Você está na página 1de 5

Metode presipitasi dan co-presipitasi

Oleh: Deri Febiola Putra (1101520); Nova Yulianti



Presipitasi adalah teknik paling lama yang digunakan untuk prekonsentrasi dan pemisahan. Metode ini
mempunyai poin-poin umum seperti: proses pembentukan endapan dalam larutan, faktor-faktor yang
mempengaruhi penentuan efesiensi pemisahan, teknik percobaan dll. Proses pembentukan endapan
cukup kompleks dan biasanya tidak terjadi secara instan. Hal ini tergantung pada faktor-faktor seperti:
komposisi dari fasa cair, pH, temperatur, sifat counter-ion dalam membentuk endapan, deretan dimana
larutan bercampur, dan sifat dari kolektor.

Presipitasi, khususnya co-presipitasi dengan kolektor organik atau anorganik menjamin sebuah tingkat
konsentrasi yang tinggi. Adapun endapan dapat dikelompokkan menjadi:
a. Garam dari asam-asam kuat. Seperti sulfat-sulfat yang larut sebagian dari Ba, Hg(I), Pb, dan Sr;
klorida dari Ag dan Hg(I); timbal nitrat dll.
b. Garam dari asam-asam lemah. Umumnya sangat sedikit larut dalam air seperti sulfida, kabonat,
fosfat, dan logam kelat.
c. Asam-asam bebas (silicic, stannous, tungstic acid) dan hidroksida dari logam-logam.
d. Pembentukan endapan dengan mereksikan tiga komponen. Contohnya sebuah logam dapat
diubah menjadi komplek anion halida yang akan mengendap dengan basa organik.
e. Substan dalam bentuk unsur-unsurnya (sulfur, tellurium)

A. Presipitasi
1. Presipitasi matriks

Pemekatan dengan cara pengendapan terbagi dua yaitu; presipitasi matriks dan presipitasi komponen
trace. Teknik pemekatan yang selektif dari matrik dengan menghasilkan larutan trace element yang akan
dipekatkan merupakan teknik yang berasal dari analisis gravimetri. Presipitasi membutuhkan konsumsi
reagen yang besar, durasi yang berkepanjangan pada proses dan co-presipitasi: massa yang besar dari
endapan dapat menyebabkan kehilangan komponen trace. Tetapi, pada beberapa kasus, kebanyakan
dari kekurangan ini dapat dihindari atau diminimumkan. Oleh sebab itu presipitasi matrik masih tetap
digunakan.

2. Presipitasi element trace

Presipitan organik sangat penting dalam mengendapkan element trace. Biasanya, reagen organik
membentuk kelat yang susah larut dalam air dan merupakan peranan penting dalam prekonsentrasi
tersebut.





B. Co-presipitasi dari trace element

1. Deskripsi umum

Co-presipitasi trace elemen lebih banyak digunakan dari presipitasi sebagai metode prekonsentrasi. Co-
presipitasi adalah pentransferan sebuah substan dalam suatu senyawa jika substan tersebut tidak
membentuk fasa padatnya sendiri pada kondisi-kondisi yang telah diberikan. Co-presipitasi dipengaruhi
oleh adsorpsi komponen trace pada permukaan kolektor, pembentukan kristal isomorfik campuran,
senyawa kimia campuran, oklusi dan mekanikal inklusi dari fasa lain yang jumlahnya sedikit.
Adsorpsi meningkat dengan meningkatnya luas permukaan dari kristal dan dengan menurunnya
kelarutan dari element trace dimana element tersebut membentuk ion yang muatannya berlawanan
dengan kristal tersebut. Ion dari element trace diadsorpsi pada kristal polar jika permukaan kristal
mempunyai muatan yang berlawanan dengan ion element trace tersebut. Oklusi adalah penjebakkan
pelarut yang mengandung element trace.
Hal-hal yang memepengaruhi co-presipitasi trace element adalah:
a. Sifat kimia dan kimia-kristal dari senyawa tersebut
b. Kondisi dari element co-pengendap dalam larutan
c. Laju dan deretan penambahan reagen
d. Proses penuaan endapan
e. Keasaman larutan
f. Waktu
g. Temperatur dll

Kolektor (carrier) dari element trace harus mempunyai persyaratan yang spesifik. Yang paling penting
adalah mampu memerangkap element yang dibutuhkan tanpa memerangkap element matrik dan
komponen trace yang menganggu. Selektivitas yang lebih besar dalam co-presipitasi dapat diperoleh
dari masking, merubah kondisi oksidasi dari element tersebut, dan menggunakan teknik-teknik lain.

Persyaratan utama dari kolektor adalah dapat dengan mudah terpisah dari larutan matrik, dapat dengan
cara penyaringan dan pencucian endapan. Kolektor juga harus murni dan mudah tersedia serta metode
penentuannya (mempunyai spektra yang sederhana). Kolektor juga mempunyai kemampuan untuk
digunakan kembali.

2. Co-presipitasi anorganik

Co-presipitasi element trace dengan kolektor anorganik biasanya menggunakan pengendap amorphous
dengan luas permukaan yang besar (hidroksida, sulfida, fosfat dll). Prinsipnya adalah transformasi yang
terjadi pada fasa padat, termasuk pembentukkan senyawa kimia dan larutan padat. Co-presipitasi
tergantung pada lokasi element-element pada tabel periodik, khususnya ketika komponen-komponen
mempunyai sifat donor-aseptor yang saling berlawanan senyawa kimia akan terbentuk.

Proses sorption sangat penting. Pembentukan endapan akan mempunyai luas permukaan yang besar
dan struktur berpori, sehingga endapan yang terdispersi akan sangat mudah dilalui oleh ion yang ada
pada larutan. Proses ini dapat terjadi secara fisika dan kimia, contohnya pertukaran ion dalam co-
presipitasi silfida dan hidroksida.

3. Co-presipitasi organik

Kolektor organik biasanya bersifat selektif yang baik. Contohnya larutan klorida yang mengandung
gallium dan aluminium dapat mengisolasi 90% gallium dengan pengendap tunggal induline hidroklorida
tanpa menyerap aluminium. Keefektifan co-presipitasi organik sangat bagus terhadap komponen trace
bahkan dalam larutan yang rasionya 1:10
15
. Co-presipitan dapat dipisahkan dari konsentratnya dengan
pembakaran sederhana dan konsentrat dapat dilarutkan pada pelarut anorganik. Pemekatan bisa lebih
selektif tergantung pada kondisi dan sifat co-presipitan organik yang dipilih.

Metode evaporasi
Oleh: Deri Febiola Putra (1101520); Nova Yulianti

Metode ini berdsarkan perbedaan koefisien distribusi dari makro dan element trace dalam sistem cair-
uap atau padat-uap. Metode ini diaplikasikan pada sampel yang terdispersi. Keuntungan metode ini
adalah cakupan yang luas, sederhana dan cepat.

A. Evaporasi

Metode ini berdasarkan perbedaan komposisi cair dan uap; termasuk destilisi sederhana, rektifikasi dan
destilasi molekular (destilasi vakum). Perbedaan komposisi cair-uap diekspresikan dalam bentuk
koefesien distribusi.




Dimana x dan y adalah fraksi molar dari komponen trace secara berturut pada fase cair dan gas.
Koefisien distribusi adalah fungsi dari sifat dan komposisi campuran yang akan dipisahkan serta
temperatur. Kandungan total komponen trace jauh lebih sedikit dari komponen makro maka x <<<1 dan
y<<<1. Sehingga bisa diasumsikan bahwa koefisien distribusi dari campuran komponen matrik dan trace
adalah independen terhadap komposisi campuran dan konstantanya pada temperatur tertentu adalah:



Hubungan yang sama jika komponen trace terkonsentrasi pada fasa cair. Maka:



Untuk D yang besar digunakan destilasi sederhana (evaporasi), biasa digunakan pada analisis konsentrasi
trace pada air, asam, pelarut organik dll. Sampel dievaporasi menjadi volume yang lebih kecil atau
sampai kering (biasanya adanya kolektor) dan konsentrat lalu dianalisis dengan metode yang sesuai.
Metode ini tidak memerlukan reagen.

Untuk D = 1.001-1.005 digunakan proses rektifikasi digunakan untuk memisahkan komponen dengan
sifat yang hampir sama seperti isotop unsur. Rektifikasi juga digunakan untuk pemisahan preparatif
berbagai macam campuran organik dan anorganik, serta memperoleh isotop-isotop yang berbeda,
substan dengan kemurnian tinggi dan produk petroleum. Pada analisis anorganik metode ini dipakai
karena komponen makro dan trace mempunyai perbedaan volatilitas.

Keberhasilan metode evaporasi tergantung kepada kestabilan kimia dari komponen makro dan trace
selama pemanasan. Untuk substan yang mempunyai kestabilan thermal rendah maka evaporasi
dipengaruhi oleh tekanan rendah sehingga titik didih larutan menjadi turun. Jika pemisahan terjadi pada
tekanan 1.3-1.8 kPa, maka proses tersebut dinamakan destilasi molekular atau destilasi vakum.
Koefesien distribusinya dapat dituliskan sebagai berikut.






Dimana x cond adalah fraksi molar dari komponen trace pada kondesat dan x adalah fraksi molar pada
cairan evaporasi pada waktu yang konstant.

1. Volatilisasi matrik

Volatilisasi sederhana dari matrik dari substan yang akan dianalisis merupakan teknik yang penting
dalam pemekatan. Proses yang umum adalah evaporasi larutan garam. Metode ini juga digunakan untuk
menentukan kuntitas trace dari Co, Cr, Cu, Mo, Ni dan Pb dalam air minum atau sungai, metode ini
berdasarkan evaporasi lambat dari sampel konsentrat dianalisis dengan metode atomic emission.

2. Volatilisasi komponen trace

Teknik ini jarang digunakan dibandingkan evaporasi matrik karena penentuan element-elementnya
sering dalam bentuk senyawa volatil. Umumnya, senyawa tersebut didapatkan setelah transformasi
kimia.

B. Sublimasi

Persamaan koefisien distribusi pada sistem cair-uap juga bisa digunakan pada sistem padat-uap. Tidak
seperti metode evaporasi dimana kesetimbangan antara fasa terjadi karena gerakan thermal molekul-
molekul dan untuk menyamakan konsentrasi dengan fasa, derajat kesetimbangan pada sublimasi
(volatilisasi) tergantung pada homogenitas distribusi element trace pada volume partikel (kristal).
Mengsublimasi matrik akan memperoleh hasil yang bagus. Sampel harus terlebih dahulu dihancurkan
dengan hati-hati sebelum dianalisis.

C. Volatilisasi setelah transformasi kimia

Metode pemekatan berdasarkan konversi komponen trace atau matrik menjadi senyawa yang volatil
oleh reaksi kimia dan dilanjutkan dengan volatilisasi sangat luas digunakan. Contohnya volatilisasi
arsenik dan antimony sebagai arsine, stibine, trihalida; pemekatan boron sebagai boromethyl ether
B(OCH
3
)
3
; germanium dan silicon sebagai tetrachlorida dan tetrafluorida; nikel sebagai tetrakarbonil,
sulfur sebagai oksida dan hidrogen sulfida; klorin, bromin dan iodin dalam keadaan unsurnya. Metode
untuk memisahkan matriknya adalah metode mineralisasi kering dan basah.