Você está na página 1de 20

ALAT UKUR MEKANIK

A. PELAKSAAN PRAKTIKUM

1. Tujuan a. Mempelajari alat ukur waktu (stopwatch) dan alat ukur panjang (jangka sorong, micrometer sekrup, mistar) dengan ketelitian tinggi. b. Mempelajari ketelitian alat ukur waktu (stopwatch) dan alat ukurpanjang (jangka sorong, micrometer sekrup, mistar) dengan ketelitian tinggi. 2. Hari, tanggal : Selasa, 5 Juli 2011 3. Tempat : Laboratorium Fisika Dasar Lantai II FMIPA, Universitas Mataram B. ALAT DAN BAHAN 1. Alat : a. Stopwatch b. Jangka sorong c. Mikrimeter sekrup d. Mistar 2. Bahan : a. Air b. Kawat c. Kertas d. Gotri e. Silet f. Balok g. Gelas C. TINJAUAN PUSTAKA Untuk mencapai suatu tujuan tertentu, di dalam fisika kita biasanya melakukan pengamatan yang diikuti dengan pengukuran. Pengamatan suatu gejala secara umum tidaklah lengkap bila tidak dilengkapi dengan data kuantitatif yang didapat dari hasil pengukuran oleh Lora Kelvin, seorang ahli

fisika berkata, bila kita dapat mengukur apa yang sedang kita bicarakan dan mengatakannya dengan angka-angka, berarti kita akan mgetahui apa yang sedang kita bicarakan itu. Sedangkan arti dari pengukuran itu sendiri adalah membandingkan sesuatu yang sedang diukur dengan besaran sejenis yang ditetapkan sebagai satuan sejenis. 1. Jangka Sorong Jangka sorong adalah suatu alat ukur panjang yang dapat dipergunakan untuk mengukur panjang suatu benda dengan keetelitian 0,05 mm. pembacaan suatu pengukuran sangat bergantung pada keahlian dan ketelitian pengguna maupun alat. Sebagian keluaran terbaru sudah dilengkapi dengan display digital. Pada versi analog, umumnya tingkat ketelitian adalah 0,05 mm untuk jangka sorong di bawah 30 cm dan 0,1 mm untuk yang d atas 30 cm (Raharjo, 1992 : 64). Kegunaan jangka sorong antara lain: a. Untuk mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit. b. Untuk mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa lubang dengan cara diulur. c. Untuk mengukur suatu celah atau lubang pada suatu benda dengan cara memasukkan bagian pengukur. Jenis-jenis jangka sorong yaitu: a. Jangka sorong digital b. Jangka sorong analog Secara umum jangka sorong terdiri atas dua bagian, yaitu rahang tetap dan rahang geser. Jangka sorong terdiri atas skala utama yang terdapat pada rahang tetap dan skala nonius yang terdapat pada rahang geser. Sepuluh skala utama pada jangka sorong memiliki panjang 1 cm, dengan kata lain jarak 2 skala utama yang saling berdekatan adalah 0,1 cm. Sedangkan 10 skala nonius memiliki panjang 0,9 cm, dengan kata lain jarak 2 skala nonius yang saling berdekatan adalah 0,09 cm. Jadi beda skala utama dengan skala nonius adalah 0,01 cm atau 0,1 mm. Sehingga skala terkecil dari jangka sorong adalah 0,1 mm (Kadiawarman, 1993 : 102). Ketelitian dari jangka sorong adalah setengah dari skala terkecil. Jadi ketelitian jangka sorong adalah Dx = x 0,01 cm = 0,005 cm. Dengan ketelitian 0,005 cm, maka jangka sorong juga dapat dipergunakan untuk mengukur dengan lebih teliti/akurat.

Jangka sorong juga dapat dipergunakan untuk mengukur diameter luar sebuah kelereng. Berikut ini langkah-langkah menggunakan jangka sorong untuk keperluan tersebut antara lain: a. Diameter Luar (misalnya kelereng) - Geserlah rahang geser jangka sorong kekanan sehingga benda yang diukur dapat masuk diantara kedua rahang (antara rahang geser dan rahang tetap). - Letakkan benda yang akan diukur diantara kedua rahang. - Geserlah rahang geser kiri sehingga benda yang diukur terjepit oleh kedua rahang. b. Mengukur Diameter Dalam (misalnya diameter didalam sebuah cincin) - Geserlah rahang geser jangka sorong sedikit kekanan. - Letakkan benda/cincin yang akan diukur sehingga kedua rahang jangka sorong masuk kedalam benda/cincin tersebut. - Geserlah rahang geser kekanan sehingga kedua rahang jangka sorong menyentuh kedua dinding dalam benda/cincin yang diukur. c. Mengukur Kedalaman (misalnya tabung) - Letakkan tabung yang akan diukur dalam posisi berdiri tegak, bukan dalam keadaan miring karena keadaan tersebut akan mempengaruhi hasil pengukuran. - Putar jangka (posisi tegak), kemudian letakkan ujung jangka sorong ke permukaan tabung yang akan diukur dalamnya. - Geserlah rahang geser ke bawah sehingga ujung batang pada jangka sorong menyentuh dasar tabung. Cara membaca skala jangka sorong, antara lain; a. Bacalah skala utama yang berimpit atau skala terdekat tepat di depan titik nol skala nonius. b. Bacalah skala nonius yang tepat berimpit dengan skala utama. c. Hasil pengukuran dinyatakan dengan persamaan : Hasil = Skala utama + (skala nonius yang berimpit x skala terkecil jangka sorong) = Skala utama + (skala nonius yang berimpit x 0,01 cm) (Yohanes, 1989 : 203)

2. Mikrometer Sekrup Mikrometer adalah alat ukur panjang yang dapat melihat dan mengukur benda dengan satuan ukur yang memiliki ketelitian 0,01 mm. Mikrometer sekrup memiliki tiga jenis umum pengelompokan yang didasarkan pada aplikasi berikut : a. Mikrometer luar, digunakan untuk ukuran memasang kawat, lapisanlapisan, blok-blok, dan batang-batang. b. Mikrometer dalam, digunakan untuk mengukur garis tengah dari lubang suatu benda. c. Mikrometer kedalaman, digunakan untuk mengkur kerendahan dari langkah-langkah dan slot-slot. Skala utama mikrometer sekrup pada selubung kecil dan skala nonius pada selubung luar yang berputar maju dan mundur. 1 putaran lengkap skala utama maju/mundur 0,5 mm, karena selubung luar terdiri dari 50 skala, maka 1 skala selubung luar = 0,5 mm/50 = 0,01 mm sebagai skala terkecilnya. Jadi, ketelitian atau ketidakpastian mikrometer sekrup adalah (1/2 x 0,01 mm) = 0,005 mm atau 0,0005 cm. Adapun jenis skala yang terdapat pada mikrometer sekrup, yaitu : a. Skala utama, terdiri dari skala 1, 2, 3, 4, 5 mm, dan seterusnya. Dan nilai tengah 1,5; 2,5; 3,5; 4,5; 5,5 mm dan seterusnya. b. Skala putar terdiri dari skala 1 sampai 50 Setiap skala putar berputar mundur 1 putaran, maka skala utama bertambah 0,5 mm, sehingga 1 skala putar = 1/100 mm = 0,01 mm. Mikrometer sekrup memiliki ketelitian sepuluh kali lebih teliti daripada jangka sorong, ketelitiannya sampai 0,01 mm. Mikrometer biasa digunakan untuk mengukur ketebalan suatu benda, misalnya tebal kertas. Selain mengukur ketebalan kertas, mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur diameter kawat yang kecil. Mikrometer sekrup terdiri dari : a. Poros tetap b. Poros geser/putar c. Skala utama d. Skala nonius e. Pemutar f. Pengunci (Yohanes, 1989 : 205 )

3.

Mistar Mistar ukur dipergunakan untuk mengukur panjang suatu benda dengan syarat toleransi dari 1 sampai 3 mm. Pembagian yang paling banyak terdapat pada mistar ukur ialah dalam mm. Ketelitian hasil pengukuran ditentukan oleh ketepatan hasil melihat skala induk yang ada pada alat ukur. Kesalahan pengelihatan dapat terjadi apabila memperhatikan skala dari arah samping dan kesalahan demikian dinamakan kesalahan paralaks. Ketidaktepatan hasil pengukuran dapat juga bersumber dari keterbatasannya skala terkecil yang terdapat pada skala induk. Penafsiran terpaksa dilakukan dan hal itu akan menimbulkan angka merugikan. Tetapi kesulitan ini dapat dihindari dengan cara menambah skala selain skala induk yang sudah ada. Skala pembantu ini dinamakan skala nonius. Penggunaan mistar ukur, yaitu: a. Harus memperhatikan bahwa mistar ukur ketika sedang mengukur harus diletakkan dalam arah pengukuran panjang. b. Bila memungkinkan kita menggunakan sebuah tumpuan, dengan demikian kemungkinan salah baca dapat dikurangi. c. Pada waktu membaca, maka harus berada tegak lurus di atas tempat kita membaca angka pengukuran pada mistar (Kadiawarman, 1993 : 107).

4.

Stopwatch Waktu merupakan besaran pokok yang dapat didefinisikan sebagai besaran mekanik yang tidak terdefinisikan karena dalam fisika untuk mendefinsikan suatu besaran yang bersangkutan berdasarkan besaranbesaran lain yang dapat dihitung (Francis, 1982 : 75). Stopwatch setiap putaran jam perskala sama dengan 60 detik atau dari nol berputar ke kanan sampai penuh lagi, maka skala garis atau stop jarumnya akan bergerak satu (satu menit). Jadi pada jarum skala garis atau strip, setiap stripnya menunjukkan skala detik. Sedangkan garisgaris atau strip yang membagi skala dengan menunjukkan batas-batas ketelitian alat ukur tersebut (Kadiawarman, 1993 : 211).

D. PROSEDUR PERCOBAAN 1. Stopwatch a) Waktu untuk denyut nadi diukur sebanyak 30 denyutan. b) Percobaan diulangi beberapa kali (ditentukan oleh asisten). c) Hasilnya dicatat dalam tabel pengamatan 1. 2. Jangka Sorong a. Mengukur panjang atau tebal benda a) Sebuah balok diambil dan diukur panjangnya dengan mistar/penggaris. b) Panjang balok tersebut diukur juga dengan jangka sorong. c) Langkah 1 dan 2 dilakukan untuk beberapa kali pengamatan. d) Hasilnya dicatat dalam tabel pengamatan 2. b. Mengukur diameter dalam dan luar tabung a) Sebuah gelas atau tabung diambil, diukur diameter bagian dalam dan luarnya dengan jangka sorong. b) Bandingkan hasilnya dengan hasil pengukuran mistar. c) Langkah tersebut dilakukan untuk beberapa kali pengamatan. d) Langkah a dan b dilakukan untuk diameter bagian luar. e) Hasilnya dicatata pada tabel pengamatan 3. Mengukur kedalaman air dalam gelas a) Gelas diisi dengan air. b) Ketinggian air diukur dengan jangka sorong. c) Kedalaman air diukur pula dengan mistar. d) Percobaan dilakukan untuk beberapa kali pengamatan. e) Hasilnya dicatat dalam tabel pengamatan 4.

c.

E. HASIL PENGAMATAN (Terlampir) F. ANALISA DATA a. Untuk mencari nilai rata-rata ( ) = b. Untuk mencari nilai standar deviasi (SD) SD =

c. Untuk mencari persentase (%) error % error =

x 100%

d. Hasil percobaan dengan bentuk: x=

1. Pengukuran Denyut Nadi Dengan Menggunakan Stopwatch a. Untuk 30 denyutan No. 1. 2. 3. 4. 5. = SD =

(s) 23,27 19,57 22,36 24,88 19,33 109,41 1,388 -2,312 0,478 2,998 -2,552

(s) 1,926 5,345 0,228 8,988 6,513 23

(s)

21,882 s = = =

= 2,39 s

% error =

x 100% =

x 100% = 10,92 %

x= x= x=

= 21,882 + 2,39 = 24,272 s = 21,882 2,39 = 19,492 s

b. Untuk 1 denyutan No. 1. 2. 3. 4. 5. (s) 0,56 0,52 0,43 0,55 0,49 2,55 0,05 0,01 -0,08 0,04 -0,02 (s) 0,0025 0,0001 0,0064 0,0016 0,0004 0,011 (s)

= SD =

0,51 s = =

= 0,0524 s

% error =

x 100% =

x 100% = 10,27 %

x= x= x=

= 0,51 + 0,052 = 0,5624 s = 0,51 0,052 = 0,4576 s

2. Pengukuran Balok 2.1. Dengan jangka sorong a. Panjang balok No. 1. 2. 3. 4. 5. = SD =

(mm) 85,375 85,3 85,375 85,375 85,4 426,825

(mm) 0,01 -0,065 0,01 0,01 0,035

(mm) 0,0001 0,004225 0,0001 0,0001 0,001225 0,00575

85,365 mm = = =

= 0,0379 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 0,044 %

x= x= x=

= 85,365 + 0,0379 = 85,4029 mm = 85,365 0,0379 = 85,3271 mm

b. Lebar balok No. 1. 2. 3. 4. 5. =

(mm) 28,5 28,125 28,125 28,5 28,25 141,5 28,3 mm =

(mm) 0,2 -0,175 -0,175 0,2 -0,05

(mm) 0,04 0,030625 0,030625 0,04 0,0025 0,14375

SD =

= 0,189 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 0,667 %

x= x= x=

= 28,3 + 0,189 = 28,489 mm = 28,3 0,189 = 28,111 mm

c. Tinggi balok No. 1. 2. 3. 4. 5. =

(mm) 17,35 18,325 19 18,45 18,375 91,5 18,3 =

(mm) -0,95 0,025 0,7 0,15 0,075

(mm) 0,9025 0,000625 0,49 0,0225 0,005625 1,41825

SD =

= 0,595 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 3,25 %

x= x= x=

= 18,3 + 0,595 = 18,895 mm = 18,3 0,595 = 17,705 mm

2.2. Dengan mistar a. Panjang balok No. 1. 2. 3. 4. 5. = SD =

(mm) 87 87 86 86 87 433 86,6 mm = =

(mm) 0,4 0,4 -0,6 -0,6 0,4

(mm) 0,16 0,16 0,36 0,36 0,16 1,2

= 0,55 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 0,635 %

x= x= x=

= 86,6 + 0,55 = 87,15 mm = 86,6 0,55 = 86,05 mm

b. Lebar balok No. 1. 2. 3. 4. 5. = (mm) 29 29,5 29,5 29,5 30 147,5 29,5 mm (mm) -0,5 0 0 0 0,5 (mm) 0,25 0 0 0 0,25 0,5

SD =

= 0,35 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 1,186 %

x= x= x=

= 29,5 + 0,35 = 29,85 mm = 29,5 0,35 = 29,15 mm

c. Tinggi balok No. 1. 2. 3. 4. 5. = SD =

(mm) 21 20,5 20 20 19 100,5 20,1 mm = =

(mm) 0,9 0,4 -0,1 -0,1 -1,1

(mm) 0,81 0,16 0,01 0,01 1,21 1,2

= 0,55 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 2,7 %

x= x= x=

= 20,1 + 0,55 = 20,65 mm = 20,1 0,55 = 19,55 mm

3. Pengukuran Diameter Dalam Dan Luar Tabung 3.1. Dengan jangka sorong a. dalam No. 1. 2. 3. 4. 5. = SD =

(mm) 70,025 70,45 70,15 70,15 70,5 351,275

(mm) -0,23 0,195 -0,105 -0,105 0,245

(mm) 0,0529 0,038025 0,011025 0,011025 0,060025 0,173

70,255 mm = = =

= 0,208 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 0,296 %

x= x= x= b. No. 1. 2. 3. 4. 5. =

= 70,255 + 0,208 = 70,463 mm = 70,255 0,208 = 70,047 mm

luar (mm) 65,45 65,2 64,3 66,475 65,425 326,85 (mm) 0,08 -0,17 -1,07 1,105 0,055 (mm) 0,0064 0,0289 1,1449 1,221 0,003025 2,404225

65,37 mm = =

SD =

= 0,775 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 1,185 %

x= x= x=

= 65,37 + 0,775 = 66,145 mm = 65,37 0,775 = 64,595 mm

3.2. Dengan mistar a. dalam No. 1. 2. 3. 4. 5. = SD =

(mm) 67 68 67 67 67 336 67,2 mm = =

(mm) -0,2 0,8 -0,2 -0,2 -0,2

(mm) 0,04 0,64 0,04 0,04 0,04 0,96

= 0,49 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 0,729 %

x= x= x= b. No. 1. 2. 3. 4. 5. = luar

= 67,2 + 0,49 = 67,69 mm = 67,2 0,49 = 66,71 mm

(mm) 74 73 72,5 72 73 364,5 72,9 mm

(mm) 1,1 0,1 -0,4 -0,9 0,1

(mm) 1,21 0,01 0,16 0,81 0,01 2,2

SD =

= 0,74 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 1,015 %

x= x= x=

= 72,9 + 0,74 = 73,64 mm = 72,9 0,74 = 72,16 mm

4. Pengukuran Kedalaman Air a. Dengan jangka sorong No. 1. 2. 3. 4. 5. = SD =

(mm) 56,2 56,375 56,45 55,4 56,1 280,525

(mm) 0,095 0,27 0,345 0,705 0,005

(mm) 0,009025 0,0729 0,0119025 0,497025 0,000025 0,698

56,105 mm = = =

= 0,418 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 0,745 %

x= x= x=

= 56,105 + 0,418 = 56,523 mm = 56,105 0,418 = 55,687 mm

b. Dengan mistar No. 1. 2. 3. 4. 5. =

(mm) 58 58 57,5 57,5 57,8 288,8 57,76 mm = =

(mm) 0,24 0,24 -0,26 -0,26 0,04

(mm) 0,0576 0,0576 0,0676 0,0676 0,0016 0,252

SD =

= 0,25 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 0,00433 %

x= x= x=

= 57,76 + 0,25 = 58,01 mm = 57,76 0,25 = 57,51 mm

5. Pengukuran Dengan Mikrometer Sekrup a. Silet No. 1. 2. 3. 4. 5. = SD =

(mm) 0,135 0,13 0,125 0,13 0,12 0,64 0,128 mm =

(mm) 0,007 0,002 -0,003 0,002 -0,008

(mm) 0,000049 0.000004 0,000009 0,000004 0,000064 0,00013

= 0,0057 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 4,45 %

x= x= x= b. Kertas No. 1. 2. 3. 4. 5. = SD =

= 0,128 + 0,0057 = 0,1337 mm = 0,128 0,0057 = 0,1223 mm

(mm) 0,085 0,08 0,075 0,075 0,075 0,39 0,078 mm =

(mm) 0,007 0,002 0,003 0,003 0,003

(mm) 0,000049 0,000004 0,000009 0,000009 0,000009 0,00008

= 0,00447 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 5,73 %

x= x= x= c. Gotri No. 1. 2. 3. 4. 5. = SD =

= 0,078 + 0,00447 = 0,08247 mm = 0,078 0,00447 = 0,07353 mm

(mm) 12,09 12,39 13,07 12,31 12,30 62,16

(mm) -0,342 -0,042 0,638 -0,122 -0,132

(mm) 0,116964 0,001764 0,407044 0,014884 0,017424 0,55808

12,432 mm = = =

= 0,37 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 0,0297 %

x= x= x= d. Kawat No. 1. 2. 3. 4. 5. = SD =

= 12,432 + 0,37 = 12,802 mm = 12,432 0,37 = 12,062 mm

(mm) 1,05 1,02 1,013 1,04 1,05 5,173

(mm) 0,0154 -0,0146 -0,0216 0,0054 0,0154

(mm) 0,00023716 0,00021316 0,00046656 0,00002916 0,00023716 0,0010832

1,0346 mm = =

= 0,016 mm

% error =

x 100% =

x 100% = 1,546 %

x= x= x=

= 1,0346 + 0,016 = 1,0506 mm = 1,0346 0,016 = 0,0186 mm

G. PEMBAHASAN Untuk mencapai suatu tujuan tertentu di dalam fisika kita biasanya melakukan pengamatan yang disertai dengan pengukuran. Pengamatan suatu gejala secara umum tidak lengkap apabila tidak ada data yang didapat dari hasil pengukuran. Alat ukur merupakan alat yang penting dalam kehidupan dan aktivitas manusia. Alat ukur diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia dalam menentukan ukuran benda, dalam percobaan ini alat ukur yang digunakan adalah stopwatch, jangka sorong, mistar dan mikrometer sekrup.

Jangka sorong yaitu alat ukur yang digunakan untuk mengukur panjang, lebar, tinggi, diameter, kedalaman air. Jangka sorong ini alat ukur penjang dengan ketelitian yang tinggi, dengan ketelitian 0,05 mm. Mikrometer sekrup memiliki 2 skala yaitu skala tetap dan skala putar dengan ketelitian 0,01 mm. Sedangkan dengan mistar adalah alat ukur panjang dengan ketelitian 0,5 mm, dan yang terakhir adalah alat ukur waktu yaitu stopwatch. Misalnya menghitung berapa lama waktu yang diperlukan dalam kegiatan tersebut. Misalnya menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk lari mengelilingi satu putaran lapangan bola. Dari hasil percobaan diperoleh data-data dengan nilai yang konstan. Data tersebut dilakukan 5 kali, masing-masing dengan nilai yang berbeda, walaupun terdapat sebagian nilai yang sama. Hal ini agar data yang diperoleh mendekati nilai kebenaran. Dari percobaan bisa diketahui pengukuran untuk denyut nadi diperoleh nilai tetap, ini dikarenakan sampel atau teman praktikum dapat memperlihatkan berapa lama denyut nadinya dalam 30 detik. Pengkuran panjang, lebar, dengan titik balok diperoleh nilai yang berbeda antara pengukuran dengan mistar nilainya lebih kecil sedangkan menggunakan jangka sorong lebih tinggi, ini disebabkan karena jangka sorong memiliki ketelitian lebih tinggi daripada mistar, akan tetapi pengukuran diameter luar dengan mistar lebih besar daripada menggunakan jangka sorong, ini disebabkan karena praktikan kurang teliti, sehingga terdapat kesalahan seperti itu. Dalam analisis data, kita mencari nilai SD, , error, dan nilai x. adalah niali rata-rata dari hasil pengukuran yang telah dilakukan yaitu sebanyak 5 kali. SD merupakan standar deviasi yang merupakan kesalahan yang terjadi dalam melakukan praktikum. % error adalah persentase kesalahan dalam melakukan pengukuran dalam praktikum, sedangkan x adalah hasil penjumlahan dari kisaran nilai antara nilai rata-rata dengan standar deviasi. Berdasarkan perhitungan pada tabel 1 untuk 30 denyutan diperoleh = 21,882 sekon, SD = 2,39 sekon dan % errornya = 10,92 %, serta niali x antara 19,492 s dan 24,272 s. Kemudian untuk 1 denyutan lebih kecil dari 30 denyutan. Pada tabel 3 diperoleh nilai , SD untuk jangka sorong lebih besar daripada pengukuran dengab menggunakan mistar, tetapi % errornya lebih besar menggunakan mistar daripada jangka sorong. Pada tabel mikrometer sekrup ditemukan nilai pada silet = 0,128 mm, SD = 0,0057 mm, % error = 4,45 % dan nilai x antara 0,1223 mm dan 0,1337 mm. Pada kertas diperoleh = 0,078 mm, SD = 0,00447 mm, % error = 5,73 % dan nilai x antara 0,07353 mm dan 0,08247 mm. Pada gotri diperoleh =

12,432 mm, SD = 0,37 mm, % error = 0,0297 %, dan nilai x antara 12,062 dan 12,802 mm. Pada kawat diperoleh nilai = 1,0346 mm, SD = 0,016 mm, % error = 1,546 %, dan nilai x berkisar antara 1,0186 dan 1,0506 mm. H. PENUTUP 1. Kesimpulan a) Pengukuran adalah suatu kegiatan membandingkan suatu besaran dengan besaran lain yang sejenis dengan nilai yang berbeda. b) Mikrometer sekrup memiliki ketelitian lebih tinggi daripada jengka sorong dan mistar karena mampu mengukur dengan ketelitian 0,01 mm. c) Jangka sorong memiliki ketelitian lebih tinggi daripada mistar dan lebih rendah daripada mikrometer sekrup karena mampu mengkur dengan ketelitian 0,1 mm. d) Mistar memiliki ketelitian yang lebih rendah daripada jangka sorong dan mikrometer sekrup karena mampu mengukur dengan ketelitian 1 mm. e) Stopwatch berfungsi untuk mengukur lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas. 2. Saran a) Praktikan harus belajar terlebih dahulu agar lebih menguasai konsep praktikum. b) Praktikan diharapkan agar tidak main-main saat praktikum berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA

Kadiawarman. 1993. Fisika Untuk Universitas. Bandung : ITB. Raharjo. 1992. Konsep Dasar Fisika : Erlangga. Sears, Francis. 1982. Fisika Universitas. Surakarta : PT. Pabelan. Yohanes. 1989. Fisika Dasar. Jakarta : Erlangga.