Você está na página 1de 10

A.

ANALISA JURNAL Jurnal penelitian ini membahas tentang pengaruh pemberian susu kedelai terhadap kadar glukosa darah pada diet pasien diabetes melitus di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang. Sampel yang dibutuhkan adalah sebanyak 10 orang yang terbagi menjadi 2 kelompok yaitu 5 orang sebagai kelompok yang diberikan terapi obat,terapi diet yang sama dan pemberian susu kedelai.Sedangkan 5 orang lainnya sebagai kelompok yang hanya diberikan terapi obat dan terapi diet yang sama.Variabel yang diukur pada penelitian ini adalah kadar glukosa darah puasa/GDP dan 2 jam

postpradial. Seluruh sampel penelitian mendapatkan diet DM dengan standart energi 1700kkal.

B. JUDUL Pengaruh Pemberian Susu Kedelai Terhadap Kadar Glukosa Darah pada Diet Pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang. C. ABSTRAK Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian susu kedelai terhadap kadar glukosa darah pada diet pasien diabetes mellitus di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang. Pasien yang diberikan obat dan diet dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan obat dan diet serta pemberian susu kedelai terhadap penurunan kadar glukosa darah. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Quasy Experiment Design, metode yang rancangan

digunakan adalah The Non

Randomized Control Group orang pasien diabetes mellitus, dipilih dengan metode Non Probability Sampling yaitu dengan Consecutive Sampling dan dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan yang mendapat terapi obat + diet yang sama + pemberian susu kedelai (n = 5 orang) dan kelompok kontrol atau pembanding yang mendapat terapi obat + diet yang sama (n = 5 orang). Variabel yang diukur pada penelitian ini adalah kadar glukosa darah puasa dan 2 jam post pradial. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sampel penelitian yang berjenis kelamin perempuan

berjumlah 3 orang dan yang berjenis kelamin laki laki berjumlah 7 orang dengan usia antara 40 70 tahun dan sebagian besar sampel berstatus gizi kurang dan normal. Seluruh sampel penelitian mendapatkan diet DM dengan standart energi 1700 kalori. Rata rata tingkat konsumsi kelompok kontrol dan kelompok perlakuan termasuk dalam kategori sedang dan baik khususnya energi, protein, lemak, karbohidrat dan serat. Penurunan kadar glukosa darah puasa pada kelompok perlakuan (16.40 7.64) lebih besar daripada kelompok kontrol (-6.00 2.74) dan ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (P = 0.02), untuk kadar glukosa darah 2 jam post pradial pada kelompok perlakuan (-46.60 27.31) lebih besar daripada kelompok kontrol (-10.20 3.11) dan ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (P = 0.01). Saran untuk pengembangan penelitian ini adalah perlu ada penelitian lain tentang pengaruh pemberian produk fermentasi dari susu kedelai seperti soygurt terhadap penurunan kadar glukosa darah, karena setelah difermentasi terjadi peningkatan kandungan zat gizi. Dan perlu dilakukan penelitian lain dengan menggunakan jumlah sampel yang lebih banyak dalam jangka waktu yang relatif lebih lama untuk mengklarifikasi hasil penelitian ini.

D. PENDAHULUAN Meningkatnya prevalensi penyakit degeneratif di beberapa negara berkembang, akibat peningkatan kemakmuran di negara bersangkutan dan akhir-akhir ini banyak disoroti. Peningkatan perkapita income dan perubahan gaya hidup terutama di kota-kota besar, menyebabkan

peningkatan prevalensi penyakit degeneratif, seperti salah satunya adalah diabetes mellitus (Soegondo,2002). Diabetes mellitus merupakan

sekumpulan gejala yang timbul pada seseorang, ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan insulin, baik secara absolute maupun relatif. Penyakit ini bersifat menahun atau kronis. Penyakit diabetes mellitus yang sering disingkat DM bisa timbul secara mendadak pada anak-anak dan orang dewasa muda. Pada orang yang telah berusia lanjut, penyakit ini sering

muncul tanpa gejala dan sering diketahui bila yang bersangkutan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin (Dalimartha, 2002). Pada tahun 1987 jumlah diabetes mellitus secara global adalah 37 juta, tahun 1992 100 juta, tahun 2000 jumlahnya 150 juta dan diperkirakan pada tahun 2010 akan mencapai 200 juta. Di Indonesia pada beberapa penelitian yang telah dilakukan, kejadian diabetes mellitus di daerah pedesaan prevalensinya berkisar antara 1% - 2,5% namun di kota-kota besar dapat mencapai 4 - 6 (Prosiding ASDI, 2005). Sejauh ini, penyebab penyakit diabetes mellitus yaitu karena tubuh kekurangan insulin dalam kuantitas yang besar sehingga tidak dapat

mengatur kadar gula dalam darah. Bila kadar gula dalam darah meningkat, maka terjadilah diabetes mellitus (Wijayakusuma, 2003). Penyakit diabetes mellitus harus diperhatikan dan ditangani dengan baik karena dapat mengakibatkan timbulnya komplikasi pada berbagai organ tubuh (Noer.S, 1996). Untuk itu perlu dilakukan pengendalian dan pencegahan serta pengaturan melalui terapi diet, olahraga dan pengobatan bagi penderita diabetes mellitus sehingga dapat mencegah peningkatan kadar glukosa dalam darahnya (Karyadi Elvina, 2002). Dari hasil survey pendahuluan di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang, penyakit diabetes mellitus termasuk dalam 10 penyakit terbesar. Dan dari hasil orientasi diperoleh data jumlah pasien yang rawat inap diperkirakan rata-rata bulannya. Diet merupakan landasan pengelolaan bagi penderita diabetes diabetes 20-25 pasien setiap

mellitus yang sangat penting peranannya. Untuk penderita

mellitus tipe II dapat dicegah dan sembuh dengan pengaturan pola makan, terutama makanan yang mengandung sedikit karbohidrat disertai latihan fisik dan diikuti dengan penurunan berat badan. Melalui diet, penderita diabetes mellitus dapat juga mencegah peninggian kadar glukosa dalam darahnya (Karyadi. E, 2002). Salah satu terapi diet untuk menanggulangi dan mencegah diabetes mellitus adalah dengan memanfaatkan berbagai macam makanan fungsional salah satunya adalah susu kedelai. Suplementasi susu kedelai memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Susu

kedelai merupakan susu yang terbuat dari ekstrak kedelai yang mengandung protein tinggi (AAK, 2003). Dengan mengkonsumsi susu kedelai atau olahannya secara intensif, pancreatic island dapat membesar sehingga produk insulin pun akan bertambah (Wijayakusuma, 2003). Pada susu kedelai juga mengandung senyawa yang disebut

lesitin, yang mempunyai fungsi sangat baik didalam tubuh, terutama untuk keseimbangan metabolisme. Bahkan lesitin mempunyai peran yang baik didalam pengendalian kandungan glukosa darah dan kolesterol darah (Suriawiria, 2002). Lesitin juga sebagai antioksidan yang mampu menjaga sel-sel pada pankreas untuk tidak mengalami kerusakan akibat oksidasi, serta mampu meregenerasi sel-sel yang rusak dengan cepat sehingga ketika pankreas diberi tambahan lesitin maka sel-sel pankreas akan

berfungsi dengan baik kembali serta dengan bantuan lesitin pula insulin mampu diproduksi kembali secara maksimal (http ://www. Iptek.net.id.) online dan diakses tanggal 19 Desember 2005. Selain itu susu kedelai juga mengandung asam amino arginin yang mampu menjaga

keseimbangan hormon insulin. Dan protein dalam susu kedelai lebih mudah diterima organ ginjal dibandingkan dengan protein dalam hewani. Karena itu, susu kedelai baik dikonsumsi oleh penderita diabetes mellitus. Susu kedelai dapat dijadikan terapi pendukung bersama obat antidiabetes (Mudjajanto, 2005). 1. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh pemberian susu kedelai pada diet pasien diabetes mellitus terhadap penurunan kadar glukosa darah puasa dan 2 jam postprandial di ruang rawat inap Rumah Sakit dr. Saiful Anwar Malang 2. Hipotesis Penelitian Pemberian susu kedelai pada diet pasien diabetes mellitus dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa dan 2 jam postprandial daripada yang tidak mendapat pemberian susu kedelai selain terapi obat dan terapi diet.

3. Metodologi Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen dengan Quasy Experiment Design. Menggunakan Quasy Experiment Design karena hanya memenuhi dua prinsip penelitian eksperimen, yaitu kontrol dan replikasi. Quasy Experimen Design yang digunakan, yaitu The Non Randomized Control Group Pretest-Post test Design. Populasi penelitian adalah pasien diabetes mellitus yang didiagnosa

hiperglikemia. Sampel yang diambil adalah pasien hiperglikemia yang dirawat di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang, dengan metode Non Probability Sampling yaitu dengan Consecutive Sampling karena sampel yang diambil berdasarkan pasien yang ada pada saat itu dan yang memenuhi kriteria sampel yang telah ditetap Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang dan dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2006. Data disajikan dalam bentuk grafik dan tabel. Untuk mengetahui apakah ada beda rata-rata kadar glukosa darah antara kelompok kontrol dan perlakuan, menggunakan metode statistik T-test (Paired Samples T-test dan Independen Samples T-test). Instrumen analisis data perubahan kadar glukosa darah dianalisis menggunakan program SPSS (Statistical Pockage for Social Science) dengan versi 10 for Windows 2000.

E. HASIL Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah pasien yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang yang telah memenuhi kriteria sampel yang telah ditetapkan yaitu pasien laki - laki atau perempuan dengan usia 40 75 tahun, pasien mendapatkan obat diabetes mellitus yang sama, mendapatkan diet yang sama dari Rumah Sakit dan bersedia mengikuti penelitian ini sampai selesai. Sampel terbagi menjadi 2 kelompok yaitu 5 sampel pada kelompok kontrol dan 5 sampel pada kelompok perlakuan. Selama 7 hari pengamatan untuk masing masing sampel, kelompok kontrol mendapatkan terapi obat dan terapi diet. Sedangkan untuk kelompok perlakuan selain mendapatkan terapi obat dan

terapi diet juga mendapatkan tambahan pemberian susu kedelai sebagai makanan selingan atau snack. Terdapat 70% sampel berjenis kelamin laki - laki dan 30% sampel berjenis kelamin perempuan. Usia sampel antara 40 - 70 tahun diperoleh 60% berusia dibawah 50 tahun dan 40% berusia 50 tahun. Pekerjaan yang terbanyak adalah swasta (60 %). Diperoleh sampel pada kelompok kontrol dengan status gizi kurang (underweight) sebanyak 40% dan status gizi normal ( ideal) 60%. Sedangkan pada kelompok perlakuan status gizi kurang underweight) 60% dan dengan status gizi normal (ideal) sebanyak 40%. Selama penelitian diperoleh hasil tingkat konsumsi baik pada kelompok kontrol sebanyak 3 orang sampel (60%), tingkat konsumsi sedang sebanyak 1 orang sampel (20%), dan tingkat konsumsi kurang

sebanyak 1 orang sampel (20%). Sedangkan pada kelompok perlakuan tingkat konsumsi baik sebanyak 2 orang sampel (40%) dan tingkat konsumsi sedang sebanyak 3 orang sampel (60%). Secara statistik tingkat konsumsi energi, protein, lemak, dan karbohidrat antara dua kelompok tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (P > 0.05), kecuali untuk tingkat konsumsi serat antara dua kelompok terdapat perbedaan yang bermakna (P < 0.05). Perubahan kadar glukosa darah puasa dan 2 jam post pradial pada kelompok kontrol yaitu pasien diabetes mellitus yang diberi diet dan obat yang sama dan pada kelompok perlakuan yaitu pasien diabetes mellitus yang mendapat pemberian susu kedelai, diet dan obat yang sama. Pengukuran kadar glukosa darah puasa dilakukan pada awal dan akhir perlakuan untuk setiap sampelnya, pada kelompok kontrol terjadi penurunan kadar glukosa darah puasa rata rata 6.0 mg/dl sedangkan pada kelompok perlakuan terjadi penurunan kadar glukosa darah puasa sebesar 16.40 mg/dl. Sedangkan untuk kadar glukosa darah 2 jam post pradial pada kelompok kontrol terjadi penurunan rata rata 10.20 mg/dl dan pada kelompok perlakuan terjadi penurunan kadar glukosa darah puasa sebesar 46.60 mg/dl.

F. PEMBAHASAN Pada penelitian ini terdapat 10 orang sampel yang terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu 5 orang sampel pada kelompok kontrol dan 5 orang sampel pada kelompok perlakuan dan dilakukan pengamatan selama 7 hari pada masing - masing sampel. Diperoleh 70 sampel berjenis kelamin laki ? laki dan 30% sampel berjenis kelamin perempuan. Usia sampel antara 40 - 70 tahun diperoleh 60% berusia dibawah 50 tahun dan 40% berusia 50 tahun. Pekerjaan yang terbanyak adalah swasta (60 %). Menurut Sidartawan Soegondo (2002), resiko tinggi mengalami diabetes mellitus adalah orang dengan riwayat keluarga dengan diabetes, orang yang obese (IMT > 27 kg/m2 ), dan berumur diatas 40 tahun dengan faktor tersebut diatas. Diperoleh sampel pada kelompok kontrol dengan status gizi ideal) gizi kurang

kurang (underweight) sebanyak 40% dan status gizi normal ( 60%. Sedangkan pada kelompok perlakuan status

(underweight) 60% dan dengan status gizi normal ideal) sebanyak 40%. Berat badan penderita diabetes mellitus memang dapat menurun drastis. Hal ini disebabkan glukosa didalam darah tidak dapat masuk kedalam sel jaringan. Seperti diketahui glukosa sangat dibutuhkan tubuh karena merupakan sumber energi yang utama. Dan untuk dapat masuk kedalam sel jaringan diperlukan insulin. Jika tubuh kekurangan insulin atau sama sekali tidak mempunyai insulin makan tubuh akan membakar jaringan lemak supaya terbentuk energi yang dibutuhkan. Apabila keadaan ini berlangsung terus maka dalam waktu relatif singkat berat badan penderita akan menurun drastis dan mempengaruhi status gizi penderita diabetes mellitus (Budiyanto, 2002). Selama penelitian diperoleh hasil tingkat konsumsi baik pada kelompok kontrol sebanyak 3 orang sampel (60%), tingkat konsumsi sedang sebanyak 1 orang sampel (20%), dan tingkat konsumsi kurang sebanyak 1 orang sampel (20%). Sedangkan pada kelompok perlakuan tingkat konsumsi baik sebanyak 2 orang sampel (40%) dan tingkat konsumsi sedang sebanyak 3 orang sampel (60%). Secara statistik tingkat konsumsi energi, protein, lemak, dan karbohidrat antara dua kelompok tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (P >

0.05), kecuali untuk tingkat konsumsi serat antara dua kelompok terdapat perbedaan yang bermakna (P < 0.05). Diet diabetes mellitus adalah jumlah kebutuhan makanan sesuai dengan kebutuhan energi dalam bentuk penukar makanan. Diet disusun dengan komposisi energi yang berasal dari protein sebesar 10 - 15 %, Lemak 20 ? 30 % dan dari karbohidrat sebesar 60 70 %. Oleh sebab itu perlu diperhatikan asupan makanan yang bergizi dan seimbang dengan perencanaan makan yang tepat untuk mencapai dan mempertahankan kadar glukosa darah tetap normal dan kebutuhan akan energi dan zat gizi terpenuhi dengan baik (Depkes, 1999). Kadar glukosa darah puasa berdasarkan hasil pemeriksaan pada awal dan akhir perlakuan untuk setiap sampelnya, pada kelompok kontrol terjadi penurunan kadar glukosa darah puasa rata rata 6.0 mg/dl

sedangkan pada kelompok perlakuan terjadi penurunan kadar glukosa darah puasa sebesar 16.40 mg/dl. Sedangkan pada kelompok kontrol terjadi penurunan kadar glukosa darah 2 jam post pradial rata rata 10.20 mg/dl sedangkan pada kelompok perlakuan terjadi penurunan kadar glukosa darah puasa sebesar 46.60 mg/dl. Sejauh ini, penyebab diabetes mellitus yaitu karena tubuh kekurangan insulin dalam kuantitas yang besar sehingga tidak dapat mengatur kadar gula dalam darah. Bila kadar gula dalam darah meningkat, terjadilah diabetes mellitus. Dengan

mengkonsumsi kacang kedelai dan olahannya secara intensif, pancreamic island dapat membesar sehingga produksi insulin pun akan bertambah (Hembing, 2003). Pada susu kedelai juga mngandung lesitin. Lesitin sebagai

antioksidan yang mampu menjaga sel-sel pada pankreas untuk tidak mengalami kerusakan akibat oksidasi, serta mampu meregenerasi sel-sel yang rusak dengan cepat sehingga ketika pankreas diberi tambahan lesitin maka sel-sel pankreas akan berfungsi dengan baik kembali serta dengan bantuan lesitin pula insulin mampu diproduksi kembali secara maksimal (http ://www. Iptek.net.id.) diakses tanggal 19 Desember 2005. Selain itu susu kedelai mengandung asam amino arginin yang

mampu menjaga keseimbangan hormon insulin (Mudjajanto, 2005). Arginin yang ada dalam susu kedelai merupakan substrat bagi produksi NO (Nitric Oxide) yang penting peranannya dalam menjaga kelapangan pembuluh darah (vasodilatasi) (http ://www. Pantirapih.or.id.) online dan diakses tanggal 26 Juni 2006. Pada kedua kelompok penelitian baik kontrol maupun perlakuan sama sama mengalami penurunan, tetapi pada kelompok perlakuan yang mendapat pemberian susu kedelai mengalami penurunan kadar glukosa darah yang lebih tinggi dibandingkan pada kelompok kontrol yang tidak diberikan susu kedelai. Dan perbandingan kadar glukosa darah sampel penelitian lebih tinggi pada kelompok kontrol dibandingkan dengan kelompok perlakuan meskipun secara statistik kadar glukosa darah kedua kelompok terdapat perbedaan yang bermakna (P < 0.05). Angka penurunan kadar glukosa darah puasa pada kelompok perlakuan mencapai 16,4 sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 6 . Dan untuk kadar glukosa darah 2 jam post prandial pada kelompok perlakuan mencapai 46,6 sedangkan untuk kelompok kontrol sebesar 10,2. Hal ini disebabkan oleh perencanaan makanan yang tepat merupakan pengobatan diabetes mellitus yang penting. Tujuan perencanaan makanan adalah mempertahankan kadar glukosa darah senormal mungkin serta mengusahakan agar berat badan penderita mencapai batas batas normal. Jadwal makan penderita diabetes mellitus juga diusahakan tepat waktu dengan porsi makan yang tepat. Hal ini untuk mencegah naiknya kadar glukosa darah yang sekaligus tinggi, disamping mencegah hipoglikemia bagi penderita yang memakai suntikan insulin. Apabila terjadi keseimbangan antara makanan yang masuk dengan kebutuhan dan kemampuan tubuh untuk mengolahnya maka diharapkan glukosa darah terkontrol dalam batas batas normal

(Budiyanto, 2002).

G. KESIMPULAN Pemberian susu kedelai pada diet pasien diabetes mellitus berpengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah puasa dan 2 jam

postprandial di ruang rawat inap Rumah Sakit dr. Saiful Anwar Malang.

H. LAMPIRAN 1.Lampiran 1 : Jurnal Internasional dengan judul Hypertension 2.Lampiran 2 : Jurnal Teknologi Pangan dengan judul Karakteristik Es Krim Hasil Modifikasi Dengan Formulasi Bubur Timun Suri (Cucumis melo L.) Dan Sari Kedelai. 3.Lampiran 3 : Jurnal Gizi Klinik dengan judul Pengaruh Pemberian Susu Kedelai Terhadap Kadar Glukosa Darah pada Diet Pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit Dr.Saiful Anwar. 4.Lampiran 4 : PowerPoint Presentasi Jurnal Gizi Klinik

10