Você está na página 1de 4

Snow hidup dalam abad ke 19 dan terkenal sebagai ahli anestesi yang telah memberikan kloroform kepada Queen

Victoria ketika dia akan melahirkan. Walaupun begitu, cinta sebenar Snow adalah terhadap epidemiologi penyakit cholera, yang merupakan masalah besar di Inggris pada pertengahan abad ke 19. Dalam minggu pertama bukan September 1854, kurang lebih 600 orang yang tinggal di sekitar jalan Broad, London meninggal gara-gara cholera. Ketika itu William Farr adalah jenderal yang memerintah. Snow dan Farr walaubagaimanapu mengalami pertelingkahan besar tentang penyebab cholera. Farr berpegang teguh dengan teori miasmatic penyakit. Menurut teori yang sering dipakai ketika zaman berkenaan, penyakit ditransmisikan melalui miasm, atau awan yang tergantung rendah dari permukaan bumi. Jika ini adalah suatu yang benar, maka penduduk bumi yang tinggal di daerah altitude rendah akan mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk terkena penyakit.

Farr mengumpulkan data untuk menyokong hipotesa. Data yang telah dikumpulkan Snow konsisten dengan hipotesanya, semakin rendah elevasi semakin tinggi kadar mortalitas akibat cholera. Snow percaya bahwa cholera ditransmisikan melalui air minum yang terkontaminasi. Di London pada saat itu, seseorang akan mendapatkan air dengan mendaftarkan diri ke salah satu dari banyak perusahaaan penyedia air di London. Sumber air untuk perusahaan-perusahaan ini adalah air dari sungai Thames yang sangat tercemar. Pada suatu saat karna alas an teknis dan bukan berhubungan dengan alas an kesehatan, salah satu dari perusahaan air ini telah menggantikan sumber air mereka ke bagian hulu sungai Thames yang kurang tercemar. Oleh itu Snow berpendapat, sesuai dengan hipotesanya, bahwa kadar mortalitas akibat cholera akan menjadi lebih rendah jika penduduk London mendapatkan air dari perusahaan ini. Snow telah menjalankan apa yang kita kenal hari ini sebagai epidemiologi shoe-leather berkunjung dari rumah ke rumah, menghitung jumlah kematian yang diakibatkan choler di setiap rumah dan menentukan sumber air setiap rumah yang dikunjungi. Temuan

Snow dapat dilihat di Tabel 1-5. Tabel menunjukkan jumlah rumah, jumlah kematian akibat cholera dan jumlah kematian per 10,000 rumah. Walaupun ini merupakan kadar yang kurang ideal, karena setiap rumah bias mengandung bilangan orang yang tidak sama, jangkaannya tidak terlalu meleset. Kita bisa melihat rumah yang mendapatkan air dari perusahaan Southwark dan Vauxhall yang telah menggunakan air di bagian tercemar dari sungai Thames, kadar kematian adalah 315 per 10,000 rumah. Rumahrumah yang mendapatkan air dari perusahaan Lambeth, perusahaan yang telah mengrelokasi sumber airnya ke bagian hulu sungai Thames yang kurang tercemar kadar kematian yang tercatat hanyalah 38 per 10,000 rumah. Data yang diperoleh Snow sangat meyakinkan sehingga membuatkan Farr yang memerintah kota London ketika itu merekod sumber air dari setiap rumah yang penghuninya meninggal karena cholera. Yang harus kita ingati ketika zaman itu, baketri enterotoksik Vibrio cholera adalah spesies yang belum diidentifikasi. Tidak satu pun ilmu diketahui tentang biologi penykit cholera. Snow mengkonklusikan bahwa cholera adalah terkait dengan sumber air yang tercemar melalui data observasi semata. Poinnya adalah, walaupun ianya adalah sangat penting untuk kita memaksimalisasi pengetahuan tentang biologi dan patogenesa suatu penyakit, tidaklah selalu perlu untuk kita mengetahui detail tantang mekanisme patogenesa setiap penyakit sebelum kita bisa mengambil sikap preventif terhadap penyakit tersebut. Sebagai contoh, kita mengetahui hampir semua kasus demam rematik dan penyakit jantung rematik didahuli infeksi streptokokus. Kuman streptokokus telah dipelajari dan dianalisa secara mendetail, tetapi kita masih belum tahu bagaimana dan mengapa kuman tersebut menyebabkan demam rematik. Apa yang kita tahu adalah setelah infeksi streptokokus tingkat tinggi seperti yang pernah terjadi ketika suatu penempatan militer, demam rematik tidak berkembang pada 97 per 100 orang yang terinfeksi. Dalam populasi sivil misalnya anak-anak sekolah dimana tingkat infeksi tidak terlalu tinggi, demam rematik berkembang hanya pada 3 per 1000 orang anak sekolah yang terinfeksi, dan 997 yang lain tidak terinfeksi.

Alasan mengapa penyakit ini tidak berkembang pada 97 personil militer dan 997 anak sekolah masih tidak diketahui penuh meskipun terpapr ke mikroorganisme yang sama. Adakah penyakit ini disebabkan variasi yang tidak terdeteksi pada mikroorganisme itu sendiri atau adakah penyakit ini disebabkan kofaktor tertentu yang mengfasilitasi perlekatan kuman streptokokus ke sel epitel manusia. Apa yang kita tahu adalah, walaupun tidak dengan pengetahuan penuh tentang rantai pathogenesis infeksi streptokus menyebabkan demam rematik, kita masih bisa melakukan prevensi hampir setiap kasus penyakit demam rematik dari berkembang dengan cara memberikan pengobatan adekuat pada infeksi streptokokus. Ketidaktahuan penuh terhadap pathogenesis suatu penyakit seharusnya tidak menjadi penghalang atau alasan untuk tidak menjalankan usaha preventif terhadap penyakit tersebut. Misalnya pada kasus merokok dan kanker paru. Kita belum mengetahui secara spesifik komponen yang terlibat dalam menyebabkan kanker paru, tapi kita tahu bahwa 75% ke 80% kasus kanker paru disebabkan oleh merokok. Ini tidak bermaksud bahwa kita tidak perlu melakukan pemeriksaan laboratorium untuk lebih mengetahui bagaimana merokok menyebabkan kanker paru. Walaupun begitu, kita masih harus melakukan penyuluhan secara efektif terhadap komunitas melalui program kesehatan publik berdasarkan data yang ada sehingga sekarang secara bersamaan dengan usaha kita untuk lebih memahami penyakit kanker paru dan keterkaitannya dengan merokok. Figur 1-18 menunjukkan data mortalitas kanker payudara dan kanker paru pada wanita di Amerika. Kadar mortalitas kanker payudara bersifat relatif konstan sepanjang beberapa dekade tetapi telah menunjukkan bukti penurunan pada awal abad ke 21. Walaubagaimanapun begitu, kadar mortalitas akibat kanker paru pada wanita telah menunjukkan peningkatan walaupun ia mungkin mulai stabil tahun-tahun terakhir ini. Semenjak 1987, lebih banyak wanita meninggal setiap tahun akibat penyakit kanker paru berbanding kanker payudara. Oleh itu kita menghadapi gambaran tragis sebuah penyakit kanker yang bisa diprevensi yaitu kanker paru yang diakibatkan perbuatan

merokok seseorang sebagai penyebab kematian akibat kanker utama dikalangan wanita Amerika. Tambahan pula, pada tahun 1993, merokok pasif telah diklasifikasikan sebagai karsinogen terhadap manusia oleh Enviromental Protection Agency, yang telah menyebabkan 3000 kematian akibat kanker paru pada orang yang tidak merokok tetapi perokok pasif setiap tahunnya. Walaupun kadar merokok pada kelompok usia lebih 18 tahun telah menunjukkan penurunan di Amerika, suatu observasi yang cukup mengganggu kita adalah, dari tahun 1991-1997, prevalensi merokok dikalangan pelajar sekolah menengah telah mengalami peningkatan sebanyak 32%. Oleh itu merokok masih menjadi stigma major dalam usaha preventif yang masih belum efektif dikalangan ahli medis dan praktek kesehatan umum.