Você está na página 1de 53

Tutor : dra.

Tati Rusliati R
Ketua : Marlina Effendy (405090031)
Sekertaris : Fifian Dwi Septi A. (405090034)
Notulis : Jeanie Dewi Wangsa (405090039)
Anggota :
Indra Rachmat Akbar (405090032)
Chlain Liunardy (405090033)
Wisnu Heri Purwanto (405090035)
Alexandra Adeline (405090036)
Tommy Mulioraharjo (405090037)
Jao Jessica Yausep (405090038)
Nadia Olivia (405090040)
Osaly Asman Siagian (405090235)
Nadia Elena Pamudji (405090236)

Stroke, serangan jantung dan tumor ganas merupakan tiga jenis
penyakit mematikan yang terus menghantui kehiduan manusia modern.
Khusus mengenai stroke (serangan otak)terus menerus mendapatkan
perhatian yang sangat serius dari kalangan para ahli dalam
perkembangan terakhir ini. Otak manusia memiliki 100 miliar sel saraf
dan triliunan sambungan saraf. Sungguhpun berat otak hanya 0,2% dari
berat tubuh manusia, tetapi otak paling banyak membutuhkan oksigen
serta bahan gizi lainnya, bahkan melebihi 70% dari oksigen dan bahan
gizi tersebut. ( philip T. Hagen, 2002:7)
Berbeda dengan otot, otak tidak mampu menyimpan gizi yang
diperlukan. Karena itu otak senantiasa membutuhkan aliran darah agar
bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Pada kasus Ir. Soepadi yang
mengalami stroke iskemik, yaitu stroke yang disebabkan timbunan lemak
yang mengandung kolestrol diderita sangat parah . Ir. Soepadi mengalami
kematian batang otaknya, sehingga mengalami comma, selama lebih dari
20 hari. Tim Dokter terus berusaha semaksimal mungkin untuk
merawatnya, tetapi keadaanya semakin tidak membaik. Menghadapi
kemungkinan yang sangat memperihatinkan tersebut, pihak keluarga
menyampaikan permohonan kepada Tim Dokter yang merawatnya agar Ir.
Soepadi dirawat dirumah seadanya. Pihak keluarga tidak sanggup lagi
membayar biaya perawatan, biaya obat-obatan dan biaya lainnya yang
membuat mereka menderita lahir dan batin. Apabila anda saslah satu
anggota Tim Dokter tersebut diatas, bagaimana sikap dan pandangan
anda ?
Batang otak : struktur penyokong otak yang
berbentuk batang
Comma : keadaan tidak sadarkan diri yang
penderitanya tidak dapat dibangunkan,
bahkan dengan rangsangan yang sangat
kuat
Stroke : kematian jaringan otak yang terjadi
karena berkurangnya aliran darah dan
oksigen
Kolestrol : lemak yang ada pada darah dan
jaringan terutama jaringan saraf
1. Apakah kasus Ir. Sopadi termasuk dalam kasus
Euthanasia?
2. Mengapa penyakit stroke mendapat perhatian
yang serius dibandingkan dengan serangan
jantung dan tumor ganas?
3. Apa hubungan antara kehidupan manusia yang
semakin modern dengan semakin tingginya
angka stroke?
4. Apakah Tim Dokter mengizikan Ir. Soepadi
dirawat seadanya dirumah?
1. Ya, euthanasia Pasif
a. karena dalam keadaan comma
b. Karena salah satu organ penting pasien
sudah dalam keadaan lemah/ rusak

2. A. Dari segi waktu
Stroke datang mendadak & butuh penanganan langsung
Kanker memiliki proses yang lebih lama
B. Dari segi perawatan
Ketiganya sama pentingnya

3. A. Life style B. Psikologi
Junk food stress
Kurang olah raga
Kebiasaan buruk (merokok, miras, dll)
4. A. Secara Medis :
Tidak Boleh, karena peralatan medis dirumah yang
kurang memadai

B. Secara Non-Medis :
Segi Ekonomi :
Diperbolehkan
Segi Agama :
Ada yang boleh
Ada yang tidak boleh
Segi Hukum
Tergantung negara
Ex : Belanda : mengizinkan
Negara Islam : tidak mengizinkan
1. Mengetahui, memahami & menjelaskan mengenai
stroke
2. Mengetahui, memahami & menjelaskan definisi
euthanasia
3. Mengetahui, memahami & menjelaskan jenis
euthanasia
4. Mengetahui, memahami & menjelaskan pandangan
agama, hukum, & kemanusiaan
5. Mengetahui, memahami & menjelaskan contoh
kasus euthanasia
6. Memberikan solusi



Strok adalah sindrom klinis yg awal timbulnya
mendadak, progresi cepat, berupa defisit
neurologis fokal dan/atau global, yang
berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung
menimbulkan kematian, dan semata-mata
disebabkan oleh gangguan peredarah darah
otak non traumatik.
Menurut WHO ,stroke: gejala-gejala defisit
fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh
penyakit pembuluh darah otak dan bukan
oleh yang lain dari itu.
Faktor resiko medis
Hipertensi (penyakit tekanan darah
tinggi)
Kolesterol,Aterosklerosis (pengerasan
pembuluh darah)
Gangguan jantung
Diabetes
Riwayat stroke dalam keluarga
Migrain.
Pemicu stroke pada dasarnya adalah,
suasana hati yang tidak nyaman (marah-
marah), stress, terlalu banyak minum alkohol,
merokok dan senang mengkonsumsi
makanan yang berlemak.
Faktor resiko perilaku
Merokok (aktif & pasif)
Makanan tidak sehat (junk
food,fast food)
Alkohol
Kurang olahraga
Mendengkur
Kontrasepsi oral
Narkoba
Obesitas.
Stroke Iskemik: berhentinya aliran darah ke
otak karena ateroskerosis yg menyumbat
pembuluh darah

Stroke : kematian jaringan
otak yang terjadi karena
berkurangnya aliran darah
dan oksigen


Stroke Iskemik : stroke yang
disebabkan timbunan
lemak yang
mengandung kolesterol

aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis
atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu
pembuluh darah.
suatu ateroma (endapan lemak) bisa terbentuk di
dalam arteri karotis sehingga berkurangnya aliran
darah
Stroke bisa terjadi jika tekanan darah rendahnya
sangat berat dan menahun
Ex : jika seseorang mengalami kehilangan darah yang banyak
karena cedera atau pembedahan, serangan jantung atau irama
jantung yang abnormal.
suatu peradangan atau infeksi menyebabkan
menyempitnya pembuluh darah yang menuju ke
otak.
Obat-obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga
bisa mempersempit pembuluh darah di otak
80% penurunan parsial/ total gerakan lengan
dan tungkai.
80-90% bermasalah dalam berpikir dan
mengingat.
70% menderita depresi.
30 % mengalami kesulitan bicara, menelan,
membedakan kanan dan kiri.

Secara etimologis:
Euthanasia berasal dari bahasa Yunani yaitu euthanatos,
eu artinya baik dan thanatos yang artinya kematian
,sehingga euthanasia artinya kematian yang lembut
tanpa menimbulkan rasa sakit bagi orang yang
menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
Secara terminologis:
Menurut Hippocrates dlm Sumpah Hippocrates: "Saya tidak
akan menyarankan dan atau memberikan obat yang
mematikan kepada siapapun meskipun telah dimintakan
untuk itu
Kamus Merriam Webster: aksi atau percobaan pembunuhan atau
mengizinkan kematian akibat penyakit yang tak ada harapan lagi
atau menyakiti orang ataupun hewan dengan rasa sakit yang sekecil
mungkin untuk alasan tertentu atau kemurahan hati.
Menurut Philo (50-20 SM) euthanasia berarti mati dengan tenang
dan baik.
Menurut Suetonis penulis Romawi dalam bukunya yang berjudul
Vita Ceasarum mengatakan bahwa euthanasia berarti mati cepat
tanpa derita.
Euthanasia (mercy killing) secara umum adalah suatu
usaha/tindakan medis yang dilakukan secara sadar untuk
mengakhiri suatu kehidupan, baik dengan menggunakan alat-alat
bantu yang memudahkan kematian misalnya memberikan obat
yang berdosis tinggi atau suntik mati maupun tidak menggunakan
alat bantu sama sekali misalnya menghentikan pengobatan bagi
penderita kanker yang sudah kritis dan dalam keadaan koma.
Menurut PP no.18/1981 pasal 1g menyebutkan
bahwa: Meninggal dunia adalah keadaan insani
yang diyakini oleh ahli kedokteran yang
berwenang, bahwa fungsi otak, pernapasan, & atau
denyut jantung seseorang telah berhenti. Definisi
mati ini merupakan definisi yang berlaku
di Indonesia.
Mati itu sendiri sebetulnya dapat didefinisikan
secara sederhana sebagai berhentinya kehidupan
secara permanen (permanent cessation of life).
Hanya saja, untuk memahaminya terlebih dahulu
perlu memahami apa yang disebut hidup.
A. Eutanasia ditinjau dari sudut cara pelaksanaannya

Eutanasia aktif : tindakan secara sengaja yang
dilakukan oleh dokter untuk mempersingkat atau
mengakhiri hidup pasien.
Misalnya: memberikan obat-obatan, menyuntikkan
zat-zat yang mematikan( tablet sianida) ke dalam
tubuh pasien, melepas alat pembantu medik
Eutanasia otomatis: autoeuthanasia, pasien menolak
secara tegas dan sadar untuk menerima perawatan
medis dan pasien mengetahui bahwa penolakannya
akan memperpendek / mengakhiri hidupnya.Pasien
membuat sebuah "codicil" (pernyataan tertulis
tangan). Auto-eutanasia pada dasarnya adalah suatu
praktek eutanasia pasif atas permintaan.

Eutanasia pasif : membiarkan pasien dalam
keadaan tidak sadar( comma)dengan secara
sengaja tidak memberikan bantuan medis yang
dapat memperpanjang hidup pasien.
Euthanasia pasif dibagi 2:
- Tidak wajar: mengizinkan seseorang mati dgn
cara menolak alat2 yg wajar dalam
mempertahankan hidup dgn sengaja ( metode
bantuan hdp seperti makanan, minuman,air,
dan udara)
- Wajar: Menolak alat2 yg tidak wajar ( alat
pernafasan buatan, organ2 buatan)

Misalnya:
tidak memberikan bantuan oksigen bagi pasien
yang mengalami kesulitan bernafas
tidak memberikan antibiotika kepada penderita
pneumonia berat
meniadakan operasi yang seharusnya dilakukan utk
memperpanjang hidup pasien
pemberian obat penghilang rasa sakit seperti
morfin walaupun disadari bahwa pemberian morfin
ini juga dapat berakibat ganda yaitu mengakibatkan
kematian.

B. Eutanasia ditinjau dari sudut pemberian izin
Eutanasia di luar kemauan pasien: tindakan
eutanasia yang bertentangan dengan
keinginan pasien untuk tetap hidup.
Tindakan ini disamakan dgn pembunuhan.
Eutanasia secara tidak sukarela: seseorang
yang tidak berhak untuk mengambil suatu
keputusan(wali) mengaku memiliki hak untuk
mengambil keputusan bagi si pasien.
Eutanasia secara sukarela : dilakukan atas
persetujuan pasien.


C. Eutanasia ditinjau dari sudut tujuan
Pembunuhan berdasarkan belas kasihan
(mercy killing)
Eutanasia hewan
Eutanasia berdasarkan bantuan dokter, ini
adalah bentuk lain daripada eutanasia aktif
secara sukarela


1. Euthanasia Pasif
tindakan dokter berupa penghentian pengobatan
pasien yang menderita sakit keras, yang secara medis
sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan


PEMICU :
Penghentian pengobatan mempercepat kematian
pasien. Alasan :
1. Keadaan ekonomi yang terbatas, sementara dana
yang dibutuhkan untuk biaya pengobatan cukup
tinggi
2. Fungsi pengobatan menurut perhitungan dokter
sudah tidak efektif lagi.
2. Euthanasia aktif
tindakan dokter mempercepat kematian pasien
dengan memberikan suntikan ke dalam tubuh pasien
atau dengan melepaskan alat-alat medis dari tubuh
pasien karena pasien sudah tidak memiliki harapan
hidup.

Contoh Kasus ;
Seseorang menderita kanker ganas dengan rasa sakit
yg luar biasa hingga penderita sering pingsan, dalam
hal ini dokter yakin bahwa yg bersangkutan akan
meninggal dunia. Kemudian dokter memberinya obat
dgn takaran tinggi (overdosis) yg sekiranya dapat
menghilangkan rasa sakitnya, tetapi menghentikan
pernapasannya sekaligus.
Islam menyatakan pelarangan terhadap pembunuhan
antara lain Al-Quran surat Al-Isra:33, An-Nisa:92,
Al-Anam:151
prinispnya pembunuhan secara sengaja terhadap
orang yang sedang sakit berarti mendahului takdir
Allah
Yang berhak mematikan dan menghidupkan manusia
hanyalah Allah dan oleh karenanya manusia dalam hal
ini tidak mempunyai hak atau kewenangan untuk
memberi hidup dan atau mematikannya.
(QS.Yunus:56, Al-Mulk:1-2)
Euthanasia akif : haram hukumnya
QS Al-Anaam : 151 utk keluarga dan dokter yang membunuh
QS An-Nisaa` : 92 utk dokter
QS An-Nisaa` : 29 Utk si pasien
Euthanasia pasif : diperbolehkan jika pasien sebenarnya
sudah tidak dapat tertolong lagi dan keluarga sudah
mengizinkan, hal ini dilakukan untuk meringankan beban
si pasien.
Contoh kasus :
menghentikan alat pernapasan buatan pasien, yang menurut
pandangan dokter ahli ia sudah mati atau dikategorikan telah
mati karena jaringan otak ataupun fungsi syaraf sebagai media
hidup dan merasakan telah rusak. Kalau yang dilakukan dokter
tersebut semata-mata menghentikan alat pengobatan, hal ini
sama dengan tidak memberikan pengobatan.
setelah mencabut alat-alat tersebut dari tubuh pasien,
dokter tidak dapat dapat dikatakan berdosa dan tidak
dapat dimintai tanggung jawab mengenai tindakannya itu
Tidak ada hak moral untuk membunuh
Jangan membunuh (Keluaran 20:13)
Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil
(Ayub 1:21)
Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan
(Ulangan 32:39)
Dengan demikian kesalahan dari euthanasia aktif
adalah menyalahgunakan hak kedaulatan Allah atas
hidup manusia.
Konstitusi tidak memberikan hak untuk
membunuh
Membunuh seorang yang menderita bukan sikap
murah hati
Ada banyak yang dapat dipelajari melalui
penderitaan
Tidak ada kartu harga pada hidup manusia
Yesus berkata, Apa gunanya seorang memperoleh
seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? (Markus
8:36)
Hidup seseorang lebih bernilai dari apapun juga di dunia
ini (matius 6:26)


Meringankan rasa sakit melalui kematian
Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan
binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. Biarlah
ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak
lagi mengingat kesusahannya (amsal 31:6-7)
Minuman keras adalah hal yang tabu. Namun,
minuman ini dianjurkan untuk mereka yang akan
mati supaya dapat meringankan mereka dari
penderitaan
Mempertahankan seseorang dalam keadaan
tidak sadar memiliki penyakit yg tidak dapat
disembuhkan, yg hidupnya tergantung pada
mesin pada waktu ia sekarat, itu tidak perlu.
(masalah pemicu)
Ini menentang proses kematian alamiah yg
diperintahkan Allah
Kej 2: 16-17; Rom 5: 12 Alaah telah menetukan bahwa
semua orang pasti mati
Mzm 90:10 Dia telah menyatakan bahwa ada batas
yang wajar untuk hidup.
Menurut pernyataan Pope Benedict XVI {VATICAN,
February 2, 2009 (LifeSiteNews.com) }
"The cross of Christ will be the demons ruin, and this is
why Jesus does not cease to teach his disciples that in
order to enter into his glory he must suffer much, be
rejected, condemned and crucified. Suffering is an
integral part of his mission.
Just as a death that is died willingly is a source of life,
Jesus gave meaning to human suffering by willingly
suffering and dying on the cross for love of humanity
I wholeheartedly join in their message in which we see
the love of pastors for their people, and the courage to
proclaim the truth, the courage to state with clarity, for
example, that euthanasia is a false solution to the drama
of suffering, a solution unworthy of man
Sejak pertengahan abad ke-20, gereja Katolik telah berjuang untuk
memberikan pedoman sejelas mungkin mengenai penanganan
terhadap mereka yang menderita sakit tak tersembuhkan,
sehubungan dengan ajaran moral gereja mengenai eutanasia dan
sistem penunjang hidup.
Paus Pius XII yang tak hanya menjadi saksi dan mengutuk program-
program egenetika dan eutanasia Nazi, melainkan juga menjadi
saksi atas dimulainya sistem-sistem modern penunjang hidup,
adalah yang pertama menguraikan secara jelas masalah moral ini
dan menetapkan pedoman.
Pada tanggal 5 Mei tahun 1980 , kongregasi untuk ajaran iman telah
menerbitkan Dekalarasi tentang eutanasia ("Declaratio de
euthanasia) yang menguraikan pedoman ini lebih lanjut, khususnya
dengan semakin meningkatnya kompleksitas sistem-sistem
penunjang hidup dan gencarnya promosi eutanasia sebagai sarana
yang sah untuk mengakhiri hidup.
Paus Yohanes Paulus II yang prihatin dengan semakin
meningkatnya praktek eutanasia, dalam ensiklik Injil
Kehidupan (Evangelium Vitae) nomor 64 yang
memperingatkan kita agar melawan "gejala yang
paling mengkhawatirkan dari `budaya kematian'
dimana jumlah orang-orang lanjut usia dan lemah
yang meningkat dianggap sebagai beban yang
mengganggu."
Paus Yohanes Paulus II juga menegaskan bahwa
eutanasia merupakan tindakan belas kasihan yang
keliru, belas kasihan yang semu: "Belas kasihan yang
sejati mendorong untuk ikut menanggung
penderitaan sesama. Belas kasihan itu tidak
membunuh orang, yang penderitaannya tidak dapat
kita tanggung" (Evangelium Vitae, nomor 66)


Pandangan agama Hindu terhadap euthanasia didasarkan pada
ajaran tentang karma, moksa dan ahimsa. Karma adalah suatu
konsekuensi murni dari semua jenis kehendak dan maksud
perbuatan, yang baik maupun yang buruk, lahir atau batin dengan
pikiran kata-kata atau tindakan.
Bunuh diri adalah suatu perbuatan yang terlarang di dalam ajaran
Hindu sebab perbuatan tersebut dapat menjadi faktor yang
mengganggu karena menghasilkan karma buruk.
Berdasarkan kepercayaan umat Hindu, apabila seseorang
melakukan bunuh diri, maka rohnya tidak akan masuk neraka
ataupun surga melainkan tetap berada di dunia fana sebagai roh
jahat dan berkelana tanpa tujuan hingga ia mencapai masa waktu
di mana seharusnya ia menjalani kehidupan. Misalnya, seseorang
bunuh diri pada usia 17 tahun padahal dia ditakdirkan hidup
hingga 60 tahun. Maka selama 43 tahun rohnya berkelana tanpa
arah tujuan. Setelah itu, rohnya masuk ke neraka untuk menerima
hukuman lebih berat; kemudian kembali ke dunia (reinkarnasi)
untuk menyelesaikan karma-nya terdahulu yang belum selesai
dijalaninya.
Ajaran Budha dengan tegas menolak pandangan
euthanasia ini. Buddha sangat menekankan larangan
untuk membunuh makhluk hidup. Ajaran ini
merupakan moral fundamental dari Sang Buddha.
Oleh karena itu, jelas bahwa euthanasia adalah
perbuatan yang tidak dapat dibenarkan dalam ajaran
agama Budha. Selain itu, ajaran Budha sangat
menekankan pada welas asih (karuna).
Mempercepat kematian seseorang secara tidak
alamiah merupakan pelanggaran terhadap perintah
utama ajaran Budha. Tindakan jahat itu akan
mendatangkan karma buruk kepada siapa pun yang
terlibat dalam tindakan euthanasia tersebut.
Setiap agama pada umumnya sangat
menghargai jiwa, terlebih jiwa manusia
karena itu merupakan karunia Tuhan. Kerena
itu, setiap manusia sama sekali tidak
berwenang dan tidak boleh melenyapkan jiwa
tanpa kehendak dan aturan YME.
Tindakan merusak ataupun menghilangkan
jiwa milik orang lain maupun jiwanya sendiri
merupakan perbuatan melawan hukum
Tuhan.
Indonesia
Pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang
menyatakan bahwa "Barang siapa menghilangkan nyawa
orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang
disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh,
dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun
pasal-pasal 338, 340, 345, dan 359 KUHP yang juga dapat
dikatakan memenuhi unsur-unsur delik dalam perbuatan
eutanasia
secara formal hukum yang berlaku di negara kita memang
tidak mengizinkan tindakan eutanasia oleh siapa pun
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Farid Anfasal Moeloek dalam
suatu pernyataannya yang dimuat oleh majalah Tempo Selasa
5 Oktober 2004 : "Euthanasia hingga saat ini tidak sesuai
dengan etika yang dianut oleh bangsa dan melanggar hukum
positif yang masih berlaku yakni KUHP
Belanda
negara pertama di dunia yang melegalisasi praktik eutanasia
Sejak akhir tahun 1993, Belanda secara hukum mengatur
kewajiban para dokter untuk melapor semua kasus eutanasia
dan bunuh diri berbantuan. Instansi kehakiman selalu menilai
betul prosedurnya
2002, sebuah konvensi berusia 20 tahun telah dikodifikasi oleh
undang-undang belanda, dimana seorang dokter yang
melakukan eutanasia pada suatu kasus tertentu tidak akan
dihukum.
Australia
menjadi tempat pertama di dunia dengan UU yang mengizinkan
euthanasia dan bunuh diri berbantuan
1995 Northern Territory menerima UU yang disebut "Right of
the terminally ill bill" (UU tentang hak pasien terminal) UU baru
ini beberapa kali dipraktikkan, tetapi bulan Maret 1997
ditiadakan oleh keputusan Senat Australia, sehingga harus
ditarik kembali.

Belgia
September 2002 : Parlemen Belgia telah melegalisasi tindakan
eutanasia
negara ketiga yang melegalisasi eutanasia ( setelah Belanda
dan negara bagian Oregon di Amerika )

Amerika
negara bagian Oregon (1997) : hukumnya secara eksplisit
mengizinkan pasien terminal ( pasien yang tidak mungkin lagi
disembuhkan) mengakhiri hidupnya dengan persyaratan yang
ketat

Swiss
pasal 115 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana Swiss
tahun 1937, dipergunakan tahun 1942, menyatakan bahwa
"membantu suatu pelaksanaan bunuh diri adalah merupakan
suatu perbuatan melawan hukum apabila motivasinya semata
untuk kepentingan diri sendiri."
Menurut Deklarasi Lisabon 1981, euthanasia dari sudut
kemanusiaan dibenarkan dan merupakan hak bagi pasien
yang menderita sakit yang tidak dapat disembuhkan.
Namun dalam praktiknya dokter tidak mudah melakukan
euthanasia, karena ada dua kendala. Pertama, dokter
terikat dengan kode etik kedokteran bahwa ia dituntut
membantu meringankan penderitaan pasien Tapi di sisi
lain, dokter menghilangkan nyawa orang lain yang berarti
melanggar kode etik kedokteran itu sendiri. Kedua,
tindakan menghilangkan nyawa orang lain merupakan
tindak pidana di negara mana pun. (Utomo, 2003:178).
Setiap orang di dunia ini mempunyai hak asasi sejak
lahir. Hak asasi ini meliputi hak untuk hidup, hak untuk
memeluk agama, hak untuk mengeluarkan pendapat dan
pikirannya secara bebas, hak untuk berkeluarga, hak
untuk mendapatkan pendidikan, dan masih banyak lagi.
Oleh karena itu, jika seseorang melakukan praktek
euthanasia, itu berarti ia mengambil hak atau
kesempatan seseorang untuk hidup. Dan ini dianggap
melanggar hak asasi manusia untuk hidup. Kita harus
menghargai dan menghormati semua hak asasi yang
dimiliki oleh setiap manusia tanpa terkecuali.

Sebuah permohonan untuk melakukan eutanasia pada
tanggal 22 oktober 2004 telah diajukan oleh seorang
suami bernama Hassan Kusuma karena tidak tega
menyaksikan istrinya yang bernama Agian Isna Nauli, 33
tahun, tergolek koma selama 2 bulan dan di samping itu
ketidakmampuan untuk menanggung beban biaya
perawatan merupakan suatu alasan pula. Permohonan
untuk melakukan eutanasia ini diajukan ke Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat.
Kasus ini merupakan salah satu contoh bentuk eutanasia
yang di luar keinginan pasien. Permohonan ini akhirnya
ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan setelah
menjalani perawatan intensif maka kondisi terakhir pasien
(7 Januari 2005) telah mengalami kemajuan dalam
pemulihan kesehatannya.

Seorang perempuan berusia 21 tahun dari New Jersey, Amerika
Serikat, pada tanggal 21 April 1975 dirawat di rumah sakit
dengan menggunakan alat bantu pernapasan karena kehilangan
kesadaran akibat pemakaian alkohol dan zat psikotropika secara
berlebihan.
Oleh karena tidak tega melihat penderitaan sang anak, maka
orangtuanya meminta agar dokter menghentikan pemakaian alat
bantu pernapasan tersebut.
Kasus permohonan ini kemudian dibawa ke pengadilan, dan
pada pengadilan tingkat pertama permohonan orangtua pasien
ditolak, namun pada pengadilan banding permohonan
dikabulkan sehingga alat bantu pun dilepaskan pada tanggal 31
Maret 1976.
Pasca penghentian penggunaan alat bantu tersebut, pasien dapat
bernapas spontan walaupun masih dalam keadaan koma.
Dan baru sembilan tahun kemudian, tepatnya tanggal 12 Juni
1985, pasien tersebut meninggal akibat infeksi paru-paru
(pneumonia)

Pada tahun 2002, ada seorang pasien wanita berusia 68
tahun yang terdiagnosa menderita penyakit sirosis hati
(liver cirrhosis). Tiga bulan setelah dirawat, seorang dokter
bermarga Park umur 30 tahun, telah mencabut alat bantu
pernapasan (respirator) atas permintaan anak perempuan
si pasien.
Pada Desember 2002, anak lelaki almarhum tersebut
meminta polisi untuk memeriksa kakak perempuannya
beserta dua orang dokter atas tuduhan melakukan
pembunuhan. Seorang dokter yang bernama dr. Park
mengatakan bahwa si pasien sebelumnya telah meminta
untuk tidak dipasangi alat bantu pernapasan tersebut. 1
minggu sebelum meninggalnya, si pasien amat menderita
oleh penyakit sirosis hati yang telah mencapai stadium
akhir, dan dokter mengatakan bahwa walaupun respirator
tidak dicabutpun, kemungkinan hanya dapat bertahan
hidup selama 24 jam saja.

Euthanasia menurut agama (beberapa) itu
dilarang karena melanggar Hukum Tuhan
Secara medis diizinkan pulang karena telah
mengalami kematian batang otak (kode etik)
Beberapa agama tidak mengijinkan Ir. Sopadi
pulang karena dianggap masih hidup (masih
bernafas)

Memberikan penjelasan sejelas-jelasnya
mengenai resiko yg terjadi apabila pasien
dirawat di rumah.
Menyarankan keluarga Ir. Sopadi untuk
mengurus Gakin agar pengobatan Ir.
Sopadi bisa diringankan.


Sebisa mungkin tidak melakukan euthanasia
karena di Indonesia tidak diperbolehkan,
apabila hukum di Indonesia kelak mau
menjadikan persoalan euthanasia sebagai
salah satu materi pembahasan, semoga tetap
diperhatikan dan dipertimbangkan sisi nilai-
nilainya, baik sosial, etika, maupun moral.

http://fk.uwks.ac.id/elib/modules.php?name
=Forums&file=viewtopic&t=18&highlight
Utomo, Setiawan Budi. 2003. Fiqih Aktual
Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer.
Jakarta : Gema Insani Press.
http://www.rudyct.com/PPS702-
ipb/04212/aris_wibudi.htm
http://www.gokkri.co.cc/2010/03/makalah-
agama-euthanasia.html
http://jusjerukkusuka.blogspot.com/2010/0
5/pandangan-tentang-euthanasia.html
http://www1.voanews.com/indonesian/news
/a-32-2010-01-10-voa7-
85117167.html?rss=asia
http://hukumkes.wordpress.com/2008/03/1
5/aspek-hukum-dalam-pelaksanaan-
euthanasia-di-indonesia/ (4 Juni 2010)
http://www.medicastore.com/brown_seawee
d/gejala_sebab_stroke.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Eutanasia#Eutan
asia_ditinjau_dari_sudut_cara_pelaksanaanny
a