organ di dalam rongga perut memperoleh contoh jaringan melakukan pembedahan perbaikan.

Endoskopi saluran cerna atas/ esophagogastroduodenoskopi Barrets esophagus

Barrets esophagus adalah metaplasia epitel squamous esofagus kepada bentuk epitel columnar.Keadaan ini diakibatkan refluk esofagitis dan mempunyai resiko untuk terjadinya adenocarcinoma esofagus.Esofagoskopi direkomendasikan pada pasien umur 50 tahun dengan simptom GERD yang persisten. Patofisiologi -GER menyebabkan isi lambung yang mempunyai pH asam merusak lapisan cell di esofagus bagian bawah. Gambaran endoskopi - projeksi seperti jari-jari menjulur ke atas dari squamo- columnar junction atau dari area epitel columnar.- bercak-bercak(menunjukan gambaran displasia) ;indocarmin disemprot untuk melihat gambaran displasia dan metaplasia.

Mallory Weiss Tear Robekan mukosa di gastroesofageal junction dan berhubungan dengan cekukan dan muntah. Apabila robekan sampai merusak arteri submukosa perdarahan yang hebat akan terjadi. Patofisiologi Gambaran endoskopi

-peminum alcohol yang berat - perdarahan di gastroesofageal juntion menyebabkan muntah yang berkepanjangan .Ini menimbulkan luka pada mukosa esophagus bagian distal .Perdarahan akan berlaku Varises esophagus Patofisiologi Gambaran endoskopi

terjadinya pelebaran pembuluh darah vena pada Menunjukkan gambaran pelebaran pembuluh dinding esophagus, oleh karena adanya darah pada submukosa dan subepitel bendungan vena porta yang menyebabkan aliran esophagus. darah balik ke jantung terhambat, sehingga aliran darah balik melalui vena-vena coronaria meningkat, vena coronaria terletak dibawah selaput lendir esophagus dan cardia lambung, seiring dengan meningkatnya jumlah darah yang lewat, diameter pembuluh darah akan membesar sampai akhirnya mencapai lebar maksimum yang berakibat pecahnya pembuluh darah.Bendungan yang terjadi terutama disebabkan oleh kelainan pada hati yang disebut cirrhosis, tetapi dapat juga disebabkan kelainan

diluar hati antara lain trombosis pada vena cava inferior dan pada vena portanya sendiri Tumor esofagus Esofagoskopi dilakukan untuk melihat morfologi tumor dan mengambil sediaan biopsi dan sitologi.Pemeriksaan kombinasi histopatologi dan sitologi sebagai penunjang diagnostik tumor esofagus. Tapi dengan teknologi endoskopi ultrasound kita dapat melihat infiltrasi dan keterlibatan KGB tumor. Patofisiologi Rokok,alkohol,Plummer Vinson Syndrom,post radiasi kanker payudara, Barrets oesophagus,obesitas Ulkus peptikum Simptom : sakit abdomen, perut gembung, mual, muntah, turun nafsu makan, turun berat badan, hematemesis, melena. Pada pasien umur>45 thn & (+) simptom tersebut dianjurkan utuk melakukan endoskopi Patofisiologi -ketidakseimbangan antara mekanisme pertahanan mukosa gastrointestinal dengan kekuatan yang merusak :

Gambaran endoskopi -lesi berupa plak kecil berwarna putih dan abubentuk tumor bisa polipoid atau bunga kol

Gambaran endoskopi - ulkus bentuk bulat/oval- pinggir ulkus tajam dengan batas tidak terlalu tinggi dari mukosa sekitar. Pinggir tidak irreguler

Mekanisme pertahanan : mukus,sekresi - dasar ulkus yang licin bikarbonat ke dalam - ulkus dikelilingi lipat-lipatan berbentuk radial mukosa,prostaglandin, pengosongan akibat parut disekitarnya lambung yang terlambat Kekuatan yang merusak : asam lambung dan pepsin, infeksi H.Pylori, NSAID,aspirin, alkohol

H.Pylori mengeluarkan enzim urease dan protease yang merusak mukosa yang merupakan predisposisi bagi radang. Tumor Gaster Patofisiologi Terdapat beberapa faktor yang memicu terjadinya perobahan dari gastritis kepada gastritis atropi,

kepada metaplasia, kepada displasia dan akhirnya kanker.Beberapa diet dan factor lingkungan yang mempengaruhi perobahan ini.Antaranya: -Diet nitrat : bakteri dalam lambung memecahkan nitrit kepada komponen yang bersifat karsinogenik(mis N-nitroso) -Hypochlorhydria: Kondisi ini mengakibatkan atropi gaster dan memicu kolonisasi bakteri.Ini meningkatkan pembentukan nitrit yang bersifat karsinogenik. -Helicobacter pylori: Pasien dengan gastritis yang disertai infeksi H.Pylori 3-6 kali lebih tinggi insiden terkene kanker gaster Ulkus duodenum Patofisiologi Duodenum menghasilkan lendir dan zat-zat kimia yang merupakan pelindung mukosa duodenum dari paparan asam lambung secara langsung yang dapat merusak, Dengan rusaknya lapisan pelindung maka asam lambung dan enzyme-enzym pencernaan dapat menyebabkan inflamasi dan ulkus.Lapisan pelindung tersebut dapat rusak oleh karena beberapa hal seperti: infeksi Helycobacter pylori, obat-obatan antiinflamatory misalnya: aspirin dan ibuprofen, dan juga dapat disebabkan Zollinger Ellison syndrome, walaupun jarang. Pemeriksaan endoskopi untuk saluran cerna bagian bawah Kolonoskopi dan Sigmoidoskopi Kolonoskopi digunakan untuk mendiagnos dan merawat masalah usus besar, ianya adalah sesuai untuk pendiagnosaan :

Polyp kolon Kanker kolon Penyakit radang usus (Ulcerative Colitis dan Crohns disease) Wasir (Hemoroid) Diverticulosis Dll Patofisiologi

Kelainan

1. Polip KolonJenis pemeriksaan: Kolonoskopi kelainan yang dilihat:

Kolonoskopi, dan Sigmoidoskopi

Adanya penonjolan atau ulkus, Kelainan warna, Bentuk permukaan, dan Gambaran pembuluh darahnya.

(Bila ditemukan kelainan yang merupakan penonjolan (polipoid) maka diperlukan pemeriksaan histologi.) Penanganan polip adalah kolonoskopi dengan polipektomi. Simtom dari polip:

perdarahan dari anus konstipasi maupun diare darah bercampur dengan tinja >95% kanker kolon berasal dari polip adematous yang tumbuh secara perlahan-lahan. Deteksi dini adanya polip dan kanker usus besar akan mengurangi angka kematian. Kolonoskopi masih merupakan baku emas bagi visualisasi, biopsi dan bila mungkin pembuangan neoplasma kolon. Berbagai faktor risiko kanker ini adalah faktor genetis (keluarga dengan riwayat kanker usus, polip usus, adanya polip usus tanpa riwayat keluarga), lingkungan, konsumsi daging, lemak/kolesterol, alkohol yang berlebihan, perokok, penyakit radang usus dan obesitas. Mikroskopis: berasal dari sel epitel colon atau krypt von lieberkuhn Makroskopis 4 tipe yaitu: annular, tubular, ulcer, dan clowly flower. Proses inflamasi terjadi biasanya dimulai di rectum, lalu dapat meluas ke proksimal namun tak pernah melewati kolon.

2.Neoplasma Kolorektal

3.Ulcerative Colitis

Bila bagian rectum saja yang terkena atau meluas sampai sigmoid disebut proktitis atau proktosigmoiditis, sedangkan bila seluruh kolon terlibat disebut pankolitis. Dilakukan kolonoskopi untuk melihat luasnya kerusakan serta menentukan diagnosis banding kolitis. Penyakit krohn merupakan salah satu penyakit usus inflamatorik, yang dapat menyerang seluruh nbagian saluran gastrointestinal, mulai dari mulut (stomatitis) sampai lesi pada anus. Individu dengan mutsi gen NOD2 mudah mengalami perkembangan penykit krohn. Dilakukan sigmoidoskopi atau kolonoskopi melihat obstruksi, gambaran khas lesi dengan ulkus dalam, striktur, dan lesi terputus, juga dapat melihat adanya fistula. Wasir (hemorrhoid) atau dikenal pula dengan sebutan ambeien adalah suatu pelebaran pembuluh darah balik (vena) pada anus/dubur, teraba seperti bola atau benjolan kecil yang dapat menimbulkan rasa nyeri, gatal, dan ketidaknyamanan. Para ahli membagi hemorrhoid menjadi dua macam: hemoroid interna dan eksterna. Diagnosis wasir yang membengkak dan terasa nyeri ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan di daerah anus dan rektum. Untuk keadaan yang lebih serius, misalnya tumor, bisa dibantu dengan pemeriksaan anoskopi dan sigmoidoskopi. Patofisiologi tergantung penyebab Darah segar bercampur tinja: Lesi pada ileum atau colon Darah diluar tinja: Lesi pada ampula rektum atau anus Melena: Duplikasi ileum dan Divertikulum Meckel Sigmoidoskopi dan kolonoskopi

4.Crohns disease

5. Hemoroid

6. Perdarahan saluran cerna bagian bawah

Referensi

1. http://badzhingan.wordpress.com/2007/02/09/pemeriksaan-diagnostik-untuk-saluranpencernaan/ 2. http://www.hsc.com.my/cheras/BM/specialties_BM/endoscopy_BM.html 3. http://digestive.niddk.nih.gov/ddiseases/pubs/colonpolyps_ez/ 4. http://www.suaramerdeka.com/harian/0407/05/ragam1.htm 5. http://en.wikipedia.org/wiki/Ulcerative_colitis#Diagnosis_and_workup 6. http://www.medicinenet.com/crohns_disease/article.htm 7. http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1113795562,79179 8. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0903/13/hikmah/lainnya03.htm 9. http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf= &html=07110-peov235.htm

Aspek etik dan legal dlm kprawatan Pengantar Nilai Keyakinan(beliefs) mengenai arti dari suatu ide, sikap, objek, perilaku, dll yang menjadi standar dan mempengaruhi prilaku seseorang. Nilai menggambarkan cita-cita dan harapan- harapan ideal dalam praktik keperawatan. Etik Kesepakatan tentang praktik moral, keyakinan, sistem nilai, standar perilaku individu dan atau kelompok tentang penilaian terhadap apa yang benar dan apa yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, apa yang merupakan kebajikan dan apa yang merupakan kejahatan, apa yang dikendaki dan apa yang ditolak. Etika Keperawatan Kesepakatan/peraturan tentang penerapan nilai moral dan keputusan- keputusan yang ditetapkan untuk profesi keperawatan (Wikipedia, 2008). Prinsip Etik 1. Respect (Hak untuk dihormati) Perawat harus menghargai hak-hak pasien/klien 2. Autonomy (hak pasien memilih) Hak pasien untuk memilih treatment terbaik untuk dirinya 3. Beneficence (Bertindak untuk keuntungan orang lain/pasien) Kewajiban untuk melakukan hal tidak membahayakan pasien/ orang lain dan secara aktif berkontribusi bagi kesehatan dan kesejahteraan pasiennya Non-Maleficence (utamakan-tidak mencederai orang lain) kewajiban perawat untuk tidak dengan sengaja menimbulkan kerugian atau cidera Prinsip : Jangan membunuh, menghilangkan nyawa orang lain, jangan menyebabkab nyeri atau penderitaan pada orang lain, jangan membuat orang lain berdaya dan melukai perasaaan orang lain. 4. Confidentiality (hak kerahasiaan) menghargai kerahasiaan terhadap semua informasi tentang pasien/klien yang dipercayakan pasien kepada perawat. 5. Justice (keadilan) kewajiban untuk berlaku adil kepada semua orang. Perkataan adil sendiri berarti tidak memihak atau tidak berat sebelah. 7. Fidelity (loyalty/ketaatan) - Kewajiban untuk setia terhadap kesepakatan dan bertanggungjawab terhadap kesepakatan yang telah diambil

- Era modern , pelayanan kesehatan : Upaya Tim (tanggungjawab tidak hanya pada satu profesi). 80% kebutuhan pt dipenuhi perawat - Masing-masing profesi memiliki aturan tersendiri yang berlaku - Memiliki keterbatasan peran dan berpraktik dengan menurut aturan yang disepakati. 8. Veracity (Truthfullness & honesty) Kewajiban untuk mengatakan kebenaran. - Terkait erat dengan prinsip otonomi, khususnya terkait informed-consent - Prinsip veracity mengikat pasien dan perawat untuk selalu mengutarakan kebenaran. Pemecahan masalah etik 1, Identifikasi masalah etik 2. Kumpulkan fakta-fakta 3. Evaluasi tindakan alternatif dari berbagai perspektif etik. 4. Buat keputusan dan uji cobakan 5. Bertindaklah, dan kemudian refleksikan pada keputusan tsb Aspek Legal dalam Praktik Keperawatan Tercantum dalam: - UU No. 23 tahun 1992 ttg Kesehatan - PP No. 32 tahun 1996 ttg Tenaga Kesehatan - Kepmenkes No. 1239 tahuun 2001 ttg Registrasi dan Praktik Perawat Area Overlapping (Etik Hukum ) a. Hak Hak Pasien b. Informed-consent Hak-hak Pasien : 1.Hak untuk diinformasikan 2.Hak untuk didengarkan 3.Hak untuk memilih 4.Hak untuk diselamatkan Informed Consent Informed consent adalah dokumen yang legal dalam pemberian persetujuan prosedur tindakan medik dan atau invasif, bertujuan untuk perlindungan terhadap tenaga medik jika terjadi sesuatu yang tidak diharapakan yang diakibatkan oleh tindakan tersebut. Selain itu dapat melindungi pasien terhadap intervensi / tindakan yang akan dilakukan kepadanya. Dasar dasar Informed consent UU N0 23 / 1992 tentang kesehatan Pasal 53 ayat ( 2) dan Peraturan Menteri Kesehatan RI NO 585 tentang persetujuan tindakan medik. Akuntabilitas Legal - Aturan legal yang mengatur praktik perawat

- Pedoman untuk menghindari malpraktik dan tuntutan malpraktik - Hubungan perawat- Dokter/keluarga/institusi pelayanan kesehatan Potensial Area Tuntutan a. Malpraktik Kelalaian bertindak yang dilakukan seseorang terkait profesi/pekerjaannya yang membutuhkan ketrampilan profesional dan tehnikal yang tinggi b. Dokumentasi - Medical Record adalah dokumen legal dan dapat digunakan di pengadilan sebagai bukti. c. Informed consent Persetujuan yang dibuat oleh klien untuk menerima serangkaian prosedur sesudah diberikan informasi yang lengkap termasuk resiko pengobatan dan fakta-fakta yang berkaitan dengan itu, telah dijelaskan oleh dokter d. Accident and Incident report incident Report laporan terjadinya suatu insiden atau kecelakaan - Perawat perlu menjamin kelengkapan dan keakuratan pelaporan askep Wills Pernyataan yang dibuat oleh seseorang mengenai bagaimana hak milik seseorang dibuang sesudah kematiannya DNRs (Do Not Rescucitate Orders) Perintah dokter Tanpa Kode atau DNRs bagi klien dengan penyakit terminal, penyakit kompleks, dan yang diharapkan untuk mati. Euthanasia Tindakan tanpa rasa sakit dengan mematikan penderitaan seseorang dari tekanan penyakit atau dari penyakit yang tidak dapat disembuhkan Kematian dan isu yang berhubungan Sertifikat kematian, otopsi, donor organ, dsb. Sumber : Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Peningkatan Kemampuan Teknis Perawat dalam Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan di Rumah Sakit September 2008

PRINSIP LEGAL ETIS

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Perkembangan pendidikan saat ini meningkat dengan pesat sebagai konsekwensi dari logis globalisasi. Perkembangan pendidikan keperawatan hendaknya tidak hanya berupah peningkatan kwantitas semata,namun harus di ikuti dengan peningkatan kwalitas pendidikan. Dengan demikian akan di hasilkan perawat yang professional dan siap berkompotisi dengan enaga kesehatan lain,baik di tingkat nasional atau internasonal. Peningkatan pengetahuan dan teknologi yang sedemikian cepat dalam segala bidang serta meningkatnya pengetahuan masyarakat berpengaruh pula terhadap meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan atau kebidanan. Hal ini merupakan tantangan bagi profesi keperawatan dan kebidanan dalam mengembangkan profesionalisme selama memberi pelayanan yang berkualitas. Kualitas pelayanan yang tinggi memerlukan landasan komitmen yang kuat dengan basis pada etik dan moral yang tinggi. Perawat di tuntut untuk melaksanakan asuhan keperawatan untuk pasien/klien baik secara individu,keluarga,kelompok,dan masyarakat dengan memandang manusia secara biopsikososial spiritual yang komprehensi.Sebagai tenaga yang professional,dalam melaksanakan tugasnya diperlukan suatu sikap yang menjamin terlaksananya tugas tersebut dengan baik dan bertanggung jawab secara moral. Etika merupakan sesuatu yang dikenal,diketahui,diulang,serta menjadi suatu kebiasaan di dalam suatu masyarakat,baik berupa kata-kata atau suatu bentuk perbuatan yang nyata. Etika lebih menitik beratkan pada aturan-aturan,prinsip-prinsip yang melandasi perilaku yang mendasar dan mendekati aturan-aturan,hukum,dan undang-unang yang membedakan benar atau salah secara moralitas. Dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada individu,keluarga,atau komunitas,perawat sangat memerlukan etika keperawatan. Karena itu,focus dari etika keperawatan di tujukan terhadap sifat manusia yang unik.

B. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui cara menerapkan prinsip legal etis pada pengambilan keputusan dalam konteks keperawatan

2. Tujuan Khusus a. Untuk lebih mengerti, memahami, dan menerapkan prinsip-prinsip legal etis pada pengambilan keputusan dalam konteks keperawatan. b. Untuk lebih mengerti dan memahami prinsip etika keperawatan,isu etik dalam keperawatan,transplantasi organ,devices,malprektek dan informed consent.

C. Manfaat 1. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami setra mampu menerapkan prinsip-prinsip legal etis pada pengambilan keputusan. 2. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami teori mengenai etika keperawatan,isu etik dalam keperawatan itu sendiri 3. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami konsep transplntasi organ dan devicies (alat-alat) serta informed consent.

D. Metode Penulisan Adapun metode penulisan dari makalah ini terdiri dari IV bab yaitu : Bab I Pendahuluan menjelaskan mengenai latar belakang, tujuan penulisan yang terdiri dari tujuan umum dan khusus, manfaat dan metode penulisan in sendiri. Bab II tinjauan pustaka terdiri dari prinsip etika keperawatan yang didalamnya membahas tentang (otonomi, berbuat baik, tidak merugikan, nilai dan norma masyarakat), isu etik dalam keperawatan yang membahas tentang (euthanasia dan aborsi), transplantasi organ yang terdiri dari (jenis-jenis transplantasi, hokum-hukum dan devices), prinsip legal dalam praktek keperawatan yang di dalamnya membahas tentang (advokasi, responsibilitas, dan loyalitas), malpraktek yang di dalamnya terdapat (kelalaian, upaya mencegah malpraktek dalam pelayanan kesehatan serta hokum dan sanksi). Bab III pembahasan membahas tentang prinsip etika keperawatan, isu etik dalam keperawatan, transplantasi organ, prinsip legal dalam praktek keperawatan, malpraktek, informed consent. Bab IV penutup membahas tentang kesimpulan dan saran dari makalah yang kami buat. Serta daftar pustaka. Demikian metode penulisan dari makalah ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Prinsip-Prinsip Etika Keperawatan 1. Otonomi (Autonomy) Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya. 2. Berbuat baik (Beneficience) Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi. 3. Keadilan (Justice) Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh ekualitas pelayanan kesehatan. 4. Tidak Merugikan (Nonmaleficience) Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. 5. Nilai dan Norma Masyarakat Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat nilai dan norma masyarakat sangat penting dan perlu ada pada diri masing-masing.malah masyarakat yang sedar tentang nilai dan norma masyarakat berusaha keras dalam mengukuhkan nilai-nilai masyarakat. Setiap individu tidak boleh hidup bersendirian, oleh itu seseorang itu perlubergaul bagi memenuhi keperluan dalam kehidupan. Oleh itu seseorang itu perlu bersedia agar dapat bertindak dan berfungsi dalam masyarakat. Bagi seseorang itu dapat berfungsi dan bertindak dalam masyarakat seseorang itu perlu memahami nilai- nilai masyarakat dan kelakuan norma masyarakat yang telah disahkan masyarakat itu sendiri.

a. Nilai Keyakinan seseorang tentang sesuatu yang berharga, kebenaran atau keinginan mengenai ide-ide, objek, atau perilaku khusus. Individu tidak lahir dengan membawa nilai-nilai (values). Nilai-nilai ini diperoleh dan berkembang melalui informasi, lingkungan keluarga, serta budaya sepanjang perjalanan hidupnya. Mereka belajar dari keseharian dan menentukan tentang nilai-nilai mana yang benar dan mana yang salah. Untuk memahami perbedaan nilai-nilai kehidupan ini sangat tergantung pada situasi dan kondisi dimana mereka tumbuh dan berkembang. 1).Nilai-nilai tersebut diambil dengan berbagai cara antara lain : a).Model atau Contoh Dimana individu belajar tentang nilai-nilai yang baik atau buruk melalui observasi perilaku keluarga, sahabat, teman sejawat dan masyarakat lingkungannya dimana dia bergaul;

b).Moralitas Diperoleh dari keluarga, ajaran agama, sekolah, dan institusi tempatnya bekerja dan memberikan ruang dan waktu atau kesempatan kepada individu untuk mempertimbangkan nilai-nilai yang berbeda; c).Sesuka Hati Adalah proses dimana adaptasi nilai-nilai ini kurang terarah dan sangat tergantung kepada nilai-nilai yang ada di dalam diri seseorang dan memilih serta mengembangkan sistem nilai-nilai tersebut menurut kemauan mereka sendiri. Hal ini lebih sering disebabkan karena kurangnya pendekatan, atau tidak adanya bimbingan atau pembinaan sehingga dapat menimbulkan kebingungan, dan konflik internal bagi individu tersebut; d).Penghargaan dan Sanksi Perlakuan yang biasa diterima seperti: mendapatkan penghargaan bila menunjukkan perilaku yang baik, dan sebaliknya akan mendapat sanksi atau hukuman bila menunjukkan perilaku yang tidak baik; e).Tanggung jawab untuk memilih; Adanya dorongan internal untuk menggali nilai-nilai tertentu dan mempertimbangkan konsekuensinya untuk diadaptasi. Disamping itu, adanya dukungan dan bimbingan dari seseorang yang akan menyempurnakan perkembangan sistem nilai dirinya sendiri. 2).Klarifikasi Nilai-Nilai (Values)

Klarifikasi nilai-nilai merupakan suatu proses dimana seseorang dapat mengerti sistem nilai-nilai yang melekat pada dirinya sendiri. Hal ini merupakan proses yang memungkinkan seseorang menemukan sistem perilakunya sendiri melalui perasaan dan analisis yang dipilihnya dan muncul alternatif-alternatif, apakah pilihanpilihan ini yang sudah dianalisis secara rasional atau merupakan hasil dari suatu kondisi sebelumnya (Steele&Harmon, 1983). Klarifikasi nilai-nilai mempunyai manfaat yang sangat besar didalam aplikasi keperawatan. Ada tiga fase dalam klarifikasi nilai-nilai individu yang perlu dipahami oleh perawat. a).Pilihan: (1). Kebebasan memilih kepercayaan serta menghargai keunikan bagi setiap individu; (2).Perbedaan dalam kenyataan hidup selalu ada perbedaan-perbedaan, asuhan yang diberikan bukan hanya karena martabat seseorang tetapi hendaknya perlakuan yang diberikan mempertimbangkan sebagaimana kita ingin diperlakukan. (3).Keyakinan bahwa penghormatan terhadap martabat seseorang akan merupakan konsekuensi terbaik bagi semua masyarakat. b).Penghargaan: (1).Merasa bangga dan bahagia dengan pilihannya sendiri (anda akan merasa senang bila mengetahui bahwa asuhan yang anda berikan dihargai pasen atau klien serta sejawat) atau supervisor memberikan pujian atas keterampilan hubungan interpersonal yang dilakukan; (2).Dapat mempertahankan nilai-nilai tersebut bila ada seseorang yang tidak bersedia memperhatikan martabat manusia sebagaimana mestinya. c).Tindakan: (1).Gabungkan nilai-nilai tersebut kedalam kehidupan atau pekerjaan sehari-hari; (2).Upayakan selalu konsisten untuk menghargai martabat manusia dalam kehidupan pribadi dan profesional, sehingga timbul rasa sensitif atas tindakan yang dilakukan.

Semakin disadari nilai-nilai profesional maka semakin timbul nilai-nilai moral yang dilakukan serta selalu konsisten untuk mempertahankannya. Bila dibicarakan dengan sejawat atau pasen dan ternyata tidak sejalan, maka seseorang merasa terjadi sesuatu yang kontradiktif dengan prinsip-prinsip yang dianutnya yaitu; penghargaan terhadap martabat manusia yang tidak terakomodasi dan sangat mungkin kita tidak lagi merasa nyaman. Oleh karena itu, klarifikasi nilai-nilai merupakan suatu proses dimana kita perlu meningkatkan serta konsisten bahwa keputusan yang diambil secara khusus dalam kehidupan ini untuk menghormati

martabat manusia. Hal ini merupakan nilai-nilai positif yang sangat berguna dalam kehidupan seharihari dan dalam masyarakat luas. b. Norma Masyarakat Norma adalah aturan-aturan atau pedoman social yang khusus mengenai tingkah laku, sikap, perbuatan yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan di lingkungan kehidupannya. Budaya dan agama mempengaruhi prilaku seseorang tanpa pilihan Setiap individu dapat menerima keyakinan tersebut. Keyakinan adalah sesuatu yang diterima sebagai kebenaran melalui pertimbangan dan kemungkinan,tidak berdasarkan kenyataan. Tradisi rakyat atau keluarga merupakan keyakinan yang berjalan dari satu generasi ke generasi lain. Norma masyarakat terbagi atas : 1).Norma Agama Ialah peraturan hidup yang harus diterima manusia sebagai perintah-perintah, laranganlarangan dan ajaran-ajaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Pelanggaran terhadap norma ini akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Esa berupa siksa kelak di akhirat. Contoh norma agama ini diantaranya ialah: a). Kamu dilarang membunuh. b). Kamu dilarang mencuri. c). Kamu harus patuh kepada orang tua. d) Kamu harus beribadah. e). Kamu jangan menipu. 2).Norma Kesusilaan Ialah peraturan hidup yang berasal dari suara hati sanubari manusia. Pelanggaran norma kesusilaan ialah pelanggaran perasaan yang berakibat penyesalan. Norma kesusilaan bersifat umum dan universal, dapat diterima oleh seluruh umat manusia. Contoh norma ini diantaranya ialah : a). Kamu tidak boleh mencuri milik orang lain. b). Kamu harus berlaku jujur. c). Kamu harus berbuat baik terhadap sesama manusia. d). Kamu dilarang membunuh sesama manusia.

3).Norma Kesopanan : Ialah norma yang timbul dan diadakan oleh masyarakat itu sendiri untuk mengatur pergaulan sehingga masing-masing anggota masyarakat saling hormat menghormati. Akibat dari pelanggaran terhadap norma ini ialah dicela sesamanya, karena sumber norma ini adalah keyakinan masyarakat yang bersangkutan itu sendiri.

Hakikat norma kesopanan adalah kepantasan, kepatutan, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Norma kesopanan sering disebut sopan santun, tata krama atau adat istiadat. Norma kesopanan tidak berlaku bagi seluruh masyarakat dunia, melainkan bersifat khusus dan setempat (regional) dan hanya berlaku bagi segolongan masyarakat tertentu saja. Apa yang dianggap sopan bagi segolongan masyarakat, mungkin bagi masyarakat lain tidak demikian. Contoh norma ini diantaranya ialah : a).Berilah tempat terlebih dahulu kepada wanita di dalam kereta api, bus dan lain-lain, terutama wanita yang tua, hamil atau membawa bayi. b).Jangan makan sambil berbicara. c).Janganlah meludah di lantai atau di sembarang tempat dan. d).Orang muda harus menghormati orang yang lebih tua. 4).Norma Hukum : Ialah peraturan-peraturan yang timbul dan dibuat oleh lembaga kekuasaan negara. Isinya mengikat setiap orang dan pelaksanaanya dapat dipertahankan dengan segala paksaan oleh alat-alat negara, sumbernya bisa berupa peraturan perundangundangan, yurisprudensi, kebiasaan, doktrin, dan agama. Keistimewaan norma hukum terletak pada sifatnya yang memaksa, sanksinya berupa ancaman hukuman. Penataan dan sanksi terhadap pelanggaran peraturan-peraturan hukum bersifat heteronom, artinya dapat dipaksakan oleh kekuasaan dari luar, yaitu kekuasaan negara. Contoh norma ini diantaranya ialah : a).Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa/nyawa orang lain, dihukum karena membunuh dengan hukuman setingi-tingginya 15 tahun. b).Orang yang ingkar janji suatu perikatan yang telah diadakan, diwajibkan mengganti kerugian, misalnya jual beli. B. Isu Etis Dalam Keperawatan 1. Eutanasia

Bahasa Yunani: -, eu yang artinya "baik", dan , thanatos yang berarti kematian) adalah praktek pencabutan kehidupanmanusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan. Aturan hukum mengenai masalah ini sangat berbeda-beda di seluruh dunia dan seringkali berubah seiring dengan perubahan norma-normabudaya dan tersedianya perawatan atau tindakan medis. Di beberapa negara, tindakan ini dianggap legal, sedangkan di negara-negara lainnya dianggap melanggar hukum. Karena sensitifnya isu ini, pembatasan dan prosedur yang ketat selalu diterapkan tanpa memandang status hukumnya. 2. Aborsi Cara menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah Abortus. Berarti pengeluaran hasil konsepsi ( pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh. a. Dalam dunia kedokteran dikenal 3 jenis aborsi: 1).Aborsi spontan atau alamiah. Berlangsung tanpa tindakan apapun. Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma. 2).Aborsi buatan atau sengaja. Adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi. Misalnya dengan bantuan obat aborsi. 3).Aborsi terapeutik atau medis. Adalah pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medic. Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya. Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa. b. Contoh-contoh Aborsi : 1).Pada kehamilan muda (dibawah 1 bulan) untuk Masa 1 Bulan: Pada kehamilan muda, dimana usia janin masih sangat kecil, aborsi dilakukan dengan cara menggunakan alat penghisap (suction). Sang anak yang masih sangat lembut langsung terhisap dan hancur berantakan. Saat dikeluarkan, dapat dilihat cairan merah berupa gumpalan-gumpalan darah dari janin yang baru dibunuh tersebut. 2).Pada kehamilan lebih lanjut (1-3 bulan) untuk Masa 1-3 Bulan:

Pada tahap ini, dimana janin baru berusia sekitar beberapa minggu, bagian-bagian tubuhnya mulai terbentuk. Aborsi dilakukan dengan cara menusuk anak tersebut kemudian bagian-bagian tubuhnya dipotong-potong dengan menggunakan semacam tang khusus untuk aborsi (cunam abortus). Anak dalam kandungan itu diraih dengan menggunakan tang tersebut, dengan cara menusuk bagian manapun yang bisa tercapai. Bisa lambung, pinggang, bahu atau leher. Kemudian setelah ditusuk, dihancurkan bagian-bagian tubuhnya. Tulang-tulangnya diremukkan danseluruh bagian tubuhnya disobek-sobek menjadi bagian kecil-kecil agar mudah dikeluarkan dari kandungan. Dalam klinik aborsi, bisa dilihat potongan-potongan bayi yang dihancurkan ini. Ada potongan tangan, potongan kaki, potongan kepala dan bagian-bagian tubuh lain yang mungil. Anak tak berdosa yang masih sedemikian kecil telah dibunuh dengan carayang paling mengerikan. 3).Aborsi pada kehamilan lanjutan (3 sampai 6 bulan) untuk Masa 3-6 Bulan: Pada tahap ini bayi sudah semakin besar dan bagian-bagian tubuhnya sudah terlihat jelas.Jantungnya sudah berdetak, tangannya sudah bisa menggenggam.Tubuhnya sudah bisa merasakan sakit,karena jaringan sarafnya sudah terbentuk dengan baik. Aborsi dilakukan dengan terlebih dahulu membunuh bayi ini sebelum dikeluarkan. Pertama diberikan suntikan maut (saline) yang langsung dimasukkan kedalam ketuban bayi. Cairan ini akan membakar kulit bayi tersebut secara perlahan-lahan, menyesakkan pernafasannya dan akhirnya setelah menderita selama berjam-jam sampai satu hari bayi itu akhirnya meninggal.. Selama proses ini dilakukan, bayi akan berontak, mencoba berteriakdan jantungnya berdetak keras. Aborsi bukan saja merupakan pembunuhan, tetapi pembunuhan secara amat keji. Setiap wanita harus sadar mengenai hal ini. 4).Aborsi pada kehamilan besar (6 sampai 9 bulan ) untuk Masa 6-9 Bulan: Pada tahap ini, bayi sudah sangat jelas terbentuk. Wajahnya sudah kelihatan, termasuk mata, hidung, bibir dan telinganya yang mungil. Jari jarinya juga sudah menjadi lebih jelas dan otaknya sudah berfungsi baik. Untuk kasus seperti ini, proses aborsi dilakukan dengan cara mengeluarkan bayi tersebut hidup-hidup, kemudian dibunuh. Cara membunuhnya mudah saja, biasanya langsung dilemparkan ke tempat sampah, ditenggelamkan kedalam air atau dipukul kepalanya hingga pecah. Sehingga tangisannya berhenti dan pekerjaan aborsi itu selesai. Selesai dengan tuntas hanya saja darah bayi itu yang akan mengingatkan orang-orang yang terlibat didalam aborsi ini bahwa pembunuhan keji telah terjadi. Semua proses ini seringkali tidak disadari oleh para wanita calon ibuyang melakukan aborsi. Mereka merasa bahwa aborsi itu cepat dan tidak sakit, mereka tidak sadar karena dibawah pengaruh obat bius.. Mereka bisa segera pulang tidak lama setelah aborsi dilakukan. Benar, bagi sang wanita , proses aborsi cepat dan tidak sakit. Tapi bagi bayi, itu adalah proses yang sangat mengerikan, menyakitkan, dan benar-benar tidak manusiawi. Kematian bayi yang tidak berdosa itu tidak disaksikan oleh sang calon ibu.

Seorang w anita yang kelak menjadi ibu yang seharusnya memeluk dan menggendong bayinya, telah menjadi algojo bagi anaknya sendiri. c. Hukum-Hukum Aborsi Pasal 15 ayat (1) dan (2) UndangUndang Keschatan Nomor 23 Tahun 1992. Ada beberapa hal yang dapat dicermati dari jenis aborsi ini yaitu bahwa temyata aborsi dapat dibenarkan sccara hukum apabila dilakukan dengan adanya pertimbangan medis. Dalam hal ini berarti dokter atau tenaga keseliatan mempunyai hak untuk melakukan aborsi dengan mcnggunakan pertimbangan Demi menyelamatkan ibu hamil atau janinnya. Berdasarkan pasal 15 ayat (2) Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992, tindakan medis (aborsi) sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta pertimbangan tim ahli. Aborsi tersebut dapat dilakukan dengan persetujuan dari ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluargnya. Hal tersebut berarti bahwa apabila prosedur tersebut telah terpenuhi maka aborsi yang dilakukan bersifat legal atau dapat dibenarkan dan dilindungi secara hukum. Dengan kata lain vonis medis oleh tenaga kesehatan terhadap hak reproduksi perempuan bukan merupakan tindak pidana atau kejahatan.

Berbeda halnya dengan aborsi yang dilakukan tanpa adanya pertimbangan medis sebagaimana yang ditentukan dalam pasal 15 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 tahun 1992, aborsi jenis ini disebut dengan aborsi provokatus kriminalis. Artinya bahwa tindakan aborsi seperti ini dikatakan tindakan ilegal atau tidak dapat dibenarkan secara hukum. Tindakan aborsi seperti ini dikatakan sebagai tindakan pidana atau kejahatan. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengkualifikasikan perbuatan aborsi tersebut sebagai kejahatan terhadap nyawa. Agar dapat membahas secara detail dan cermat mengenai aborsi provokatus kriminalis, kiranya perlu diketahui bagaimana konstruksi hukum yang berakitan dengan tindakan aborsi sebagai kejahatan yang ditentukan dalam KUHP. Pasal 346 : "Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. Pasal 347 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pasal 348 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun . (2) Jika

perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Pasal 349 : Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.

C. Transplantasi Organ Transplantasi organ dan jaringan tubuh manusia merupakan tindakan medik yang sangat bermanfaat bagi pasien dengan ganguan fungsi organ tubuh yang berat. Ini adalah terapi pengganti (alternatif) yang merupakan upaya terbaik untuk menolong pasie dengan kegagalan organnya,karena hasilnya lebih memuaskan dibandingkan dan hingga dewasa ini terus berkembang dalam dunia kedokteran, namun tindakan medik ini tidak dapat dilakukan begitu saja, karena masih harus dipertimbangkan dari segi non medik, yaitu dari segi agama, hokum, budaya, etika dan moral. Kendala lain yang dihadapi Indonesia dewasa ini dalam menetapkan terapi transplatasi, adalah terbatasnya jumlah donor keluarga (Living Related Donor/LRD) dan donasi organ jenazah. karena itu diperlukan kerjasama yang saling mendukung antara para pakar terkait (hulum, kedokteran, sosiologi, pemuka agama, pemuka masyarakat), pemerintah dan swata. 1. Jenis-Jenis Transplantasi Kini telah dikenal beberapa jenis transplantasi atau pencangkokan , baik berupa cel, jaringan maupun organ tubuh yaitu sebagai berikut: a).Transplantasi Autologus Yaitu perpindahan dari satu tempat ketempat lain dalam tubuh itu sendiri,yang dikumpulkan sebelum pemberian kemoterapi, b).Transplantasi Alogenik Yaitu perpindahan dari satu tubuh ketubuh lain yang sama spesiesnya,baik dengan hubungan keluarga atau tanpa hubungan keluarga. c).Transplantasi Singenik Yaitu perpindahan dari satu tubuh ketubuh lain yang identik,misalnya pada gambar identik, d).Transplantasi Xenograft Yaitu perpindahan dari satu tubuh ketubuh lain yang tidak sama spesiesnya.

Organ atau jaringan tubuh yang akan dipindahkan dapat diambil dari donor yang hidup atau dari jenazah orang yang baru meninggal dimana meninggal sendiri didefinisikan kematian batang otak. Organ-organ yang diambil dari donor hidup seperti : kulit ginjal sumsum tulang dan darah (transfusi darah). Organ-organ yang diambil dari jenazah adalah jantung, hati, ginjal, kornea, pancreas, paru-paru dan sel otak. Dalam 2 dasawarsa terakhir telah dikembangkan tehnik transplantasi seperti transplantasi arteria mamaria interna dalam operasi lintas koroner oleh George E. Green. dan Parkinson. 2. Hukum transplantasi organ a).Aspek hukum transplantasi Dari segi hukum ,transplantasi organ,jaringan dan sel tubuh dipandang sebagai suatu hal yang mulia dalam upaya menyehatkan dan mensejahterakan manusia,walaupun ini adalah suatu perbuatan yang melawan hukum pdana yaitu tindak pidana penganiayaan.tetapi mendapat pengecualian hukuman,maka perbuatan tersebut tidak lagi diancam pidana, dan dapat dibenarkan. Dalam PP No.18 tahun 1981 tentana bedah mayat klinis, beda mayat anatomis dan transplantasi alat serta jaringan tubuh manusia tercantum pasal tentang transplantasi sebagai berikut : Pasal 1. c. Alat tubuh manusia adalah kumpulan jaringan-jaringa tubuh yang dibentuk oleh beberapa jenis sel dan mempunyai bentuk serta faal (fungsi) tertentu untuk tubuh tersebut. Pasal 1 : d. Jaringan adalah kumpulan sel-sel yang mmempunyai bentuk dan faal (fungsi) yang sama dan tertentu. Pasal 1: e. Transplantasi adalah rangkaian tindakan kedokteran untuk pemindahan dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang lain dalam rangka pengobatan untuk menggantikan alat dan atau jaringan tubuh ynag tidak berfungsi dengan baik. Pasal 1: f. Donor adalah orang yang menyumbangkan alat atau jaringan tubuhnya kepada orang lain untuk keperluan kesehatan. Pasal 1: g. Meninggal dunia adalah keadaan insani yang diyakini oleh ahli kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak, pernafasan, dan atau denyut jantung seseorang telah berhenti. Ayat g mengenai definisi meninggal dunia kurang jelas,maka IDI dalam seminar nasionalnya mencetuskan fakta tentang masalah mati yaitu bahwa seseorang dikatakan mati bila fungsi spontan pernafasan da jantung telah berhenti secara pasti atau irreversible,atau terbukti telah terjadi kematian batang otak.

Pasal 10. Transplantasi organ dan jaringan tubuh manusia dilaukan dengan memperhatikan ketentuan yaitu persetujuan harus tertulis penderita atau keluarga terdekat setelah penderita meninggal dunia. Pasal 11: 1 Transplantasi organ dan jaringan tubuh hanya boleh dilakukan oleh dokter yang ditunjukolehmentri kesehatan. Ayet 2 Transplantasi alat dan jaringan tubuh manusia tidak boleh dilakukan oleh dokter yang merawat atau mengobati donor yang bersangkutan. Pasal 12 Penentuan saat mati ditentukan oleh 2 orang dokter yang tudak ada sangkut paut medik dengan dokter yang melakukan transplantasi. Pasal 13 Persetujuan tertulis sebagaimana dimaksudkan yaitu dibuat diatas kertas materai dengan 2(dua) orang saksi. Pasal 14 Pengambilan alat atau jaringan tubuh manusia untuk keperluan transplantasi atau bank mata dari korban kecelakaan yang meninggal dunia,dilakukan dengan persetujuan tertulis dengan keluarga terdekat. Pasal 15 : 1 Senbelum persetujuan tentang transplantasi alat dan jaringan tubuh manusia diberikan oleh donor hidup,calon donor yang bersangkutan terlebih dahulu diberitahu oleh dokter yang merawatnya,termasuk dokter konsultan mengenai operasi,akibat-akibatya,dan kemungkinankemungkinan yang terjadi. Pasal 2. Dokter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus yakin benar ,bahwa calon donor yang bersangkutan telah meyadari sepenuhnya arti dari pemberitahuan tersebut. Pasal 16. Donor atau keluarga donor yang meninggal dunia tidak berhak dalam kompensasi material apapun sebagai imbalan transplantasi. Pasal 17 Dilarang memperjual belikan alat atau jaringan tubuh manusia. Pasal 18 Dilarang mengirim dan menerima alat dan jaringan tubuh manusia dan semua bentuk ke dan dari luar negeri. Selanjutnya dalam UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan dicantumkan beberapa pasal tentang transplantasi sebagai berikut: Pasal 33:1 Dalam penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat dilakukan transplantasi organ dan jaringan tubuh,transfuse darah ,imflan obat dan alat kesehatan,serta bedah plastic dan rekontruksi. Pasal 2 Transplantasi organ dan jaringan serta transfuse darah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan hanya untuk tujuan kemanusiaan kemanusiaan yang dilarang untuk tujjuan komersial. Pasal 34 :1 Transplantasi organ dan jaringan tubuh hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan disaran kesehatan tertentu. Pasal 2.Pengambilan organ dan jaringan tubuh dari seorang donor harus memperhatikan kesehatan donor yang bersangkutan dan ada persetujuan ahli waris atau keluarganya. 3.Ketentuan mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan transplantasi sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan peraturan pemerintah. b).Aspek Etik Transplantasi

Transplantasi merupakan upaya terakhir untuk menolong seorang pasien dengan kegagalan fungsi salah satu organ tubuhnya.dari segi etik kedokteran tindakan ini wajib dilakukan jika ada indikasi,berlandaskan dalam KODEKI,yaitu : Pasal 2. Seorang dokter harus senantiasa melakukan profesinya menurut ukuran tertinggi. Pasal 10. Setiap dokter harus senantiasa mengingat dan kewajibannya melindungi hidup insani. Pasal 11. Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan keterampilannya untuk kepentingan penderita. Pasal-pasal tentang transplantasi dalam PP No. 18 tahun 1981,pada hakekatnya telah mencakup aspek etik, mengenai larangan memperjual belikan alat atu jaringan tubuh untuk tujuan transplantasi atau meminta kompensasi material. Yang perlu diperhatikan dalam tindakan transplantasi adalah penentuan saat mati seseorang akan diambil organnya, yang dilakukan oleh 2 orang doter yang tidak ada sangkt paut medik dengan dokter yang melakukan transplantasi,ini erat kaitannya dengan keberhasilan transplantasi, karena bertambah segar organ tersebut bertambah baik hasilnya.tetapi jangan sampai terjadi penyimpangan karena pasien yang akan diambil organnya harus benar-benar meninggal dan penentuan saat meninggal dilakukan dengan pemeriksaan elektroensefalografi dan dinyatakan meninggal jika terdapat kematian batang otak dan sudah pasti tidak terjadi pernafasan dan denyut jantung secara spontan.pemeriksaan dilakukan oleh para dokter lain bukan dokter transplantasi agar hasilnya lebih objektif. 3. Devicies ( Alat-Alat)

Alat-alat yang biasanya digunakan meliputi : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. Cusa (pisau pemotong yang menggunakan gelombang ultrasonografi), Meja operasi, Gunting , Pisau operasi, Bedah, Slang-slang pembiusan, Drap (kain steril yang digunakan untuk menutup bagian tubuh yang tidak dioperasi), Plastic steril berkantong yang fingsinya menampung darah yang meleleh dari tubuh pasien, Retractor, Penghangat darah dan cairan, Lampu operasi.

D.Prinsip-prinsip Legal Dalam Praktek Keperawatan Sikap etis profesional yang kokoh dari setiap perawat akan tercermin dalam setiap langkahnya, termasuk penampilan diri serta keputusan yang diambil dalam merespon situasi yang muncul. Oleh karena itu pemahaman yang mendalam tentang etika dan moral serta penerapannya menjadi bagian yang sangat penting dan mendasar dalam memberikan asuhan keperawatan atau kebidanan dimana nilai-nilai pasen selalu menjadi pertimbangan dan dihormati. 1. Advokasi Advokasi adalah memberikan saran dalam upaya melindungi dan mendukung hak-hak pasien. Hal tersebut merupakan suatu kewajiban moral bagi perawat, dalam menemukan kepastian tentang dua sistem pendekatan etika yang dilakukan yaitu pendekatan berdasarkan prinsip dan asuhan. Perawat atau yang memiliki komitmen tinggi dalam mempraktekkan keperawatan profesional dan tradisi tersebut perlu mengingat hal-hal sbb: a. Pastikan bahwa loyalitas staf atau kolega agar tetap memegang teguh komitmen utamanya terhadap pasen. b. Berikan prioritas utama terhadap pasen dan masyarakat pada umumnya. c. Kepedulian mengevaluasi terhadap kemungkinan adanya klaim otonomi dalam kesembuhan pasien. Istilah advokasi sering digunakan dalam hukum yang berkaitan dengan upaya melindungi hak manusia bagi mereka yang tidak mampu membela diri. Arti advokasi menurut ANA (1985) adalah melindungi klien atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapa pun. Fry (1987) mendefinisikan advokasi sebagai dukungan aktif terhadap setiap hal yang memiliki penyebab atau dampak penting. Definisi ini mirip dengan yang dinyatakan Gadow (1983) bahwa advokasi merupakan dasar falsafah dan ideal keperawatan yang melibatkan bantuan perawat secara aktif kepada individu secara bebas menentukan nasibnya sendiri. Posisi perawat yang mempunyai jam kerja 8 sampai 10 atau 12 jam memungkinkannya mempunyai banyak waktu untuk mengadakan hubungan baik dan mengetahui keunikan klien sebagai manusia holistik sehingga berposisi sebagai advokat klien (curtin, 1986). Pada dasarnya, peran perawat sebagai advokat klien adalah memberi informasi dan memberi bantuan kepada klien atas keputusan apa pun yang di buat kilen, memberi informasi berarti menyediakan informasi atau penjelasan sesuai yang dibutuhkan klien, memberi bantuan mengandung dua peran, yaitu peran aksi dan peran nonaksi. Dalam menjalankan peran aksi, perawat memberikan keyakinan kepada klien bahwa mereka mempunyai hak dan tanggung jawab dalam menentukan pilihan atau keputusan sendiri dan tidak tertekan dengan pengaruh orang lain, sedangkan peran nonaksi mengandungarti pihak advokat seharusnya menahan diri untuk tidak memengaruhi keputusan klien (Khonke, 1982). Dalam

menjalankan peran sebagai advokat, perawat harus menghargai klien sebagai induvidu yangmemiliki berbagai karakteristik. Dalam hal ini, perawat memberikan perlindungan terhadap martabat dan nilai manusiawi klien selama dalam keadaan sakit. 2. Responsibilitas Resposibilitas (tanggung jawab) adalah eksekusi terhadap tugas-tugas yang berhubungan dengan peran tertentu dari perawat. Pada saat memberikan tempat. 3. Loyalitas Loyalitas merupakan suatu konsep yang melewati simpati, peduli, dan hubungan timbal balik terhadap pihak yang secara profesional berhubungan dengan perawat. Hubungan profesional dipertahankan dengan cara menyusun tujuan bersama, menepati janji, menentukan masalah dan prioritas, serta mengupayakan pencapaian kepuasan bersama (Jameton, 1984, Fry, 1991). Untuk mencapai kualitas asuhan keperawatan yang tinggi dan hubungan dengan berbagai pihak yang harmonis, loyalitas harus dipertahankan oleh setiap perawat baik loyalitas kepada klien, teman sejawat, rumah sakit maupun profesi.

E.Malpraktek atau Neglected Malpraktek adalah kelalaian dari seseorang dokter atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama. Malpraktek harus dibuktikan bahwa apakah benar telah terjadi kelalaian tenaga kesehatan dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang ukurannya adalah lazim dipergunakan diwilayah tersebut. 1. kelalaian memakai tolak ukur yakni : a. Cara Langsung Dalam hubungan perjanjian tenaga perawatan dengan pasien, tenaga perawatan haruslah bertindak berdasarkan: 1). Adanya indikasi medis 2). Bertindak secara hati-hati dan teliti 3). Bekerja sesuai standar profesi 4). Sudah ada informed consent. b. Cara Tidak Langsung

Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi pasien, yakni dengan mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya sebagai hasil layanan perawatan (doktrin res ipsa loquitur). Doktrin res ipsa loquitur dapat diterapkan apabila fakta-fakta yang ada memenuhi kriteria: 1).Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila tenaga perawatan tidak lalai. 2).Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab tenaga perawatan. 3).Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak ada contributory negligence.(gugatan pasien). 2. Upaya Pencegahan Malpraktek Dalam Pelayanan Kesehatan Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga medis karena adanya malpraktek diharapkan tenaga dalam menjalankan tugasnya selalu bertindak hati-hati, yakni: a. Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya, karena perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan perjanjian akan berhasil (resultaat verbintenis). b. Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent. c. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis. d. Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter. e. Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala kebutuhannya. f. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat sekitarnya.

3. Sanksi Hukum a. Jika perbuatan malpraktik khususnya yang dilakukan oleh tenaga medis, terbukti dilakukan dengan unsur kesengajaan (dolus) dan ataupun kelalaian (culpa), maka adalah hal yang sangat pantas jika yang bersangkutan dikenakan sanksi pidana karena dengan unsur kesengajaan ataupun kelalaian telah an telah melakukan perbuatan melawan hukum yang bisa menghilangkan Jika perbuatan malpraktik khususnya yang dilakukan oleh tenaga medis, terbukti dilakukan dengan unsur kesengajaan (dolus) dan ataupun kelalaian (culpa), maka adalah hal yang sangat pantas jika yang bersangkutan dikenakan sanksi pidana karena dengan unsur kesengajaan ataupun kelalainyawa seseorang. Prita terbukti dilakukan dengan unsur kesengajaan (dolus) dan ataupun kelalaian (culpa), maka adalah hal yang sangat pantas jika dokter yang bersangkutan dikenakan sanksi pidana karena dengan unsur kesengajaan ataupun kelalaian telah melakukan perbuatan melawan hukum yaitu menghilangkan nyawa seseorang, serta tidak menutup kemungkinan juga dapat mengancam dan membahayakan keselamatan jiwa ibu yang melakukan aborsi.

Dalam Kitab-Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) kelalaian yang mengakibatkan celaka atau bahkan hilangnya nyawa orang lain. Pasal 359, misalnya menyebutkan, Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun. Sedangkan kelalaian yang mengakibatkan terancamnya keselamatan jiwa seseorang dapat diancam dengan sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 360 Kitab-Undang-Undang. b. Kitab-Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). (1)Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat, diancam dengan pidasna penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun. (2)Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain lukaluka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau kurungan paling lama enam bulan atau denda paling tinggi tiga ratus rupiah. Pemberatan sanksi pidana juga dapat diberikan terhadap mereka yang terbukti melakukan malpraktik, sebagaimana Pasal 361 Kitab-Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam menjalankan suatu jabatan atau pencarian, maka pidana ditambah dengan sepertiga dan yang bersalah dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana dilakukan kejahatan dan hakim dapat memerintahkan supaya putusannya diumumkan. Namun, apabila kelalaian dokter tersebut terbukti merupakan malpraktik yang mengakibatkan terancamnya keselamatan jiwa dan atau hilangnya nyawa orang lain maka pencabutan hak menjalankan pencaharian (pencabutan izin praktik) dapat dilakukan. c. Berdasarkan Pasal 361 Kitab-Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan aturan kode etik profesi praktik dokter. Tindakan malpraktik juga dapat berimplikasi pada gugatan perdata oleh seseorang (pasien) terhadap dokter yang dengan sengaja (dolus) telah menimbulkan kerugian kepada pihak korban, sehingga mewajibkan pihak yang menimbulkan kerugian (dokter) untuk mengganti kerugian yang dialami kepada korban, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1365 Kitab-Undang-Undang Hukum Perdata (KUHP perdata). Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian pada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut. Sedangkan kerugian yang diakibatkan oleh kelalaian (culpa) diatur oleh Pasal 1366 yang berbunyi: Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hati-hatinya. d. Melihat berbagai sanksi pidana dan tuntutan perdata yang tersebut di atas dapat dipastikan bahwa bukan hanya pasien yang akan dibayangi ketakutan. Tetapi, juga para tim medis akan dibayangi kecemasan diseret ke pengadilan karena telah melakukan malpraktik dan bahkan juga tidak tertutup kemungkinan hilangnya profesi pencaharian akibat dicabutnya izin praktik. Dalam situasi seperti ini azas kepastian hukum sangatlah penting untuk dikedepankan dalam kasus malpraktik demi terciptanya supremasi hukum.

e. Apalagi, azas kepastian hukum merupakan hak setiap warga negara untuk diperlakukan sama di depan hukum (equality before the law) dengan azas praduga tak bersalah (presumptions of innocence) sehingga jaminan kepastian hukum dapat terlaksana dengan baik dengan tanpa memihak-mihak siapa pun. Hubungan kausalitas (sebab-akibat) yang dapat dikategorikan seorang dokter telah melakukan malpraktik, apabila (1) Bahwa dalam melaksanakan kewajiban tersebut, dokter telah melanggar standar pelayanan medik yang lazim dipakai. (2) Pelanggaran terhadap standar pelayanan medik yang dilakukan merupakan pelanggaran terhadap Kode Etik Kedokteran Indonesia (Kodeki). (3) Melanggar UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. f. Peran pengawasan terhadap pelanggaran kode etik (Kodeki) sangatlah perlu ditingkatkan untuk menghindari terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang mungkin sering terjadi yang dilakukan oleh setiap kalangan profesi-profesi lainnya seperti halnya advokat/pengacara, notaris, akuntan, dll. Pengawasan biasanya dilakukan oleh lembaga yang berwenang untuk memeriksa dan memutus sanksi terhadap kasus tersebut seperti Majelis Kode Etik. Dalam hal ini Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK). Jika ternyata terbukti melanggar kode etik maka dokter yang bersangkutan akan dikenakan sanksi sebagaimana yang diatur dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia. g. Namun, jika kesalahan tersebut ternyata tidak sekedar pelanggaran kode etik tetapi juga dapat dikategorikan malpraktik maka MKEK tidak diberikan kewenangan oleh undang-undang untuk memeriksa dan memutus kasus tersebut. Lembaga yang berwenang memeriksa dan memutus kasus pelanggaran hukum hanyalah lembaga yudikatif. Dalam hal ini lembaga peradilan. Jika ternyata terbukti melanggar hukum maka dokter yang bersangkutan dapat dimintakan pertanggungjawabannya. Baik secara pidana maupun perdata. Sudah saatnya pihak berwenang mengambil sikap proaktif dalam menyikapi fenomena maraknya gugatan malpraktik. Dengan demikian kepastian hukum dan keadilan dapat tercipta bagi masyarakat umum dan komunitas profesi. Dengan adanya kepastian hukum dan keadilan pada penyelesaian kasus malpraktik ini maka diharapkan agar para dokter tidak lagi menghindar dari tanggung jawab hukum profesinya.

BAB III PEMBAHASAN

A. Prinsip Etika Keperawatan Pada saat menghadapi masalah yang menyangkut etika, perawat harus mempunyai kemampuan yang baik untuk pasien maupun dirinya. Beberapa ahli menyatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari. Perawat sebenarnya telah menghadapi permasalahan etis, bahkan Thompson dan Thompson menyatakan semua keputusan yang dibuat dengan, atau tentang pasien mempunyai dimensi etis.

Setiap perawat harus dapat mendeterminasi dasar-dasar yang ia miliki dalam membuat keputusan misalnya agama, kepercayaan atau falsafah moral tertentu yang menyatakan hubungan kebenaran atau kebaikan dengan keburukan. Beberapa orang membuat keputusan dengan mempertimbangkan segi baik dan buruk dari keputusannya, ada pula yang membuat keputusan berdasarkan pengalamannya. Dalam membuat keputusan etis, seseorang harus berpikir secara rasional,bukanemosional.

B.Isu Etik Dalam Keperawatan Manusia etik adalah manusia yang bertingkah laku baik karena ia selalu memilih, dia bertanggungjawab kepada kata hatinya menurut petunjuk kata hatinya, dia bertanggungjawab kepada siapapun yg berhak menuntut jawab dg sah atas perbuatannya satu-satunya pedoman bagi tingkah lakunya ialah, dia berkepribadian keyakinan bahwa apa yg dilakukan itu adalah baik, mempunyai integritas pribadi & tidak terombang ambing oleh berbudi luhur apapun dalam pendiriannya yang etik. C.Transplantasi Organ Pada dasarnya, apabila organ-organ tubuh dari seorang yang telah meninggal dunia, seperti ginjal, hati, kornea mata, dapat menolong menyelamatkan atau memperbaiki hidup seorang lainnya yang masih hidup, maka transplantasi yang demikian adalah baik secara moral dan bahkan patut dipuji. Patut dicatat bahwa donor wajib memberikan persetujuannya dengan bebas dan penuh kesadaran sebelum wafatnya, atau keluarga terdekat wajib melakukannya pada saat kematiannya: Transplantasi organ tubuh tidak dapat diterima secara moral, kalau pemberi atau yang bertanggung jawab untuk dia tidak memberikan persetujuan dengan penuh kesadaran. Devices Alat-alat yang di gunakan untuk melakukan transplantasi organ.Alat -alat ini sangat membantu dalam proses tersebut,sehingga dapat menjamin pasien tersebut dapat beraktivitas seperti semula.

D.Prinsip-Prinsip Legal Dalam Praktek Keperawatan Pada saat menghadapi masalah yang menyangkut etika, perawat harus mempunyai kemampuan yang baik untuk pasien maupun dirinya. Beberapa ahli menyatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, perawat sebenarnya telah menghadapi permasalahan etis, bahkan Thompson dan Thompson menyatakan semua keputusan yang dibuat dengan, atau tentang pasien mempunyai dimensi etis. Setiap perawat harus dapat mendeterminasi dasar-dasar yang ia miliki dalam membuat keputusan misalnya agama, kepercayaan atau falsafah moral tertentu yang menyatakan hubungan kebenaran atau kebaikan dengan keburukan.

Beberapa orang membuat keputusan dengan mempertimbangkan segi baik dan buruk dari keputusannya, ada pula yang membuat keputusan berdasarkan pengalamannya. E.Malpraktek Dan Neglected Kelalaian dapat bersifat ketidaksengajaan, kurang teliti, kurang hati hati, acuh tak acuh, sembrono, tidak peduli terhadap kepentingan orang lain tetapi akibat tindakan bukanlah tujuannya. Kelalaian bukan suatu pelanggaran hukum atau kejahatan. Jika kelalaian itu tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat menerimannya, namun jika kelalaian itu mengakibatkan kerugian materi, mencelakakan atau bahkan merenggut nyawa orang lain. F. Informed Consent Informed Consent terdiri dari dua kata yaitu informed yang berarti telah mendapat penjelasan atau keterangan (informasi), dan consent yang berarti persetujuan atau memberi izin. Jadi informed consent mengandung pengertian suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapat informasi. Dengan demikian informed consent dapat didefinisikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya. Menurut D. Veronika Komalawati, SH , informed consent dirumuskan sebagai suatu kesepakatan/persetujuan pasien atas upaya medis yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah memperoleh informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya disertai informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi. Suatu informed consent baru sah diberikan oleh pasien jika memenuhi minimal 3 (tiga) unsure sebagai berikut : Keterbukaan informasi yang cukup diberikan oleh dokter Kompetensi pasien dalam memberikan persetujuan Kesukarelaan (tanpa paksaan atau tekanan) dalam memberikan persetujuan. Di Indonesia perkembangan informed consent secara yuridis formal, ditandai dengan munculnya pernyataan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tentang informed consent melalui SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 pada tahun 1988. Kemudian dipertegas lagi dengan PerMenKes No. 585 tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik atau Informed Consent. Hal ini tidak berarti para dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia tidak mengenal dan melaksanakan informed consent karena jauh sebelum itu telah ada kebiasaan pada pelaksanaan operatif, dokter selalu meminta persetujuan tertulis dari pihak pasien atau keluarganya sebelum tindakan operasi itu dilakukan. Secara umum bentuk persetujuan yang diberikan pengguna jasa tindakan medis (pasien) kepada pihak pelaksana jasa tindakan medis (dokter) untuk melakukan tindakan medis dapat dibedakan menjadi tiga bentuk. 1. Bentuk-Bentuk Persetujuan

a. Persetujuan Tertulis, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang mengandung resiko besar, sebagaimana ditegaskan dalam PerMenKes No. 585/Men.Kes/Per/IX/1989 Pasal 3 ayat (1) dan SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 butir 3, yaitu intinya setiap tindakan medis yang mengandung resiko cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan tertulis, setelah sebelumnya pihak pasien memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medis serta resiko yang berkaitan dengannya (telah terjadi informed consent); b. Persetujuan Lisan, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang bersifat non-invasif dan tidak mengandung resiko tinggi, yang diberikan oleh pihak pasien; c. Persetujuan dengan isyarat, dilakukan pasien melalui isyarat, misalnya pasien yang akan disuntik atau diperiksa tekanan darahnya, langsung menyodorkan lengannya sebagai tanda menyetujui tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya. 2. Tujuan Pelaksanaan Informed Consent Dalam hubungan antara pelaksana (dokter) dengan pengguna jasa tindakan medis (pasien), maka pelaksanaan informed consent, bertujuan : Melindungi pengguna jasa tindakan medis (pasien) secara hukum dari segala tindakan medis yang dilakukan tanpa sepengetahuannya, maupun tindakan pelaksana jasa tindakan medis yang sewenang-wenang, tindakan malpraktek yang bertentangan dengan hak asasi pasien dan standar profesi medis, serta penyalahgunaan alat canggih yang memerlukan biaya tinggi atau over utilization yang sebenarnya tidak perlu dan tidak ada alasan medisnya; Memberikan perlindungan hukum terhadap pelaksana tindakan medis dari tuntutan-tuntutan pihak pasien yang tidak wajar, serta akibat tindakan medis yang tak terduga dan bersifat negatif, misalnya terhadap risk of treatment yang tak mungkin dihindarkan walaupun dokter telah bertindak hati-hati dan teliti serta sesuai dengan standar profesi medik. Sepanjang hal itu terjadi dalam batas-batas tertentu, maka tidak dapat dipersalahkan, kecuali jika melakukan kesalahan besar karena kelalaian (negligence) atau karena ketidaktahuan (ignorancy) yang sebenarnya tidak akan dilakukan demikian oleh teman sejawat lainnya. Perlunya dimintakan informed consent dari pasien karena informed consent mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut : 1. Penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku manusia. 2. promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri 3. untuk mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati pasien 4. menghindari penipuan dan misleading oleh dokter 5. mendorong diambil keputusan yang lebih rasional 6. mendorong keterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan

7. sebagai suatu proses edukasi masyarakat dalam bidang kedokteran dan kesehatan. Pada prinsipnya iformed consent deberikan di setiap pengobatan oleh dokter. Akan tetapi, urgensi dari penerapan prinsip informed consent sangat terasa dalam kasus-kasus sebagai berikut : a. Dalam kasus-kasus yang menyangkut dengan pembedahan/operasi b. Dalam kasus-kasus yang menyangkut dengan pengobatan yang memakai teknologi baru yang sepenuhnya belum dpahami efek sampingnya. c. Dalam kasus-kasus yang memakai terapi atau obat yang kemungkinan banyak efek samping, seperti terapi dengan sinar laser, dll. d. Dalam kasus-kasus penolakan pengobatan oleh klien e. Dalam kasus-kasus di mana di samping mengobati, dokter juga melakukan riset dan eksperimen dengan berobjekan pasien. 3. Aspek Hukum Informed Consent Dalam hubungan hukum, pelaksana dan pengguna jasa tindakan medis (dokter, dan pasien) bertindak sebagai subyek hukum yakni orang yang mempunyai hak dan kewajiban, sedangkan jasa tindakan medis sebagai obyek hukum yakni sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi orang sebagai subyek hukum, dan akan terjadi perbuatan hukum yaitu perbuatan yang akibatnya diatur oleh hukum, baik yang dilakukan satu pihak saja maupun oleh dua pihak. Dalam masalah informed consent dokter sebagai pelaksana jasa tindakan medis, disamping terikat oleh KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) bagi dokter, juga tetap tidak dapat melepaskan diri dari ketentuan-ketentuan hukun perdata, hukum pidana maupun hukum administrasi, sepanjang hal itu dapat diterapkan. Pada pelaksanaan tindakan medis, masalah etik dan hukum perdata, tolok ukur yang digunakan adalah kesalahan kecil (culpa levis), sehingga jika terjadi kesalahan kecil dalam tindakan medis yang merugikan pasien, maka sudah dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum. Hal ini disebabkan pada hukum perdata secara umum berlaku adagium barang siapa merugikan orang lain harus memberikan ganti rugi. Sedangkan pada masalah hukum pidana, tolok ukur yang dipergunakan adalah kesalahan berat (culpa lata). Oleh karena itu adanya kesalahan kecil (ringan) pada pelaksanaan tindakan medis belum dapat dipakai sebagai tolok ukur untuk menjatuhkan sanksi pidana.

Aspek Hukum Perdata, suatu tindakan medis yang dilakukan oleh pelaksana jasa tindakan medis (dokter) tanpa adanya persetujuan dari pihak pengguna jasa tindakan medis (pasien), sedangkan pasien dalam keadaan sadar penuh dan mampu memberikan persetujuan, maka dokter sebagai pelaksana tindakan medis dapat dipersalahkan dan digugat telah melakukan suatu perbuatan melawan hukum

(onrechtmatige daad) berdasarkan Pasal 1365 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer). Hal ini karena pasien mempunyai hak atas tubuhnya, sehingga dokter dan harus menghormatinya; Aspek Hukum Pidana, informed consent mutlak harus dipenuhi dengan adanya pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penganiayaan. Suatu tindakan invasive (misalnya pembedahan, tindakan radiology invasive) yang dilakukan pelaksana jasa tindakan medis tanpa adanya izin dari pihak pasien, maka pelaksana jasa tindakan medis dapat dituntut telah melakukan tindak pidana penganiayaan yaitu telah melakukan pelanggaran terhadap Pasal 351 KUHP. Sebagai salah satu pelaksana jasa tindakan medis dokter harus menyadari bahwa informed consent benar-benar dapat menjamin terlaksananya hubungan hukum antara pihak pasien dengan dokter, atas dasar saling memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak yang seimbang dan dapat dipertanggungjawabkan. Masih banyak seluk beluk dari informed consent ini sifatnya relative, misalnya tidak mudah untuk menentukan apakah suatu inforamsi sudah atau belum cukup diberikan oleh dokter. Hal tersebut sulit untuk ditetapkan secara pasti dan dasar teoritis-yuridisnya juga belum mantap, sehingga diperlukan pengkajian yang lebih mendalam lagi terhadap masalah hukum yang berkenaan dengan informed consent ini.

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Sering kali perawat dihadapkan pada situasi yang memerlukan keputusan untuk mengambil tindakan. Sebagai perawat yang professional kita di tuntut untuk mengambil tindakan yang tidak merugikan perawat maupun pasien itu sendiri. Dengan mengenal, mempelajari dan menerapkan prinsip-prinsip etika dalam diri seorang perawat maka tujuan dari proses keperawatan dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan hukum dan norma yang berlaku. Seorang perawat juga akan mampu mengambil keputusan yang terbaik dalam melaksanakan tindakan keperawatan yang ada. B. Saran 1. Sebaiknya dalam melakukan tindak keperawatan,seorang perawat harus bertindak sesuai dengan prinsip etika tersebut. 2. Dalam menghadapi situasi yang memerlukan keputusan untuk mengambil tindakan, seorang perawat harus mampu memberikan tindakan sesuai dengan norma hukum yang berlaku.