PRESENTASI KASUS

ASMA BRONKHIALE

Pembimbing : Dr. Agus Yuha Sp.PD

Dokter Pembimbing : dr. Agus Yuha Ahmadu, Sp.PD

Disusun Oleh : Lukman Hakim (20070310095)

SMF ILMU PENYAKIT DALAM RSUD. PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL 2012

PRESENTASI KASUS
I. Identitas Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama Pekerjaan Tanggal Masuk Bangsal : Ny. j : 57 tahun : Perempuan : Pandak,ws rejo pandak : Islam : ibu rumah tangga : 24-12-2011 : Flamboyan

II.

Anamnesa A. Keluhan utama B. Keluhan tambahan : Sesak nafas : Batuk, mual

C. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan sesak nafas sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Sesak diraskan hilang timbul atau kumat-kumatan sejak beberapa tahun yang lalu. Sesak dirasa bertambah berat pada malam hari, hawa dingin. Bila terkena debu, juga bila mencium bau-bauan yang menyengat. Sesak dirasakan berkurang bila siang hari. Setiap kali pasien sesak selalu mengeluarkan keringat banyak. Sesak tidak disertai rasa sakit dan rasa panas di dada. Pasien juga tidak mengeluh sering terbangun tengah malam hari karena sesak nafas. Selain itu pasien juga mengeluh batuk, ngikil dan terus menerus. Batuknya berdahak, warna putih agak kental dan sulit dikeluarkan. Batuk tidak disertai dengan darah. Selama batuk, pasien kadang-kadang juga

Pemeriksaan Leher 4.Riwayat sakit asma sejak beberapa tahun yang lalu . tampak sakit : Compos mentis : Tekanan darah : 100/70 mmHg Nadi Respirasi Suhu Status Generalis 1.Riwayat penyakit jantung disangkal . BAK/BAB normal. Thorax : Mesocephal. Vital sign : Sedang. Pemeriksaan Kepala Bentuk Rambut Venektasi 2. Pemeriksaan Fisik A.Riwayat penyakit yang sama . Sebelumnya pasien pernah menderita keluhan yang sama kemudian berobat ke rumah sakit dan mendapatkan obat semprot yang dihisap melalui mulut untuk mengurangi keluhan sesaknya. nafsu makan menurun.Riwayat hipertensi disangkal E. leher tidak kaku dan tidak pusing. Kesadaran C.merasa mual-mual. : JVP normal : 88 x/menit : 36 x/menit : 37°C .Ada anggota keluarga yang menderita keluhan dan penyakit yang sama (saudara ) III. D. Riwayat Penyakit Dahulu . tidak mudah dicabut : Tidak ada : CA (-/-). namun muntah tidak ada. berat badan tidak mengalami penurunan. SI (-/-). simetris : Distribusi merata. tidak sakit kepala. Riwayat Penyakit Keluarga . Keadaan umum B. Pemeriksaan Mata 3.

nyeri tekan epigastrium (-). ketinggalan gerak (-). pulsasi epigastrium (-) Palpasi : Soefel. gallop (-) : Dinding dada simetris. venektasi (-). undulasi (-) : BU (+) normal 6. wheezing (+) 5. pekak beralih (-). Pemeriksaan Punggung Costo vertebrae : Nyeri ketok (-) Ginjal : Ballotemen (-) 7. Pemeriksaan Extremitas Superior Inferior : Edem (-/-) : Edem (-/-) . eksperium memanjang (+) Palpasi Perkusi : Vokal fremitus paru kanan = kiri normal : Sonor di kedua lapangan paru. Pemeriksaan Abdomen Inspeksi : Datar.Cor : Inspeksi Palpasi Perkusi : Ictus cordis tak tampak. : Ictus cordis tidak kuat angkat : Kanan atas Kiri atas Kiri bawah : SIC II RSB : SIC II LSB : SIC VI LMC 2 cm medial Kanan bawah : SIC IV RSB Auskultasi Pulmo : Inspeksi : S1 > S2. benjolan (-). retraksi interkostal (+). undulasi (-) Hepar tidak teraba Lien tidak teraba Perkusi Auskultasi : Tympani. reguler Bising (-). batas paru hepar SIC VI LMC dextra Auskultasi : Suara dasar : Vesikuler Suara tambahan : Ronkhi (+).

hawa dingin.Glukosa sewaktu . Anamnesis    Os sesak nafas 2 hari sebelum masuk RS Sesak hilang timbul/kumat-kumatan sejak beberpa tahun yang lalu Sesak bertambah pada malam hari. Kesimpulan Pemeriksaan 1.cor normal V.SGPT :3 :0 :0 : 89 :8 :3 : 241 : 22 : 0.Limfosit .P<31) *Ro thorax : pulmo bronchitis kronis.Segmen .000-400.Batang .8 : 13.P<31) (L<41.1 : 43 :5 : 150.6-1) (L<37.Basofil .Kreatinin . bau-bau menyengat .Eosinofil .000 /ul) Hitung jenis .000 (13-16 g/dl) (5000-10.Monosit .IV.Ureum .00 /ul) (37-43 %) (4-5 juta/ul) (150.SGOT .76 : 19 : 12 (0 – 1 %) (1 – 3 %) (2 – 6 %) (50 – 70 %) (20 – 40 %) (2 – 8 %) ( <200 ) ( 17-41) (P: 0. debu. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Darah lengkap Hb Leukosit Hematokrit Eritrosit Trombosit : 14.

eksperium memanjang (+) Palpasi : Vokal fremitus paru kanan = kiri normal Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru. batas paru hepar SIC VI LMC dextra Auskultasi : Suara dasar : Vesikuler Suara tambahan : Ronkhi (+).      Sesak berkurang pada siang hari Batuk (+). warna putih. Pemeriksaan laboratorium   Angka leukosit meningkat Hitung -eosinopil meningkat . agak kental Mual (+). retraksi interkostal (+). Pemeriksaan Fisik   Keadaan umum Vital sign : Sedang. terus menerus Batuk berdahak. ketinggalan gerak (-). tampak sakit : Tekanan darah : 110/70 mmHg Nadi Respirasi Suhu : 88 x/menit : 38 x/menit : 37°C  Thorax Cor Pulmo : dbn : Inspeksi : Dinding dada simetris. wheezing (+) 3. muntah (-) Nafsu makan menurun BAK/BAB (+) N 2. ngikil.

Ranitidine 1a/12 jam .Ventolin nebulizer . Diagnosis Kerja Asma Bronkhiale VII.Posisi ½ duduk . Usulan Pemeriksaan . Pronosis : Dubia ad bonam X. Diagnosis Banding . Terapi Non Farmakologis : .Inj cefriaxon 1 amp/12 jam .-segmen meningkat >Pemeriksaan penunjang Ro thorax : pulmo bronchitis kronis Cor dalam batas normal VI.Bed rest .O2 2-3 liter/menit .Pemeriksaan IgE .Inj.Menghindari faktor pencetus Farmakologis : .Salbutamol 3x1/2 .Aminophilin 3x1/2 .Empisema paru .Metal prednisolon 3x1 IX.PPOK VIII.Ambroxol 3x1 .Bronkhitis kronis .

Inj cefriaxon 1 amp/12 jam .Inj.Salbutamol 3x1/2 .soepel . Ranitidine 1a/12 jam . cm Vs: TD:110/70 N:88X/menit RR:38x/menit T : 37C Mata : konjungrivis anemis (-) Leher:lnn tak teraba.Ventolin nebulizer .riwayat kumat-kumatan sesak sejak beberapa tahun yang lalu.> Tanggal Follow up 24/12/2011 S : Keluhan seseak napas dan pusing. JVP normal Pulmo: retraksi (+) suara dasar vesicular .peristaltik(+)dbn Ektremitas : akral hangat. batuk berdahak(+) muntah (+). O: KU: sedang.Metal prednisolon 3x1 25/12/2011 S: keluahan masih agak sesak dan batuk. mual(+). sesak napas di rasakan lebih kurang 2 hari. sesak dirasa berat kalau malam. nyeri dada(-) nyeri perut(-). mual berkurang .Ambroxol 3x1 .Aminophilin 3x1/2 .Suara tambahan: ronki kering di ke dua paru (wheezing +/+) Cor : s1/s2 reguler Abdomen: nyeri tekan (-). tidak ada oedem A: Asma bronkiale Terapi: .

Suara tambahan: ronki kering ( wheezing) Cor : s1/s2 reguler Abdomen: nyeri tekan (-).Inj cefriaxon 1 amp/12 jam .O: KU: sedang. Ranitidine 1a/12 jam .Ventolin nebulizer . cm Vs: TD:110/70 N:80X/menit RR:28x/menit T : 36C Mata : konjungrivis anemis (-) .peristaltik(+)dbn Ektremitas : akral hangat.Salbutamol 3x1/2 .Inj.2 C Mata : konjungrivis anemis (-) Leher:lnn tak teraba.soepel . JVP normal Pulmo: suara dasar vesicular .Ambroxol 3x1 .Metal prednisolon 3x1 26/12/11 S : keluhan sesak dan batuk sudah berkurang( membaik) Mual(-) O: KU: sedang. cm Vs: TD:100/70 N:80X/menit RR:32x/menit T : 36. tidak ada oedem A: Asma bronkiale Terapi: .Aminophilin 3x1/2 .

Inj.Ambroxol 3x1 .Metal prednisolon 3x1 . Ranitidine 1a/12 jam .Aminophilin 3x1/2 . tidak ada oedem A: Asma bronkhiale Terapi: .Salbutamol 3x1/2 .Suara tambahan: ronki kering ( wheezing) menurun Cor : s1/s2 reguler Abdomen: nyeri tekan (-).Leher:lnn tak teraba.Inj cefriaxon 1 amp/12 jam . JVP normal Pulmo: suara dasar vesicular .Ventolin nebulizer .soepel .peristaltik(+)dbn Ektremitas : akral hangat.

Imunoglobulin inilah yang kemudian akan menempel pada permukaan sel mastosit yang didapatkan di sepanjang saluran nafas dan kulit. Hal yang menonjol pada semua penderita asma adalah fenomena hiperreaktivitas bronkus. neutrofil chemotactic factor dan lain-lain. hipereaksi kelenjar-kelenjar sub-mukosa dan inflitrasi sel-sel radang saluran nafas. Alergen masuk dari luar tubuh ke dalam saluran pernafasan sehingga akan merangsang sistem imun untuk membentuk antibodi jenis IGE. yang mana pada penderita asma sangat peka terhadap rangsangan imunologi maupun non imunologi. Karena sifat inilah maka serangan asma mudah terjadi akibat berbagai rangsangan. Gejala yang timbul dapat berupa asma akut fase cepat atau lambat atau bahkan asma kronik. Mediator-mediator inilah yang dapat menyebabkan bronkokonstriksi. chemotoctic faktor of anaphylaxis (ECF-A). asap rokok maupun polusi udara. hal ini didasarkan atas : Gejala hampir setiap hari Menggunakan obat setiap hari . Selain sesak juga adanya batuk yang berdahak. infeksi dan sebagainya. asap dan benda-benda asing kecil merupakan penyebab paling sering dari batuk. Ikatan antara alergen yang masuk lagi ke dalam badan dengan IGE pada permukaan sel mastosit tadi akan mencetuskan serangkaian reaksi dan menyebabkan pengelupasan radiator kimia seperti histamin. leukotrienm prostaglandin.PEMBAHASAN Pada anamnesis didapatkan keluhan sesak nafas. putih dan kental yang dirasakan setiap hari. kimia dan peradangan. Batuk biasanya timbul karena adanya rangsangan baik mekanik. Inhalasi debu. edema. dimana keluhan sesak nafas ini timbul setelah terpapar oleh alergen yaitu debu. alergen. eosinophil. Selain itu adanya perubahan cuaca dan kegiatan jasmani juga dapat menimbulkan hal yang sama. Adanya sputum karena pada orang dewasa normal membentuk mukus sekitar 100 ml dalam saluran napas setiap hari. baik fisik. Pada pasien ini didiagnosa dengan asma derajat persisten sedang.

APE  70% (test peak flow meter).- Serangan mengganggu aktivitas dan tidur. dan pada penderita asma biasanya pemeriksaan laboratorium dalam batas normal. bisa berhari-hari. Pasien diperbolehkan pulang bila atau beristirahat di rumah bila : 1. Pada gambaran radiologis ditemukan adanya gambaran bronkhitis. Pemeriksaan fisik normal. hal ini menunjukkan adanya peradangan pada bronkhus. Selain itu diberikan cefrtiaxon sebagai obat antibiotik untuk mengatasi infeksi atau peradangan pada bronkus. Agonis 2 diberikan untuk mencegah terjadinya serangan dan digunakan sebagai obat pencegahan asma. Pada pemeriksaan penunjang tidak didapatkan kelainan. Gejala malam lebih dari sekali seminggu Pasien ini termasuk jenis asma ekstrinsik karena timbul bila ada faktor pencetus dan riwayat keluarga penderita asma. Penatalaksanaan pada pasien ini. Serangan 2 x/minggu. yang terlihat dengan adanya gambaran radiologis berupa bronchitis dan kadar angka leukosit yang meningkat. 3. diberikan obat golongan metil-xantin yang merupakan bronkhodilator yang sering digunakan pada pengobatan asma. . Keadaan umum sudah membaik. 2.

walaupun telah mendapat terapi yang biasa dipakai. penyakit asma baik dalam berat maupun perjalanan penyakitnya berbeda-beda. sehingga timbul penyempitan jalan nafas yang luas dan reversible. Serangan asma dapat dimulai dari yang paling ringan sampai yang mengancam. Asthmatic Emergency : yaitu asma yang dapat menyebabkan kematian. Berbagai hal dapat mencetuskan serangan asma. Diantara para penderita. 3. Asma Bronkhial : yaitu suatu bronkhospasme yang sifatnya reversibel dengan latar belakang alergi. Alasan-alasannya antara lain adalah sebagai berikut : 1. Status asmatikus adalah asma dengan intensitas serangan yang tinggi dan tidak memberikan reaksi dengan obat-obatan yang konvensional dan merupakan salah satu kegawatan asma bronkhial (2). Sampai sekarang belum ada kesepakatan tentang definisi asma bronkial yang dapat diterima oleh semua ahli. Penyempitan yang berlangsung beberapa hari atau minggu. Didalam beberapa penelitian didapatkan bahwa angka mortalitas tidak banyak membantu menjelaskan patogenesis penyakit ini.ASMA BRONKHIALE Penyakit asma bronkhial adalah penyakit saluran nafas bagian bawah yang ditandai oleh hiperaktivitas cabang trakhea dan bronkhus terhadap aneka macam rangsangan. 2. maka asma dapat dibagi menjadi tiga tingkatan (2) : 1. Status Asmatikus : yaitu suatu asma yang refraktor terhadap obat-obatan yang konvensional. 2. 3. 4. dikenal sebagai “status asmatikus” (1) . dan membaik secara spontan maupun dengan pengobatan. Studi insidensi juga hanya memberikan keterangan tentang . Sebab penyakit belum diketahui. Berdasarkan tingkat kegawatan asma. Penyakit asma bronkhial jarang menimbulkan kematian. Histopatologi terutama pada keadaan yang ringan tidak banyak diketahui.

tetapi oleh berbagai rangsangan. Kelainan tersebar luas pada kedua paru. Obstruksi jalan nafas dapat reversibel secara spontan maupun dengan pengobatan. 3. 2. Hal ini berarti bahwa jalan nafas penderta asma mempunyai respon yang lebih hebat terhadap berbagai rangsangan dibanding dengan orang normal. Sesak nafas dada seperti tertekan. Manifestasi Klinis Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan beratnya derajat hiperaktivitas bronkus. Serangan asma jarang sekali hanya dicetuskan oleh satu macam rangsangan.(3) Bila ditelaah lebih lanjut definisi tadi dapat diuraikan menjadi : 1. Gejala-gejala asma antara lain : 1. 2. Derajat serangan asma dapat berubah-ubah. Ada peningkatan respon trakea dan bronkus. Bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop. 3.(3) Definisi Suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah. sering pada malam hari. Gejalanya bersifat proksimal. misalnya obstruksi lebih berat pada malam hari dibanding dengan siang hari. baik setara spontan maupun sebagai hasil pengobatan. Batuk produktif. (5) . yaitu membaik pada siang hari dan memburuk pada malam hari. 4. oleh karena itu penelitian epidemiologi asma lebih banyak diarahkan pada penentuan prevalensi.frekuensi episode akut yang terjadi dalam kondisi tertentu saja.

(3.Aktivitas fisik terbatas .Gejala terus-menerus .Serangan dapat 80% normal mengganggu aktivitas dan tidur Persisten sedang .Menggunakan obat seminggu VEPI atau APE > setiap hari 60% tetapi  80% .4) .Gejala harian > sekali harian . bisa berhari-hari Persisten kontinu berat .Gejala > 1x/minggu > 2 kali mingguan tapi < 1x/hari seminggu VEPI atau APE  .Klasifikasi derajat asma(5) Derajat asma Intermitten mingguan Gejala Gejala Fungsi paru malam Gejala < 1x/minggu  2 kali VEPI atau APE  Tanpa gejala di luar seminggu 80% serangan Serangan singkat Fungsi paru asimtomatik dan normal luar serangan Persisten ringan .Serangan mengganggu normal aktivitas dan tidur .Sering serangan Sering VEPI atau APE < 80% normal Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Spirometri Tes provokasi bronkial Pemeriksaan tes kulit Pemeriksaan kadar IgE total dan spesifik dalam serum Pemeriksaan radiologi Analisis gas darah Pemeriksaan eosinofil dalam darah dan pemeriksaan sputum.Serangan 2x/minggu.

Bronkhitis kronik 2. Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan exercise 5. IgE spesifik). Pemeriksaan fisik 3. Pneumomediastinum dan emfisema subkutis 3.Diagnosis Diagnosis asma berdasarkan : 1. riwayat keluarga dan riwayat alergi. Aspergilosis bronkopulmonar alergik 5. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma 2. serta gejala klinis. IgE total. Diagnosis Banding 1. kristal chartot-leyden). Anamnesis : riwayat perjalanan penyakit. Mencegah kekambuhan 3. Pemeriksaan laboratorium : darah (terutama eosinofil. Menghindari efek samping obat asma . 2.5) 4. (3. Atelektasis 4. spiral curshman.5) Penatalaksanaan : Tujuan terapi asma yaitu : 1. Tes fungsi paru dengan spirometri atau peak flow meter untuk menentukan adanya obstruksi jalan nafas. Bronkitis 7. Fraktur iga. Gagal nafas 6. sputum (eosinofil. Pneumothoraks 2. faktor-faktor yang berpengaruh terhadap asma. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya 4. Emfisema paru Komplikasi Asma 1. (3.

5 mg atau terbutalin 10 mg) inhalasi nebulasi dan pemberiannya dapat diulang setiap 20 menit sampai 1 jam.25 mg dalam larutan dekstrosa 5% dan diberikan perlahan. Efek bronkodilatornya berkaitan dengan konsentrasinya di dalam serum.5) Yang termasuk obat anti asma (3. Bentuk aerosol dan inhalasi memberikan efek bronkodilatasi yang sama dengan dosis yang jauh lebih kecil yaitu sepersepuluh dosis oral dan pemberiannya lokal. Antikolinergik Golongan ini menurunkan tonus vagus intrinsik dari saluran nafas. c. salbutamol. yaitu : 1. dan fenetrol memiliki lama kerja 4-6 jam. Bronkodilator a. a. .6. 2. Metilxantin Teofilin termasuk golongan ini.25 mg atau terbutalin 0. Agonis 2 Obat ini mempunyai efek bronkodilatasi. Kortikosteroid b. (3. Oksigen 4-6 liter/menit 2. Mencegah obstruksi jalan nafas yang irreversibel. Pemberian agonis 2 dapat secara subkutan atau iv dengan dosis salbutamol 0. Anti inflamasi Antiinflamasi menghambat inflamasi jalan nafas dan mempunyai efek supresi dan profilaksis. formoterol.5) : 1. seperti salmeterol. sedang agonis 2 long action bekerja lebih dari 12 jam. b. Terapi awal. dan lain-lain. Natrium kromolin (sodium cromoglycate) merupakan antiinflamasi non steroid. Terbutalin. bambuterol. Efek samping obat ini dapat ditekan dengan pemantauan kadar teofilin serum dalam pengobatan jangka panjang. Agonis 2 (salbutomol 5 mg atau feterenol 2.

3. Aminofilin bolus iv 5-6 mg/kgBB. 2. 4. Arus puncak ekspirasi (APE) > 70% 4. Jika respon tidak ada atau tidak baik terhadap terapi awal maka pasien sebaiknya dirawat di Rumah Sakit. . jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam sebelumnya maka cukup diberikan setengah dosis. Respon menetap selama 60 menit setelah pengobatan. Kortikosteroid hidrokarbon 100-200 mg iv jika tidak ada respon segera atau pasien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat. jika didapatkan keadaan berikut : 1. Pemeriksaan fisik normal 3. Respon terhadap terapi awal baik.

Inhalasi agonis 2 aksi 500 singkat bila perlu dan g/kromolin/nedokromil/atau melebihi 3-4 x sehari teofilin lepas lambat. Inhalasi kortikosteroid 200.Intensitas pengobatan tergantung berat eksaserbasi .. Kortikosteroid oral jangka panjang Asma persisten ringan - Asma persisten sedang - Asma persisten berat - . Inhalasi kortikosteroid 800. Bila perlu ditingkatkan sampai 800 g atau ditambahkan bronkodilator aksi lama terutama untuk mengontrol asma malam dapat diberikan agonis 2 aksi lama inhalasi atau oral teofilin lepas lambat. berupa agonis 2 inhalasi atau oral teofilin lepas lambat.2000 g atau lebih. Bronkodilator aksi lama. berupa agonis 2 aksi lama inhalasi atau oral teofilin lepas lambat.Inhalasi agonis 2 aksi 2000 g.Bronkodilator aksi singkat yaitu inhalasi agonis 2 . singkat bila perlu dan tidak Bronkodilator aksi lama melebihi 3-4 x sehari terutama untuk mengontrol asma malam..Inhalasi agonis 2 atau kromolin dipakai sebelum aktivitas atau pajanan alergen.Pengobatan Asma jangka panjang berdasarkan berat penyakit (5) Derajat asma Obat pengontrol Asma persisten Tidak perlu Obat pelega . Inhalasi kortikosteroid 800.

FKUI. edisi II. hal 476-480. Edisi 3. Edisi 4. Hal 21-39.P Sylvia. Komite Medis RSUP. hal 689-691. 4. Dr. Karnen B. Jakarta. 100-103. Sardjito dan FK UGM. dalam A. Jakarta. Kegawatan Asma Bronkhial. Sardjito. H. Patofisiologi. H. Mansjoer.DAFTAR PUSTAKA 1. EGC. 1999.. Ilmu Penyakit Dalam. W. Rab. FKUI. edisi 3.M. Jilid I. Jilid II. 3. 1995. Asma Bronkial dalam Kapital Selekta Kedokteran.. dkk. 1996. Jilid II. A. Jakarta. 5. dkk. 163-165. Asma Bronkial dalam Soeparman. Tabrani. . 2. Jakarta. Barmawi. Prinsip Gawat Paru. Dr. Status Asmatikus. Standar Pelayanan Medis RSUP. dkk. Buku I. Yogyakarta. 1996. 1996. Lorraine. Penyakit Pernafasan Obstruktif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful