PERMASALAHAN POKOK DALAM PENDIDIKAN MATEMATIKA SERTA ALTERNATIF SOLUSI

Sebelum mengkaji lebih jauh tentang permasalahan pendidikan matematika di Indonesia, mari kita lebih dahulu mengkaji permasalahan pendidikan secara umum. Masalah Pendidikan Indonesia A. Paradigma Pendidikan Indonesia Diakui atau tidak sistem pendidikan yang dianut oleh Indonesia dalah Sekuler-Materialistis. Hal ini dibuktikan oleh UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi: jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagamaan, dan khusus. Dari pasal ini tampak jelasa adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Secara kelembagaan, pendidikan agama dibawah departemen agama sedangkan pendidikan umum berada di bawah departemen pendidikan nasional. Pendidikan Sekuler-Materialistis ini memang bisa melahirkan orang pandai yang menguasai sains dan teknologi, namun gagal dalam membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan agamanya. Sebaliknya peserta didik yang menempuh pendidikan agama, mereka berhasil menguasai ilmu agama serta berkepribadian baik, tetapi mereka buta akan perkembangan sains dan teknologi yang ada. Solusi: Mengubah asas pendidikan dari sekuler-materialistis ke pendidikan islam. Selanjutnya menentukan arah dan tujuan sistem pendidikan baru tersebut serta menerapkan kurikulum dan standar nasional pendidikan. B. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik Banyak sekali lembaga pendidikan memiliki gedung rusak, kebermanfaatan gedung yang kurang, buku perpustakaan yang tidak memadai, serta laboratorium yang jarang terpakai dan tidak lengkap, bahkan banyak lembaga pendidikan yang tidak memiliki gedung sendiri. Solusi: Hal ini berkaitan dengan kewajiban pemerintah secara penuh dalam hal pendidikan rakyatnya, tentunya berkaitan dengan sistem ekonomi yang ada. Untuk itu pemerintah wajib memberikan

pengetahuan/wawasan kewirausahaan agar setiap warga negaranya bisa mandiri dan nanti bisa memberikan imbasnya pada pemasukan pemerintah melalui sektor pajak. C. Rendahnya Kualitas Guru Keadaan guru Indonesia sangat memprihatinkan, kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme memadai untuk menjalankan tugasnya sebagai mana disebut dalam pasal 39 UU sisdiknas no 20 tahun 2003, yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian pada masyarakat. Solusi: Untuk mengatasi rendahnya kualitas guru selain kesejahteraan mereka terpenuhi, diperlukan adanya bantuan pendidikan lanjutan untuk para guru demi meningkatkan keprofesionalitasnya serta mengikutsertakan mereka dalam pelatihan-pelatihan dan diklat sesuai mata pelajaran yang diampunya. D. Rendahnya Kesejahteraan Guru Rendahnya kualitas guru dipicu oleh rendahnya kesejahteraan guru, banyak dari mereka melakukan pekerjaan sampingan, seperti bekerja di lembaga bimbingan belajar dan lain-lain. Solusi: Hal ini berkaitan dengan kewajiban pemerintah secara penuh dalam hal pendidikan rakyatnya, tentunya berkaitan dengan sistem ekonomi yang ada. Untuk itu pemerintah wajib memberikan pengetahuan/wawasan kewirausahaan agar setiap warga negaranya bisa mandiri dan nanti bisa memberikan imbasnya pada pemasukan pemerintah melalui sektor pajak. E. Mahalnya Biaya Pendidikan Akibat dari sistem pendidikan yang salah, banyak anak-anak kurang mampu yang terpaksa putus sekolah/mengenyam pendidikan formal. Hal ini diakibatkan oleh mahalnya biasya pendidikan. Untuk tingkat TK saja, biaya masuknya mulai dari 1 juta bahkan sampai 5 juta untuk setiap calon paserta didik. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan formal hanya untuk orang kaya. Solusi: Hal ini berkaitan dengan kewajiban pemerintah secara penuh dalam hal pendidikan rakyatnya, tentunya berkaitan dengan sistem ekonomi yang ada. Untuk itu pemerintah wajib memberikan

komunikasi satu arah. lebih dominan soal rutin. pengaturan ruang kelas monoton. Skala Matematika TIMSS – Benchmark Internasional menunjukkan bahwa siswa Indonesia berada pada skala rendah (peringkat bawah). berkomunikasi secara matematis. namun sedikit atau sama sekali tidak ada penekanan untuk penerapan matematika dalam konteks kehidupan seharihari. PPG dan Ditjen P4TK. terutama dalam pelajaran matematika perlu adanya kerjasama antar lembaga terkait. LPMP. dan pertanyaan tingkat rendah. atau nasional). Solusi: Rendahnya kemampuan siswa Indonesia disebabkan oleh rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. bergantung kepada buku paket. B. lebih fokus pada kemampuan prosedural. materi kurang membumi.pengetahuan/wawasan kewirausahaan agar setiap warga negaranya bisa mandiri dan nanti bisa memberikan imbasnya pada pemasukan pemerintah melalui sektor pajak. Masalah Pendidikan Matematika A. Hasil Video Study menunjukkan juga bahwa: ceramah merupakan metode yang paling banyak . kabupaten/kota. Malaysia pada skala antara menengah dan tinggi (di peringkat tengah). Hal ini ditandai dengan data TIMSS 2003 yang menunjukkan bahwa penekanan pembelajaran di Indonesia lebih banyak pada penguasaan keterampilan dasar (basic skills). dan bernalar secara matematis. Proses pembelajaran dikelas kurang meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi serta kuran dalam hal penerapan dalam kehidupan sehari-hari. wakil Himpunan Matematikawan Indonesia (HMI atau IndoMS) yang menyatakan karakteristik pembelajaran matematika saat ini adalah lebih mengacu pada tujuan jangka pendek (lulus ujian sekolah. Namun siswa Indonesia (169 jam di Kelas 8) lebih banyak menggunakan waktu dibandingkan siswa Malaysia (120 jam di Kelas 8) dan Singapura (112 jam di Kelas 8). Dalam segala kegiatannya harus dilakukan kegiatan monitoring dan evaluasi untuk memastikan tingkat keberhasilan meningkatkan mutu pendidikan matematika di Indonesia. untuk mengatasi hal tersebut. antara lain MGMP. low order thinking skills. Pendapat Ashari. Rendahnya kemampuan siswa indonesia Hal ini ditandai oleh data TIMSS 2003 menunjukkan bahwa prestasi siswa Indonesia (Rata-rata: 411) agak jauh di bawah Malaysia (Rata-rata: 508) dan Singapura (Rata-rata: 605). dan Singapura berada pada skala lanjut (peringkat atas).

Ironisnya. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). menyusun . kebanyakan guru sangat bergantung dan sangat mempercayai buku teks yang mereka pakai. Dalam pemecahan masalah siswa dipusatkan pada cara menghadapi persoalan dengan langkah penyelesaian yang sistematis yaitu memahami masalah. agar peserta didik tidak hanya menerima materi yang diajarkan guru. dan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM). Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM). guru lebih banyak berbicara dibandingkan dengan siswa. Contextual Teaching and Learning (CTL). dan sebagian besar guru belum menguasai keterampilan bertanya. Paradigma Matematika di kalangan peserta didik Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah dengan presentase jam pelajaran yang paling banyak dibanding dengan mata pelajaran yang lainya.digunakan selama mengajar. Ketakutan-ketakutan dari siswa tidak hanya disebabkan oleh siswa itu sendiri. Diantara pendekatan pembelajaran yang mendukung yaitu. C. bukan “mengetahuinya“ Solusi: Untuk mengantisipasi masalah tersebut agar tidak berkelanjutan maka para guru terus berusaha menyusun dan menerapkan berbagai metode yang bervariasi. melainkan kurangnya kemampuan guru dalam menciptakan situasi yang dapat membawa siswa tertarik pada matematika. Pembelajaran Kooperatif. Belajar matematika akan lebih bermakna jika anak “mengalaminya“ dengan apa yang dipelajarinya. Proses belajar mengajar matematika yang baik adalah guru harus mampu menerapkan suasana yang dapat membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada. tetapi juga mereka mengerti tentang materi tersebut dan kaitannya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. waktu yang digunakan siswa untuk problem solving 32% dari seluruh waktu di kelas. matematika termasuk pelajaran yang tidak disukai banyak siswa. Bagi mereka pelajaran matematika cenderung dipandang sebagai mata pelajaran yang “kurang diminati” dan “kalau bisa dihindari”. sehingga mereka mampu mencoba memecahkan permasalahanya. Salah satu metode yang diterapkan yaitu pembelajaran matematika dengan pendekatan Improve yang menggunakan metode pemecahan masalah. hampir semua guru memberikan soal rutin dan kurang menantang. Solusi: Perlunya penerapan pendekatan pembelajaran yang mendukung peningkatan berpikir tingkat tinggi.

2010:1) mengatakan bahwa. Melihat begitu pentingnya matematika tidak mengherankan jika matematika dipelajari secara luas dan mendasar sejak jenjang pendidikan sekolah dasar. Sedangkan dengan pendekatan Improve siswa diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar matematika. seperti kimia. fisika. analitis. dan kreatif. kritis. “Matematika bukan hanya alat bantu untuk matematika itu sendiri. melaksanakan rencana dan memeriksa kembali sebagian persoalan yang dihadapi agar dapat diatasi. Dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah mata pelajaran matematika (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tanggal 23 mei 2006 tentang standar isi) bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis. serta kemampuan bekerjasama. Ruseffendi (dalam Septiani. teknik dan farmasi”. mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Dengan demikian siswa dapat belajar matematika tidak hanya mendengarkan pelajaran yang diberikan guru saja namun diperlukan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika Permasalahan Pembelajaran Matematika di Sekolah 6 Sep 3 Votes Tulisan berikut saya ambil dari LBM skripsi saya yang berjudul: Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematika Siswa ————————————————————————————————– Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern. sistematis. biologi. tetapi banyak konsep-konsepnya yang sangat diperlukan oleh ilmu lainnya. Kemampuan ini dapat .rencana penyelesaian.

Utomo dan Ruijter (Suparno. Setelah diberi petunjuk pun. Matematika dipelajari oleh kebanyakan siswa secara langsung dalam bentuk yang sudah jadi . Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi dan mengkomunikasikan gagasan. Oleh sebab itu. kemampuan berpikir terutama yang menyangkut aktivitas matematika perlu mendapatkan perhatian khusus dalam proses pembelajaran matematika. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. serta mencoba-coba. jelas bahwa siswa sebagai bagian dari masyarakat harus dibekali dengan kemampuan berpikir kritis yang baik. mereka masih juga tidak dapat menyelesaikan soal-soal tersebut. Wijaya (dalam Radiansyah. Kemampuan berpikir matematika khususnya berpikir matematika tingkat tinggi sangat diperlukan siswa. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi. terkait dengan kebutuhan siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. kenyataan di lapangan belum sesuai dengan yang diharapkan. 2010:1) adalah: 1. sehingga guru menerangkan seluruh penyelesaiannya. 2000:31) memaparkan bahwa pada latihan pemecahan soal ternyata hanya sebagian kecil siswa yang dapat mengerjakannya dengan baik. membuat prediksi dan dugaan. Namun. sebab banyak sekali persoalan-persoalan dalam kehidupan yang harus dikerjakan dan diselesaikan”. namun fokus dan perhatian pada upaya meningkatkan kemampuan berpikir matematika siswa masih jarang dikembangkan. matematika sebagai bagian dari kurikulum pendidikan dasar. orisinil. Karena kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dan memecahkan permasalahan yang ada dalam kehidupan di masyarakat. 3. dan keterampilan analisis. Rendahnya kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematika siswa juga dapat dilihat dari hasil jawaban siswa dalam mengerjakan soal-soal matematika di sekolah yang masih belum memuaskan.dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran matematika karena tujuan pembelajaran matematika di sekolah menurut Depdiknas (dalam Herman. memainkan peranan strategis dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. dan 4. Aisyah (2008:4) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa rendahnya kemampuan berpikir kritis disebabkan upaya pengembangan kemampuan berpikir kritis di sekolah-sekolah jarang dilakukan. Beberapa keterampilan berpikir yang dapat meningkatkan kecerdasan memproses adalah keterampilan berpikir kritis. keterampilan mengorganisir otak. keterampilan berpikir kreatif. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan. Hasil studi menyebutkan bahwa meski adanya peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan. Dengan demikian. 2. 2010) mengatakan bahwa “Kemampuan berpikir kritis dan kreatif sebagai bagian dari keterampilan berpikir perlu dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. Menurut Herman (2010:1) salah satu penyebab rendahnya penguasaan matematika siswa adalah guru tidak memberi kesempatan yang cukup kepada siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya. sebagian besar tidak tahu apa yang harus dikerjakan. intuisi. rasa ingin tahu. dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen.

“Pelajaran matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak pada umumnya merupakan mata pelajaran yang tidak disenangi”. Matematika masih sulit dipahami oleh siswa. 2. salah satunya adalah cara penyampaian materi. 4. . metode yang digunakan kurang bervariasi.(formal). 2004:1) mengungkapkan bahwa kebanyakan guru dalam mengajar masih kurang memperhatikan kemampuan berpikir siswa. Anggapan tersebut sudah melekat pada anak-anak. Soal yang diberikan tidak berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan siswa belum terbiasa diberikan soal-soal tidak rutin. Walaupun matematika dikenal sebagai ilmu yang sukar dipahami. Sebagian besar siswa masih menganggap matematika merupakan mata pelajaran yang sukar dipelajari dan menakutkan bagi mereka. akan tetapi banyak faktor yang dapat membantu memudahkan pemahaman matematika. Siswa menganggap bahwa pembelajaran matematika yang diikuti di sekolah kurang menarik dan kurang menyenangkan. Para siswa masih merasa malas untuk mempelajari matematika karena terlalu banyak rumus. dan kompetitif. sehingga berdampak negatif terhadap proses pembelajaran siswa dalam matematika. 2009). Sehingga tidak hanya rendah pada kemampuan aspek mengerti matematika sebagai pengetahuan (cognitive) tetapi juga aspek sikap (attitude) terhadap matematika juga masih belum memuaskan. Para siswa menganggap bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang membosankan. Direktorat PLP (dalam Widdiharto. 6. 3. diantaranya: 1. Siswa masih merasa bingung dalam mengaplikasikan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. mengelola. Soal yang diberikan adalah soal-soal rutin yang kurang meningkatkan kemampuan berpikir matematika siswa. dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah. Sedangkan dari hasil penelitian yang dilakukan Rohmayasari (2010:68) didapat bahwa sikap dan kemampuan berpikir matematika siswa masih rendah dan belum memuaskan. Hal ini disampaikan oleh Ruseffendi (dalam Puspita. Padahal kemampuan itu yang sangat diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh. dan sebagai akibatnya motivasi belajar siswa menjadi sulit ditumbuhkan dan pola belajar cenderung menghafal dan mekanistis. misalnya saja dengan menekankan kepada keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar sehingga potensi siswa dapat berkembang dengan baik. tidak pasti. Soal matematika yang diberikan sulit untuk dikerjakan. Mereka merasa tidak termotivasi untuk belajar matematika dan sulit untuk bisa meyenangi matematika sehingga pada akhirnya mengakibatkan hasil belajar matematika menjadi kurang memuaskan. karena matematika dipandang oleh kebanyakan guru sebagai suatu proses yang prosedural dan mekanistis. 5. 7. atau dengan kata lain tidak melakukan pembelajaran bermakna.

pertanyaan dari siswa jarang muncul. praktek pembelajaran di kelas. terutama yang berkaitan dengan prestasi belajar siswa. Kekurangan guru dalam memilih metode mengajar bisa menjadi salah satu penyebab kurang baiknya hasil belajar siswa. penulis berpendapat bahwa untuk membuat pelajaran matematika menjadi bermakna. ruang kelas dan kelompok siswa”. Dalam proses belajar mengajar. Guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional yang berlangsung satu arah yaitu guru menerangkan dan siswa mendengarkan. proses mengajar dan proses berpikir kreatif. Oleh karena itu belajar kooperatif adalah . mencatat lalu menghafalnya sehingga tujuan pembelajaran akan cepat selesai. Hal ini harus diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dalam kelompok kecil. 2010:3) tradisi mengajar seperti ini merupakan karakteristik umum bagaimana guru melaksanakan pembelajaran di Indonesia. efektif serta banyak disukai oleh siswa maka perlu digunakannya model pembelajaran yang menarik. dan memberikan soal-soal latihan. yang memungkinkan siswa saling membantu dalam memahami suatu konsep. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif. Berdasarkan uraian di atas.Proses pendidikan mencakup proses belajar. memecahkan masalah dan mengaplikasikan pengetahuan. Syah (2008:248) mengungkapkan bahwa. Aktivitas pembelajaran kooperatif disamping menekankan pada kesadaran siswa belajar. Menyikapi permasalahan-permasalahan yang timbul dalam pendidikan matematika di sekolah. sehingga dapat menurunkan motivasi belajar dan inisiatif siswa untuk bertanya dan mengungkapkan ide. memeriksa dan memperbaiki jawaban teman sebagai masukan serta kegiatan lain yang bertujuan untuk mencapai hasil belajar yang optimal. seperti penggunaan metode yang tepat dalam proses pembelajaran tersebut. guru menjelaskan matematika melalui metode ceramah (chalk-and-talk). yaitu: individu siswa. guru. Pembelajaran matematika konvensional bercirikan: berpusat pada guru. pentingnya meningkatkan kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi. konsep serta keterampilan kepada teman lain. Dalam kegiatan pembelajaran guru biasanya menjelaskan konsep secara informatif. “Dalam setiap proses belajar mengajar di sekolah sekurangkurangnya melibatkan empat komponen pokok. pendukung keberhasilan seorang guru dalam pembelajaran tidak hanya dari kemampuannya dalam menguasai materi akan tetapi faktor lain pun dapat mendukung. Karenanya kemampuan guru dalam memilih metode mengajar merupakan hal penting dalam kegiatan belajar mengajar. berorientasi pada satu jawaban yang benar. siswa akan merasa senang menyumbangkan pengetahuannya kepada teman atau anggota lain dalam kelompoknya. Pandangan umum yang masih dianut oleh guru dan masih berlaku sampai sekarang ialah bahwa dalam proses belajar mengajar. siswa pasif. Menurut Armanto (dalam Herman. Akibatnya siswa menjadi kurang aktif dan pembelajaran merupakan suatu hal yang membosankan bagi siswa. Semua komponen ini memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang unik dan berpengaruh terhadap jalannya proses belajar mengajar. memberikan contoh soal. Dalam proses pembelajaran matematika guru umumnya terlalu berkonsentrasi pada latihan menyelesaikan soal yang lebih bersifat prosedural dan mekanistis daripada menanamkan pemahaman. salah satu solusinya adalah dengan meningkatkan kualitas pembelajaran. pengetahuan dialihkan dari guru kepada siswa. dan aktivitas kelas yang sering dilakukan hanyalah mencatat atau menyalin.

M. Adapun pada pembelajaran Two Stay Two Stray ini. Sehingga dapat meningkatkan kreatifitas dan keaktifan siswa dalam belajar matematika. atau memberikan petunjuk (hint) seperlunya”. Dalam pembelajaran yang dilakukan secara kooperatif (cooperative learning) dalam kelompok kecil dua sampai empat orang. perasaan terlibat yang lebih besar.R. pengelompokan secara homogen mempunyai dampak negatif. saling membantu tercapainya hasil belajar yang baik. Walaupun menurut Gordon (dalam Ati. Tetapi guru belum memperlihatkan adanya aktivitas kelas yang terstruktur sehingga peran setiap anggota kelompok belum terlihat. berbagi sumber diantara siswa. maka pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dapat dijadikan salah satu model pembelajaran matematika di sekolah. sama dengan memberikan cap atau label pada tiap-tiap peserta didik. N. Dalam model pembelajaran Two Stay Two Stray ini siswa dapat memperoleh banyak informasi sekaligus dalam kelompok yang berbeda. lebih banyak bimbingan perorangan. Referensi: Ati. Pengelompokan berdasarkan kemampuan. siswa belajar untuk mengungkapkan pendapat dan meningkatkan hubungan persahabatan. sedang dan siswa yang berkemampuan tinggi. dalam hal ini heterogen kemampuan akademiknya. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray terhadap Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa SMA. Atas dasar uraian yang telah dikemukakan sebelumnya. Selain itu. Label ini bisa menjadi vonis yang diberikan terlalu dini. terutama bagi peserta didik yang dimasukkan dalam kelompok yang lemah. salah satunya adalah pembelajaran Two Stay Two Stray (TS-TS). Suparno (2000:131) menyatakan bahwa: Struktur kooperatif dibandingkan dengan struktur kompetisi dan usaha individual. berkurangnya rasa takut akan gagal dan berkembangnya sikap saling mempercayai diantara para siswa. karena dalam kelompok homogen tidak dapat banyak perbedaan yang bisa mengasah proses berpikir. “Guru dituntut terampil menerapkan teknik scaffolding yaitu membantu kelompok secara tidak langsung menggunakan teknik bertanya dan teknik probing yang efektif. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNPAS: tidak diterbitkan . “Pada dasarnya manusia senang berkumpul dengan sepadan dan membuat jarak dengan yang berbeda”. lebih menunjang komunikasi yang lebih efektif dan pertukaran informasi diantara siswa. bernegosiasi. Sebagian guru berpikir bahwa mereka sudah menerapkan pembelajaran kooperatif tiap kali menyuruh siswa bekerja di dalam kelompok-kelompok kecil. Dalam hal ini Herman (2010:8) berpendapat bahwa. Selain itu. berargumentasi dan berkembang. (2008). 2008:16). Seorang siswa bisa merasa tidak mampu. patah semangat dan tidak mau berusaha lagi. Namun pengelompokan dengan orang lain yang sepadan dan serupa ini bisa menghilangkan kesempatan anggota kelompoknya untuk memperluas wawasan dan memperkaya diri. diantaranya praktik ini jelas bertentangan dengan misi pendidikan. siswa dikelompokkan dengan pengelompokan secara heterogen.saling menguntungkan antar siswa yang berkemampuan rendah. Dalam pembelajaran kooperatif dikenal berbagai tipe. guru melakukan intervensi secara proporsional dan terarah.

(2010). (2010). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray terhadap Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa SMP.S. evaluasi. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNPAS: tidak diterbitkan Septiani. dan penarikan .S. makhluk hidup. A. IPA bersifat open ended. Pengaruh Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Multimedia Interaktif Tipe Tutorial terhadap Hasil Belajar dan Motivasi Siswa SMP di Jawa Barat. metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis. http://lkpk.org/2010/12/01/mengembangkan-kemampuan-berpikir-kritis/ Diakses 5 mei 2011 Puspita. Membangun Kompetensi Belajar. D. fenomena alam. Bandung: Remaja Rosdakarya Widdiharto. (2) proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNPAS: tidak diterbitkan Herman. I. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNPAS: tidak diterbitkan Suparno. (2004). Yogyakarta: Depdiknas Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah PPPG Matematika Yogyakarta Problem Dasar Pembelajaran Sains Hakikat pembelajaran Sains (Puskur. perancangan eksperimen atau percobaan. Penerapan Strategi Konflik Kognitif dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. (2008). N. http://dewiratri. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas Syah. Radiansyah. T. T. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis.R. I.Aisyah. Model-Model Pembelajaran Matematika SMP. (2011). (2000). (2010).com/2009/05/30/proposal-skripsi/ Diakses 22 April 2011 Rohmayasari. serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar. Membangun Pengetahuan Siswa Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah.blog. M. 2003) adalah pembelajaran yang mampu merangsang kemampuan berfikir siswa meliputi empat unsur utama (1) sikap: rasa ingin tahu tentang benda. R. (2008). Pengaruh Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kontekstual (CTL) terhadap peningkatan Kemampuan Berpikir Analitis dan Kreatif Siswa SMA di Jawa Barat. pengukuran. (2009).

Ini artinya bahwa siswa-siswa Indonesia tersebut diduga baru mampu mengingat pengetahuan ilmiah berdasarkan fakta sederhana (Puskur. Hal ini disebabkan kira-kira dua per tiga siswa di negara-negara peserta memperoleh skor antara 400 dan 600 pada PISA 2003. Hal ini mengingat arti literasi sains/IPA (scientific literacy) itu sendiri yang ditandai dengan kerja ilmiah. Padahal pengajaran sains dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah pengajaran yang mengajarkan siswa bagaimana belajar. teori. dan tiga dimensi besar literasi sains yang ditetapkan oleh PISA. Untuk menilai apakah IPA diimplementasikan di Indonesia. Skor rata-rata pencapaian siswa ditetapkan sekitar nilai 500 dengan simpangan baku 100 point. Dalam prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi hal ini berkaitan dengan pengembangan keterampilan hidup. dan bagaimana memotivasi diri mereka dan sekaligus kesadaran diri adalah konsep dasar pengajaran metakognitif (teaching metacognitive) yang ingin diangkat dalam penelitian ini. prinsip. hasil penelitian Dra. pertama hasil penelitian Rowan Hollingworth dan Catherine McLoughlin berjudul The Development of Metacognitive Skill Among First Year Science Student yang menyebutkan kemampuan metacognitive perlu diberikan guna meningkatkan keteraturan belajar sains dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. 2007) Dalam prioritas pembangunan pendidikan nasional ditekankan juga pengembangan kemampuan belajar. kita dapat melihat hasil literasi IPA anak-anak Indonesia. (3) produk: berupa fakta. (4) aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari. Konsep tentang bagaimana belajar. proses IPA. Kedua. Hasil penelitian PISA tahun 2000 dan tahun 2003 menunjukkan bahwa literasi sains anak-anak Indonesia usia 15 tahun masing-masing berada pada peringkat ke 38 (dari 41 negara) dan peringkat ke 38 dari (40 negara) (Bastari Purwadi. Dalam proses pembelajaran IPA keterlibatan keempat unsur ini.Pd berjudul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Biologi Dengan Strategi Metakognitif Untuk Memberdayakan Kecakapan Berfikir Pada Siswa SMU”. bagaimana mengingat. 2005). yang kemudian diterjemahkan dalam pendidikan kecakapan hidup. bagaimana mengingat. bagaimana berfikir.kesimpulan. Ini artinya skor yang dicapai oleh siswasiswa Indonesia kurang lebih terletak di sekitar angka 400. 2005). Pengajaran sains merupakan proses aktif yang berlandaskan konsep konstruktivisme yang berarti bahwa sifat pengajaran sains adalah pengajaran yang berpusat pada siswa (student centered instruction). Oleh sebab itu perlu diberikan pengajaran strategi belajar kepada siswa sebab keberhasilan siswa sebagian besar bergantung pada kemahiran untuk mengajar secara mandiri dan memonitor belajar mereka sendiri (Nur. diharapkan dapat membentuk peserta didik memiliki kemampuan pemecahan masalah dengan metode ilmiah. M. bagaimana berfikir. Dalam peristilahan lain hal ini dapat disebut sebagai kesadaran diri (self awareness). dan meniru cara ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta baru Namun pembelajaran sains yang selama ini terjadi di sekolah belum mengembangkan kecakapan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Penggunaan lembar penilaian pemahaman diri (LPPD) oleh guru dalam penelitian tersebut diketahui dapat memberikan . Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dua hasil penelitian. Endang Susantini. dan hukum. dan konteks IPA. dan bagaimana memotivasi diri mereka (Nur. yaitu konten IPA. 2006).

learning to be. Namun. sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap. Pada tahun 1960 . dan learning to live together. bekerja secara tekun dan mau meningkatkan kemampuannya Kurikulum dan Sejarahnya di Indonesia Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan. learning to do. sejauh ini belum pelatihan metakognitif yang ditujukan kepada para guru untuk mampu mengimplementasikan metode metakognitif dalam pembelajaran. kecerdasan afektif dan kecerdasan motorik yang sejauh ini belum mampu dilakukan oleh guru. Idealnya seorang guru harus mampu melahirkan resilence behaviour dari pembelajaran yang dilaksanakannya yang terbentuk dari kecerdasan metakognitif yang merupakan perpaduan antara kecerdasan kognitif. Hal positif lain yang dapat dicapai oleh guru adalah membentuk siswa untuk memiliki sikap jujur. Zainuddin Maliki (Jawa Pos. yaitu learning to know. Tahun 1950 ada kurikulum SD yang disebut “Rencana Pelajaran Terurai”. dan kurang mengembangkan aspek kecerdasan lain yang dimiliki siswa. Dengan pengembangan model pelatihan ini diharapkan dapat memberi dampak kepada guru sehingga menjadi pribadi guru yang mandiri (self regulated teacher). dan juga memiliki dampak bagi siswa sehingga menjadi pelajar yang mandiri (self regulated learner).kecakapan berfikir bagi siswa dan meningkatkan kemandirian siswa. Ditambahkan juga oleh Beyer (1998) bahwa kemampuan metakognitif merupakan pijakan dasar perilaku berfikir (habit of mind) yang merupakan hasil dari proses belajar. Guru sejauh ini cenderung merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang lebih berorientasi kognitif (pengetahuan). Lebih jauh hal ini juga merupakan bagian dari upaya peneliti selaku widyaiswara memiliki peran sebagai inovator dan peneliti dengan harapan mampu memberikan masukan dalam kebijakan terkait dengan kegiatan penjaminan mutu pendidikan. Berangkat dari argumentasi diatas maka perlu dilakukan pengembangan model pelatihan pengajaran metakognitif (teaching metacognitive) yang ditujukan untuk membekalkan ketrampilan metakognitif kepada guru-guru sains. Disisi lain hal ini juga merupakan implementasi dari upaya mewujudkan empat pilar belajar yang dianjurkan UNESCO untuk Pendidikan. 3 Januari 2009) dalam gagasan pendidikan konstruktivistik untuk menghadapi kehidupan yang kompleks ini siswa harus memiliki kecerdasan metakognitif. Resilence behaviour sendiri merupakan perilaku cerdas siswa dalam membangun keseimbangan menghadapi hidup dan kehidupan. afektif dan motorik. meliputi kecerdasan kognitif. berani mengakui kesalahan dan menilai pemahamannya sendiri atau dengan kata lain strategi metakognitif mampu memunculkan kemandirian siswa dalam belajar. Namun penggunaan konsep metakognitif sejauh ini masih sebatas strategi belajar yang bersifat khusus dan belum sebagai pendekatan yang berlaku umum. Padahal menurut Prof. Sehingga diharapkan dapat terbentuk konsep belajar sepanjang hayat (long life education) yang terintegrasi pada pribadi guru dan siswa dan pembelajaran yang dilaksanakan. Konsekuensi bahwa guru harus kreatif.

kecerdasan. Di penghujung era Presiden Soekarno. sosial budaya. Sejarah Kurikulum Indonesia Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan. 1968. dan moral (Pancawardhana). Yang diutamakan pendidikan watak. yang dipelesetkan jadi Kurikulum Berbasis Kebingungan. Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral. a. Siswa kita jangan dijadikan “kelinci percobaan”. 1994. Dalam bahasa Belanda. Ketika itu. perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani. Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950. Perubahan kisi-kisi pendidikan lebih bersifat politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Fokusnya pada pengembangan daya cipta. artinya rencana pelajaran. 1952. dan 2006. yaitu pada tahun 1947. Terakhir tahun 2006 muncul “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” (KTSP). Sebab. Tahun 1968 dikenal “Kurikulum 1968″ pengganti “Kurikulum 1950″. Tahun 1991 CBSA dihentikan lalu muncul “Kurikulum 1994″. kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan. perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya. Rencana Pelajaran Terurai 1952 Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. Majulah pendidikan Indonesia. Bentuknya memuat dua hal pokok: daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya. 1964. Tahun 2004 dikenal “Kurikulum Berbasis Kompetensi” (KBK).muncul “Kurikulum Kewajiban Belajar Sekolah Dasar”. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Tahun 1975 disebut “Kurikulum 1975″ yang fokus pada pelajaran matematika dan Pendidikan Moral Pancasila serta Pendidikan Kewarnegaraan. Riau. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945. plus garis-garis besar pengajaran. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik. sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap. yaitu Pancasila dan UUD 1945. Rencana Pelajaran 1947 Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan. ekonomi. lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Lalu tahun 1970 muncul “Kurikulum Berhitung” diganti dengan pelajaran matematika modern. entah berapa tahun lagi ada kurikulum baru yang membuat bingung semua pihak. seorang guru mengajar satu mata pelajaran. kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. rasa.” kata Djauzak Ahmad. karsa. dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Pada tahun 1984 menyempurnakan Kurikulum 1975 dengan “Cara Belajar Siswa Aktif” (CBSA). karya. Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. 1984. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila. . Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama. 1975. materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian seharihari. di usia 16 tahun Djauzak adalah guru SD Tambelan dan Tanjung Pinang. b. Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995. 2004.

Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan. alat pelajaran. Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. dan sehat jasmani. dan kecakapan khusus. mendiskusikan. keprigelan (keterampilan). Ak. Meski mengutamakan pendekatan proses. pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. kuat. Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas. tapi faktor tujuan tetap penting. dan jasmani. serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat. moral. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah: bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan. . Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis. menjelang tahun 1964. mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani. Mudjito. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik. Kurikulum 1968 Usai tahun 1952. Jumlah pelajarannya 9. mengelompokkan. yaitu pengembangan moral. kecerdasan. yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. keprigelan. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen. yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Dari segi tujuan pendidikan. Kurikulum 1984 Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. materi. materi pelajaran. e. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. dan keyakinan beragama. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum. Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila. dan kecakapan khusus. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). Dari mengamati sesuatu. 2004). c.” katanya. agar pendidikan lebih efisien dan efektif. kegiatan belajar-mengajar. dan jasmaniah. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila. Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Metode. budi pekerti. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis. emosional/artistik. tujuan instruksional khusus (TIK). pengetahuan dasar. dan evaluasi. d. Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964.” kata Drs. pengetahuan dasar. dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). tak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. hingga melaporkan. MSi. Kurikulum 1975 Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964.emosional/artistik. “Hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja.

seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota . dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa. Penolakan CBSA bermunculan.Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Kritik bertebaran. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. keterampilan daerah. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999 Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Walhasil. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD). Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998. h. antara pendekatan proses. Sayangnya. kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa. mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional.” kata Mudjito menjelaskan. Conny R. Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan. lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. KTSP 2006 Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. di sana-sini ada tempelan gambar. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi. Sayangnya. g. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing. Jadi pengambangan perangkat pembelajaran. yakni ujian. Sayang. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. f. dan lain-lain. Pelajaran KTSP masih tersendat. standar kompetensi lulusan (SKL). Dari muatan nasional hingga lokal. Semiawan. Hasilnya tak memuaskan. Meski baru diujicobakan. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984. Guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum. perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. Bila target kompetensi yang ingin dicapai. toh di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa. banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. misalnya bahasa daerah kesenian. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Kurikulum 2004 Bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta — sekarang Universitas Negeri Jakarta — periode 1984-1992.

2004. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama. 1975. B. Sebab. 1984. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikannya. dan sekarang KTSP. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. 1952. dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh. sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. yaitu Pancasila dan UUD 1945. ekonomi. 1968. kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan dua kali dengan penyempurnaan. Pada saat itu. sosial budaya.Sejarah Perkembangan Kurikulum A. yaitu pada tahun 1947. Latar Belakang Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta belajar dalam satu periode jenjang pendidikan. kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang. 1994. 1964. kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945. Kurikulum 1968 dan sebelumnya Awalnya tahun 1947. Kurikulum yang Mewarnai Pendidikan di Indonesia 1. Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka . Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik. perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.

Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan. budi pekerti. agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati. serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat. Kurikulum 1975 Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan. dan keyakinan beragama. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen. menjelang tahun 1964. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik. kuat. Dari segi tujuan pendidikan. yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu. pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila. 2. Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964. Setelah Rentjana Pelajaran 1947. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional.” kata Mudjito. pengetahuan dasar. dan kecakapan khusus. dan sehat jasmani. pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. moral. mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani. kecerdasan. Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas.pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. yaitu pengembangan moral. 2004). Usai tahun 1952. emosional/artistik dan jasmani. Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan pendekatanpendekatan di antaranya sebagai berikut: • Berorientasi pada tujuan .

• Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsangjawab) dan latihan (drill). hingga melaporkan. dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa. Meski mengutamakan pendekatan proses. dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya adalah sebagai berikut: • • • Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang belum tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengan kemampuan anak didik Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di sekolah Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang. Kurikulum 1975 hingga menjelang tahun 1983 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. mendiskusikan. tapi faktor tujuan tetap penting. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL). Dari mengamati sesuatu. Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat atas termasuk Pendidikan Luar Sekolah. . Karena itulah pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 dengan kurikulum 1984. mengelompokkan. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). 3. Bahkan sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratakan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”.• • • Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif. Secara umum. Kurikulum 1984 Kurikulum 1984 mengusung process skill approach.

Dari yang mudah menuju ke sukar dan dari sederhana menuju ke kompleks. Kurikulum 1984 tampil sebagai perbaikan atau revisi terhadap kurikulum 1975. • Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). afektif. CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. baru kemudian diberikan latihan setelah mengerti. baik dalam ranah kognitif. Oleh karena itu. diperlukan perubahan kurikulum. Atas dasar perkembangan itu maka menjelang tahun 1983 antara kebutuhan atau tuntutan masyarakat dan ilmu pengetahuan/teknologi terhadap pendidikan dalam kurikulum 1975 dianggap tidak sesuai lagi. semikonkret. Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut: • Berorientasi kepada tujuan instruksional. intelektual. • Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Konsep-konsep yang dipelajari siswa harus didasarkan kepada pengertian. semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan. • Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya. . Oleh karena itu. dan abstrak dengan menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan. • Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa. sebelum memilih atau menentukan bahan ajar. mental. dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal. Untuk menunjang pemahaman. • Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa.• Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja. maupun psikomotor. semiabstrak. Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret.

Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran yang banyak. Tim ini memandang bahwa materi (isi) pelajaran yang diberikan kepada siswa harus banyak. Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994. Kurikulum 1994 Pada kurikulum sebelumnya. sehingga pada saat siswa selesai mengikuti pelajaran pada periode tertentu akan mendapatkan materi pelajaran yang banyak. proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran.Keterampilan proses adalah pendekatan belajat mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengomunikasikan perolehannya. Pendekatan keterampilan proses dilakukan secara efektif dan efesien dalam upaya mencapai tujuan pelajaran. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran. yaitu kurikulum 1984. Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 4. di antaranya sebagai berikut: • • • Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi) Kurikulum 1994 bersifat populis.” kata Mudjito. Hal ini terjadi karena berkesesuaian dengan suasana pendidikan di LPTK (lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang . yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. pada saat itu dibentuklah Tim Basic Science yang salah satu tugasnya ikut mengembangkan kurikulum di sekolah. antara pendekatan proses. yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Akibatnya. Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya.

potensi siswa. yaitu: • • Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan penyelidikan. Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa. Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar. guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar. terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented).khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar. baik secara mental. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa. Salah satu upaya penyempurnaan itu diberlakukannya Suplemen Kurikulum 1994. dan sosial. serta tuntutan kebutuhan masyarakat. dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya. dan dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks. fisik. Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari. seperti: • • Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak. Dalam pelaksanaan kegiatan. sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. di antaranya sebagai berikut: • • Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran. Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum. guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen. divergen (terbuka. Dalam mengaktifkan siswa. dari hal yang mudah ke hal yang sulit. dimungkinkan lebih dari satu jawaban). .

dan sarana/prasarana termasuk buku pelajaran. evaluasi. sebenarnya kurikulum ini tak berbeda dari kurikulum 1994. Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan berbagai aspek terkait. khususnya dalam mata pelajaran matematika “dikatakan bahwa kegiatan pembelajaran matematika di jenjang persekolahan merupakan suatu kegiatan yang harus dikaji terus menerus dan jika perlu diperbaharui agar dapat sesuai dengan kemampuan murid serta tuntutan lingkungan. perbedaannya hanya pada cara para murid belajar di kelas. namun meski begitu pendidikan yang ada ialah pendidikan untuk semua. yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang. seperti tujuan materi. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Soejadi (1994:36). dan proses pembelajaran. Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah. Dalam kurikulum terdahulu. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) – Versi Tahun 2002 dan 2004 Usaha pemerintah maupun pihak swasta dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan terutama meningkatkan hasil belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran terus menerus dilakukan. tetapi subjek dan setiap kegiatan siswa ada nilainya. Dalam kegiatan di kelas. guru hanya bertindak sebagai fasilitator. materi pelajaran. seperti penyempurnaan kurikulum. para murid dikondisikan dengan sistem caturwulan. Dahulu. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum 2004. • Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap. . meski sesungguhnya antarsiswa saling berkompetisi. para siswa dikondisikan dalam sistem semester. Jadi di sini. adalah kurikulum yang mulai diterapkan sejak tahun 2004 walau sudah ada sekolah yang mulai menggunakan kurikulum ini sejak sebelum diterapkannya. pembelajaran. para murid hanya belajar pada isi materi pelajaran belaka. para murid dituntut aktif mengembangkan keterampilan untuk menerapkan Iptek tanpa meninggalkan kerja sama dan solidaritas. 5.• • • Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa. Dalam kurikulum 2004 ini. para siswa bukan lagi objek. yakni menerima materi dari guru saja. sedangkan dalam kurikulum baru ini. Secara materi.

Competency Based Education is education geared toward preparing indivisuals to perform identified competencies (Scharg dalam Hamalik. Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu kurikulum berbasis kompetensi sebagai pedoman pembelajaran. Kurikulum 1994 perlu disempurnakan lagi sebagai respons terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi desentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU Nomor 22 dan 25 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Kehandalan kemampuan siswa melakukan sesuatu harus didefinisikan secara jelas dan luas dalam suatu standar yang dapat dicapai melalui kinerja yang dapat diukur. yaitu untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan kebutuhan masa datang maka pendidikan di sekolah dititipi seperangkat misi dalam bentuk paket-paket kompetensi. Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan perangkat kompetensi yang telah ditentukan. keterampilan. dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Dasar pemikiran untuk menggunakan konsep kompetensi dalam kurikulum adalah sebagai berikut: 1. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten. Kompetensi merupakan pengetahuan. Sejalan dengan visi pendidikan yang mengarah pada dua pengembangan. kegiatan belajar . keterampilan. Kompetensi berkenaan dengan kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks. dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu (Puskur. Kompetensi menjelaskan pengalaman belajar yang dilalui siswa untuk menjadi kompeten. Kompeten merupakan hasil belajar (learning outcomes) yang menjelaskan hal-hal yang dilakukan siswa setelah melalui proses pembelajaran. 2000: 89). dalam arti memiliki pengetahuan. 2. 4. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa. penilaian.Implementasi pendidikan di sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum. Salah satu bentuk inovasi yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan inovasi di bidang kurikulum. 3. Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performance yang telah ditetapkan. Kurikukum yang dikembangkan tersebut diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). 2002a).

tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. Kompetensi dasar . Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika merupakan gambaran kompetensi yang seharusnya dipahami. diketahui. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. Struktur kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam suatu mata pelajaran memuat rincian kompetensi (kemampuan) dasar mata pelajaran itu dan sikap yang diharapkan dimiliki siswa. Sumber belajar bukan hanya guru. dan dilakukan siswa sebagai hasil pembelajaran mata pelajaran matematika. keterampilan. Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna. atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah dan sekaligus menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten. sikap dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak setelah siswa menyelesaikan suatu aspek atau subaspek mata pelajaran matematika. dan (2) keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya. dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. disikapi.mengajar. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. yaitu: • • • pemilihan kompetensi yang sesuai spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi pengembangan sistem pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: • • • • • Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal. Mari kita lihat contohnya dalam mata pelajaran matematika. Kompetensi dasar matematika merupakan pernyataan minimal atau memadai tentang pengetahuan. Rumusan kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui. Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.

jika indikator menyatakan bahwa siswa mampu menjelaskan konsep atau gagasan tertentu. Indikator bukan berarti dirumuskan dengan rentang yang sempit. “Apa yang harus siswa ketahui dan mampu lakukan sebagai hasil belajar mereka pada level ini?”. yaitu tidak dimaksudkan untuk membatasi berbagai aktivitas pembelajaran siswa. Keterampilan dan pengetahuan dalam setiap mata pelajaran. atau melalui kinerja atau melakukan tugas lainnya. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati. kelas dan semester. pemecahan masalah. disusun dan dibagi menurut aspek dari mata pelajaran tersebut. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) – Versi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan.tersebut dirumuskan untuk mencapai keterampilan (kecakapan) matematika yang mencakup kemampuan penalaran. Guru akan menggunakan indikator sebagai dasar untuk menilai apakah siswa telah mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan. kedalaman. Setiap hasil belajar memiliki seperangkat indikator. dan kompleksitas kurikulum dinyatakan dengan kata kerja yang dapat diukur dengan berbagai teknik penilaian. Peningkatan efisiensi . Misalkan. dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika. Perumusan indikator adalah untuk menjawab pertanyaan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. maka ini dapat ditunjukkan dengan kegiatan menulis. olahrasa dan olahraga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. olahpikir. Pernyataan hasil belajar ditetapkan untuk setiap aspek rumpun pelajaran pada setiap level. 6. presentasi. komunikasi. Hasil belajar mencerminkan keluasan. juga tidak dimaksudkan untuk menentukan bagaimana guru melakukan penilaian. “Bagaimana kita mengetahui bahwa siswa telah mencapai hasil belajar yang diharapkan?”. Perumusan hasil belajar adalah untuk menjawab pertanyaan. Struktur kompetensi dasar Kurikulum Berbasis Kompetensi ini dirinci dalam komponen aspek. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan.

19/2005. terarah. bahwa sekolah diberi kewenangan penuh menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar yang telah ditetapkan. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. hingga pengembangan silabusnya. Terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan kurikulum berbasis kompetensi sebelumnya (versi 2002 dan 2004). pemberlakuan (baca: penamaan) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada. beban belajar. dan (7)standar penilaian pendidikan. isi. maka dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman. yaitu: • • • • • Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal. tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. Secara substansial. esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paketpaket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter). yaitu: (1)standar isi.manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana. Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. Akan tetapi. yaitu PP No. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan. Sumber belajar bukan hanya guru. . standar pembiayaan . struktur dan muatan kurikulum. visi – misi. kalender pendidikan. dan berkesinambungan. (2)standar proses. (6)standar pengelolaan. Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. pemerintah telah menggiring pelaku pendidikan untuk mengimplementasikan kurikulum dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan. yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di setiap satuan pendidikan. mulai dari tujuan. (5)standar sarana dan prasarana. (3)standar kompetensi lulusan. (4)standar pendidik dan tenaga kependidikan. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Kurikulum 1984 4. Bandung: P. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) versi tahun 2002 dan 2004 6. Kurikulum 1968 dan sebelumnya 2. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) versi Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP) Perubahan-perubahan kurikulum tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik. Sebab.c. Kesimpulan Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Kurikulum 1975 3. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut. Kurikulum 1994 5. Daftar Pustaka Hamalik. dan Iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Oemar. sosial budaya. Dasar – Dasar Pengembangan Kurikulum. 2009. Kurikulum yang mewarnai pendidikan Indonesia: 1. ekonomi.T Rosdakarya .