Você está na página 1de 10

PROPOSAL PENELITIAN PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI PENETAPAN KADAR FUROSEMIDA DALAM SERBUK BAKU FARMASETIS DENGAN METODE ALKALIMETRI

DAN UJI PRESISINYA

DISUSUN OLEH : KELOMPOK A5 1. ELISA CYNTHIA A 2. ANISA NUR FAZZRI 3. ARINDHITA PUTRI 4. WINDA DWI A 5. WILDAN YUSUF M (11613027) (11613028) (11613029) (11613031) (11613032)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2012

LEMBAR PENGESAHAN MINI PROJECT ANALISIS FARMASI TAHUN AKADEMI 2012

1. Judul Kegiatan : Penetapan Kadar Furosemida dalam Serbuk Baku Farmasetis dengan Metode Alkalimetri dan Uji Presisinya. 2. Ketua Pelaksana : Wildan Yusuf Maulana (11613032)

3. Anggota Pelaksana ( Nama Lengkap dan NIM ) : a. Elisa Cynthia A (11613027) b. Anisa Nur Fazzri (11613028) c. Arindhita Putri (11613029) d. Winda Dwi A (11613031) 4. Dosen Pembimbing : Fithria Dyah Ayu S.,M.Sc.,Apt

5. Jangka Waktu Kegiatan : 1(satu) bulan 6. Bentuk Kegiatan : Penelitian

Yogyakarta, ........................2012 Menyetujui, Dosen Praktikum Analisis Farmasi Universitas Islam Indonesia Ketua Pelaksana,

Fithria Dyah Ayu S.,M.Sc.,Apt NIP. 106130101

Wildan Yususf Maulana NIM. 11613032

Abstrak Furosemid adalah sebuah obat yang digunakan untuk meningkatkan produksi urin. Dalam penelitian ini digunakan metode alkalimetri, karena furosemida bersifat asam. Masyarakat akan lebih memilih menggunakan obat obatan seperti furosemida untuk deuretik kuat. Namun kegunaan obat ini tidaklah semata mata untuk hal itu saja. Edema yang menyertai payah jantung kongestif, sirosis hati dan gangguan ginjal termasuk sindrom nefrotik, Pengobatan hipertensi, merupakan hal hal yang dapat ditolong menggunakan furozemide.

BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Furosemid adalah sebuah obat yang digunakan untuk meningkatkan produksi urin. Furosemide tersedia dalam bentuk sediaan tablet dan cair yang digunakan secara peroral. Obat ini biasa ditujukan untuk mengurangi pembengkakan dan retensi cairan yang disebabkan oleh berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung atau hati. Obat ini juga digunakan untuk terapi perawatan pada penderita tekanan darah tinggi. Mekanisme kerjanya dengan menyebabkan ginjal untuk membuang air dan garam yang tidak dibutuhkan dari tubuh melalui urin. Sehingga akan sering buang air kecil yang dapat berlangsung hingga 6 jam setelah dosis pertama diberikan dan pemberian dosis harus menurun setelah penggunaan beberapa minggu. Furosemida yaitu turunan sulfonamida berdaya diuretis kuat dan bertitik kerja dilengkungan henle bagian menaik. Sangat efektif pada keadaan udema di otak dan paru paru yang akut. Furosemid mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C12H11ClN2O5S, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan (Anonim,1995). Furosemida mempunyai BM 330,75. Pemerian furosemida ,serbuk hablur ; warna putih atau hampir putih; tidak berbau; hampir tidak berasa. Furoesmida praktis tidak larut dalam air dan dalam klorofom P; Larut dalam 75 bagianetanol (95%) P dan dalam 850 bagian eter P; larut dalam larutan alkali hidroksida. Khasiat dan penggunaan furosemida untuk diuretik( Anonim, EkstraFarmakope 1974). Contohobat obatan yang mengandung furosemid yaitu Afrosic, Diurefo, Farsiretic, Furosmide, Furosix, Husamid, Lasix, Laveric, Mediresix, Uresix, Naclex. Pada penetapan kadar furosemida dilakukan dengan menggunakan NaOH (NatriumHidroksida) sebagai titran. NaOH mengandung tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih 100,5% alkali jumlah, dihitung sebagai NaOH, mengandung Na2CO3 tidak lebih dari 3,0%. Kelarutan NaOH yaitu mudah larut dalam air dan dalam etanol (Anonim, Farmakope 4, 1995). Dalam penelitian ini digunakan metode alkalimetri, karena furosemida bersifat asam. Sehingga dibutuhkan larutan baku basa untuk penetapan kadar senyawa furosemida. Alkalimetri termasuk ke dalam reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Alkalimetri merupakan penetapan kadar senyawa senyawa yang bersifat asam dengan

menggunakan baku basa. Dalam bidang farmasetis, prinsip dasar alkalimetri digunakan dalam pembuatan obat, sehingga sangat penting untukdipelajari. Dilakukan penetapan kadar furosemida untuk mengetahui kadar furosemida secara tepat, sebagai bahan pengetahuan dan acuan terhadap kadar furosemida dalam tablet. Orang dengan kepercayaan tinggi terhadap obat akan lebih memilih menggunakan obat obatan seperti furosemida untuk deuretik kuat. Namun kegunaan obat ini tidaklah semata mata untuk hal itu saja. Edema yang menyertai payah jantung kongestif, sirosis hati dan gangguan ginjal termasuk sindrom nefrotik, Pengobatan hipertensi, merupakan hal hal yang dapat ditolong menggunakan furozemide. Penanganan yang beragam ini menyebabkan perbedaan dosis pemakaian. Untuk hal itulah perlu diteliti dan dibuktikan seperti apa dan seberapa banyak kadar yang terdapat dalam tablet furosemida, serta perlu dibuktikan kebenaran komposisinya. Maka dari itu perlu dilakukan penelitian tersebut untuk kepentingan pengetahuan. B. Perumusan Masalah Dalam mini project ini permasalahan yang diambil adalah bagaimana prinsip dasar penetapan kadar furosemid dalam serbuk baku farmasetis dengan menggunaan metode alkalimetri dan bagaimana hasil uji presisi terhadap percobaan yang dilakukan ?

C. Tujuan Tujuan yang ingin di capai dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami prinsip dasar penetapan kadar furosemid dalam serbuk baku farmasetis dengan menggunaan metode alkalimetri dan mengetahui hasil uji presisi terhadap percobaan yang dilakukan.

D. Manfaat Penelitian 1. Mengetahui prinsip dasar cara penetapan kadar furosemida dengan metode alkalimetri. 2. Mengetahui bagaimana kadar baik dalam penetapan kadar furosemida.

BAB II Metodologi Penelitian A. Alat dan Bahan

ALAT : 1. Batang Pengaduk 2. Botol Aquadest 3. Buret 4. Erlenmeyer 5. Gelas Arloji 6. Labu Ukur 7. Mortar Pestle 8. Neraca Analitik

BAHAN : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Aquadest Biru Bromtimol LP Dimetilformamida Fenolftalein LP Kalium Biftalat Kristal NaOH 0.1N Tablet Furosemida

9. Oven 10. Pipet tetes 11. Pipet Ukur 12. Sendok Tanduk

B. Cara Kerja Penetapan Kadar Furosemida a. Pembuatan NaOH 0,1 N Larutkan sejumlah NaOH dalam air secukupnya hingga tiap 1000,0 mg larutan mengandung NaOH dalam jumlah 4,001 g NaOH untuk NaOH 0,1N.

b. Pembakuan Larutan NaOH 1 N Keringkan lebih kurang 5 g kalium biftalat pada suhu 105oC selama 3 jam , timbang seksama , gerus jika perlu . Larutkan dalam 75 ml air bebas karbondioksida . Titrasi dengan larutan NaOH , menggunakan indicator fenolftalein LP. Tiap 204,2 mg kalium biftalat setara dengan I ml NaOH 1 N .

c. Penetapan Kadar Furosemida Lebih kurang 500mg yang ditimbang seksama , larutkan dalam 40ml

dimetilformamida. Titrasi dengan NaOH 0,1 N menggunakan 3 tetes indicator biru bromtimol LP. Lakukan titrasi blanko. Tiap ml NaOH 0,1 N setara dengan 33,08 mg C12H11CIN2O5S .

Sumber : Anonim, 1974, Ekstra Farmakope Indonesia, Depkes RI, Jakarta , 340 , 1059 -1060. Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Depkes RI, Jakarta ,401.

Cara Kerja Penetapan Kadar Furosemida a. Pembuatan Larutan 0,1N NaOH 1. Timbang dengan teliti 4,001 g kristal NaOH .

2. Larutkan kristal NaOH dengan aquades 3. Kocok hingga endapan larut dan homogen . 4. Simpan dalam tempat tertutup. b. Pembakuan Larutan NaOH 0,1 N 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Timbang kalium biftalat 500mg. Keringkan dalam oven pada suhu 1050C selama 3 jam. Timbang kalium biftalat yang telah dikeringkan, gerus jika perlu. Larutkan dalam 75 ml aquades. Tambahkan indicator fenolftalein LP. Titrasi dengan NaOH. Hitung volume NaOH yang dibutuhkan sampai mencapai titik akhir titrasi .

Cara Konversi Perhitungan Diketahui : NaOH 1N setara dengan NaOH 1M dilihat dari jumlah valensi NaOH yaitu 1. Mengakibatkan BM dan BE NaOH setara. V1 = 75ml N1 = 1N = 1M V2 = ? N2 = 0.1N = 0.1M Ditnyakan : Normalitas NaOH 0.1 N Jawab : M1V1 = M2V2 1 x 75 = 0.1 x V2 V2 = 750 ml Karena dalam penggunaan 750ml terlalu banyak bahan yang digunakan maka diturunkan dengan cara membandingkan pelarut dengan zat terlarut. Perbandingan antara kalium biftalat dengan aquades yaitu 5000mg : 750ml menjadi 500mg : 75ml. c. Penetapan Kadar Furosemida 1. 2. 3. 4. 5. 6. Timbang seksama 500 mg furosemida. Larutkan dalam 40 ml dimetilformamida , hingga homogen . Tambahkan 3 tetes indicator bromtimol biru . Titrasi dengan NaOH 0,1 N . Lakukan titrasi blanko. Hitung volume NaOH yang dibutuhkan sampai mencapai titik akhir titrasi .

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1974, Ekstra Farmakope Indonesia, Depkes RI, Jakarta , 340 , 1059 -1060. Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Depkes RI, Jakarta ,401. Gandjar, I.G. , 2007,Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 136. Anonim, 2010, ISO Indonesia, volume 46, PT.ISFI Penerbitan, Jakarta, 258-260. Tjay, T.H., 2002, Obat Obat Penting, Edisi 5, Elex Media Komputindo, Jakarta, 492. Tianti, E., Binarjo A., Yuwono T., 2005, Ketersediaan hayati dispersi padat furosemid

dengan polietilenglikol 4000 (PEG 4000) pada kelinci jantan Ketersediaan hayati dispersi padat furosemid dengan polietilenglikol 4000 (PEG 4000) pada kelinci jantan, Majalah Farmasi Indonesia, 16(2):124.