PERMASALAHAN POKOK DALAM PENDIDIKAN MATEMATIKA SERTA ALTERNATIF SOLUSI

Sebelum mengkaji lebih jauh tentang permasalahan pendidikan matematika di Indonesia, mari kita lebih dahulu mengkaji permasalahan pendidikan secara umum. Masalah Pendidikan Indonesia A. Paradigma Pendidikan Indonesia Diakui atau tidak sistem pendidikan yang dianut oleh Indonesia dalah Sekuler-Materialistis. Hal ini dibuktikan oleh UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi: jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagamaan, dan khusus. Dari pasal ini tampak jelasa adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Secara kelembagaan, pendidikan agama dibawah departemen agama sedangkan pendidikan umum berada di bawah departemen pendidikan nasional. Pendidikan Sekuler-Materialistis ini memang bisa melahirkan orang pandai yang menguasai sains dan teknologi, namun gagal dalam membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan agamanya. Sebaliknya peserta didik yang menempuh pendidikan agama, mereka berhasil menguasai ilmu agama serta berkepribadian baik, tetapi mereka buta akan perkembangan sains dan teknologi yang ada. Solusi: Mengubah asas pendidikan dari sekuler-materialistis ke pendidikan islam. Selanjutnya menentukan arah dan tujuan sistem pendidikan baru tersebut serta menerapkan kurikulum dan standar nasional pendidikan. B. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik Banyak sekali lembaga pendidikan memiliki gedung rusak, kebermanfaatan gedung yang kurang, buku perpustakaan yang tidak memadai, serta laboratorium yang jarang terpakai dan tidak lengkap, bahkan banyak lembaga pendidikan yang tidak memiliki gedung sendiri. Solusi: Hal ini berkaitan dengan kewajiban pemerintah secara penuh dalam hal pendidikan rakyatnya, tentunya berkaitan dengan sistem ekonomi yang ada. Untuk itu pemerintah wajib memberikan

pengetahuan/wawasan kewirausahaan agar setiap warga negaranya bisa mandiri dan nanti bisa memberikan imbasnya pada pemasukan pemerintah melalui sektor pajak. C. Rendahnya Kualitas Guru Keadaan guru Indonesia sangat memprihatinkan, kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme memadai untuk menjalankan tugasnya sebagai mana disebut dalam pasal 39 UU sisdiknas no 20 tahun 2003, yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian pada masyarakat. Solusi: Untuk mengatasi rendahnya kualitas guru selain kesejahteraan mereka terpenuhi, diperlukan adanya bantuan pendidikan lanjutan untuk para guru demi meningkatkan keprofesionalitasnya serta mengikutsertakan mereka dalam pelatihan-pelatihan dan diklat sesuai mata pelajaran yang diampunya. D. Rendahnya Kesejahteraan Guru Rendahnya kualitas guru dipicu oleh rendahnya kesejahteraan guru, banyak dari mereka melakukan pekerjaan sampingan, seperti bekerja di lembaga bimbingan belajar dan lain-lain. Solusi: Hal ini berkaitan dengan kewajiban pemerintah secara penuh dalam hal pendidikan rakyatnya, tentunya berkaitan dengan sistem ekonomi yang ada. Untuk itu pemerintah wajib memberikan pengetahuan/wawasan kewirausahaan agar setiap warga negaranya bisa mandiri dan nanti bisa memberikan imbasnya pada pemasukan pemerintah melalui sektor pajak. E. Mahalnya Biaya Pendidikan Akibat dari sistem pendidikan yang salah, banyak anak-anak kurang mampu yang terpaksa putus sekolah/mengenyam pendidikan formal. Hal ini diakibatkan oleh mahalnya biasya pendidikan. Untuk tingkat TK saja, biaya masuknya mulai dari 1 juta bahkan sampai 5 juta untuk setiap calon paserta didik. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan formal hanya untuk orang kaya. Solusi: Hal ini berkaitan dengan kewajiban pemerintah secara penuh dalam hal pendidikan rakyatnya, tentunya berkaitan dengan sistem ekonomi yang ada. Untuk itu pemerintah wajib memberikan

dan pertanyaan tingkat rendah. Dalam segala kegiatannya harus dilakukan kegiatan monitoring dan evaluasi untuk memastikan tingkat keberhasilan meningkatkan mutu pendidikan matematika di Indonesia. Proses pembelajaran dikelas kurang meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi serta kuran dalam hal penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Rendahnya kemampuan siswa indonesia Hal ini ditandai oleh data TIMSS 2003 menunjukkan bahwa prestasi siswa Indonesia (Rata-rata: 411) agak jauh di bawah Malaysia (Rata-rata: 508) dan Singapura (Rata-rata: 605). dan bernalar secara matematis. dan Singapura berada pada skala lanjut (peringkat atas). Skala Matematika TIMSS – Benchmark Internasional menunjukkan bahwa siswa Indonesia berada pada skala rendah (peringkat bawah). antara lain MGMP. atau nasional). Pendapat Ashari. kabupaten/kota. namun sedikit atau sama sekali tidak ada penekanan untuk penerapan matematika dalam konteks kehidupan seharihari. Hal ini ditandai dengan data TIMSS 2003 yang menunjukkan bahwa penekanan pembelajaran di Indonesia lebih banyak pada penguasaan keterampilan dasar (basic skills). wakil Himpunan Matematikawan Indonesia (HMI atau IndoMS) yang menyatakan karakteristik pembelajaran matematika saat ini adalah lebih mengacu pada tujuan jangka pendek (lulus ujian sekolah. bergantung kepada buku paket. berkomunikasi secara matematis. Namun siswa Indonesia (169 jam di Kelas 8) lebih banyak menggunakan waktu dibandingkan siswa Malaysia (120 jam di Kelas 8) dan Singapura (112 jam di Kelas 8). lebih dominan soal rutin. low order thinking skills. untuk mengatasi hal tersebut. Masalah Pendidikan Matematika A. komunikasi satu arah. Malaysia pada skala antara menengah dan tinggi (di peringkat tengah). pengaturan ruang kelas monoton. terutama dalam pelajaran matematika perlu adanya kerjasama antar lembaga terkait. materi kurang membumi. Hasil Video Study menunjukkan juga bahwa: ceramah merupakan metode yang paling banyak . Solusi: Rendahnya kemampuan siswa Indonesia disebabkan oleh rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. PPG dan Ditjen P4TK. lebih fokus pada kemampuan prosedural.pengetahuan/wawasan kewirausahaan agar setiap warga negaranya bisa mandiri dan nanti bisa memberikan imbasnya pada pemasukan pemerintah melalui sektor pajak. B. LPMP.

menyusun . tetapi juga mereka mengerti tentang materi tersebut dan kaitannya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.digunakan selama mengajar. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Solusi: Perlunya penerapan pendekatan pembelajaran yang mendukung peningkatan berpikir tingkat tinggi. Diantara pendekatan pembelajaran yang mendukung yaitu. guru lebih banyak berbicara dibandingkan dengan siswa. kebanyakan guru sangat bergantung dan sangat mempercayai buku teks yang mereka pakai. Pembelajaran Kooperatif. bukan “mengetahuinya“ Solusi: Untuk mengantisipasi masalah tersebut agar tidak berkelanjutan maka para guru terus berusaha menyusun dan menerapkan berbagai metode yang bervariasi. Paradigma Matematika di kalangan peserta didik Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah dengan presentase jam pelajaran yang paling banyak dibanding dengan mata pelajaran yang lainya. dan sebagian besar guru belum menguasai keterampilan bertanya. Dalam pemecahan masalah siswa dipusatkan pada cara menghadapi persoalan dengan langkah penyelesaian yang sistematis yaitu memahami masalah. Proses belajar mengajar matematika yang baik adalah guru harus mampu menerapkan suasana yang dapat membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada. Ketakutan-ketakutan dari siswa tidak hanya disebabkan oleh siswa itu sendiri. C. waktu yang digunakan siswa untuk problem solving 32% dari seluruh waktu di kelas. Belajar matematika akan lebih bermakna jika anak “mengalaminya“ dengan apa yang dipelajarinya. Ironisnya. sehingga mereka mampu mencoba memecahkan permasalahanya. dan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM). Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM). Salah satu metode yang diterapkan yaitu pembelajaran matematika dengan pendekatan Improve yang menggunakan metode pemecahan masalah. Contextual Teaching and Learning (CTL). agar peserta didik tidak hanya menerima materi yang diajarkan guru. matematika termasuk pelajaran yang tidak disukai banyak siswa. melainkan kurangnya kemampuan guru dalam menciptakan situasi yang dapat membawa siswa tertarik pada matematika. hampir semua guru memberikan soal rutin dan kurang menantang. Bagi mereka pelajaran matematika cenderung dipandang sebagai mata pelajaran yang “kurang diminati” dan “kalau bisa dihindari”.

mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. analitis. seperti kimia. Kemampuan ini dapat . tetapi banyak konsep-konsepnya yang sangat diperlukan oleh ilmu lainnya. fisika. sistematis. Sedangkan dengan pendekatan Improve siswa diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar matematika. Dengan demikian siswa dapat belajar matematika tidak hanya mendengarkan pelajaran yang diberikan guru saja namun diperlukan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika Permasalahan Pembelajaran Matematika di Sekolah 6 Sep 3 Votes Tulisan berikut saya ambil dari LBM skripsi saya yang berjudul: Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematika Siswa ————————————————————————————————– Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern.rencana penyelesaian. “Matematika bukan hanya alat bantu untuk matematika itu sendiri. 2010:1) mengatakan bahwa. Melihat begitu pentingnya matematika tidak mengherankan jika matematika dipelajari secara luas dan mendasar sejak jenjang pendidikan sekolah dasar. dan kreatif. teknik dan farmasi”. melaksanakan rencana dan memeriksa kembali sebagian persoalan yang dihadapi agar dapat diatasi. biologi. Dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah mata pelajaran matematika (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tanggal 23 mei 2006 tentang standar isi) bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis. serta kemampuan bekerjasama. kritis. Ruseffendi (dalam Septiani.

Utomo dan Ruijter (Suparno. sehingga guru menerangkan seluruh penyelesaiannya. Dengan demikian. Rendahnya kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematika siswa juga dapat dilihat dari hasil jawaban siswa dalam mengerjakan soal-soal matematika di sekolah yang masih belum memuaskan. keterampilan berpikir kreatif. 2010) mengatakan bahwa “Kemampuan berpikir kritis dan kreatif sebagai bagian dari keterampilan berpikir perlu dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. Menurut Herman (2010:1) salah satu penyebab rendahnya penguasaan matematika siswa adalah guru tidak memberi kesempatan yang cukup kepada siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya. Oleh sebab itu. Aisyah (2008:4) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa rendahnya kemampuan berpikir kritis disebabkan upaya pengembangan kemampuan berpikir kritis di sekolah-sekolah jarang dilakukan. kemampuan berpikir terutama yang menyangkut aktivitas matematika perlu mendapatkan perhatian khusus dalam proses pembelajaran matematika. Beberapa keterampilan berpikir yang dapat meningkatkan kecerdasan memproses adalah keterampilan berpikir kritis. namun fokus dan perhatian pada upaya meningkatkan kemampuan berpikir matematika siswa masih jarang dikembangkan. memainkan peranan strategis dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi dan mengkomunikasikan gagasan. Setelah diberi petunjuk pun. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi. serta mencoba-coba. membuat prediksi dan dugaan. dan keterampilan analisis. 2000:31) memaparkan bahwa pada latihan pemecahan soal ternyata hanya sebagian kecil siswa yang dapat mengerjakannya dengan baik. kenyataan di lapangan belum sesuai dengan yang diharapkan. Hasil studi menyebutkan bahwa meski adanya peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan. jelas bahwa siswa sebagai bagian dari masyarakat harus dibekali dengan kemampuan berpikir kritis yang baik. terkait dengan kebutuhan siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran matematika karena tujuan pembelajaran matematika di sekolah menurut Depdiknas (dalam Herman. intuisi. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen. sebagian besar tidak tahu apa yang harus dikerjakan. sebab banyak sekali persoalan-persoalan dalam kehidupan yang harus dikerjakan dan diselesaikan”. Kemampuan berpikir matematika khususnya berpikir matematika tingkat tinggi sangat diperlukan siswa. 2010:1) adalah: 1. matematika sebagai bagian dari kurikulum pendidikan dasar. mereka masih juga tidak dapat menyelesaikan soal-soal tersebut. Karena kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dan memecahkan permasalahan yang ada dalam kehidupan di masyarakat. orisinil. dan 4. 3. rasa ingin tahu. Matematika dipelajari oleh kebanyakan siswa secara langsung dalam bentuk yang sudah jadi . 2. keterampilan mengorganisir otak. Namun. Wijaya (dalam Radiansyah. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan.

karena matematika dipandang oleh kebanyakan guru sebagai suatu proses yang prosedural dan mekanistis. Siswa masih merasa bingung dalam mengaplikasikan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. sehingga berdampak negatif terhadap proses pembelajaran siswa dalam matematika. 7. 2004:1) mengungkapkan bahwa kebanyakan guru dalam mengajar masih kurang memperhatikan kemampuan berpikir siswa. dan kompetitif. metode yang digunakan kurang bervariasi. “Pelajaran matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak pada umumnya merupakan mata pelajaran yang tidak disenangi”. Walaupun matematika dikenal sebagai ilmu yang sukar dipahami. mengelola. Padahal kemampuan itu yang sangat diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh. Para siswa menganggap bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang membosankan. salah satunya adalah cara penyampaian materi. Mereka merasa tidak termotivasi untuk belajar matematika dan sulit untuk bisa meyenangi matematika sehingga pada akhirnya mengakibatkan hasil belajar matematika menjadi kurang memuaskan. Sehingga tidak hanya rendah pada kemampuan aspek mengerti matematika sebagai pengetahuan (cognitive) tetapi juga aspek sikap (attitude) terhadap matematika juga masih belum memuaskan.(formal). Siswa menganggap bahwa pembelajaran matematika yang diikuti di sekolah kurang menarik dan kurang menyenangkan. dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah. 5. akan tetapi banyak faktor yang dapat membantu memudahkan pemahaman matematika. 3. diantaranya: 1. tidak pasti. atau dengan kata lain tidak melakukan pembelajaran bermakna. 4. Soal yang diberikan tidak berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan siswa belum terbiasa diberikan soal-soal tidak rutin. Soal matematika yang diberikan sulit untuk dikerjakan. misalnya saja dengan menekankan kepada keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar sehingga potensi siswa dapat berkembang dengan baik. dan sebagai akibatnya motivasi belajar siswa menjadi sulit ditumbuhkan dan pola belajar cenderung menghafal dan mekanistis. Sebagian besar siswa masih menganggap matematika merupakan mata pelajaran yang sukar dipelajari dan menakutkan bagi mereka. Soal yang diberikan adalah soal-soal rutin yang kurang meningkatkan kemampuan berpikir matematika siswa. 2. Hal ini disampaikan oleh Ruseffendi (dalam Puspita. Anggapan tersebut sudah melekat pada anak-anak. Para siswa masih merasa malas untuk mempelajari matematika karena terlalu banyak rumus. Matematika masih sulit dipahami oleh siswa. 6. Direktorat PLP (dalam Widdiharto. Sedangkan dari hasil penelitian yang dilakukan Rohmayasari (2010:68) didapat bahwa sikap dan kemampuan berpikir matematika siswa masih rendah dan belum memuaskan. 2009). .

Akibatnya siswa menjadi kurang aktif dan pembelajaran merupakan suatu hal yang membosankan bagi siswa. Dalam proses belajar mengajar. Menyikapi permasalahan-permasalahan yang timbul dalam pendidikan matematika di sekolah. seperti penggunaan metode yang tepat dalam proses pembelajaran tersebut. yaitu: individu siswa. “Dalam setiap proses belajar mengajar di sekolah sekurangkurangnya melibatkan empat komponen pokok. siswa akan merasa senang menyumbangkan pengetahuannya kepada teman atau anggota lain dalam kelompoknya. pendukung keberhasilan seorang guru dalam pembelajaran tidak hanya dari kemampuannya dalam menguasai materi akan tetapi faktor lain pun dapat mendukung. pertanyaan dari siswa jarang muncul. dan memberikan soal-soal latihan. sehingga dapat menurunkan motivasi belajar dan inisiatif siswa untuk bertanya dan mengungkapkan ide. guru. Semua komponen ini memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang unik dan berpengaruh terhadap jalannya proses belajar mengajar. Guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional yang berlangsung satu arah yaitu guru menerangkan dan siswa mendengarkan. berorientasi pada satu jawaban yang benar. 2010:3) tradisi mengajar seperti ini merupakan karakteristik umum bagaimana guru melaksanakan pembelajaran di Indonesia. praktek pembelajaran di kelas. memecahkan masalah dan mengaplikasikan pengetahuan.Proses pendidikan mencakup proses belajar. Karenanya kemampuan guru dalam memilih metode mengajar merupakan hal penting dalam kegiatan belajar mengajar. pentingnya meningkatkan kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi. yang memungkinkan siswa saling membantu dalam memahami suatu konsep. Pandangan umum yang masih dianut oleh guru dan masih berlaku sampai sekarang ialah bahwa dalam proses belajar mengajar. dan aktivitas kelas yang sering dilakukan hanyalah mencatat atau menyalin. Dalam kegiatan pembelajaran guru biasanya menjelaskan konsep secara informatif. memberikan contoh soal. pengetahuan dialihkan dari guru kepada siswa. salah satu solusinya adalah dengan meningkatkan kualitas pembelajaran. efektif serta banyak disukai oleh siswa maka perlu digunakannya model pembelajaran yang menarik. Oleh karena itu belajar kooperatif adalah . mencatat lalu menghafalnya sehingga tujuan pembelajaran akan cepat selesai. Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dalam kelompok kecil. Hal ini harus diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Menurut Armanto (dalam Herman. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif. guru menjelaskan matematika melalui metode ceramah (chalk-and-talk). Syah (2008:248) mengungkapkan bahwa. Berdasarkan uraian di atas. penulis berpendapat bahwa untuk membuat pelajaran matematika menjadi bermakna. siswa pasif. proses mengajar dan proses berpikir kreatif. terutama yang berkaitan dengan prestasi belajar siswa. konsep serta keterampilan kepada teman lain. Pembelajaran matematika konvensional bercirikan: berpusat pada guru. Kekurangan guru dalam memilih metode mengajar bisa menjadi salah satu penyebab kurang baiknya hasil belajar siswa. Dalam proses pembelajaran matematika guru umumnya terlalu berkonsentrasi pada latihan menyelesaikan soal yang lebih bersifat prosedural dan mekanistis daripada menanamkan pemahaman. memeriksa dan memperbaiki jawaban teman sebagai masukan serta kegiatan lain yang bertujuan untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Aktivitas pembelajaran kooperatif disamping menekankan pada kesadaran siswa belajar. ruang kelas dan kelompok siswa”.

pengelompokan secara homogen mempunyai dampak negatif. karena dalam kelompok homogen tidak dapat banyak perbedaan yang bisa mengasah proses berpikir. Sehingga dapat meningkatkan kreatifitas dan keaktifan siswa dalam belajar matematika. lebih banyak bimbingan perorangan. berargumentasi dan berkembang. “Pada dasarnya manusia senang berkumpul dengan sepadan dan membuat jarak dengan yang berbeda”. Pengelompokan berdasarkan kemampuan. berbagi sumber diantara siswa. siswa belajar untuk mengungkapkan pendapat dan meningkatkan hubungan persahabatan.R. (2008). guru melakukan intervensi secara proporsional dan terarah. N. sama dengan memberikan cap atau label pada tiap-tiap peserta didik. maka pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dapat dijadikan salah satu model pembelajaran matematika di sekolah. Dalam pembelajaran kooperatif dikenal berbagai tipe.saling menguntungkan antar siswa yang berkemampuan rendah. “Guru dituntut terampil menerapkan teknik scaffolding yaitu membantu kelompok secara tidak langsung menggunakan teknik bertanya dan teknik probing yang efektif. Dalam hal ini Herman (2010:8) berpendapat bahwa. saling membantu tercapainya hasil belajar yang baik. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray terhadap Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa SMA. 2008:16). dalam hal ini heterogen kemampuan akademiknya. Atas dasar uraian yang telah dikemukakan sebelumnya. Selain itu. Adapun pada pembelajaran Two Stay Two Stray ini. lebih menunjang komunikasi yang lebih efektif dan pertukaran informasi diantara siswa. siswa dikelompokkan dengan pengelompokan secara heterogen.M. Referensi: Ati. Tetapi guru belum memperlihatkan adanya aktivitas kelas yang terstruktur sehingga peran setiap anggota kelompok belum terlihat. Seorang siswa bisa merasa tidak mampu. Walaupun menurut Gordon (dalam Ati. sedang dan siswa yang berkemampuan tinggi. Sebagian guru berpikir bahwa mereka sudah menerapkan pembelajaran kooperatif tiap kali menyuruh siswa bekerja di dalam kelompok-kelompok kecil. Selain itu. patah semangat dan tidak mau berusaha lagi. atau memberikan petunjuk (hint) seperlunya”. berkurangnya rasa takut akan gagal dan berkembangnya sikap saling mempercayai diantara para siswa. Suparno (2000:131) menyatakan bahwa: Struktur kooperatif dibandingkan dengan struktur kompetisi dan usaha individual. terutama bagi peserta didik yang dimasukkan dalam kelompok yang lemah. Dalam pembelajaran yang dilakukan secara kooperatif (cooperative learning) dalam kelompok kecil dua sampai empat orang. salah satunya adalah pembelajaran Two Stay Two Stray (TS-TS). Namun pengelompokan dengan orang lain yang sepadan dan serupa ini bisa menghilangkan kesempatan anggota kelompoknya untuk memperluas wawasan dan memperkaya diri. perasaan terlibat yang lebih besar. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNPAS: tidak diterbitkan . diantaranya praktik ini jelas bertentangan dengan misi pendidikan. Dalam model pembelajaran Two Stay Two Stray ini siswa dapat memperoleh banyak informasi sekaligus dalam kelompok yang berbeda. Label ini bisa menjadi vonis yang diberikan terlalu dini. bernegosiasi.

Bandung: Remaja Rosdakarya Widdiharto. T. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNPAS: tidak diterbitkan Suparno. http://dewiratri. Membangun Pengetahuan Siswa Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah.S. A. (2010). M. (2011). I. fenomena alam.blog. D. IPA bersifat open ended.R. Pengaruh Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Multimedia Interaktif Tipe Tutorial terhadap Hasil Belajar dan Motivasi Siswa SMP di Jawa Barat. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNPAS: tidak diterbitkan Herman. evaluasi. (2010). dan penarikan . Yogyakarta: Depdiknas Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah PPPG Matematika Yogyakarta Problem Dasar Pembelajaran Sains Hakikat pembelajaran Sains (Puskur. R. serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar. makhluk hidup. (2008). http://lkpk. I.com/2009/05/30/proposal-skripsi/ Diakses 22 April 2011 Rohmayasari. (2009). metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. (2008). Penerapan Strategi Konflik Kognitif dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas Syah.org/2010/12/01/mengembangkan-kemampuan-berpikir-kritis/ Diakses 5 mei 2011 Puspita. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray terhadap Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa SMP.Aisyah. (2004). Pengaruh Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kontekstual (CTL) terhadap peningkatan Kemampuan Berpikir Analitis dan Kreatif Siswa SMA di Jawa Barat. (2000). Model-Model Pembelajaran Matematika SMP. (2010). N. T. Radiansyah. 2003) adalah pembelajaran yang mampu merangsang kemampuan berfikir siswa meliputi empat unsur utama (1) sikap: rasa ingin tahu tentang benda.S. perancangan eksperimen atau percobaan. pengukuran. Membangun Kompetensi Belajar. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis. (2) proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNPAS: tidak diterbitkan Septiani.

Padahal pengajaran sains dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah pengajaran yang mengajarkan siswa bagaimana belajar. Dalam prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi hal ini berkaitan dengan pengembangan keterampilan hidup. Penggunaan lembar penilaian pemahaman diri (LPPD) oleh guru dalam penelitian tersebut diketahui dapat memberikan . dan bagaimana memotivasi diri mereka (Nur.Pd berjudul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Biologi Dengan Strategi Metakognitif Untuk Memberdayakan Kecakapan Berfikir Pada Siswa SMU”. Oleh sebab itu perlu diberikan pengajaran strategi belajar kepada siswa sebab keberhasilan siswa sebagian besar bergantung pada kemahiran untuk mengajar secara mandiri dan memonitor belajar mereka sendiri (Nur. bagaimana mengingat. Untuk menilai apakah IPA diimplementasikan di Indonesia. Hasil penelitian PISA tahun 2000 dan tahun 2003 menunjukkan bahwa literasi sains anak-anak Indonesia usia 15 tahun masing-masing berada pada peringkat ke 38 (dari 41 negara) dan peringkat ke 38 dari (40 negara) (Bastari Purwadi. Dalam proses pembelajaran IPA keterlibatan keempat unsur ini. proses IPA. Ini artinya bahwa siswa-siswa Indonesia tersebut diduga baru mampu mengingat pengetahuan ilmiah berdasarkan fakta sederhana (Puskur. Hal ini mengingat arti literasi sains/IPA (scientific literacy) itu sendiri yang ditandai dengan kerja ilmiah. yang kemudian diterjemahkan dalam pendidikan kecakapan hidup. dan konteks IPA. (3) produk: berupa fakta. prinsip. Konsep tentang bagaimana belajar. bagaimana berfikir. kita dapat melihat hasil literasi IPA anak-anak Indonesia. Ini artinya skor yang dicapai oleh siswasiswa Indonesia kurang lebih terletak di sekitar angka 400. dan bagaimana memotivasi diri mereka dan sekaligus kesadaran diri adalah konsep dasar pengajaran metakognitif (teaching metacognitive) yang ingin diangkat dalam penelitian ini. dan hukum. bagaimana mengingat.kesimpulan. dan meniru cara ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta baru Namun pembelajaran sains yang selama ini terjadi di sekolah belum mengembangkan kecakapan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kedua. 2005). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dua hasil penelitian. (4) aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari. yaitu konten IPA. bagaimana berfikir. hasil penelitian Dra. teori. Endang Susantini. Hal ini disebabkan kira-kira dua per tiga siswa di negara-negara peserta memperoleh skor antara 400 dan 600 pada PISA 2003. diharapkan dapat membentuk peserta didik memiliki kemampuan pemecahan masalah dengan metode ilmiah. 2007) Dalam prioritas pembangunan pendidikan nasional ditekankan juga pengembangan kemampuan belajar. dan tiga dimensi besar literasi sains yang ditetapkan oleh PISA. Skor rata-rata pencapaian siswa ditetapkan sekitar nilai 500 dengan simpangan baku 100 point. pertama hasil penelitian Rowan Hollingworth dan Catherine McLoughlin berjudul The Development of Metacognitive Skill Among First Year Science Student yang menyebutkan kemampuan metacognitive perlu diberikan guna meningkatkan keteraturan belajar sains dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. 2005). Dalam peristilahan lain hal ini dapat disebut sebagai kesadaran diri (self awareness). M. Pengajaran sains merupakan proses aktif yang berlandaskan konsep konstruktivisme yang berarti bahwa sifat pengajaran sains adalah pengajaran yang berpusat pada siswa (student centered instruction). 2006).

Padahal menurut Prof. dan learning to live together. learning to do. Dengan pengembangan model pelatihan ini diharapkan dapat memberi dampak kepada guru sehingga menjadi pribadi guru yang mandiri (self regulated teacher). dan kurang mengembangkan aspek kecerdasan lain yang dimiliki siswa. sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap. dan juga memiliki dampak bagi siswa sehingga menjadi pelajar yang mandiri (self regulated learner). sejauh ini belum pelatihan metakognitif yang ditujukan kepada para guru untuk mampu mengimplementasikan metode metakognitif dalam pembelajaran. Resilence behaviour sendiri merupakan perilaku cerdas siswa dalam membangun keseimbangan menghadapi hidup dan kehidupan. Guru sejauh ini cenderung merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang lebih berorientasi kognitif (pengetahuan). Tahun 1950 ada kurikulum SD yang disebut “Rencana Pelajaran Terurai”. meliputi kecerdasan kognitif. afektif dan motorik. Ditambahkan juga oleh Beyer (1998) bahwa kemampuan metakognitif merupakan pijakan dasar perilaku berfikir (habit of mind) yang merupakan hasil dari proses belajar. Lebih jauh hal ini juga merupakan bagian dari upaya peneliti selaku widyaiswara memiliki peran sebagai inovator dan peneliti dengan harapan mampu memberikan masukan dalam kebijakan terkait dengan kegiatan penjaminan mutu pendidikan. kecerdasan afektif dan kecerdasan motorik yang sejauh ini belum mampu dilakukan oleh guru. 3 Januari 2009) dalam gagasan pendidikan konstruktivistik untuk menghadapi kehidupan yang kompleks ini siswa harus memiliki kecerdasan metakognitif. Zainuddin Maliki (Jawa Pos. bekerja secara tekun dan mau meningkatkan kemampuannya Kurikulum dan Sejarahnya di Indonesia Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan.kecakapan berfikir bagi siswa dan meningkatkan kemandirian siswa. yaitu learning to know. Pada tahun 1960 . learning to be. Namun. Berangkat dari argumentasi diatas maka perlu dilakukan pengembangan model pelatihan pengajaran metakognitif (teaching metacognitive) yang ditujukan untuk membekalkan ketrampilan metakognitif kepada guru-guru sains. Idealnya seorang guru harus mampu melahirkan resilence behaviour dari pembelajaran yang dilaksanakannya yang terbentuk dari kecerdasan metakognitif yang merupakan perpaduan antara kecerdasan kognitif. berani mengakui kesalahan dan menilai pemahamannya sendiri atau dengan kata lain strategi metakognitif mampu memunculkan kemandirian siswa dalam belajar. Namun penggunaan konsep metakognitif sejauh ini masih sebatas strategi belajar yang bersifat khusus dan belum sebagai pendekatan yang berlaku umum. Disisi lain hal ini juga merupakan implementasi dari upaya mewujudkan empat pilar belajar yang dianjurkan UNESCO untuk Pendidikan. Konsekuensi bahwa guru harus kreatif. Sehingga diharapkan dapat terbentuk konsep belajar sepanjang hayat (long life education) yang terintegrasi pada pribadi guru dan siswa dan pembelajaran yang dilaksanakan. Hal positif lain yang dapat dicapai oleh guru adalah membentuk siswa untuk memiliki sikap jujur.

Perubahan kisi-kisi pendidikan lebih bersifat politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Tahun 1975 disebut “Kurikulum 1975″ yang fokus pada pelajaran matematika dan Pendidikan Moral Pancasila serta Pendidikan Kewarnegaraan. 1994. entah berapa tahun lagi ada kurikulum baru yang membuat bingung semua pihak. materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian seharihari. Bentuknya memuat dua hal pokok: daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya.” kata Djauzak Ahmad. Fokusnya pada pengembangan daya cipta. Rencana Pelajaran Terurai 1952 Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik. kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Ketika itu. Yang diutamakan pendidikan watak. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. b. plus garis-garis besar pengajaran. Pada tahun 1984 menyempurnakan Kurikulum 1975 dengan “Cara Belajar Siswa Aktif” (CBSA). a. 1975. yaitu Pancasila dan UUD 1945. Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950. artinya rencana pelajaran. Sebab.muncul “Kurikulum Kewajiban Belajar Sekolah Dasar”. karya. dan moral (Pancawardhana). Tahun 2004 dikenal “Kurikulum Berbasis Kompetensi” (KBK). 1964. sosial budaya. Rencana Pelajaran 1947 Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan. Siswa kita jangan dijadikan “kelinci percobaan”. Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral. Di penghujung era Presiden Soekarno. dan 2006. Tahun 1991 CBSA dihentikan lalu muncul “Kurikulum 1994″. Dalam bahasa Belanda. kecerdasan. Terakhir tahun 2006 muncul “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” (KTSP). muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila. 2004. yang dipelesetkan jadi Kurikulum Berbasis Kebingungan. Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995. perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya. karsa. 1968. Sejarah Kurikulum Indonesia Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan. sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama. seorang guru mengajar satu mata pelajaran. Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. ekonomi. di usia 16 tahun Djauzak adalah guru SD Tambelan dan Tanjung Pinang. rasa. . lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani. Tahun 1968 dikenal “Kurikulum 1968″ pengganti “Kurikulum 1950″. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. Lalu tahun 1970 muncul “Kurikulum Berhitung” diganti dengan pelajaran matematika modern. dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945. kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan. kesadaran bernegara dan bermasyarakat. yaitu pada tahun 1947. Majulah pendidikan Indonesia. Riau. 1952. 1984.

MSi. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Mudjito. keprigelan. dan kecakapan khusus. agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan. menjelang tahun 1964. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. “Hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja. Kurikulum 1975 banyak dikritik. kuat. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). dan kecakapan khusus. . dan sehat jasmani. pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani. yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu. serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen. pengetahuan dasar. dan evaluasi. budi pekerti. hingga melaporkan. Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964. Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”. tak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila. mengelompokkan. tapi faktor tujuan tetap penting. Metode.” kata Drs. dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Ak.” katanya. pengetahuan dasar. kegiatan belajar-mengajar. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. materi pelajaran. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan. keprigelan (keterampilan). dan keyakinan beragama. emosional/artistik. yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila. Dari mengamati sesuatu. Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum. Kurikulum 1984 Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Dari segi tujuan pendidikan. kecerdasan. Meski mengutamakan pendekatan proses. moral. sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik.emosional/artistik. mendiskusikan. d. e. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah: bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD. c. Jumlah pelajarannya 9. 2004). tujuan instruksional khusus (TIK). dan jasmaniah. Kurikulum 1968 Usai tahun 1952. Kurikulum 1975 Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis. yaitu pengembangan moral. yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. alat pelajaran. materi. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis. dan jasmani.

di sana-sini ada tempelan gambar. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi. Meski baru diujicobakan. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Sayang. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998. keterampilan daerah. Sayangnya. h. Pelajaran KTSP masih tersendat. KTSP 2006 Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan. antara pendekatan proses. dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984. Hasilnya tak memuaskan. toh di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa. misalnya bahasa daerah kesenian. lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta — sekarang Universitas Negeri Jakarta — periode 1984-1992. Jadi pengambangan perangkat pembelajaran. Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Penolakan CBSA bermunculan. Semiawan. Guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum. kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa. Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda.Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Dari muatan nasional hingga lokal. evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa. g. standar kompetensi lulusan (SKL). Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi. seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota . dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. f. Sayangnya. Conny R. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD). Walhasil. yakni ujian.” kata Mudjito menjelaskan. dan lain-lain. standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kritik bertebaran. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999 Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Bila target kompetensi yang ingin dicapai. Kurikulum 2004 Bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing.

1964. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh. sosial budaya. 1975. kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka . Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Latar Belakang Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta belajar dalam satu periode jenjang pendidikan.Sejarah Perkembangan Kurikulum A. yaitu pada tahun 1947. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik. 1984. perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya. kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama. kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan dua kali dengan penyempurnaan. Kurikulum 1968 dan sebelumnya Awalnya tahun 1947. dan sekarang KTSP. 1968. kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947. 1994. yaitu Pancasila dan UUD 1945. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikannya. B. 1952. dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945. Pada saat itu. sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. ekonomi. 2004. Kurikulum yang Mewarnai Pendidikan di Indonesia 1.

Setelah Rentjana Pelajaran 1947. kuat. 2.pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. kecerdasan. 2004). moral.” kata Mudjito. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD. menjelang tahun 1964. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan. agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. pengetahuan dasar. dan sehat jasmani. yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu. mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Dari segi tujuan pendidikan. sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik. Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas. Usai tahun 1952. Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. dan keyakinan beragama. yaitu pengembangan moral. budi pekerti. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila. emosional/artistik dan jasmani. Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964. pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen. serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat. Kurikulum 1975 Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan. Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan pendekatanpendekatan di antaranya sebagai berikut: • Berorientasi pada tujuan . dan kecakapan khusus.

• • • Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif. tapi faktor tujuan tetap penting. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL). Kurikulum 1975 hingga menjelang tahun 1983 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. mengelompokkan. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Bahkan sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratakan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984. Karena itulah pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 dengan kurikulum 1984. • Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsangjawab) dan latihan (drill). dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa. mendiskusikan. hingga melaporkan. Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat atas termasuk Pendidikan Luar Sekolah. Dari mengamati sesuatu. Meski mengutamakan pendekatan proses. dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya adalah sebagai berikut: • • • Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang belum tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengan kemampuan anak didik Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di sekolah Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). 3. Secara umum. . Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Kurikulum 1984 Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.

maupun psikomotor. dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal. alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya. • Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa. Dari yang mudah menuju ke sukar dan dari sederhana menuju ke kompleks. Kurikulum 1984 tampil sebagai perbaikan atau revisi terhadap kurikulum 1975. dan abstrak dengan menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan. . CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik. semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan. • Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. • Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). baik dalam ranah kognitif. Untuk menunjang pemahaman. baru kemudian diberikan latihan setelah mengerti. semiabstrak. Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut: • Berorientasi kepada tujuan instruksional. semikonkret. • Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. afektif. diperlukan perubahan kurikulum. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Oleh karena itu. Konsep-konsep yang dipelajari siswa harus didasarkan kepada pengertian. Atas dasar perkembangan itu maka menjelang tahun 1983 antara kebutuhan atau tuntutan masyarakat dan ilmu pengetahuan/teknologi terhadap pendidikan dalam kurikulum 1975 dianggap tidak sesuai lagi. yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa. Oleh karena itu. • Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif.• Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja. mental. sebelum memilih atau menentukan bahan ajar. intelektual. Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret.

yaitu kurikulum 1984. Kurikulum 1994 Pada kurikulum sebelumnya. Akibatnya. Tim ini memandang bahwa materi (isi) pelajaran yang diberikan kepada siswa harus banyak. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang . Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994. yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. di antaranya sebagai berikut: • • • Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi) Kurikulum 1994 bersifat populis. pada saat itu dibentuklah Tim Basic Science yang salah satu tugasnya ikut mengembangkan kurikulum di sekolah. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran.Keterampilan proses adalah pendekatan belajat mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengomunikasikan perolehannya. Hal ini terjadi karena berkesesuaian dengan suasana pendidikan di LPTK (lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar. Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran yang banyak. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984. sehingga pada saat siswa selesai mengikuti pelajaran pada periode tertentu akan mendapatkan materi pelajaran yang banyak. antara pendekatan proses.” kata Mudjito. 4. Pendekatan keterampilan proses dilakukan secara efektif dan efesien dalam upaya mencapai tujuan pelajaran. proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran.

seperti: • • Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak. Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar. Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari. dimungkinkan lebih dari satu jawaban). guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar. dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented). Dalam pelaksanaan kegiatan. . dan penyelidikan.khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar. Salah satu upaya penyempurnaan itu diberlakukannya Suplemen Kurikulum 1994. potensi siswa. yaitu: • • Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. di antaranya sebagai berikut: • • Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran. guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen. baik secara mental. dan dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum. Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa. dari hal yang mudah ke hal yang sulit. sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah. serta tuntutan kebutuhan masyarakat. fisik. Dalam mengaktifkan siswa. dan sosial. divergen (terbuka. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa. Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan.

seperti penyempurnaan kurikulum. . yakni menerima materi dari guru saja. namun meski begitu pendidikan yang ada ialah pendidikan untuk semua. dan proses pembelajaran. para siswa bukan lagi objek. 5. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Soejadi (1994:36). meski sesungguhnya antarsiswa saling berkompetisi. Dahulu. Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan berbagai aspek terkait. tetapi subjek dan setiap kegiatan siswa ada nilainya. para murid hanya belajar pada isi materi pelajaran belaka. sebenarnya kurikulum ini tak berbeda dari kurikulum 1994. pembelajaran. seperti tujuan materi. yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang. para murid dikondisikan dengan sistem caturwulan. khususnya dalam mata pelajaran matematika “dikatakan bahwa kegiatan pembelajaran matematika di jenjang persekolahan merupakan suatu kegiatan yang harus dikaji terus menerus dan jika perlu diperbaharui agar dapat sesuai dengan kemampuan murid serta tuntutan lingkungan. Dalam kurikulum 2004 ini. adalah kurikulum yang mulai diterapkan sejak tahun 2004 walau sudah ada sekolah yang mulai menggunakan kurikulum ini sejak sebelum diterapkannya. materi pelajaran. para siswa dikondisikan dalam sistem semester. • Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap. Dalam kurikulum terdahulu. Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum 2004. perbedaannya hanya pada cara para murid belajar di kelas. para murid dituntut aktif mengembangkan keterampilan untuk menerapkan Iptek tanpa meninggalkan kerja sama dan solidaritas. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) – Versi Tahun 2002 dan 2004 Usaha pemerintah maupun pihak swasta dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan terutama meningkatkan hasil belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran terus menerus dilakukan. Jadi di sini. Dalam kegiatan di kelas. guru hanya bertindak sebagai fasilitator. sedangkan dalam kurikulum baru ini.• • • Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa. Secara materi. dan sarana/prasarana termasuk buku pelajaran. evaluasi.

Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performance yang telah ditetapkan. Salah satu bentuk inovasi yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan inovasi di bidang kurikulum. yaitu untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan kebutuhan masa datang maka pendidikan di sekolah dititipi seperangkat misi dalam bentuk paket-paket kompetensi. Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan perangkat kompetensi yang telah ditentukan. Kehandalan kemampuan siswa melakukan sesuatu harus didefinisikan secara jelas dan luas dalam suatu standar yang dapat dicapai melalui kinerja yang dapat diukur. 4. Sejalan dengan visi pendidikan yang mengarah pada dua pengembangan. dalam arti memiliki pengetahuan. penilaian. Dasar pemikiran untuk menggunakan konsep kompetensi dalam kurikulum adalah sebagai berikut: 1. 2. Kurikukum yang dikembangkan tersebut diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). 3. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa. Competency Based Education is education geared toward preparing indivisuals to perform identified competencies (Scharg dalam Hamalik. 2000: 89). Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu kurikulum berbasis kompetensi sebagai pedoman pembelajaran. Kompetensi berkenaan dengan kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks. keterampilan. Kompetensi menjelaskan pengalaman belajar yang dilalui siswa untuk menjadi kompeten. dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kurikulum 1994 perlu disempurnakan lagi sebagai respons terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi desentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU Nomor 22 dan 25 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu (Puskur. 2002a).Implementasi pendidikan di sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum. Kompetensi merupakan pengetahuan. keterampilan. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten. Kompeten merupakan hasil belajar (learning outcomes) yang menjelaskan hal-hal yang dilakukan siswa setelah melalui proses pembelajaran. kegiatan belajar .

Sumber belajar bukan hanya guru. tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. Kompetensi dasar . keterampilan. Mari kita lihat contohnya dalam mata pelajaran matematika. atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah dan sekaligus menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten. Rumusan kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui. diketahui. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Struktur kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam suatu mata pelajaran memuat rincian kompetensi (kemampuan) dasar mata pelajaran itu dan sikap yang diharapkan dimiliki siswa. dan (2) keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya.mengajar. Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna. Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika merupakan gambaran kompetensi yang seharusnya dipahami. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. disikapi. dan dilakukan siswa sebagai hasil pembelajaran mata pelajaran matematika. Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok. Kompetensi dasar matematika merupakan pernyataan minimal atau memadai tentang pengetahuan. yaitu: • • • pemilihan kompetensi yang sesuai spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi pengembangan sistem pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: • • • • • Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal. sikap dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak setelah siswa menyelesaikan suatu aspek atau subaspek mata pelajaran matematika.

6. olahpikir. juga tidak dimaksudkan untuk menentukan bagaimana guru melakukan penilaian. Indikator bukan berarti dirumuskan dengan rentang yang sempit. atau melalui kinerja atau melakukan tugas lainnya. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati.tersebut dirumuskan untuk mencapai keterampilan (kecakapan) matematika yang mencakup kemampuan penalaran. Struktur kompetensi dasar Kurikulum Berbasis Kompetensi ini dirinci dalam komponen aspek. olahrasa dan olahraga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Perumusan indikator adalah untuk menjawab pertanyaan. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) – Versi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan. dan kompleksitas kurikulum dinyatakan dengan kata kerja yang dapat diukur dengan berbagai teknik penilaian. disusun dan dibagi menurut aspek dari mata pelajaran tersebut. Misalkan. Setiap hasil belajar memiliki seperangkat indikator. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. pemecahan masalah. Guru akan menggunakan indikator sebagai dasar untuk menilai apakah siswa telah mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan. Hasil belajar mencerminkan keluasan. jika indikator menyatakan bahwa siswa mampu menjelaskan konsep atau gagasan tertentu. Pernyataan hasil belajar ditetapkan untuk setiap aspek rumpun pelajaran pada setiap level. Keterampilan dan pengetahuan dalam setiap mata pelajaran. “Bagaimana kita mengetahui bahwa siswa telah mencapai hasil belajar yang diharapkan?”. peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. maka ini dapat ditunjukkan dengan kegiatan menulis. presentasi. dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika. yaitu tidak dimaksudkan untuk membatasi berbagai aktivitas pembelajaran siswa. kelas dan semester. kedalaman. Peningkatan efisiensi . Perumusan hasil belajar adalah untuk menjawab pertanyaan. komunikasi. “Apa yang harus siswa ketahui dan mampu lakukan sebagai hasil belajar mereka pada level ini?”.

pemberlakuan (baca: penamaan) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada. Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. standar pembiayaan . hingga pengembangan silabusnya. 19/2005. Terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan kurikulum berbasis kompetensi sebelumnya (versi 2002 dan 2004). esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paketpaket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter). tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. (6)standar pengelolaan. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. mulai dari tujuan. isi. maka dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. dan berkesinambungan. (2)standar proses. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan. beban belajar. kalender pendidikan. pemerintah telah menggiring pelaku pendidikan untuk mengimplementasikan kurikulum dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan. . yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di setiap satuan pendidikan. (3)standar kompetensi lulusan. yaitu PP No. (4)standar pendidik dan tenaga kependidikan. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. struktur dan muatan kurikulum. yaitu: • • • • • Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal. dan (7)standar penilaian pendidikan. Akan tetapi. terarah. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana. Sumber belajar bukan hanya guru. (5)standar sarana dan prasarana. Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. yaitu: (1)standar isi. bahwa sekolah diberi kewenangan penuh menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar yang telah ditetapkan. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Secara substansial. visi – misi.

sosial budaya. Daftar Pustaka Hamalik. Kesimpulan Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) versi tahun 2002 dan 2004 6. Sebab. kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Kurikulum yang mewarnai pendidikan Indonesia: 1. Kurikulum 1984 4. 2009. ekonomi. Bandung: P.c. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) versi Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP) Perubahan-perubahan kurikulum tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut. Kurikulum 1975 3. Kurikulum 1968 dan sebelumnya 2.T Rosdakarya . Kurikulum 1994 5. dan Iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Dasar – Dasar Pengembangan Kurikulum. Oemar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful