Você está na página 1de 20

ANALISA JURNAL Functional Significance of Atypical Cortical Organization in Spina Bifida Myelomeningocele: Relations of Cortical Thickness and Gyrification

with IQ and Fine Motor Dexterity

Kelompok 8

Pendahuluan
Spina bifida disebut juga myelodisplasia, yaitu perkembangan abnormal pada tulang belakang, spinal cord, saraf-saraf sekitar dan kantung yang berisi cairan yang mengitari spinal cord dan menyebabkan pembentukan struktur yang berkembang di luar tubuh. (Sjamsuhidajat, 1997).

Pengertian kognitif menurut behavioral neurology, adalah suatu proses dimana semua input sensoris (taktil, visual dan auditori) akan diubah, diolah, disimpan dan selanjutnya digunakan untuk hubungan interneuron secara sempurna sehingga individu mampu melakukan penalaran terhadap input sensoris tersebut. Keterampilan motorik halus (fine motor skill) merupakan keterampilan yang memerlukan control dari otot kecil dari tubuh untuk mencapai tujuan dari keterampilan. Secara umum keterampilan motorik halus meliputi koordinasi mata dan tangan keterampilan ini membutuhkan kecermatan yang tinggi. (Maghill Ricard, 1989)

Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara tingkat penyimpangan ketebalan korteks dan gyrification dengan fungsi kognitif dan kemampuan motorik pada individu dengan Spina Bifida Myelomeningocele.

Hipotesis
Individu dengan SBM akan memiliki anomali ketebalan korteks dan gyrification pada kedua ujung ukuran kontinum, dibandingkan dengan kelompok TD Ketebalan korteks dan gyrification akan secara signifikan terkait pada gangguan perkembangan individu dengan SBM. Pada individu dengan SBM, anomali ketebalan korteks dan gyrification akan terkait dengan hasil kognitif dan motorik

Metode Penelitian
Peserta Peserta terdiri dari 64 orang dengan Spina Bifida Myelomeningocele dan 26 orang dengan TD sebagai kelompok pembanding, antara umur 8 sampai 28 tahun di Texas Childrens Hospital dan Shriners Hospital for Children in Houston Pengukuran IQ dan kemampuan motorik halus Semua peserta dilakukan Stanford-Binet Intelligence Test edisi ke-4 untuk mengukur kemampuan IQ. Sedangkan kemampuan motorik halus diukur menggunakan Purdue Pegboard Test dalam waktu interval 30 detik.

MRI Acquisition Pengukuran ketebalan korteks dan gyrification menggunakan Highresolution brain MRI dari Philips 3T scanner with SENSE (Sensitivity Encoding) technology.

Proses MRI Proses MRI ini menggunakan FreeSurfer v4.0.5 software on a 64-bit Linux computer, proses ini menggunakan skull-strip dan tiap segmen dari otak terdiri dari: gray matter, white matter, dan CSF.

(sumber: Cerebral Cortex doi:10.1093/cercor/bhs226)

Analisis Statistik
Untuk melihat hubungan antara ketebalan korteks dan LGI dengan IQ dan kemampuan motorik halus menggunakan Spearman rankorder partial correlations, dengan significant p <0.05. Umur dan gender sebagai covariate tidak signifikan berpengaruh pada hasil perbedaan ketebalan korteks dan LGI pada kedua kelompok sampel.

Hasil
Group Differences in Cortical Thickness Hasil menunjukkan bahwa pola dan besarnya perbedaan dalam ketebalan korteks antara kelompok bervariasi secara signifikan antara daerah korteks, tapi pola ini hampir sama pada 2 hemisphere. Dibandingkan dengan kelompok TD, frontalis superior dan orbitofrontal daerah lobus frontal, serta lateral dan medial daerah lobus oksipital, secara signifikan lebih tebal di SBM.

Group Differences in LGI Secara signifikan LGI lebih tinggi di SBM yang terletak di lobus frontal medial dan di parietal inferior dan daerah supramarginal dari lobus parietalis peregangan ke dalam lobus temporal inferior. Signifikan LGI rendah di SBM adalah jelas di seluruh posterior permukaan medial otak, mulai dari superior dalam parietal superior dan korteks oksipital lateral, yang mencakup permukaan medial parietal, lobus temporal, dan oksipital.

Relations of Cortical Thickness and LGI with IQ and Fine Motor Dexterity Dalam kelompok dengan SBM menunjukkan bahwa ketebalan korteks yang lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan LGI dan ketebalan korteks yang lebih rendah dikaitkan dengan tinggi LGI di sebagian besar daerah korteks. Korelasi antara ketebalan korteks dan LGI kurang konsisten dalam kelompok TD.

Ketebalan korteks berkorelasi negatif dengan IQ dan/atau keterampilan motorik halus, Sebaliknya daerah yang secara signifikan lebih tipis di SBM, ketebalan korteks berkorelasi positif dengan IQ dan/atau keterampilan motorik halus. LGI berkorelasi positif dengan IQ dan/atau keterampilan motorik halus di daerah yang secara signifikan lebih kecil gyrified di SBM, menunjukkan bahwa LGI rendah dikaitkan dengan kognitif dan hasil motorik rendah juga.

Discussion
Individu dengan SBM memiliki anomali ketebalan korteks dan gyrification di kedua ujung ukuran kontinum, mendukung hipotesis pertama. Konsisten dengan hipotesis kedua, individu dengan SBM menunjukkan umumnya asosiasi yang signifikan dan negatif antara ketebalan korteks dan gyrification. Seperti yang diperkirakan dengan hipotesis ketiga, IQ rendah dan skor kemampuan motorik halus karakteristik SBM dikaitkan dengan bidirectionally anomali ketebalan korteks dan gyrification.

Ketebalan korteks dan gyrification yang lebih rendah dan lebih tinggi pada ventrikel lateral dan pada kedua permukaan lateral dan medial otak kemungkinan berkontribusi pada terjadinya hidrosefalus dan mengganggu masalah koneksi ke korteks. (Delbigio, 2010)

Individu dengan SBM menunjukkan aktivasi yang lebih rendah dalam supramarginal kiri dan angular gyrus bilateral, serta luas permukaan yang lebih rendah/ volume materi abu-abu di angular gyrus kiri relatif terhadap kelompok TD yang berpengaruh pada fungsi pengenalan kata. Daerah vermis cerebellar midsagittal yang luas pada individu-individu dengan SBM menunjukkan defisit gerakan mata (Salman et al., 2009). Gyrification tinggi di lobus temporal, berkorelasi negatif dengan kemampuan membaca di wilayah ini.

Analisa Kelompok
Jurnal ini menyatakan bahwa fungsi kognitif dan kemampuan motorik yang rendah pada spina bifida terkait dengan anomaly ketebalan korteks dan LGI (Local Gyrification Index). Semakin menyimpang tingkat ketebalan kortikal dan gyrification di SBM -apakah lebih tinggi atau lebih rendah relatif terhadap perbandingan TD- individu yang lebih memiliki gangguan kognitif dan hasil motorik rendah. Penyimpangan ketebalan korteks dan LGI ini diakibatkan adanya gangguan perkembangan prenatal pada 4 bulan kehamilan sampai lahir (Sjamsuhidajat, 1997).

Prinsip Goldilocks mengusulkan bahwa perkembangan otak berada dalam batas homeostatis (misalnya "tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, tapi hanya benar") untuk mendukung normatif kognitif dan fungsi motor (Dennis 2009). Berat otak kurang lebih 1300-1400 gram (2% berat badan). Total permukaan kortex cerebri 2500 cm2. Lapisan abu-abu yang melapisi seluruh permukaan otak, dengan ketebalan yang bervariasi (1,5-4,5 mm) dengan rata-rata 2,5 mm (lobus frontal), paling tebal 4,5 mm (area motorik) dan paling tipis 1,5-2,2 mm (area visual) (Trends in Neuroscience, 1995).

Dalam jurnal Gyrification, Cortical And Subcortical Morphometry In Neurofibromatosis Type 1: An Uneven Profile Of Developmental Abnormalities menyebutkan bahwa peningkatan keseluruhan volume intrakranial dengan peningkatan yang tidak proporsional dalam volume dari talamus, tepat nucleus caudatus dan corpus callosum. Pada tingkat kortikal ditemukan kelainan gyrification, yang dapat mencerminkan kelainan perkembangan pada baik arsitektur kortikal dan konektivitas corticocortical.

Pernyataan ini didukung oleh Widiastuti (2005) yang mengatakan bahwa pengaruh kortikal akan mencapai hipotalamus melalui hubungan gyrus cinguli dengan formatio hippocampus, dimana formatio hippocampus memproses semua informasi yang masuk Gyrus cinguli di lobus frontal mengatur fungsi otonom seperti denyut jantung, tekanan darah, dan kognitif yaitu atensi.

Terima kasih