Você está na página 1de 11

FURUNCLE OF NOSE

1.1 Pengertian Furunkel adalah peradangan pada folikel rambut dan jaringan yang disekitarnya, yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Apabila furunkelnya lebih dari satu maka disebut furunkolosis.(2,3,6)

Gambar 3.1 Follicular skin infection(7)

1.2 Penyebaran

Furunkel lebih sering pada musim panas, karena banyak berkeringat. Dari segi umur onsetnya dapat terjadi pada anak-anak dan juga orang muda. Frekuensinya lebih banyak pada anak laki-laki (7).
1.3 Etiologi / Penyebab

Etiologinya kebanyakan oleh Staphylococcus aureus

(2,3,7)

, merupakan sel-sel

berbentuk bola atau coccus Gram positif yang berpasangan berempat dan berkelompok. Staphylococcus aureus merupakan bentuk koagulase positif, ini yang membedakannya dari spesies lain, dan merupakan patogen utama bagi manusia. Pada Staphylococcus koagulase negatif merupakan flora normal manusia. Staphylococcus menghasilkan katalase yang membedakannya dengan streptococcus
(7)

. Furunculosis

pada nasal vestibule sering terjadi. Sering karena trauma dan picking hidung atau dan pukulan yang hebat pada hidung menyebabkan kerusakan pada kulit, yang diikuti oleh masuknva Staphylococcus atau Strepiococcus atau organisme yang masuk ke jaringan subkutan. Hidung menjadi lunak sesuai perkembangan infeksi, dan keseluruh ujung hidung, alae, dan bibir mungkin meniadi bengkak dan merah (3).
1.4 Faktor Predisposisi yang mempengaruhi munculnya penyakit ini (7)

Sebenarnya yang mempengaruhi untuk terjadinya pioderma, khususnya furunkel atau furunkolosis ada tiga faktor yaitu faktor host, agent, dan lingkungan.

Faktor host: 1. diabetes militus 2. kegemukan 3. sindrom hiper Ig E 4. carier kronik S. aureus (hidung) 5. gangguan kemotaktik 6. ada penyakit yang mendasari seperti HIV 7. sebagai komplikasi dari dermatitis atopi, ekscoriasi, scabies atau pedikulosis (adanya lesi pada kulit atau kulit tidak utuh bisa juga karena garukan atau sering bergesekan) Agent : biasanya S. aureus Lingkungan : 1. lingkungan yang kotor atau kebersihannya jelek 2. iklim panas
1.5 Patofisiologi, Patogenesis, Patologi

Banyak hal yang mempengaruhi seseorang sampai terjadinya pioderma antara lain faktor host, agent, dan lingkungan seperti yang telah dipaparkan diatas dimana adanya ketidak seimbangan antara ketiga faktor tersebut. Staphylococcus
3

mengandung polisakarida dan protein yang bersifat antigen yang merupakan substansi penting di dalam struktur dinding sel. Peptidoglikan, suatu polimer polisakarida yang mengandung subunit-subunit yang terangkai, merupakan eksoskeleton kaku pada dinding sel. Peptidoglikan dihancurkan oleh asam kuat atau lisozim. Hal ini merupakan penting dalam potogenitas infeksi : zat ini menyebabkan monosit membuat interleukin-1 (pirogen endogen) dan antibodi opsonik, dan zat ini juga menjadi zat kimia penarik (kemotraktan) untuk leukosit polimorfonuklear, mempunyai aktifitas mirip endotoksin, mengaktifkan komplement. Patologi prototipe lesi staphylococcus adalah furunkel atau abses setempat lainnya. Kelompok-kelompok S. aureus yang tinggal dalam folikel rambut menimbulkan nekrosis jaringan. Koagulase dihasilkan dan mengkoagulasi fibrin disekitar lesi dan didalam saluran getah bening, mengakibatkan pembentukan dinding yang membatasi preses dan diperkuat oleh penumpukan sel radang dan kemudian jaringan fibrosis. Di tengah-tengah lesi, terjadi pencairan jaringan nekrotik (dibantu oleh hipersensitivitas tipe lambat) dan abses mengarah pada daerah yang daya tahannya paling kecil, setelah jaringan nekrotik mengalir keluar, rongga secara perlahan-lahan diisi dengan jaringan granulasi dan akhirnya sembuh (7). Furunkulosis pada hidung dapat terjadi karena sebagian besar koloni hidup pada nares anterior (lubang hidung): 20% - 30% penduduk pada pemeriksaan usap hidung adalah carrier dan stafilokokus coaguluse positive. Autoinfeksi terjadi pada

1/3 dari kejadian infeksi. Orang yang mempunyai lesi berair atau yang mengeluarkan discharge purulen rnerupakan sumber penularan yang paling sering menyebabkan wabah. Penularan melalui kontak dengan orang yang rnempunyai lesi purulen atau orang tanpa gejala (nasal carrier dan strain yang patogenik). Carrier tertentu lebih efektif rnenyebarkan infeksi dan pada yang lain. Peran dan obyek yang terkontaminasi terlalu dilebih-lebihkan, tangan adalah instrumen yang paling penting dalam penyebaran infeksi. Penularan lewat udara sangat jarang terjadi tetapi pernah ditemukan pada bayi dengan infeksi virus pada saluran pernafasan (3).
1.6 Gambaran Klinik

Bakteri masuk ke dalam folikel rambut sehingga menimbulkan folikulitis dan perifolikulitis, tampak sebagai nodus kemerahan dan sangat nyeri. Pada keadaan yang berat dapat disertai gejala demam, malaise, dll. Setelah 2-4 hari terjadi proses supurasi dan terbentuk abses ini dapat diketahui dengan adanya fluktuasi. Pada bagian tengah lesi terdapat bintik kekuningan yang merupakan jaringan nekrotik, dan disebut mata bisul (core). Bila abses pecah inti jaringan nekrotik tersebut akan keluar. Perawatan khusus ialah pada furunkel maligna yaitu furunkel yang timbul pada daerah segitiga yang dibatasi oleh bibir atas dan pinggir lateral kedua mata, oleh karena dapat meluas ke dalam intra kranial. Masalah lain yaitu bisa terjadi penyebaran bakteri yang lebih dalam atau lebih luas sehingga bisa juga terjadi selulitis atau bakterimia. Dan apabila higinis penderita jelek atau menderita diebetes

militus, furunkel menjadi sering kambuh. Predileksi penyakit ini biasanya pada daerah yang berambut misalnya pada wajah, punggung, kepala, ketiak, bokong dan ekstrimitas, dan terutama pada daerah yang banyak bergesekan.(2,7) Furunkel pada rongga hidung paling sering terjadi di ujung hidung. Furunkel pada hidung sering memberikan gambaran kemerahan, indurasi, sekelilingnya menjadi terlihat tinggi dan daerah ini berangsur-angsur lunak menjadi bentuk mata furunkel diperjelas dengan warna kuning, lesi tetap pada ujung hidung, nyeri mungkin bisa sangat hebat. Efloresensi, lesi awal berupa infiltrat kecil, membesar membentuk nodul eritematosa berbentuk kerucut, nyeri, terdapat core (mata bisul), kemudian melunak menjadi abses, pecah, terbentuk ulkus.(7)

Gambar 3.2 Furunkulosis pada hidung (7)

1.7 Cara Mendiagnosa (7).

Diagnosis furunkel atau furunkolosis kebanyakan dapat ditegakkan secara klinis mengingat gambaran klinisnya yang khas yaitu lesi awal berupa infiltrat kecil, membesar membentuk nodul eritematosa berbentuk kerucut, nyeri, terdapat core (mata bisul), kemudian melunak menjadi abses, pecah, terbentuk ulkus. Tetapi untuk lebih menegakkan diagnosisnya yaitu dari segi : 1. anamnesis : timbul bisul atau benjolan yang nyeri dan ada matanya. 2. pemeriksaan fisik khususnya efloresensi nodul eritema berbentuk kerucut, dan ditengahnya terdapat core 3. pemeriksaan penunjang : pengecatan Gram, kultur dan tes sensitivitas
1.8 Diagnosis banding (7)

Diagnosis banding furunkolosis adalah folikulitis dan karbunkel. Antara furunkolosis dan folikulitis dapat dibedakan dari segi efloresensinya kalau pada folikulitis berupa macula eritematus, papul, pustula, tidak terdapat core dan jaringan disekitarnya tidak meradang. Antara furunkolosis dengan karbunkel, dapat dibedakan dari segi efloresensinya mirip dengan furunkel hanya saja ukurannya lebih besar dan mata bisulnya lebih dari satu. Dan biasanya sering dijumpai pada penderita DM.

1.9 Komplikasi

Berikut adalah beberapa komplikasi furunkel (2,3,7): 1. furunkel malignan : yaitu furunkel yang timbul pada daerah segitiga yang dibatasi oleh bibir atas dan pinggir lateral kedua mata, oleh karena dapat meluas ke dalam intra kranial melalui vena facialis dan anguular emissary dan juga pada vena tersebut tidak mempunyai katup sehingga menyebar ke sinus cavernosus yang nantinya bisa menjadi meningitis. 2. selulitis bisa terjadi apabila furunkel menjadi lebih dalam dan meluas. 3. bakterimia dan hematogen : bakteri berada di dalam darah dapat mengenai katup jantung, sendi, spine, tulang panjang, organ viseral khususnya ginjal 4. furunkel yang berulang, hal ini disebabkan oleh higine yang buruk
1.10

Penatalaksanaan / Pengobatannya

Furunkel pada hidung memerlukan perawatan yang baik dan perlu kehatihatian sebab berbahaya terjadi penyebaran infeksi pada orbita dan sinus caverernosus. Pasien harus diberi tahu untuk tidak membuka atau menekan lesinva. Lesi pertarna bisa digagalkan oleh sinar roentgen 200 r unit tanpa di filter. Sulfadiazine dosis 15 gram (0975 gm). Setiap 6 jam sekali. Lalu diteruskan dengan kornpres hangat larutan saturasi asarn boric harus ditambahkan lebih banyak pada lesi yang parah sampai melunak dan pointingnya kumplit.(1,3,5)

Infeksi harus diobati secara agressif dengan antibiotik

(1,2,3,5,7)

, misalnva

dicloxacillin 500 mg peroral. Untuk infeksi stafilokokus yang berat gunakan penicillinase-recistant penicillin; untuk mereka yang hipersentif terhadap penisilin gunakan cephalosporin yang aktif untuk stafilokokus atau dapat diberikan clindamycin. Untuk infeksi sisternik yang berat perlu dipilih antibiotika yang sesuai dengan basil tes kerentanan dan isolat. Vanconiycin adalah obat pilihan untuk infeksi berat yang disebabkan oleh stafilokokus Coagulase negative dan yang disebabkan oleh infeksi S. aureus yang resisten terhadap metisilin diberikan sesegera rnungkin secara parentral . Strain Siaphylococcus aureus yang menurun kerentanannya terhadap Vancornycin dan terhadap antibiotika jenis glikopeptida disebut sebagai strain GISA diternukan dan dilaporkan dan Jepang dan AS pada tahun 1990an. Strain ini diisolasi dan penderita yang diberi pengobatan dengan vancornycin dalarn waktu yang lama (berbulan-bulan). Isolat ini sebagai bukti terjadinya peningkatan munculnva S. aureus yang resisten terhadap antibiotika ini. Antibiotik topikal ointment (neomycin-polymyxin-bacitracin) rnungkin berguna. Analgetik atau narkotik untuk rnengurangi nyeri
(2,3)

. Jika ini gagal untuk

rnenghilangkan obstruksi pada canal, insisi dan drainase dengan anestesi Iokal merupakan indikasi (1,2,3,5,7).

Kadang-kadang infeksi meninggalkan sisa dan rnenyebar menjadi cellulitis rnengakibatkan penekanan pada furunkel atau incise sebelum pus di lokalisasi. Area inii dan juga daerah bibir atas, rnernpunyai drainase vena langsung melewati vena angular ke sinus cavernosus. Percobaan pengeluaran pus secara cepat pada furunkel atau insisi pada daerah ini dimana disana ada cellulitis rnungkin rnenyebabkan infeksi menyebar ke sinus cavernosus dan kematian terjadi dalarn beberapa hari. Triangle dibentuk oleh gambaran garis dan corner pada mulut naik ke glabella mengarah ke triangle yang berbahaya. lnfeksi kulit pada daerah ini ( termasuk vestibuli pada hidung ) harus di therapi tanpa manipulasi mekanik untuk rnenghindari trombosis sinus.(3)
1.11

Prognosis (7)

Umumnya baik. Asalkan mendapatkan penanganan yang adekuat dan faktor penyebab dapat dihilangkan, dan prognosis menjadi kurang baik bila terjadi komplikasi.

10

11