Você está na página 1de 17

1

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia dengan negara agrasis memiliki potensi perkebunan
yang melimpah untuk dibudidayakan. Hasil perkebunan merupakan
komoditas penting bagi suatu peradapan dunia.
Banyak dari hasil komoditas yang belum dikembangkan secara
maksimal namun disisi lain ada juga bentuk inovasi dari pengolahan hasil
perkebunan. Hasil perkebunan juga membantu dalam pendapatan suatu
negara. Dalam hal ini komoditas yang dibahas yaitu singkong atau salah
satu diantara hasil perkebunan komoditas dari Indonesia yang memiliki
banyak manfaat, misalnya kandungan dari singkong yaitu lisin, Cu, Mg,
K, Zn. Singkong juga merupakan sumber karbohidrat dan sumber kalori
yang cukup tinggi. Ditambah dengan sumber vitamin dan mineral, vitamin
yang terkandung dalam singkong vitamin A, vitamin C, thiamin (vitamin
B1), dan riboflavin. Sedangkan mineral dalam singkong diantaranya
adalah zat besi (Fe), fosfor (F) dan kalsium (Ca). Kandungan lainnya
adalah protein, serat kasar, lemak dan abu.
Dikalangan masyarakat, singkong dianggap sebagai komoditas
yang tidak mempunyai nilai lebih untuk di kembangkan. Minimnya hasil
olahan ubi menyebabkan masyarakat buta akan subtitusi pangan. Ubi kayu
merupakan salah satu komoditas lokal yang masih perlu dikembangkan
karena masih memiliki prospek yang bagus. Ubi kayu sudah sangat
populer di masyarakat, sehingga selain dikonsumsi secara langsung, ubi
kayu juga banyak sekali produk turunannya, karena termasuk mudah untuk
diolah. Ubi kayu juga memiliki produktivitas yang tinggi, lau zat-zat yang
terkandungpun juga sangat banyak dan beragam. Oleh karena itu untuk
mengembangkan produtivitas dari ubi perlu di adakan uji proksimat guna
mengetahui presentase yang terkandung pada setiap kandungan dari ubi
kayu.

1.2 Tujuan
Pengujian yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana sifat
spesifik dan karakteristik dari singkong atau ubi kayu. Dari hasil tersebut
dapat ditentukan proses pengolahan pasca panen dan potensi
pemanfaatannya.

1.3 Manfaat
Pembaca dapat mengetahui kandungan gizi dalam bahan singkong
Pembaca dapat mengaplikasikan singkong sebagai kebutuhan
makanan pengganti karbohidrat.
Pembaca dapat mengetahui pemanfaatan singkong sebagai bahan
alternatif lain untuk produk agroindustri





2

BAB II. ANALISIS SIFAT FISIK
Uji sifat fisik adalah dimana kita akan menguji fisik dari bahan yang
kita ingin ujikan, di anataranya adalah mengamati fisik warna, bentuk dan
sifatnya keras atau tidak dan bau yang dimiliki dan bagian yang bisa di
makan apa saja. Cara menguji sifat fisik singkong adalah pertama-tama,
singkong diperhatikan warna kulit serta dagingnya, kemudian diuji bau dan
rasanya, serta diperhatikan terhadap adanya kerusakan pada singkong.
Kemudian singkong dikupas kulitnya sehingga terpisah antara bagian kulit
dan bagian daging. Bagian kulit dan bagian daging tersebut masing-masing
ditimbang. Dari bobot yang didapat tersebut, dihitung persentase bagian yang
dapat dimakan dan bagian yang tidak dapat dimakan.
2.1 Bentuk
Singkong merupakan batang berkayu yang tumbuh tegak, beruas-
ruas, berbuku-buku dan ketinggiannya mencapai 3m. Di dalam batangnya
ada liang yang berisi semacam gabus yang berwarna putih. Daunnya
serupa tangan manusia dengan jari-jari (helaian daun terbelah dalam
dalam). Umbi akar berukuran besar, memanjang dengan kulit luar
berwarna coklat suram dan terdapat tanah yang menempel pada kulit
(Anonim 2010).

2.2 Bagian
Komponen fisik singkong terdiri dari kulit, biasanya terdapat 2
lapis kulit yaitu kulit luar dan kulit dalam, kemudian diikuti oleh umbi
singkong yang terdiri dari lapisan kambium dan daging umbi. Warna
daging umbi singkong berwarna putih, kuning atau gading, dan umbi
tersebut ada yang manis dan ada pula yang pahit (Syarief dan
Irawati,1986). Berdasarkan literatur diatas, hasil pengamatan yang telah
dilakukan sudah sesuai bahwa singkong terdiri dari kulit, lapisan kambium
dan daging umbi.

2.3 Persentase Bagian

Pada bahan singkong ini, presentase bagian daging singkong
sebesar 74,02% dari seluruh bagian singkong, sedangkan presentase
bagian kulit singkong hanya sebesar 25.98%. Hal ini menunjukkan bahwa
proporsi daging singkong lebih dominan daripada bagian kulit singkong.

2.4 Densitas Kamba

Densitas kamba adalah perbandingan berat dengan volume air pada
wadah yang menempatinya. Densitas kamba bahan dinyatakan adalah
gr/ml. (Muchtadi 2010)
Aplikasi densitas kamba dalam bidang pangan diantaranya untuk
mengetahui kapasitas dan jumlah alat yang digunakan untuk melakukan
suatu proses, misalnya untuk pencucian kentang menggunakan
drumwasher, dengan densitas kamba kita dapat mengetahui perbandingan
3

jumlah bahan dan air yang digunakan dalam mesin tersebut sehingga
jumlah mesin yang diperlukan dapat diketahui.
Pada percobaan kali ini, Densitas kamba dapat ditentukan dengan
mengetahui massa bahan dan volume bahan yang ditempati. Berdasarkan
hasil pengamatan, densitas kamba yang didapat sebesar 1.09 gr/ml.

BAB III. ANALISIS PROKSIMAT
3.1 Kadar Air
Kadar air dalam bahan pangan sangat mempengaruhi kualitas dan
daya simpan dari bahan pangan tersebut. Oleh karena itu, penentuan kadar
air dari suatu bahan pangan sangat penting agar dalam proses pengolahan
maupun pendistribusian mendapat penanganan yang tepat. Penentuan
kadar air dalam bahan pangan dapat dilakukan dengan beberapa metode
yaitu metode pengeringan (dengan oven biasa), metode destilasi, metode
kimia dan metode khusus (kromatografi, nuclear magnetic resonance atau
NMR).
Pada praktikum kali ini, metode yang digunakan adalah metode
pengeringan dengan oven biasa. Penentuan kadar air ini diawali dengan
bahan 5 gram yang telah disiapkan, dimasukkan pada cawan aluminium.
Kemudian, bahan singkong tersebut dimasukkan dalam oven dengan suhu
100-105C selama 5 jam. Selanjutnya bahan dikeluarkan dari oven dan
dimasukkan ke dalam desikator selama 15 menit untuk didinginkan.
Setelah dari desikator, bahan tersebut ditimbang kembali pada neraca
analitik. Hal ini dilakukan untuk memperoleh berat akhir bahan dengan
menguranginya dengan berat cawan aluminium.
Metode ini memiliki beberapa kekurangan yaitu bahan lain ikut
menguap, terjadi penguraian karbohidrat menghailkan air yang ikut
terhitung, dan terdapat air yang terikat kuat pada bahan tidak terhitung
pula. Berat bahan yang dihitung setelah dikeluarkan dari oven harus
didapatkan berat konstan yaitu berta bahan yang tidak akan berkurang atau
tetap setelah dimasukkan dalam oven. Berat akhir tersebut setelah konstan
dapat diartikan bahwa air yang terdapat dalam bahan telah menguap dan
yang trsisia hanya padatan dan air yang benar-benar terikat kuat dalan
bahan, setelah itu dapat dilakuakn perhitungan untuk mengetahui
persentase kadar air dalam bahan. (Sudarmadji et. al 2003)
Berdasarkan hasil praktikum, berat akhir bahan yang diperoleh
adalah 1,8755 gram. Dengan demikian, setelah diketahui berat akhir bahan
dari metode ini kita dapat menentukan persentase kadar air singkong.
Persentase kadar air dapat diperoleh dengan rumus berat awal bahan
dikurangi dengan berat akhir bahan. Setelahnya, nilai tersebut dibagi
dengan berat awal bahan dan dikalikan 100%. Dari literatur yang ada,
kadar air singkong atau ubi kayu sekitar 60%. Kadar air ini tidak jauh
berbeda dengan persentase kadar air yang telah didapatkan yaitu 62,49%.



4

3.2 Kadar Pati
Uji Luff Schroll dilakukan untuk mengetahui kadar pati yang
terdapat singkong. Sebanyak 1 gram bahan dimasukkan kedalam
erlenmeyer 500 ml dan ditambahkan 200ml HCl 3%. Selanjutnya sampel
dihidrolisisselama 1-3 jam di dalam otoklaf suhu 105
0
C. Setelah
terhidrolisis sampel didingikan dan dinetralkan dengan NaOH 40%.
Sampel dimasukkan kedalam labu takar 250 ml dan ditambahkan air
destilata sampai mencapai tanda tera. Ambil 10 ml larutan dan masukkan
kedalam erlenmeyer lainnya(250 ml). Didalam erlenmeyer 250 ml
ditambahkan 25ml larutan luff schroll. Larutan tersebut didihkan dan
kemudian didinginkan (dijaga agar tidak tergoncang). Larutan H
2
SO
4
25%
sebanyak 20 ml ditambahkan setelah suhu normal. Larutan tersebut di
titrasi dengan Na
2
S
2
O
3
0,1 N dengan indikator kanji sampai hilang
warnanya. Selanjutnya untuk membandingkan dengan membuat blangko
yang berupa 25 ml air dan 25 ml luff schroll.
Prinsip pada pengujian luff schoorl yaitu karbohidrat pada bahan
pangan dihidrolisis menjadi monosakarida yang dapat mereduksi ion
Cu2+ menjadi Cu+. Kelebihan Cu ditetapkan secara yodometri. Mula-
mula Cu2+ akan membebaskan iod dari garam kalium iodida (KI).
Banyaknya iod yang dibebaskan setara dengan banyaknya Cu+ yang
diketahui setelah titrasi menggunakan natrium tiosulfat (Sudarmadji, dkk
2007). Berikut adalah reaksi kimia yang terjadi saat pengujian luff schoorl:

Sumber: Sudarmadji, dkk (2007).
Pada SNI 01-4493-1998, kadar pati ubi dengan kualitas I memiliki
kadar pati minimal 30%, sedangkan ubi kualitas II dan III memiliki kadar
pati minimal 25%. Sementara pada hasil pengujian, perhitungan kadar
pati yang didapatkan sebesar 33,08% Berdasarkan hal tersebut, singkong
pada pengujian memiliki kualitas yang sangat baik yaitu kualitas I.

3.3 Kadar Lemak
Penentuan kadar lemak pada bahan pangan singkong ini perlu
dilakukan untuk memberi informasi kadar lemak pada konsumen apabila
bahan singkong ini dijadikan sebagai bahan baku untuk produk pangan
sehingga konsumen dapat mengatur kadar kolesterol dalam tubuh.
(Anonim 2013)
Pada penentuan kadar lemak kasar, 1,8755 berat contoh dihaluskan
dan dikeringkan. Bahan ini didapatkan setelah pengujian kadar air

5

dilakukan. Kemudian, bahan singkong yang telah kering tersebut
dimasukkan ke dalam kertas saring yang telah dibentuk tabung kecil
sebelum dimasukkan ke dalam soxhlet apparatus. Sebelumnya kertas
saring ditimbang terlebih dahulu. Pasang tabung ekstraksi pada alat
distilasi. Labu soxhlet diisi pelarut petroleum eter 2/3 isi volume labu.
Ekstraksi dilakuakn selama 3 jam. Setelah itu, matikan soxhlet dan tunggu
sampai tidak menetes kembali dan larutan pada labu tidak menujukkan
gelembung mendidih. Selanjutnya, bahan singkong yang sudah diekstraksi
dimasukkan ke dalam oven selama 1-2 jam dan didinginginkan di
desikator selama 15 menit. Setelah itu bahan ditimbang untuk
mendapatkan bahan akhir uji kadar lemak.
Dari serangkaian uji tersebut, kita dapat menghitung kadar lemak
singkong dengan rumus berat awal bahan dikurangi dengan berat akhir
bahan. Setelahnya, nilai tersebut dibagi dengan berat awal bahan dan
dikalikan 100%. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan berat akhir
yang didapatkan sebesar 1,8724 gram. Dengan didapatkannya berat akhir
ini, persentase kadar lemak dapat diperoleh yaitu 0,17%. Dari literatur
Litbang Deptan, kadar yang diperoleh tidak jauh berbeda yaitu 0,5%
(Anonim 2011)

3.4 Kadar Serat
Serat adalah suatu karbohidrat kompleks di dalam bahan pangan
yang tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim pencernaan manusia, sehingga
dapat mencapai usus besar dan dicerna oleh bakteri probiotik. Serat
tersebut berasal dari dari berbagai sayur dan buah-buahan. Secara kimia
serat tersebut terdiri dari berbagai karbohidrat seperti selulosa, lignin,
pektin, dan non karbohidrat seperti polimer lignin dan gumidan mucilage
(Winarno 1992).
Serat kasar adalah bagian dari pangan yang tidak dapat dihidrolisis
oleh asam atau basa kuat, bahan-bahan kimia yang digunakan untuk
menentukan kadar serat kasar yaitu asam sulfat (H2SO4 1,25%) dan
natrium hidroksida (NaOH 3,25%). Serat kasar merupakan residu dari
bahan makanan atau pertanian setelah diperlakukan dengan asam atau
alkali mendidih. Serat kasar terdiri dari selulosa dengan sedikit lignin dan
pentosan, serta serat kasar merupakan serat tumbuhan yang tidak larut
dalam air. Kadar serat adalah perbandingan berat antara serat dalam umbi
terhadap umbi secara keseluruhan yang dinyatakan dalam persen berat
basah.
Pada kadar serat, sebanyak 1,0014 gram bahan dimasukkan ke
dalam erlenmeyer 500 ml dan tambahkan 100 ml H2SO4 0,325N. Bahan
dihidrolisis di dalam otoklaf bersuhu 1050C selama 15 menit. Dinginkan
bahan dengan desikator, kemudiantambahkan 50 ml NaOH 1,25 N. bahan
dihidrolisis kembali didalam otoklaf bersuhu 1050C selama 15 menit.
Saring bahan menggunakan kertas saring yang telah dikeringkan dan
diketahui beratnya. Setelah itu, cuci kertas saring berturut-turut dengan air
panas + 25 ml H2SO4 0,325 N dan air panas + 25 ml Aceton/alkohol.
Kemudian di angkat dan keringkan kertas saring + bahan kedalam oven
6

bersuhu 1100C selama 1-2 jam. Setelah itu ditimbangdan dihitung kadar
serat yang dihasilkan.
Berdasarkan hasil percobaan kadar serat ubi kayu yang telah
dilakukan menunjukan angka 1,76% yang dalam SNI 01-4493-1998
tergolong mutu ke satu dengan syarat kadar serat maksimal 2,0%.

3.5 Kadar Protein
Pada praktikum kali ini kadar protein dalam singkong diuji dengan
menggunakan metode Kjedahl. Sebanyak 0,1 gram bahan ditambah katalis
(CuSO4 dan Na2SO4) dengan perbandingan 1:1:2 dan ditambahkan 2,5 ml
asam sulfat pekat lalu didestruksi sampai menjadi warna hijau bening.
Hasil dari proses destruksi didinginkan. Selanjutnya dicuci dengan
aquades secukupnya dan didestilasi dengan tambahan natrium hidroksida
(NaOH) 50% sebanyak 15 ml. Destilat yang dihasilkan ditampung dan
ditambahkan HCl 0,02 N. Proses dihentikan apabila volume destilat
berjumlah dua kali volume sebelumnya. Selanjutnya destilat dititrasi
dengan natrium hidroksida (NaOH) 0,02 N dan indikator mensel
(campuran metil red dan metil blue). Selanjutnya dihitung kadar
proteinnya. (Faktor Konversi singkong= 6,25)
Protein memiliki fungsi sebagai zat pembangun dan pengatur
dalam tubuh manusia. Protein merupakan sumber asam amino yang
mengandung unsur C,H,O, dan N yang tidak dimiliki oleh lemak ataupun
karbihidrat. Molekul protein mengandung pula fosfor, belerang, dan
adajuga protein yang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga
(Winarno 2004). Protein dapat dianalisis menggunakan dua metode yaitu
secara kualitatif dan kuantitatif. Dalam praktikum yang telah dilakukan,
praktikan menggunakan metode kuantitatif yaitu dengan metode Kjedahl
untuk mengetahui kadar protein yang terdapat dalam bahan pangan.
Penetapan kadar protein dengan metode Kjedahl merupakan
metode empiris (secara tidak langsung) yaitu melalui penetapan kadar N
dalam bahan. Penggunaan metode ini senyawa-senyawa bernitrogen yang
lain selain protein juga terukur sebagai protein sehingga metode ini sering
disebut penentapan protein kasar. Tahapan analisis protein dengan metode
Kjedahl meliputi destruksi, destilasi, dan titrasi. Destruksi bertujuan untuk
melepaskan unsur N dari protein yang diubah menjadi amonium sulfat.
Pada tahap destilasi amonium sulfat diubah menjadi amoniak yang
ditangkap oleh larutan asam standar berlebih. Sisa asam yang tidak
bereaksi dengan amoniak dititrasi, sehingga dapat diketahui jumlah
amoniak dari N protein sampel (Muchtadi 1989).
Hasil yang didapat dari penggunaan metode Kjedahl ini berupa
protein kasar, sebab yang didapatkan tidak protein tetapi terdapat
komponen lainnya seperti nitrogen. Faktor yang perlu diperhatikan dalam
analisa protein dengan metode Kjedahl antara lain jenis katalis. Jumlah
H2SO4 selama pemanasan suhu dan waktu pemanasan serta kesempurnaan
destilasi ammonia dan amina.
Sampel yang telah direaksikan dengan asam sulfat terurai dan dapat
mengubah nitrogen menjadi ammonium hydrogen sulfat.
CaHbNc + H2SO4 aCO2+ 1/2 b H2O + c NH4HSO4
7

Penambahan alkali pekat pada larutan dilakukan setelah dingin dan
ammonium sulfat yang dilepas didestilasikan. Ammonia yang terbentuk
ditambahkan dengan asam kuat berlebih, jika kelebihan asam kuat dititrasi
kembali dengan basa kuat.
cNH4HSO4 cNH3 + cSO42-
cNH3 + (c+d) HCl NH4Cl + dHCl
dHCl + dNaOH dH2O + dNaCl
mmol N (c) = mmolHCl yang bereaksi = mmolHCl total (c+d)
mmolNaOH (d).
Indikator yang digunakan adalah mensel dengan warna ungu.
Ketika didestilasi, protein akan terpisah dalam bentuk ammonia.
Selanjutnya tritrasi menggunakan larutan NaOH yang reaksinya akan
menghasilkan warna kehijauan. Hasil pengurangan NaOH menunjukkan
besarnya protein yang terkandung semakin kecil nilai titrasi maka semakin
banyak kandungan protein yang berada didalam bahan pangan tersebut.
Penentuan persen (%) protein dalam bahan tersebut secara pasti
dapat ditentukan dengan mengalikan % total N dengan factor konversinya.
Nilai dari persen (%) total N yang terdapat pada ubi yaitu 0.84 persen (%)
dan Faktor konversi dari umbi kayu yakni 6,25. Hasil dari pengujian 182.9
gram ubi kayu didapatkan sekitar 5.25 persen (%) protein.

3.6 Kadar Abu
Sebagian besar bahan makanan, yaitu sekitar 96% terdiri dari
bahan organik dan air. Sisanya terdiri dari unsur-unsur mineral (Winarno
1992). Abu adalah zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan
organik. Penentuan kadar abu berhubungan erat dengan kandungan
mineral yang terdapat dalam suatu bahan, kemurnian serta kebersihan
suatu bahan yang dihasilkan. Abu merupakan residu anorganik yang
didapat dengan cara mengabukan komponen-komponen organik dalam
bahan pangan (Puspitasari 1991). Jumlah dan komposisi abu dalam
mineral tergantung pada jenis bahan pangan serta metode analisis yang
digunakan. Abu dan mineral dalam bahan pangan umumnya berasal dari
bahan pangan itu sendiri (indigenous). Tetapi ada beberapa mineral yang
ditambahkan ke dalam bahan pangan, secara disengaja maupun tidak
disengaja.
Kadar abu tersebut dapat menunjukaan total mineral dalam suatu
bahan pangan. Bahan-bahan organik dalam proses pembakaran akan
terbakar tetapi komponen anorganiknya tidak, karena itulah disebut
sebagai kadar abu. pBobot abu yang diperoleh sebagai perbedaan bobot
cawan berisi abu dan cawan kosong. Apabila suatu sampel di dalam
cawan abu porselen dipanaskan pada suhu tinggi sekitar 650C akan
menjadi abu berwarna putih. Ternyata di dalam abu tersebut dijumpai
garam-garam atau oksida-oksida dari K, P, Na, Mg, Ca, Fe, Mn, dan Cu,
disamping itu terdapat dalam kadar yang sangat kecil seperti Al, Ba, Sr,
Pb, Li, Ag, Ti, As, dan lain-lain. Besarnya kadar abu dalam daging ikan
umumnya berkisar antara 1 hingga 1,5 % (Yunizal, et.al 1998).
Penentuan kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan,
antara lain untuk menentukan baik atau tidaknya suatu pengolahan,
8

mengetahui jenis bahan yang digunakan dan sebagai penentu parameter
nilai gizi suatu bahan makanan (Sudarmadji et all 1989). Sebagai contoh,
penggilingan gandum, apabila masih banyak lembaga dan endosperm
maka kadar abu yang dihasilkannya tinggi. Banyaknya lembaga dan
endosperm pada gandum menandakan proses pengolahan kurang baik
karena masih banyak mengandung bahan pengotor yang menyebabkan
hasil analisis kadar abu menjadi tidak murni. Kandungan abu juga dapat
digunakan untuk memperkirakan kandungan dan keaslian bahan yang
digunakan (Apriyantono 1989).
Uji kadar abu, singkong yang digunakan sebanyak 4,859 gram
kemudian dimasukkan ke dalam labu porselen yang kering dan telah
diketahui beratnya. Setelah itu, pijarkan bahan dalam tanur selama dua jam
pada suhu 600C sampai diperoleh abu berwarna keputih-putihan.
Selanjutnya bahan didinginkan pada desikator dan ditimbang kembali
untuk mengetahui berat setelah pengabuan. Hitung persentase kadar abu
dengan rumus berikut.
Dari hasil pengamatan didapat kadar abu dalam singkong 0.92%,
berdasarkan . Menurut Balagopalan(1988), Kadar abu singkong dapat
mencapai 1%. Semakin tinggi kadar abu, maka singkong tersebut kurang
baik dalam pengolahannya, misalnya pengupasan. Semakin rendah kadar
abu, maka singkong tersebut sangat baik dalam pengolahannya.Berarti
dalam pemisahan daging dari kulit yang dilakukan oleh praktikan sudah
terbilang sangat baik.

BAB IV. POTENSI PEMANFAATAN BAHAN UJI
Singkong memiliki banyak menfaatnya dan kegunaannya, kali ini
kelompok kami akan menggunakan singkong menjadi bahan bakar ramah
lingkungan. Bahan bakat ramah lingkungan adalah bioethanol yang berasal dari
tanaman singkong, dimana bioethanol adalah pengganti premium dan
dilakukan secara fermentasi. Bioethanol sendiri adalah etanol yang diproduksi
dengan cara fermentasi menggunakan bahan baku nabati. Etanol atau etil
alkohol C
2
H
5
OH, merupakan cairan tidak berwarna, larut dalam air, eter,
aseton, benzene, dan semua pelarut organi, serta memiliki bau khas alkohol.
Salah satu pembuatan etanol yang paling terkenal adalah fermentasi. Bioetanol
dapat diperoleh salah satunya dengan cara fermentasi singkong. Bioethanol
dapat dibuat dari singkong. Singkong merupakan tanaman yang sangat populer
di seluruh dunia, khususnya di negara-negara tropis. Di Indonesia, singkong
memiliki arti ekonomi terpenting dibandingkan dengan jenis umbi-umbian
lainnya. Selain itu, kandungan pati dalam singkong yang tinggi sekitar 25-30%,
sangat cocok untuk pembuatan energi alternatif. Dengan demikian, singkong
adalah jenis umbi-umbian daerah tropis yang merupakan sumber energi paling
murah sedunia.
Cara pembuatan bioethanol adalah sebagai berikut :
1. Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapat dimanfaatkan.
Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil.
2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%.
Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih
9

awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan
baku.
3. Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless si eel berkapasitas 120
liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100liter. Panaskan
gaplek hingga 100
o
C selama 0,5 jam. Aduk rebusan gaplek sampai
menjadi bubur dan mengental.
4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam langki sakarifikasi.
Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah
dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akan memecah pati
menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong,
diperlukan 10 liter larutan cendawan Aspergilus atau 1-% dari total
bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebelum
digunakan, Aspergilus dikuhurkan pada bubur gaplek yang telah dimasak
tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan
berkembang biak dan bekerja mengurai pati.
5. Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan
endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu
masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum fermentasi
pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17-18%. Itu adalah kadar gula
maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces untuk hidup dan bekerja
mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebih tinggi, tambahkan
air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan
larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum.
6. Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan
Saccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi
berlangsung anaerob atau tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi
optimal, jaga suhu pada 28-32
0
C dan pH 4,5-5,5.
7. Setelah 2-3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan
terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil
fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6-12% etanol.
8. Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring
berukuran 1 mikron untuk menyerang endapan protein.
9. Meski telah disaring, etanol masih bercampur air. Untuk
memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan. Panaskan campuran
air dan etanol pada suhu 78
0
C atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu
etanol lebih dahulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100
0
C.
Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga
terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair.
10. Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam
bensin. Agar larut, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol
kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu
dipanaskan 100
0
C. Pada suhu itu, etanol dan air menguap. Uap keduanya
kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau
pati. Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol 99%
yang siap dicampur dengan bensin. Sepuluh liter etanol 99%,
membutuhkan 120-130 liter bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek.

10

BAB V. PENANGANAN DAN PENYIMPANAN IDEAL
Singkong merupakan tanaman yang cukup melekat dengan rakyat,
tanaman rakyat singkong lebih identik berperan untuk penduduk di daerah
rawan pangan. Sampai akhir orde baru pemanfaatan singkong masih terbatas
untuk konsumsi penduduk, bahkan ada beberapa tempat yang khususnya
daerah minus sampai sekarang keadaan demikian masih berlangsung. Sebagai
tanaman yang dapat tumbuh hampir di semua tempat, singkong banyak di
budidayakan orang untuk meningkatkan penghasilan keluarga, baik itu di
ladang, tegalan, bahkan dipekarangan rumah.
Singkong merupakan salah satu jenis hasil tanaman yang mudah rusak.
Singkong yang sudah dipanen tidak bisa tahan lama tanpa penanganan lebih
lanjut atau langsung dipasarkan, disimpan 24 jam pun sudah bisa menurunkan
mutu dari singkong tersebut. Jadi, diperlukan dan harus dipahami dengan benar
akan penanganan untuk mempertahankan kualitas mutu dari singkong. Salah
satu caranya adalah dengan melakukan sekam lembab dimana fungsinya yaitu
agar singkon tetap dalam keadaan utuh dan segar, memperpanjang daya tahan
singkong 5-6 bulan, mempertahankan kulitas mutunya, dan meningkatkan rasa.
Manfaat dari sekam lembab adalah tidak menimbulkan efek samping,
peningkatan pendapatan petani singkong akan meningkat, tidak memerlukan
biaya yang terlalu mahal, dan mudah melakukan dan cukup praktis.( Lingga
1989).
















11

BAB VI. PENUTUP
6.1 Simpulan
Singkong merupakan tanaman serealia. Singkong berasal dari
bagian akar pada tanaman (Manihot Utilisima). Kandungan dalam ubi
kayu antara lain terdapat 62,49% kadar air, 0,926% kadar abu, 2,63 %
kadar serat , kadar pati sebesar 16,2 %, kadar lemak 0.17%,dan kadar
protein 5.25 %. Dari seluruh bagian, 74.02% bagian dapat dikonsumsi
sedangkan 25.98% sisanya adalah kulit. Ubi kayu ini mempunyai densitas
kamba 1,09 gram/m. Mutu dari ubi yang diuji masuk pada mutu I.
Ubi kayu dapat dijadikan sebagai diversifikasi pangan. Pengolahan
menjadi hal penting dalam menjaga kualitas ubi kayu. Ubi kayu juga
mempunyai potensi bagus untuk dikembangkan sebagai bahan baku
industri. Salah satu potensi ubi kayu yang sudah dikembangkan di
Indonesia adalah dibuatnya tepung, padahal selain dibuat tepung ubi kayu
juga bisa diolah menjadi mie, jelly, kue dan roti. Selain itu limbah kulit ubi
juga bisa digunakan sebagai pakan ternak dan pupuk organik.

6.2 Saran
Ubi kayu cocok sebagai diversifikasi beras, ubi kayu juga memiliki
kandungan gizi yang lebih bagus dari total mutu beras. Dengan demikian,
diversifikasi pangan dengan singkong sebaiknya perlu dikembangkan di
Indonesia.















12

DAFTAR PUSTAKA
[Anonim]. 2010. Karakteristik Sifat Fisik Kimia dan Kimia Ubi Kayu.[terhubung
berkala].http://skripsi.unila.ac.id/2009/08/03/karakterisasi-sifat-fisik-dan-
kimia-ubi-kayu-manihot-esculenta-berdasarkan-lokasi-penanaman-dan-
umur-panen-yang-berbeda (12 Desember 2013)
[Anonim]. 2013. Ada apa dengan kolesterol. [terhubung berkala]
http://badungkab.go.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id4
80 (12 Desember 2013)
Apriyantono A. 1989. Analisa Pangan. Bogor : PAU Pangan dan Gizi IPB.
Balagopalan, C, G. Padmaja,S.K.Nandadan S.N.Moorthy.1988. Casava Invut,
Feed, and Induistry. CRC Press, Inc : Florida.
Muchtadi D.1989. Evaluasi Nilai Gizi Pangan.Bogor: Institut Pertanian Bogor
Muchtadi TR. 2010. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Bandung : Alfabeta.
Puspitasari B. 1991. Teknik Penelitian Mineral Pangan. Bogor : IPB Press.
Sudarmadji S, Bambang dan Suhardi. 2003. Prosedur Analisa Bahan Makanan
dan Pertanian. Yogyakarta : Liberty.
Syarief, R dan Irawati, A.1986. Pengetahuam Bahan untuk Industri Pertanian.
PT. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta
Winarno FG. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Erlangga.
Winarno FG. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Yunizal, Murtini,J.T., Dolaria,N., Purdiwoto,B., Abdulrokhim dan Carkipan.
1998. Prosedur Analisa Kimiawi Ikan dan Produk Olahan Hasil-Hasil
Perikanan. Instalasi Penelitian dan Pengembangan Perikanan; Jakarta.








13

LAMPIRAN
Foto Bahan

Penampakan Singkong

Bagian daging singkong

Percobaan kadar abu
14


Uji Luff Schroll














Uji Kadar Protein







bahan uji protein yang setelah dititrasi dengan NaOH 0.02 N


15

Rekapitulasi Data Hasil Praktikum
1. Analisis sifat fisik
Persen Tiap Bagian
Berat singkong : 247.1 gram
Berat kulit singkong : 64.2 gram
Berat daging singkong : 182.9 gram

Persentase kulit singkong = (berat kulit singkong/berat singkong) x 100 %
= (64.2 /247.1) x 100 %
= 25.98%

Persentase daging singkong= (berat daging singkong/berat singkong) x 100 %
= (182.9 /247.1) x 100 %
= 74.01%

2. Densitas Kamba
= massa singkong / volume singkong
= 247.1 gram / 225 mL
=1,09 gram/mL

3. Analisis Proksimat
a) Kadar air
- Bobot Awal = 5 gr
- Bobot Akhir = 1.875 gr
- Kadar Air = [(bobot awal-akhir)/ bobot awal] *100%=
[(5-1.875)/5]*100% = 62.49 %

b) Kadar Abu
- Bobot Awal = 4.859 gr
- Bobot Akhir = 0,045 gr
- Kadar Air = [(Berat Abu Setelah Pengabuan)/ bobot awal] *100%
= [ 0,045/4,859] *100% = 0,926 %
16


c) Kadar Serat
- Bobot Awal = 1,0014 gr
- Bobot Kertas Saring+Bahan = 0,9845 gr
- Bobot Kertas Saring = 0,9582 gr
Kadar Serat = [{(Bobot Kertas Saring+Bahan) - Bobot Kertas Saring}/
Bobot Awal] *100%
= [(0,9845 gr - 0,9582gr )/ 1,0014 gr]*100%
= 2,63 %

d) Uji Luff Schroll
- Na blanko = 22.3 ml
- A = 7.5 gr
- P = 25 ml
- Kadar Pati = [(A*0,9*P)/Bobot Contoh]*100%
= [(7,2*0,9*25)/1000]8100%
= 16,2 %
e) Kadar Protein
- Titrasi ( blanko-contoh) = 40 ml
- % N = [(ml titrasi(blanko-contoh)*N NaOH*14)/Gram contoh*1000] *100%
= [(26.1-25.8)*0,02*14)/0,1*1000]*100%
= 0.84%
- % protein = % total N * faktor konversi
= 0.84%*6,25
= 5.25 %
f) Kadar Lemak
- Berat Awal = 1.8755 gr
- Berat Akhir = 1.8724 gr
- Kadar Lemak = [(Berat Awal-Berat Akhir)/ Berat Awal]*100%
= [ (1,8755-1.8724)/1,8755]*100%
= 0.17%

17