Você está na página 1de 13

Belajar Mandiri

a. SKDI

Kasus ini merujuk pada Tuberkulosis dengan HIV memiliki kompetensi 3A yaitu :
Tingkat Kemampuan 3: mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan awal, dan merujuk 3A. Bukan gawat darurat Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat. Lulusan dokter mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

b. Bagaimana etiologi? Tuberculosis ( TB ) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis . Kuman ini merupakan organisme aerob dan parasit intraseluler fakultatif serta tahan asam . Ada beberapa mikobakteri patogen , tapi hanya strain bovin dan manusia yang patogen terhadap manusia . Basil tuberkel ini berukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,3 0,6/um , ukuran ini lebih kecil dari pada sel darah merah .

c. Epidemiologi Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan tuberkulosis sebagai Global Emergency . Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002, dimana 3,9 juta adalah kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut

regional WHO jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia tenggara yaitu 33 % dari seluruh kasus TB di dunia, namun bila dilihat dari jumlah pendduduk terdapat 182 kasus per 100.000 penduduk. Di Afrika hampir 2 kali lebih besar dari Asia tenggara yaitu 350 per 100.000 penduduk. Diperkirakan angka kematian akibat TB adalah 8000 setiap hari dan 2 - 3 juta setiap tahun. Laporan WHO tahun 2004 menyebutkan bahwa jumlah terbesar kematian akibat TB terdapat di Asia tenggara yaitu 625.000 orang atau angka mortaliti sebesar 39 orang per 100.000 penduduk. Angka mortaliti tertinggi terdapat di Afrika yaitu 83 per 100.000 penduduk, dimana prevalensi HIV yang cukup tinggi mengakibatkan peningkatan cepat kasus TB yang muncul. Indonesia masih menempati urutan ke 3 di dunia untuk jumlah kasus TB setelah India dan China. Setiap tahun terdapat 250.000 kasus baru TB dan sekitar 140.000 kematian akibat TB. Di Indonesia tuberkulosis adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut pada seluruh kalangan usia.

d. Bagaimana transmisi kuman TB? Lingkungan hidup yang sangat padat dan pemukiman di wilayah perkotaan kemungkinan besar telah mempermudah proses penularan dan berperas sekali atas peningkatan jumlah kasus TB . Proses terjadinya infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis biasanya secara inhalasi , sehingga TB paru merupakan manifestasi klinis yang paling sering dibandingkan organ lainnya . Penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhalasi basil yang mengandung droplet nuclei , khususnya yang didapat dari pasien TB paru dengan berdarah atau atau berdahak yang mengandung bakteri tahan asam ( BTA ). Pada TB kulit atau jaringan lunak penularan bisa melalui inokulasi langsung . Infeksi yang disebabkan oleh M.bovis dapat disebabkan oleh susu yang kurang disterilkan dengan baik atau terkontaminasi. Sebagian besar dinding kuman terdiri atas asam lemak ( lipid ) , kemudian peptidoglikan dan aeabinomannan . Lipid inilah membuat kuman lebih tahan terhadap asam ( asam alkohol ) sehingga disebut bakteri tahan asam ( BTA) dan ia juga tahan terhadap gangguan kimia dan fisis . Kuman dapat bertahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin ( dapat bertahan bertahun tahun dalam lemari es ). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat Dormant . Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan penyakit tuberculosis menjadi aktif lagi .

Di dalam jaringan , kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni di dalam sitoplasma makrofag . Makrofag yang semula memfagositosis malah kemudian disenanginya karena banyak mengandung lipid . Sifat lain dari kuman ini adalah aerob . Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya . Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal paru paru lebih tinggi dari bagian lain , sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberculosis .

e. Working diagnosis Working Diagnosis 1. Gejala Klinis Gejala respiratorik Batuk 3 minggu (kering, berdahak, berdarah) Sesak nafas Nyeri dada Gejala sistemik Keringat dan demam lama pada malam hari Badan terasa lemah Nafsu makan dan berat badan 2. Pemeriksaan BTA a. Sangat penting dalam diagnosis b. Dahak diperiksa 3 kali (dahak pagi atau SPS) c. Pewarnaan Ziehl Neellsen lebih dianjurkan d. BTA positif bila 2 sediaan hasil positif e. Pembacaan berdasarkan skala IUALTD

Pembacaan hasil BTA


HASIL Negatif Ragu ragu + ++ +++ Jumlah BTA per Lap. Pandang BTA (-) per 100 lap.pandang BTA 1 9 per 100 lap.pandang BTA 10 99 per 100 lap.pandang BTA 1 10 per 1 lap.pandang BTA > 10 per 1 lap.pandang

3. Pemeriksaan Foto Thorax Tidak ada pola rontgen yang khas untuk mengambarkan penyakit TB.10-15% dari penderita TB yang pasti (dg biakan positif) tidak terdeteksi pada rontgen . 50% dari penderita yang didiagnosa TB melalui rontgen ternyata bukan TB.

Indikasi Foto Thorax Hanya 1 dari 3 spesimen SPS BTA (+), untuk mendukung diagnosis TB 3 spesimen SPS pertama (-), setelah diberi AB 2 minggu tidak ada perubahan, SPS ulang (-) Komplikasi : sesak nafas hebat (pneumotoraks, efusi pleura, efusi perikard), batuk darah masif Pemeriksaan Foto Dada Posisi standard : PA dan lateral Bandingkan serial foto Gambaran lesi aktif Infiltrat, kavitas, bercak milier, efusi pleura Gambaran Lesi tak aktif

fibrotik, atelektasis, kalsifikasi, penebalan pleura Luas lesi (ATS) 1. Lesi minimal 2. Lesi sedang 3. Lesi luas luas melebihi nomor dua

f. Patofisiologi Kuman M.Tbc masuk melalui inhalasi basil (droplet nuclei) menempel pada saluran nafas (parenkim paru) pertama-tama diserang oleh netrofil kemudian makrofag. Sebagian bakteri ada yang mati dan keluar melalui sekret bersama gerakan silia dan terjadilah batuk produktif. Sebagian lagi ada yang menetap dan berkembang biak di dalam sitoplasma makrofag membentuk sarang dini di apeks. Dalam bentuk sarang pneumonia. Sarang ini bisa direabsorbsi kembali dan sembuh. Tetapi bila kondisi imunitas seseorang menurun misalnya pada penderita HIV; M.Tbc dalam sarang pneumonia dapat terreaktivasi dan menyebabkan sarang ini meluas. Sarang ini kemudian membungkus diri, menjadi keras dan mengalami perkapuran. Setelah 3-10 minggu sarang ini akan membentuk tuberkel yakni granuloma. Granuloma berkembang menghancurkan jaringan ikat sekitar dan bagian tengahnya mengalami nekrosis. Nekrosis ini lembek seperti jaringan keju. Bila jaringan keju ini dibatukkan akan keluar dalam bentuk batuk darah karena pembuluh darah disekitar jaringan keju pecah. Dan bagian tepinya akan membentuk kavitas yang berdinding tipis. Yang lamakelamaan akan menebal dan menjadi kavitas sklerotik (kronik). Selain di dalam parenkim paru, kuman M.Tbc yang menginvasi saluran nafas dapat mengiritasi bronkus sehingga dapat pula membuat dinding bronkus mengalami ulserasi yang membuat batuk yang dikeluarkan disertai darah.

g. Faktor risiko 1. Faktor Umur. Beberapa faktor resiko penularan penyakit tuberkulosis di Amerika yaitu umur, jenis kelamin, ras, asal negara bagian, serta infeksi AIDS. Dari hasil penelitian yang dilaksanakan di New York pada Panti penampungan orang-orang gelandangan menunjukkan bahwa kemungkinan mendapat infeksi tuberkulosis aktif meningkat secara bermakna sesuai dengan umur. Insiden tertinggi tuberkulosis paru biasanya mengenai usia dewasa muda. Di Indonesia diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah kelompok usia produktif yaitu 15-50 tahun.

2. Faktor Jenis Kelamin. Di benua Afrika banyak tuberkulosis terutama menyerang laki-laki. Pada tahun 1996 jumlah penderita TB Paru laki-laki hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah penderita TB Paru pada wanita, yaitu 42,34% pada laki-laki dan 28,9 % pada wanita. Antara tahun 19851987 penderita TB paru laki-laki cenderung meningkat sebanyak 2,5%, sedangkan penderita TB Paru pada wanita menurun 0,7%. TB paru Iebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TB paru. 3. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan penyakit TB Paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersin dan sehat. Selain itu tingkat pedidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap jenis pekerjaannya. 4. Pekerjaan Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang harus dihadapi setiap individu. Bila pekerja bekerja di lingkungan yang berdebu paparan partikel debu di daerah terpapar akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan. Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB Paru. Jenis pekerjaan seseorang juga mempengaruhi terhadap pendapatankeluarga yang akan mempunyai dampak terhadap pola hidup sehari-hari diantara konsumsi makanan, pemeliharaan kesehatan selain itu juga akan mempengaruhi terhadap kepemilikan rumah (kontruksi rumah). Kepala keluarga yang mempunyai pendapatan dibawah UMR akan mengkonsumsi makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan bagi setiap anggota keluarga sehingga mempunyai status gizi yang kurang dan akan memudahkan untuk terkena penyakit infeksi diantaranya TB Paru. Dalam hal jenis kontruksi rumah dengan mempunyai pendapatan yang kurang maka kontruksi rumah yang dimiliki tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga akan mempermudah terjadinya penularan penyakit TB Paru. 5. Kebiasaan Merokok Merokok diketahui mempunyai hubungan dengan meningkatkan resiko untuk mendapatkan kanker paru-paru, penyakit jantung koroner, bronchitis kronik dan kanker kandung kemih.Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terkena TB paru sebanyak 2,2 kali. Pada tahun 1973 konsumsi rokok di Indonesia per orang per tahun adalah 230

batang, relatif lebih rendah dengan 430 batang/orang/tahun di Sierra Leon, 480 batang/orang/tahun di Ghana dan 760 batang/orang/tahun di Pakistan (Achmadi, 2005). Prevalensi merokok pada hampir semua Negara berkembang lebih dari 50% terjadi pada lakilaki dewasa, sedangkan wanita perokok kurang dari 5%. Dengan adanya kebiasaan merokok akan mempermudah untuk terjadinya infeksi TB Paru. 6. Kepadatan hunian kamar tidur Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan overload. Hal ini tidak sehat, sebab disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain. Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasanya dinyatakan dalam m2/orang. Luas minimum per orang sangat relatif tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk rumah sederhana luasnya minimum 10 m2/orang. Untuk kamar tidur diperlukan luas lantai minimum 3 m2/orang. Untuk mencegah penularan penyakit pernapasan, jarak antara tepi tempat tidur yang satu dengan yang lainnya minimum 90cm. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni lebih dari dua orang, kecuali untuk suami istri dan anak di bawah 2 tahun. Untuk menjamin volume udara yang cukup, di syaratkan juga langitlangit minimum tingginya 2,75 m. 7. Pencahayaan Untuk memperoleh cahaya cukup pada siang hari, diperlukan luas jendela kaca minimum 20% luas lantai. Jika peletakan jendela kurang baik atau kurang leluasa maka dapat dipasang genteng kaca. Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah, misalnya basil TB, karena itu rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Intensitas pencahayaan minimum yang diperlukan 10 kali lilin atau kurang lebih 60 lux., kecuali untuk kamar tidur diperlukan cahaya yang lebih redup. Semua jenis cahaya dapat mematikan kuman hanya berbeda dari segi lamanya proses mematikan kuman untuk setiap jenisnya..Cahaya yang sama apabila dipancarkan melalui kaca tidak berwarna dapat membunuh kuman dalam waktu yang lebih cepat dari pada yang melalui kaca berwama Penularan kuman TB Paru relatif tidak tahan pada sinar matahari. Bila sinar matahari dapat masuk dalam rumah serta sirkulasi udara diatur maka resiko penularan antar penghuni akan sangat berkurang.

8. Ventilasi Ventilasi mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara didalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan oksigen yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya oksigen di dalam rumah, disamping itu kurangnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri-bakteri patogen/ bakteri penyebab penyakit, misalnya kuman TB. Fungsi kedua dari ventilasi itu adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteribakteri, terutama bakteri patogen, karena di situ selalu terjadi aliran udara yang terus menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Fungsi lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan kamar tidur selalu tetap di dalam kelembaban (humiditiy) yang optimum. Untuk sirkulasi yang baik diperlukan paling sedikit luas lubang ventilasi sebesar 10% dari luas lantai. Untuk luas ventilasi permanen minimal 5% dari luas lantai dan luas ventilasi insidentil (dapat dibuka tutup) 5% dari luas lantai. Udara segar juga diperlukan untuk menjaga temperatur dan kelembaban udara dalam ruangan. Umumnya temperatur kamar 22 30C dari kelembaban udara optimum kurang lebih 60%. 9. Kondisi rumah Kondisi rumah dapat menjadi salah satu faktor resiko penularan penyakit TBC. Atap, dinding dan lantai dapat menjadi tempat perkembang biakan kuman.Lantai dan dinding yag sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan debu, sehingga akan dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman Mycrobacterium tuberculosis. 10. Kelembaban udara Kelembaban udara dalam ruangan untuk memperoleh kenyamanan, dimana kelembaban yang optimum berkisar 60% dengan temperatur kamar 22 30C. Kuman TB Paru akan cepat mati bila terkena sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup selama beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. 11. Status Gizi Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang dengan status gizi kurang mempunyai resiko 3,7 kali untuk menderita TB Paru berat dibandingkan dengan orang yang status gizinya cukup atau lebih. Kekurangan gizi pada seseorang akan berpengaruh terhadap kekuatan daya tahan tubuh dan respon immunologik terhadap penyakit. 12. Keadaan Sosial Ekonomi

Keadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan, keadaan sanitasi lingkungan, gizi dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Penurunan pendapatan dapat menyebabkan kurangnya kemampuan daya beli dalam memenuhi konsumsi makanan sehingga akan berpengaruh terhadap status gizi. Apabila status gizi buruk maka akan menyebabkan kekebalan tubuh yang menurun sehingga memudahkan terkena infeksi TB Paru. 13. Perilaku Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan. Pengetahuan penderita TB Paru yang kurang tentang cara penularan, bahaya dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan prilaku sebagai orang sakit dan akhinya berakibat menjadi sumber penular bagi orang disekelilingnya. 14. Penyakit penderita Penyakit seperti diabetes mellitus dan infkesi HIV merupakan salah satu faktor risiko yang tidak berketergantungan untuk berkembangnya infeksi saluran nafas bagian bawah. Prevalensi TB paru pada DM meningkat 20 kali dibanding non DM dan aktivitas kuman tuberculosis meningkat 3 kali pada DM berat dibanding DM ringan. Penderita tuberculosis menular (dengan sputum BTA positif) yang juga mengidap HIV merupakan penularan kuman tuberculosis tertinggi. Tuberkulosis diketahui merupakan infeksi oportunistik yang paling sering ditemukan pada pasien dengan reaksi seropositif. Apabila seseorang dengan seropositif tertular kuman ini maka karena kekebalannya rendah, besar sekali kemungkinannya akan langsung menderita tuberculosis. Hal ini berbeda sekali dengan orang normal atau mereka dengan seronegatif, karena kuman yang masuk akan dihambat oleh reaksi imunitas yang ada dalam tubuhnya. Selain itu, tuberkulosis oada orang seropositif cepat sekali berkembang ke arah perburukan.

h. Manifestasi klinis Gejala sistemik/umum: Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul Penurunan nafsu makan dan berat badan Perasaan tidak enak (malaise), lemah Gejala khusus:

Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara mengi, suara nafas melemah yang disertai sesak. Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada. Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah. Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

i. Komplikasi 1. Hemoptisis berat sumbatan jalan napas bawah & syok hipovolemik 2. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial 3. Bronkhiektasis (pelebaran bronchus) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru 4. Pneumothoraks udara di dalam rongga pleura 5. Penyebaran TB ke jaringan lain otak, tulang, ginjal, dll 6. Insufisiensi Kardiopulmonal

j. Prognosis Dubia ad malam

k. Tata laksana (nutrisi, dan obat-obatan, pola hidup, edukasi ke pasien masalah batuk ) Tujuan pengobatan Menyembuhkan pasien TB Menurunkan angka kematian akibat TB Mencegah kekambuhan Menurunkan angka penularan Mencegah resisten obat

Prinsip pengobatan TB 1. Pengobatan minimal dengan 2 OAT

2. Paduan jangka pendek 3. Pengobatan dibagi atas 2 fase Fase awal: Bakterisidal Fase lanjutan: Sterilisasi dan mencegah relaps 4. Uji resistensi pada kasus gagal, kambuh 5. Dosis sebaiknya berdasarkan berat badan Regimen Berdasarkan Kategori (WHO / Depkes RI) Kategori Kriteria Penderita Kasus baru BTA (+) 2 Kasus baru BTA (-) Ro (+) sakit berat Kasus TBEP berat (RHZS) 2 (RHZS) 2 (RHZS)* II Kasus BTA positif Kambuh Gagal Putus berobat III Kasus baru BTA (-) TBEP ringan Kasus kronik 2 RHZES / 1 5 RHE RHZE 2 RHZES / 1 RHZE* 2 RHZ (E) 2 RHZ (E) 2 RHZ* (E) IV 6 EH 4 RH 4 R3H3* 5 R3H3E3* RHZE Regimen Pengobatan Fase awal I Fase Lanjutan

RHZE 6 EH 4 RH RHZE 4 R3H3*

Obat-obat sekunder

Medikamentosa a. Isoniazid (UNH) dosis 5 mg/Kg/BB,PO Efek samping: kemerahan, hepatitis, neuropati perifer, efek SSP ringan. b. Ethambutol Hydroclhoride (EMB) dosis 15 mg/Kg/BB/PO, untuk pengobatan ulang mulai dengan 25 mg/Kg/BB/hari selama 60 hari, kemudian diturunkan sampai 15 mg/Kg/BB/hari. Efek samping: neuritis optikus, kemerahan c. Rifampin / Rifampicin (REP) 10 mg/Kg/BB/hari/PO

Efek samping: gangguan pencernaan, interaksi obat, hepatitis, kemerahan, gagal ginjal, demam d. Pyrazinamide (PZA) 15-30 mg/Kg/BB,PO Efek samping: hepatitis, hiperurisemia, gangguan pencernaan,kemerahan e. Streptomisin 15 mg/Kg/BB, PO Efek samping: ototoksik, kemerahan

FDC (Fixed Dose Combination) - Kombinasi 2 sampai 4 OAT dalam 1 tablet. - Ada 3 macam 2 FDC (RH, EH, HT), contoh Rimactazid 3 FDC (RHZ), contoh Rifater/ Rimcur 4 FDC (RHZE), contoh Rimstar

MDR TB - Resisten H dan R dengan/tanpa OAT lain - Prinsip terapi Minimal 4 OAT sensitif yang belum dipakai Ada aminoglikosid dan quinolone Pengobatan lebih panjang ( fase awal minimal 6 bulan, Fase lanjutan 12-18 bulan) Pemberian setiap hari Follow-up BTA bulanan (fase awal) dan 3 bulan(lanjutan)

Tata laksana pada kasus ini adalah tata laksana untuk TB dan HIV.
Tata laksana kasus TB pada penderita HIV tidak berbeda dengan pengobatan pasien TB dengan HIV yang negatif. Masalah koinfeksi tuberculosis dengan HIV merupakan masalah yang sering dihadapi di Indonesia. Akan tetapi perlu diperhatikan interaksi antara OAT (obat anti tuberculosis) dengan ARV (obat anti retroviral) terutama efek hepatotoksisitas. Pada penderita HIV yang telah mendapat obat ARV sewaktu diagnosis TB ditegakkan, maka obat ARV tetap diteruskan dengan evaluasi yang lebih ketat. Pada penderita HIV yang belum mendapat terapi OAT, waktu pemberian obat disesuaikan dengan kondisi dibawah ini.

Kondisi TB paru, CD4 <50 sel/mm3, atau TB ekstrapulmonal TB paru, CD4 50-200 sel/mm3 atau hitung limfosit total. < 1200 sel/mm3 TB paru, CD4 >200 sel/mm3 atau hitung limfosit total >1200 sel/mm3

Rekomendasi Mulai terapi OAT. Segera mulai terapi ARV jika toleransi terhadap OAT telah tercapai Mulai terapi OAT. Terapi ARV dimulai setelah 2 bulan Mulai terapi TB. Jika memungkinkan monitor hitung CD4. Mulai terapi ARV sesuai indikasi, setelah terapi TB selesai.

Pencegahan Cara pencegahan penyakit tuberculosis : (Depkes,2002) 1. Menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi basil tuberculosis 2. Mempertahankan status kesehatan dengan asupan nutrisi adekuat 3. Meminum susu yang telah dipasteurisasi 4. Isolasi jika pada analisa sputum terdapat bakteri hingga dilakukan pengobatan 5. Pemberian imunisasi BCG untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh basil tuberculosis virulen.

Sumber : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi V . Jakarta : Interna Publishing,2009