Você está na página 1de 97

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian


Audit expectation gap pertama kali diungkapkan oleh Liggio (1974) yang menyatakan bahwa expectation gap muncul karena adanya perbedaan persepsi antara akuntan independen dengan pemakai laporan keuangan mengenai tingkat kinerja yang diharapkan dari profesi akuntan. emahaman tentang audit expectation gap dikemukakan oleh !ailey et al. (19"#), $pstein dan %eiger (1994)& 'air dan (ittenberg (19"7)& )elly dan *ohrweis (19"9)+ dan *iller et al. (199,). *ereka menyatakan bahwa pengetahuan dari pengguna dan faktor komunikasi informasi yang diberikan auditor terhadap pengguna dalam bentuk laporan audit berpengaruh terhadap besarnya ukuran expectation gap. *onroe dan -oodliff (1994) mendefinisikan expectation gap

sebagai perbedaan antara keyakinan auditor dan masyarakat tentang tugas dan tanggung jawab yang ditanggung oleh auditor& dan pesan yang disampaikan oleh laporan audit. .alah satu tujuan utama dari laporan keuangan adalah mendorong alokasi optimal dari in/estasi modal dengan menyediakan semua bahan& informasi yang rele/an kepada masyarakat pengguna. 0ujuan dari laporan audit adalah untuk mengungkapkan keberhasilan auditor dalam mem/erifikasi asersi laporan keuangan. 1leh

karena itu& mengkhawatirkan jika terdapat perbedaan antara auditor dan pengguna. 2engan demikian& expectation gap telah mendorong banyak pertanyaan tentang kualitas audit pada umumnya dan khususnya& kemampuan auditor untuk membuat penilaian dalam ketidakpastian going concern (3ljaadi& 4,,9). Audit expectation gap juga telah diteliti di negara5 negara seperti 'igeria& !angladesh& *alaysia& 0hailand& 6ran& 6rak& $gypth& dan 6ndia. 2i 'igeria& $bimobowei dan )ereotu (4,11) melakukan penelitian expectation gap untuk mengkaji role theory dan audit expectation gap serta kinerja auditor internal dalam mencegah penyalahgunaan dana pemerintahan. 7asilnya menunjukkan hubungan yang signifikan antara audit expectation gap dan auditor internal dalam mencegah

penyalahgunaan keuangan di masyarakat. 1leh karena itu& auditor internal dianjurkan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan

profesional mereka dengan menjadi anggota Institut Akuntan Chartered Nigeria (683'). Lee et al. (4,,7) melakukan penelitian di *alaysia. 0ujuan penelitiannya adalah untuk meneliti apakah terdapat audit expectation gap antara auditor& auditee dan penerima manfaat audit. 7asilnya

menunjukkan bahwa auditee dan penerima manfaat audit memiliki harapan yang jauh lebih tinggi dibanding auditor itu sendiri. 2i 6ndonesia& pemakai laporan keuangan menuntut laporan keuangan auditan yang dapat dipercaya dan menyediakan informasi yang

lebih lengkap dan benar sehingga dapat dijadikan dasar untuk mengambil keputusan. 7arapan para pemakai laporan keuangan terhadap laporan keuangan auditan terkadang melebihi apa yang menjadi peran dan tanggung jawab auditor. .emakin banyaknya tuntutan masyarakat mengenai profesionalisme auditor menunjukkan besarnya expectation gap (9eni& 4,,,). Expectation gap terjadi ketika ada perbedaan antara apa yang masyarakat atau pemakai laporan keuangan harapkan dari auditor dan apa yang sebenarnya dilakukan oleh auditor (9uliati et al., 4,,7). Expectation gap terjadi dalam lingkungan audit sektor pri/at maupun sektor publik. 7al ini disebabkan karena baik sektor pri/at maupun sektor publik sama5sama menyusun laporan keuangan sebagai wujud pertanggungjawaban keuangan kepada pihak5pihak yang

membutuhkan. 3udit sektor pri/at bertanggung jawab hanya kepada pemilik perusahaan (pemegang saham) dan kreditur atas dana yang diberikan. masyarakat .edangkan& karena sektor publik dana bertanggung digunakan jawab kepada dari

sumber

yang

berasal

masyarakat. .erikat dagang sektor publik %3.! (1999:1"4) dalam *ardiasmo (4,,9:171) mengidentifikasikan pemakai laporan keuangan pemerintah menjadi tiga kelompok besar& yaitu: masyarakat yang kepadanya pemerintah bertanggung jawab& legislatif dan badan

pengawasan yang secara langsung mewakili rakyat& serta in/estor dan kreditor yang memberi pinjaman dan;atau berpartisipasi dalam proses pemberian pinjaman.

.etiap pemakai laporan memiliki kebutuhan dan kepentingan yang berbeda5beda terhadap informasi keuangan yang diberikan pemerintah. !ahkan diantara kelompok pemakai laporan keuangan tersebut dapat timbul konflik kepentingan. Laporan keuangan pemerintah disediakan untuk memberikan informasi kepada berbagai kelompok pemakai& meskipun setiap kelompok pemakai memiliki kebutuhan akan informasi yang berbeda5beda (*ardiasmo& 4,,9:171). <ntuk menjamin bahwa pertanggungjawaban publik telah dilakukan oleh lembaga5lembaga pemerintah& maka diperlukan fungsi pemeriksaan yang hanya dilakukan oleh lembaga pemeriksa yang memiliki otoritas dan keahlian profesional& misalnya !adan emeriksa )euangan (! ))& !adan engawas )euangan dan embangunan (! ) )& atau akuntan publik

yang independen. =ika 2 (;2 (2 menghendaki& dewan dapat meminta ! ) atau auditor independen lainnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap kinerja keuangan eksekutif. ! ) merupakan lembaga pemeriksa yang independen. 3uditor eksternal sendiri merupakan unit pemeriksa yang berada di luar organisasi yang diperiksa (*ardiasmo& 4,,9:19,). emberian kepercayaan kepada auditor dengan memberi peran yang lebih besar untuk memeriksa lembaga5lembaga pemerintahan& telah menjadi bagian penting dalam proses terciptanya akuntabilitas publik. .ebagai upaya untuk meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan dalam rangka memberantas praktik kecurangan& kolusi dan nepotisme& maka masyarakat diharapkan juga berperan aktif dalam proses

penyelenggaraan negara dengan cara memberikan informasi& dan menyampaikan saran serta pendapatnya secara bertanggung jawab. 7asil pemeriksaan auditor atas laporan keuangan pemerintah daerah dijabarkan dalam 6khtisar 7asil emeriksaan .emester (67 .) 6

dan 66. 67 . semester 66 (4,14)& menjelaskan bahwa tujuan pemeriksaan atas laporan keuangan pemerintah daerah adalah untuk memberikan pendapat;opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan. 3dapun kriteria pemberian opini menurut << 'o. 1> tahun 4,,4 penjelasan pasal 1? ayat 1& opini merupakan pernyataan profesional pemeriksaan mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria (i) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan+ (ii) kecukupan pengungkapan+ (iii) kepatuhan terhadap peraturan perundang5undangan+ dan (i/) efektifitas sistem pengendalian internal. 1pini L) 2 tahun 4,11 atas >4, pemerintah daerah di 6ndonesia& dapat dilihat pada tabel 1.1 sedangkan opini L) 2 khusus wilayah ro/insi .ulawesi .elatan dapat dilihat pada tabel 1.4& berikut: 0abel 1.1 1pini L) 2 tahun4,11

0abel 1.4 1pini atas L) 2 ro/insi .ulawesi .elatan

.umber : 67 . 66 tahun 4,14 !adan emeriksa )euangan

0abel 1.4 di atas menggambarkan bahwa # L) 2 memeroleh opini wajar tanpa pengecualian (-0 )& 1? L) 2 memeroleh opini wajar dengan pengecualian (-2 )& dan ? L) 2 memeroleh opini tidak memberikan pendapat (0* ). 7al ini menunjukkan bahwa L) 2 yang memeroleh opini -2 pada umumnya telah memiliki sistem pengendalian

internal (. 6) yang memadai meskipun masih memerlukan peningkatan dalam hal kualitas laporan keuangan. 3dapun L) 2 yang memeroleh opini 0* belum melaksanakan . 6 secara maksimal terutama penilaian

risiko baik dari segi identifikasi maupun analisis resiko. Lemahnya . 6 menimbulkan berbagai macam kasus dalam hal anggaran& pelaporan dan akuntansi. 67 . 66 (4,14) menjabarkan berbagai macam bentuk penyelewengan atau kecurangan disebabkan lemahnya . 6 pada berbagai daerah di 6ndonesia. !erdasarkan data 67 . sebelumnya& pemerintah 6ndonesia mencoba memerangi kecurangan yang tampaknya tak banyak

memberikan perubahan berarti. 0erbukti 6ndonesia hanya menunjukkan sedikit perbaikan dibandingkan tahun lalu. *enurut sur/ei terbaru badan Transparency International (06)& tahun 4,14 6ndonesia menempati peringkat 11" dengan skor #4 dari 174 negara yang disur/ei. eringkat

6ndonesia mengalami peningkatan& mengingat pada tahun 4,11 berada di peringkat 1,> dengan skor 4&". .kor , merupakan yang paling korup dan skor 1, merupakan yang paling tidak korup ( www.ti.or.id). @*embiarkan kecurangan akuntansi berlanjut itu tak bisa diterima& terlalu banyak orang miskin dan lemah yang terus menderita konsekuensi kecurangan akuntansi di seluruh dunia&A kata presiden 06& 7uguette Labelle seperti dilansir kantor berita AFP& .elasa (4?;1,;4,1,). 3da tiga negara yang sama5sama meraih skor 9&# yang artinya merupakan negara5negara yang paling rendah tingkat kecurangan akuntansinya& yakni 2enmark& Binland

dan 'ew Cealand. 2iikuti kemudian oleh .weden& .ingapore dan .witDerland. 6ndeks persepsi kecurangan akuntansi mencerminkan persepsi masyarakat& khususnya pebisnis tentang tingkat kecurangan akuntansi suatu negara yang dilihat dari bagaimana layanan publik yang mereka rasakan. .ur/ei ini mencerminkan persepsi masyarakat (mayoritas pebisnis) suatu negara atau orang asing yang melakukan bisnis di negara tersebut terhadap tingkat kecurangan akuntansi suatu negara. 6ndeks ini bukanlah mencerminkan tingkat kecurangan akuntansi yang sebenarnya& tetapi tingkat kecurangan akuntansi yang dipersepsikan oleh para pelaku bisnis. 6ndeks persepsi kecurangan akuntansi 6ndonesia adalah instrumen pengukuran tingkat kecurangan akuntansi di kota5kota 6ndonesia. 6ndeks persepsi kecurangan akuntansi 6ndonesia dibuat berdasarkan sur/ei yang metodenya dikembangkan oleh 0656ndonesia& dengan cara mengukur tingkat kecurangan akuntansi di >, kota di seluruh 6ndonesia& meliputi ## ibukota pro/insi ditambah 17 kota lain yang signifikan secara ekonomi. (entang indeks antara , sampai 1,. , berarti dipersepsikan sangat korup& 1, sangat bersih.

0abel 1.# 6ndeks ersepsi )ecurangan 3kuntansi 2i >, )abupaten ; )ota 2iurutkan dari yang tertinggi

.umber : International Transparancy (4,1,)

.alah satu cara untuk mencegah terjadinya praktek kecurangan akuntansi adalah pengembangan sistem akuntansi yang baik oleh pemerintah ( ope& 4,,#) dan pengawasan terhadap kualitas informasi keuangan instansi pemerintah (. )'& 4,,7). .istem akuntansi yang dirancang dan dijalankan dengan baik akan menjamin dilakukannya prinsip stewardship dan accountability dengan baik pula (*ardiasmo&

4,,9:14#). Laporan keuangan juga merupakan potret kinerja suatu entitas. $sensinya menjadi landasan keputusan banyak pihak& in/estor& kreditur& agen pemerintah& karyawan dan masyarakat umum secara luas& akibatnya manajemen mungkin memiliki keinginan ekonomi tertentu untuk

melakukan tindakan rekayasa atau manipulasi laporan keuangan guna

10

mendapatkan

hasil

tertentu

yang

diinginkan.

3lasan

ini

yang

menyebabkan perlunya pemeriksaan auditor (-inarna dan (ahmawati& 4,,1). 0indakan rekayasa atau memanipulasi laporan keuangan ini yang dikenal dengan istilah creati e accounting. *enurut 3mat et al. (4,,4:4) !creati e accounting is re"erred to also as inco#e s#oothing, earnings #anage#ent, earnings s#oothing, "inancial engineering and cos#etic accountingA. Creati e accounting bukanlah hal baru& ini telah menjadi

godaan dan masalah sejak prinsip akuntansi pertama kali digunakan untuk melaporkan kinerja perusahaan (3mor dan -arner& 4,,#:#). Lebih lanjut& 3mor dan -arner mendefinisikan&
creati/e accounting in a publicly Euoted company is about manipulating the financial numbers to arri/e at an answer that meets the needs of the company management& rather than pro/iding objecti/e information for the eFternal recipientsGprimarily shareholders.

2efinisi

ini

menjelaskan

bahwa

creati e

accounting

dalam

perusahaan merupakan suatu upaya memanipulasi data keuangan untuk memenuhi kebutuhan pihak manajemen& dibanding memberikan informasi yang objektif kepada pihak eksternal 5 khususnya pemegang saham. 3mat et al. (4,,4) melihat penggunaan creati e accounting cenderung lebih banyak menyulitkan dibandingkan menguntungkan penggunanya karena mengambil keuntungan pada suatu daerah yang cenderung tingkat ambiguitas dan diskontinuitasnya tinggi. .elain itu fleksibilitas regulasi juga mengiDinkan berbagai pilihan kebijakan& misalnya

11

penilaian aset tetap& seperti dalam kasus International Accounting $tandard (63.) yang memungkinkan jumlah akti/a tidak lancar dire/aluasi atau disusutkan berdasarkan biaya historis. 2apat dikatakan bahwa& creati e accounting merupakan transformasi informasi keuangan dengan menggunakan pilihan metode& estimasi& dan praktik akuntansi yang diperbolehkan oleh standar akuntansi enelitian creati e accounting pada sektor pri/at telah banyak dilakukan& antara lain: %rosanu et al. (4,14)+ 3mat dan %owthorpe (4,,4)+ %hosh (4,1,)+ Hladu dan *atis (4,1,)+ .alome et al. (4,14)+ 3li .hah et al. (4,11)+ 3mat et al. (1999)+ dan %herai dan !alaciu (4,11) sedangkan di sektor publik& antara lain penelitian !enito et al. (4,,7) serta penelitian Hinnari dan 'asi (4,,"). !enito et al. (4,,7:9?4) meneliti @an exa#ple o" creati e accounting in public sector% the pri ate "inancing o" in"rastructures in $pain&& hasil penelitiannya menunjukkan bahwa untuk memenuhi kriteria kon/ergensi yang ditetapkan oleh <ni $ropa& maka untuk pembiayaan pada pihak swasta& pemerintah melakukan pembayaran dengan cara pengakuan anggaran dan penangguhan akuntansi serta

mengungkapkannya sebagai utang atas laporan keuangan proyek. 6ni merupakan salah satu tindakan creati e accounting. enelitian Hinnari dan 'asi (4,,":11#) @ creati e accrual

accounting in public sector% '(ilking) water utilities to balance #unicipal budgets and accounts&, hasilnya menunjukkan bahwa penerapan

12

akuntansi berbasis akrual di sektor publik tidak menjamin ekuitas transparansi dan akuntabilitas& melainkan memberi peluang dilakukannya creati e accounting. 7al ini bertentangan dengan ide dasar akuntansi sebagai sarana yang memberikan pengungkapan handal& benar dan adil dari laporan keuangan entitas secara keseluruhan. 2engan demikian& praktik akuntansi sektor publik harus ditinjau dan dikembangkan lebih lanjut. rinsip akuntansi yang berlaku umum diperlukan untuk mengatur

akuntansi akrual di sektor publik& khususnya /aluasi nilai wajar aset tetap& seperti aset infrastruktur. enyajian laporan keuangan merupakan salah satu bentuk dilaksanakannya akuntabilitas dalam hal pengelolaan keuangan daerah. 3kuntabilitas suatu daerah akan dianggap lemah jika tidak mampu menunjukkan laporan keuangannya. 7al ini perlu dilakukan karena terkait dengan transparansi dalam rangka pemenuhan hak5hak publik (3dam dan $/ans& 4,,4). <ntuk menjamin bahwa laporan keuangan pemerintah daerah telah disajikan secara wajar& dibutuhkan keahlian seorang auditor. !adan emeriksa )euangan (! )) merupakan lembaga tinggi negara yang memegang amanat konstitusi untuk melakukan pemeriksaan atas pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara. .ebagai auditor pemerintah& ! ) mendapat kepercayaan klien untuk memeriksa laporan keuangan yang disajikan klien.

13

.aat ini& masyarakat memandang audit berdasarkan pendekatan hasil *result+. *ereka menuding aparat pengawasan dianggap tidak mampu mengemban tugas dalam mengawasi pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan pembangunan. 0udingan tersebut ada benarnya& karena pengawasan yang dilakukan oleh ! )& ! ) & dan !awasda& selama ini masih kurang efektif dan efisien (.oelendro& 4,,,). ,ap antara auditor dan masyarakat perlu dijembatani& jika tidak& maka yang rugi adalah auditor itu sendiri. orter et al. (4,,#+144)

menyatakan& !auditor need to be better in"or#ed about their existing under statute and case law, regulations and pro"essional pro#ulgations, standard o" work and i#pro ed -uality control procedures A. *enurut

orter& seorang auditor sebaiknya diingatkan bahwa mereka bertanggung jawab secara hukum& peraturan dan regulasi profesi akan terus mengawasi agar mereka meningkatkan kualitas kerjanya. ,ap antara auditor dan masyarakat terjadi akibat perbedaan persepsi antara keduanya. esan yang ingin disampaikan auditor disalahartikan oleh

pengguna sehingga laporan hasil pemeriksaan menjadi tidak bermanfaat dan menimbulkan kesalahan dalam pengambilan keputusan. erbedaan

antara apa yang diharapkan oleh masyarakat (pengguna laporan keuangan) dengan apa yang sesungguhnya menjadi tanggung jawab auditor diistilahkan dengan expectation gap (7alim& 4,,1) enelitian5penelitian mengenai audit expectation gap banyak dilakukan di sektor pri/at& sehingga terkesan penelitian di sektor publik

14

kurang mendapat perhatian baik dari kalangan akademisi maupun dari kalangan profesional. )ondisi tersebut tidak sebanding dengan tanggung jawab yang diemban auditor dalam membantu legislatif untuk mengawasi pengelolaan keuangan publik yang dilakukan oleh pemerintah atau lembaga5lembaga sektor publik. 0anggung jawab auditor sektor publik lebih kompleks dibanding sektor pri/at karena domain sektor publik memiliki wilayah yang lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan sektor pri/at. )eluasan wilayah tidak hanya disebabkan luasnya jenis dan bentuk organisasi yang berada di dalamnya& akan tetapi juga karena kompleksnya lingkungan yang memengaruhi lembaga5lembaga publik tersebut (*ardiasmo&4,,9:1). enelitian ini dikembangkan dari penelitian yang dilakukan oleh 8howdhury dan )ouhi (4,,>) yang berjudul The Public $ector AE, in .angladesh dan disertasi 3l5Iarni (4,,4) yang berjudul The Audit Expectation ,ap in $audi Arabia% Perceptions o" Auditors, Prepares and Financial $tate#ent /sers. (esponden penelitian 8howdhury dan )ouhi (4,,>) adalah kelompok Controller and Auditor ,eneral (83%) dengan

4(dua) kelompok pengguna yaitu Public Account Co##ittee ( 38) dan International Finding Agencies (6B3). 3uditor 83% memiliki kewajiban konstitusi untuk melaporkan hasil auditnya kepada dianggap sebagai parlemen yang bertugas 38& karena 38

untuk

mengamankan

akuntabilitas sektor publik melalui fungsi audit 83% sebagaimana yang telah ditetapkan oleh konstitusi. 7asil penelitiannya menunjukkan bahwa

15

terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi auditor kelompok 83% dengan kelompok pengguna 38 dan 6B3. 8howdhury dan )ouhi

(4,,>) membenarkan adanya audit expectation gap di bidang pelaporan 83%& akuntabilitas& auditor independensi& kompetensi auditor& audit bukti dan audit kinerja& dengan menggunakan bukti statistik. Lebih lanjut& 8howdhury dan )ouhi menjelaskan bahwa jika para anggota 38 tidak

memiliki program pelatihan wajib& maka mereka hanya akan menjalani proses belajar sangat informal dan sukarela. 2i lain pihak& para wakil 6B3 memiliki lebih banyak pelatihan dibanding anggota 38 bahkan memiliki

jaringan pelatihan global. *eskipun auditor 83% menerima banyak pelatihan teknis& namun yang lebih dibutuhkan adalah pelatihan

bagaimana memenuhi harapan kebutuhan informasi pengguna laporan mereka. .alah satu cara yang dapat digunakan untuk menjembatani kesenjangan antara harapan auditor 83% dan pengguna adalah melalui pelatihan yang lebih baik untuk semua pihak yang terlibat dan lebih membutuhkan pengertian dan kerjasama antara mitra strategis demi akuntabilitas sektor publik dan tata pemerintahan yang demokratis. (esponden penelitian 3l5Iarni (4,,4) adalah auditor& pembuat dan pemakai laporan keuangan termasuk anggota $audi 0rgani1ation "or

Certi"ied Public Accountant2s (.18 3)& menunjukkan hasil bahwa terdapat perbedaan persepsi antar 4 (empat) kelompok baik dalam hal fungsi audit dan kinerja yang dirasakan auditor. enelitian 3l5Iarni (4,,4)

menunjukkan bahwa kesenjangan mencakup sejumlah isu& khususnya

16

isu5isu yang telah diidentifikasi: (a) auditor independen& (b) peran auditor sehubungan dengan penipuan& (c) menjamin laporan keuangan& (d) memberikan sinyal peringatan dini tentang kemungkinan kegagalan bisnis& dan (e) transaksi bisnis yang diperiksa oleh auditor. Lebih lanjut 3l5Iarni menjelaskan bahwa tujuan audit untuk kelompok pengguna tidak sejelas kelompok auditor dan preparer. .elain itu& perbedaan persepsi juga berkaitan dengan format laporan audit. )elompok auditor& misalnya& senang dengan format laporan audit yang telah ada dan tidak berpikir untuk melakukan modifikasi. 'amun& preparer dan dua kelompok pengguna lainnya memerkenalkan beberapa pemikiran dan saran untuk modifikasi. eneliti ini mengembangkan kerangka kerja !urrel and *organ (1979) yang mengklasifikasikan berbagai pemikiran dalam ilmu sosial. enelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya& karena terdapat penambahan /ariabel creati e accounting dan laporan hasil pemeriksaan dalam kaitannya dengan audit expectation gap. 6ni disebabkan karena /ariabel creati e accounting merupakan metode untuk memanfaatkan teknik dan kebijakan guna mendapatkan hasil yang diinginkan& mengingat hasil dari beberapa sur/ei akuntansi menunjukkan adanya konflik kepentingan dan tekanan pimpinan terhadap akuntan internal& auditor& atau konsultan akuntansi (.ulistiawan et al., 4,,9). .elama ini creati e accounting telah banyak dilakukan pada sektor pri/at demikian pula pada sektor publik. .alah satu penelitian creati e accounting dalam bidang anggaran dilakukan oleh *aiga dan =acobs (4,,7)& yang berjudul @ .udget

17

Participation)s In"luence on .udget $lack% The 3ole o" Fairness Perceptions, Trust and ,oal Co##it#ent& . 7asil penelitiannya

menunjukkan bahwa hubungan langsung antara partisipasi anggaran dan kecenderungan manajer untuk menciptakan slack tidak signifikan& lebih lanjut dijelaskan bahwa keadilan dan komitmen hanya bertujuan untuk memediasi hubungan antara partisipasi anggaran dan kecenderungan manajer untuk menciptakan slack. enelitian5penelitian yang sama juga

telah dilakukan oleh .u dan 'i (4,1#)& 7obson et al. (4,11)& (oge dan Linn (199>)& $lmassri dan 7arris (4,11)& dan (achman (4,14). 'amun demikian& penelitian yang menghubungkan antara creati e accounting, konsep audit& opini laporan hasil pemeriksaan dengan audit expectation gap masih kurang sehingga penelitian ini penting dilakukan. !erdasarkan fenomena penelitian di atas& maka dirumuskan tema sentral dari penelitian ini yaitu: Audit Expectation ,ap pada .ektor ublik& studi empiris di ro/insi .ulawesi .elatan .

A. Rumusan Masalah enelitian ini adalah untuk menguji apakah terdapat audit expectation pendekatan gap antara auditor creati e dengan pengguna& dan berdasarkan audit.

akuntabilitas&

accounting

konsep

.ehingga& rumusan masalah yang akan diteliti berdasarkan latar belakang penelitian di atas adalah untuk mengetahui:

18

1. 3pakah akuntabilitas berpengaruh positif terhadap opini laporan hasil pemeriksaanJ 4. 3pakah creati e accounting berpengaruh positif terhadap opini laporan hasil pemeriksaanJ #. 3pakah konsep audit berpengaruh positif terhadap opini laporan hasil pemeriksaanJ 4. 3pakah akuntabilitas berpengaruh positif terhadap audit expectation gapJ >. 3pakah creati e accounting berpengaruh expectation gapJ ?. 3pakah konsep audit berpengaruh positif terhadap audit expectation gapJ 7. 3pakah opini laporan hasil pemeriksaan berpengaruh positif terhadap audit expectation gapJ ". 3pakah akuntabilitas& creati e accounting dan konsep audit positif terhadap audit

berpengaruh positif secara tidak langsung terhadap audit expectation gap melalui opini laporan hasil pemeriksaanJ

B. Maksud dan Tujuan enelitian !erdasarkan masalah yang telah dirumuskan& penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk memeroleh gambaran berupa fakta5fakta empiris yang dapat dijadikan indikator terjadinya audit expectation gap antara auditor dan pengguna laporan keuangan daerah.

19

.edangkan tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1. 4. engaruh akuntabilitas terhadap opini laporan hasil pemeriksaan. engaruh creati e accounting terhadap opini laporan hasil

pemeriksaan. #. 4. >. ?. 7. engaruh konsep audit terhadap opini laporan hasil pemeriksaan. engaruh akuntabilitas terhadap audit expectation gap. engaruh creati e accounting terhadap audit expectation gap. engaruh konsep audit terhadap audit expectation gap. engaruh opini laporan hasil pemeriksaan terhadap audit expectation gap. ". engaruh akuntabilitas& creati e accounting dan konsep audit secara tidak langsung terhadap audit expectation gap melalui opini laporan hasil pemeriksaan.

D. !egunaan Penelitian 2engan tercapainya tujuan penelitian& maka hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan sebagai berikut: 1. )egunaan raktis a. !agi profesi akuntan yaitu 6katan 3kuntan 6ndonesia (636)& hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi moti/asi untuk merumuskan standar pemeriksaan untuk memudahkan dalam mendeteksi adanya tindakan creati e accounting .

20

b.

!agi pemerintah& hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk semakin mengurangi audit

expectation gap dengan menambah pengetahuan5pengetahuan para pengguna mengenai ilmu auditing. 4. )egunaan 0eoretis 7asil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat dalam pengembangan ilmu& sebagai berikut. a. *emberikan bukti empiris mengenai pengaruh akuntabilitas& creati e accounting dan konsep audit terhadap laporan hasil pemeriksaan. b. *emberikan bukti empiris mengenai keberadaan audit

expectation gap antara auditor dan pengguna dilihat dari aspek akuntabilitas& creati e accounting dan konsep audit melalui opini laporan hasil pemeriksaan.

21

BAB II TIN"AUAN PU#TA!A

A. Tinjauan Te$ri dan !$nse 1. Te$ri !eagenan =ensen dan *eckling (197?) mendefenisikan bahwa hubungan keagenan sebagai sebuah kontrak di mana satu lebih *principal+ menyewa orang lain *agent+ untuk melakukan beberapa jasa untuk kepentingan mereka dengan mendelegasikan beberapa wewenang pengambilan keputusan kepada agen. 0eori keagenan ( agency theory) merupakan

basis teori yang mendasari praktik bisnis perusahaan yang dipakai selama ini. 0eori tersebut berakar dari sinergi teori ekonomi& teori keputusan& sosiologi& dan teori organisasi. rinsip utama teori ini menyatakan adanya hubungan kerja antara pihak yang memberi wewenang (prinsipal) yaitu in/estor dengan pihak yang menerima wewenang (agensi) yaitu manajer& dalam bentuk kontrak kerja sama yang disebut Anexus o" contractA. erbedaan kepentingan ini menyebabkan masing5masing pihak berusaha memerbesar keuntungan bagi diri sendiri. Principal

menginginkan pengembalian yang sebesar5besarnya dan secepatnya atas in/estasi yang salah satunya dicerminkan dengan kenaikan porsi de/iden dari tiap saham yang dimiliki. 3gen menginginkan kepentingannya diakomodir dengan pemberian kompensasi;bonus;insentif;remunerasi

21

22

yang @memadaiA dan sebesar5besarnya atas kinerjanya. Principal menilai prestasi agen berdasarkan kemampuannya memerbesar laba untuk dialokasikan pada pembagian de/iden. *akin tinggi laba& harga saham dan makin besar de/iden& maka agen dianggap berhasil;berkinerja baik sehingga layak mendapat insentif yang tinggi. )onflik kepentingan akan muncul dari pendelegasian tugas yang diberikan kepada agen yaitu agen tidak dalam kepentingan untuk memaksimumkan kesejahteraan pemilik& tetapi mempunyai kecendrungan untuk mengejar kepentingan sendiri dengan mengorbankan kepentingan pemilik. 3uditor adalah salah satu pihak yang terkait dengan hubungan keagenan (antara agen dan prinsipal). *enurut contracting theory (-att dan Cimmerman& 199,) yang juga dikenal dengan teori prinsipal dan agen ( the principle4agent theory+ menyatakan bahwa hubungan antara pihak5pihak dalam perusahaan+ pengelola& pemegang saham& kreditur& pemerintah dan masyarakat akan sulit tercipta karena kepentingan yang saling bertentangan. )onflik antara manajemen dan pemilik terjadi karena pemilik di satu pihak menginginkan agar manajemen memiliki peluang untuk memuaskan kepentingannya tanpa diamati langsung oleh pemilik. 7ubungan antara pihak yang memiliki kepentingan tersebut berhasil diwujudkan dengan optimal melalui penciptaan beberapa mekanisme yang mampu meredam tindakan

manajemen untuk merugikan pemilik dan mendorong pemilik untuk memercayakan pengelolaannya kepada manajemen. *ekanisme tersebut

23

dapat terwujud dalam akuntansi dan auditing. !aik akuntansi dan auditing memiliki nilai pasar yang strategis dalam membantu terciptanya

hubungan yang optimal dan ekonomis dengan cost yang didapat dan dipertanggungjawabkan dari segi nilai pasar. ihak5pihak yang

berkepentingan bersedia membayar harga bagi akuntansi maupun auditing karena nilai manfaat yang ditimbulkannya (*anao&199?) 0eori keagenan yang telah dibahas di atas& merupakan konsep keagenan kon/ensional. 2amayanti (4,1,) menyatakan bahwa jika berbicara mengenai konsep hubungan keagenan di pemerintahan& persoalannya tidak sesederhana konsep keagenan kon/ensional. *oe (19"4) dalam 2amayanti (4,1,)& mengemukakan bahwa hubungan sepenuhnya keagenan dengan sektor pemerintahan keagenan tidak dapat didekati karena

pendekatan

kon/ensional&

beberapa pertimbangan.

ertama& adanya perbedaan ideologi organisasi.

6deologi dasar organisasi sektor publik (khususnya pemerintahan) adalah memaksimalkan social wel"are dengan mengutamakan kepentingan publik *public interest+ dan pelayanan kepada masyarakat *public ser ice+ di atas kepentingan lainnya. .ementara& ideologi yang terkandung dalam

hubungan keagenan& umumnya& dan menjadi paradigma yang populer dalam penelitian akuntansi #ainstrea# (aliran utama;positi/is) selama hampir dua dekade di adalah ideologi titik kapitalisme berangkat dengan tersebut sikap telah

indi/idualisnya&

mana

kedua

menempatkan sel"4interest sebagai sesuatu yang lebih dominan.

24

)edua& teori keagenan kon/ensional hasil karya =ensen dan *eckling (197?) tidak dapat diaplikasikan dalam sektor pemerintahan& karena salah satu alat yang digunakan prinsipal untuk mengontrol agen adalah pemberian insentif. 6nsentif ini& umumnya& diukur berdasarkan

pencapaian laba& sementara organisasi pemerintahan tidak memiliki laba sebagai alat ukur kinerja. !entuk lain insentif adalah kepemilikan saham perusahaan oleh agen& sementara pemerintahan bukan terdiri dari saham yang dapat diperjualbelikan& dan atau diserahkan kepemilikannya pada segelintir orang. Lebih lanjut& 2amayanti (4,1,) menyatakan bahwa hubungan keagenan pada organisasi pemerintahan menjadi suatu konsep yang penting. 7al ini disebabkan karena keseharian akti/itas organisasi

tersebut selalu berhubungan dengan pendelegasian wewenang& seperti pada skala lokal& penyediaan pelayanan kesehatan& pendidikan dan beragam pelayanan lainnya yang berhubungan dengan masyarakat& semua didelegasikan kepada le/el bawah. *asalahnya& sejauh ini belum tersedia sebuah konsep nyata (teori) yang mewadahi model hubungan keagenan di sektor pemerintahan. ada organisasi pemerintahan& model prinsipal5agen sangat mudah diamati& di mana keseluruhan hierarki dalam pemerintahan merupakan hubungan keagenan& mulai dari rakyat kepada legislatif& dan legislati/e kepada eksekutif yang memberikan pelayanan secara langsung kepada masyarakat. 'amun& menurut 2amayanti (4,1,) interaksi antara prinsipal

25

dan agen membentuk suatu fenomena hubungan keagenan yang mengarah pada kepentingan sama& yaitu penumpukkan kekayaan (wealth) untuk diri pribadi. Maraknya skandal keuangan yang terjadi di lingkup

pemerintahan telah memberikan dampak besar kepercayaan publik terhadap pr !esi audit r" #leh karena itu$ menjadi pertanyaan besar dalam masyarakat adalah mengapa semua kasus tersebut melibatkan pr !esi audit r$ seharusnya mereka sebagai pihak ketiga yang independen dapat memberikan jaminan atas rele%ansi dan keandalan sebuah lap ran keuangan" 7al inilah yang menimbulkan terjadinya expectation gap antara

masyarakat dengan auditor.

2" Te$ri Eks ektasi

0eori ekspektasi;teori harapan mengasumsikan bahwa indi/idu berniat memilih tindakan& tingkat usaha& dan pekerjaan yang

memaksimalkan kesenangan yang mereka harapkan dan meminimalkan harapan yang dapat menyakitkan mereka (2ono/an& 4,,1+ )anfer& 199,)+ inder& 199") dalam !inberg et al., 4,,7:14,). *odel teori harapan indi/idu merupakan kekuatan moti/asi sebagai fungsi dari harapan mereka (probabilitas subjektif bahwa usaha mereka akan memberikan hasil tingkat pertama seperti kinerja)& perantaranya (subjektif probabilitas

26

bahwa kinerja akan menghasilkan tingkatan kedua hasil seperti uang)& dan /alensi (yang afektif orientasi terhadap hasil tingkat kedua). 6ndi/idu diasumsikan menggabungkan harapan& sarana& dan konsisten dengan yang diharapkan /alensi perhitungan nilai untuk menentukan moti/asi mereka terhadap setiap alternatif dan kemudian memilih alternatif dengan kekuatan moti/asi tertinggi (!inberg et al., 4,,7:14,). 0eori Hroom (19?4) dalam !inberg et al. (4,,7) tentang cogniti e theory o" #oti ation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya& sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan. *enurut Hroom& tinggi rendahnya moti/asi seseorang ditentukan oleh tiga komponen& yaitu: K K $kspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas 6nstrumentalis& yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outco#e tertentu). K Halensi& yaitu respon terhadap outco#e seperti perasaan posistif& netral& atau negatif. *oti/asi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapan. *oti/asi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan !erdasarkan pendapat Hrom di atas& dapat disimpulkan jika seorang auditor dalam melaksanakan tugasnya memiliki harapan bahwa tugas telah dilaksanakan sesuai standar pemeriksaan& dengan mempertahankan

27

sikap independen. 1leh karena itu& auditor mengharapkan respon yang positif dari pengguna;pembaca laporan. *enurut 8hristiawan (4,,4)& seorang akuntan publik yang independen adalah akuntan publik yang tidak mudah dipengaruhi& tidak memihak siapapun& dan berkewajiban untuk jujur tidak hanya kepada manajemen;pemerintah& tetapi juga pihak lain pemakai laporan keuangan yang mempercayai hasil pekerjaannya. %uy dan .ulli/an (19"") menyebutkan adanya perbedaan harapan publik dengan auditor dalam hal: 1. deteksi kecurangan dan tindakan ilegal& 4. perbaikan keefektifan audit& dan #. komunikasi yang lebih intensif dengan publik dan komite audit. 2alam hal ini& publik beranggapan bahwa auditor harus dapat memberikan jaminan (absolut assurance) terhadap laporan keuangan yang diaudit dan kemungkinan adanya kecurangan dan tindakan illegal harus dapat ditangkis dengan jaminan tersebut. 2i lain pihak& secara logika auditor tidak dapat memberikan absolut assurance tersebut& auditor hanya dapat memberikan reasonable assurance saja& dan hal ini belum dimengerti oleh publik& apalagi mengenai kecurangan dan tindakan ilegal& karena laporan keuangan dibuat oleh manajemen maka jaminan bahwa laporan keuangan bersih dari "raud belum dapat diberikan oleh auditor sepenuhnya. 7al inilah yang menimbulkan terjadinya expectation gap antara auditor dan pengguna.

28

#. Akunta%ilitas 2i 6ndonesia& undang5undang (<<) 'o. #4 tahun 4,,4 tentang emerintah 2aerah dan << 'o. ## tahun 4,,4 tentang erimbangan

)euangan antara usat dan 2aerah& telah memberikan kewenangan lebih luas kepada pemerintah daerah dalam menata sistem pengelolaan keuangan daerah. )ewenangan yang dimaksud diantaranya adalah keleluasaan dalam memobilisasi sumber dana& menentukan arah& tujuan dan target penggunaan anggaran& serta pengelolaan keuangan. 'amun dalam melaksanakan kewenangan tersebut& pemerintah daerah harus patuh pada sistem pengelolaan keuangan negara. eraturan tentang pengelolaan keuangan daerah disusun dalam peraturan pemerintah ( engelolaan dan ) 'o. >" tahun 4,,> yang mengatur tentang eraturan

ertanggungjawaban )euangan 2aerah.

pemerintah ini menegaskan bahwa pengelolaan keuangan daerah perlu dilakukan secara tertib& taat pada peraturan perundang5undangan yang berlaku& transparan dan bertanggung jawab dengan memerhatikan asas keadilan dan kepatutan sehingga dapat mewujudkan efisiensi dan efekti/itas sumber daya keuangan daerah dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat. %una memenuhi harapan yang diamanatkan dalam tahun 4,,>& pemerintah juga telah menetapkan 'o. >"

eraturan *enteri dalam

29

'egeri ( ermendagri) 'o.1# tahun 4,,? tentang )euangan 2aerah serta 0ata cara

edoman

engelolaan

enyusunan 3 !2& elaksanaan 0ata enyusunan 3 !2. !ahkan

<saha )euangan 2aerah serta 0ata 8ara

saat ini pengelolaan keuangan negara baik di pusat maupun di daerah harus mengikuti << (6 'o.17 tahun 4,,# tentang )euangan 'egara& yang menganjurkan bahwa setiap pemerintah daerah wajib menyusun laporan keuangan sebagai wujud tanggung jawab penggunaan anggaran yang dipercayakan rakyat kepadanya. emerintah daerah memunyai kewajiban untuk

mempertanggungjawabkan keuangan daerahnya dengan menyusun laporan keuangan sesuai dengan pernyataan dalam << 'o.17 tahun 4,,# tentang )euangan 'egara dan asal 4# <<2 194>. Laporan keuangan

merupakan komponen penting untuk menciptakan akuntabilitas sektor publik. 3danya tuntutan yang semakin besar terhadap pelaksanaan akuntabilitas menimbulkan implikasi bagi pihak manajemen sektor publik untuk memberikan informasi akuntansi kepada masyarakat berupa laporan keuangan. Laporan keuangan pemerintah merupakan hak masyarakat yang harus diberikan oleh pemerintah& baik pusat maupun daerah. 7ak atas informasi keuangan muncul sebagai konsekuensi konsep pertanggungjawaban publik. !erdasarkan paragraph 4" )erangka )onseptual 3kuntansi emerintahan .3 !erbasis 3krual dalam 'o.

71 tahun 4,1,& laporan keuangan yang wajib disusun oleh pemerintah daerah antara lain: laporan realisasi anggaran (L(3)& laporan perubahan

30

saldo anggaran lebih& neraca& laporan operasional& laporan perubahan ekuitas& laporan arus kas& dan catatan atas laporan keuangan. *enurut .tandar emeriksaan )euangan 'egara (4,,7)&

& engertian pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara


mencakup akuntabilitas yang harus diterapkan semua entitas oleh pihak yang melakukan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan 'egaraA. 3kuntabilitas diperlukan untuk dapat mengetahui pelaksanaan program yang dibiayai dengan keuangan negara& tingkat kepatuhannya terhadap ketentuan peraturan perundang5undangan yang berlaku& serta untuk mengetahui tingkat kehematan& efisiensi& dan efekti/itas dari program tersebut. 2engan semakin kompleks dan pentingnya program pemerintah dalam rangka pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara& ! ) dapat diminta oleh lembaga perwakilan dan penyelenggara negara untuk memerluas pemeriksaan kinerja. erluasan tersebut dapat berbentuk penilaian terhadap berbagai alternatif kebijakan& identifikasi dan usaha5usaha untuk mengurangi risiko& serta analisis terhadap pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh penyelenggara negara. 3kuntabilitas adalah e/aluasi terhadap proses pelaksanaan kegiatan;kinerja organisasi untuk dapat dipertanggungjawabkan serta sebagai umpan balik bagi pimpinan organisasi untuk dapat lebih meningkatkan kinerja organisasi pada masa yang akan datang.

31

3kuntabilitas

merupakan

konsep

yang

komplek&

lebih

sulit

mewujudkannya dari pada memberantas korupsi.

3kuntabilitas adalah

keharusan lembaga5lembaga sektor publik untuk lebih menekan pada pertanggungjawaban horiDontal (masyarakat) bukan hanya

pertanggungjawaban /ertikal (otoritas yang lebih tinggi) (0urner dan 7ulme& 1997 dalam <'2 & 4,,4). 3kuntabilitas adalah pertanggungjawaban dari seseorang atau sekelompok orang yang diberi amanat untuk menjalankan tugas tertentu kepada pihak pemberi amanat baik secara /ertikal maupun secara horiDontal. 3kuntabilitas bermakna pertanggungjawaban dengan

menciptakan pengawasan melalui distribusi kekuasaan pada berbagai lembaga pemerintah sehingga mengurangi penumpukkan kekuasaan sekaligus menciptakan kondisi saling mengawasi ( checks and balances siste#). Lembaga pemerintahan yang dimaksud adalah eksekutif (presiden& wakil presiden& dan kabinetnya)& yudikatif (*3 dan sistem peradilan) serta legislatif (* ( dan 2 (). 3kuntabilitas publik adalah prinsip yang menjamin bahwa setiap kegiatan penyelenggaraan

pemerintahan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka oleh pelaku kepada pihak5pihak yang terkena dampak penerapan kebijakan. 3kuntabilitas dan transparansi keuangan negara merupakan tujuan penting dari reformasi sektor publik mengingat secara definitif kualitas kepemerintahan yang baik (good go ernance) ditentukan oleh kedua hal tersebut ditambah dengan peran serta masyarakat dan reformasi hukum.

32

9ang dimaksud dengan akuntabilitas publik keuangan negara adalah pemberian informasi dan pengungkapan ( disclosure) atas akti/itas dan kinerja keuangan negara kepada semua pihak yang berkepentingan (stakeholder). 2engan demikian hak5hak publik& yaitu hak untuk tahu ( right to know)& hak untuk diberi informasi ( right to be kept in"or#ed)& dan hak untuk didengar aspirasinya ( right to be heard and to be listened to )& dapat dipenuhi (3rtjana dipaparkan dalam '() **+ ,r patria$ tanggal 27 'ebruari 2004-" 1leh karena itu& transparansi atas akti/itas pengelolaan keuangan negara kepada pihak5pihak yang membutuhkan informasi sangat

diperlukan. <ntuk itu& dalam rangka mewujudkan akuntabilitas dan transparansi& kegiatan audit sangat esensial. 7asil audit akan

memberikan umpan balik bagi semua pihak yang terkait dengan organisasi. <ntuk itulah keseluruhan proses audit harus dilakukan secara berhati5hati dan konsisten dengan kaidah5kaidah profesi. roses audit

melalui prosedur yang berjenjang& dan setiap tahapan akan melibatkan 5udg#ent auditor atas suatu kejadian atau fakta.

6. Creative Accounting *enurut !alaciu et.al (4,,9:17,)& sebenarnya istilah creati e accounting telah ada sejak akuntansi pertama kali ditemukan oleh Luca asiolo dalam bukunya 2e 3rithmetica& yang berambisi untuk membuat suatu angka menjadi menarik atau dapat digunakan untuk menghasilkan

33

informasi. 2engan demikian& Luca

aciolo telah membentuk akuntansi

manual terlebih dahulu yaitu praktik akuntansi kreatif. 7ubungan antara pedagang pada perdagangan luar negeri Henetian dicatat dalam pembukuan double5entry dengan tinta dan pena ke dalam buku utama dan buku anak perusahaan. )etika terjadi perbedaan& maka kadang5 kadang secara tidak sengaja tempat tinta akan mengenai buku5buku ini sehingga entri tidak terbaca. 6nilah asal mula munculnya istilah @menutup5 nutupiA. .aat ini& seorang akuntan dalam menyusun laporan keuangan perusahaan& harus mengikuti aturan yang ada dalam pembuatan laporan keuangan& yaitu sesuai dengan aturan .3). 3kan tetapi kenyataan di

lapangan& banyak perusahaan yang secara kreatif melakukan manipulasi data keuangan untuk mendapatkan respon yang baik dari beberapa kalangan. 7al ini disebut dengan istilah akuntansi kreatif (creati e accounting). 3kuntansi kreatif bukanlah hal yang baru dalam dunia akuntansi& karena banyak perusahaan yang telah melakukan hal tersebut. 6stilah creati e accounting jika diterjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa 6ndonesia& berarti Aakuntansi kreatifA. )alimat creati e accounting yang terdiri dari 4 kata yaitu Lcreati eM artinya kebolehan seseorang menciptakan ide baru yang efektif& dan kata L akuntansiM itu artinya pembukuan tentang "inancial e ents yang senantiasa berusaha untuk setia kepada kondisi keuangan yang sebenarnya ( "aith"ul representation o" "inancial e ents ). )reatif merupakan ide atau pemikiran

34

yang berbeda atau tidak terpikirkan oleh orang lain. 2engan kata lain& kreatif adalah Aberpikir di luar otakA. 3tau praktik akuntansi yang berbeda dengan yang biasa digunakan (.ulistiawan et al.& 4,11:1"). 6stilah creati e accounting sendiri bukan merupakan istilah tunggal yang menggambarkan kemungkinan alternatif penyajian laporan

keuangan yang berbeda jika dikerjakan dengan cara yang berbeda. Creati e accounting biasa juga dikenal dengan earnings #anage#ent. !ahkan referensi lain memberikan istilah dalam konteks yang negatif& seperti #agic accounting, cos#etic accounting dan "inancial shenanigan. 0etapi pada dasarnya memiliki maksud yang sama yaitu kreatifitas dalam akuntansi. 1leh karena itu& istilah yang umum digunakan adalah creati e accounting. 3kuntansi kreatif oleh beberapa kalangan dianggap hal yang tidak etis karena memanipulasi data. 3kan tetapi& akuntansi kreatif dalam pandangan teori akuntansi positif& sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip5prinsip akuntansi yang berterima umum& tidak ada masalah yang harus dipersoalkan. 0ujuan seorang akuntan melakukan creati e

accounting bermacam5macam& di antaranya adalah untuk pelarian pajak& menipu bank demi mendapatkan pinjaman baru& atau memertahankan pinjaman yang sudah diberikan oleh bank dengan syarat5syarat tertentu& mencapai target yang ditentukan oleh analis pasar& atau mengecoh pemegang saham untuk menciptakan kesan bahwa manajemen berhasil mencapai hasil yang cemerlang.

35

!anyak faktor yang menyebabkan perusahaan menggunakan akuntansi kreatif untuk memertahankan eksistensi perusahaan di tengah persaingan yang sangat ketat sekarang ini. *oti/asi materialisme merupakan suatu dorongan besar manajemen dan akuntan5akuntan melakukan creati e accounting. !anyak perusahaan yang terjebak masalah creati e accounting mempunyai sistem Lexecuti e stock option planM bagi eksekutif5eksekutif yang mencapai target yang ditetapkan. .ecara umum& para eksekutif biasanya lebih mengenal perusahaan tempat mereka bekerja dibandingkan karyawan5karyawan di bawah mereka& sehingga para eksekutif ini dapat dengan mudah memanipulasi data5data dalam laporan keuangan ( "inancial state#ent) dengan moti/asi memerkaya diri mereka sendiri. 1leh karena itu diperlukan cara5cara yang kreatif dalam penghitungan keuangan dalam dunia bisnis& walaupun itu sering dianggap hal yang kurang etis. Creati e accounting menurut 3mat& !lake dan 2owd (1999) adalah @sebuah proses dimana beberapa pihak menggunakan kemampuan pemahaman pengetahuan akuntansi (termasuk didalamnya standar& teknik dan sebagainya) dan menggunakannya untuk memanipulasi pelaporan keuangan. Creati e accounting merupakan bagian dari 'accounting #anipulation) yang terdiri dari 'earning #anage#ent), 'inco#e s#oothing) dan 'creati e accounting) itu sendiri.

36

3sumsinya adalah bagaimana manusia mengimplementasikan creati e accounting sebagai bagian dari perilaku manusia untuk mencapai tujuannya. *yddelton (4,,9) dalam .ulistiawan (4,11:1") menyatakan&
Aakuntan yang dianggap kreatif adalah akuntan yang menginterpretasikan area abu5abu untuk mendapatkan manfaat atau keuntungan dari hasil interpretasi tersebut. =adi dengan harapan mendapatkan tujuan tertentu& mereka menginterpretasikan kebijakan akuntansi dengan cara yang tertentu jugaA.

)alimat ini menunjukkan bahwa seorang akuntan akan menggunakan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya guna mendapatkan tujuannya masing5masing. 0eknik dan kebijakan akuntansi hanyalah alat untuk mencapai tujuan tersebut. *enurut -olk et al. (4,,?) dalam .ulistiawan et al. (4,11:4#)& secara umum& teknik yang biasa dijumpai dalam praktik akuntansi kreatif dapat dikelompokkan ke dalam lima teknik& yaitu mengubah metode akuntansi& membuat estimasi akuntansi& mengubah periode pengakuan pendapatan dan biaya& mereklasifikasi akun current dan noncurrent& serta mereklasifikasi akrual diskresioner dan akrual nondiskresioner. Creati e accounting bukanlah pengetahuan baru& melainkan hanyalah kumpulan teknik dan kebijakan akuntansi yang telah ada& baik teknik akuntansi yang sederhana maupun teknik akuntansi yang kompleks. 'amun& creati e accounting lebih banyak dikendalikan oleh keinginan manusia untuk mencapai tujuannya.

>. Audit #ekt$r Pu%lik

37

The A#erican Accountant Association Co##itte on .asic Auditing Concepts (Louwers& 4,,>:,7) mendefenisikan auditing yaitu:
auditing as a systematic process of objecti/ely obtaining and e/aluating e/idence regarding assertions about economic actions and e/ents to ascertain the degree of correspondence between those assertions and established criteria and communicating the results to interested users

2efenisi auditing& menurut *autD dan .haraf dalam !oynton et al. (4,,?:9) dikatakan bahwa:
0he origin of auditing goes back to times scarcely less remote than of accounting...-hene/er the ad/ance of ci/iliDation brought about the necessity of one man being entrusted to some eFtent with the properlty of another the ad/isability of some kind of check upon the fidelity of the former would become apparent

ernyataan tentang asal usul auditing di atas& menyebutkan bahwa auditing lebih dahulu dari akuntansi& auditing dibutuhkan karena perlunya orang yang dapat membantu mengelola harta milik orang lain& sehingga pemilik patut meminta pihak tertentu (auditor) untuk pengecekan atas kesetiaan orang yang mengelola tersebut& sehingga semuanya akan lebih transparan (jelas). *enurut 3rens et al. (4,,":,4) auditing adalah:
auditing is accumulation and e/aluation of e/idence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and established criteria. 3uditing should be done by a competent& independent person

engertian ini dapat diartikan bahwa auditing adalah suatu proses pengumpulan dan penge/aluasian bukti5bukti tentang informasi yang dapat diukur& mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan oleh

38

seseorang yang kompeten dan independen untuk menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi& dengan kriteria5kriteria yang ditetapkan. elaksanaan audit dalam bidang pemerintahan dikenal dengan sebutan audit sektor publik. 0ujuan pelaksanaan audit sektor publik adalah untuk menjamin dilakukannya pertanggungjawaban publik oleh pemerintah& baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. 3udit terhadap sektor publik menjadi fokus perhatian& karena dinilai instansi pemerintah keuangan tidak terbuka sebenarnya terhadap instansi masyarakat mengenai sektor publik rawan kondisi akan

dan

penyalahgunaan dana& sehingga dibutuhkan aturan yang ketat dan audit yang independen terhadap pemeriksaan laporan keuangan instansi pemerintahan. 3udit terhadap sektor publik sangat penting dilakukan. 7al ini merupakan bentuk tanggung jawab sektor publik (pemerintah pusat dan daerah) untuk mempertanggungjawabkan dana yang telah digunakan oleh instansi& sehingga pemanfaatan dana tersebut dapat diketahui apakah telah dilaksanakan sesuai prosedur dan standar atau tidak. .ecara teknis& audit pada sektor publik sama dengan audit pada sektor pri/at. *enurut =ones dan !ates (199,) Ayang membedakan pelaksanaan audit dua sektor tersebut adalah pada kebutuhan yang mendasari untuk melaporkan pengaruh politik negara yang bersangkutan dan kebijaksanaan pemerintahanA. 3udit sektor publik memiliki cakupan tugas dan tanggung jawab yang lebih luas dari pada audit pada sektor

39

pri/at. .elain itu perbedaan yang paling mendasar antara audit sektor publik dan pri/at adalah pertimbangan kebijakan politik. 2alam akhir proses audit& khususnya objekti/itas engertian dalam audit keuangan& dan auditor akan secara 6ndra

menggunakan menyeluruh.

terbaiknya audit sektor

rekomendasi menurut

publik

!astian (4,,7:4>>) adalah sebagai berikut: @audit sektor publik adalah jasa penyelidikan bagi masyarakat atas organisasi publik dan politikus yang sudah mereka danai.A .edangkan& pengertian audit sektor publik menurut 6 %usti 3gung (ai (4,,":49) adalah sebagai berikut:
@3udit sektor publik adalah kegiatan yang ditujukan terhadap entitas yang menyediakan pelayanan dan penyediaan barang yang pembiayaannya berasal dari penerimaan pajak dan penerimaan negara lainnya dengan tujuan untuk membandingkan antara kondisi yang ditemukan dengan kriteria yang ditetapkan.A

3udit sektor publik di 6ndonesia dikenal sebagai audit keuangan negara. 3udit keuangan negara ini diatur dalam << 'o. 1> 0ahun 4,,4 tentang emeriksaan engelolaan dan 0anggung jawab )euangan

'egara. <ndang5undang ini merupakan pengganti ketentuan warisan !elanda& yaitu Indische Co#ptabiliteitswet (68-) dan Instructie en

erdere bepalingen oor de Alge#ene 3ekenka#er (63()& yang mengatur prosedur audit atas akuntabilitas pengelolaan keuangan oleh pemerintah. 3udit sektor publik dimaksudkan untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan yang diperiksa telah mematuhi prinsip akuntansi berterima umum& peraturan perundang5undangan dan

40

pengendalian

intern

serta

kegiatan

operasi

entitas sektor publik

dilaksanakan secara efisien& ekonomis& dan efektif. 2alam keterbatasan yang ada& audit tetap perlu dilakukan agar tercipta akuntabilitas publik yang lebih transparan dan akuntabel. *urwanto et al. (4,14:14) menyatakan& @auditor yang kurang berpengalaman dalam sektor publik biasanya memberikan rekomendasi yang kontro/ersial seperti meningkatkan harga untuk mengimbangi kenaikan bebanA. 7al penting untuk membedakan audit sektor publik dan pri/at adalah perbedaan kepentingan antara kebijakan politik dan rasional ekonomi& kebijakan politik biasanya diprioritaskan dalam sektor publik setidaknya dalam jangka pendek. 3udit sektor publik juga sangat dipengaruhi oleh peraturan perundang5undangan. !erbagai peraturan perundang5undangan tersebut terutama mengatur hal5hal yang harus diaudit dan yang harus dilaporkan dalam laporan audit. 1leh karena itu& audit sektor publik sangat menekankan aspek ketaatan terhadap peraturan perundang5undangan yang berlaku. Laporan audit sektor publik juga menyediakan informasi lebih banyak daripada laporan audit pada sektor pri/at. 7al ini pada gilirannya akan menyebabkan lebih luasnya tanggung jawab auditor sektor publik dibandingkan dengan rekan mereka pada sektor pri/at.

&. !$nse 'k$nse Audit

41

3uditing perlu memiliki konsep5konsep tersendiri apabila ingin memeroleh suatu pengakuan sebagai disiplin ilmu yang mandiri. 2efenisi konsep menurut *autD dan .haraf (19",:>#) sebagai berikut: Concept ... in phyloso"y, a ter# applied to a general idea deri ed "ro# and considered a part "ro# the particulars obser ed by the sense... .elanjutnya& dalam phyloso"i auditing disebutkan bahwa pada mulanya konsep5konsep utama auditing terdiri dari bukti& due audit care (kehati5hatian)& penyajian yang wajar& independensi dan kode etik. )onsep5konsep ini dapat dikembangkan dan ditambah untuk melengkapi konsep utama di atas apabila ada konsep lain yang signifikan.(*autD dan .haraf&19",:?7). enelitian ini merupakan penerapan rerangka akuntabilitas di sektor publik. 1leh karena itu& ada beberapa hal yang perlu diawasi atau dikendalikan dengan mengunakan enam konsep audit& yaitu independensi auditor& kompetensi auditor& materialitas audit& bukti audit& pendapat wajar dan audit kinerja seperti pada penelitian yang dilakukan 8howdhury dan )ouhi (4,,>) di !angladesh. )onsep audit ini diadaptasi dari audit Co#ptroller Auditor ,eneral)s *CA,+ pada sektor publik. 'amun& pada kenyataannya lima konsep audit telah diterapkan di sektor pri/at& terkecuali audit kinerja. 6ndependensi auditor dalam sektor publik berhubungan dengan luasnya area sektor publik. 6ntegritas auditor harus dilindungi dari pengaruh kelompok pemerintah pusat;daerah& status sebagai pegawai

42

negeri sipil dan politisi. .edangkan& kompetensi auditor baik di sektor publik maupun di sektor pri/at adalah sama& yang berbeda hanya pada audit kinerja (per"or#ance audit). *enurut =ones dan !ates (199,)& materialitas audit berhubungan dengan kebutuhan audit untuk memertimbangkan tingkat jaminan yang disyaratkan oleh kelompok pengguna yang diaudit dan reaksi yang diharapkan dari pembaca laporan audit. .edangkan& bukti audit berhubungan dengan waktu dan biaya dalam proses audit& lingkup audit dan kebutuhan informasi yang dirasakan pengguna memengaruhi proses pengumpulan bukti. endapat wajar dalam audit sektor publik memunyai makna yang sama dalam audit sektor pri/at (8howdhury et al., 4,,>). endapat wajar

dalam laporan audit di 6ndonesia mengimplikasi bahwa laporan keuangan yang disajikan telah sesuai dengan rinsip 3kuntansi !erterima <mum

( 3!<). .edangkan audit kinerja& hanya berlaku pada sektor publik dimana menekankan pada efisiensi dan efekti/itas dari operasi dan keefektifan hasil yang dicapai.

(. ) ini La $ran Hasil Pemeriksaan Laporan keuangan disusun untuk menyediakan informasi yang rele/an mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama satu periode pelaporan. Laporan

43

keuangan

terutama

digunakan

untuk

membandingkan

realisasi

pendapatan& belanja& transfer dan pembiayaan dengan anggaran yang telah ditetapkan& menilai kondisi keuangan& menge/aluasi efekti/itas dan efisiensi suatu entitas pelaporan& dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundang5undangan. Laporan keuangan setiap pemerintah daerah harus diaudit oleh ! ) dengan dikeluarkannya undang5undang 'o 1> tahun 4,,? mengenai ! ) maka semua pihak dapat mengetahui fungsi dan tugas auditor ! ). *enurut << 'o 1> tahun 4,,? salah satu tugas ! ) adalah memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat& pemerintah daerah dan lembaga negara lainnya yang dilakukan berdasarkan undang5undang. emeriksaan ini mencakup

pemeriksaan keuangan& pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Laporan hasil pemeriksaan auditor ! ) juga diberikan kepada eksekutif& yaitu residen& %ubernur& !upati;-alikota sesuai dengan

kewenangannya. 3pabila dalam pemeriksaan ditemukan tindak pidana maka hal tersebut dapat dilaporkan ke instansi yang berwenang. Laporan keuangan dapat dikatakan wajar& jika telah diperiksa oleh auditor (! )). ! ) akan melakukan pemeriksaan berdasarkan .tandar emeriksaan )euangan 'egara (. )'). ! ) melaksanakan

pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.

44

*enurut *urwanto et al. (4,14: 4454>) pemeriksaan tersebut meliputi seluruh unsur keuangan negara yaitu: a. hak negara untuk memungut pajak& mengeluarkan dan mengedarkan uang dan melakukan pinjaman+ b. kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan negara dan membayar tagihan pihak ketiga+ c. penerimaan negara+ d. pengeluaran negara+ e. penerimaan daerah+ f. pengeluaran daerah+ g. kekayaan negara;kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang& surat berharga& piutang& barang& serta hak5 hak lain yang dapat dinilai dengan uang& termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara;perusahaan daerah. h. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintah dan;atau kepentingan umum+ 9. kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan pemerintah. 3uditor menuangkan hasil pemeriksaan dalam bentuk laporan hasil pemeriksaan. Laporan hasil pemeriksaan merupakan salah satu tahap paling penting dan akhir dari suatu pekerjaan audit. 2alam setiap tahap audit akan selalu terdapat dampak psikologis bagi auditor maupun auditee. 2ampak psikologis dalam tahapan persiapan audit dan

45

pelaksanaan audit dapat ditanggulangi pada waktu berlangsungnya audit. 0etapi dampak psikologis dari laporan hasil audit& penanggulangannya akan lebih sulit karena: a. -aktu audit sudah selesai b. Laporan merupakan salah satu bentuk komunikasi tertulis& formal& sehingga auditor tidak dapat mengetahui reaksi auditee secara langsung& c. Laporan telah didistribusikan kepada berbagai pihak sehingga semakin banyak pihak yang terlibat. )arena laporan hasil pemeriksaan akan mempunyai dampak luas& maka diperlukan pengetahuan khusus tentang penyusunan laporan hasil pemeriksaan. elaporan hasil pemeriksaan merupakan tahap akhir

kegiatan audit. .elain harus sesuai dengan norma pemeriksaan& penyusunan laporan hasil pemeriksaan juga harus mempertimbangkan dampak psikologis& terutama yang bersifat dampak negatif bagi auditee& pihak ketiga dan pihak lain yang menerima laporan tersebut. . )' keuangan& (4,,7:4>) menetapkan bahwa untuk pemeriksaan standar

.tandar

emeriksaan

memberlakukan

empat

pelaporan . 3 yang ditetapkan 636 berikut ini: a. Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di 6ndonesia atau prinsip akuntansi yang lain yang berlaku secara komprehensif. b. Laporan auditor harus menunjukkan& jika ada& ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.

46

c.

engungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai& kecuali dinyatakan lain dalam laporan audit. d. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. =ika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan maka alasannya harus dinyatakan. 2alam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan& laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan& jika ada& dan tingkat tanggung jawab yang dipikul auditor. . )' (4,,7:4?) juga telah menetapkan standar pelaporan tambahan& yaitu : a. Laporan hasil pemeriksaan harus menyatakan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai dengan .tandar emeriksaan& b. Laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan harus mengungkapkan bahwa pemeriksa telah melakukan pengujian atas kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang5undangan yang berpengaruh langsung dan material terhadap penyajian laporan keuangan& c. Laporan atas pengendalian intern harus mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian intern atas pelaporan keuangan yang dianggap sebagai kondisi yang dapat dilaporkan& d. Laporan hasil pemeriksaan yang memuat adanya kelemahan dalam pengendalian intern& kecurangan& penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang5undangan& dan ketidakpatutan& harus dilengkapi tanggapan dari pimpinan atau pejabat yang bertanggung jawab pada entitas yang diperiksa mengenai temuan dan rekomendasi serta tindakan koreksi yang direncanakan& e. 6nformasi rahasia yang dilarang oleh ketentuan peraturan perundang5 undangan untuk diungkapkan kepada umum tidak diungkapkan dalam laporan hasil pemeriksaan. 'amun laporan hasil pemeriksaan harus mengungkapkan sifat informasi yang tidak dilaporkan tersebut dan ketentuan peraturan perundang5undangan yang menyebabkan tidak dilaporkannya informasi tersebut& f. Laporan hasil pemeriksaan diserahkan kepada lembaga perwakilan& entitas yang diperiksa& pihak yang mempunyai kewenangan untuk mengatur entitas yang diperiksa& pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan& dan kepada pihak lain yang diberi wewenang untuk menerima laporan hasil pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang5undangan yang berlaku.

47

)eempat standar pelaporan beserta standar tambahan harus dipenuhi dengan menerbitkan laporan hasil pemeriksaan dalam bentuk yang sesuai. Laporan hasil pemeriksaan yang standar mempunyai judul yang mencakup kata5kata @independenA dan berisi suatu pendapat wajar tanpa pengecualian (un-uali"ied opinion). 0erjadinya penyimpangan dari laporan hasil pemeriksaan yang standar mengakibatkan munculnya opini auditor yang lain& yaitu: pendapat wajar dengan pengecualian ( -uali"ied opinion)& pendapat tidak wajar (ad erse opinion) dan penolakan memberikan pendapat (disclai#er opinion) !oynton et al. (4,,#:#?45#?#). 3pabila suatu pemeriksaan dihentikan sebelum berakhir& namun pemeriksa pemeriksa tidak harus mengeluarkan membuat laporan hasil pemeriksaan& maka hasil

catatan

yang

mengikhtisarkan

pekerjaannya sampai tanggal penghentian dan menjelaskan alasan penghentian pemeriksaan. secara tertulis alasan emeriksa juga harus mengkomunikasikan pemeriksaan tersebut kepada

penghentian

manajemen entitas yang diperiksa& entitas yang meminta pemeriksaan tersebut& atau pejabat lain yang berwenang. *. Audit Expectation Gap !eberapa definisi audit expectation gap dari para ahli yang paling rele/an (.alehi& 4,11:"#",) antara lain : a. Liggio (1974a) defines it as the difference between the le/els of eFpected performance as en/isioned by the independent accountant and by the user of financial statements. 0he 8ohen 8ommission (197") on auditorsM responsibility eFtended this definition by considering whether a gap may eFist between what the public eFpects

48

b.

c.

d.

e.

f. g.

or needs and what auditors can and should reasonably eFpect to accomplish. 3ccording to %uy and .ulli/an (19"")& there is a difference between what the public and financial statement users belie/e accountants and auditors are responsible for and what the accountants and auditors themsel/es belie/e they are responsible for. %odsell (1994) described the eFpectation gap as @which is said to eFist& when auditors and the public hold different beliefs about the auditorsM duties and responsibilities and the messages con/eyed by audit reports.A =ennings et al. (199#)& in their study on the use of audit decision aids to impro/e auditor adherence to a LstandardM& are of the opinion that the audit eFpectations gap is the difference between what the public eFpects from the auditing profession and what the profession actually pro/ides. *onroe and -oodliff (199#) defined audit eFpectation gap as @the difference in beliefs between auditors and public about the duties and responsibilities assumed by auditors and the messages con/eyed by audit reports.A 3ccording to 368 3 (199#)& the Laudit eFpectation gapM refers to the difference between what the public and financial statement users belie/e the responsibilities of auditors to be+ and what auditors belie/e their responsibilities are. $pstein and %eiger (1994) defined audit eFpectation gap as: @differences in perceptions especially regarding assurances pro/ided between users& preparers and auditorsA. 0he 3.8 3 and 6833 (1994) obser/e that the term LeFpectation gapM should be used to describe @Nthe difference between eFpectations of the users of financial reports and the percei/ed Euality of reporting and auditing ser/ices deli/ered by the accounting profession.A 2ari beberapa pendapat di atas& dapat disimpulkan bahwa audit

expectation gap adalah +(1) perbedaan persepsi antara kinerja aktual dengan kinerja yang diharapkan dari auditor+ (4) adanya perbedaan5 perbedaan persepsi antara auditor& akuntan dan pengguna laporan keuangan. orter (199#) mengklaim bahwa definisi audit expectation gap yang disediakan oleh Liggio (1974) dan 8ohen 8ommission (197") terlalu sempit karena mereka gagal untuk mengenali bahwa auditor tidak dapat

49

mencapai Lkinerja yang diharapkanM (Liggio 1974) atau apa yang mereka harus Ldapat dan cukupM (8ohen 8ommission 197"). 2efinisi ini tidak memungkinkan untuk sub5standar kinerja. )esenjangan antara apa yang publik harapkan atau inginkan dengan apa yang auditor dapat dan harapkan layak diperoleh. 8ohen 8ommission tidak berbeda dengan pendapat menyatakan endapat

orter (199#) yang

bahwa audit expectation gap adalah kesenjangan antara

harapan masyarakat pada auditor dan kinerja auditor yang dirasakan oleh masyarakat. .edangkan *onroe dan -oodliff (199#) menyatakan bahwa pengertian audit expectation gap adalah : @perbedaan tingkat keyakinan antara auditor dan masyarakat tentang tugas dan tanggung jawab auditor dan gambaran yang disampaikan dalam bentuk laporan hasil

pemeriksaanA. *eskipun terdapat beberapa perbedaan tentang pengertian audit expectation gap tetapi banyak peneliti telah mengadopsi gagasan bahwa kesenjangan harapan mengacu pada perbedaan antara apa yang masyarakat dan auditor pandang sebagai sesuatu hal yang berkaitan dengan tanggung jawab audit (%ramling et al.& 199?+ *c$nroe dan *artens& 4,,1+ .ikka et al.& 199"+. *onroe dan -oodliff& 1994+ )oh dan -oo& 199"+ 2iFon et al.& 4,,?+ 8howdhury et al.& 4,,>+ $pstein dan %eiger& 1994+ %loeck dan 2e =ager& 199#+ 7umphrey et al.& 199#+ Leung dan 8hau& 4,,1+ Lin 8hin dan 4,,4).

50

.aha dan !aruah (4,,":?7) menyatakan bahwa @kepercayaan pengguna biasanya tergantung pada dua faktor yaitu& pemahaman yang tepat tentang kebutuhan pengguna dan yang paling penting adalah

kemampuan profesi akuntansi untuk mengadopsi teknik audit yang memuaskan untuk memenuhi kebutuhan tersebutA. 2alam lingkungan yang berubah& bagaimanapun& harapan para pengguna tidak bisa menjadi statis. *ereka sangat dinamis dan terus berubah. 2engan perubahan ekspektasi& respon dari profesi akuntansi juga berubah tetapi tidak pada kecepatan yang sama. =adi& selalu ada kesenjangan antara harapan perubahan dari pengguna dan respon oleh profesi dan dinyatakan sebagai kesenjangan harapan atau audit expectation gap. )onsep audit expectation gap ini menunjukkan bahwa non5auditor akan mengharapkan auditor bertindak dengan cara yang berbeda dari apa yang auditor sendiri lakukan. !erdasarkan beberapa pendapat di atas& maka dapat disimpulkan bahwa pengertian audit expectation gap adalah perbedaan persepsi antara auditor dan pemakai laporan keuangan.

B. Tinjauan Em iris enelitian5penelitian sebelumnya telah menyelidiki adanya audit expectation gap dalam berbagai konteks di 6nggris& 3merika .erikat& 3ustralia& .elandia !aru& .ingapura dan negara lainnya. 7asil penelitian menunjukkan bahwa bukti keberadaan audit expectation gap sangat

51

substansial. !aron et al. (1977)& misalnya& menemukan perbedaan yang signifikan di 3merika .erikat antara auditor dan pengguna laporan keuangan yang berkaitan dengan tanggung jawab auditor

untuk mengungkap tindakan ilegal. Lowe (1994) membandingkan antara auditor dan sikap terhadap profesi audit di 3merika .erikat. 2itemukan bahwa terdapat expectation gap antara auditor dan hakim. $pstein dan %eiger (1994) melakukan penelitian pada para in/estor 3merika .erikat dan menemukan bahwa mereka percaya auditor pada tingkat keyakinan yang lebih tinggi (mutlak)& dan menganggap& bahwa salah saji material merupakan jaminan tidak masuk akal. *ereka menunjukkan bahwa sebagian gap dapat dipersempit dengan mendidik masyarakat tentang peran dan keterbatasan dari audit. Brank et al. (4,,1) menemukan besar perbedaan dalam persepsi auditor 3. dan juri yang berkaitan dengan harapan mereka terhadap profesi akuntansi. )oh dan -oo (199") menyarankan bahwa penelitian sebelumnya didukung adanya

kesenjangan harapan substansial dalam audit.

enelitian mereka

ini menarik& mengingat fakta jika mereka mengakui bahwa kesenjangan harus ditangani melalui penurunan harapan publik dengan meningkatkan kinerja auditor. *c$nroe dan *artens (4,,1) juga menemukan

kesenjangan harapan antara auditor dan in/estor pada item seperti tanggung jawab untuk deteksi penipuan dan pelaporan. *ereka

berpendapat bahwa pendidikan adalah kunci untuk mempersempit kesenjangan. 7umphrey et al. (199#) menetapkan adanya kesenjangan

52

harapan di 6nggris. )esenjangan ada di beberapa daerah termasuk peran auditor dalam kaitannya dengan penipuan deteksi dan sejauh mana tanggung jawab auditor kepada pihak ketiga. Lowest (19",) juga mengungkapkan adanya kesenjangan harapan di 3ustralia. 2itemukan bahwa auditor dan non5auditor berbeda secara signifikan dalam persepsi mereka mengenai hal5hal seperti deteksi penipuan. enelitian 8howdhury

et al. (4,,>) mencoba untuk menemukan bukti adanya audit expectation gap di !angladesh. (esponden yang dituju adalah auditor yang disebut Co#ptroller Auditor ,eneral)s *CA,+ dan anggota parlemen yang disebut Co#ptroll Public Account Co##ittee *PAC+ dan lembaga internal yang mengelola uang publik yang disebut International Funding Agencies *IFA)s+. enelitian ini menemukan bahwa ada expectation gap antara

CA, dan PAC serta CA, dan IFA)s. 2i 6ndonesia& penelitian mengenai expectation gap di sektor publik masih sangat kurang. 'ugroho (4,,4) menemukan bukti terdapat perbedaan persepsi antara auditor pemerintah dengan pemakai laporan keuangan auditan pemerintah& antara pemakai laporan keuangan auditan sektor pri/at dengan pemakai laporan keuangan pemerintah& tetapi tidak ada perbedaan persepsi antara pemakai laporan keuangan pemerintah di sektor pemerintahan daerah satu dengan pemakai laporan keuangan pemerintah daerah lain& hal ini di karenakan tingkat pendidikan anggota 2 (2 satu daerah dengan daerah lain relatif sama. enelitian yang sama juga dilakukan oleh 9uliati et al. (4,,7) dengan menggunakan responden

53

auditor pemerintah dan pengguna laporan keuangan daerah yaitu pemerintah daerah dan anggota dewan. !eberapa penelitian sebelumnya mengenai audit expectation gap dapat disimpulkan di bawah ini: 0abel 4.1 enelitian5penelitian terdahulu mengenai audit expectation gap Peneliti !ailey et al., 19"#+ $psteinO%eiger&1994+ 'air O (ittenberg& 19"7+)ellyO *ohrweis&19"9+ *iller et al., 199,) 7umprey et al., (199#) Hasil pengetahuan dari pengguna berpengaruh terhadap besarnya ukuran expectation gap 7 faktor komunikasi informasi yang diberikan oleh auditor dalam bentuk laporan audit terhadap pengguna juga mempunyai pengaruh terhadap expectation gap .ur/ei mengungkapkan suatu perbedaan yang signifikan antara auditor dan responden dalam persepsi mereka atas sifat alami auditing 7asil penelitiannya menunjukkan bahwa persepsi sehubungan dengan pernyatan tentang proses audit serta peran dan tanggungjawab auditor berubah setelah mahasiswa menyelesaikan studi auditingnya& tetapi persepsi yang berbeda masih tetap ada antara auditor dengan mahasiswa yang telah menyelesaikan studi auditing tersebut. menemukan adanya audit expectation gap di .ingapura. dengan menggunakan responden antara auditor dan pengguna laporan keuangan menemukan adanya expectation gap di 2enmark terdapat audit expectation gap di .ingapura

%ramling& .chatberg O -allace (199?)

)oh O -oo (199") O !est et al., (4,,1) Leif 7ojsko/ (199")

!est et al., (4,,1)

54

-inarna dan (ahmawati (4,,#) BadDly O 3hmad (4,,4)

terdapat expectation gap di 6ndonesia& hal ini dapat dikurangi melalui pengajaran mata kuliah auditing secara efektif mengembangkan literatur yang berkaitan dengan permasalahan luasnya expectation gap melalui pemberian bukti atas expectation gap di *alaysia. enelitian dilakukan terhadap para auditor dan pengguna utama laporan keuangan menemukan bukti empiris adanya audit expectation gap di 8hina. *ereka menggunakan sektor bisnis dan lingkungan audit menemukan bahwa ada expectation gap diprofesi pengauditan pemerintahan yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan expectation gap sektor pri/at bahwa ada expectation gap antara CA, dan PAC serta CA, dan IFA)s. menemukan audit expectation gap di negara berkembang yaitu .audi 3rabia. 2engan menggunakan wawancara terhadap beberapa perusahaan enelitian ini mengungkap bahwa di *esir juga ditemukan expectation gap antara auditor dan in/estor. 3ntara auditor dan pengguna laporan keuangan mempunyai pandangan yang berbeda mengenai tanggungjawab dari perusahaan akuntansi yang independen dalam menyajikan laporan keuangan menemukan adanya expectation gap di Lebanon terdapat expectation gap antara pemakai laporan keuangan pemerintah dan auditor pemerintah mengenai peran dan tanggung jawab auditor pemerintah

Lin O 8hen (4,,4)

)risnanto 3di 'ugroho (4,,4)

8howdhury et al., (4,,>) 3l50awaijri (4,,?)

2iFon et al., (4,,?)

9usuf *unir .idani (4,,7) 9uliati et al., (4,,7)

55

(usliyawati dan 3bdul 7alim (4,,7)

ada expectation gap antara auditor ! ) dengan pengguna laporan keuangan daerah dari sisi pelaporan& akuntabilitas dan konsep audit di )alimantan !arat. terdapat expectation gap di *alaysia

Lee& %loeck dan alaniappan (4,,7)+ BadDly dan 3hmad (4,,4) *ahade/aswamy dan .alehi (4,,") .aha dan 2ebananda (4,,") .alehi& *ansoury dan 3Dary (4,,9) .iddiEui& 'asreen dan 8houdhury (4,,9) .alehi dan (ostami (4,,9)

terdapat audit expectation gap di 6ndia dan 6ran menunjukkan bahwa audit expectation gap di 6ndia bukan merupakan hasil dari aspek tunggal& melainkan dari berbagai aspek ada expectation gap antara auditor dan in/estor mengenai status independensi di 6ran pengajaran auditing dapat mengurangi expectation gap di .angladesh audit expectation gap timbul karena adanya harapan pengguna yang terlalu tinggi mengenai fungsi auditor dan kurangnya pengetahuan tentang peran dan tanggung jawab auditor terdapat hubungan yang signifikan antara audit expectation gap dan auditor internal dalam pencegahan penyalahgunaan keuangan di 'igeria terdapat expectation gap antara auditor dan berbagai kelompok pengguna mengenai profesi audit secara keseluruhan laporan keuangan daerah yang mungkin

$bimobowei dan 1yadonghan (4,11)

.alehi (4,11)

enelitian mengenai

menimbulkan expectation gap antara lain dilakukan oleh 6ndriani (4,,4) yang membuktikan bahwa pengetahuan anggaran berpengaruh secara signifikan terhadap pengawasan keuangan daerah yang dilakukan oleh

56

dewan. .ementara

ramono (4,,4) menyebutkan bahwa faktor5faktor

yang menghambat fungsi pengawasan adalah minimnya kualitas sumber daya manusia dan kurangnya sarana dan prasarana. (usliyawati dan 7alim (4,,7) juga membuktikan bahwa ada expectation gap antara auditor ! ) dengan pengguna laporan keuangan daerah dari sisi pelaporan& akuntabilitas dan konsep audit di )alimantan !arat. enelitian yang menguji apakah partisipasi masyarakat dan transparansi kebijakan publik akan meningkatkan fungsi pengawasan yang dilakukan oleh dewan pernah dilakukan oleh .opanah (4,,4)& 8oryanata (4,,7)& .imson et al. (4,,7) serta =aka dan -inarni (4,,7). enyusunan laporan keuangan daerah oleh pemerintah daerah juga menjadi salah satu hal yang penting dalam terciptanya pemerintah yang akuntabel dan transparan. emda memegang peranan penting dalam

penyusunan laporan keuangan daerah. )esiapan sumber daya untuk penyusunan laporan keuangan sangat dibutuhkan. enelitian hal ini

dilakukan oleh (ia dan Bidelis (4,,4) yang menemukan bahwa sumber daya sub bagian akuntansi masih kurang& pelatihan5pelatihan konsep akuntansi juga masih sangat kurang sehingga mengakibatkan lack o" knowledge semakin besar.

57

BAB III !ERAN+!A !)N#EPTUAL DAN HIP)TE#I#

A.

!erangka !$nse tual

!erdasarkan uraian sebelumnya& landasan teori yang digunakan untuk menyusun kerangka pemikiran didasarkan pada grand theory yaitu theory agency yang mengkaji perilaku5perilaku dari principal dan agen yang menyelenggarakan akti/itas instansi pemerintah. .edangkan teori5teori pendukung yang digunakan dalam penelitian ini adalah expectancy theory, auditing& dan creati e accounting. 0eori ekspektasi yang dikemukakan oleh !inberg et al. *899:+ menyatakan bahwa seorang auditor berusaha untuk memenuhi harapan pengguna laporan keuangan dengan memaksimalkan kinerjanya.

58

*autD dan .haraf dalam 0uanakota (4,11:>4) menjelaskan bahwa auditing berhubungan dengan eri"ication (memeriksa keakuratan atau

ketelitian)& pemeriksaan data keuangan untuk menilai kejujurannya dalam mencerminkan peristiwa dan kondisi. Lebih lanjut dikatakan bahwa eri"ication harus menerapkan teknik dan metode pembuktian. !erdasarkan uraian tersebut di atas& maka untuk menguji

pengaruh dari masing5masing /ariabel& maka dikembangkan kerangka konseptual yang terdiri dari tiga tahap& sebagai berikut.

>7

%ambar 1 )erangka )onseptual 1. *enguji pengaruh langsung /ariabel akuntabilitas& creati e

accounting& dan konsep audit terhadap laporan hasil pemeriksaan. 4. *enguji pengaruh langsung /ariabel akuntabilitas& creati e

accounting& dan konsep audit terhadap audit expectation gap. #. *enguji pengaruh tidak langsung& yaitu pengaruh akuntabilitas&

59

creati e accounting& dan konsep audit terhadap audit expectation gap melalui laporan hasil pemeriksaan.

B. Hi $tesis 7ipotesis adalah hubungan yang diduga secara logis antara dua /ariabel atau lebih dalam rumusan proposisi yang dapat diuji secara empiris (6ndiriantoro dan .upomo& 1999). .ebagai titik tolak dalam pengembangan hipotesis& perlu dikemukakan penelitian5penelitian yang mendukung dan mendasari dibentuknya hipotesis. 1. Pengaruh langsung akunta%ilitas, creative accounting k$nse audit, terhada la $ran hasil emeriksaan. dan

*enurut -aterman dan *eier (199") dalam 2amayanti (4,1,)& teori agency dari perspektif politik ekonomi mengkritisi asumsi yang menjadi permasalahan model hubungan keagenan kon/ensional& yaitu konflik kepentingan dan asimetri informasi. *ereka mengembangkan

asumsi permasalahan dalam kerangka kerja teoritis yang lebih luas& yaitu dari sudut pandang politik& birokrasi dan anggaran. <ntuk itu& tujuan dari pelaporan keuangan sektor publik seharusnya adalah untuk menyediakan informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas suatu entitas dalam menangani sumber daya yang dibebankan kepadanya (6B38& 4,,,+ 7enley et al.& 199,+ Breeman& 4,,4). 3kuntabilitas prinsip5prinsip adalah instrumen hukum& yang menunjukkan apakah transparansi&

pemerintahan&

keterbukaan&

60

keberpihakkan dan kesamaan di hadapan hukum telah dihargai atau tidak. .uatu akuntabilitas tidak abstrak tapi kongkret dan harus ditentukan oleh hukum melalui seperangkat prosedur yang sangat spesifik mengenai masalah apa saja yang harus dipertanggungjawabkan (-ulandari& 4,1,). 0erwujudnya akuntabilitas merupakan tujuan utama dari reformasi sektor publik. 0untutan akuntabilitas publik mengharuskan lembaga5 lembaga sektor publik untuk lebih menekankan pada pertanggungjawaban horiDontal maupun /ertikal (*ardiasmo& 4,,9:41). enelitian yang menguji hubungan antara akuntabilitas dengan laporan hasil pemeriksaan dilakukan oleh: 3dam dan $/ans (4,,4)& %old (4,,9)& 8howdhury et al. (4,,>)& 8<6560! (4,,>)& (usliyawati dan 7alim (4,,7)& BadDly dan 3hmad (4,,4)& 8oryanata (4,,7)& dan 3l5Iarni (4,,4). enelitian 3dam dan $/ans (4,,4) berfokus pada standar akuntabilitas (331,,,) dan standar jaminan (331,,,.)& mereka menguji akuntabilitas& kelengkapan dan kredibilitas laporan. 7asilnya menunjukkan bahwa dalam menjamin akuntabilitas laporan keuangan& sebaiknya laporan keuangan memenuhi prinsip5prinsip penjaminan kualitas& antara lain: harus lengkap& ruang lingkupnya menggambarkan semua kegiatan& inklusif& responsif& serta keandalan bukti dan informasi. enelitian

8howdhury et al. (4,,>) menunjukkan bahwa laporan 83% merupakan mekanisme yang efektif untuk menjamin akuntabilitas sektor publik. !erdasarkan uraian di atas& maka hipotesis yang diajukan adalah:

61

71: 3kuntabilitas berpengaruh positif terhadap opini laporan hasil pemeriksaan. 0ahun 4,14 standar akuntansi pemerintahan mulai mengacu pada .3 berbasis akrual dalam 'omor 71 tahun 4,1,. Laporan keuangan

pemerintah (termasuk pemerintah daerah) terdiri atas : 1. Laporan (ealisasi 3nggaran& 4. Laporan erubahan .aldo 3nggaran Lebih& #. 'eraca& 4. Laporan 1perasional& >. Laporan erubahan $kuitas& ?. Laporan 3rus )as dan& 7. 8atatan 3tas Laporan )euangan 3dapun karakteristik kualitatif laporan keuangan merupakan atribut yang menjadikan informasi dalam laporan keuangan bermanfaat bagi para penggunanya. $mpat karakteristik utama adalah rele/an& dapat dipahami& keterandalan dan dapat diperbandingkan (636& 4,,4+ 6B38& 4,,,+ )omite .tandar 3kuntansi emerintahan& 4,,>). enyusunan berdasarkan pada .3 laporan keuangan pemerintah daerah yang

berbasis akrual membutuhkan kemampuan untuk

mengimplementasikan berbagai teknik dan kebijakan akuntansi untuk kepentingan penyajian laporan keuangan. )emampuan inilah yang biasa disebut creati e accounting& (.ulistiawan& creati e 4,11:4#). Lebih lanjut

.ulistiawan

menyatakan

bahwa&

accounting

bukanlah

62

pengetahuan baru& melainkan hanyalah kumpulan teknik dan kebijakan akuntansi yang telah ada. enelitian5penelitian tentang creati e accounting dalam

hubungannya dengan opini laporan hasil pemeriksaan telah banyak dilakukan& khususnya pada sektor pri/at& yaitu penelitian yang dilakukan oleh 3mat dan %owthorpe (4,,4)& %host (4,1,)& Hladu dan *atis (4,1,)& 1koye dan 3lao (4,,")& 7agen dan -olff (4,,4)& dan 3li .hah et al. (4,11)& sedangkan penelitian pada sektor publik yaitu penelitian !enito et al. (4,11) !erdasarkan kerangka teoritis yang telah diuraikan dan dukungan dari peneliti5peneliti sebelumnya& maka dapat dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini& yaitu : 74: Creati e accounting berpengaruh positif terhadap opini laporan hasil pemeriksaan

*autD dan .haraf dalam 0uanakota (4,11:>4) menyatakan bahwa konsep5konsep utama dalam auditing& yakni e idence, due audit care, "air presentation, independence dan ethical conduct. Lebih lanjut& *autD dan .haraf menjelaskan bahwa secara umum ada # (tiga) jenis bukti& yakni: natural e idence (bukti alamiah)& created e idence (bukti yang diciptakan)& dan rational argu#entation (gagasan;ide yang logis). )etiga kelompok bukti tidak memiliki kekuatan yang sama dalam alam pikiran manusia.

63

;ue audit care atau kehati5hatian dalam melaksanakan audit diukur dengan menggunakan kode etik dan standar audit. enelitian 8howdhury et al. (4,,>) di !angladesh menggunakan ? (enam) konsep audit& yaitu: independensi& kompetensi& materialitas& bukti audit& pendapat wajar dan audit kinerja. )onsep ini diadopsi dari Co#ptroller Auditor ,eneral)s *CA,+ pada sektor publik di !angladesh. 7asil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam persepsi antara auditor 83% dengan masing5masing dari dua kelompok pengguna& yaitu anggota enelitian yang sama dilakukan oleh 38 dan perwakilan 6B3.

(usliyawati dan 7alim (4,,7)&

8oryanata (4,,7)& 2iFon dan -oodhead (4,,?)& BadDly dan 3hmad (4,,>)& *ahade/aswamy dan .alehi (4,,") dan 3l5Iarni (4,,4). !erdasarkan uraian di atas& maka dirumuskanlah hipotesis dalam penelitian ini& yaitu: 7#: )onsep audit berpengaruh positif terhadap opini laporan hasil pemeriksaan

-. Pengaruh langsung akunta%ilitas, creative accounting k$nse audit, terhada audit expectation gap. *enurut 3dam dan $/ans (4,,4)& akuntabilitas

dan

bertujuan

menetapkan standar hanya untuk pelaporan kinerja. 'iatnya yang lebih luas adalah membantu perusahaan dan stakeholder yang terkait& memberikan lebih besar tanggung jawab sosial& ekonomi dan lingkungan dalam melakukan bisnis. 7arapan para penyusun laporan akan berbeda

64

dengan para pengguna laporan sehingga menimbulkan audit expectation gap. 8howdhury et al. (4,,>)& menyatakan bahwa terdapat audit expectation gap& antara auditor 83% dengan kelompok pengguna 6B3 dengan 38 dalam hal akuntabilitas pelaporan keuangan. 7al ini

disebabkan karena auditor 83% setuju bahwa laporan mereka menjamin akuntabilitas sektor publik dibandingkan anggota 38. erbedaan

persepsi yang signifikan antara kedua kelompok ditemukan dalam kaitannya dengan apakah kebutuhan informasi pengguna turut

diperhitungkan. 3uditor 83% sepakat jika mereka merespon kebutuhan informasi dari anggota 38. .ebaliknya anggota 38 tidak yakin hal ini

terjadi. *engingat fakta& adanya tatap muka langsung antara auditor 83% dan anggota 38 pada rapat 38& hal ini dapat

dipandang sebagai temuan yang mengejutkan. 6ni yang diharapkan anggota 38 dan memastikan bahwa auditor 83% sepenuhnya

menyadari kebutuhan informasi mereka. enelitian yang menguji hubungan antara akuntabilitas dengan audit expectation gap juga dilakukan oleh (usliyawati dan 7alim (4,,7)& BadDly dan 3hmad (4,,4)& 8oryanata (4,,7)& dan 3l5Iarni (4,,4). !erdasarkan uraian di atas& maka dirumuskanlah hipotesis dalam penelitian ini& yaitu: 74: 3kuntabilitas berpengaruh positif terhadap audit eFpectation gap

65

2i 6ndonesia& *enteri )euangan membentuk )omite .tandar 3kuntansi emerintah usat dan 2aerah yang bertugas menyusun

konsep standar akuntansi pemerintah pusat dan daerah yang tertuang dalam )*) 'o.#,";)*).,14;4,,4. <ndang5<ndang 'omor 17 tahun 4,,# tentang )euangan 'egara mengamanatkan agar laporan

pertanggungjawaban 3 !';3 !2 harus disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan& dan standar tersebut disusun oleh suatu komite standar yang independen dan ditetapkan dengan peraturan pemerintah. .elanjutnya& <ndang5<ndang 'omor 1 tahun 4,,4 tentang erbendaharaan 'egara kembali mengamanatkan penyusunan laporan pertanggungjawaban pemerintah pusat dan daerah sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan& bahkan mengamanatkan pembentukan komite yang bertugas menyusun standar akuntansi pemerintahan dengan keputusan presiden. .tandar 3kuntansi emerintahan (.3 ) sebagai

salah satu elemen penting reformasi akuntansi pemerintahan di 6ndonesia akhirnya ditetapkan dengan eraturan emerintah 'omor 44 tahun 4,,>

pada tanggal 1# =uni 4,,>& yang kemudian dire/isi kembali hingga diterbitkannya .tandar 3kuntansi !erbasis 3krual dalam eraturan

emerintah 'o 71 tahun 4,1,. .tandar akuntansi pemerintahan berdasarkan eraturan emerintah 'omor 44 tahun 4,,> yang telah

disusun merupakan pedoman bagi pemerintah untuk penyusunan laporan keuangannya. 'amun setelah beberapa tahun ditetapkan& masih ada

66

pemerintah daerah yang belum mampu menerapkannya dengan baik. 7al ini dapat diketahui dari masih adanya pemerintahan daerah yang belum mampu menyusun laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum ( 3!<) dan diberikan opini audit wajar dengan pengecualian atau tidak wajar& maupun tidak memberikan opini oleh ! ) (Bitriani dan 9uliana& 4,1,). 3kibatnya& terdapat audit expectation gap antara auditor dan pengguna laporan keuangan ()oh dan -oo&199"+ !est et al., 4,,1+ Leif 7ojsko/ 199"+ Lin dan 8hen& 4,,4+ 3l50awaijri& 4,,?& 2iFon et al., 4,,?+ .idani& 4,,7+ 8howdhury et al., 4,,>). 7al ini disebabkan karena antara auditor dan pengguna laporan keuangan memunyai pandangan yang berbeda mengenai tanggung jawab dari akuntan yang independen dalam menyajikan laporan keuangan (2iFon et al., 4,,?+ 8howdhury et al., 4,,>). engetahuan dari pengguna berpengaruh terhadap besarnya ukuran expectation gap dan faktor komunikasi informasi yang diberikan oleh auditor dalam bentuk laporan hasil pemeriksaan *!ailey et al., 19"#+ $pstein dan %eiger&1994+ 'air dan (ittenberg& 19"7+ )elly dan *ohrweis& 19"9+ *iller et al., 199,). dimiliki pengguna erbedaan pengetahuan dan pendidikan yang keuangan akan menyebabkan adanya

laporan

perbedaan yang signifikan antara auditor dan responden dalam persepsi mereka atas sifat alami auditing (7umprey et al., 199#+ 8howdhury et al., 4,,>+ )oh dan -oo&199"+ !est et al., 4,,1+ Leif 7ojsko/ 199"+ Lin dan

67

8hen& 4,,4+ 3l50awaijri& 4,,?& 2iFon et al., 4,,?+ .idani& 4,,7+ 8howdhury et al., 4,,>). 7al ini juga diperkuat oleh penelitian ('ugroho& 4,,4+ 8howdhury et al., 4,,>) bahwa expectation gap diprofesi pengauditan pemerintahan memiliki karakteristik yang berbeda dengan expectation gap sektor pri/at. 7al ini disebabkan karena antara auditor dan pengguna laporan keuangan memunyai pandangan yang berbeda mengenai tanggung jawab dari perusahaan akuntansi yang independen dalam menyajikan laporan keuangan (2iFon et al., 4,,?+ 8howdhury et al., 4,,>) )ekurangpahaman dan keengganan masyarakat untuk mengetahui pentingnya fungsi dari laporan keuangan daerah juga akan menimbulkan perbedaan persepsi antara masyarakat dengan auditor ! ). 7asil audit terhadap laporan keuangan daerah oleh auditor ! ) tidak akan bisa dimengerti oleh masyarakat& selama masyarakat masih beranggapan bahwa laporan keuangan daerah hanya diperuntukkan bagi orang akuntansi dan keuangan saja. 7al seperti inilah yang bisa menimbulkan perbedaan persepsi& sehingga menimbulkan expectation gap antara auditor dan pengguna laporan keuangan daerah ((usliyawati dan 7alim& 4,,7). !erdasarkan kerangka teoritis yang telah diuraikan dan dukungan dari peneliti5peneliti sebelumnya& maka dapat dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini& yaitu : 7>: )onsep audit berpengaruh positif terhadap audit expectation gap.

68

7?: Creati e accounting berpengaruh positif terhadap audit expectation gap. 77: 1pini laporan hasil pemeriksaan berpengaruh positif terhadap audit expectation gap

.. Pengaruh tidak langsung /aria%le akunta%ilitas, creative accounting dan k$nse audit terhada audit expectation gap melalui $ ini la $ran hasil emeriksaan. enyampaian pesan oleh auditor melalui laporan hasil pemeriksaan kepada pengguna laporan keuangan auditan sangat memungkinkan terjadinya persepsi antara keduanya. 7al ini menunjukkan jika pesan yang disampaikan oleh auditor telah disalah artikan oleh pengguna& sehingga laporan hasil pemeriksaan dapat menimbulkan kesalahan pada saat digunakan sebagai alat dalam pengambilan keputusan. *enurut %ramling& .chatDberg& dan -allace (199?) audit

expectation gap adalah perbedaan harapan antara publik atau pengguna laporan keuangan dan auditor mengenai peran dan tanggung jawab auditor. Expectation gap adalah isu yang akan selalu ada sampai kapanpun praktek auditing berlangsung. )esadaran akan expectation gap bukanlah sesuatu tanpa alasan dan hanya sekedar kesadaran tanpa tindak lanjut& karena expectation gap tidak membawa kerugian yang sedikit bagi banyak pihak. 3lternatif pengurangan expectation gap telah banyak dirumuskan& akan tetapi efekti/itas aplikasinya masih dipertanyakan. !erbagai alternatifnya antara

69

lain dengan pembenahan standar yang lebih akomodif terhadap harapan publik& 636 pun telah melaksanakannya dengan perubahan dan

penyempurnaan standar (9eni& 4,,, dalam -inarna et al. 4,,#) Expectation gap tentang peran dan tanggung jawab auditor dapat dilihat dari berbagai sudut atau permasalahan khusus. %uy and .ulli/an (19"") menyebutkan adanya perbedaan harapan masyarakat dengan auditor dalam hal : 1. 2eteksi kecurangan dan tindakan illegal 4. erbaikan keefektifan audit& dan

#. )omunikasi yang lebih intensif dengan masyarakat dan komite audit. 7umphrey et al. (199#) menyatakan bahwa audit expectation gap konsisten berpusat pada sejumlah isu abadi dalam auditing& yakni: peran dan tanggung jawab auditor& sifat dan arti pesan dari laporan hasil pemeriksaan& kualitas fungsi audit dan struktur dan regulasi profesi. *onroe dan -oodliff (199#) memisahkan masalah yang terkait dengan audit expectation gap menjadi # (tiga) hal& yaitu: tanggung jawab auditor& keandalan laporan keuangan yang diaudit& dan prospek dari entitas yang diaudit. et al. enelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh !est (4,,1) dan .chelluch (199?)& hanya saja mereka

mengelompokkannya menjadi tanggung jawab& kehandalan dan kegunaan laporan hasil pemeriksaan. enelitian terdahulu menyangkut audit expectation gap di 6ndonesia pada sektor pri/at sudah banyak dilakukan (9uliati et al.& 4,,7)

70

7al ini dapat dilihat pada penelitian yang dilakukan oleh 9eni (4,,,) dalam 9uliati et al.& (4,,7) yang mengembangkan isu yang dikembangkan oleh %uy dan .ulli/an (199")& menyimpulkan jika terdapat perbedaan persepsi antara pemakai laporan keuangan& auditor dan mahasiswa akuntansi mengenai peran dan tanggung jawab auditor dalam isu tanggung jawab auditor terhadap "raud& independensi tanggung jawab illegal act klien& dan perbaikan keefektifan audit. .edangkan untuk komunikasi hasil audit tidak terjadi perbedaan yang cukup signifikan. .edangkan penelitian mengenai audit expectation gap pada sektor publik& dapat dikatakan masih sedikit. 'ugroho (4,,4) dalam 9uliati et al.& (4,,7) melakukan penelitian tentang keberadaan expectation gap antara auditor pemerintah dengan pemakai laporan keuangan auditan pemerintah& antara pemakai laporan keuangan auditan pemerintah di daerah satu dengan daerah lainnya. 7asil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi antara auditor pemerintah dengan pemakai laporan keuangan auditan pemerintah& dan tidak terdapat perbedaan persepsi antara pemakai laporan keuangan auditan

pemerintah di daerah satu dengan daerah lainnya. enelitian 9uliati et al.& (4,,7) menyangkut expectation gap antara pemakai laporan keuangan pemerintah dan auditor pemerintah dalam hal peran dan tanggung jawab auditor mendeteksi dan melaporkan

kecurangan& memertahankan sikap independensi& mengkomunikasikan hasil audit dan memerbaiki keefektifan audit. 7asil penelitiannya

71

menunjukkan bahwa tidak terdapat expectation gap antara pemakai dan auditor mengenai peran dan tanggung jawab auditor mendeteksi dan melaporkan kecurangan& serat memertahankan sikap independensi. 0etapi terdapat expectation gap dalam mengkomunikasikan hasil audit dan memerbaiki keefektifan audit. (usliyawati dan 7alim (4,,7)& penelitiannya menyangkut

expectation gap antara ! ) dan pengguna laporan keuangan daerah dilihat dari sudut pandang laporan audit dan proses pelaksanaan audit. 7asil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi antara ! ) dan pengguna laporan keuangan daerah dilihat dari sisi pelaporan& akuntabilitas dan konsep5konsep audit. !erdasarkan kerangka pemikiran dan peneliti5peneliti sebelumnya& maka dapat dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini& yaitu : 7": 3kuntabilitas& creati e accounting dan konsep audit berpengaruh secara tidak langsung terhadap audit expectation gap melalui opini laporan hasil pemeriksaan.

72

BAB I0 MET)DE PENELITIAN

a.

Ran1angan Penelitian

(ancangan penelitian adalah semua proses yang dilakukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. *enurut .ekaran dan !owgie (4,,9:1,4) bahwa rancangan penelitian terdiri dari tujuan penelitian& jenis in/estigasi& inter/ensi peneliti& study setting& unit analisis& dan ti#e hori1on. enelitian ini menggunakan pendekatan analisis kuantitatif& yang

menggunakan metode analisis jalur ( path analysis)& untuk menganalisis pengaruh langsung& tidak langsung dan simultan antar /ariabel awal& /ariabel mediasi& dan /ariabel outco#e. *etode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode sur/ey dan bersifat non eksperimental. .edangkan

73

jenis penelitian yang dilakukan adalah explanatory research& yang menjelaskan hubungan kausal dan korelasional antar /ariabel melalui pengujian hipotesis. ada metode sur/ei& data dikumpulkan dari para

responden dengan menggunakan kuesioner. 2ata yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer& yaitu data diperoleh melalui kuesioner yang langsung disebarkan kepada auditor ! )& anggota 2 (2& pegawai pemerintah daerah dan masyarakat.

%.

)%jek Penelitian
74

*enurut 3rikunto (199":1>)& /ariabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian& sedangkan tempat dimana /ariabel melekat merupakan subjek penelitian. *erujuk pada pendapat tersebut maka yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah terdapat audit expectation gap antara auditor dan pengguna laporan keuangan daerah dilihat dari penerapan akuntabilitas, creati e accounting dan konsep audit atas opini laporan hasil pemeriksaan. dilakukan terhadap para responden yang ada di enelitian

ro/insi .ulawesi

.elatan& meliputi auditor ! )& anggota 2 (2& pegawai pemerintah daerah dan masyarakat.

2. P$ ulasi dan #am el Penelitian

74

opulasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek;subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti (.ugiyono& untuk dipelajari dan opulasi kemudian ditarik ini

kesimpulannya

4,1,:#"9).

penelitian

dikelompokkan sebagai berikut : 1. 3uditor yaitu para auditor yang bekerja pada kantor perwakilan ! )5 (6 di ro/insi .ulawesi .elatan 4. a. engguna laporan hasil pemeriksaan meliputi: ara anggota 2 (2 di ro/insi .ulawesi .elatan yang masuk

dalam komisi 8 dan anitia 3nggaran. 3nggota dewan komisi 8 dan panitia anggaran adalah anggota5anggota 2 (2 yang terlibat langsung dengan 3nggaran (3 !2). b. ara pegawai 2inas 3set 2aerah (2 c. *asyarakat endapatan dan engelolaan )euangan dan endapatan dan !elanja 2aerah

)32) ro/insi .ulawesi .elatan.

ro/insi .ulawesi .elatan& yang diwakili oleh para

akademisi (63 d) dan auditor )antor 3kuntan ublik ()3 ).

.ampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. *etode penarikan sampel yang digunakan adalah purposi e sa#pling #ethod, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (.ugiyono& 4,1,:144).

75

1.

3uditor yang bertugas pada kantor perwakilan ! )5(6 di

ro/insi

.ulawesi .elatan& minimal telah bertugas selama 1 (dua) tahun. 4. 3nggota 2 (2 di ro/insi .ulawesi .elatan yang diwakili oleh

komisi 8 bidang keuangan sebanyak 1# orang dan panitia anggaran sebanyak 47 orang. #. egawai 2inas 2aerah (2 keuangan. 4. ara akademisi 6katan 3kuntan endidik (63 d)& dan auditor )antor endapatan dan engelolaan )euangan dan 3set

)32)

ro/insi .ulawesi .elatan khususnya bagian

3kuntan ublik ()3 ) meliputi manager dan auditor senior.

D. De3inisi ) erasi$nalisasi dan Pengukuran 0aria%el 1perasionalisasi /ariabel mencakup tahapan5tahapan sebagai berikut : 1. 4. engidentifikasian /ariabel eksogen dan /ariabel endogen. enjabaran /ariabel independen dan /ariabel dependen ke dalam masing5masing sub /ariabelnya. #. enjabaran masing5masing sub /ariabel ke dalam indikator5 indikatornya. .etelah dijabarkan menjadi indikator5indikatornya& maka kemudian indikator5indikator tersebut digunakan sebagai pedoman untuk membuat pertanyaan5pertanyaan dalam kuesioner. .etiap indikator dari /ariabel

penelitian ini dijabarkan ke dalam sebuah pertanyaan tertutup dan

76

menuangkannya dalam daftar pertanyaan. 0eknik pengukuran yang digunakan untuk mengubah data kualitatif dari kuesioner menjadi suatu data kuantitatif adalah $u##ated 3ating (ethod% The <ikert $cale & yang merupakan suatu pengukuran skala ordinal. .ebagian instrumen yang digunakan adalah instrumen yang telah dipakai 8howdhury et.al.& (4,,>) dengan skala Likert tujuh poin dengan 1 menunjukkan

Psangat setujuP dan 7 menunjukkan Psangat tidak setujuP& namun peneliti hanya menggunakan skala Likert lima poin dengan 1 menunjukkan Atidak setujuA dan angka > menunjukkan Asangat setujuA. .eperti telah disebutkan di atas bahwa /ariabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. 3kuntabilitas *=>+, creati e accounting (Q4) dan konsep audit (Q#) yang merupakan /ariabel eksogen. 4. 1pini laporan hasil pemeriksaan (9 1) merupakan /ariable endogen inter/ening dan audit expectation gap (94) sebagai /ariabel endogen dependen. !erikut ini akan dijelaskan batasan /ariabel penelitian dan indikatornya beserta skala pengukuran yang digunakan& seperti dalam tabel 4.1 berikut : Ta%el 4.1 ) erasi$nalisasi 0aria%el
0ARIABEL !)N#EP 0ARIABEL #UB 0ARIABEL INDI!AT)R #!ALA

77

3kuntabilitas (Q1)

3kuntabilitas publik adalah kewajiban pihak pemegang amanah (agent+ untuk memberikan pertanggungjawaban& menyajikan& melaporkan dan mengungkapkan segala akti/itas dan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya kepada pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut (*ardiasmo& 4,,9)

1. jelas

0epat

waktu

dan 1.1rdinal 4.1rdinal

4.

Bormat dipahami

mudah #.1rdinal

#.

*enjamin akuntabilitas publik

8reati/e 3ccounting (Q4)

Creati e accounting menurut 3mat& !lake dan 2owd (1999) adalah @sebuah proses dimana beberapa pihak menggunakan kemampuan pemahaman pengetahuan akuntansi (termasuk didalamnya standar& teknik dan sebagainya) dan menggunakannya untuk memanipulasi pelaporan keuangan

1. 4. #. 4. >.

*engubah metode akuntansi *embuat estimasi 3kuntansi *engubah periode pengakuan *ereklasifikasi akun *ereklasifikasi akrual

1.1rdinal 4.1rdinal #.1rdinal 4.1rdinal >.1rdinal

)onsep 3udit (Q#)

)onsep audit merupakan suatu istilah yang digunakan untuk ide bidang audit yang berasal dari dan dipertimbangkan dengan (*autD sebagai pemikiran5 .haraf& bagian dari beberapa hal yang diobser/asi pemikiran 19",) and

6ndependensi (Q#a)

1. 0idak memihak 4. .ikap mental yang objekti/e #. *enghindari pertentangan kepentingan

1. 1rdinal 4. 1rdinal #. 1rdinal

)ompetensi (Q#b)

1. .ertifikat;6jaDah 4. )eikutsertaan dalam pelatihan #. .imposium dalam negeri 4. .imposium luar negeri >. ?. elatihan dalam negeri elatihan luar negeri )ekeliruan karena mengunakan estimasi 4. audit #. =umlah maksimun kemungkinan terdapat kekeliruan

1. 1rdinal 4. 1rdinal #.1rdinal 4.1rdinal >.1rdinal ?.1rdinal 1.1rdinal

*aterialitas (Q#c)

1.

engukuran lingkup 4.1rdinal #.1rdinal

!ukti audit (Q#d) 1. -aktu dan biaya dalam proses audit

1.1rdinal 4.1rdinal

78

4. Lingkup audit yang memengaruhi proses pengumpulan bukti. #. )ebutuhan informasi yang dirasakan pengguna memengaruhi proses pengumpulan bukti. endapat wajar (Q#e) 1. Laporan keuangan yang disajikan telah sesuai dengan rinsip 3kuntansi !erterima <mum ( 3!<). 3udit kinerja (Q#f) 1. 4. $fisiensi dan efekti/itas dari operasi )eefektifan dicapai. 1pini Laporan 7asil emeriksaan (91) Laporan hasil pemeriksaan harus menyatakan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai dengan .tandar emeriksaan dan berisikan opini auditor (. )'& 4,,7) engecualian (91b) -ajar 0anpa engecualian (91a) 1. !ukti pemeriksaan cukup memadai 4. .eluruh laporan keuangan disajikan dengan lengkap sesuai 3!< -ajar 2engan 1. .alah saji yang terjadi adalah material tetapi tidak perpasi/e terhadap laporan keuangan 4. 3danya pembatasan lingkup (ketidakcukupan bukti) 0idak -ajar (91c) 1. .alah saji yang terjadi adalah material tetapi perpasi/e terhadap laporan keuangan *enolak memberikan pendapat (91d) 1. 0idak memeroleh bukti yang cukupmemadai sebagai dasar opini 4. 2ampak salah saji tidak dapat dideteksi dalam laporan keuangan #. *elibatkan banyak ketidakpastian dalam kondisi ekstrim #. 1rdinal 4. 1rdinal 1. 1rdinal 1. 1rdinal 4. 1rdinal 1. 1rdinal 4. 1rdinal 1. 1rdinal hasil yang 4. 1rdinal 1. 1rdinal 1.1rdinal #.1rdinal

79

3udit $Fpectation %ap (94)

erbedaan persepsi antara akuntan independen dengan pemakai laporan keuangan auditan mengenai tingkat kinerja yang diharapkan (expected per"or#ance) dari profesi akuntan (Liggio& 1974)

ersepsi auditor (! )) dan penguna laporan keuangan pemerintah& dalam hal tanggung jawab auditor : 1. *endeteksi dan melaporkan 1. 1rdinal kecurangan 4. *emertahankan sikap independensi #. *engkomunikasikan hasil audit 4. *emerbaiki keefektifan audit 4. 1rdinal #. 1rdinal 4. 1rdinal

E. Met$de Pengum ulan Data .umber data yang diperlukan dalam penelitian ini akan diperoleh melalui : 1) )uesioner 2iharapkan dapat diperoleh data primer dengan data diperoleh melalui kuesioner yang langsung disebarkan kepada auditor ! )& anggota 2 (2& pegawai pemerintah daerah dan masyarakat. 4) #) 4) -awancara 1bser/asi )epustakaan <ntuk melengkapi data primer& diperlukan pula data sekunder yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan. engumpulan data

sekunder dilakukan dengan memelajari jurnal5jurnal& buku teks& majalah5majalah yang menunjang pembahasan dan analisis

penelitian lapangan.

80

5. Met$de Pengujian Data 6nstrumen yang digunakan di dalam penelitian ini adalah daftar pertanyaan (kuisioner). !utir5butir pertanyaan dikembangkan berdasarkan defenisi operasional seperti pada uraian sub5sub sebelumnya. .kala yang digunakan adalah .kala Likert dengan > skor& yaitu sangat tidak setuju diberi skor 1& tidak setuju diberi skor 4& netral diberi #& setuju diberi skor 4 dan sangat setuju diberi skor >. .etelah instrumen dibuat dan /aliditas isi (content alidity) terjamin berdasarkan defenisi operasional yang merujuk pada konsep dan teori& maka instrumen dilakukan uji coba untuk menguji /aliditas dan realibilitas. <ji5coba instrumen dilakukan dengan menggunakan mahasiswa akuntansi sebanyak >, sampel sebagai responden. <ji5coba instrument ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat /aliditas masing5masing item pernyataan;pertanyaan& serta untuk mengetahui tingkat reliabilitas

instrument pengumpul data tersebut. engukuran tingkat /aliditas instrumen dilakukan dengan

menggunakan rumus korelasi product #o#ent& sebagai berikut : 'Q9 5 (Q) (9) rQ9 R S'Q4 5 (Q)4T S'94 5 (9)4T

dimana: rQ9 R korelasi product #o#ent antara Q dan 9

81

Q 9

R R

skor butir pernyataan skor total butir pernyataan (3rikunto& 199?).

)riteria penilaian& jika rQ9 U rtabel& maka butir pernyataan yang bersangkutan alid untuk digunakan dalam pengumpulan data+ jika r Q9 rtabel& maka butir pernyataan yang bersangkutan tidak alid digunakan sebagai alat engukuran

pengumpul data dan harus dikeluarkan dari instrumen.

tingkat reliabilitas instrumen menggunakan )oefisien Al"a Cronbach dengan rumus& sebagai berikut (.ugiyono& 4,1,) : ) si4 ri R V555555555W V1 5 555555555W (k 5 1) st4 dimana: ri k si4 st4 R reliabilitas instrumen R banyaknya butir pernyataan R jumlah /arians butir R /arians total

<ji /aliditas dan reliabilitas yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Uji 0aliditas 6Test of Validity7 <ji /aliditas dalam penelitian ini dilakukan dengan analisa faktor. 3lat uji yang digunakan untuk mengukur tingkat interkorelasi antar /ariabel dan dapat tidaknya dilakukan analisis faktor adalah ?aiser (eyer 0lkin4(easure o" $a#pling Ade-uacy *?(04($A+. 'ilai ?(04($A

82

ber/ariasi dari nol (,) sampai dengan satu (1). 'ilai yang dikehendaki harus U ,&>, untuk dapat dilakukan analisis faktor (7air et al.& 4,,?).

-. Uji Relia%ilitas 6Test of Reliability7 )uesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban responden terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. eneliti menggunakan metoda internal consistency dengan

menggunakan cronbach)s

alpha. .uatu konstruk atau /ariabel

dikatakan reliabel jika memberikan nilai cronbach)s alpha lebih besar dari ,&?, ('unnaly& 19?7). +. Teknik Analisis Data

*etode analisis data di dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis .$* ($truktural E-uation (odeling) dengan program bantu 3*1. (Analisis 0" (o#ent $truktural). Berdinand (4,,4:##) menyatakan beberapa langkah pemodelan .$* adalah sebagai berikut: 1. engembangan *odel 0eoritis. Langkah ini bertujuan untuk melakukan pengembangan suatu model teoritis dengan jalan eksplorasi ilmiah melalui telaah pustaka& dalam usaha memeroleh justifikasi atas model teoritis yang dikembangkan. 0eknik ini digunakan untuk menguji teori& atau suatu teori yang baru dikembangkan peneliti melalui pembuktian empiris.

83

4.

engembangan 2iagram 3lur. *odel teoritis yang telah dikembangkan atau dibangun pada langkah pertama dilakukan dengan cara menggambarkan diagram alur. )onstruk5konstruk yang dibangun pada diagram alur dibedakan dalam dua kelompok yaitu: a. )onstruk eksogen (Independen ariabel) yaitu konstruk yang tidak diprediksi oleh /ariabel lain dalam model. ada penelitian ini yang

menjadi konstruk eksogen adalah akuntabilitas& creati e accounting dan konsep audit b. )onstruk endogen yaitu konstruk yang diprediksi oleh satu atau beberapa konstruk yang ada dalam model. ada penelitian ini

konstruk endogen adalah laporan hasil pemeriksaan dan audit expectation gap. #. )on/ersi 2iagram 3lur 2alam ersamaan ada langkah ini persamaan struktural dan model pengukuran diterjemahkan dalam persamaan. !erdasarkan kerangka konseptual yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya& maka structural e-uation #odeling yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 91R (Q1& Q4& Q#) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . 94 R (Q1& Q4& Q#& 91) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (1) (4)

84

.ehingga dari persamaan (4) fungsi audit expetation gap (94) dapat ditulis ulang menjadi: 94 R SQ1& Q4& Q#& 91 (Q1& Q4& Q#)T . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . dimana: Q1 R 3kuntabilitas Q4 R Creati e Accounting Q#R )onsep 3udit 91R Laporan 7asil emeriksaan 94R Audit Expectation ,ap Lebih jelasnya dapat dilihat pada struktur di bawah ini : (4a)

1.

#truktur Pertama .truktur pertama adalah untuk menggambarkan jalur pengaruh

langsung /ariabel akuntabilitas (Q1)& creati e accounting (Q4)& dan konsep audit (Q#)& terhadap laporan hasil pemeriksaan (91)& dapat dilihat pada gambar berikut.

/1

r8191 r8-91 r81:-

.1

X191 X 4Q1

.2

/2

.3

85

r8.91 r81:. r8-:.

X.QX4Q.

%ambar 4.1 .truktur

ertama

engaruh Hariabel Q1& Q4& Q#& 91& terhadap Hariabel 94.

ersamaan struktural pertama adalah: 94 R , Y 1Q1 Y 4Q4 Y #Q# Y 4 91 Y 01 . . . . . . . . . . . . . . . (#) 2imana ,& 1& 4& #& dan 4 adalah parameter .truktur ini menunjukkan adanya hubungan pengaruh /ariabel Q 1& Q4& Q#& dan 91& terhadap /ariabel 94. 'ilai koefisien jalur X191 menunjukkan adanya pengaruh langsung /ariabel 9 1 terhadap /ariabel 94& 'ilai koefisien jalur X4Q1 menunjukkan adanya pengaruh langsung /ariabel Q1 terhadap /ariabel 94& nilai koefisien jalur X.Q4 menunjukkan adanya pengaruh langsung /ariabel Q4 terhadap /ariabel 94& nilai koefisien jalur X4Q. menunjukkan adanya pengaruh langsung /ariabel Q # terhadap

/ariabel 94& sedangkan nilai koefisien 01 menunjukkan adanya pengaruh langsung /ariabel lain selain Q1& Q4& Q#& 91 terhadap /ariabel 94. -. #truktur !edua

86

.truktur kedua ini adalah untuk menggambarkan jalur pengaruh langsung /ariabel awal (3kuntabilitas R Q1& Creati e Accounting R Q4& )onsep 3udit R Q#) terhadap /ariabel inter/ening (Laporan 7asil

emeriksaan R 91)& yang ditunjukkan pada gambar #. 04 Z 1Q1 Z 4QrQ4Q#Q# Z .Q . 91

Q1 rQ1Q4 Q4 rQ1Q#

%ambar 4.4 .truktur )edua engaruh Hariabel Q1& Q4& Q# terhadap Hariabel 91.

ersamaan struktural kedua adalah: 91 R , Y 1Q1 Y 4Q4 Y #Q# Y 0 4 . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2imana ,& 1& 4& dan #& adalah parameter (4)

..

#truktur ketiga

87

.truktur ketiga menggambarkan pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung /ariabel awal (3kuntabilitas (Q1)& Creati e Accounting (Q4)& )onsep 3udit (Q#)) terhadap Audit Expectation ,ap melalui /ariabel

Laporan 7asil emeriksaan (91) yang ditunjukkan pada gambar kerangka penelitian.

Q1
X1

91
Z4 X4

Q2
X4

94
Z#

Q#
X# %ambar 4.# .truktur )etiga engaruh Hariabel Q1& Q4& Q# terhadap Hariabel 94 melalui 91

ersamaan # dapat ditulis ulang menjadi : 94 R , Y 1Q1 Y 4Q4 Y #Q# Y 4 91 Y 01 R , Y 1Q1 Y 4Q4 Y #Q# Y 4 (, Y 1Q1 Y 4Q4 Y #Q# Y 0 4) Y 01 R , Y 1Q1 Y 4Q4 Y #Q# Y ,4 Y 14Q1 Y 44Q4 Y #4Q# Y 0 44 Y 01 R (, Y ,4) Y (1 Y 14)Q1 Y (4 Y 44) Q4 Y (# Y #4) Q# Y (0 44 Y 01) R [, Y [1Q1 Y [4 Q4 Y [# Q# Y \ NNNNNNNNNNNNN(4a)

88

2imana: a. Intercept , [, R intercept laporan hasil pemeriksaan (91) R (, Y ,4)RIntercept audit expectation gap (94)

%. Pengaruh langsung 1 R engaruh langsung akuntabilitas (Q1) terhadap laporan hasil pemeriksaan (91). 4 R engaruh langsung creati e accounting (Q4) terhadap laporan hasil pemeriksaan (91). # R engaruh langsung konsep audit (Q#) terhadap laporan hasil pemeriksaan (91). 1 R engaruh langsung akuntabilitas (Q1) terhadap audit expectation gap (94). 4 R engaruh langsung Creati e Accounting (Q4) terhadap Audit Expectation ,ap (94). # R engaruh langsung konsep audit (Q#) terhadap audit expectation gap (94). 4 R engaruh langsung laporan hasil pemeriksaan (91) terhadap audit expectation gap (94).

89

1. Pengaruh tak langsung (14) R engaruh tak langsung akuntabilitas(Q1) terhadap audit expectation gap (94) melalui laporan hasil pemeriksaan (91). (44) R engaruh tak langsung creati e accounting (Q4) terhadap audit expectation gap (94) melalui laporan hasil pemeriksaan (91) (#4) R engaruh tak langsung konsep audit (Q#) terhadap audit expectation gap (94) melalui laporan hasil pemeriksaan (91)

d. Pengaruh t$tal [1 R (1Y14) R engaruh total akuntabilitas (Q1) terhadap audit expectation gap (94). [4 R (4Y44) R engaruh total creati e accounting (Q4) terhadap audit expectation gap (94). [# R (#Y#4) R engaruh total konsep audit (Q#) terhadap audit expectation gap (94). e. #tandard err$r
1

R $tandard error laporan hasil pemeriksaaan (91) R (044 Y 01) R$tandard error audit expectation gap (94)

90

4.

emilihan *atriks 6nput *elakukan pemilihan jenis input yaitu ko/arians atau korelasi. 3pabila yang diuji adalah hubungan kualitas& maka matrik yang digunakan adalah matriks ko/arians.

>. *enilai *asalah 6dentifikasi *asalah identifikasi adalah masalah mengenai ketidakmampuan model yang dikembangkan untuk menghasilkan estimasi yang unik. ?. $/aluasi *odel 2alam analisis .$* tidak ada alat uji statistik tunggal untuk mengukur atau memenuhi hipotesis mengenai model. <ntuk mengukur derajat kesesuaian antara model yang dihipotesiskan dengan data yang disajikan& umumnya digunakan beberapa jenis "it4index (7air et al., 199":114). eneliti diharapkan melakukan pengujian dengan

menggunakan beberapa "it index untuk mengukur ketepatan model yang dirancang. $/aluasi terhadap ketepatan model pada dasarnya telah dilakukan pada saat model diestimasi oleh program 3*1.. 3sumsi5asumsi yang harus dipenuhi dalam proses ini& secara umum adalah sebagai berikut: 1. <kuran sampel minimum jumlahnya 1,,& 4. *emenuhi asumsi normalitas dan linearitas+ #. 0idak ada outlier+ 4. 0idak ada multikolinearitas+ dan >. Fit model terpenuhi. <ntuk jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.4 sebagai berikut:

91

Ta%el 4.#;arat 5it M$del 'o. 1 4 # 4 > ? 7 " 8hi .Euare robabilitas 8hi .Euare (*.$3 %B6 3%B6 8*6';2B 0L6 8B6 6ndeks .yarat )ecil ] >^ _ ,.," ] ,.9, ] ,.9, _ 4.,, ] ,.9> ] ,.9>

92

.umber. Berdinand (4,,4)+ 7air et al.& (199").

ada tabel ini menunjukkan keseluruhan asumsi5asumsi "it #odel yang harus terpenuhi& diantaranya: Chi $-uare .tatistik (Q`) dan Probabilitas Chi $-uare sebagai alat ukur paling fundamental untuk mengukur o eral "it adalah <ikelihood 3atio Chi $-uare& yang bersifat sangat sensitif terhadap besarnya sampel yang digunakan. *odel yang diuji dipandang baik atau memuaskan bila Chi $-uare (Q`) rendah. .emakin rendah Q` menunjukkan model semakin baik pula (Q`R,)& berarti tidak ada perbedaan 7o diterima dan diterima berdasarkan probabilitas dengan cut4o"" alue sebesar pU,&,> atau pU,&1,. The 3oot (ean $-uare Error Approxi#ation ((*.$3) adalah indeks yang dapat digunakan untuk mengkompensasi Chi $-uare $tatistic dalam sampel yang besar. 'ilai (*.$3 menunjukkan goodness4o"4"it yang dapat diharapkan bila model diestimasi dalam populasi. 'ilai (*.$3 _ ,&," merupakan indeks untuk diterimanya model yang menunjukkan close "it model berdasarkan degrees o" "reedo#.

93

,oodness o" Fit4Index (%B6) adalah indeks kesesuaian ( "it index) akan menghitung proporsi tertimbang dari /arians dalam matriks ko/arians sampel yang dijelaskan oleh matriks ko/arians populasi yang terestimasi. %B6 merupakan sebuah ukuran non5 statistik yang mempunyai rentang nilai antara , ( poor "it) sampai dengan 1&, (per"ect "it). 'ilai yang tinggi dalam indeks ini menunjukkan better "it. %B6 yang diharapkan adalah sebesar ] ,&9,. Ad5usted ,oodness o" Fit Index (3%B6) 0anaka and 7uba yang dikutip Berdinand (4,,4:44) menyatakan bahwa %B6 analog dari (` dalam analisis regresi berganda. Fit index ini dapat disesuaikan terhadap degree o" "reedo# yang tersedia untuk menguji diterima tidaknya model (3rbuckle dan -otheke& 1999:#4) 0ingkat penerimaan yang direkomendasikan adalah sebesar ] ,&9,. 3%B6 maupun 8B6 adalah kriteria yang memerhitungkan proporsi tertimbang dari /arians dalam sebuah ko/arians sampel. 'ilai ,&9> diinterpretasikan sebagai tingkatan yang baik (good o eral #odel "it)& sedangkan nilai antara ,&9,5,&9> menunjukkan ade-uate "it. The (ini#u# $a#ple ;iscrepancy Function (8*6') dibagi ;egree o" Freedo# (2B) sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat fit sebuah model. 2alam hal ini 8*6';2B tidak lain adalah Chi $-uare $tatistic (Q`) dibagi 2B sehingga disebut Q` relatif. Q`
relatif

U 4&,

atau bahkan #&, merupakan indikasi dari acceptable "it antara model dengan data (3rbuckle dan -otheke& 1999:44).

94

0ucker Lewis 6ndeF (0L6) adalah sebuah alternatif incre#ental "it index yang membandingkan sebuah model yang diuji terhadap sebuah baseline model (Berdinand& 4,,4:14>). 'ilai yang

direkomendasikan sebagai acuan untuk diterimanya sebuah model adalah penerimaan ],&9> dan nilai yang sangat mendekati 1 menunjukkan a ery good "it (3rbuckle dan -otheke& 1999:44).

8omparati/e fit indeF (8B6) seperti halnya 3%B6 merupakan kriteria yang memperhitungkan proporsi tertimbang dari /arians sebuah ko/arians sampel. !esaran 8B6 pada rentang nilai ,51. .emakin mendekati nilai 1 mengindikasikan tingkat kesesuaian paling tinggi ( a ery good "it). 'ilai yang direkomendasikan 8B6 ],&9>. 7. 6nterpretasi dan *odifikasi *odel. 6nterpretasi dan modifikasi dilakukan terhadap model yang

dikembangkan& bila ternyata estimasi tersebut memiliki tingkat prediksi tidak seperti yang diharapkan yaitu apabila terdapat resudual yang besar. 'amun demikian& modifikasi hanya dapat dilakukan bila terdapat justifikasi teoritis yang cukup kuat. 3lasan penggunaan .$* pada penelitian ini adalah: 1. .$* memiliki kemampuan untuk menguji indikator dari suatu konstruk (#easure#ent #odel) dalam sekali pengujian (running) yang tidak dapat dilakukan oleh analisis lain.

95

4. <ntuk serangkaian hubungan yang rumit (banyak konsep) yang diuji secara simultan maka .$* akan memberikan efisiensi secara statistik& yaitu penggabungan teknik analisis faktor konfirmatori dan teknik analisis jalur (7air et al.& 199":?>). #. !isa menguji hubungan tidak langsung antara konstruk ( unobser ed ariabel) !eberapa uji analisis yang digunakan dalam memeroleh data yang alid dan reliabel antara lain: 1. <ji /aliditas yaitu suatu alat ukur yang /alid tidak sekedar mampu mengungkapkan data dengan tepat& tapi harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut atau /aliditas secara singkat merujuk pada kemampuan suatu instrumen pengukur untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. *enurut pendapat .ingarimbun (199>:144) bahwa /aliditas menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur itu mengukur apa yang diukur. *enurut 3Dwar (1997:>)& bahwa suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai /aliditas tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut.

96

4. <ji

reliabilitas yaitu

pada

dasarnya

reliabilitas merujuk pada

kemampuan suatu instrumen untuk diuji kembali dengan memberikan hasil yang relatif konstan. 3rtinya bahwa jika suatu instrumen dikatakan reliabel jika instrumen itu memberikan hasil yang relatif sama jika diuji secara berulang5ulang. ada penelitian ini& pengujian

akan menggunakan koefisien alpha cronbath. =ika nilainya di atas ,&? maka dikatakan realibel. #. <ji normalitas yaitu sebaran dilakukan dengan kurtosis alue dari data yang digunakan biasanya disajikan dalam statistik deskriptif. 'ilai statistik untuk menguji normalitas itu disebut C5 @alue. !ila nilai C lebih besar dari nilai kritis maka dapat diduga bahwa distribusi data adalah normal. 'ilai kritis dapat ditentukan berdasarkan tingkat signifikan ,&,1 (1^).

97