Você está na página 1de 28

AUTISM E

1. AG. SUKMAWIJAYA ( 12340051 ) 2. CITRA JUWITA ( 12340023 ) 3. ERIKA CAROLINA ( 12340087 ) 4. FANNY WIRAMIJAYA ( 12340006 ) 5. ANINDYA NINGRUM ( 2012000010) 6. ANISSA AYU NINGSIH ( 2012000011) 7. DIAH KUSUMA W. ( 20120000)

Latar Belakang
Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak

yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.
Salah satu kondisi yang sering dijumpai sebagai penyebab

munculnya autism ini antara lain karena adanya keracunan logam berat ketika anak dalam kandungan, seperti timbal, merkuri, kadmium, spasma, rubella congenital, sklerosis tuberose, lipidosis serebral, dan anomali kromosom X rapuh.

Etiologi & Patofisiologi Autisme


Ada tiga perspektif yang dapat digunakan untuk menjelaskan penyebab autisme, yaitu : Perspektif Psikodinamik Perspektif Biologis (Pendekatan Biologis, Pendekatan Kromosom, Pendekatan Biokimia, Gangguan bawaan dan komplikasi, Pendekatan neurogical) Perspektif Kognitif

Tampilan Klinik

Gejala klinik Autisme ditandai oleh dua macam gejala, yaitu:

Gejala positif Gejala positif merupakan gejala yang cenderung memberikan berhubungan dampak pada orang lain, gejala ini bisa diamati oleh orang lain, seperti delusi, halusinasi, gangguan kemampuan berpikir, perilaku aneh dan agresif. Gejala negatif Gejala negatif cenderung tidak berdampak pada orang lain, kadang bisa dijumpai pada non-penderita. Penderita mengalami kehilangan ciri khas, misalnya kehilangan ekspresi moral, menarik diri dari lingkungan sosial (Tim Farmakologi dan Terapetik, 2007).

Penanganan dan Terapi


Tujuan utama dari terapi autisme adalah menolong penderitanya untuk hidup normal atau mendekati normal dalam lingkungan sosialnya. Obat-obatan sampai saat ini belum dapat menyembuhkan penyebab autis, tetapi dapat membantu penderita mengatasi masalah penyerta lain seperti gangguan tingkah laku tersebut, termasuk depresi dan kejadian kejang/kaku yang kadang timbul.

Saat ini, kebanyakan obat yang diresepkan untuk meredakan gejala autisme menggunakan "off label," yang berarti bahwa disetujui FDA, kadang untuk kondisi terkait lainnya seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan tidur atau depresi. Penggunaan off-label tersebut adalah umum di hampir semua bidang kedokteran dan biasanya dilakukan untuk meringankan penderitaan yang signifikan tanpa adanya studi yang cukup besar dan tepat sasaran.

Jenis Obat Autisme

Risperidone Risperidone adalah obat antipsikotik. Ini biasanya digunakan untuk mengobati masalah kesehatan mental seperti skizofrenia. Tetapi beberapa ahli mungkin meresepkannya untuk anak autis jika mereka pikir itu mungkin membantu

Risperidone

Cara kerja obat : Risperidone bekerja dengan menenangkan aktivitas otak. Hal ini dilakukan dengan memblokir bahan kimia tertentu yang disebut neurotransmitter. Bahan kimia ini membantu perjalanan sinyal antara sel-sel saraf. Risperidone memblokir salah satu transmitter yang disebut serotonin dan dopamin Risperidone diabsorpsi sempurna setelah pemberian oral, konsentrasi plasma puncak dicapai setelah 1-2 jam. Absorpsi Risperidone tidak dipengaruhi oleh makanan.

Risperidone

Indikasi Terapi pada skizofrenia akut dan kronik serta pada kondisi psikosis yang lain, dengan gejala-gejala tambahan (seperti; halusinasi, delusi, gangguan pola pikir, kecurigaan dan rasa permusuhan) dan atau dengan gejala-gejala negatif yang terlihat nyata (seperti; blunted affect, menarik diri dari lingkungan sosial dan emosional, sulit berbicara).

Risperidone

Dosis Risperidone dapat diberikan sekali atau dua kali sehari. Dosis awal umumnya 2 mg / hari. Dosis meningkat dapat terjadi dengan penambahan sebesar 1-2 mg / hari, sebagai ditoleransi, dengan dosis yang dianjurkan 4-8 mg / hari. Pada anakanak, risperidone harus dimulai pada 0,5 mg sekali sehari, dan dapat ditingkatkan dengan penambahan sebesar 0,5 atau 1 mg / hari, sebagai ditoleransi, dengan dosis yang dianjurkan 2,5 mg / hari.

Risperidone

Efek Samping Tingkat keparahan efek samping sering tergantung pada dosis. Risperidone telah dikaitkan dengan penambahan berat badan. (9) Efek samping lain yang umum termasuk akatisia, kecemasan, sedasi, dysphoria, insomnia, kadar prolaktin tinggi, tekanan darah rendah, tekanan darah tinggi, kekakuan otot, nyeri otot, tremor, hipersalivasi, sembelit, dan hidung tersumbat. Selain itu, pengobatan risperidone menyebabkan photosensitivity, dan pasien harus diperingatkan untuk menghindari paparan sinar matahari atau menggunakan tabir surya yang efektif (SPF +15).

Jenis Obat Untuk Autisme


Chlorpromazine (CPZ)/ Klorpromazine HCl Sediaan Tablet 25 mg dan 100 mg Injeksi 25 mg/ml

Chlorpromazine (CPZ)/ Klorpromazine HCl

Cara Kerja Obat Chlorpromazine merupakan obat antipsikotik turunan phenotiazine. Mekanisme kerjanya secara pasti tidak diketahui. Prinsip efek farmakologinya adalah sebagai psikotropik dan ia juga mempunyai efek sedatif dan anti-emetik. Chlorpromazine bekerja pada taraf susunan saraf pusat, terutama pada tingkat subkortikal maupun pada berbagai sistem organ. Chlorpromazine mempunyai efek anti-adrenergik kuat dan antikolinergik perifer lemah, serta efek penghambatan ganglion yang relatif lemah. Ia juga mempunyai efek antihistamin dan antiserotonin lemah.

Chlorpromazine (CPZ)/ Klorpromazine HCl

Indikasi Psikosis, neurosis, gangguan susunan saraf pusat yang membutuhkan sedasi, anestesi, pre medikasi, mengontrol hipotensi, induksi hipotermia, antiemetik, skizofrenia, gangguan skizoafektif, psikosis akut, sindroma paranoid, & stadium mania akut. Dosis Untuk pengobatan psikotik : 75-800 mg/hari dalam dosis terbagi tiap 6-8 jam. Untuk anti-emetik : 25-50 mg/hari Anak-anak : sehari 2-4 mg/kg berat badan, dalam dosis terbagi tiap 6-8 jam

Chlorpromazine (CPZ)/ Klorpromazine HCl


Efek Samping Gejala idiosinkrasi yang dapat timbul berupa ikterus, dermatitis dan leukopenia. Reaksi ini disertai oleh adanya eosinophilia dalam darah perifer. Klorpromazin HCl dapat menyebabkan gejala ekstrapiramidal serupa dengan yang terlihat pada Parkinsonisme, orthostatic hypotension sering terlihat pada penderita yang mempunyai sistem vasomotor labil. Dapat juga berupa hipotermia, kadang-kadang takikardia atau mulut dan tenggorokan kering,mengantuk, konstipasi dan retensi urin.

Jenis Obat Untuk Autisme

Golongan Anti konvulsan atau antikejang seperti Tegretol, Depakote, Dilantin dipakai untuk mengobati kejang yang kadang timbul. Golongan Anti ansietas (Valium, Librium) Golongan Anti depresi (Lithium, Depakote) untuk gangguan bipolar manik depresi. Golongan Anti depressi (Prozac, Anafranil, Paxil, Zoloft, Luvox) untuk terapi depresi dan gangguan tingkah laku kompulsif (melakukan perbuatan yang diulang-ulang)

Jenis Obat Untuk Autisme

Golongan Penghambat Beta/Beta Blockers (Nadolol, Buspirone) dapat mengatasi hiperaktifitas dan agresif. Golongan Penghambat opiat/Opiate blockers (Naltrexone/Trexan) untuk mengontrol kebiasaan melukai diri sendiri. Golonan Penenang/Sedatif (Chloral Hydrate, Noctec, dan Benadryl) dapat mengatasi gangguan tidur. Golongan Stimulan (Ritalin, Dexedrine) Walaupun obat ini dapat mengatasi masalah gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas pada penderita autis, namun beberapa studi melaporkan kemungkinan penurunan ambang terjadinya kejang pada penggunaan obat golongan ini

Jenis Obat Untuk Autisme


Obat obat lain

Piracetam Dapat membantu anak-anak penderita autis menjadi lebih aktif berkomunikasi, meningkatkan interaksi sosial dan meningkatkan atensi serta mengurangi agresivitas. Fenluramin Masih dalam golongan obat psikotropik, fenfluramin menurunkan kadar serotonin dalam darah. Beberapa penderita autis memiliki kadar serotonin yang tinggi di dalam darah. Serotonin berpengaruh terhadap gangguan perilaku pada penderita autis dan obat ini dikatakan berpotensi dalam pengobatan penderita autis terutama anak-anak

Jenis Obat Untuk Autisme

Periactin (AKA Cyproheptadine) Obat ini juga dapat menurunkan kadar serotonin dalam darah, walaupun biasanya digunakan sebagai antihistamin, tetapi karena adanya efek terhadap serotonin, obat ini seringkali digunakan.

JenisVitamin, Mineral dan Suplemen


Dosis besar vitamin dan beberapa mineral serta zat lain, diklaim dapat bermanfaat mengatasi ataupun mencegah beberapa gangguan perilaku menjadi semakin memburuk. Vitamin tersebut termasuk vitamin B6, B12, asam folat, magnesium dan melatonin. Dalam metabolisme tubuh. Secara umum vitamin bertindak sebagai koenzim ataupun pelancar proses biokimia, dalam hal ini termasuk pada saat sintesis dan regulasi berbagai neurotransmiter dan produk-produk metabolisme lainnya. Penggunaan dosis besar zat-zat ini bervarias tingkat toksisitasnya, sedangkan efektifitas sesungguhnya masih dalam penelitian (Broadstock, 2003).

JenisVitamin, Mineral dan Suplemen

Vitamin B6 Vitamin B-12 Magnesium Vitamin C (7) Enzim pankreas. Kalsium Dimetilglisin (DMG) Diet bebas gluten dan kasein Diet Probiotik Diet lain

METODOLOGI PENELITIAN

Pengambilan Resep Resep diambil pada di Apotik Kimia Farma No. 42, 49 dan 284 pada periode 1-20 Juni 2013. Waktu Pengambilan Resep Waktu pengambilan resep dilakukan pada 1-20 Juni 2013, ketika proses PKPA dilakukan. Analisis Resep Analisis dilakukan dengan memilih salah satu resep untuk pengobatan penyakit Autis dari beberapa resep yang ditemukan pada periode 1-20 Juni 2013 di Apotek Kimia Farma No. 42, 49 dan 284. Analisis dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian resep, ketepatan obat dengan diagnosis penyakit, dosis obat, interaksi obat maupun konseling obat yang diberikan kepada pasien.

Hasil Penelitian

Hasil Penelitian Tidak ditemukan resep untuk pengobatan penyakit Autis 42, 49 dan 284 pada periode 1-30 Juni 2013.

Pembahasan
Pada periode 1-30 Juni 2013, resep pengobatan kasus Autisme tidak ditemukan di Apotek Kimia. Hal ini disebabkan karena pada umumnya penderita autisme diberi fioterapi dan dijaga makanannya. Selama ini orang beranggapan bahwa autisme adalah suatu penyakit yang sulit disembuhkan. Autisme bukanlah penyakit, autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak. Sering kali gejala terlihat pada saat anak belum berumur tiga tahun, sudah pasti autisme tidak dapat menular. Penyandang autis memiliki kecenderungan untuk menunjukkan perilaku-perilaku berulang-ulang (repetitive), terbatas (restricted), dan khas (stereotype).

Pembahasan (Lanjutan)

Dalam pengobatan, dari semua antipsikotik tidak ada data yang menunjukan salah satu obat antipsikotik lebih superior dalam menangani masalah Autisme, hanya saja kelebihan dari antipsikotik adalah mampu meminimalkan efek samping extrapiramidal dan diskinesia tardiv. Namun tidak ada data yang menunjukan salah satu obat antipsikotik lebih superior dalam hal efikasi disbanding yang lain, yang membedakannya adalah efek samping dari masingmasing obat. Hal ini yang perlu menjadi perhatian adalah faktor pertimbangan pertimbangan bagi pasien, interaksi obat, termasuk faktor harga.

KESIMPULAN

Autisme adalah gangguan perkembangan pada anankanak ynag ditandai dengan gangguan interaksi sosial seperti pengasingan diri dan ketidakmampuan berhubungan dengan orang lain, gangguan komunikasi dan bahasa seperti ecolalia, penggunaan kalimat-kalimat yang tidak sesuai dengan situasi, mutism, pembalikan kalimat atau kata, gangguan ketertarikan dan aktivitas seperti adanya aktivitas bermain yang repetitif dan stereotip serta keinginan obesif untuk mempertahankan keteraturan dan kesamaan di dalam lingkungannya.

KESIMPULAN
Gejala

klinik Autisme ditandai oleh dua macam gejala, yaitu gejala positif dan gejala negative. Ada tiga perspektif yang dapat digunakan untuk menjelaskan penyebab autisme, yaitu : perspektif psikodinamik, perspektif biologis dan kognitif. Tujuan utama dari terapi autisme adalah menolong penderitanya untuk hidup normal atau mendekati normal dalam lingkungan sosialnya. Pada Apotek Kimia Farma No. 42, 49 dan 284 , tidak ditemukan resep untuk Kasus Autisme. Dalam pengobatan, tidak ada data yang menunjukan salah satu obat antipsikotik lebih superior dalam menangani masalah Autisme, hanya saja antipsikotik mampu meminimalkan efek samping extrapiramidal dan diskinesia tardi

SARAN
Seorang

Apoteker perlu memberikan asuhan pasien yang mengalami penyakit Autis untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Diperlukan kajian mendalam yang melibatkan tenaga kesehatan dalam penanganan penyakit Autis.