Você está na página 1de 6

Analisa a.

Analisa Percobaan Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui nilai permanganat dengan metode oksidasi suasana asam dalam contoh air dan air limbah yang mempunyai kadar klorida (Clzzz ) kurang dair 300 mg/L. Untuk itu digunakan metode titrasi permanganometri dimana larutan di titrasi dengan menggunakan larutan standar KMnO 4 0,01N, dimana titik ahir dari larutan ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi berwarna merah muda. Pertama-tama praktikan memasukkan 100 ml sampel ke dalam Erlenmeyer 300 ml kemudian menambahkan kurang lebih 3 buah batu didih.penambahan batu didih ini dimaksudkan agar ketika larutan dipanaskan nanti panasnya akan merata ke seluruh larutan. Kemudian beberapa tetes KMnO 4 0,01N ditambahkan hingga larutan berwarna merah muda. Penambahan beberapa tetes KMnO 4 ini berfungsi sebagai indikator zat organik dalam air sampel. Lalu praktikan menambahkan 5 ml asam sulfat 8 N bebas zat organik (seharusnya akan berwarna menjadi merah muda) setelah itu larutan dipanaskan diatas pemanas listrik pada suhu 105C 2C, namun bila terdapat bau H 2

S, proses pemanasan diteruskan selama beberapa menit. Pemanasan ini bertujuan untuk mengukur jumlah KMnO 4 yang digunakan untuk mengoksidasi seluruh mikroorganisme, sehingga untuk mengetahui jumlah KMnO 4 telah habis digunakan, warna merah mudanya akan semakin hilang (mendekati bening/ kembali seperti warna semula). Kemudian ditambahkan 10 ml larutan baku KMnO 4 lalu panaskan kembali selama 10 menit. Setelah itu 10 ml larutan baku asam oksalat 0,01 N ditambahkna ke dalam larutan lalu titrasi larutan sampel dengan menggunakan kalium permanganat (KMnO 4 ) 0,01 N hingga berwarna merah muda, kemudian catat volume titrasi KMnO 4. b.

Analisa Hasil Berdasarkan percobaan, diperoleh data titrasi KMnO 4 sebagai berikut: sebelum Sesudah terpakai KMnO 4

22 39 17ml Kemudian data tersebut diolah dengan menggunakan persamaan: KMnO 4 mg/L =

[(

Dimana: d : volume sampel a : volume total KMnO 4 yang digunakan saat titrasi f : merupakan faktor pengenceran sampel Setelah dilakukan pengolahan data, diperoleh kandungan kadar permanganat dalam air sampel sebesar 22,12 mg/L. Kadar ini tergolong tinggi

jika dibandingkan dengan standar Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 mengenai Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air yang dibatasi maksimum sebesar 10 mg/L. berdasarkan standar tersebut, dapat

disimpulkan bahwa air sampel belum layak untuk dapat menjadi air baku kelas 1 yang diperuntukkan untuk menjadi air baku air minum. Tingginya kadar permanganat dalam air sampel dapat menyebabkan adanya rasa ataupun warna pada air, selain itu tingginya kadar permanganat dalam air dapat memicu timbulnya berbagai penyakit pada manusia jika dikonsumsi dalam jumlah besar, seperti menyebabkan kerusakan pada ginjal, hati,kulit, sistem saraf pusat (CNS) dan memberikan efek toksik pada manusia sehingga berbahaya jika terjadi kontak kulit (dalam paparan jumlah tinggi) dan dari kontak mata (korosif) bahkan jika dikonsumsi dalam jumlah yang amat besar dapat memicu timbulnya penuyakit manganism yaitu sejenis penyakit Parkinson, gangguan tulang, osteoporosis, gangguan kardiovaskuler, hati, reproduksi, neurological symptoms dan memicu epilepsi. Untuk itu, guna menjaga kualitas estetika air dan menjamin kesehatan konsumen, air sampel memerlukan pengolahan lebih lanjut untuk dapat layak dikonsumsi sebagai air baku kelas 1 ataupun air minum.

c.

Analisa Kesalahan Berdasarkan percobaan penentuan angka permanganat, dapat dimungkinkan terjadi ketidakakuratan data yang disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

Dalam pengambilan sampel dan larutan tidak tepat pada kondisi terra sehingga

dapat mempengaruhi hasil pengukuran akibat volume yang berlebih/ kurang.

Ketidakakuratan saat proses pemanasan, hal ini memungkinkan panas belum merata sehingga dapat mempengaruhi hasil .karena mikroorganisme belum teroksidasi secara oksidasi.

Adanya gelembung udara saat proses pemipetan sehingga dapat mengakibatkan volume berkurang dan dapat mempengaruhi hasil percobaan sehingga mengakibatkan keakuratan data berkurang.

Kurangnya volume KMnO 4 dalam buret ketika proses titrasi sehingga menyulitkan pembacaan volume yang telah digunakan saat titrasi dan dapat menyebabkan kesalahan pembacaan yang dapat mempengaruhi keakuratan data.

Ketidaktelitian dalam proses titrasi sehingga memungkinkan volume KMnO 4

yang digunakan berlebih dan mengakibatkan hasil pengukuran kurang akurat. VIII.

Kesimpulan

Nilai angka permanganat yang diperoleh dalam praktikum kali ini adalah 22,12 mg/L. Kadar ini tergolong tinggi jika dibandingkan dengan standar Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 mengenai Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air yang dibatasi maksimum sebesar 10 mg/L. berdasarkan standar tersebut, dapat disimpulkan bahwa air sampel belum layak untuk dapat menjadi air baku kelas 1 yang diperuntukkan untuk menjadi air baku air minum. IX.

Kepustakaan Chemistry for Environmental Engineering and Science.Clair N.Sawyer, Perry L. McCarty, Gene F.Parkin.2003 Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 907 tahun 2002 Tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. X. Gambar 1. Saat diteteskan KMnO 4 0,01 N

Gambar 2. Proses Pemanasan