Você está na página 1de 8

Muhammad Rifqi Khairi. Dkk.

Efektivitas Temefos Terhadap

EFEKTIVITAS TEMEFOS TERHADAP LARVA Aedes aegypti YANG DIAMBIL DARI WILAYAH BANJARMASIN TIMUR
Muhammad Rifqi Khairi1, Istiana2, Nelly Al Audhah3
1

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin 2 Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin 3 Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

Hairi.Rifqi@gmail.com Jl. Veteran No. 128B Banjarmasin


ABSTRAK: Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Demam Dengue (DD) adalah penyakit infeksi yang sering terjadi di wilayah tropis dan Aedes aegypti adalah vektor utama penyakit ini. Selama ini pencegahan DBD dan DD dititikberatkan pada pemutusan rantai penularan virus dengue, yaitu dengan pemberantasan larva nyamuk menggunakan temefos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas temefos di wilayah Banjarmasin Timur. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan post test only with control group design. Sebanyak 700 larva instar III dan IV dikumpulkan dari hasil biakan larva generasi pertama, kemudian dikelompokkan dan diuji dengan temefos berbagai dosis yaitu 0 ppm (kontrol), 0,015 ppm, 0,03 ppm, 0,045 ppm, 0,06 ppm, 0,075 ppm, 0,09 ppm dengan 4 kali replikasi. Hasil analisis probit menunjukkan Lc50 berkisar antara 0,009 ppm dan 0,015 ppm dengan rerata 0,012 ppm untuk Lc99 berkisar antara 0,093 ppm dan 0,187 ppm dengan rerata 0,123 ppm. Nilai Lc99 ini menunjukkan bahwa larva Aedes aegypti dari wilayah Banjarmasin Timur sudah resisten terhadap temefos. Kata-Kata Kunci : temefos, efektivitas, larva Aedes aegypti. ABSTRACT: Dengue hemorrhagic fever (DHF) and dengue fever (DD) is a common infectious disease in the tropics area, Aedes aegypti is the main vector of the disease. Nowadays the DHF and DD prevention are focused on breaking the chain of transmission of dengue virus using temephos to eradicate mosquito larvaes. This study aims to know the effectiveness of temephos in East Banjarmasin. This study is an experimental research with model post-test only with control group design. A total of 700 larvaes in third and fourth instar were collected from first generation larvae culture, then grouped and tested with various doses of temephos; 0 ppm (control) , 0,015 ppm, 0,03 ppm, 0,045 ppm, 0,06 ppm, 0,075 ppm, 0,09 ppm with 4 times replication. Results of probit analysis showed Lc50 between 0,009 ppm and 0,015 ppm with a mean of 0,012 ppm, Lc99 ranged between 0,093 ppm to 0,187 ppm with a mean of 0,123 ppm. This Lc 99 value shows an increase in resistance status by Aedes aegypti larvae against temephos, which means it is resistant to temephos and use of temephos is no longer effective. Key words : temephos, effectiveness of temephos, Aedes aegypti larvae

PENDAHULUAN: Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit virus yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Infeksi ini disebabkan oleh virus dengue strain 1 sampai 4 dan umumnya dijumpai di daerah tropis termasuk Indonesia. Manifestasi klinisnya bervariasi mulai dari infeksi tanpa gejala, demam yang tidak diketahui sebabnya, gejala mirip influenza yang dikenal sebagai demam dengue, terkadang bisa menjadi kasus fatal, ditandai dengan perdarahan dan syok yang disebut DBD (1,2,3,4). Kasus DBD yang pertama dan kedua ditemukan di Manila pada tahun 1954 dan 1956, kemudian yang ke tiga kalinya ditemukan di Bangkok pada tahun 1958. Setelah itu, DBD menyebar luas secara global melalui negara-negara tropis di dunia. Sejak tahun 1968, di Indonesia jumlah kasus DBD semakin meningkat dari tahun ke tahun, bahkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) pada tahun 1973, 1978, 1983 dan tahun 1986 (1,2,3,4). Penyakit DBD di Indonesia menduduki peringkat ke 2 dalam sepuluh besar penyakit rawat inap rumah sakit tahun 2010 dengan jumlah kasus pada lakilaki sebanyak 30.232 orang dan perempuan sebanyak 28.883 orang dan jumlah yang meninggal sebanyak 325 orang dengan Case Fatality Rate (CFR) 0,55%. Tahun 2011 di Kalimantan Selatan ditemukan 400 kasus DBD dari 3.696.903 penduduk dan 7 orang diantaranya meninggal dunia (5). Jumlah Penyakit DBD di lima Kecamatan Banjarmasin pada tahun 2011 sebanyak 25 kasus dengan 2 orang meninggal dunia dan pada tahun 2012 mengalami peningkatan menjadi 67 kasus dengan 3 orang meninggal dunia. Diantara lima kecamatan yang ada di Banjarmasin, Kecamatan Banjarmasin Timur memiliki angka kejadian DBD yang paling banyak pada tahun 2012, yaitu sebanyak 20 kasus dengan 1 orang meninggal dunia (6). Sampai saat ini belum ditemukan obat dan vaksin bagi penyakit DBD, oleh karena itu pencegahan menjadi titik berat penanganan kasus DBD disamping perawatan penderita. Salah satu pencegahannya adalah dengan pengendalian nyamuk, yang terbagi menjadi empat kategori antara lain pemusnahan sarang nyamuk dan pengaturan lingkungan, pengontrolan secara biologi, pengontrolan secara kimia serta perlindungan fisik terhadap gigitan nyamuk. Oleh karena cara kerjanya yang cepat dan kurangnya pilihan lain dalam hal pembasmian vektor dengue, pengendalian nyamuk secara kimia adalah pilihan utama untuk pembasmian vektor dengue (7). Temefos 1% (abate 1 SG) adalah larvasida yang paling banyak digunakan di Indonesia untuk mengendalikan larva Aedes aegypti penyebab DBD. Larvasida tersebut telah digunakan selama lebih dari 36 tahun, yakni sejak tahun 1976, dan abate mulai digunakan secara massal pada tahun 1980 untuk program pemberantasan Aedes aegypti. Penggunaan insektisida dalam jangka waktu yang lama memberikan tekanan seleksi terhadap serangga target insektisida tersebut yaitu Aedes aegypti, yang membuatnya menjadi lebih cepat resisten. Hal ini terutama terjadi di daerah endemik DBD (4,8).

Muhammad Rifqi Khairi. Dkk. Efektivitas Temefos Terhadap

Adanya resistensi larva Aedes aegypti terhadap temefos di Brazil, Venezuela, Kuba, French Polynesia dan Karibia telah dilaporkan. Malaysia dan Pnom Penh (Kamboja) pada tahun 1976 juga telah dilaporkan adanya larva Aedes aegypti yang resisten terhadap temefos, kemudian disusul Thailand pada tahun 1980 dan Singapura pada tahun 1986, sedangkan di Indonesia belum banyak laporan mengenai resistensi larva nyamuk Aedes aegypti terhadap temefos, termasuk di Banjarmasin (4). Gafur et al (2006) dalam penelitiannya menyatakan bahwa larva Aedes aegypti di wilayah Banjarmasin Utara masih sensitif terhadap pemaparan temefos namun mulai mengalami penurunan efektivitas. Khomariyah (2009) juga melaporkan larva Aedes aegypti di wilayah Banjarmasin Barat masih sensitif terhadap temefos. Walaupun di daerah tersebut dilaporkan larva Aedes aegypti masih sensitif terhadap temefos, tidak menutup kemungkinan telah terjadi resistensi larva Aedes aegypti terhadap temefos di wilayah endemik DBD lain di Kalimantan Selatan, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui efektifitas temefos di wilayah endemik lain di Kalimantan Selatan, salah satunya yaitu Banjarmasin Timur (4,9). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas temefos terhadap larva nyamuk Aedes aegypti yang diambil dari wilayah Banjarmasin timur, serta menghitung dosis efektif temefos yang dapat membunuh 50% dan 99% (Lc50 dan Lc99) larva Aedes aegypti yang diambil dari wilayah Banjarmasin Timur. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pihak terkait agar program pengendalian penyakit DBD di Banjarmasin dapat berjalan dengan baik sehingga angka morbiditas dan mortalitas dapat diturunkan. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan pendekatan posttestonly with control group design. Subjek penelitian ini adalah larva nyamuk Aedes aegypti instar III-IV generasi kedua yang dikolonisasi di Laboratorium Parasitologi FK Unlam Banjarmasin. Sumber larva Aedes aegypti diambil dari rumah penduduk di 3 kelurahan di Kecamatan Banjarmasin Timur dengan cara purposive sampling. Penelitian dilakukan di Kecamatan Banjarmasin Timur untuk mendapatkan subjek penelitian dan di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin untuk uji efektifitas larvasida temefos. Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan dari bulan Juni sampai bulan November. HASIL DAN PEMBAHASAN Larva Aedes aegypti instar III dan IV yang sudah didapatkan dari hasi pembiakan nyamuk generasi pertama yang diambil dari wilayah Banjarmasin Timur kemudian dibagi menjadi tujuh kelompok yaitu satu kelompok kontrol dan enam kelompok perlakuan dengan konsentrasi temefos berbeda yakni konsentrasi 0,0015 g/l (0,015 ppm); 0,0030 g/l (0,03 ppm); 0,0045 g/l (0,045 ppm); 0,0060 g/l 3

(0,06 ppm); 0,0075 g/l (0,075 ppm); 0,0090 g/l (0,09 ppm) dengan empat kali replikasi untuk masing-masing kelompok. Kemudian dihitung jumlah larva yang mati dalam 24 jam. Banyaknya larva nyamuk yang mati dapat dilihat pada Tabel 5.1. Tabel 5.1. Kematian larva nyamuk Aedes aegypti setelah pemberian temefos berbagai konsentrasi. No Konsentrasi (ppm) Total Larva (ekor) 25 25 25 25 25 25 25 Kematian larva (ekor) Replikasi ke1 0 15 20 20 24 24 25 2 0 16 22 23 23 24 25 3 0 16 21 19 24 24 25 4 0 13 19 22 24 25 25 Rerata Kematian Larva (%) 0 60 82 84 91 97 100

1 2 3 4 5 6 7

0 0,015 0,03 0,045 0,06 0,075 0,09

Dapat dilihat pada tabel 5.1 untuk kelompok kontrol, tidak ada larva nyamuk yang mati, hal ini menunjukkan kematian larva hanya dipengaruhi oleh pemberian temefos. Uji abbot atau koreksi kematian larva pada kelompok kontrol tidak dilakukan karena tidak ada larva yang mati pada kelompok ini. Pemberian temefos dosis terkecil pada penelitian ini yaitu konsentrasi 0,0015 g/l atau 0,015 ppm menyebabkan kematian sebesar 60% dan pada pemberian dosis terbesar yaitu konsentrasi 0.0090 g/l atau 0,09 ppm angka kematiannya sebesar 100%. Hasil perhitungan statistik analisis probit menunjukkan Lc50 berkisar antara 0,009 ppm dan 0,015 ppm dengan rerata 0,012 ppm. Lc99 berkisar antara 0,094 ppm dan 0,187 ppm dengan rerata 0,123 ppm. Menurut WHO, dosis diagnostik untuk mendeteksi adanya resistensi larva Aedes aegypti terhadap temefos adalah jika Lc99 0,02 ppm, sehingga apabila Lc99 24 jam melebihi angka 0,02 ppm, maka populasi larva nyamuk tersebut dikatakan resisten. Nilai Lc99 untuk larva Aedes aegypti dari wilayah Banjarmasin Timur melebihi angka 0,02 ppm, hal ini menunjukkan adanya penurunan kerentanan oleh larva Aedes aegypti terhadap temefos, yang artinya larva ini sudah resisten (10,11). Temefos di Indonesia dipakai dalam bentuk abate granul pasir yang didalamnya mengandung temefos sebanyak 1%. Dosis yang direkomendasikan oleh Ditjen P2MPL adalah 10 gram abate (temefos 1%) dalam 100 liter air atau 1 ppm. Kejadian resistensi terhadap temefos dapat menyebabkan larva menjadi tidak merespon atau toleran terhadap larvasida ini. Sifat resisten ini dapat diturunkan kepada nyamuk generasi berikutnya, sehingga di masa depan akan lebih banyak nyamuk yang resisten terhadap temefos akibatnya, penggunaan temefos tidak akan efektif lagi (12). 4

Muhammad Rifqi Khairi. Dkk. Efektivitas Temefos Terhadap

Penelitian oleh Gafur et al pada 2006 menunjukan larva Aedes aegypti di wilayah Banjarmasin Utara masih sensitif terhadap temefos, namun sudah menunjukkan adanya penurunan efektivitas dari temefos terhadap larva Aedes aegypti. Penelitian oleh Istiana et al pada 2012 menunjukkan bahwa larva Aedes aegypti di wilayah Banjarmasin Barat resisten terhadap temefos (4,11). Beberapa kota di Indonesia selain Banjarmasin juga dilaporkan mengenai resistensi temefos diantaranya adalah Surabaya, Palembang, Palu, dan beberapa wilayah di Bandung. Resistensi terhadap temefos juga dilaporkan di berbagai negara lain di dunia, seperti di Brazil, Argentina, Venezuela, Kuba, India, Karibia, dan Thailand (13). Penggunaan insektisida kimia dalam jangka lama dengan frekuensi per tahun yang tinggi telah menjadi pengalaman umum dilakukan khususnya untuk wilayah endemis DBD. Insektisida yang banyak digunakan adalah kelompok organofosfat yaitu temefos dan malation yang digunakan sejak tahun 1974 di Indonesia, berarti insektisida tersebut telah dipakai selama lebih dari 38 tahun secara terus menerus untuk mencegah kejadian DBD di wilayah endemis, hal ini akan menyebabkan terjadinya resistensi terhadap insektisida tersebut, yaitu secara bertahap insektisida tersebut akan menekan dan menyeleksi serangga target untuk menjadi toleran sampai resisten terhadapnya (14). Ada dua macam resistensi, yaitu resistensi bawaan dan resistensi yang didapat. Ada segolongan serangga yang pada dasarnya sudah resisten terhadap suatu insektisida dan sifat ini diturunkan pada generasi selanjutnya, hal ini disebut resistensi bawaan, hal ini dapat terjadi pada perkawinan antara serangga yang memiliki sifat resisten sehingga akan memunculkan generasi yang dominan resisten, atau juga dapat terjadi karena mutasi genetik. Menurut mekanismenya, resistensi bawaan dibagi dua. Pertama, resistensi fisiologik bawaan yang disebabkan beberapa faktor yaitu daya absorbsi insektisida yang sangat lambat oleh serangga, daya penyimpanan insektisida dalam lemak sehingga alat vital serangga tidak terserang oleh insektisida, serta daya metabolisme dan ekskresi insektisida oleh enzim dalam tubuh serangga. Kedua, resistensi tingkah laku bawaan yang disebabkan oleh faktor-faktor perubahan habitat sehingga serangga dapat menghindar dari pestisida atau disebut dengan sikap avoidance (15). Ada serangga yang menyesuaikan diri terhadap pengaruh insektisida sehingga tidak mati dan membentuk populasi baru yang resisten, ini disebut resistensi yang didapat. Ada beberapa macam resistensi yang didapat, yaitu resistensi fisiologik yang didapat disebabkan timbulnya toleransi karena dosis subletal. Resistensi tingkah laku yang didapat, yaitu serangga dapat menghindar dari insektisida akibat pemberian dosis subletal. Resistensi silang, yaitu satu spesies serangga resisten terhadap dua macam insektisida yang segolongan atau seseri dan resistensi ganda yaitu satu spesies serangga resisten terhadap dua macam insektisida dari dua golongan atau dua seri (15). Temefos di Indonesia dipakai dalam bentuk abate bubuk pasir yang mengandung 1% temefos. Cara pemakaiannya adalah dengan menaburkan 10 gram abate ke dalam 100 liter air atau 0,1 g/l. Abate mudah didapatkan di apotek, 5

dan kadang dibagikan secara gratis di puskesmas. Namun, sebagian warga masih ragu untuk memakai larvasida ini karena takut akan merusak air yang mereka konsumsi serta takut mengalami efek samping akibat pemberian abate sehingga warga menggunakannya tidak sesuai dosis efektif anjuran pemerintah yaitu 0,1 g/l. Pemakaian abate yang tepat tidak akan membahayakan tubuh, karena abate tidak beracun bagi manusia dan mamalia, namun sangat ampuh untuk membunuh larva nyamuk. Pemakaian abate yang tidak sesuai ini dapat memicu terjadinya resistensi serangga target (11,15). PENUTUP Hasil penelitian ini secara umum dapat disimpulkan bahwa temefos tidak efektif terhadap larva Aedes aegypti yang diambil dari wilayah Banjarmasin Timur. Secara khusus, dapat disimpulkan bahwa dosis efektif temefos yang dapat membunuh 50% atau Lc50 larva Aedes aegypti yang diambil dari wilayah Banjarmasin Timur berkisar antara 0,009 ppm sampai dengan 0,015 ppm dengan rerata 0,012 ppm dan dosis efektif yang dapat membunuh 99% atau Lc99 berkisar antara 0,093 ppm sampai dengan 0,187 ppm dengan rerata 0,123 ppm. Wilayah dengan larva Aedes aegypti yang telah resisten terhadap temefos, diperlukan penggantian dengan larvasida lain yang lebih efektif sehingga angka kejadian DBD dan DD dapat diturunkan. Selain itu juga diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai resistensi larva Aedes aegypti di wilayah lain di seluruh Kalimantan Selatan yang endemis DBD, sehingga pemerintah dan masyarakat dapat waspada dengan kejadian resistensi ini dan dapat memilih cara yang paling tepat untuk mengatasi kejadian DBD dan DD di masa yang akan datang.

Muhammad Rifqi Khairi. Dkk. Efektivitas Temefos Terhadap

DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. Dengue guidelines for diagnosis, treatment, prevention and control. 2009. 2. Chuansumrit A and Kanchana AT. Pathophysiology and management of dengue hemorrhagic fever. Journal Compilation LMS Group Transfusion Alternatives in Transfusion Medicine 2006; 8: 311. 3. Widiyanto T. Kajian manajemen lingkungan terhadap kejadian demam berdarah dengue (DBD) di kota Purwokerto Jawa Tengah. Tesis. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, 2007. 4. Gafur A, Mahrina and Hardiansyah. Kerentanan larva Aedes Aegypti dari Banjarmasin Utara terhadap temefos. Bioscientiae 2006; 3: 73-82. 5. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Data Kesehatan Indonesia tahun 2011. 6. Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin. Kasus DBD Per Kelurahan Sekota Banjarmasin Tahun 2003-2013. 7. Shian LC. The effect of sublethal concentration of abate on Aedes aegypti (Linnaeus) and Culex quinquefasciatus. Tesis. Malaysia: Universitas Sains Malaysia, 2007. 8. Lidia K. and Setianingrum ELS. Deteksi dini resistensi nyamuk Aedes albopictus terhadap insektisida organofosfat di daerah endemis demam berdarah dengue di Palu (Sulawesi Tengah). MKM 2008; 3: 105-110. 9. Khomariyah E. Kerentanan larva Aedes aegypti dari wilayah Banjarmasin Barat terhadap temefos sebagai larvasida. Karya Tulis Ilmiah. Banjarmasin: Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, 2009. 10. Widawati M, Prasetyowati H. Efektivitas ekstrak buah Beta vulgaris L. (buah bit) dengan berbagai fraksi pelarut terhadap mortalitas larva Aedes aegypti. Aspirator 2013; 5: 23-29. 11. Istiana, Heriyanti F, Isnaini. Status kerentanan larva Aedes aegypti terhadap temefos di Banjarmasin Barat. Jurnal Buski 2012; 4: 53-58. 12. Rosmini, Garjito TA, Risti YL, et al. Aplikasi temefos dalam reservoir air PDAM terhadap penurunan indeks jentik Aedes aegypti di wilayah kota Palu, Sulawesi Tengah. Jurnal Ekologi Kesehatan 2006; 5: 409-416. 7

13. Wati FA. Pengaruh air perasan kulit jeruk manis (Citrus aurantium sub spesies sinensis) terhadap tingkat kematian larva Aedes aegypti instar III in vitro. Skripsi. Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, 2010. 14. Sukowati S, Shinta. Status kerentanan populasi larva Aedes aegypti terhadap temefos di daerah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) di DKI Jakarta. Jurnal Ekologi Kesehatan 2007; 6: 504-548. 15. Natadisastra D, Agoes R. Parasitologi kedokteran: ditinjau dari organ tubuh yang diserang. Jakarta:ECG, 2009.