Você está na página 1de 5

Untuk yg fkui: ABSORPSI Absorpsi merupakan proses masuknya obatdari tempat pemberian ke dalam darah.

Bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran oerna (mulut sampai dengan rektum), kulit, paru, otot, dan lain-Iain. Yang terpenting adalah cara pemberian obat per oral, dengan cara ini tempat absorpsi utama adalah usus halus karena memiliki permukaan absorpsi yang sangat Iuas, yakni 200 m2 (panjang 280 cm, diameter 4 om. disertai dengan vili dan mikrovili).

Absorpsi sebagian besar obat secara difusi pasif, maka sebagai bariar absorpsi adalah membran sel epitel saluran cerna, yang seperti halnya semua membran sel di tubuh kita, merupakan lipid bilayer. Dengan demikian, agar dapat melintasi membran sel tersebut, molekul obat harus mempunyai kelarutan lemak (setelah terlebih dulu Iarut dalam air). Kecepatan difusi berbanding lurus dengan derajat kelarutan lemak molekul obat (selain dengan perbedaan kadar obat lintas membran, yang merupakan driving force proses difusi, dan dengan Iuasnya area permukaan membran tempat difusi).

Zat-zat makanan dan obat-obat yang strukturnya mirip makanan, yang lidak dapat / sukar berdifusi pasif memerlukan transporter membran untuk dapat melintasi membran agar dapat di absorpsi dari saluran cerna maupun direabsorpsi dari lumen tubulus ginjal. Telah diketahui adanya berbagai macam transporter membran, yang fungsinya tidak hanya untuk dapat mengabsorpsi zat-zat makanan yang diperlukan, tetapi juga untuk mengeluarkan zat-zat eksogen dan endogen yang tidak diinginkan.

Untuk ganong:

Sistem gastrointestinal merupakan pintu gerbang masuknya zat makanan, vitamin, mineral, dan cairan kedalam tubuh. Protein, lemak, dan karbohidrat kompleks diuraikan menjadi unit-unit yang dapat diserap (dicerna), terutama di usus halus. Hasil pencernaan, vitamin, mineral, dan air menembus mukosa dan masuk ke dalan limfe atau darah (penyerapan).

Sel mukosa di usus halus disebut enterosit. Di usus halus, sel tersebut memiliki brush border yang terdiri atas sejumlah besar mikrovili yang menutupi permukaan apikalnya. Di dalam mikrovili ini terdapat banyak enzim. Di sisi luminal vili tersebut terdapat lapisan yang kaya akan gula netral dan gula amino, yaitu glikokaliks. Meinbran sel mukosa mengandung enzim glikoprotein yang menghidrolisis karbohidrat dan peptida, dan glikokaliks tersebut sebagian tersusun dari gugus karbohidrat glikoprotein ini yang meluas ke dalmn lumen usus halus. Berdekatan dengan brush border dan glikokaliks terdapat suatu lapisan statis (unstirred layer) yang mirip dengan lapisan yang berbatasan dengan membran biologis lainnya. Zat terlarut harus berdifusi melalui lapisan lni untuk mencapai sel mukosa. Lapisan mukus yang menutnpi sel juga merupakan penghalang yang berarti bagi difusi.

Kebanyakan zat melintas dari lumen usus halus ke dalam enterosit clan kemudian keluar dari enterosit menuju cairan interstisium. Proses yang berperan pada pemindahan zat melalui membran sel luminal sering kali agak berbeda dengan proses pemindahan zatt melalui membran sel basal dan lateral yang masuk ke dalam cairan interstisium.

Penyerapan karbohidrat Heksosa dan pentosa cepat diserap lnelalui dinding usus halus. Hampir semua heksosa diserap sebelum sisa makanan mencapai bagian ujung ileum. Molekul gula bergerak dari sol mukosa ke dalam darah kapiler yang bermuara ke dalam vena porta.

Transpor sebagian besar heksosa dipengaruhi secara unik oleh jumlah Na+ di dalam lumen usus halus; konsentrasi Na+ yang tinggi di permukaan mukosa sel mempermudah transpor, dun konsentrasi yang rendah menghambat inuks gula ke dalam sel epitel. Hal ini terjadi karena glukosa dan Na+ menggunakan kotransporter yang sama, sodium-dependent glucose transporter (SGLT 1 kotransporter glukosa-Na+). Anggota kotranspor ini yakni SGLT 1 dan SGLT 2 menyerupai transporter glukosa yang berperan pada difusi terfasilitasi karena pengangkut ini menembus membran sel sebanyak 12 kali dan mempunyai terminal-COOH dan-NH2 di sisi sitoplasmik membran. Namun kotranspor ini bukan merupakan homolog transporte seri GLUT. SGLT 1 dan SGLT 2 juga bertanggung jawab untuk mengangkut glukosa keluar dari tubulus ginjal.

Karena rendahnya konsentrasi Na+ intrasel di sel usus, seperti juga di sel lain, Na+ bergerak ke dalam sel sesuai dengan gradien konsentrasinya. Glukosa bergerak bersama Na+ dan dilepaskan di dalam sel. Na+ diangkut ke ruang antarsel lateral, dan glukosa diangkut oleh GLUT 2 ke dalam interstisium lalu masuk ke dalam kapiler. Jadi, transpor glukosa merupakau contoh transpor aktif sekunder; energi untuk transpor glukosa diperoleh scecara tidak langsung melalui transpor aktif Na+ keluar sel. Hal ini mempertahankan perbedaan konsentrasi di kedua sisi luminal sel sehingga lebih banyak Na+, dan akibatnya, lebih glukosa yang masuk. Bila kotransporter glukosa/Na+ mengalami cacat sejak lahir, malabsorpsi glukosa/galaktosa yang diakibatkannya menyebabkan diare hebat yang seringkali fatal bila glukosa dan galaktosa tidak segera dihilangkan dari makanan.

Penyerapan Kolesterol dan Sterol Lain Kolesterol mudah diserap dari usus halus jika terdapat empedu, asam lemak, dam getah pankreas. Sterol terkait yang berasal dari tumbuh-tumbuhan sulit diserap dengan baik. Hampir semua kolesterol yang diserap bergabung dengan kilumikron yang masuk ke sirkulasi melalui sistem limfatik, seperti yang dinyatakan sebelumnya. Sterol tumbuh-tumbuhan yang tidak

diserap, seperti yang ditemukan dalam kedelai, mengurangi penyerapan kolesterol, mungkin melalui kompetisi dengan kolesterol untuk dapat mengalami esterifikasi dengan asam lemak.

Penyerapan Besi Pada orang dewasa, juinlah besi yang hilang dari tubuh relatif kecil. Pengeluaran zat besi umumnya tidak diatur, dan total persediaan besi tubuh diatur oleh perubahan kecepatan penyerapan di usus. Pria kehilangan sekitar 0,6 mg/hari, terutama melalui tinja. Pada Wanita, kehilangannya lebih bervariasi dan lebih besar, rata-rata dua kali angka tersebut akibat kehilangan besi tambahan dalam darah selarna haid. Asupan besi harian rata-rata di Amerika Serikat dan Eropa adalah sekitar 20 mg, tetapi jumlah yang diserap hanya seimbang dengan yang hilang. Jadi, jumlah besi yang diserap normalnya berkisar antara kira-kira 36% dari jumlah yang dimakan. Berbagai faktor makanan mernpengaruhi ketersediaan besi untuk diserap; contohnya, asam tat yang terdapat di biji-bijian bereaksi dengan besi untuk membentuk senyawa tak-larut di usus. Demikian juga fosfat dan oksalat.

Sebagian besar besi dalam makanan berada dalam bentuk ferri (Fe3+), sementara penyerapan besi terjadi hanya untuk besi bentuk ferro (Fe2+). Aktivitas Fe3+ reduktase berkaitan dengan transporter besi di brush border enterosit.

Sangat sedikit besi yang diserap di lambung, tetapi sekresi lambung melarutkan besi dan memungkinkan besi membentuk kompleks larut dengan asam askorbat dan zat lain yang membantu reduksinya menjadi bentuk Fe2+. Pentingnya fungsi ini pada manusia ditunjukkan oleh fakta bahwa anemia defisiensi besi merupakan penyulit yang sering terjadi dan mengganggu pada gastrektomi parsial.

Hampir semua penyerapan besi terjadi di duodenum. Transpor Fe2+ ke dalam enterosit terjadi melalui DMT-1. Sebagian disimpan dalam feritin dan sisanya diangkut keluar dari enteresit oleh suatu transporter basolateral yang disebut feroportin 1. Suatu protein yang disebut hephaestin (Hp) berikatan dengan feroportin 1. Protein ini sendiri bukan suatu pengangkut, melainkan mempermudah proses transpor basolateral. Di plasma, Fe2+ diubah menjadi Fe3+ dan terikat ke protein pengangkut besi yaitu transferin. Protein ini memiliki dua tempat untuk mengikat besi. Normalnya, sekitar 35% transferin tersaturasi dengan besi, dan kadar normal besi plasma kirakira 130 pg/dL (23 ninol/L) pada pria dan 110 pg/dL (19 pmol/L) pada wanita.

Heme berikatan dengan suatu protein pengangkut di membran apikal enterosit dan dibawa ke dalarn sitoplasma. Di sitoplasma, HO2, suatu subtipe heme oksigenase, mengeluarkan Fe2+ dari porrin dan memindahkannya ke simpanan Fe2+ intrasel.

Penyerapan besi di usus diatur oleh tiga faktor: asupan besi dari makanan, keadaan simpanan besi di tubuh, dan keadaan eritropoiesis di sumsum tulang. Namun, cara ketiga faktor ini dalam memberikan sinyal ke perangkat penyerapan masih belum diketahui.