Você está na página 1de 19

BAB I STATUS PASIEN 1.1. Nama Umur Alamat Status perkawinan Pekerjaan Pembiayaan No.

RM Tanggal masuk Ruangan Identitas Pasien : Tn. Y : 77 tahun : Bandungan 6/1 Kab. Semarang : Menikah : Swasta : Jamkesmas : 045449-2013 : 11 Oktober 2013 : Melati kelas III

II. 2

Anamnesa Autoanamnesa dilakukan di Bangsal Melati RSUD Ambarawa pada 11 Oktober 2013. Keluhan utama : Sulit BAK Keluhan Tambahan : BAK terputus Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poli bedah RSUD Ambarawa pada tanggal 03 September 2013 dengan keluhan sulit BAK sejak 1 bulan yang lalu. Pasien mengeluh merasa ingin BAK namun air kencing sulit keluar dan hanya menetes, pasien harus mengejan saat BAK dan merasa tidak lampias. Pasien Sering terbangun malam hari untuk BAK. Saat 1 bulan lalu itu pasien dibawa ke puskesmas dan dipasang kateter selama 6 hari lalu kateter dilepas namun pasien kembali mengalami kesulitan untuk BAK. Keluhan seperti ini sudah terjadi 6 kali selama 1 bulan terakhir. Saat keluhan timbul pasien berobat ke puskesmas dan dipasang kateter. Kencing berdarah (-), kencing berpasir (-).nyeri saat BAK (-). Rasa panas saat BAK (-).

Riwayat Penyakit Dahulu : 2 tahun yang lalu pasien pernah mengalami keluhan serupa dan dipasang kateter. Pasien belum pernah menjalankan operasi sebelumnya. Riwayat hipertensi (-), riwayat kencing batu disangkal, riwayat DM disangkal, riwayat penyakit jantung disangkal. Riwayat Penyakit Keluarga : Anggota keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa. Riwayat hipertensi disangkal, riwayat kencing batu disangkal, riwayat DM disangkal, riwayat penyakit jantung disangkal. Riwayat Kebiasaan :
Pasien memiliki kebiasaan merokok ( >35 tahun sebanyak 2-3 batang perhari) Pasien sering minum kopi dan teh, namun sejak timbul keluhan 1 bulan lalu pasien sudah jarang minum kopi dan teh. Pasien sering menahan BAK.

SKOR INTERNASIONAL GEJALA PROSTAT (I-PSS)

Untuk pertanyaan nomor 1 hingga 6, jawaban dapat diberikan skor sebagai berikut : 0 : Tidak pernah kejadian 1 2 : Kurang dari sekali dari 5 kejadian : Kurang dari separuh kejadian 4 5 : Lebih dari separuh kejadian : Hampir selalu 3 : Kurang lebih separuh dari

Dalam satu bulan terakhir ini, berapa seringkah anda : 1. Merasakan masih terdapat sisa urine sehabis kencing? 4

2. Harus kencing lagi padahal belum ada setengah jam yang lalu anda baru saja kencing? 4 3. Harus berhenti pada saat kencing dan segera mulai kencing lagi dan hal ini dilakukan berkalikali? 4. Tidak dapat menahan keinginan unuk kencing? 5. Merasakan pancaran urine yang lemah? 6. Harus mengejan dalam memulai kencing? Untuk pertanyaan nomor 7, jawablah dengan skor seperti di bawah ini : 0 1 : Tidak pernah : Satu kali 4 3 : Tiga kali 4 3 4 5

: Empat kali

: Dua kali

: Lima kali

7. Dalam satu bulan terakhir ini, berapa kali anda terbangun dari tidur malam untuk kencing? 3 TOTAL SKOR (S) = 27 Pertanyaan nomor 8 adalah mengenai kualitas hidup sehubungan dengan gejala diatas: Jawablah dengan : 1. Sangat senang 2. Senang 3. Puas 8. Dalam satu bulan terakhir ini, berapa kali anda terbangun dari tidur malam untuk kencing? Kesimpulan : S____, L____, Q____, R____, V____ 4. Campuran antara puas dan tidak puas 5. Sangat tidak puas 6. Tidak bahagia 7. Buruk sekali

(S: Skor I-PSS, L:Kualitas hidup, Q: Pancaran urine dalam ml/detik, R: Sisa urine, V: Volume prostat)

II.3 Pemeriksaan Fisik Status generalis


Keadaan umum Kesadaran Tanda Vital : Sakit sedang : E4V5M6 :

TD N R S Kepala
Bentuk Rambut Mata

: 140/80 mmHg : 87 x/mnt : 24 x/mnt : 36,4 OC.

: Bentuk bulat, mesosephal, deformitas (-) : Warna hitam, distribusi rambut merata : Konjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor diameter 3 mm, reflek cahaya (+/+), reflek kornea (+/+) pergerakan mata ke segala arah baik.

Telinga

: Deformitas (-/-), benjolan (-/-), discharge (-/-), nyeri tekan (-/-),

pendengaran normal
Hidung : Deformitas (-), deviasi septum (-), napas cuping hidung (-), perdarahan (-), sekret (-), daya penciuman normal Mulut : warna mukosa bibir kemerahan, sianosis (-), mukosa kering (-)

Thorax
a. Jantung Inspeksi : simetris statis dan dinamis, iktus kordis tidak tampak, massa (-), sikatriks (-), petekie (-), jejas (-) Palpasi Perkusi Auskultasi b. Paru paru : iktus kordis tidak kuat angkat : batas jantung normal : BJ I/II normal, regular, murmur (-), gallop (-)

Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi


c. Abdomen

: simetris statis dan dinamis, retraksi intercostae (-) : fremitus taktil (n), nyeri tekan (-) : sonor seluruh lapang paru : suara nafas vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-) : bentuk perut datar, distensi (-) : BU + (n), hiperperistaltik (-), metallic sound (-) : supel, NT (-), hepar (n), lien (n), ginjal (n), CVA -/: timpani seluruh lapang abdomen
: Akral hangat (+/+), deformitas (-/-), edema (-/-), capillary refill < 2 detik. sianosis (-/-),

Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi


d. Ekstremitas Atas

Bawah

: Akral hangat (+/+), deformitas (-/-), edema (-/-), capillary refill < detik.

Pemeriksaan colok dubur :


a. Inspeksi : Sekitar anus warna kulit coklat, hiperemis (-), skin tag (-), hemoroid (-) b. Palpasi : Mukosa rektum halus licin, tidak ada benjolan Tonus sfingter ani kuat Ampula recti tidak kolaps Prostat teraba ada pembesaran Konsistensi prostat kenyal Sulcus medianus teraba Tidak terdapat nodul Lobus kanan dan kiri simetris

Tidak terdapat nyeri tekan Handscoen : tidak terdapat lendir, darah, dan feses

Diagnosis Banding : Benigna Prostat Hiperplasia Ca Prostat

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium : hematologi darah rutin, kimia klinik (GDS, ureum, kreatinin, SGOT, SGPT), serologi (HbsAg).

Tanggal 11 Oktober 2013


Pemeriksaan Hematologi Darah Rutin Hemoglobin Leukosit Eritrosit Hematokrit Trombosit MCV MCH MCHC RDW MPV Limfosit Monosit Granulosit Limfosit % Monosit % Granulosit % PCT PDW 8.9 g/dl 4.3 ribu 5.87 juta 30.1 % 293 ribu 63.1 mikro m3 18.7 pg 29.6 g/dl 18.6 % 7.3 mikro m3 1.2 0.4 2.7 28.0 % 8.6 % 63.4 % 0.257 13.2 H L L L H L L 14.0-18.0 g/dl 4.0-10 ribu 4.0-6.2 juta 40-58 % 200-400 ribu 80-90 mikro m3 27-34 pg 32-36 g/dl 10-16 % 7-11 mikro m3 1.7-3.5 0.2-0.6 2.5-7 25-35 % 4-6 % 50-80 % 0.2-0.5 10-18 Hasil Nilai Rujukan

CT-CBT Clothing Time Bleeding Time KIMIA KLINIK Gula Darah Sewaktu Ureum Creatinin SGOT SGPT SEROLOGI HbsAg NON REAKTIF NON REAKTIF 92 mg/dl 30.2 mg/dl 1.22 mg/dl 16 IU/L 14 IU/L H 60-100 mg/dl 10-50 mg/dl 0.62-1.1 mg/dl 0-50 IU/L 0-50 IU/L 4.0 2.0 3-5 1-3

Diagnosis Kerja Benigna Prostat Hyperplasia Penatalaksanaan


Infus RL 20 tpm Ciprofloxacin 2 x 1 Asam mefenamat 3 x 1 Konsul Sp.B untuk dilakukan operasi Cefotaxim 1 jam pre Op. : TVP (Trans Vesica suprapubic Prostatectomy) Inj.

1.2.

Prognosis Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad sanationam : bonam : bonam : bonam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I.1 Pembesaran Prostat Jinak (Benign Prostate Hyperplasia, BPH) I.1.2 Anatomi Kelenjar prostat dan vesika seminalis merupakan bagian dari sistem reproduksi pria. Prostat berfungsi untuk membentuk komposisi semen. Pada orgasme, otot prostat berkontraksi dan membenatu dorongan ejakulasi keluar dari penis. Struktur prostat mengelilingi uretra proksimal, yang disebut juga uretra pars prostatika. McNeal membagi kelenjar prostat menjadi tiga bagian oleh McNeal, yaitu zona sentral, perifer, dan transisional. Zona transisional (5-10% volume prostat normal) ini merupakan bagian dari prostat yang membesar pada hiperplasia prostat jinak, sedangkan sebagian besar kanker prostat berkembang dari zona perifer (75% volume prostat normal).

GAMBAR 1. Penampang Prostat Normal10 Prostat adalah berbentuk seperti buahkemiri dengan ukuran kira-kira 4 x 3 x 2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20 gram pada keadaan normal. Secara histopatologik kelenjar prostat terdiri atas komponen kelenjar dan stroma. Komponen stroma ini terdiriatas otot polos, fibroblast, pembuluh darah, saraf, dan jaringan penyanggah yanglain.Prostat menghasilkan suatu 7

cairan yang merupakan salah satu komponendari cairan ejakulat. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuaradi uretra posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen yang lain pada saat ejakulasi. Volume cairan prostat merupakan 25% dari seluruhvolume ejakulat.Prostat mendapatkan inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik dari pleksus prostatikus. Pleksus prostatikus (pleksus pelvikus) menerima masukan serabut parasimpatik dari korda spinalis S 2-4 dan simpatik dari nervushipogastrikus ( T 10 L 2). Stimulasi parasimpatik meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat, sedangkan rangsangan simpatik menyebabkan pengeluarancairan prostat ke dalam uretra posterior, seperti pada saat ejakulasi. Sistemsimpatik memberikan inervasi pada otot polos prostat, kapsula prostat, dan leher buli buli. Di tempat tempat itu banyak terdapat reseptor adrenergik .Rangsangan simpatik menyebabkan dipertahankan tonus otot polos tersebut. Pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung pada hormon testosteron,yang di dalam sel sel kelenjar prostat hormon ini akan dirubah menjadi 2 metabolit aktif dihidrotestoteron (DHT) dengan bantuan enzim 5-reduktase. Dihidrotestoteron inilah yang secara langsung memacu m RNA di dalam sel-sel kelenjar prostat untuk mensintesis protein growth factor yang memacu pertumbuhan kelenjar prostat.

I.1.3 Etiologi Pada BPH, istilah hipertrofi sebenarnya kurang tepat karena yang terjadi sebenarnya adalah hiperplasia kelenjar periuretral yang mendesak jaringan prostat yang sebenarnya ke perifer dan menjadi simpai bedah. Disebut hiperplasia karena secara histopatologi pada BPH terjadi peningkatan jumlah sel epitelial dan stromal pada area periuretral dari prostat, hal ini terjadi mungk karena proliferasisel epitelial dan stromal atau terganggunya proses kematian sel terprogram (apoptosis) yang mengakibatkan akumulasi seluler. Androgen, estrogen, interaksi stromal-epitelia, faktor pertumbuha, dan neurotransmiter dapat berperan, baik tunggal maupun kombinasi, dalam etiologi proses hiperplasia. Beberapa teori yang menjelaskan pembesaran kelenjar periuretral, yaitu: 1. Teori Stem Cell, dikemukakan oleh Isaacs, menyatakan bahwa dalam kondisi normal kelenjar periuretral berada dalam keadaan seimbang antara sel yang tumbuh dengan yang mati. Kemudian oleh sebab tertentu seperti usia, gangguan keseimbangan hormon, atau

faktor pencetus lainnya, stem cell berproliferasi lebih cepat sehingga sel yang tumbuh lebih banyak daripada sel yang mati, akibatnya terjadilah hiperplasi kelenjar periuretral. 2. Teori Reawakening, dikemukakan oleh McNeal, menyatakan bahwa jaringan periuretral kembali berkembang seperti pada tingkat embriologik sehingga tumbuh lebih cepat dari jaringan sekitarnya. 3. Teori yang dikemukakan McConnel menyatakan bahwa hiperplasi kelenjar periuretral disebabkan oleh ketidakseimbangan testosteron dengan estrogen. Testosteron bebas, yaitu testosteron yang tidak terikat protein dalam bentuk Serum Binding Hormone, akan dihidrolisis oleh enzim 5-alfa reduktase menjadi dihidrotestosteron (DHT). Kemudian DHT akan berikatan dengan reseptor di sel-sel prostat dan mengakibatkan proliferasi sel. Seiring bertambahnya usia produksi testosteron akan berkurang dan terjadi konversi testosteron menjadi estrogen pada jaringan adiposa oleh enzim aromatase, estrogen lalu akan mengakibatkan hiperplasi stroma prostat.

GAMBAR 2. Skema Pembesaran Prostat Jinak I.1.4 Patofisiologi Pada penderita BPH, akan terjadi resistensi uretra daerah prostat, tonus trigonum, leher vesika, dan kekuatan kontraksi otot detrusor. Trigonum, leher vesika, dan otot detrusor dipersarafi oleh sistem simpatis, sedangkan trigonum oleh parasimpatis. Saat terjadi BPH akan terjadi peningkatan resistensi di daerah prostat dan leher vesika. Kemudian otot detrusor akan 9

berkontraksi lebih kuat sebagai kompensasinya. Kontraksi detrusor yang terus-menerus akan mengakibatkan penebalan dan penonjolan serat detrusor ke dalam buli-buli yang disebut pula trabekulasi, bentuknya serupa balok-balok. Mukosa vesika dapat menerobos antara serat detrusor sehingga membentuk sakula dan bila semakin membesar disebut divertikel. Detrusor yang terusmenerus mengkompensasi pada suatu saat akan jatuh pada fase dekompensasi dimana otot detrusor tidak mampu berkontraksi lagi dan terjadi retesi urin total. Retensi urin total yang terjadi menginkatkan tekanan intravesika. Ketika tekanan intravesika lebih tinggi daripada tekanan sfingter uretra, akan terjadi inkontinensia paradox (overflow incontinence). Retensi urin yang berjalan kronik mengakibatkan refluks vesikouretral, yang semakin diteruskan ke atas mengakibatkan dilatasi ureter (hidroureter) dan sistem pelviokalises ginjal (hidronefrosis). Jika keadaan ini berlangsung terus-menerus dapat terjadi penurunan fungsi ginjal dan pada akhirnya akan terjadi gagal ginjal. Obstruksi traktus urinarius kronik dapat mengakibatkan peningkatan tekanan

intraabdomen karena penderita harus mengejan pada waktu kencing. Peningkatan tekanan intraabdomen dapat mengakibatkan hernia atau hemoroid. Sisa urin dalam vesika dapat meningkatkan risiko terjadinya batu endapan dan infeksi. Adanya batu di dalam vesika dapat memperberat gejala iritatif dan mengakibatkan hematuria.

GAMBAR 3. Aliran Urin dengan BPH

10

I.1.5 Manifestasi Klinis Gejala pada penderita BPH dibagi menjadi gejala obstruktif dan gejala iritatif. Gejala obstruktif disebabkan oleh kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi secara adekuat misalnya karena volume prostat pada BPH yang besar, sedangkan gejala iritatif disebabkan oleh pengosongan yang tidak sempurna saat miksi atau rangsangan pada vesika oleh BPH sehingga vesika sering berkontraksi meskipun belum terisi penuh. Tabel 1. Gejala obstruktif dan iritatif pada BPH Obstruktif Menunggu pada permulaan miksi (hesitancy) Miksi terputus (intermittency) Urin menetes pada akhir miksi (terminal dribbling) Pancaran miksi lemah Rasa tidak puas setelah miksi (tidak lampias) Iritatif Peningkatan frekuensi miksi (frequency) Peningkatan frekuensi miksi malam hari (nocturia) Miksi sulit ditahan (urgency) Nyeri pada waktu miksi (dysuria)

Beratnya gangguan miksi diidentifikasi dan diklasifikasikan oleh berbagai jenis skoring, di antaranya International Prostate Symptom Score (IPSS) yang disusun oleh World Health Organization dan Madsen Lawson Score. IPSS terdiri dari delapan buah pertanyaan mengenai LUTS. Skor akhir akan menentukan tatalaksana yang akan dilakukan terhadap penderita. Tabel 2. Klasifikasi hasil IPSS Skor 0-7 8-18 19-35 I.1.6 Diagnosis Pada pria berusia di atas 60 tahun kira-kira ditemukan 50% dengan pembesaran prostat dan separuhnya akan memberikan keluhan. Jika dasar kelainan berada di traktur urinarius bagian atas, maka diperiksa kelianan ginjal yang tergambar lewat pemeriksaan fisik yaitu ginjal dapat teraba pada hidronefrosis, nyeri pinggang dan nyeri ketok regio Flank pada pielonefritis, vesika urinaria dapat teraba bila terjadi retensi urin, dan teraba benjolan di lipat paha bila ada hernia. Pemeriksaan colok dubur (rectal touch, RT) dilakukan untuk memeriksa tonus sfingter ani, mukosa rektum, dan prostat. Jika batas atas prostat masih teraba, dapat diperkirakan massa prostat kurang dari 60 gram. Jika prostat teraba membesar maka diberi deskripsi lebih lanjut 11 Kategori Ringan Sedang Berat Tatalaksana Watchfull waiting Medikamentosa Operasi

mengenai konsistensi, simetri, dan nodul untuk menentukan dugaan pembesaran jinak atau ganas. Pembesaran prostat jinak biasanya memiliki konsistensi kenyal, bentuknya simetris, dan tidak terdapat nodul. Sedangkan pada adenokarsinoma prostat konsistensinya keras, bentuk asimetris, dan terdapat nodul. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mendeteksi adanya komplikasi atau faktor komorbid pada penderita seperti infeksi, penurunan fungsi ginjal, batu saluran kemih, dan diabetes mellitus. Pemeriksaan darah terdiri dari darah perifer lengkap, elektrollit, PSA, ureum, kreatinin, dan kadar glukosa. Pemeriksaan urin terdiri dari urinalisis, biakan, dan tes sensitivitas antibiotik. Pemeriksaan pencitraan yang dilakukan pada BPH terutama ultrasonografi (USG) secara Trans Abdominal Ultrasound (TAUS) atau Trans Rectal Ultrasound (TRUS). TAUS digunakan untuk menilai volume buli, volume sisa urin, divertikel, tumor, atau batu buli. TRUS digunakan untuk mengukur volume prostat, prostat digolongkan besar jika volumenya lebih dari 60 gram. TRUS juga dapat mendeteksi kemungkinan keganasan dengan memperlihatkan adanya daerah hypoehoic, dan bisa dapat dilakukan biopsi prostat dengan jarum yang dituntun TRUS diarahkan ke daerah yang hypoechoic Pencitraan lainnya yang dapat dilakukan yaitu Blaas Nier OverzichtIntravenous Pyelogram (BNO-IVP) untuk melihat adanya batu saluran kemih, hidronefrosis, divertikulae, volume sisa urin, dan indentasi prostat. CT Scan dan MRI jarang digunakan karena dianggap tidak efisien.

Tabel 3. Indikasi biopsi prostat 1. Bila pada RT dicurigai adanya keganasan 2. Nilai PSA > 10 ng/ml atau PSA 4 10 ng/ml dengan PSAD > 0,15 (Standar internasional) 3. Nilai PSA > 30 ng/ml atau PSA 8 30 ng/ml dengan PSAD > 0,22 (Standar Jakarta)

I.1.7 Pengukuran Derajat Obstruksi Derajat berat obstruksi dapat diukur melalui beberapa cara. Cara pertama yaitu dengan mengukur volume sisa urin setelah penderita miksi spontan karena pada orang normal biasanya tidak terdapat sisa. Sisa urin lebih dari 100cc merupakan indikasi terapi intervensi pada penderita 12

BPH. Volume sisa urin dapat diukur dengan melakukan kateterisasi ke dalam vesika setelah penderita miksi, dengan ultrasonografi vesika, atau foto post voiding pada BNO-IVP. Cara kedua yaitu dengan uroflowmetri. Pada pemeriksaan ini diukur pancaran urin, dimana nilai normal average flow rate (Qave) 10-12 ml/detik, maximum flow rate (Qmax) 20 ml/detik, dan voided volume. I.1.8 Diagnosis Banding Proses miksi bergantung pada kekuatan otot detrusor, elastisitas leher vesika, dan resistensi uretra. Oleh karena itu kesulitan miksi dapat disebabkan oleh kelemahan detrusor, kekakuan leher vesika, dan resistensi uretra. Selain pada BPH, keluhan LUTS dijumpai pula pada striktur uretra, kontraktur leher vesika, batu buli-buli kecil, karsinoma prostat, atau kelemahan detrusor, misalnya pada penderita asma kronik yang menggunakan obat-obat parasimpatolitik. Sedang bila hanya gejala-gejala iritatif yang menyolok, lebih sering ditemukan apda penderita instabilitas detrusor, karsinoma in situ vesika, infeksi saluran kemih, prostatitis, batu ureter distal, atau batu vesika kecil.

I.1.9 Tatalaksana Watchfull Waiting Tatalaksana pada penderita BPH saat ini tergantung pada LUTS yang diukur dengan sistem skor IPSS. Pada pasien dengan skor ringan (IPSS 7 atau Madsen Iversen 9), dilakukan watchful waiting atau observasi yang mencakup edukasi, reasuransi, kontrol periodik, dan pengaturan gaya hidup. Bahkan bagi pasien dengan LUTS sedang yang tidak terlalu terganggu dengan gejala LUTS yang dirasakan juga dapat memulai terapi dengan malakukan watchful waiting. Saran yan gdiberikan antara lain. mengurangi minum setelah makan malam (mengurangi nokturia) menghindari obat dekongestan (parasimpatolitik) mengurangi minum kopi dan larang minum alkohol (mengurangi frekuensi miksi) setiap 3 bulan mengontrol keluhan: sistem skor, Qmax, sisa kencing, TRUS

Medical Treatment Ada beberapa jenis pengobatan medikamentosa pada BPH yaitu : Penghambat adrenergik alfa 13

Obat ii menghambat reseptor alfa pada otot polos di trigonum, leher vesika, prostat, dan kapsul prostat, sehingga terjadi relaksasi, penurunan tekanan di uretra pars prostatika, sehingga meringankan obstruksi. Perbaikan gejala timbul dengan cepat, contohnya Prazosin, Doxazosin, Terazosin, Afluzosin, atau Tamsulosin. Efek samping yang dapat timbul adalah karena penurunan tekanan darah sehingga pasien bisa mengeluh pusing, capek, hidung tersumbat, dan lemah. Penghambat enzim 5 reduktase Obat ini menghambat kerja enzim 5 reduktase sehingga testosteron tidak diubah menjadi DHT, konsentrasi DHT dalam prostat menurun, sehingga sintesis protein terhambat. Perbaikan gejala baru muncul setelah 6 bulan, dan efek sampingnya antara lain melemahkan libido, dan menurunkan nilai PSA. Phytoterapi Obat dari tumbuhan herbal ini mengandung Hypoxis Rooperis, Pygeum Africanum, Urtica Sp, Sabal Serulla, Curcubita pepo, populus temula, Echinacea pupurea, dan Secale cereale. Banyak mekanisme kerja yang belum jelas diketahui, namun PPygeum Africanum diduga mempengaruhi kerja Growth Factor terutama b-FGF dan EGF. Efek dari obat lain yaitu anti-estrogen, anti-androgen, menurunkan sex binding hormon globulin, hambat proliferasi sel prostat, pengaruhi metabolisme prostaglandin, antiinflamasi, dan menurunkan tonus leher vesika.9,11

Tatalaksana Invasif Tatalaksana invasif pada BPH bertujuan untuk mengurangi jaringan adenoma. Indikasi absolut untuk melakukan tatalaksana invasif : sisa kencing yang banyak infeksi saluran kemih berulang batu vesika hematuria makroskopil retensi urin berulang penurunan fungsi ginjal Standar emas untuk tatalaksana invasif BPH adalah Trans Urethral Resection of the Prostate (TURP) yang dilakukan untuk gejala sedang sampai berat, volume prostat kurang dari 14

90 gram, dan kondisi pasien memenuhi toleransi operasi. Komplikasi jangka pendek pada TURP antara lain perdarahan, infeksi, hiponatremi, retensi karena bekuan darah. Komplikasi jangka panjang TURP adalah striktur uretra, ejakulasi retrograd, dan impotensi. Trans Urethral Incision of the Prostate (TUIP) dapat dilakukan apabila volume prostat tidak begitu besar/ada kontraktur leher vesik / prostat fibrotik. Indikasi TUIP yaitu keluhan sedang atau berat dan volume prostat tidak begitu besar. Bila alat yang tersedia tidak memadai, maka dapat dilakukan operasi terbuka dengan teknik transvesikal atau retropubik. Karena morbiditas dan mortalitas yang tinggi yang ditimbulkannya, operasi sejenis ini hanya dilakukan apabila ditemukan pula batu vesika yang tidak bisa dipecah dengan litotriptor / divertikel yang besar (sekaligus diverkulektomi) / volume prostat lebih dari 100cc.

I.1.10 Komplikasi Pada BPH yang dibiarkan tanpa tatalaksana dapat menyebabkan komplikasi seperti trabekulasi, yaitu penebalan serat-serat detrusor menyerupai balok akibat tekanan intravesikal yang terus menerus tinggi akibat obstruksi. Kemudian dapat terjadi sakulasi, yaitu mukosa vesika menerobos serat-serat detrusor, dan bila ukurannya membesar bisa menjadi divertikel. Batu vesika juga dapat terbentuk sebagai komplikasi akibat sisa urin yang menetap di vesika urinaria. Tekanan vesika yang tinggi tadi apabila diteruskan ke struktur di atasnya dapat menyebabkan hidroureter, hidronefrosis, dan penurunan fungsi ginjal. Tahap yang terakhir terjadi adalah keadaan dimana otot detrusor mengalami dekompensasi sehingga vesika tidak dapat lagi berkontraksi untuk mengosongkan isinya sehingga terjadi retensi urin total. Dan ketika besarnya tekanan vesika melebihi tekanan obstruksi makadapat terjadi overflow incontinence.

15

BAB III AFTER CARE PATIENT

III.1.Definisi After Care Patient (ACP) After Care Patient (ACP) adalah pelayanan yang terintegritas dengan meninjau ke lingkungan demi menjamin kesembuhan pasien dengan melihat permasalahan yang ada pada pasien dan mengidentifikasi fungsi dalam anggota keluarga serta memberikan edukasi kepada pasien mengenai hidup sehat.

III.2. Tujuan After Care Patient (ACP) Tujuan untuk dilakukan after care patient selain untuk melihat perkembangan pasien dalam pengelolaan pengobatan pasien dan kesembuhan pasien.

III.3. Permasalahan Pasien III.3.1. Identifikasi Fungsi-Fungsi Keluarga a. Fungsi Biologis dan Reproduksi Dari hasil wawancara didapatkan informasi bahwa saat ini semua anggota keluarga kecuali pasien dalam keadaan sehat. Anggota keluarga lain tidak memiliki riwayat penyakit khusus. Pasien adalah seorang laki-laki berusia 77 tahun dengan seorang istri dan dua orang anak laki-laki. b. Fungsi Psikologis Hubungan pasien dengan anggota keluarganya baik. Pasien sehari-hari melakukan wiraswasta c. Fungsi Pendidikan Pendidikan terakhir pasien adalah lulusan SD. d. Fungsi Sosial Pasien tinggal di kawasan padat penduduk dengan tempat tinggal yang sama warga sekitar lainnya. Pergaulan umumnya berasal dari kalangan bawah dan hubungan sosial dengan warga cukup erat. Pasien cukup dikenal dilingkungan rumahnya.

16

e. Fungsi Religius Agama yang dianut pasien adalah Islam. III.3.2.Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan a. Faktor Perilaku Jika ada anggota keluarga yang sakit, pasien dan keluarga langsung berobat ke rumah sakit. Keluarga memiliki jaminan sehingga berobat sebagai pasien jamkesmas. b. Faktor Non Perilaku Sarana kesehatan di sekitar rumah relatif dekat. Rumah sakit dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. III.3.3. Identifikasi Lingkungan Rumah Pasien tinggal di kawasan pemukiman penduduk. Pasien tinggal bersama istri dan anaknya. Kawasan perumahan pasien merupakan kawasan biasa yang dekat dengan jalan raya. Rumah pasien berdinding tembok dengan lantai keramik dan atap genteng. Memiliki empat kamar tidur, satu ruang tamu, dapur dan dua kamar mandi.Kebersihan dan kerapian rumah termasuk baik III.3.4. Diagnosis Fungsi-Fungsi Keluarga a. Fungsi Biologis Pasien laki-laki usia 77 tahun dengan keluhan sulit BAK. b. Fungsi Psikologis Hubungan pasien dengan keluarga dan tetangga cukup baik. c. Fungsi sosial dan budaya Dapat bersosialisasi terhadap lingkungan sekitar dengan baik. d. Faktor perilaku Apabila ada anggota keluarga yang sakit, pasien berobat ke sarana kesehatan terdekat.

e. Faktor nonperilaku Sarana pelayanan kesehatan dekat dari rumah (Rumah Sakit).

17

III.4. Diagram Realita yang Ada Pada Keluarga

LINGKUNGAN Kebersihan dan kerapian rumah baik

GENETIK (-)

DERAJAT KESEHATAN Tn. Y BPH

YANKES Pelayanan kesehatan terjangkau (Rumah Sakit)

PERILAKU Apabila ada anggota keluarga yg sakit --> yankes

III.5. Risiko, Permasalahan dan Rencana Pembinaan Kesehatan Keluarga Risiko dan Masalah Kesehatan BPH Rencana pembinaan Edukasi mengenai cara perawatan bekas OP serta memberitahu pola makan dan minum yang baik kepada pasien. Sasaran Pasien dan keluarga

18

III.6.Hasil Kegiatan Tanggal Subjektif Objektif KU: sakit ringan Kesadaran : compos mentis Tanda vital - TD : 140/80 mmHg - Nadi: 80x/menit - Suhu: 36 C Bekas OP Baik Pus (-) KU: baik Kesadaran : compos mentis Tanda vital - TD:140/80 mmHg - Nadi:84x/menit - Suhu: 360C
0

Assesment BPH

Planning Edukasi agar menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan baik untuk menghindari terjadinya infeksi ataupun penyakit lainnya Kontrol jika mengalami keluhan atau obat habis

24/10/13 - Terasa perih pada sekitar post OP

25/10/13 Keluhan (-)

BPH

- Terapi lanjut

III.7. Kesimpulan Pembinaan Keluarga 1. Tingkat pemahaman Pemahaman terhadap edukasi yang dilakukan cukup baik. 2. Faktor penyulit Tidak ada 3. Indikator keberhasilan a. Pasien rajin kontrol atau memanggil perawat atau ke sarana pelayanan kesehatan terdekat untuk mengganti balut sehingga luka bekas OP lebih bersih

19