Você está na página 1de 12

Agama 2 ( Fiqh )

Secara etimologi (bahasa), makna puasa adalah menahan. Saumu menurut bahasa Arab menahan dari segala sesuatu seperti menahan tidur, menahan berbicara yang tidak bermanfaat, menahan makan dan sebagainya. Dalam bahasa arab, orang yang diam disebut dengan sha'im "orang yang berpuasa". Menurut istilah agama islam puasa yaitu menahan diri dari sesuatu yang membatalkan , satu hari lamanya, mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat dan beberapa syarat. Firman Allah Swt. : Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar (Al-Baqarah : 187)

Berakal. Orang yang gila tidak diwajibkan berpuasa. Baligh (umur 15 tahun ke atas) atau ada tanda yang lain. Anak-anak tidak wajib puasa. Kuat berpuasa. Orang yang tidak kuat, misalnya karena sudah tua atau sakit, maka tidak wajib berpuasa.

Firman Allah Swt. : Barang siapa sakit atau sedang dalam perjalanan (lalu ia berbuka. Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu,(Al-Baqarah: 185)

Islam. Orang yang bukan Islam tidak sah berpuasa. Mumayiz (dapat membedakan yang baik dengan yang tidak baik). Suci dari darah haid (kotoran) dan nifas (darah sehabis melahirkan). Orang yang haid ataupun nifas itu tidak sah berpuasa , tetapi keduanya wajib mengqada (membayar) puasa yang tertinggal itu secukupnya. Dalam waktu yang diperbolekan puasa padanya. Dilarang berpuasa pada hari Tasyriq (tanggal 11-12-13 bulan haji).

Niat pada malamnya, setiap malam selama bulan Ramadhan. Yang dimaksud dengan malam puasa adalah malam yang sebelumnya. Menahan diri dari yang segala yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

Makan dan minum dengan sengaja Bagi orang yang makan dan minum dengan sengaja wajib mengqodhonya menurut semua ulama mazhab. Namun apabila ia lupa kalau ia sedang berpuasa maka, puasanya tidak batal, dan tidak perlu diqadha. Bersetubuh pada siang hari dengan sengaja. Sepasang suami isteri bersetubuh pada siang hari pada saat puasa akan batal puasanya dan wajib mengqadha dan membayar fidiyah. Allah menghalalkan suami istri bersetubuh pada malam hari, firman Allah SWT. surat al-Baqarah ayat 187 yang berbunyi Artinya : Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu (QS. Al-Baqarah:187) Mengeluarkan mani dengan sengaja . Mengeluarkan mani dengan sengaja dapat membatalkan puasa. Bahkan menurut Imam Hambali, keluar madzi pun dapat membatalkan puasa. Muntah dengan sengaja. Menurut pendapat Immamiyah, Syafii dan Maliki sepakat bahwa muntah membatalkan puasa dan wajib diqadha. Menurut Hanafi orang muntah tidak batal puasanya kecuali kalau muntahnya memenuhi mulut. Sedangkan menurut faham Hambali, ada yang sepakat bahwa muntah dengan terpaksa tidak batal puasa. dan sebagainya.