2.

4 Perforasi gaster Perforasi gastrointestinal merupakan suatu bentuk penetrasi yang komplek dari dinding lambung, usus halus, usus besar akibat dari bocornya isi dari usus ke dalam rongga perut. Perforasi dari usus mengakibatkan secara potensial untuk terjadinya kontaminasi bakteri dalam rongga perut (keadaan ini dikenal dengan istilah peritonitis). Perforasi lambung berkembang menjadi suatu peritonitis kimia yang disebabkan karena kebocoran asam lambung kedalam rongga perut. Perforasi dalam bentuk apapun yang mengenai saluran cerna merupakan suatu kasus kegawatan bedah. Perforasi gastrointestinal adalah penyebab umum dari akut abdomen. Penyebab perforasi gastrointestinal adalah : ulkus peptik, inflamasi divertikulum kolon sigmoid, kerusakan akibat trauma, perubahan pada kasus penyakit Crohn, kolitis ulserasi, dan tumor ganas di sistem gastrointestinal. Perforasi paling sering adalah akibat ulkus peptik lambung dan duodenum. Perforasi dapat terjadi di rongga abdomen (perforatio libera) atau adesi kantung buatan (perforatio tecta). A. Gejala klinik Perforasi gaster akan menyebabkan peritonitis akut. Penderita yang mengalami perforasi akan tampak kesakitan hebat, seperti ditikam di perut. Nyeri ini timbul mendadak, terutama dirasakan di daerah epigastrium karena rangsang peritoneum oleh asam lambung, empedu dan/atau enzim pankreas. Cairan lambung akan mengalir ke kelok parakolika kanan, menimbulkan nyeri perut kanan bawah, kemudian menyebar ke seluruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut. Pada awal perforasi, belum ada infeksi bakteria, fase ini disebut fase peritonitis kimia. Adanya nyeri di bahu menunjukkan adanya rangsangan peritoneum di permukaan bawah diafragma. Reaksi peritoneum berupa pengenceran zat asam yang merangsang itu akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bakteria. Rangsangan peritoneum menimbulkan nyeri tekan dan defans muskuler. Pekak hati bisa hilang karena adanya udara bebas di bawah diafragma. Peristaltis usus menurun sampai menghilang akibat kelumpuhan sementara usus. Bila telah terjadi peritonitis bakteria, suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi, dan penderita tampak letargik karena syok toksik.

Rangsangan peritoneum menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritoneum dengan peritoneum. bagian oral duodenum. Manfaat penemuan dini dan pasti dari perforasi gaster sangat penting. Setiap pasien harus . Nyeri objektif berupa nyeri ketika digerakkan seperti pada saat palpasi. menggerakkan badan. bernapas. dan tes obturator. cairan lambung dan duodenum. B. Deteksi pneumoperitoneum minimal pada pasien dengan nyeri akut abdomen karena perforasi gaster adalah tugas diagnostik yang paling penting dalam status kegawatdaruratan abdomen. empedu. Isi yang keluar dari perforasi dapat mengandung udara. batuk. tekanan dilepaskan. dan bakteri. Jika temuan foto Rontgen dan ultrasonografi tidak jelas. yang dalam keadaan normal tidak mengandung udara. seperti berjalan. metode tambahan yang dapat dilakukan adalah : foto polos abdomen pada posisi berdiri. Radiologi Perforasi gastrointestinal adalah penyebab umum dari akut abdomen. dengan menggunakan teknik radiologi. dan usus besar. Seorang dokter yang berpengalaman. Pemeriksaan penunjang Sejalan dengan penemuan klinis. dengan pertimbangan metode ini dapat mendeteksi cairan dan jumlah udara yang sangat sedikit sekali pun yang tidak terdeteksi oleh metode yang disebutkan sebelumnya. dalam melakukannya. colok dubur. ia menggunakan teknik foto abdomen klasik dalam posisi berdiri dan posisi lateral decubitus kiri. tes psoas. karena keadaan ini biasanya memerlukan intervensi bedah. dapat mendeteksi jumlah udara sebanyak 1 ml. Nyeri subjektif dirasakan waktu penderita bergerak. kualitas film pajanan dan posisi yang benar sangat penting. Untuk melihat udara bebas dan membuat interpretasi radiologi dapat dipercaya. Pada kasus perforasi usus kecil. Hal ini terjadi setelah perforasi lambung. Udara bebas atau pneumoperitoneum terbentuk jika udara keluar dari sistem gastrointestinal. Udara bebas terjadi di rongga peritoneum 20 menit setelah perforasi. sebaiknya jangan ragu untuk menggunakan CT-scan. jumlah udara yang sangat kecil dilepaskan. CT-scan murni dan CT-scan dengan kontras. Radiologis memiliki peran nyata dalam menolong ahli bedah dalam memilih prosedur diagnostik dan untuk memutuskan apakah pasien perlu dioperasi. dan mengejan. ultrasonografi dengan vesika urinaria penuh. makanan.

Banyak peneliti menunjukkan kehadiran udara bebas dapat terlihat pada 75-80% kasus. Football sign menggambarkan adanya udara bebas di atas kumpulan cairan di bagian tengah abdomen. ultrasonografi tidak dapat mendeteksi udara bebas. bahkan jika udara tampak seperti gelembung dan saat pada foto rontgen murni dinyatakan negatif. Di sini dapat terlihat gambaran oval kecil atau linear. Oleh karena itu. gelembung udara pada CT scan terutama berlokasi di depan bagian abdomen. pada saat pengambilan udara bebas dapat mencapai titik tertinggi di abdomen. Gambaran udara bentuk segitiga kecil juga dapat tampak di antara lekukan usus. Sekitar 50% pasien menunjukkan kumpulan udara di abdomen atas kanan. kita perlu menyetel jendelanya agar dapat membedakan antara lemak dengan udara.mengambil posisi adekuat 10 menit sebelum pengambilan foto. Ultrasonografi Ultrasonografi adalah metode awal untuk kebanyakan kondisi akut abdomen. Pada kasus perforasi karena trauma. Meskipun. Ketika melakukan pemeriksaan. Posisi supine menunjukkan pneumoperitoneum pada hanya 56% kasus. Kita dapat melihat gelembung udara bergerak jika pasien setelah itu mengambil posisi decubitus kiri. yang pada kasus ini adalah sangat tidak homogen karena terdapat kandungan lambung. CT scan juga jauh lebih baik dalam mendeteksi kumpulan cairan di bursa omentalis dan . Jendela untuk parenkim paru adalah yang terbaik untuk mengatasi masalah ini. paling sering terlihat dalam bentuk seperti kubah atau bentuk bulan setengah di bawah diafragma pada posisi berdiri. Pemeriksaan ini khususnya berharga untuk mendeteksi cairan bebas di pelvik kecil menggunakan teknik kandung kemih penuh. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi cairan bebas dengan berbagai densitas. Saat CT scan dilakukan dalam posisi supine. karena keduanya tampak sebagai area hipodens dengan densitas negatif. maka. perforasi dapat tersembunyi dan tertutup oleh kondisi bedah patologis lain. CT scan CT scan abdomen adalah metode yang jauh lebih sensitif untuk mendeteksi udara setelah perforasi. Kebanyakan. lainnya adalah subhepatika atau di ruang hepatorenal. CT scan sangat efisien untuk deteksi dini perforasi gaster. Udara bebas tampak pada posisi berdiri atau posisi decubitus lateral kiri.

Beberapa penulis menyatakan bahwa CT scan dapat memberi ketepatan sampai 95%. Komponen barium tidak dapat diberikan pada keadaan ini karena mereka dapat menyebabkan pembentukkan granuloma dan adesi peritoneum. yang membantu untuk menunjukkan kontras tapi bukan udara. dan udara bebas tidak terlihat pada scan murni klasik. Walaupun sensitivitasnya tinggi. Penatalaksanaan . Jika kita menduga seseorang mengalami perforasi. kita dapat menggunakan substansi kontras nonionik untuk membuktikan keraguan kita.retroperitoneal. CT scan tidak selalu diperlukan berkaitan dengan biaya yang tinggi dan efek radiasinya. Cara kedua adalah dengan memberikan kontras yang dapat larut secara oral minimal 250 ml 5 menit sebelum scanning. C. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan udara melalui pipa nasogastrik 10 menit sebelum scanning.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful