Você está na página 1de 11

AUDIT ATAS PIUTANG

Disusun untuk memenuhi tugas Auditing II

DISUSUN OLEH: TEGUH PUTRA SYAMSOERI 1311080010 SI AKUNTANSI INTENSIF

ABFII PERBANAS JAKARTA 2013

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Pengertian Piutang Pada umumnya piutang timbul ketika sebuah perusahaan menjual barang atau jasa secara kredit dan berhak atas penerimaan kas di masa mendatang. Piutang lain-lain adalah piutang yang timbul dari transaksi diluar kegiatan usaha normal perusahaan. Contoh dari piutang ini adalah ketika perusahaan memberikan pinjaman uang kepada perusahaan lain dan menerima wesel, melakukan suatu jasa atau transaksi lain yang menciptakan suatu hubungan dimana satu pihak berutang kepada yang lain seperti pinjaman kepada pimpinan atau karyawan. Piutang merupakan salah satu elemen yang paling penting dalam modal kerja suatu perusahaan. Sebagian piutang dapat dimasukkan dalam modal kerja yaitu bagian piutang yang terdiri dari dana yang diinvestasikan dalam produk yang terjual dan sebagian lain yang termasuk modal kerja potensial yaitu bagian yang merupakan keuntungan.

Piutang merupakan elemen modal kerja yang selalu berputar secara terus menerus dalam rantai perputaran modal kerja yaitu Kas - persediaan - piutang - kas. Dalam keadaan normal dan dimana penjualan pada umumnya dilakukan dengan kredit, piutang mempunyai tingkat likuiditas yang lebih tinggi dari pada persediaan, karena perputaran dari piutang ke kas membutuhkan satu langkah, yang penting kebijaksanaan kredit yang efektif dan prosedur penagihan yang baik untuk menjamin penagihan piutang yang tepat pada waktunya dan mengurangi kerugian akibat piutang tak tertagih.

1.2 Jenis-jenis Piutang a. Piurang dagang Piutang dagang terjadi akibat kegiatan normal suatu perusahaan melalui penjualan secara kredit, misalnya notes receivable; b. Piutang non dagang Merupkan piutang lainnya yang berasal dari bukan kegiatan utama perusahaan, misalnya penjualan surat berharga.

1.3 Tujuan Audit Piutang 1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengendalian intern (internal control) yang baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan kas

2. 3.

Untuk memeriksa validity (keabsahan) dan authenticity (keotentikan) daripada piutang. Untuk memeriksa collectibility (kemungkinan tertagihnya) piutang dan cukup tidaknya perkiraan allowance for bad debts (penyisihan piutang tak tertagih)

4.

Untuk mengetahui apakah ada kewajiban bersyarat (contingent liability) yang timbul karena pendiskontoan wesel tagih.

5.

Untuk memeriksa apakah penyajian piutang di neraca sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia

1.4 Dokumen dan catatan yang digunakan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pesanan pelanggan; Pesanan penjualan; Pesanan pelanggan atau pesanan penjualan; Dokumen pengiriman; Faktur penjualan; File transaksi penjualan; Jurnal penjualan atau listing; File induk piutang usaha; Neraca saldo piutang usaha;

10. Laporan bulanan.

1.5. Pengendalian internal yang digunakan Aktivitas Pengendalian dalam sistem informasi akuntansi penjualan kredit : 1. Penggunaan surat order penjualan yang diotorisasi untuk setiap penjualan; 2. Fungsi pemberi otorisasi kredit mengecek semua customer baru; 3. Penentuan bahwa customer berada dalam daftar cusmoter yang telah disetujui; 4. Pengecekan batas kredit sebelum penjualan kredit dilaksanakan; 5. Barang dikeluarkan dari gudang hanya atas dasar surat order pengiriman yang telah diotorisasi; 6. pengecekan barang yang dikirim dengan surat order pengiriman; 7. pemisahan fungsi pengiriman barang dari fungsi penjualan; 8. pembuatan dokumen pengiriman untuk setiap pengiriman barang; 9. setiap faktur penjualan harus dilampiri dengan surat order pengiriman yang telah diotorisasi dan dokumen pengiriman; 10. pencocokan faktur penjualan dengan dokumen pengiriman;

11. pertanggung jawaban secara periodik dokumen pengiriman; 12. pengecekan independen terhadap pemberian harga dalam faktur penjualan; 13. setiap pencatatan harus dilandasi dokumen sumber faktur penjualan dan dokumen pendukung yang lengkap; 14. pengecekan secara independen posting ke dalam buku pembantu piutang dengan akun kontrol piutang dalam buku besar; 15. pertanggungjawaban semua faktur penjualan secara periodik; 16. panduan akun dan review terhadap pemberian kode akun; 17. pengiriman pernyataan piutang bulanan kepada debitur

BAB II PEMBAHASAN
Langkah-langkah yang harus dilakukan auditor selama melakukan proses audit atas piutang dapat dijabarkan sebagai berikut: 2.1 identifikasi resiko bisnis klien yang mempengaruhi piutang usaha Pemahaman mengenai industri dan lingkungan eksternal klien serta mengevaluasi tujuan manajemen digunakan untuk mengidentifikasi risiko bisnis klien yang signifikan, yang dapat mempengaruhi laporan keuangan termasuk piutang usaha. Maka oleh karena itu auditor harus melaksanakan prosedur analitis untuk menunjukkan kenaikan risiko salah saji piutang usaha. Ketika mengevaluasi risiko inheren dan bukti yang direncanakan dalam piutang usaha, auditor mengembangkan risiko yang mempengaruhi piutang usaha. Contoh : auditor dapat meningkatkan risiko inheren untuk nilai realisasi bersih piutang usaha. 2.2. Menetapkan salah saji yang dapat di teloransi dan menetapkan resiko bawaan Auditor harus memutuskan perimbangan pendahuluan mengenai materialitas laporan keuangan secara keseluruhan dan kemudian mengalokasikan jumlah pertimbangan

pendahuluan ke setiap akun neraca yang signifikan, termasuk piutang usaha. Secara khusus piutang usaha merupakan salah satu akun yang paling material, bahkan untuk saldo piutang yang paling kecil sekalipun, transaksi dalam silkus penjualan dan penagihan yang mempengaruhi saldo piutang usaha hampir pasti sangat signifikan. Auditor harus mengidentifikasi secara formal risiko kecurangan tertentu menyangkut pengakuan pendapatan. Hal ini akan mempengaruhi penilaian risiko inheren oleh auditor untuk tujuan-tujuan berikut: keberadaan atau eksistensi, pisah batas penjualan, serta pisah batas retur dan pengurangan penjualan. Jadi sudah biasa bagi klien untuk menyalahsajikan pisah batas baik karena kesalahan maupun karena kecurangan. Juga sudah biasa bagi klien untuk menyalahsajikan secara tidak sengaja atau secara sengaja penyisihan piutang tak tertagih (nilai realisasi) karena sulit menentukan saldo yang benar . 2.3. Merencanakan audit Perencanaan audit atas piutang penting dibuat untuk memastikan bahwa audit dilaksanakan dengan cara yang efektif dan efisien.

2.4 Menguji sistem pengendalian internal perusahaan Pengujian atas sistem pengendalian internal penting dilakukan untuk menentukan jumlah sampel yang akan diambil. Jika sistem pengendalian internal perusahaan sudah baik, maka sedikit saja sampel yang diambil. Jika pengendalian internal perusahaan kurang baik maka semakin banyak sampel dokumen yang diambil.

2.5 Merancang dan Melaksanakan Prosedur Analitis Prosedur analitis sering kali dilakukan selama tiga tahap audit: perencanaan, ketika melaksanakan pengujian yang terinci, dan sebagai bagian dari penyelesaian audit. Sebagian besar prosedur analitis yang dilaksanakan selama tahap pengujian dilakukan setelah tanggal neraca tetapi sebelum pengujian atas rincian saldo. Auditor melaksanakan prosedur analitis untuk siklus penjualan dan penagihan secara keseluruhan, bukan hanya piutang usaha. Hal ini dikarenakan hubungan yang erat antara akun-akun laporan laba rugi dan neraca. Jika auditor mengidentifikasi salah saji yang mungkin terjadi dalam retur dan pengurangan penjualan dengan menggunakan prosedur analitis, piutang usaha mungkin akan mengoffset salah saji itu. Jika prosedur analitis dalam siklus penjualan dan penagihan mengungkapkan fluktuasi yang tidak biasa, auditor harus melontarkan pertanyaan tambahan kepada manajemen. Respon manajemen harus dievaluasi secara kritis. Berikut disajikan prosedur analitis substantif untuk piutang usaha dan akun-akun yang terkait dengan piutang usaha No. 1. Prosedur Analitis Substantif Pendapatan Perbandingan berdasarkan lini persentase produk ke laba kotor Kemungkinan Salah Saji Terdeteksi

tahun-tahun

sebelumnya atau ke data indutri 2. Perbandingan pendapatan yang dilaporkan

dengan yang dianggarkan 3. Analisis rasio penjualan pada bulan atau minggu terakhir terhadap jumlah penjualan pada satu kuartal atau tahun 4. Perbandingan pendapatan yang dicatat harian Pendapatan untuk periode sesaat sebelum dan sesudah akhir (kurang saji) periode audit untuk melihat fluktuasi yang tidak Pendapatan fiktif (lebih saji) biasa seperti peningkatan sebelum atau Perubahan kebijakan harga Masalah penentuan harga produk yang tidak dicatat

penurunan sesudah akhir periode

5.

Perbandingan rincian barang yang dikirimkan dengan catatan pendapatan dan produksi dan pertimbangan apakah pendapatan adalah wajar dibandingkan dengan tingkat produksi dan harga penjualan rata-rata

6.

Perbandingan jumlah minggu persediaan berada dalam saluran distribusi dengan periode

sebelumnya untuk melihat peningkatan yang tidak biasa yang dapat mengindikasikan adanya channel stuffing 7. Perbandingan rasio dan tren penjualan dalam saluran distribusi dengan tren industri dan pesaing, jika ada No. 1. Prosedur Analitis Substantif Piutang Perbandingan perputaran piutang usaha dan hari beredar dalam piutang usaha ke tahun-tahun sebelumnya dan/atau ke data industry 2. Perbandingan kategori umur pada neraca saldo umur piutang usaha ke tahun-tahun sebelumnya 3. Perbandingan persentase beban piutang tak Kurang atau lebih salah saji tertagih terhadap penjualan ke tahun-tahun penyisihan piutang tak tertagih dan sebelumnya dan/atau ke data industry 4. Perbandingan persentase penyisihan piutang tak tertagih terhadap piutang usaha atau penjualan kredit ke tahun-tahun sebelumnya dan/atau ke data industry 5. Pemeriksaan akun pelanggan yang besar secara individual dan membandingkan ke tahun beban piutang tak tertagih Kemungkinan Salah Saji Terdeteksi

sebelumnya. No. Prosedur Analitis Substantif Retur & Komisi 1. Perbandingan terhadap persentase ke retur penjualan tahun Kurang atau lebih saji retur penjualan Kemungkinan Salah Saji Terdeteksi

pendapatan

tahun

sebelumnya atau ke data industry

2.

Perbandingan persentase potongan penjualan Kurang terhadap pendapatan ke

atau

lebih

saji

potongan

tahun-tahun penjualan Kurang atau lebih saji beban komisi dengan penjualan yang akrual yang

sebelumnya dan/atau data industri 3. Estimasi beban komisi penjualan

mengalikan pendapatan bersih dengan tingkat berhubungan dengan beban tersebut. komisi rata-rata dan membandingkannya ke beban komisi penjualan yang dicatat

2.6 Merancang dan Melaksanakan Pengujian atas Rincian Saldo Piutang Usaha Pengujian terinci atas transaksi adalah adalah pengujian yang dilakukan untuk menguji salah saji moneter pada transaksi individual yang diproses melalui seluruh aplikasi akuntansi. Seringkali auditor melakukan pengujian substantif dalam waktu yang sama dengan pengujian pengendalian. Berikut ringkasan asersi dan pengujian atas transaksi, saldo akun, dan pengungkapan piutang usaha, penyisihan atas piutang tak tertagih dan beban piutang tak tertagih No. Asersi atas kelompok transaksi 1. Keberadaan Konfirmasi atas piutang usaha yang dipilih. Lakukan prosedur alternatif atas perbedaan konfirmasi piutang usaha dan konfirmasi yang tidak dijawab. 2. Hak dan Kewajiban Review konfirmasi bank untuk mengetahui piutang yang digadaikan Tanya jawab dengan manajemen, review perjanjian kredit, dan review risalah rapat dewan komisaris untuk mengetahui indikasi bahwa piutang usaha telah dijual 3. Kelengkapan Dapatkan neraca saldo umur piutang usaha dan cocokkan jumlahnya dengan akun pengendali buku besar Review hasil pengujian untuk menentukan resiko pengendalian untuk asersi kelengkapan, telusuri dokumen pengiriman ke jurnal penjualan dan buku besar pembantu piutang jika pengujian tersebut tidak dilakukan pada pengujian pengendalian 4. Penilaian dan Alokasi Periksa hasil konfirmasi atas piutang usaha yang dipilih Periksa kecukupan penyisihan piutang tak tertagih Pengujian Terinci atas Saldo Akun

No.

Asersi atas kelompok transaksi

Pengujian Terinci atas Pengungkapan

1.

Keterjadian

Serta Tetapkan apakah piutang telah dijaminkan, dialihkan, atau didiskontokan. Tentukan apakah hal-hal tersebut memerlukan pengungkapan

Hak dan Kewajiban

2.

Kelengkapan

Lengkapi daftar cek pelaporan keuangan untuk memastikan bahwa seluruh pengungkapan laporan keuangan sehubungan dengan piutang usaha dan akun-akun yang berhubungan dengan piutang usaha yang telah diungkapan

3.

klasifikasi Kemampuan dapat dipahami

dan Review neraca saldo umur untuk kredit yang material, piutang untuk usaha jangka panjang, dan piutang selain usaha. Tentukan apakah hal-hal tersebut memerlukan pengungkapan terpisah pada neraca Baca catatan kaki untuk memastikan bahwa pengungkapan yang diperlukan dapat dipahami

4.

Akurasi Penilaian

dan Baca catatan kaki dan informasi lain untuk memastikan bahwa informasi adalah akurat dan disajikan secara wajar pada jumlah yang tepat

2.7 Menyelesaikan audit Setelah auditor menyelesaikan audit proses bisnis dan akun-akun laporan keuangan terkait, bukti-bukti di ikhtisarkan dan di evaluasi. Di samping itu, sebelum memilih laporan audit yang tepat, auditor harus mempertimbangkan sejumlah isu-isu tambahan yang dapat mempengaruhi laporan keuangan seperti kewajiban kontijensi, komitmen, peristiwa kemudian, proses evaluasi akhir yang berkaitan dengan bukti, komunikasi dengan komite audit manajemen, dan penemuan kemudian fakta yang ada pada tangal laporan auditor. 2.9. Mengevaluasi hasil dan menerbitkan laporan audit Setelah seluruh proses sebelumnya selesai, maka auditor mengevaluasi hasil audit dan menerbitkan laporan audit dengan memberikan opini sesuai dengan hasil audit yang telah dilakukan. dan

BAB III SIMPULAN


A. KESIMPULAN Pada umumnya piutang timbul ketika sebuah perusahaan menjual barang atau jasa secara kredit dan berhak atas penerimaan kas di masa mendatang. Piutang lain-lain adalah piutang yang timbul dari transaksi diluar kegiatan usaha normal perusahaan. Audit atas piutang penting dilakukan karena salah saji piutang usaha memiliki materiliatas yang besar terhadap salah saji laporan keuangan. Tujuan dilakukannya audit atas piutang 1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengendalian intern (internal control) yang baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan kas; 2. 3. Untuk memeriksa validity (keabsahan) dan authenticity (keotentikan) daripada piutang; Untuk memeriksa collectibility (kemungkinan tertagihnya) piutang dan cukup tidaknya perkiraan allowance for bad debts (penyisihan piutang tak tertagih); 4. Untuk mengetahui apakah ada kewajiban bersyarat (contingent liability) yang timbul karena pendiskontoan wesel tagih; 5. Untuk memeriksa apakah penyajian piutang di neraca sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia B. SARAN Setelah melakukan audit atas piutang perusahaan, auditor memberikan saran demi agar manajemen melakukan perbaikan-perbaikan dalam pengelolaan piutang misanya dengan menyempurnakan aplikas pengelolaan piutang terkomputrisasi. Hal ini dimaksudkan agar dimasa yang akan datang tidak ada lagi salah saji piutang yang dapat berakibat pada tidak sempurnanya opini auditor dan pengaruh terhadap keberlangsungan (going concern) perusahaan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
A.A., Arens, Elder, dan Beasley, Auditing dan Jasa Assurance Jilid 2 Edisi kedua belas, Erlangga, Jakarta, 2008

Prawitt, Messier, Glover, Auditing and Assurance Services a systematic approach Jilid 2 edisi keempat, Salemba Empat, Jakarta 2009

www.google.com, menyelesaikan pengujian dalam siklus piutang, tahun 2013