Você está na página 1de 7

Uji Kompetensi Tahap II Nama : Indra Kristianto NIM : F0310044 SOAL 1 Krisis keuangan yang belum lama terjadi

di Asia disebabkan bukan hanya oleh hilangnya kepercayaan investor, tetapi juga kurang efektifnya corporate governance (CG) serta transparansi di pasar finansial Asia. Dalam beberapa tahun terakhir, mayoritas pelaku ekonomi di Asia Timur rajin melakukan peninjauan dan peningkatan pada kerangka kerja penegendalian mereka, khususnya di bidang CG, transparansi, dan pengungkapan. Meskipun demikian, pengadopsian International Accounting Standards (IAS) saja tidak cukup untuk memecahkan masalah transparansi di negara-negara ini karena mereka lebih mengutamakan pengungkapan yang dapat memuaskan kebutuhan informasi investornya. Beberapa penelitian telah memeriksa pengaruh mekanisme institusional (CG) terhadap praktik pengungkapan sukarela. Atribut CG yang digunakan dalam penelitianpenelitian tersebut adalah struktur kepemilikan (Craswell dan Tyalor 1992; Mckinnon dan Dalimunthe 1993; Hossain, Tan, dan Adams 1994; Raffournier 1995), proporsi atau keberadaan direktur-direktur independen (Forker 1992; Malone, Fries dan Jones 1993), penunjukan direktur non-eksekutif sebagai chairman (Forker 1992), dan keberadaan komite audit (Forker 1992). Meskipun demikian, penelitian-penelitian tersebut hanya mempelajari tentang pengaruh dari satu atribut CG dan sangat sedikit penelitian yang mempelajari beberapa atribut governance yang berbeda dalam satu penelitian sekaligus. Hasil penelitian-penelitian itu juga tidak dapat diaplikasikan di perekonomian Asia yang memiliki peraturan dan lingkungan budaya yang berbeda. Penelitian tentang hubungan antara atribut CG dengan perilaku pengungkapan perusahaan di Hong Kong, yang memiliki peraturan (yang relatif lebih longgar dibandingkan dengan peraturan yang berlaku di Amerika Serikat dan U.K) dan lingkungan kepemilikan perusahaan yang unik (mayoritas perusahaan yang terdaftar di bursa efek merupakan perusahaan keluarga/individual), dapat memberikan informasi berharga mengenai topik CG. Penelitian ini dapat memberikan beberapa kontribusi potensial sebagai berikut: Penelitian terhadap beberapa faktor CG dalam satu wadah dapat menunjukkan interaksi dari masing-masing faktor tersebut.

Penelitian-penelitian sebelumnya tidak menguji pengaruh kendali keluarga dan penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi anggota keluarga dalam manajerial perusahaan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan sukarela.

Data dari Hong Kong memberikan pendekatan analisis yang lebih luas dalam variasi variabel-variabel dependen dan explanatory. Penelitian ini memberikan bukti empiris pada pembuat regulasi di Asia Timur untuk

membuat sebuah peraturan baru mengenai tata kelola manajerial perusahaan. Penelitian ini menggunakan Teori keagenan positif Jensen dan Meckling (1976) menyediakan kerangka kerja yang menghubungkan perilaku pengungkapan dengan CG. Mekanisme CG digunakan untuk mengendalikan masalah-masalah keagenan dan memastikan bahwa para manajer bertindak demi kepentingan shareholders. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan survei kuisioner

dilakukan pada 610 chief financial officers (CFO) dari seluruh perusahaan yang terdaftar di Hong Kong untuk mengetahui keberadaan komite audit di perusahaan mereka. Kuisioner lainnya dikirim ke 535 analis finansial dari seluruh perusahaan investasi dan broker di Hong Kong pada akhir tahun 1997 sampai awal tahun1998. Tujuannya adalah untuk mengetahui persepsi populasi mengenai pentingnya item-item pengungkapan sukarela. 98 CFO dan 92 analis finansial merespon survei tersebut. Pada penelitian ini, cakupan pengungkapan sukarela diukur dengan menggunakan importance adjusted relative disclosure index (RDI). Pertama-tama peneliti mengumpulkan data berupa daftar pengungkapan sukarela yang disediakan perusahaan dalam penelitian sebelumnya dan dari laporan tahunan perusahaan-perusahaan di Hong Kong. Daftar tersebut kemudian dicocokkan dengan checklist pengungkapan wajib yang dibuat oleh Ernst &

Young di Hong Kong. Item yang ternyata wajib diungkapkan dihapus dari daftar tersebut. Item sisanya kemudian disertakan dalam kuisioner survei yang diberikan pada analis. Analis tersebut diminta untuk menilai tingkat kepentingan dari item-item yang ada dalam daftar dengan menggunakan skala 5 poin. Hampir seluruh data variabel independen diperoleh dari laporan tahunan perusahaan, kecuali satu, yaitu keberadaan komite audit yang diperoleh dari hasil survei langsung ke perusahaan. Proporsi direktur non-eksekutif independen terhadap jumlah total direktur (IND) adalah hasil dari IND di manajerial dibagi jumlah total direktur di manajerial. Persentase anggota keluarga di jajaran manajerial (PFM) diukur dengan menggunakan rasio anggota keluarga di jajaran manajerial pada jumlah total direktur. SEHK mewajibkan perusahaan

untuk mengungkapkan hubungan antar anggota di jajaran manajerial dalam laporan tahunan. Selanjutnya, skema biner digunakan untuk menilai keberadaan komite audit dan pihak-pihak dominan. Angka 1 menunjukkan keberadaan, dan angka 0 menunjukkan ketiadaan. Ukuran perusahaan (LSIZE) diukur dengan menggunakan log (base 10) total aset, leverage (LEV) diukur dengan menggunakan rasio total kewajiban dibagi modal perusahaan, asset-in-place (AIP) diukur dengan menggunakan rasio nilai buku bersih aset tetap terhadap total aset, dan profitabilitas (PROFIT) diukur dengan menggunakan return on capital. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan data selama kurang lebih tiga tahun (1994-97). Jenis industri ditentukan berdasarkan klasifikasi SEHK dengan modifikasi. Perusahaan yang terdaftar dalam bursa diklasifikasikan sebagai konglomeraat (IT1), manufaktur (IT2), perbankan dan keuangan (IT3), atau lainnya (IT4). Analisis deskriptif dan bivariat menunjukkan, Tabel 2 menunjukkan distribusi variabel dependen. Rata-rata RDI dari perusahaan-perusahaan sampel adalah 0,29 dengan range 0,05 sampai 0,85. Hal itu berarti terdapat variasi yang besar dalam praktik pengungkapan sukarela pada perusahaan-perusahaan sampel di Hong Kong. Selain itu juga menunjukkan bahwa rasio rata-rata IND terhadap total direktur adalah 0,34 dan rata-rata IND adalah 2,45. Di sisi lain, persentase rata-rata anggota keluarga di jajaran manajerial adalah 32,1%. Tabel 3 menunjukkan bahwa dalam 29% perusahaan sampel, chairman-nya juga menjabat sebagai CEO, dan 23,5% perusahaan melaporkan memiliki komite audit independen. Tabel 4 menunjukkan bahwa item pengungkapan sukarela yang paling banyak diungkapkan oleh perusahaan adalah prospek perusahaan di masa depan (75%), deskripsi produk dan servis perusahaan (60%), tinjauan bisnis Cina (59%), dan penjualan serta jaringan pemasaran (56%). Tabel 5 menunjukkan bahwa korelasi tertinggi adalah antara LSIZE (perusahaan perbankan dan keuangan) dan leverage (LEV) (R2=0,576). Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat multikolinearitas yang serius antar variabel independen. Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa leverage, persentase anggota keluarga di jajaran manajerial, dan ukuran perusahaan berpengaruh secara signifikan dengan pengunkapan sukarela pada tingkat 0,05. Dari hasil uji asumsi, tidak banyak ditemukan multikolinearitas pada model penelitian ini. Hal ini berarti bahwa hasil uji analisis regresi diinterpretasikan dengan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi. Dari hasil uji hipotesis hanya lima variabel independen yang diuji dengan regresi yang memperoleh tingkat signifikansi 0,05. Variabel-variabel tersebut antara lain: komite audit, ukuran perusahaan, persentase anggota keluarga dalam jajaran manajerial, dan dua variabel dummy industri. Variabel CG yang paling signifikan adalah persentase anggota keluarga

dalam jajaran manajerial yang memiliki p-value 0,02. Variabel signifikan berikutnya adalah keberadaan komite audit. Dan sebagai tambahan, ukuran perusahaan juga memiliki pengaruh yang signifikan. Hipotesis yang menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki rasio direktur non-eksekutif independen yang tinggi cenderung lebih banyak melakukan pengungkapan sukarela tidak didukung. Hal ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Forker (1992) dan Chen & Jaggi (1998). Hipotesis keberadaan komite audit berpengaruh positif terhadap pengungkapan sukarela didukung. Hal ini menguatkan temuan penelitian Forker (1992). Hipotesis keberadaan pihak-pihak dominan berpengaruh negatif terhadap pengungkapan sukarela tidak didukung. Hal ini tidak konsisten dengan temuan Forker (1992). Hipotesis persentase anggota keluarga di jajaran manajerial berpengaruh negatif terhadap pengungkapan sukarela didukung. Hal ini konsisten dengan temuan Chen & Jaggi (1998). Terdapat beberapa implikasi penting dari penelitian ini. Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bukti empiris bagi badan regulasi Hong Kong untuk membuat peraturanperaturan baru terkait komposisi manajerial perusahaan, khususnya mengenai formasi komite audit dan larangan anggota keluarga menguasai lebih dari separuh posisi manajerial. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai acuan bagi badan regulasi di Asia Timur untuk membuat peraturan serupa. Penelitian ini memiliki dua batasan utama, yaitu: Fokus utama penelitian ini adalah pengungkapan sukarela. Meskipun demikian, pengungkapan tersebut tidak dapat menggambarkan keadaan riil perusahaan. Pengungkapan yang lebih luas juga tidak menjamin peningkatan kualitas perusahaan. Meskipun hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara CG dengan pengungkapan sukarela sesuai dengan perkiraan, masih belum dapat dipastikan apakah hubungan tersebut disebabkan oleh hypothesized causality. Sehingga hasil penelitian perlu diperlakukan dengan hati-hati. Dari review jurnal diatas dapat diketehui kelemahan dan keunggulan dari jurnal tersebut. Kelemahan jurnal tersebut terletak pada pengungkapan masalah yang kurang didukung oleh data atau literatur yang mendukung pernyataan yang disampaikan, salah satu contohnya pada pernyataan Banyak yang sepakat bahwa krisis keuangan yang belum lama terjadi di Asia disebabkan bukan hanya oleh hilangnya kepercayaan investor, tetapi juga kurang efektifnya corporate governance (CG) serta transparansi di pasar finansial Asia. Keunggulan dari jurnal tersebuta adalah metode pengumpulan data yang menggunakan survei. Survey memiliki sejumlah keunggulan (Wimmer dan Dominick,

1997:167-168), misalnya dapat digunakan untuk menginvestigasi permasalahan dalam setting yang natural, tanpa harus didesain di laboratorium. Survei bila melibatkan data yang lebih besar, dapat meramalkan trend dan menyediakan data terukur dengan indicator yang cukup jelas sehingga dapat dijadikan pijakan bagi pengambilan kebijaksanaan. Survei juga tidak terlalu dibatasi oleh kendala geografis karena dapat dilakukan dengan mengirim kuesioner atau bertanya melalui telephone ataupun via email.

SOAL 2 1. Apa yang dimaksudkan dengan Sustainability Reporting? Apakah berbeda dengan Integrated Reporting? Sustainability dari sebuah perusahaan berarti perusahaan tersebut beroperasi dan memenuhi kebutuhannya saat ini tanpa merusak kebutuhan generasi yang akan datang. Artinya perusahaan harus memikirkan dampak dari operasi bisnisnya terhadap lingkungan sekitar. Sustainability menyertakan isu-isu sosial, pemerintahan, dan lingkungan. (IoD, 2009:61). Dari pernyataan dapat tersebut Sustainability Reporting adalah pelaporan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengukur, mengungkapkan (disclose) segala bentuk operasional perusahaan terkait dampaknya pada lingkungan, sebagai upaya perusahaan untuk menjadi perusahaan yang akuntabel bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk tujuan kinerja perusahaan menuju pembangunan yang berkelanjutan. Integrated Reporting berbeda dengan Sustainability Reporting, Integrated Reporting tidak hanya mengungkapkan tentang segala bentuk operasional perusahaan, tetapi juga mengungkapkan kebijakan jangka panjang perusahaan berkaitan dengan lingkungan tanpa mengorbankan kinerja jangka pendeknya. Jadi perusahaan juga mengungkapkan strateginya mengenai kebijakan jangka panjang sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan 2. Mengapa reporting tersebut perlu disajikan oleh perusahaan? Reporting perlu disajikan oleh perusahaan. Bagi stakeholder, reporting tersebut sebagai salah satu bentuk cara untuk mengontrol operasional perusahaan. Tidak hanya itu reporting tersebut juga dapat membangun kepercayaan dan sebagai bentuk komunikasi kepada stakeholder. Bagi perusahaan, perusahaan menjadi lebih peduli terhadap masyarakat dan lingkungan dengan memberikan nilai tambah(value added),

meningkatkan citra / brand positif, mengurangi dampak risiko yang dapat merugikan perusahaan.

3.

Bagaimana Sustainability Reporting tersebut? Sustainability Reporting adalah pelaporan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengukur, mengungkapkan (disclose), serta upaya perusahaan untuk menjadi perusahaan yang akuntabel bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk tujuan kinerja perusahaan menuju pembangunan yang berkelanjutan. Perusahaan yang telah go public memiliki kewajiban membuat laporan keberlanjutan (sustainability report) sesuai dengan amanat Pasal 66 Ayat 2 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Bapepam-LK telah mengeluarkan aturan yang mengharuskan perusahaan publik untuk mengungkapkan pelaksanaan kegiatan CSR di dalam laporan tahunannya. Melalui penerapan Sustainability Reporting diharapkan perusahaan dapat berkembang secara berkelanjutan (sustainable growth) yang didasarkan atas etika bisnis (business ethics).

SOAL 3 1. Apa yang dimaksud dengan A. stakeholder? B. Stakeholder Theory? A. Definisi stakeholders menurut Freeman (1984) merupakan individu atau kelompok yang bisa mempengaruhi dan/ atau dipengaruhi oleh organisasi sebagai dampak dari aktivitas-aktivitasnya. Sedangkan Biset (1998) secara singkat mendefenisikan

stekeholder merupakan orang dengan suatu kepentingan atau perhatian pada permasalahan. Dari kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan stakeholder adalah individu atau kelompok dengan suatu kepentingan yang bisa mempengaruhi atau dipengaruhi oleh organisasi sebagai dampak aktivitas organisasi tersebut. B. Stakeholder Theory menjelaskan bagaimana perusahaan menjalin hubungan yang baik dengan stakeholder melalui pengungkapan wajib maupun sukarela sebagai sebuah bentuk tanggung jawab. Stakeholder pada dasarnya dapat mengendalikan atau memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pemakaian sumber-sumber ekonomi yang digunakan perusahaan, sehingga dapat mempengaruhi setiap aktivitas perusahaan. Bila terjadi permasalahan atau memburuknya hubungan dengan stakeholder maka kegiatan perusahaan juga akna terganggu. Tak hanya itu dengan menjalin hubungan yang baik dengan stakeholder maka akan meningkatkan nilai perusahaan tersebut dimata stakeholder, sehingga akan berdampak pada kinerja keunagan perusahaan. 2. Mengapa perusahaan perlu mempunyai strategi untuk keberadaan stakeholder?

Stakeholder pada dasarnya dapat mengendalikan atau memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pemakaian sumber-sumber ekonomi yang digunakan perusahaan. Kemampuan tersebut dapat berupa kemampuan untuk membatasi pemakaian sumber ekonomi yang terbatas (modal dan tenaga kerja), akses terhadap media yang berpengaruh, kemampuan untuk mengatur perusahaan, atau kemampuan untuk mempengaruhi konsumsi atas barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan. Oleh karena itu, sebuah perusahaan perlu memilikim strategi untuk menjalin hubungan yang baik kepada stakeholders. 3. Bagaimana theory stakeholder yang dilontarkan oleh Ulmann (1985)? ketika stakeholder mengendalikan sumber ekonomi yang penting bagi perusahaan, maka perusahaan akan bereaksi dengan cara-cara yang memuaskan keinginan stakeholder (Ullman 1985, p. 552). Lebih lanjut Ullman (1985) mengatakan bahwa organisasi akan memilih stakeholder yang dipandang penting, dan mengambil tindakan yang dapat menghasilkan hubungan harmonis antara perusahaan dengan stakeholdernya. Ullman (1985) berpendapat bahwa power stakeholder berhubungan dengan postur strategis (strategic posture) yang diadopsi oleh perusahaan. Menurutnya, strategic posture menggambarkan model reaksi yang ditunjukkan oleh pengambil keputusan kunci perusahaan terhadap tuntutan sosial. Cara-cara yang dilakukan perusahaan untuk memanage stakeholdernya tergantung pada postur strategi yang diadopsi perusahaan (Ullman 1985). Organisasi mungkin mengadopsi postur strategis yang aktif atau pasif. Perusahaan yang mengadopsi postur strategis aktif akan berusaha mempengaruhi hubungan organisasinya dengan stakeholder yang dipandang berpengaruh/penting (Ullman 1985). Hal ini menunjukkan bahwa active posture tidak hanya mengidentifikasi stakeholder tetapi juga menentukan stakeholder mana yang memiliki kemampuan terbesar dalam mempengaruhi alokasi sumber ekonomi ke perusahaan. Sebaliknya, perusahaan dengan pasive posture cenderung tidak terus menerus memonitor aktivitas stakeholder dan secara sengaja tidak mencari strategi optimal untuk menarik perhatian stakeholder. Kurangnya perhatian terhadap stakeholder ( dalam pendekatan pasive posture) akan mengakibatkan rendahnya tingkat pengungkapan informasi sosial dan rendahnya kinerja sosial perusahaan (Ullman 1985).