Você está na página 1de 19

LAPORAN PRAKTIKUM

IRIGASI DAN DRAINASE


PENGUKURAN DEBIT AIR SALURAN TERBUKA DAN
MENGHITUNG LAMA WAKTU IRIGASI



NAMA :Hendra pangaribuan
NPM :E1J012075
Co-Ass : Riduan Hutabarat



Program Studi Agroekoteknologi
Jurusan Budidaya pertanian
Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
2014
BAB I
PENDAHULUAN
I.1Dasar Teori
Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena tanahnya subur dan sebagian besar
bermata pencaharian sebagai petani. Untuk mengoptimalkan hasil pertanian, perlu dilakukan
berbagai usaha dengan memperhatikan faktor-faktor pendukung. Salah satau faktor
pendukung utama dalam pertanian adalah air. Air untuk tanaman dibutuhkan dalam jumlah
yang sesuai. Karena apabila kekurangan atau kelebihan air, maka pertumbuhan tanaman
akan terganggu.
Mengingat pentingnya pengairan dalam pertanian, maka perlu adanya suatu sistem
pengairan yang disebut sistem irigasi. Dengan sistem irigasi maka pembagian air ke tiap
lahan dapat dikontrol dan sesuai dengan kebutuhan setiap lahan. Untuk itu diperlukan adanya
pemahaman dan pengertian tentang hal-hal yang terkait dengan irigasi dan hubungannya
dengan dunia pertanian.
Pada pembangunan saluran irigasi sangat diperlukan perencanaan dan perhitugan yang
tepat dan akurat terutama dalam pembangunan saluran dengan mengedepankan luasan
saluran yang tepat sekaligus akan mampu mengoptimalkan pengaturan pengeluaran air dari
saluran utama (primer) hingga ke saluran tersier pada tiap-tiap lahan pertanian.
Air merupakan senyawa kimia yang paling aman dan paling dibutuhkan seluruh makhluk
hidup karena tanpa air, makhluk hidup tidak akan dapat bertahan hidup. Untuk itu, dalam
dalam usaha tani dibutuhkan irigasi atau biasa disebut pengairan agar suplai air selalu
tersedia. Selain itu, air irigasi juga harus mempunyai mutu yang baik agar kelangsungan
hidup tanaman menjadi lebih baik.
Dalam sebuah kegiatan pertaian, kebutuhan air sudah tak ter elakkan lagi. Tanaman yang
diusahakan dalam kegiatan pertanian pada umumya membutuhkan air yang cukup agar dapat
tumbuh dan berkembang dengan baik, hingga menghasilkan produksi yang maksimal
tentunya.
Pemberian air pada tanaman haruslah sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman tersebut,
pemberian air yang berlebihan atau tidak sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman juga akan
mengganggu pertumbuhan tanaman tersebut, atau bahkan akan berakibat pada kematianpada
tanaman tersbut.
Sedangkan pada tanaman yang pemberian airnya kurang juga akan berakibat
terhambatnya pertumbuhan pada tanaman, oleh karena itu pemberian air pada tanamn
hendaklah dilakukan sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman.Faktor lain, susahnya air
disuatu tempat atau kawasan tertentu membuat petani kesusahan dalam usaha pertaniannya,
hendaknya dalam situasi seperti ini diperlukan system manajemen irigasi yang baik
pengelolaan air.
Dalam sebuah saluran irigasi, mengetahui debit aliran dalam sebuah sluran irigasi dalah
sangat penting. Ini bertujuan untuk dapat mengontrol laju penggunaan air pada petak sawah
dengan sesuai dengan kebutuhan suatu lahan atau tanaman di sebuah lahan tersebut. Dengan
mengetahui besarnya laju aliran per satuan waktu (debit) diharapkan akan dapat mengontrol
laju aliran sesuai dengan yang dibutuhkan.
Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertaniannya.
Dalam dunia modern saat ini sudah banyak model irigasi yang dapat dilakukan manusia. Pada
zaman dahulu jika persediaan air melimpah karena tempat yang dekat dengan sungai atau
sumber mata air, maka irigasi dilakukan dengan mangalirkan air tersebut ke lahan pertanian.
Namun demikian irigasi juga biasa dilakukan dengan membawa air dengan menggunakan
wadah kemudian menuangkan pada tanaman satu-persatu. Untuk irigasi dengan model seperti
ini di Indonesia biasa disebut menyiram. Sebagaimana telah diungkapkan, dalam dunia
modern ini sudah banyak cara yang dapat dilakukan untuk melakukan irigasi dan ini sudah
berlangsung sejak Mesir Kuno.(Wikipedia)
Saluran irigasi dapat berupa saluran irigasi alamiah dan saluran buatan. Dimana saluran
buatan dapat dibagi lagi menjadi sistem saluran terbuka dan saluran tertutup (pipa) Saluran
terbuka adalah saluran yang mengalirkan airnya dengan permukaan terbuka yang dipengaruhi
tekanan atmosfer. Saluran sistem terbuka untuk irigasi memiliki beberapa bentuk umum yang
sering digunakan yaitu trapesium, persegi, segitiga dan saluran yang terbentuk secara
alamiah. Setiap bentuk saluran akan menghasilkan kecepatan aliran yang berbeda yang tentu
saja mempengaruhi pertumbuhan tanaman yang akan dialirkan irigasi tersebut. Saluran
terbuka perlu dianalisis dengan penggunaan rumus empiris yang telah ada.
Debit aliran merupakan satuan untuk mendekati nilai-nilai hidrologis proses yang terjadi
dilapangan. Kemampuan pengukuran debit aliran sangat diperlukan untuk mengetahui
potensi suatu sumber daya air disuatu daerah atau wilayah DAS. Debit aliran dapat dijadikan
sebuah alat untuk memonitor dan mengefaluasi neraca air suatu kawasan melalui pendekatan
potensi sumber daya air permukaan yang ada.
I.2.Tujuan
Mengetahui besar debit air yang mengalir disaluran irigasi di kemumu serta
menghitung waktu yang diperlukan untuk mengairi lahan sawah yang ditetapkan.




















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Irigasi
Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian yang
jenisnya meliputi irigasi air permukaan, irigasi air bawahtanah, irigasi pompa dan irigasi
rawa. Semua proses kehidupan dan kejadian di dalam tanah yang merupakan tempat media
pertumbuhan tanaman hanya dapat terjadi apabila ada air, baik bertindak sebagai pelaku
(subjek) atau air sebagai media (objek). Proses-proses utama yang menciptakan kesuburan
tanah atau sebaliknya yang mendorong degradasi tanah hanya dapat berlangsung apabila
terdapat kehadiran air. Oleh karena itu, tepat kalau dikatakan air merupakan sumber
kehidupan.
Irigasi berarti mengalirkan air secara buatan dari sumber air yang tersedia kepada
sebidang lahan untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Dengan demikian tujuan irigasi adalah
mengalirkan air secara teratur sesuai kebutuhan tanaman pada saat persediaan lengas tanah
tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman bisa tumbuh
secara normal. Pemberian air irigasi yang efisien selain dipengaruhi oleh tatacara aplikasi,
juga ditentukan oleh kebutuhan air guna mencapai kondisi air tersedia yang dibutuhkan
tanaman.
2.2 Debit Aliran
Debit aliran adalah laju air ( dalam bentuk volume air ) yang melewati suatu penampang
melintang sungai per satuan waktu.Dalam system SI besarnya debti dinyatakan dalam satuan
meter kubik per detik ( m
3
/dt).Sedangkan dalam laporan-laporan teknis, debit aliran biasanya
ditunjukan dalam bentuk hidrograf aliran.Hidrograf aliranadalah suatu perilaku debit sebagai
respon adanya perubahan karakteristik biogeofisik yang berlangsung dalam suatu DAS oleh
adanya kegiatan pengelolaan DAS dan / atau adanya perubahan (fluktuasi musiman atau
tahunan) iklim lokal.
Pengukuran debit air paling sederhana adalah dengan metode apung, caranya dengan
menempatkan benda yang tidak tenggelam di permukaan sungai pada jarak tertentu dan
mencatat waktu yang diperlukan benda tersebut untuk menempuh jarak yang ditentukan
(Asdak, 1998).
Menurut Kartosapoetra (1997), pengukuran debit dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu
secara langsung maupun secara tidak langsung. Secara langsung digunakan beberapa alat
ukur pintu ramijin sekat ukur tipe cipoleti, sekat Thomson, dan alat ukur Parshal Flume.
Pengukuran debit secara tidak langsung yang sangat diperhatikan yaitu tentang kecepatan
aliran dan luas penampang.
Aliran saluran terbuka adalah aliran fluida melalui saluran yang ada permukaan bebasnya.
Adanya permukaan bebas ini memudahkan, sebab tekanan dapat dianggap sama panjang
permukaan bebasnya karena bentuknya tidak bisa diketahui sebelumnya, profil kedalamannya
berubah dengan keadaan sehingga makin menyulitkan penganalisaan air (White, 1997).
Menurut Seyhan (1996), debit dapat diukur dengan dua cara yaitu :
a. Secara aritmatik, bila kecepatan pada suatu titik atau dua titik pada vertikal tersebut
diketahui.
b. Secara grafis, bila kecepatan lebih banyak diketahui jumlahnya.
Beberapa penampang saluran lebih efisien daripada penampang lainnya karena
memberikan luar yang lebih besar untuk keliling basah tertentu. Pada umumnya waktu
dibangunnya saluran, untuk penggaliannya, serta penampang mencapai minimum, harus
dikeluarkan biasa. Telah dibuktikan bahwa bila luas penampang mencapai minimum, maka
keliling basah juga minimum, sehingga baik lapisan maupun penggalian mendekati nilai
minimum masing-masing untuk ukuran saluran yang sama. Praktek saluran terbuka yang
paling penting adalah dalam perhitungan debit air. Debit untuk masing-masing sungai
ditentukan dengan cara sendiri-sendiri dengan menggunakan garis putus-putus sebagai
pemisah kedua bagian (tetapi tidak sebagai batas padat). Kemudian debit-debit tersebut
dijumlahkan untuk menentukan kapasitas total sistem (Streeter dan Whlie, 1999).

2.2.1 Debit secaraLangsung ( debit sesaat)
Dalam pengukuran debit air secara langsung digunakan beberapa alat pengukur yang
langsung dapat menunjukkan ketersediaan air pengairan bagi penyaluran melalui jaringan-
jaringan yang telah ada atau telah dibangun. Dalam hal ini berbagai alat pengukur yang telah
biasa digunakan yaitu:



1. Alat Ukur Pintu Romijn
Ambang dari pintu Romijn dalam pelaksanaan pengukuran dapat dinaik turunkan,yaitu
dengan bantuan alat pengangkat. Pengukuran debit air dengan pintu ukur romijin yaitu
dengan menggunakan rumus:
Q= 1,71 b h
3/2

Keterangan:
Q = debit air
b = lebar ambang
h = tinggi permukaan air

2.Sekat Ukur Thompson
Berbentuk segitiga sama kaki dengan sudut 90
o
dapat dipindah-pindahkan karena
bentuknya sangat sederhana (potable), lazim digunakan untuk mengukur debit air yang relatif
kecil. Penggunaan dengan alat ini dengan memperhatikan rumus sebagai berikut:
Q= 0,0138
Keteragan:
Q = debit air
h = tinggi permukaan air

3.Alat Ukur Parshall Flume
Alat ukur tipe ini ditentukan oleh lebar dari bagian penyempitan,yang artinya debit air
diukur berdasarkan mengalirnya air melalui bagian yang menyempit (tenggorokan) dengan
bagian dasar yang direndahkan.

4.Bangunan Ukur Cipoletti
Prinsip kerja bangunan ukur Cipoletti di saluran terbuka adalah menciptakan aliran
kritis. Pada aliran kritis, energi spesifik pada nilai minimum sehingga ada hubungan tunggal
antara head dengan debit. Dengan kata lain Q hanya merupakan fungsi H saja. Pada
umumnya hubungan H dengan Q dapat dinyatakan dengan:
Q = k . H . n
Keterangan:
Q = debit air
H = head
k dan n = konstanta
Besarnya konstanta k dan n ditentukan dari turunan pertama persamaan energi pada
penampang saluran yang bersangkutan. Pada praktikum ini besarnya konstanta k dan n
ditentukan dengan membuat serangkaian hubungan H dengan Q yang apabila diplotkan pada
grafik akan diperoleh garis hubungan H Q yang paling sesuai untuk masing masing jenis
bangunan ukur.
Dalam pelaksanaan pengukuran-pengukuran debit air,secara langsung, dengan pintu
ukur romijin,sekat ukur tipe cipoletti dan sekat ukur tipe Thompson biasanya lebih mudah
karena untuk itu dapat memperhatikan daftar debit air yang tersedia.

2.2.2 Pengukuran debit air secara tidak langsung:
1.Pelampung
Terdapat dua tipe pelampung yang digunakan yaitu: (i) pelampung permukaan, dan
(ii) pelampung tangkai. Tipe pelampung tangkai lebih teliti dibandingkan tipe pelampung
permukaan. Pada permukaan debit dengan pelampung dipilih bagian sungai yang lurus dan
seragam, kondisi aliran seragam dengan pergolakannya seminim mungkin. Pengukuran
dilakukan pada saat tidak ada angin. Pada bentang terpilih (jarak tergantung pada kecepatan
aliran, waktu yang ditempuh pelampunh untuk jarak tersebut tidak boleh lebih dari 20 detik)
paling sedikit lebih panjang dibanding lebar aliran. Kecepatan aliran permukaan ditentukan
berdasarkan rata rata yang diperlukan pelampung menempuh jarak tersebut. Sedang
kecepatan rata rata didekati dengan pengukuran kecepatan permukaan dengan suatu
koefisien yang besarnya tergantung dari perbandingan antara lebar dan kedalaman air.
Koefisien kecepatan pengaliran dari pelampung permukaan sebagai berikut:


Keterangan:
B = lebar permukaan aliran
H = kedalaman air
Vm = kecepatan rata rata
Vs = kecepatan pada permukaan

Dalam pelepasan pelampung harus diingat bahwa pada waktu pelepasannya,
pelampung tidak stabil oleh karena itu perhitungan kecepatan tidak dapat dilakukan pada saat
pelampung baru dilepaskan, keadaan stabil akan dicapai 5 detik sesudah pelepasannya. Pada
B/H 5 10 15 20 30 40
Vm/Vs 0,98 0,95 0,92 0,90 0,87 0,85
keadaan pelampung stabil baru dapat dimulai pengukuran kecepatannya. Debit aliran
diperhitungkan berdasarkan kecepatan rata rata kali luas penampang. Pada pengukuran
dengan pelampung, dibutuhkan paling sedikit 2 penampang melintang. Dari 2 pengukuran
penampang melintang ini dicari penampang melintang rata ratanya, dengan jangka garis
tengah lebar permukaan air kedua penampang melintang yang diukur pada waktu bersama
sama disusun berimpitan, penampang lintang rata-rata didapat dengan menentukan titik titik
pertengahan garis garis horizontal dan vertikal dari penampang itu, jika terdapat tiga
penampang melintang, maka mula mula dibuat penampang melintang rata rata antara
penampang melintang rata rata yang diperoleh dari penampang lintang teratas dan
terbawah. Debit aliran kecepatan rata rata:
Q = C . Vp Ap
Keterangan:
Q = debit aliran
C = koefisien yang tergantung dari macam pelampung yang digunakan
Vp = kecepatan rata rata pelampung
Ap = luas aliran rata rata

2. Pengukuran dengan Current Meter
Alat ini terdiri dari flow detecting unit dan counter unit. Aliran yang diterima
detecting unit akan terbaca pada counter unit, yang terbaca pada counter unit dapat
merupakan jumlah putaran dari propeller maupun langsung menunjukkan kecepatan aliran,
aliran dihitung terlebih dahulu dengan memasukkan dalam rumus yang sudah dibuat oleh
pembuat alat untuk tiap tiap propeller. Pada jenis yang menunjukkan langsung, kecepatan
aliran yang sebenarnya diperoleh dengan mengalihkan factor koreksi yang dilengkapi pada
masing-masing alat bersangkutan. Propeler pada detecting unit dapat berupa : mangkok, bilah
dan sekrup. Bentuk dan ukuran propeler ini berkaitan dengan besar kecilnya aliran yang
diukur.
Debit aliran dihitung dari rumus :
Q = V x A
dimana :
V = Kecepatang aliran
A = Luas penampang

Dengan demikian dalam pengukuran tersebut disamping harus mengukur kecepatan
aliran, diukur pula luas penampangnya. Distribusi kecepatan untuk tiap bagian pada saluran
tidak sama, distribusi kecepatan tergantung pada :

Kekasaran saluran dan
Kondisi kelurusan saluran
Dalam penggunaan current meter pengetahuan mengenai distribusi kecepatan ini amat
penting. Hal ini bertalian dengan penentuan kecepatan aliran yang dapat dianggap mewakili
rata-rata kecepatan pada bidang tersebut. Dari hasil penelitian United Stated Geological
Survey aliran air di saluran (stream) dan sungai mempunyai karakteristik distribusi
kecepatan sebagai berikut:
a) Kurva distribusi kecepatan pada penampang melintang berbentuk parabolic.
b) Lokasi kecepatan maksimum berada antara 0,05 s/d 0,25 h kedalam air dihitung dari
permukaan aliran.
c) Kecepatan rata-rata berada 0,6 kedalaman dibawah permukaan air.
d) Kecepatan rata-rata 85 % kecepatan permukaan.
e) Untuk memperoleh ketelitian yang lebih besar dilakukan pengukuran secara
mendetail kearah vertical dengan menggunakan integrasi dari pengukuran tersebut
dapat dihitung kecepatan rata-ratanya. Dalam pelaksanaan kecepatan rata-rata nya.
Pengukuran luas penampang aliran dilakukan dengan membuat profil penampang
melintangnya dengan cara mengadakan pengukuran kea rah horikzonta l(lebar aliran) dan ke
arah vertical (kedalamam aliran).Luas aliran merupakan jumlah luas tiap bagian (segmen)
dari profil yang terbuat pada tiap bagian tersebut di ukur kecepatan alirannya.
Debit aliran di segmen = ( Qi ) = Ai x Vi
Keterangan : Qi : Debit aliran segmen i
Ai : Luas aliran pada segmen i
Vi : Kecepatan aliran pada segmen ini
2.3 Efisiensi Irigasi
Efisiensi pengairan merupakan suatu rasio atau perbandingan antar jumlah air yang
nyata bermanfaat bagi tanaman yang diusahakan terhadap jumlah air yang tersedia atau yang
diberikan dinyatakan dalam satuan persentase. Dalam hal ini dikenal 3 macam efisiensi yaitu
efisiensi penyaluran air, efisiensi pemberian air dan efisiensi penyimpanan air (Dumairy,
1992).
Efisiensi irigasi adalah angka perbandingan dari jumlah air irigasi nyata yang terpakai
untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman dengan jumlah air yang keluar dari pintu
pengambilan (intake). Efisiensi irigasi merupakan faktor penentu utama dari unjuk kerja
suatu sistem jaringan irigasi. Efisiensi irigasi terdiri atas efisiensi pengaliran yang pada
umumnya terjadi di jaringan utama dan efisiensi di jaringan sekunder yaitu dari bangunan
pembagi sampai petak sawah. Efisiensi irigasi didasarkan asumsi sebagian dari jumlah air
yang diambil akan hilang baik di saluran maupun di petak sawah. Kehilangan air yang
diperhitungkan untuk operasi irigasi meliputi kehilangan air di tingkat tersier, sekunder dan
primer. Besarnya masing-masing kehilangan air tersebut dipengaruhi oleh panjang saluran,
luas permukaan saluran, keliling basah saluran dan kedudukan air tanah. (Direktorat Jenderal
Pengairan,1986).
Kebutuhan air pengairan adalah banyaknya air yang dibutuhkan untuk menambah
curah hujan efektif (sebagian dari curah hujan total yang jatuh pada wilayah yang
bersangkutan) guna memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Kebutuhan air pengairan adalah tergantung pada banyaknya atau tingkat pemakaian dan
efesiensi jaringan pengairan yang ada (Kartasapoetra dan Sutedjo, 1994).
Jumlah air yang tersedia bagi tanaman di areal persawahan dapat berkurang karena
adanya evaporasi permukaan, limpasan air dan perkolasi. Efisiensi irigasi adalah
perbandingan antara air yang digunakan oleh tanaman atau yang bermanfaat bagi tanaman
dengan jumlah air yang tersedia yang dinyatakan dalam satuan persentase (Lenka, 1991).








BAB III
METODEOLOGI
III.1.Alat Dan Bahan
- Roll meter/meteran
- Alat Tulis
- Currentmeter
- Pelampung
- Stop watch

III.2 Prosedur kerja
1. Memilih bagian saluran irigasi di daerah kemumu bengkulu utara yang sudah dekat
dengan sawah.memilih lokasi yang lurus dengan peubahan lebar sungai,dalam air dan
gradien yang kecil.
2. Menetapkan dua titik (patok) tempat pengamatan dengan jarak 50-100 m.
3. Melemparkan pelampung kesungai dengan jarak 10 20 m sebelah hulu titik
pengamatan pertama.
4. Mencatat waktu tempuh pelampung antara dua titik pengamatan dengan
menggunakan stop watch.
5. Memperoleh kecepatan aliran dengan membagi jarak tempuh dengan jarak tempuh
dengan waktu tempuh pelampung antara 2 titik pengamatan.
6. Selain dengan pelampung,juga dapat mengukur dengan current meter .
7. Memilih kedalaman tertentu dari saluran irigasi ,dan mengukur kecepatan alirannya
pada berbagai kedalaman.
8. Untuk mengukur luas penampang lintang aliran air,meka bagian penampang aliran
tersebut dibagi atas beberapa bagian.tujuan pembegian ini adalah untuk memperoleh
hasilperhitungan yang mendekati luas sebenarnya.
9. Mengukur kecepatan aliran sebanyak 5 kali
10. Menghitung berapa waktu yang diperlukan untuk mengairi sawah dengan volume 20
mm.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1.Hasil Pengamatan
Diketahui : Panjang sisi atas = cm
Lebar dari pinggir = cm
Sisi miring = cm

cm


cm

Pengukuran debit air metode pelampung
Ulangan Jarak
tempuh
(m)
Waktu
tempuh (s)
Kecepatan
aliran
(m/s)
Luas
penampang
saluran
(m
2
)
Debit
(m
3
/s)
Rata-rat
I Gabus 32 51 0,62 0,416 0,25 0,27
Kayu 32 43,66 0,73 0,416 0,30
II Gabus 32 45,05 0,71 0,416 0,29 0,32
Kayu 32 38,44 0,83 0,416 0,34

Hitungan :
a) Kecepatan aliran (m/detik)
1. Ulangan 1
Gabus =


Kayu =



cm
cm cm
2. Ulangan 2
Gabus =


Kayu =


b) Luas penampang saluran irigasi
Dik : kedalaman : 64 cm = 0,64 m
lebar : 2 m
Dit : A....?
Jawab : A =


= 80 X 4 = 320
= 1920 + 320 =4160 : 10.000 = 0,416 m
c) Debit
Q = A X V
1) Ulangan 1
Gabus = Q = A X V

Kayu = Q = A X V


2) Ulangan 2
Gabus = Q = A X V

Kayu = Q = A X V

d) Rata-rata
Gabus =


Kayu =








Pengukuran debit air (saluran irigasi sekunder) metode kipas (current meter )
ulangan Jarak
tempuh
(m)
Waktu
tempuh (s)
Kecepatan
aliran
(m/s)
Luas
penampang
saluran
(m
2
)
Debit
(m
3
/s)
I Gabus 32 51 0,62 0,416 0,25
Kayu 32 43,66 0,73 0,416 0,30
II Gabus 32 45,05 0,71 0,416 0,29
Kayu 32 38,44 0,83 0,416 0,34

Perhitungan:
I. Bagian tengah saluran irigasi
Permukaan : 0,7 m3/s
Dasar : 0,7 m3/s
Tengah : 0,8 m3/s
Maka debit (Q) =


= 0,73 m3/s
II. Bagian pinggir saluran irigasi
Permukaan : 0,6 m3/s
Dasar : 0,6 m3/s
Tengah : 0,7 m3/s
Maka debit (Q) =


= 0,63 m3/s







Saluran irigasi tersier
Metode pelampung

Jarak
tempuh
(m)
Waktu
tempuh (s)
Kecepatan
aliran
(m/s)
Luas
penampang
saluran
(m
2
)
Debit
(m
3
/s)
6 24,79 0,242 0,144 0,033

Perhitungan:
a) Kecepatan aliran air =



b) Luas penampang (A)

Dik : kedalaman : 24 m
lebar : 60 m
Dit : A....?
Jawab : A = 24 X 60 = 1440 cm 2
= 0,144m2
c) Debit= Q = A X V


Maka waktu yang dibutuhkan untuk mengairi sawah 1 ha:
Luas sawah 1ha =10.000 m2
Volume 20 mm = 0,02 m
Maka kebutuhan air pada sawah = 0,02 X 10.000
= 200 m3
Debit (Q) = 0,033 m3/s
Maka =


= 6060 detik =



Pembahasan
Sistem pengairan di Indonesia ada dua macam yaitu teknis dan non teknis. Pada
pengairan dengan menggunakan saluran teknis terdapat tiga macam lagi yaitu saluran teknis
primer, sekunder, dan tersier. Antara saluran teknis dan non teknis terdapat perbedaan,
terutama pada keadaan fisiknya. Saluran teknis adalah saluran yang telah dibuat secara
permanen sedangkan saluran non teknis masih berupa saluran irigasi tradisional kurang
permanen dan pembuatannya belum memperhatikan faktor-faktor teknis pengairan. Dalam
saluran teknis telah terdapat pembagian yang sistematis. Saluran yang berasal dari induk
dinamakan saluran primer, sedangkan saluran sekunder merupakan cabang pertama dari
saluran primer, dan percabangan dari saluran sekunder dinamakan saluran tersier yang
langsung menuju sawah.
Dalam praktikum debit air lapangan ini, dibuktikan bahwa perbedaan yang ada pada
masing-masing saluran juga berpengaruh pada besarnya debit yang dihasilkan. Berdasarkan
data, saluran primer memiliki kecepatan aliran air rata-rata 0,27 m/s pada perlakuan gabus
dan 0,32 pada perlakuan kayu. Nilai debit lebih besar pada perlakuan kayu karena pada
perlakuan kayu tekanan pelampung lebih besar dibandingkan pelampung pada perlakuan
gabus, sehingga kecepatan aliran air pada perlakuan kayu juga semakin besar.
Untuk saluran tersier, sesuai percobaan didapat kecepatan aliran air rata-rata 0,033 pada
perlakuan gabus saja. Besar debit pada saluran ini adalah 0,033 m
3
/s pada perlakuan gabus
saja. Besar debit pada saluran tersier lebih kecil dibanding dengan besar debit saluran teknis
yang lainnya, hal ini mungkin dipengaruhi oleh faktor luas dan kecepatan aliran air pada
saluran tersier besarnya paling kecil diantara saluran teknis yang lainnya.
Perbedaan besar debit disebabkan oleh perbedaan luas penampang saluran dan besar
kecilnya aliran air. Dari data keseluruhan debit air yang paling besar ada pada saluran primer,
sedangkan yang terkecil ada pada saluran non teknis. Semakin besar luas penampang
semakin besar pula debit air, dan semakin besar kecepatan alirannya nilai debit juga semakin
besar.




BAB V
PENUTUP
5.1.Kesimpulan
1. Saluran irigasi ada dua macam yaitu saluran teknis dan saluran non teknis
2. Saluran teknis sendiri dibagi menjadi 3 macam, yaitu saluran teknis primer, saluran
teknis sekunder, saluran teknis tersier
3. Setelah dilakukan pengamatan didapat besar debit pada masing-masing saluran :
Saluran teknis sekunder = 0,27 m
3
/s
Saluran teknis tersier = 0,033 m
3
/s
4. Kecepatan aliran air
Saluran teknis sekunder = 0,70 m
3
/s
Saluran teknis tersier = 0,242 m
3
/s
5. Besar debit aliran air dipengaruhi oleh luas penampang saluran dan kecepatan aliran
air.
Dari semua data yang diketahui bahwa saluran terbesar adalah saluran teknis primer,
sedangkan saluran terkecil adalah saluran teknis tersier.
6. Kecepatan air
7. pada saluran terbuka dipengaruhi oleh angin, kemiringan, dan jarak dari pintu air.
8. Tingkat kesalahan ditunjukkan dengan standart deviasi yang paling besar.
9. Standart deviasi dipengaruhi oleh frekuensi dan kecepatan, selain itu juga adanya
faktor luar yaitu angin dan kotoran.








Daftar pustaka
Asdak. 1998. Hidrologi dan Pengaturan DAS. UGM Press. Yogyakarta
Kartosapoetro, Sutedjo. 1997. Teknik Pengairan Pertanian.Bumi Aksara. Jakarta
Seyhan. 1996. Dasar-Dasar Hidrologi. Nova. Bandung
Streeter, Victor L dan Benjamin Wylie. 1999. Mekanika Fluida Jilid 2 Edisi Delapan.
Erlangga. Jakarta
White, Frank. M. 1997. Mekanika Fluida Jilid 2 Edisi Kedua. Erlangga. Jakarta