Você está na página 1de 21

AGRITEK VOL. 18 NO.

2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

ANALISIS PERENCANAAN KAWASAN INDUSTRI HUTAN RAKYAT (KIMHUTRA) DURIAN SISTEM EMPAT STRATA
Analysis of Center for Durian Based Community Forest under the Four Storey System Hany S. Handayawati Mahasiswa PM PSLP PPSUB Soemarno Dosen Jurusan Tan ah, FP UB ABSTRACT Durian community forest systems in East Java suggest any good prospects ecologically and economically. A number of strength in developing durian community forest are (1) availability of any raw materials supported by the comparative advantage of agroecological resources and social institution, (2) competitive advantages of durian fruit products, (3) availability of land resources that is suitable for durian gardenings, (4) availability of physical infrastructures and supporting social institutions , (5) a high potency of local market, regional market and national market, (6) a high opportunities in improving farmer income through any durian farming, and (7) a high sustainability of any community forestry of durian. Outcomes expected from the durian community forest development are: (a) improving agribusiness activities of durian involving any cluster of stakeholders, (b) financial institution of Cooperation which can coordinate any production-cluster and distribution-cluster, (c) durian processing activities produce any kinds of durian-products , (d) improving competitiveness of durian products. Keywords: durian community forest ABSTRAK Sistem hutan rakyat dengan komoditi durian di wilayah Jawa Timur mempunyai prospektif yang sangat baik secara ekologis dan ekonmis. Beberapa kekuatan dalam pengembangan hutan rakyat durian: (a). ketersediaan bahan baku yang didukung oleh keunggulan komparatif kondisi agroekologi dan kelembagaan usahatani hutan rakyat (community forestry), (b) sifat unggul komoditi perkebunan durian dan pohon industrinya, (c) ketersediaan Sumberdaya Lahan yang sesuai bagi tanaman durian, (d) sarana /prasarana dan kelembagaan penunjang yang komitmennya tinggi terhadap hutan rakyat dan industri pengolahannya, (e) potensi pasar domestik, regional dan nasional yang sangat besar, (f) peluang memperbaiki kesejahteraan petani dan masyarakat yang sangat besar kalau dikelola secara profesional dan berkeadilan, dan (g) keberlanjutannya sangat terjamin karena masyarakat ikut memiliki. Beberapa peluang yang dapat diaktualisasikan dalam pengembangan hutan rakyat durian (a) pasar domestik (lokal, regional dan nasional) sangat terbuka, ( b) diversifikasi produk-produk industri perkebunan sangat potensial, (c) kebutuhan pengembangan keterkaitan antara cluster usahatani dengan cluster olahannya dalam kelembagaan Kawasan Industri, (d) kebutuhan Pemberdayaan sistem kelembagaan produksi perkebunan. Outcome yang dapat diperoleh dari pengembangan hutan rakyat durian : (a)

224

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

berkembangnya hutan rakyat durian dengan keterkaitan yang adil di antara cluster-cluster yang ada, (b) terbentuknya Koperasi pengelola agroforestry yang mampu mengkoordinasikan sistem produksi dan sistem distribusi produk-produk olahannya, (c) berkembangnya industri pengolahan milik masyarakat , (d) meningkatnya citra dan keunggulan produk domestik. Kata kunci: hutan rakyat durian PENDAHULUAN Pengembangan KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata di HPKM-Malang Selatan ini pada hakekatnya ditujukan untuk memanfaatkan seoptimal mungkin sumberdaya lahan kritis secara lestari berdasarkan keunggulan komparatifnya. Pemilihan komoditi unggulan durian dengan komoditi penunjangnya didasarkan atas keunggulan wilayah dan peluang untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan manfaat ekologis bagi kesejahteraan masyarakat. Beberapa hal yang melatar-belakangi pengembangan KIMHUTRA-Durian Sistem Empat Strata adalah: 1. Pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan lahan kritis melalui pengembangan KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata terpadu 2. Antisipasi Krisis buah segar, akibat melimpahnya durian impor 3. Berbagai distorsi dalam Sistem Distribusi produk buah durian: - Lemahnya posisi tawar petani produsen durian menghadapi lembaga pemasaran pada berbagai tingkatan - Produksi durian pada lahan subur mengalami tekanan berat dari komoditi lain - Sistem kemitraan petani durian LEMBAGA pemasaran kurang adil - Biaya transportasi relatif tinggi 4. Produk agribisnis durian masih terbatas pada buah segar 5. Potensi benefit ekonomi yang sangat besar dari agribisnis durian dan sinergi dengan penerapan sistem usahatani konservasi Pengembangan KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata ini ditujukan untuk memberdayakan masyarakat dalam melakukan usaha ekonomi produktif dan sekaligus melestarikan sumberdaya hutan dan lahan kritis dengan memanfaatkan keunggulan komparatif wilayah. Secara rinci tujuan dari program pengembangan KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata ini adalah: 1. Pemberdayaan Kelompok tani Pengelola KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata Terpadu 2. Pengembangan KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata Terpadu dengan komponen utamanya: (a). Cluster KSP (Kawasan Sentra Produksi) Hutan Rakyat Durian Sistem Empat Strata (SES); (b). Cluster Industri Pengolahan buah durian; (c). Cluster Industri Pupuk Organik Limbah industri pengolahan; (d). Cluster POSYANTEK dan Sistem Informasi Pasar; (e). Cluster KSP Ternak : Sapi atau Kambing kereman; (f). Cluster Transportasi dan Pemasaran & Promosi 3. Kajian Keunggulan produk-produk hilir dan industri pengolahan durian 4. Sosialisasi dan Komersialisasi hasilhasil kajian 5. Penrapan Gugus Kendali Mutu dalam sistem produksi Durian. KERANGKA KONSEP PENELITIAN Performance agribisnis durian di sutu wilayah pada saat sekarang dapat diabstraksikan berikut ini. Lima faktor yang menjadi KEKUATAN bagi pengembangan agribisnis durian adalah: (a). Ketersediaan lahan yang didukung oleh keunggulan komparatif kondisi

225

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

agroekologi; (b) Sifat unggul buah durian untuk pasar regional dan nasional; (c) Ketersediaan SDM dan masyarakat untuk mendukung hutan-rakyat durian yang unggul; (d) Sarana /prasarana dan kelembagaan penunjang yang komitmennya tinggi terhadap perhutanan durian dan industri pengolahannya; (e) Potensi pasar yang sangat besar. Beberapa KELEMAHAN yang menonjol adalah: (a) Kesenjangan hasilhasil penelitian dengan aplikasi secara komersial ; (b) Posisi lembaga pemasaran sangat dominan; (c) Belum terbentuknya keterkaitan-kemitraan yang adil antar pelaku (cluster) hutan-rakyat durian & sistem distribusi durian; (d) Produk yang dipasarkan masih terbatas pada buah segar; (e) Tingginya komponen biaya transportasi dalam struktur biaya produksi. Beberapa PELUANG yang dapat diidentifikasi adalah: a. Pasar domestik (lokal, regional dan nasional) sangat terbuka b. Diversifikasi produk-produk olahan durian sangat potensial c. Kebutuhan pengembangan keterkaitan antara cluster produksi dan cluster distribusi dalam kelembagaan KIMHUTRA durian terpadu d. Kebutuhan Pemberdayaan sistem kelembagaan produksi.

Ancaman yang dianggap serius adalah: a. Hambatan-hambatan sistem distribusi /perdagangan buah durian b. Persaingan dengan produk impor buah durian c. Persaingan dengan komoditi lain dalam penggunaan lahan d. Hambatan-hambatan sistem industri pengolahan durian Dampak yang dapat diharapkan adalah : 1. Berkembangnya KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata terpadu dengan keterkaitan yang adil di antara clustercluster yang ada 2. Terbentuknya Koperasi pengelola KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata yang mampu mengkoordinasikan sistem produksi dan sistem distribusi produk durian 3 Meningkatnya citra dan keunggulan produk durian domestik 4 Sinergi antar pelaku agribisnis / agroindustri dalam KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata terpadu 5. Tumbuh-kembangnya semangat masya rakat untuk memproduksi durian 6. Tumbuh-kembangnya pasar produkproduk olahan durian 7. Tumbuhnya semangat untuk melestari kan sumberdaya lahan kritis.

226

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

Konsep KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata

MANAJEMEN PENDANAAN DAN TEKNOLOGI

DANA INVESTASI

POSYANTEK

Teknol dana

Koperasi KIMHUTRA DURIAN

Kebun Teknologi & SIM-Pasar Industri Pengolahan DURIAN

KSP DURIAN 100-500 ha

Industri Pupuk Organik PENGOLAHAN LIMBAH

KSP TERNAK: SAPI/ KAMBING

Industri Perdagangan / PEMASARAN

EXTERNAL MARKET

KETERKAITAN ANTAR CLUSTER DALAM KIMHUTRA DURIAN-SES

227

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

CLUSTER ALSINTAN/SAPRODI KSP DURIAN Regional INDUSTRI PENGOLAHAN PRODUK OLAHAN Cluster pangan OLAHAN PASAR

- Pupuk - Pestisida - Herbisida

Bahan kimia penolong LIMBAH USAHATANI

LIMBAH INDUSTRI Cluster Pemasaran & Transportasi PROMOSI Kemas & Packaging Pasar Nasional

Cluster Agrokimia

Industri PETERNAKAN & Pakan ternak

IndustrI Pupuk Organik

SISTEM PERBANKAN DAN ASURANSI

KSP DURIAN: HUTAN-RAKYAT SISTEM EMPAT STRATA Strata I: Tanaman pagar, yaitu Mahoni, Pete, Sengon, Kaliandra, Lamtoro Gung, Glericidea

228

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

Strata II: Durian Sistem Empat Strata cebol / genjah jenis unggul Jarak tanam 6- 8 x 6 - 8 m

Strata III: Penguat teras rumput gajah & FEED- CROPS Tanaman sela jagung, kacang hijau, sayuran hingga durian umur 5-10 tahun

STRATA IV: SISTEM PENGGEMUKAN TERNAK: KAMBING / SAPI KEREMAN UNIT PENGOLAH LIMBAH

229

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

Primer

Sistem KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata: Organisasi Produsen

FORKA Durian SES

Investor Pemerintah

Konsultasi/investasi/Perkreditan

( PTL dan PPL) Tokoh/PEMUKA Agama/ Masyarakat

kredit dengan sistem bagi hasil

Suasta/ perwakilan ASOSIASI Pedagang buah Produsen Saprodi

kerjasama Pemasaran hasil buah & SAPRODI

SLADUR

Modal usaha

KOPERASI KIMHUTRA Durian SES

KUBA Durian S E S 25-30 RTP KSP DURIAN: HUTAN RAKYAT SES

230

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

Sistem Pemberdayaan KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata

FORKA Durian S E S BPTP

PL / PPL/LSM Tokoh masyarakat

POSYANTEK AGRIBISNIS DURIAN

Koperasi KIMHUTRA Durian SES

Suasta / Lembaga pemasaran

KUBA durian 25-30 RTP

KUBA durian 25-30 RTP

.............. .........

KUBA INDUSTRI PENGOLAHAN

SHOW-ROOM / PUSAT PAMER/ PUSAT PROMOSI PRODUK DURIAN

231

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

METODE PENELITIAN 1. Penetapan Lokasi dan Sasaran Jenis Usaha Pemilihan lokasi didasarkan atas ketersediaan lahan kritis, kesesuaian lahan serta agroklimatnya BAGI DURIAN, kesiapan prasarana, ketersediaan tenaga kerja serta sumberdaya lain yang membentuk keunggulan lokasi. Pemilihan komoditas utama dan penunjang serta jenis usahanya didasarkan atas potensi meng-hasilkan keuntungan, potensi pemasarannya, kesiapan dan penerimaan masyarakat atas jenis usahatani yang akan dikembangkan, keselarasan dengan kebijakan pembangunan daerah, serta potensi untuk penerapan usahatani konservasi. 2. Penentuan Kegiatan yang Dilakukan Penentuan kegiatan agribisnis durian mempertimbangkan hasil-hasil analisis SWOT mengenai kondisi riil saat ini dan kondisi yang diinginkan, yang dirinci menurut komponen- komponen penting sistem agribisnis, yaitu target grup, ketersediaan dan kesesuaian lahan, dan prasarana nya, ketersediaan sarana produksi, kemampuan pengelolaan budidaya, penanganan pasca panen, pemasaran, dukungan prasarana dan kelembagaan. 3. Rincian Kegiatan Lintas Sektoral Sinergis

pertanian, dan penyiapan kelembagaan pelaku agribisnis. Kegiatan teknis penunjang meliputi pembinaan teknis budidaya, cara memanen dan cara untuk mempertahankan kualitas produk, perlakuan pasca panen. (2). Pembinaan Pasca Panen dan Pemasaran Peningkatan ketrampilan teknis dalam penanganan pasca panen seperti cara memanen, mengumpulkan dan menyeleksi hasil panen serta peralatan yang diperlukan untuk mempertahankan kualitas hingga cara pengolahan produk untuk meningkatkan nilai tambah serta meningkatkan kemam-puan pemasaran. Untuk melaksanakan pembinaan dengan sarana yang tersedia di wilayah secara lebih optimal maka kerjasama dengan instansi per industrian dan perdagangan setempat harus dilakukan. (3). Pengembangan Usaha Agribisnis Cluster yang menyangkut pengelolaan usaha dan melaksanakan kemitraan dengan pedagang, dan industri pengolahan durian diberdayakan melalui pembinaan Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) ke arah terbentuknya koperasi petani durian, pembentukan Forum Komunikasi Agribisnis (FORKA), pelaksanaan temu-temu usaha, pelatihan kewirausahaan, dan peningkatan kemampuan BIPP (Balai Penyuluhan) sebagai SLADUR (Sekolah Lapangan Durian) dan pusat konsultasi dan pelayanan agribisnis durian. (4). Kegiatan Penunjang a. Pelayanan Sarana Produksi Pelayanan ini harus ada untuk menjamin ketersediaan sarana usahatani tepat waktu, jumlah dan harga yang wajar. Instansi pemerintah setempat harus mampu menciptakan iklim usaha dan mem-berikan dukungan agar koperasi atau pengusaha dapat menjalankan fungsinya secara wajar. Diperlukannya rekomendasi berbagai program insentif untuk

Kegiatannya antara lain meliputi halhal berikut ini. (1). Pengembangan Budidaya: HUTAN RAKYAT DURIAN Pengembangan hutan milik masyarakat dengan komoditi utama durian dan tanaman komplementernya, diidentifikasi menurut volume fisik yang jelas. Garis besar kegiatannya meliputi persiapan lahan dan penyiapan petani, pelatihan agribisnis dan usahatani konservasi, penyediaan bibit, agroinput & alat

232

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

mendorong tumbuhnya lembaga pelayanan, khususnya untuk lokasi yang terpencil. b. Pelayanan Informasi Teknologi Spesifik Lokasi Pelayanan informasi ini mencakup pemilihan kultivar dengan kualitas tinggi yang secara ekonomis dapat diproduksi di lokasi setempat, teknologi pembibitan, teknologi budidaya, pasca panen, pengolahan primer, sekunder hingga pengepakan buah segar maupun olahannya. Kerjasama peneliti-penyuluh dalam hal alih teknologi kepada petani harus dilakukan secara intensif. Kegiatan perlindungan yang harus mengawali pengembangan kawasan agribisnis durian terutama adalah pengawasan sebagai tindak preventif serta metode penanggulangan hama dan penyakit yang mungkin mengganggu tanaman mahoni dan durian, serta komoditas penunjangnya. Hal ini sangat penting untuk mencegah kerugian akibat kegagalan panen atau penurunan kualitas produk. c. Pelayanan Pembibitan Jaringan kerjasama dengan Penangkar bibit berlabel diperlukan untuk mendukung pengembangan komoditas MAHONI dan durian serta komoditi penunjangnya (tanaman sela: jagung, kedelai, kacang hijau, sayuran); tanaman pagar: Sengon, Pete, rumput gajah, gleriside). Aspek ini mencakup pengadaan bibit, pengawasan dan sertifikasi bibit, serta pembinaan petani penangkar bibit, khususnya untuk tanaman unggulan serta komoditas penunjangnya. d. Pengairan Kebun rakyat Durian Sistem Empat Strata memerlukan air untuk budidaya, pasca panen, dan kegiatan penunjang lainnya. Kebutuhan air bersih akan meningkat kalau telah terdapat kegiatan pengolahan, terutama dalam bentuk industri pengolahan pangan. Program pengairan dialokasikan untuk kegiatan penyediaan sumber air (sumur gali atau PAH) dan saluran air hujan (SPA).

e. Transportasi Sarana transportasi sangat vital dalam membangun kawasan agribisnis durian, dengan demikian program pembangunan sarana transportasi yang ada harus diarahkan untuk mampu menjamin tersedianya prasarana jalan (jalan desa dan jalan hutan) serta fasilitas transportasi yang memadai di kawasan sentra produksi, yang menghubungkannya dengan pusat-pusat pelayanan dan pemasaran. f. Sarana dan Prasarana Pemasaran Sarana dan prasarana pemasaran, seperti tempat penampungan, alat-alat penyimpanan dengan fasilitas pasca panen, alat-alat pengepakan, informasi harga serta fasilitas fisik pasar/kios yang memadai, sangat vital dalam pengembangan sentra agribisnis durian.

HASIL DAN PEMB AHASAN Teknologi Budidaya Durian (Durio zibethinus M) 1. Syarat tumbuh tanaman Tanaman ini dapat tumbuh baik pada ketinggian tempat 0-400 m dpl, dan masih dapat toleran hingga ketinggian 800 m dpl. Kondisi iklim dapat beragam dari 12 bulan basah hingga paling banyak 8 bulan kering dalam setahun. Kedalaman air tanah 50 cm hingga lebih dari 200 cm. Daerah yang mempunyai bulan kering tiga bulan masih dapat ditumbuhi durian, asal perakarannya cukup dalam dan tanah cukup lembab (sering disiram atau diberi saluran air). Pada musim kemarau di daerah yang iklim keringnya panjang dapat mengakibatkan bunga dan buah mudah rontok. 2. Bibit tanaman Bibit durian dapat diperoleh melalui perbanyakan vegetatif dan generatif. Cara vegetatif dapat berupa cangkokan, okulasi,

233

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

penyusuan, dan sambungan. Kultivar yang dianjurkan adalah Petruk (asal Jepara), Sunan (asal Boyolali), Sukun (asal Karanganyar), Stokong (asal Pasar Minggu), dan Simas (asal Bogor). 3. Penanaman bibit Pembuatan lubang tanam sebaiknya dilakukan pada musim kemarau, satu bulan sebelum penanaman, lubang tanam dibuat dengan ukuran 1x1x1 m, jarak tanam 6 m - 14 m tergantung kultivarnya. Tanah bagian bawah dibiarkan selama dua minggu, dan tanah lapisan atas dicampur dengan rabuk kandang. Penanaman bibit pada awal musim hujan, timbunan tanah Program pemupukan adalah sbb: Umur tanaman Rabuk kandang Bibit 1/3 keranjang bibit Penggalian 2 blek lubang 0.3 bulan 6 bulan 4 blek 1 tahun 6 blek 2 tahun 10 blek 3 tahun Sumber: SP2UK-P2LK 1991. 5. Hama dan penyakit tanaman 1. Penggerek buah, ulat buah, ulat batang, dapat dikendalikan dengan insektisida Sumithion 50 EC dan Basudin. 2. Jamur upas (Perticularia salmonicolor) yang menyerang cabangcabang durian; bercak kering daun (jamur Collectotrichum zibethianum); jamur Himostegia durionis yang menyebabkan onggokan spora bulan pada daun durian; Jamur Phyllosticts durionis, menyebabkan bercak coklat pucat pada daun. Penyakitpenyakit ini dapat dikendalikan dengan cara menyikat/membersihkan cabang yang ada jamurnya, memberi fungisida Dithane M-45 dan Antracol. Penetapan Target Perencanaan

pada lubang tanam digali sesuai dengan ukuran keranjang bibit. Penananam bibit dilakukan hingga batas leher akar. 4. Pemeliharaan tanaman Tanaman muda perlu diberi naungan secukupnya untuk melindungi sengatan matahari dan pukulan hujan. Pupuk dibenamkan pada empat lubang mengelilingi tanaman, lubang pupuk sedalam 15 cm. Pemberian pupuk kandang dan NPK dapat dicampur dalam lubang-lubang tersebut. Saat penaburan pupuk yang tepat ialah saat tanaman tidak mengeluarkan tunas baru, dan tidak pada saat berbunga.

Pupuk NPK 1 sendok makan 40-80 g 150-300 g 400-800 g

Keterangan 2 kali setahun 2 kali setahun 2 kali setahun

Tujuan pengembangan KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata ini adalah peningkatan pendapatan petani durian di HPKM-Malang Selatan yang direncanakan menjadi sentra produksi komoditas durian. Tujuan lainnya adalah meningkatkan kegiatan perekonomian pedesaan di sekitar sentra produksi durian tersebut yang pada akhirnya diharapkan membawa perbaikan pada taraf hidup masyarakat sekitarnya. Sasaran pokok atau target yang ingin dicapai untuk menjadikan sentra pengem bangan agribis komoditas durian adalah : 1. Pengembangan atau pembangunan hutan durian masyarakat di HPKM-Malang Selatan dengan total areal sekitar 500 ha (Sekala model 10 ha). 2. Penumbuhan dan peningkatan

234

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

peran kelembagaan dalam pembangunan pertanian meliputi : Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) durian, Koperasi Petani Durian Sistem Empat Strata, perusahaan/swasta, BIPP, SLADUR dan FORKA (Forum Komunikasi Agribisnis Durian Sistem Empat Strata). 3. Pembangunan perluasan dan perbaikan sarana dan prasarana di lima wilayah kecamatan, khususnya pada lokasi-lokasi dimana sentra agribisnis komoditas durian akan dibangun. Sarana prasarana tersebut meliputi antara lain : sistem pengairan dengan sumur gali, jalan desa/jalan hutan, energi listrik pedesaan, pasar desa dan pusat informasi agroteknologi. 4. Perbaikan dan peningkatan fasilitas penanganan pasca panen buah dan sistem pemasaran tradisional. Pengembangan Komoditas 1. Pembangunan Kebun Durian Sistem Empat Strata Bangkok dan Bajul ditetapkan sebagai kultivar durian yang akan ditanam pada UTPP kawasan Agribisnis (KIMHUTRA) Durian Sistem Empat Strata. Target pembangunan hutan durian/sentra produksi durian di wilayah

ini adalah seluas 500 Ha kawasan inti (penghijauan hutan rakyat); seluas 1000 ha daerah dampak, akan dilaksanakan secara bertahap ber-kesinambungan dalam waktu beberapa tahun. Agroteknologi Hutan-Rakyat Durian Sistem Empat Strata Lima hal yang masih dipandang sangat penting untuk menunjang pengembangan KIMHUTRA durian, adalah : (1). Inovasi teknologi bibit dan pembibitan; (2). Teknologi off-season; (3). Teknologi penghambatan pematangan buah durian; (4). Pengembangan SLADUR sebagai pusat informasi durian ; (5). Teknologi pengolahan buah durian. 3. Pola Pengembangan Sentra dan Demplot Sebagaimana telah dikemukakan bahwa pada HPKM-Malang Selatan ini akan dikembangkan sentra produksi durian seluas 500 ha hutan rakyat inti. Sekitar 1.0 Ha dari hutan inti tersebut akan dikelola oleh Penyuluh Lapang (PL), merupakan hutan inti sekaligus berfungsi sebagai Demplot hutan durian. Sedangkan selebihnya merupakan tanaman durian yang dikelola petani durian. 2.

Hutan RAKYAT Durian S E S: Setiap RTPLK = 0.5 ha hutan

Tanm pagar : Mahoni, Sengon, Pete, Kaliandra, Gleriside

6 -8 m

235

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

Phn durian 6-8 m jalan hutan

tnm sela: Jagung, kac.hijau

arah slope

PAH / sumur batas lahan

4. Tanaman Sela, dan Tanaman Pagar /Pembatas Pada areal KIMHUTRA di antara pohon durian muda yang ditanam dengan jarak 6-8 x 6-8 meter akan ditanam tanaman palawija jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, cabai/lombok atau ubikayu yang dapat dipanen setelah 3 - 4 bulan. Tujuan dari pemberian tanaman sela ini antara lain agar petani dapat memperoleh hasil/ pendapatan dari lahan usahataninya sebelum tanaman durian berproduksi. Salah satu dari kedua palawija tersebut akan ditanam secara bergilir hingga pohon durian mencapai usia 5 tahun. Sedangkan tanaman pagar/pembatas dapat berupa mahoni, pete, sengon, randu, durian atau pohon kayu-kayuan lainnya. 5. Kondisi Fisik

Setelah kurun waktu lima tahun, diharapkan tercipta sentra produksi durian milik petani dengan kondisi sebagai berikut : a. Terdapat hutan durian monokultur populasi tanaman durian sebanyak 250 pohon per hektar dengan jarak tanam 6 x 6 meter. b. Setiap petani berhasil mengelola 0.5-1 ha hutan durian atau 125 - 250 pohon produktif. c. Kebun dilengkapi dengan jalan (jalan hutan) sepanjang 100 meter/Ha. d. Terdapat sumur gali atau embung dua buah per/ha sebagai sumber air bersih. Pemberdayaan Kelembagaan KIMHUTRA Durian SES Kelembagaan yang ingin diwujudkan kurun waktu tersebut di atas adalah

236

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

sebagai berikut. 1. Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) Durian Sistem Empat Strata Target penumbuhan kelompok tani sebagai lembaga inti pengembangan sentra agribisnis durian dalam kurun waktu tersebut mencapai jumlah 50 KUBA. Target penumbuhan kelompok tani sebanyak 50 KUBA ini berdasarkan pertimbangan bahwa dalam skala/luasan 20 Ha hutan/pekarangan dapat dibentuk satu kelompok tani dan dapat bekerja secara efektif. Satu KUBA durian terdiri dari 20-30 RTPLK dengan setiap orang diharapkan menguasai lahan tegalan rataan seluas 0.5 Ha. Dalam 1 Ha lahan akan ditanami durian sebanyak 250 pohon. Dengan demikian satu KUBA Durian Sistem Empat Strata mempunyai tanaman sebanyak 2500-3125 pohon durian. Penumbuhan kelompok tani pada Sentra Agribisnis durian seyogyanya didasarkan pada kedekatan hamparan dengan maksud mempermudah menghadapi masa panen dan pemasaran hasil. Karena penumbuhan kelompok tani berdasarkan kedekatan hamparan usahataninya, maka melalui pelatihanpelatihan (sekolah lapang) dan dengan bimbingan Petugas Penyuluh Lapangan (PL II) petani-petani yang tergabung dalam kelompok tani hamparan tersebut diharapkan mampu mandiri. 2. Balai Informasi dan Penyuluhan Pertanian (BIPP)

BIPP merupakan pusat penyuluhan yang diharapkan mampu mengakomodasikan seluruh permasalahan di bidang penyuluhan khususnya pada komoditi durian. Fungsi dan peran BIPP ditingkatkan hingga menjadi Sekolah Lapangan Agribisnis Durian Sistem Empat Strata (SLADUR). Sebagai lembaga kepanjangan Pemerintah yang berada dan terdekat dengan petani maka diharapkan SLADUR akan mampu menjadi pusat untuk : - Meningkatkan kemampuan manajerial kelompok tani antaranya memantapkan/membudayakan usaha bersama antar petani dalam satu kelompok dan antar KUBA yang bergabung dalam satu wadah koperasi. - Membina para kontak tani sebagai pengurus koperasi dalam kemampuan pengurus Koperasi mengelola usaha dalam hal perencanaan pengadaan saprodi yang dibutuhkan petani (anggota koperasi). - Mendukung kebutuhan modal petani melalui menyediakan informasi fasilitas kredit yang layak. - Mendukung tersebarnya informasi pasar harga dan permintaan kepada para petani sebagai jaminan petani memperoleh harga yang wajar bagi produknya. - Mendukung peningkatan kerjasama/ kemitraan antara petani dan pengusaha. - Pusat disseminasi informasi teknologi spesifik lokasi dengan bermitra kerja dengan BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian-Malang).

KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata seluas 200 ha

RTPLK-1 0.5 ha tegalan 125 ph durian

RTPLK-2 0.5 ha tegalan 125 phn durian tnm sela

RTPLK-400 0.5 ha tegalan 125 ph durian

237

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

tnm sela PL 1.0 ha Tegalan 125 phn durian tnm sela

tnm sela

SLADUR

KUBA-1 25 RTPLK 12.5 ha hutan 3125 ph durian

KUBA-2 25 RTPLK ....... 12.5 ha hutan 3125 ph durian

KUBA-16 25 RTPLK 12.5 ha hutan

KOPERASI PETANI Durian SES Kebun Inti 200 ha, 50.000 pohon durian Klon UNGGUL Tanaman sela jagung, kedelai, kac hijau 200 ha SUASTA Industri pengolahan durian PASAR Pedagang BRI/BPD KKPA, KUT

Sarana dan Prasarana yang dibutuhkan 1. Pengairan Ketersediaan air merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi pada saat proses produksi s/d proses pengolahan. Bantuan pembuatan sistem Pengairan Air Sumur (PAS) diharapkan dapat terlaksana, atau kalau tidak memungkinkan dapat dikem-bangkan sistem Pengairan Air Hujan melalui pembangunan kolam penampung air hujan (PAH). Idealnya, sebuah sumur / PAH harus terdapat pada setiap 1 ha hutan durian. 2. Jasa Angkutan dan Transportasi Pembangunan sarana/prasarana angkutan kondisi jalan di sekitar sentra produksi durian maupun dari sentra

produksi ke jalan Kabupaten menentukan kecepatan penyaluran saprodi dan pengangkutan/pemasaran hasil produksi. Kondisi jalan desa disekitar sentra produksi durian perlu ditingkatkan dari jalan tanah/makadam ke jalan aspal, sehingga mudah dilalui kendaraan roda empat walaupun pada musim hujan, yang lebih lanjut meningkatkan efisiensi pengangkutan hasil/saprodi. Dengan rencana peng-embangan sentra produksi durian seluas 1000 Ha dan standard kebutuhan jalan hutan/jalan desa adalah 100 m/ha, maka dalam kurun waktu lima tahun dibutuhkan perbaikan/ pembangunan jalan kurang lebih sepanjang 100 km. Dengan meningkatnya kondisi jalan di sekitar sentra, diharapkan akan mening-katkan frekwensi lalulintas angkutan umum termasuk angkutan

238

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

barang disekitar sentra produksi durian yang pada akhirnya menumbuhkan dan meningkatkan kegiatan sektor sektor jasa yaitu jasa angkutan umum termasuk angkutan barang. 3. Pasar Pasar yang ada untuk tingkat wilayah desa/kecamatan telah cukup memadai. Hal yang perlu ditingkatkan fasilitasnya adalah pasar di tingkat kabupaten. Untuk mengantisipasi melimpahnya durian yang akan dipasarkan dalam bentuk buah segar, maka pasar ditingkat kabupaten perlu dilengkapi fasilitas transportasi untuk mengangkut hasil produksi dari desa dan kecamatan. 4. Alsintan Alsintan yang dibutuhkan dalam pengembangan sentra agribisnis durian adalah : - Blower /sprayer sejumlah 1 buah/ Ha hutan - Sumur gali atau PAH sebanyak 1-2 buah setiap hektar hutan - Gerobak pengangkut di hutan. Pengolahan dan Pemasaran 1. Pengolahan Buah durian dapat dijual dalam bentuk buah segar atau hasil olahannya. Upaya pengolahan untuk mendapatkan buah segar berkualitas tinggi meliputi : Pemeraman untuk menyeragamkan kematangan buah dengan bahan kimia; Penghambatan proses pematangan buah dengan Cold Storage dan Kemasan; Grading; Packing/pengemasan; Kalender panen tanda setelah panen sesuai dengan tanggal dipetik; dan Buku harian pakan (untuk memonitor produksi pohon). Durian Bangkok merupakan jenis durian yang masih mempunyai prospek besar dijual sebagai buah segar. Namun demikian tetap perlu dilakukan antisipasi terjadinya fluktuasi harga atau turunnya harga durian segar pada saat booming produksi/supply durian. Pengolahan buah durian menjadi produk olahan dapat berupa :

- Manisan/asinan durian - Kripik Durian Sistem Empat Strata - Selai dan sirup - Buah potong dalam kaleng atau juice durian. Industri selai dan sirup dapat dilakukan sebagai home Industri dan bahan bakunya cukup dipenuhi dari durian yang bukan kualitas nomor 1. Untuk industri kripik, buah potong dalam kaleng atau juice durian diperlukan pengolahan skala besar, dengan kebutuhan bahan baku (buah durian) yang harus di supply secara kontinue. Paling sedikit dibutuhkan areal panen seluas 500 Ha untuk dapat memenuhi bahan baku durian bagi industri tersebut. 2. Pemasaran Durian Sistem Empat Strata khususnya Bangkok, masih memiliki potensi yang cukup besar untuk dijual dalam bentuk buah segar. Alur pemasaran buah durian dalam kurun waktu lima tahun yang akan datang adalah seperti berikut. Rantai/alur pemasaran A akan terus di tingkatkan dan dikembangkan, guna memperpendek rantai tata niaga dan sebagai hasilnya diharapkan meningkatkan market share petani lebih besar dari 45 % dari harga beli konsumen. Rantai/alur pemasaran B adalah sistem pemasaran buah durian yang telah terbentuk sejak lama. Pada pemasaran dengan sistem ini, upaya yang diperlukan adalah memberikan/ meningkatkan kesadaran petani untuk mengurangi penjualan dengan sistem tebasan kontan atau ijon, guna meningkatkan market share petani dari harga beli konsumen. RANCANGAN KEGIATAN Untuk mewujudkan KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata di HPKM Malang Selatan, maka berbagai kegiatan dalam seluruh subsistem-subsistem agribisnis termasuk subsistem penunjangnya perlu diprogramkan secara sistematis. Perwujudan Kawasan

239

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

agribisnis durian akan memerlukan waktu sekitar 5 sampai dengan 10 tahun, dimana 5 tahun adalah kebutuhan waktu untuk pembangunan hutan (penanaman) dan 5 tahun adalah kebutuhan waktu untuk pemberdayaan KUBA mandiri. Berikut ini diuraikan kegiatankegiatan yang ditargetkan untuk dapat dilaksanakan dalam kurun waktu 5 - 10 tahun. Rancangan kegiatan ini difokuskan pada pengembangan 1000 Ha hutan durian monokultur sebagai inti dan sekitar 500 ha durian plasma dan 1000 ha lahan pekarangan sebagai daerah dampak dari KIMHUTRA durian. Rancangan kegiatan ini memberikan gambaran kegiatan-kegiatan pokok yang akan ditangani melalui proyek sejak penanaman sampai dengan pemeliharaan tahun ke 4 karena tanaman durian baru dapat di panen pada tahun ke 5. 1. Pemantapan Kelembagaan Kelembagaan yang harus ada di lokasi KIMHUTRA meliputi kelembagaan petani, kelembagaan ekonomi dan kelembagaan aparatur. (1). Kelembagaan KIMHUTRA Empat Strata Durian Pengelola Sistem

Usaha pemeliharaan durian dengan sistem KUBA disarankan dengan perbaikan paket agroteknologi alternatif sebagai berikut : 1. Sistem perhutanan durian permanen dengan pemeliharaan tanaman secara intensif 2. Menggunakan bibit durian jenis unggul, misalnya Bangkok atau Bajul 3. Kebun monokultur lebih disarankan apabila memungkinkan. 4. Pengawasan kesehatan dan kesuburan tanaman dilakukan dengan menerapkan praktek budidaya tanaman secara intensif. 5. Recording buku harian individu tanaman durian dan pengawasan periode pembungaan dan pembuahan kalau memungkinkan. 6. Menerapkan teknologi penanganan pasca panen buah untuk menyeragamkan pematangan buah atau menangguhkan proses pematangan melalui manipulasi teknologi kemasan. Kelayakan Disain KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata (1). Kelayakan Teknis Hutan rakyat durian digunakan secara khusus untuk memproduksi buahbuah durian yang kualitasnya bagus; sedangkan pengelolaan hutan RAKYAT dapat mengikuti rekomendasi yang ada. Tanaman sela selama lima tahun pertama adalah kedelai atau jagung yang dikelola secara intensif. (2). Kelayakan Ekonomi Sekala ekonomi minimum bagi rumah tangga petani adalah 0.5-1.0 ha dengan jumlah pohon produktif 100-200 pohon. Peningkatan produksi dan pendapatan usahatani durian mulai tahun ke V diharapkan telah cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga secara memadai (telah melampaui batas ambang kemiskinan); Fluktuasi pendapatan dan produksi hampir merata dari tahun ke tahun tahun. Penyerapan tenaga kerja memung-kinkan mempekerjakan tenagakerja luar

a. Setiap petani menjadi anggota KUBA Durian Sistem Empat Strata yang mengelola hutan-rakyat. b. Setiap KUBA Durian Sistem Empat Strata tani beranggotakan 20 - 30 RTPLK. c. Setiap petani menguasai sekitar 0.5 1.0 ha lahan untuk hutan-rakyat durian. d. Setiap 15 KUBA Durian Sistem Empat Strata diberdayakan dan didampingi oleh 1 orang PL. e. Setiap orang PL mengelola 0.5 - 1.0 ha hutan inti yang berfungsi sebagai hutan produksi, pusat informasi teknologi durian, yang dilengkapi dengan SAUNG (gubuk tempat pertemuan kelompok tani). (2). Disain Inovasi Agro-Teknologi

240

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

keluarga ; Secara ekonomi layak; Beberapa faktor penunjang kelayakan ekonomi tersebut adalah : a. Menambah sasaran produksi, yaitu grading buah-buah durian untuk pasar lokal, regional dan kota-kota besar. b. Meningkatkan hasil buah durian secara bertahap setiap tahun hingga sasaran akhir tahun ke 10 dengan sekala usaha 50-100 pohon produktif setiap rumahtangga yang memiliki lahan kering 0.5 -1.0 ha. c. Mengurangi fluktuasi produksi dan pendapatan dengan jalan disiplin usaha dan pemantauan/pemeliharaan tanaman produktif secara intensif. d. Menciptakan adanya pola usaha bersama (KUBA) secara berkelompok dengan pangsa yang relatif sama. (3). Kelayakan Sosial Usaha pemeliharaan durian secara berkelompok telah lazim dilakukan dengan kerjasama yang serasi; dengan demikian proyek KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata ini tidak akan menimbulkan konflik sosial dan mengganggu sistem kelompok yang telah serasi. (4). Rekayasa Kelembagaan 1. Petani yang terikat pinjaman dengan pedagang/pelepas uang harus melunasi untuk melepaskan ikatan tersebut; 2. Respon terhadap inovasi teknologi masih harus ditingkatkan, karena keterbatasan akses individu petani terhadap sumber informasi inovasi, peluang- peluang bisnis dan informasi pasar yang ada; 3. Respon masyarakat umumnya rendah dan terkesan bahwa peran KUD dalam membantu pemasaran hasil buah serta penyediaan modal belum banyak dirasakan oleh masyarakat petani ; 4. Respon terhadap perkreditan formal rendah, hal ini disebab- kan pengalaman sebelumnya dimana penyaluran kredit kurang aspiratif, terlalu birokratif, bunga tinggi dan tidak sesuai dengan kebutuhan petani .

Berdasarkan atas beberapa kendala tersebut, maka strategi rekayasa kelembagaan yang perlu disarankan adalah sebagai berikut : 1. Menciptakan usaha berkelompok dari RTPLK yang memungkinkan berkongsi dengan pangsa yang relatif seimbang dalam bentuk KUBA; 2. Meningkatkan peran serta PTL, PPL, dan tokoh masyarakat dalam pembinaan KUBA durian; 3. Mengurangi secara bertahap ketergantungan petani pada pedagang/ lembaga pemasaran sehingga meningkatkan posisi tawar- menawar dalam pemasaran hasil ; 4. KUBA-KUBA durian perlu membentuk koperasi petani durian (Unit Usaha Otonom Agribisnis) yang berfungsi sebagai jembatan penghubung antara kelompoktani durian dengan dunia luar, baik dunia bisnis, birokrasi dan perbankan, maupun sumber inovasi teknologi 5. Memperkenalkan kredit yang ditempuh dengan sistem bagi hasil, serta mengatur sistem bagi hasil yang lebih seimbang dengan melibatkan lembaga antara , yaitu Koperasi petani durian. (5). Pranata Tugas dan tanggung masing-masing komponen organisasi yang diusulkan tersebut diuraikan sebagai berikut : a. Investor Pemerintah: - Menyediakan fasilitas kredit lunak dalam bentuk paket agribisnis durian intensif untuk KUBA melalui koperasi petani durian; - Menjalin kerjasama kemitraan dalam permodalan dengan koperasi petani dengan jalan menyediakan kemudahan-kemudahan birokrasi dan administrasi; - Menjalin kerjasama konsultatif dengan Koperasi petani durian, khususnya dalam pelatihan manajemen permodalan bagi usaha agribisnis durian.

241

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

b. Suasta: Pedagang buah/Produsen Saprodi : - Diharapkan bersedia sebagai mitra kerja Koperasi Petani Durian Sistem Empat Strata atau KUBA durian, dengan jalan menunjuk perwakilannya di desa ; - Menjalin kerjasama kemitraan dengan jalan menyediakan informasi-informasi pasar dan transfer teknologi inovatif . c. Petugas Penyuluhan/Teknis Lapangan (PPL/PTL) : - Bertanggung jawab terhadap pelatihan dan penyuluhan untuk lebih meningkatkan akses petani kecil terhadap peluang-peluang ekonomi yang ada dan penguasaan teknologi; - Menjalin kerjasama konsultatif dan kemitraan dengan instansi terkait dan tokoh masyarakat setempat dalam pelaksanaan transfer teknologi dan pembinaan pengelolaan usaha d. Koperasi Petani Durian Sistem Empat Strata (Unit Usaha Otonom ) - Mengawasi, mengkoordinasikan dan membina pelaksanaan sistem usaha agribisnis yang dilakukan oleh KUBA durian ; - Membantu KUBA dalam operasionalisasi kegiatan pembinaan agribisnis durian ; - Membina mekanisme kerja pengembalian kredit sehingga dapat memenuhi aspirasi petani dan sumber kredit ; - Menjalin kerjasama kemitraan dengan suasta pedagang telur dan produsen/pedagang SAPRODI ; - Membina dan mengembangkan mekanisme tabungan sukarela dari para petani. e. RTPLK Pemilik-pengelola Kebun rakyat Durian Sistem Empat Strata - Melaksanakan usaha agribisnis durian melalui KUBA - Menjalin kerjasama kemitraan dengan instansi/ investor melalui mekanisme "kerjasama yang saling menguntungkan"; - Mengikuti pelatihan teknologi

sebelum/selama operasio nalisasi kegiatan; Memasarkan hasil produksinya kepada lembaga pemasaran yang bermitra dengan KUBA Pengelolaan pemilikan alat produksi (jika kredit telah lunas), tetap berusaha secara kongsi di bawah pengawasan dan pembinaan KUBA dan Koperasi; Menjalin kerjasama dengan Koperasi KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata melalui program tabungan bebas sebagai dana untuk perawatan alat-alat produksi.

KESIMPULAN DAN SARAN Untuk mengembangkan KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata diperlukan pembinaan dan pembiayaan dari Pemerintah selama 4-5 tahun. dasar pertimbangan dibutuhkannya waktu 5 tahun adalah sebagai berikut : 1. Sasaran luas areal yang akan dikembangkan menjadi KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata adalah 500 ha dengan target penanaman 100 Ha/tahun. Dengan demikian dibutuhkan waktu selama 5 tahun untuk mengembangkan 500 ha KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata di lokasi Malang selatan. 2. Tanaman durian baru dapat berproduksi setelah tanaman berusia 5 tahun. Agar petani mampu melakukan melakukan pemeliharaan tanaman sesuai paket teknologi yang dianjurkan, maka diharapkan pembinaan dan bantuan Pemerintah diberikan kepada petani tidak hanya berupa paket 1 tahun (pada tahun penanaman) tapi juga pembinaan dan paket pemeliharaan tanaman sampai dengan tanaman mulai berproduksi. Tanaman yang ditanam pada tahun ke 5 baru akan berproduksi pada tahun ke 9. Oleh karena itu dibutuhkan waktu sampai dengan 10 tahun untuk mencapai tingkat kemandirian seluruh KIMHUTRA Durian Sistem Empat Strata . Pada setiap tahun dapat dilaksanakan evaluasi dampak (ex-post evaluation) untuk menilai besarnya dampak

242

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

pembangunan KIMHUTRA durian terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, dan peningkatan kegiatan ekonomi pedesaan pada umumnya. DAFTAR PUSTAKA Adjid, D. A. 1985. Pola Partisipasi Masyarakat Pedesaan Dalam Pembangunan Pertanian Berencana. Orba Shakti Bandung. Amin Azis, M. 1990. Agroindustri: Pilihan Industrialisasi Pedesaan. Seminar Nasional Pedesaan Universitas Brawijaya, Malang 1225 Maret 1990. Amin Azis, M. 1991. Interaksi Sektor Pertanian dan Sektor Industri dalam Proses Industrialisasi. Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional V, Jakarta 3-7 September 1991. Pusat Analisa Perkembangan IPTEK-LIPI, Jakarta. Ashary, S., Soemarno, Syamsulbahri, dan B.Setiawan. 1997. Rancang Bangun dan rekayasa Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan (SPAKU) : Komoditas Mangga, Pepaya, Klengkeng, Salak, Pisang, Durian, Rambutan di Jawa Timur, Kanwil DEPTAN Jawa Timur Edward, A.A.,R. Lal, P. Madden, R.H. Miller dan G. House. 1990. Sustainable Agricultural Systems. Soil and Water Conservation Society. Iowa. Johnston dan Clark, 1982. Dalam Kasryno F. Suatu Alternatif Pembangunan Pedesaan, Studi Dinamika Pedesaan , Yayasan SAE, Bogor, 1983. Manning, Chris dan Tadjuddin Noer E., 1991, Urbanisasi, Pengangguran dan Sektor Informal di Kota, Jakarta: Gramedia Manuwoto. 1991. Peranan Pertanian Lahan Kering di dalam Pembangunan Daerah. Simposium Nasional Penelitian dan Pengembangan Sistem Usahatani

Lahan Kering yang Berkelanjutan. Malang 29-31 Agustus 1991. Metzner, J. dan N. Daldjoeni. 1987. Ekofarming. Bertani Selaras Alam. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 1987. Mittal, S.P dan P. Singh. 1989. Intercropping field crops between rows of L. leucocephala under rainfed conditions in northern India . Agroforestry Systems 8: 165- 172. Mosher,A.T, 1965. Menggerakkan dan Membangun Pertanian di sadur oleh S. Krisnandi dan Bahrin Samad. CV. Yasaguna Jakarta.

P3HTA. 1989. Pertanian Lahan kering dan Konservasi di Daerah Aliran Sungai. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil-Hasil Penelitian. Batu, Malang 1-3 Maret 1989. Patil, B.D. dan A.S.Gill. 1986. Shevri (Sesbania sesban) a multi purpose shrub. Indian Farming 35(10): 2425. PPLK. 1992. Buku Pedoman Operasional . Petunjuk Teknis Proyek Pertanian Lahan Kering, Jawa Timur. PPLK Jatim, Sekretariat Badan Pengendali Bimas, DEPTAN, Jakarta. Salim, E. 1990. Pola Pembangunan Berkelanjutan dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia Jangka Panjang ke dua. Makalah disampaikan pada Kongres XI ISEI, 23 Agustus 1990 di Bandung. SP2UK-PPLK Jatim. 1991. Petunjuk Teknis Budidaya dan Konservasi Lahan Kering. SP2UK-PPLK Jawa Timur, Malang.

243

AGRITEK VOL. 18 NO. 2 APRIL 2010

ISSN. 0852-5426

Syafii, I, Soemarno, Sukindar, dan Nur Komar. 1998. Rancang Bangun dan Rekayasa KOPONTREN (Koperasi Pondok Pesantren) sebagai pengelola usaha agribisnis kebun tiga strata di Jawa Timur, PUSLIT PWD LP Unibraw.

244