Você está na página 1de 26

PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-1

BAB 2
MEKANIKA ALIRAN DEBRIS

2.1 Aliran Campuran Multi Fase
Saat ini, model yang dipakai untuk analisa aliran granular (butiran) tidak mempertimbangkan
pengaruh cairan interstisial (campuran air dan lumpur halus yang kental). Model aliran
granular dapat dikategorikan menjadi model aliran kelompok butiran (konstituen kontinum)
dan model aliran butiran lepas. Karakteristik model yang pertama, biasanya dianalisa
memakai rumus momentum dan kontinyu menurut Eulerian. Model yang pertama
mempelajari kedalaman dan kecepatan aliran sekelompok butiran. Sebaliknya, model yang
kedua mempelajari aliran sekelompok butiran, tetapi setiap butiran mengalir secara individu
(sendiri-sendiri). Rumus Lagrangian, biasanya digunakan untuk mempelajari model yang
kedua.
Untuk menganalisa model yang pertama, diperlukan rumusan dasar sebagai berikut;
1) keseimbangan antara gaya-gaya yang berkerja dari luar dan gaya-gaya yang bekerja di
dalam aliran.
2) kontinyuitas konservasi massa, dan
3) hubungan timbal-balik antara gaya dan kecepatan aliran.
Analisa mekanika cairan klasik dapat diterapkan untuk rumusan dasar no. 1) dan 2). Dalam
Bab-1.4 telah dibahas mengenai analisa dimensi aliran sekelompok butiran. Jika terjadi
interaksi antar berbagai ukuran butiran dan konsentrasi butiran tersebar tidak merata dalam
aliran, maka analisa dimensi merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Sehingga, dalam
berbagai penelitian dipakai anggapan bahwa sekelompok butiran merupakan massa yang
bergerak dengan kecepatan yang sama, ukuran dan konsentrasi butiran yang sama, serta
proses interaksi yang sama. Takahashi (2007) menerapkan anggapan tersebut untuk
menganalisa aliran debris, dengan mempertimbangkan interaksi antara butiran dan cairan
interstisial. Analisa dibedakan menjadi dua, yaitu; model aliran satu fase dan model aliran
dua fase. Model aliran satu fase menganggap campuran butiran dan air mengalir bersama-
sama dengan kondisi yang selalu tetap (kontinuitas). Aliran tersebut disebabkan oleh effek
interaksi antara butiran dan air. Pada umumnya, teori aliran debris yang ada saat ini,
menggunakan model aliran satu fase. Model aliran dua fase menganggap butiran dan air
mengalir dengan caranya sendiri-sendiri, interaksi kedua aliran tersebut menyebabkan
terjadinya aliran debris. Analisa aliran debris dengan menerapkan model aliran satu fase lebih
mudah dan lebih cepat dibandingkan dengan model aliran dua fase.
Model aliran butiran lepas, sering dipakai untuk menganalisa aliran debris model aliran satu
fase. Tetapi, pengaruh cairan interstisial (air atau air campur partikel halus) dianggap kecil,
sehingga diabaikan. Pada umumnya, model aliran satu fase menggunakan hukum kedua
Newton, yaitu; F = m.a, dimana F adalah tenaga, m adalah masa butiran dan a adalah
kecepatan gerak butiran. Untuk satu butir, F adalah resultan tenaga tumbukan dengan butiran
disekitarnya. Ada dua pendekatan dalam analisa tumbukan antar butiran, yaitu; tumbukan
keras dan tumbukan lunak. Untuk tumbukan keras, butiran dianggap keras (rigid) dan hanya
satu kali tumbukan antara dua butiran dalam satu momentum (Campbell & Brennenn 1985;
Straub 2001). Tumbukan keras tidak sesuai untuk menganalisa aliran debris, karena tidak
dapat menganalisa tumbukan banyak butiran yang terjadi dalam waktu yang bersamaan.
Untuk pendekatan tumbukan lunak, butiran dianggap mengalami deformasi dan gaya-gaya
yang terjadi di titik-titik tumbukan sebanding dengan kekakuan butiran. Interaksi antar
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-2

butiran di titik-titik tumbukan dapat dimodel menggunakan alat pengukur deformasi seperti
Gambar-2.1.


Gambar-2.1 Peralatan untuk mengukur tumbukan butiran model
tumbukan lunak, k
n
dan k
s
; konstanta pegas,
n
dan
s
;
koefisien redaman, Gotoh & Sakai, 1997 (Takahashi, 2007)
Peralatan i dan peralatan j mampu meghasilkan gaya tolak-menolak (repulsif), sehingga gaya-
gaya yang dihasilkan oleh tumbukan antar butiran dapat diukur.
Apabila aliran debris dianggap sebagai aliran campuran butiran (zat padat) dan air (zat cair),
maka fase padat tersebut dianalisa menggunakan rumus Eulerian, sedang fase cair secara
alami sudah termasuk dalam rumus Eulerian tersebut. Dengan demikian, gabungan kedua
face akan menghasilkan rumus kopling-mengopling model Euler-Euler.
Kedua rumus konsevasi momentum menurut Iverson, 1997, sebagai berikut;

(2.1)

(2.2)
dimana V
s
dan V
r
adalah kecepatan zat padat dan kecepatan zat cair, T
s
dan T
f
adalah tensor
gaya zat padat dan tensor gaya zat cair, dan F
i
adalah tenaga interaksi per satuan volume yang
dihasilkan oleh momentum akibat pertukaran antara zat padat dan zat cair. Jika rumus (2.1)
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-3

ditambahkan ke rumus (2.2) menghasilkan rumus konservasi momentum untuk menganalisa
aliran campuran seperti aliran debris. Rumus gabungan tersebut sudah mengeliminasi proses
interaksi antara fase padat dan fase cair yang sangat rumit. Apabila aliran debris diplot
dengan koordinat sistem Cartesian, dan dianggap sebagai aliran tetap-seragam, serta
kecepatan relatif antara zat padat dan zat cair diabaikan, maka diperoleh rumus tekanan dan
gaya geser sebagai berikut (Takahashi, 1991);

(2.3)

(2.4)
dimana P
ds
adalah tekanan fase padat, P
f
adalah tekanan hidrostatis fase cair, T
ds
adalah gaya
geser fase padat, T
f
adalah gaya geser fase cair, T (=( )C +) adalah kerapatan zat padat
dan adalah kemiringan permukaan aliran. Kedua rumus tersebut merupakan kompromi
terhadap rumusan no.1), 2) dan 3) tersebut di atas. Model aliran campuran dua fase
merupakan model keseimbangan gaya-gaya yang ada didalam aliran campuran, yakni;
persamaan sebelah kanan dari kedua rumus (2.3) dan (2.4) tersebut.
2.2 Aliran Campuran Satu Fase
Analisa aliran debris dengan model aliran campuran satu fase, menganggap zat padat dan zat
cair merupakan satu kesatuan aliran. Karakteristik aliran tergantung oleh hubungan timbal-
balik antara gaya geser dan kekuatan gaya yang mengikat (menyatukan) butiran, yang disebut
sebagai hukum konsistensi. Beberapa hubungan timbal-balik antara gaya geser dan kekuatan
gaya yang mengikat butiran tersebut dikemukakan dalam Gambar-2.2.

Gambar-2.2 Kurva konsistensi berbagai cairan (Takahashi, 2007)
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-4

Rumusan dari kurva-kurva dalam Gambar-2.2 sebagai berikut;
Cairan Newton ; = (du/dz) (2.5)
Cairan Bingham; =
y
+ (du/dz) (2.6)
Cairan HerschelBulkley ; =
y
+ K
1
(du/dz)n, n 1 (2.7)
Cairan kental ; = K
2
(du/dz)n, n > 1 (2.8)
Salah satu cairan Newton adalah aliran laminar (lambat) dimana; adalah gaya geser linier
sebanding dengan laju perubahan kekentalan, du/dz, dimana adalah koefisien kekentalan
dinamis. Ketiga cairan lainnya bukan cairan Newton. Dari ketiga cairan ini, cairan Bingham
tidak mengalami deformasi (perubahan) saat mengalir, meskipun gaya geser yang bekerja
lebih kecil dari
y
. Tetapi jika gaya geser lebih besar dari
y
, cairan ini berubah menjadi
cairan Newton. Dalam hal ini,
y
adalah kekuatan gaya yang mengikat zat padat dan adalah
koefisien modulus kekakuan (rigiditas) atau disebut sebagai koefisien kekentalan Bingham.
Cairan HerschelBulkley bertambah mobilitasnya seiring dengan bertambahnya gaya geser.
Cairan Bingham merupakan satu-satunya cairan yang mempunyai = 1. Sebagaimana sudah
diketahui, air mudah mengisi pori-pori atau ruang-ruang yang ada diantara sekumpulan
partikel. Jika pengisian air tersebut menyebabkan gaya geser lebih besar dari kekuatan gaya
yang mengikat partikel
y
, maka partikel-partikel akan terlepas dan melemahkan gaya yang
menahan laju aliran. Hal ini disebut sebagai cairan HerschelBulkley. Sebaliknya, cairan
dilatansi (kental) menurun mobilitasnya seiring dengan bertambahnya gaya geser. Aliran
debris sangat berbeda dengan aliran air, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai aliran
Newton.
2.2.1 Model cairan plastik kental
Aliran debris berasal dari perubahan longsoran tanah atau timbunan sedimen di dasar sungai,
baik yang mengalir perlahan-lahan maupun mendadak. Setelah menempuh jarak tertentu akan
berhenti dan mengendapkan sedimen di permukaan tanah yang datar, sedang airnya tetap
mengalir meninggalkan sedimen. Dengan demikan, ketika sedimen belum mengalir terdapat
kekuatan gaya yang mengikat butiran sedimen. Jika gaya geser yang bekerja di dalam
timbunan sedimen tersebut melebihi kekuatan gaya yang mengikat butiran sedimen, maka
butiran sedimen mulai bercerai dan mengalir. Semakin besar gaya geser semakin besar aliran
sedimen tersebut. Aliran debris berhenti mengalir, karena gaya geser yang bekerja menurun
sampai lebih kecil dari kekuatan gaya yang mengikat butiran sedimen.
Yano-Daido (1965) dan Jonson (1970) adalah peneliti pertama yang menggunakan model
aliran debris memakai analisa kekuatan gaya yang mengikat butiran sedimen dengan
menerapkan model cairan Bingham seperti rumus (2.6). Model ini disebut model cairan
plastik kental. Sejak itu, model cairan plastic kental banyak dipakai untuk analisa aliran
debris. Penerapan model cairan Bingham memerlukan parameter
y
dan . Biasanya, nilai
parameter ini ditentukan dengan menggunakan alat uji rheometer terhadap contoh-contoh
sedimen aliran debris yang dikumpulkan dari lapangan. Meskipun peralatan yang paling
besar sekalipun, yang saat ini digunakan untuk percobaan dengan volume sedimen sampai 1
m
3
dan mengandung banyak butiran ukuran besar, tidak mungkin dipakai untuk melakukan
percobaan aliran debris yang mengandung banyak butiran besar berukuran lebih dari 1 m.
Sehingga, banyak percobaan yang telah dilakukan menggunakan alat uji rheometer (berupa
flume atau saluran percobaan) hanya dapat menguji kondisi cairan interstisialnya saja.
Peralatan rheometer skala terbesar ada di laboratorium uji model USGS (Amerika Serikat).


PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-5

Hasil pengukuran kekentalan cairan Bingham yang telah dilakukan oleh Takahashi (2007)
dikemukakan dalam Gambar-2.3.

Gambar-2.3 Kekentalan cairan interstisial seperti cairan
Bingham (Takahashi, 2007)
Dalam pengukuran tersebut dipakai bahan lempung kaolin, disamping itu juga dilakukan
pengumpulan data dari lapangan. Bahan lempung kaolin akan mempunyai mobilitas yang
membesar, jika gaya gesarnya diperbesar. Dalam percobaan, pengukuran kekentalan
dilakukan, baik untuk laju gaya geser yang kecil (3,5-50 per detik) maupun yang besar (40-
140 per detik), karena kekentalan lempung kaolin hampir sebanding dengan konsentrasi
partikelnya.
Gaya geser yang bekerja di ketinggian z tegak lurus dasar sungai, dimana h adalah
kedalaman aliran dan adalah slope dasar sungai dirumuskan sebagai berikut;

(2.9)
Karena dianggap sebagai cairan Bingham, maka digunakan rumus (2.6). Sehingga distribusi
kecepatan tegak lurus dasar sungai dapat dihitung dengan mengintegrasikan rumus (2.6)
berdasarkan kondisi batas di z = 0 dan u = 0.

(2.10)
Hasilnya sebagai berikut;

(2.11)

dimana, z' (
y
/g.sin ) adalah kedalaman diukur dari dasar sungai,
y
adalah gaya geser
yang bekerja, Z = z/h dan u
*
= (gh.sin )
1/2
adalah kecepatan geser. Jika z' = 0, akan
diperoleh kurva parabolik dari cairan Newton. Rumus (2.11) mempunyai bentuk seperti
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-6

Gambar -2.4. Bagian di bawah z' bertindak sebagai bidang kaku (rigid), karena gaya geser
yang bekerja lebih kecil dari
y
. Sedang bagian yang berada dalam z' disebut plug.

Gambar-2.4 Distribusi kecepatan dalam cairan
Bingham (Takahashi, 2007)
Untuk aliran debris di sungai Jianjia, berdasarkan hasil percobaan dengan peralatan
rheometer dan contoh-contoh dari lapangan diperoleh kedalaman aliran =1m, slope dasar
sungai = 3
o
dan kerapatan sedimen = 2.2 g/cm
3
, kekentalan aliran =1 Pa.dt dan kekuatan gaya
pengikat partikel = 100 Pa. Perhitungan memakai rumus (2.11) menghasilkan z' = 9 cm dan
kecepatan rata-rata penampang melintang U = 470 m/dt, hal ini sungguh tidak cocok dengan
kondisi sesungguhnya di lapangan. Sebaliknya, dengam memasukan data pengamatan
lapangan (kedalaman aliran = 50 cm dan kecepatan aliran = 6 m/dt) kedalam rumus (2.11)
diperoleh
y
= 5600 Pa dan = 230 Pa.dt. Seperti tersebut di atas, kekuatan gaya pengikatan
partikel di sungai Jianjia berkisar antara 1100 Pa dan kekentalanya berkisar antara 0,0110
Pa.dt (lihat Gambar-2.3). Sebagaimana diketahui, kekuatan gaya pengikat partikel dan
kekentalan aliran debris mampu mengikat partikel kasar berukuran 10 sampai lebih dari 100
kali ukuran lumpur halus cairan interstisial. Hal ini membuktikan bahwa hasil percobaan
peralatan rheometer tidak cocok untuk memprediksi kecepatan dan ketebalan aliran debris.
Meskipun dengan peralatan tersebut dapat diketahui kecenderungan naiknya kekentalan dan
kekuatan gaya pengikat partikel, dengan cara menaikan konsentrasi sedimen pada saat
dilakukan percobaan. Sehingga perhitungan secara teoritis memakai rumus (2.11) dan
menggunakan data dari lapangan dianggap lebih cocok.
Johnson (1970) memodifikasi model cairan Bingham menjadi model cairan Coulomb dengan
memperkecil mobilitas aliran debris, sebagai berikut;

(2.12)
dimana, c adalah gaya kohesi,
n
adalah gaya geser dalam, adalah sudut geser dalam.
Modifikasi tersebut tidak memberikan alasan yang jelas mengenai perubahan kondisi fisik
aliran, sehingga sulit untuk dipelajari.

2.2.2 Model cairan kental
Dalam aliran debris tipe batu, komponen terbesar adalah zat padat berupa butiran kasar
berukuran besar. Aliran debris tipe batu mempunyai mobilitas yang tinggi meskipun
mengangkut batu-batu besar di permukaan tanah yang relatif datar (slope < 4
o
). Karena pada
saat mengalir, gaya yang menahan aliran berkurang akibat perceraian ikatan butiran dan
pengendapan sebagian butiran (Takahashi, 1978). Butiran lebih berat dibandingkan dengan
cairan, sehingga cenderung diendapkan. Dengan demikian, pasti ada gaya yang bekerja untuk
menceraikan ikatan butiran tersebut, agar aliran debris batu tetap mengalir. Jika konsentrasi
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-7

butiran relatif kecil (lebih kecil dari 0,5 kali volume), kelebihan tekanan cairan interstisial
(campuran air dan lumpur halus) akan menguraikan ikatan butiran, karena terdapat pori-pori
yang besar yang mudah terisi air di antara butiran. Sehingga butiran mudah bercerai dan
saling bertumbukan. Salah satu yang memberikan sumbangan besar dalam mobilitas aliran
debris batu adalah gaya tumbukan butiran tersebut.
< Rumus gerakan sekompok butiran menurut Bagnold >
Bagnold (1954) adalah peneliti yang pertama kali menemukan gaya tumbukan antar butiran
dalam aliran granular. Menurut Bagnold, gaya tumbukan terjadi karena butiran dalam suatu
lapisan berpindah ke lapisan lainnya dengan mempertahankan jarak antar butiran dan
kecepatan yang sama, sebagaimana ditunjukan Gambar-2.6.

Gambar-2.6 Aliran butiran menurut Bagnold (Takahashi, 2007)
Perpindahan butiran tersebut diatas, terjadi karena butiran yang ada di dalam lapisan yang
mengalir lebih cepat, bergeral lebih lambat, sehingga tertumbuk butiran lainya dan pindah ke
lapisan yang mengalir lebih lambat. Dalam gambar tersebut, perbedaan kecepatan aliran
lapisan A dan lapisan B adalah u. Gaya tolak-menolak dari butiran yang bertumbukan
dianggap sebanding dengan perubahan momentum rata-rata untuk satu kali tumbukan,
frekuensi tumbukan (jumlah tumbukan per satuan waktu) dan jumlah butiran yang
bertumbukan per satuan luas dalam satu lapisan. Jarak antara pusat butir yang satu ke pusat
butir lainnya dapat dirumuskan sebagai berikut;

(2.13)
dimana, s
p
adalah jarak antara dua butiran, dan =d
p
/s
p
adalah konsentrasi linier.
Hubungan antara volume konsentrsai C dan konsentrasi linier, dirumuskan sebagai
berikut;

(2.14)
dimana C
*
adalah konsentrasi maksimum ketika = (s
p
= 0), dan nilainya kurang lebih
sama dengan 0,65, jika ukuran butirannya seragan. Butiran di lapisan B akan pindah ke
lapisan A pada saat kecepatan relatif u, sudut tumbukan
i
, arah tumbukan z dan butiran
bersifat lentur. Setiap butiran di lapisan B, jika bertumbukan akan mengalami perubahan
momentum mu cos
i
dimana m adalah massa butiran. Disamping itu, setiap butiran di
lapisan B melakukan tumbukan sebanyak f ()u/sp dengan butiran di lapisan A dalam satuan
waktu. Dalam hal ini, f () adalah fungsi yang tidak diketahui dari . Dengan demikian, jika
nilainya besar, maka ketahanan geometri butiran akan mempengaruhi frekuensi tumbukan.
Jika nilainya kecil maka nilainya sama dengan itu sendiri. Jumlah butiran dalam satu
satuan luas di setiap lapisan sama dengan 1/(bd
p
)
2
. Sehingga, gaya tolak-menolak yang
bekerja arah z, sebagai berikut;
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-8


(2.15)
dengan mengganti m=d3p /6, u=bdpdu/dz dan sp =dp/ diperoleh rumus sebagai berikut;

(2.16)
Sama dengan di atas, diperoleh rumus untuk gaya geser, sebagai berikut;

(2.17)
Jika rumus (2.15) dikurangi rumus (2,17), menghasilkan jarak gerak butiran hanya sepanjang
xz.
Dalam penelitiannya, Bagnold memperoleh koefisien-koefisien sebagai berikut;

(2.18)

(2.19)
dimana nilai rata-rata tan
i
= 0.32 (
i
=17.8

) dan a
i
=0.042.
Dalam Bab.1, rumus (1.1), gaya tumbukan butiran diperoleh berdasarkan analisa demensi.
Rumus tersebut mempunyai bentuk yang sama dengan rumus Bagnold (2.15). Dalam rumus
Bagnold tersebut, f (C, e) diperoleh berdasarkan a
i

2
sin
i
melalui analisa data hasil
percobaan. Beberapa peneliti yang menentukan f (C, e) secara teoritis antara lain; Jenkins &
Savage (1983), Lun et al. (1984), dan Shen & Ackermann (1982, 1984).
< Pendekatan pertama mengenai aliran debris batu >
Bagnold dalam penelitiannya telah mengukur kelebihan tekanan pori-pori zat padat dalam cairan
campuran. Menurut Bagnold, tekanan p
c
dalam rumus (2.18) sebanding dengan P
ds
dalam rumus (2.3).
Gaya geser fase padat T
ds
tidak dapat diukur secara langsung, tetapi jumlah gaya geser fase padat dan
fase cair, T
ds
dan T
f
dapat ditentukan dengan persamaan T
f
= (T
ds
+T
f
)/(1+). Dengan demikian, gaya
geser face cair dapat diabaikam, jika konsentrasi butirannya tinggi. Sehingga
c
dalam rumus (2.19)
sama dengan T
ds
dalam rumus (2.4). Nilai T
f
dalam rumus (2.4) dapat diabaikan untuk aliran debris
tipe batu. Takahashi (1977) menerapkan rumus Bagnold untuk aliran campuran model aliran terbuka
tetap seragam, sebagai pendekatan pertama dalam menganalisa aliran debris tipe batu.
Takahashi menganggap bahwa konsentrasi butiran seragam sepanjang kedalaman aliran dan
keseimbangan gaya-gaya arah x dan z dirumuskan sebagai berikut;

(2.20)

(2.21)
Persamaan sebelah kiri dalam rumus (2.20) adalah tekanan di ketinggian z , yang disebabkan
oleh berat butiran yang tenggelam diantara permukaan aliran z = h sampai dengan ketinggian
z. Sehingga, rumus (2.20) berarti berat semua butiran yang tenggelam, dipertahankan oleh
tekanan akibat tumbukan. Persamaan sebelah kiri dalam rumus (2.21) adalah gaya geser
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-9

butiran yang bekerja di ketinggian z. Dalam hal ini, aliran dianggap sebagai model aliran
campuran zat padat dan cair satu fase. Selain itu, persamaan sebelah kiri dalam rumus (2.21)
merupakan persamaan aliran sekelompok butiran. Suatu cairan yang mempunyai hubungan
timbal-balik seperti; ~ (du/dz)
2
adalah cairann kental. Sehingga model Takahashi disebut
sebagai model cairan kental. Berdasarkan pembahasan sebelumnya, maka model Takahashi
termasuk dalam model aliran campuran dua fase dengan mengabaikan pengaruh dinamis
cairan. P
f
dan T
f
diabaikan kerena pengaruhnya kecil.
Integrasi rumus (2.21) dengan kondisi batas u = 0 di ketinggian z = 0 diperoleh;

(2.22)
Sama sepertei tersebut diatas, integrasi rumus (2.20) dengan kondisi batas yang sama,
diperoleh;

(2.23)
Dari kedua rumus tersebut, diperoleh dua kurva kecepatan yang berbeda. Perbedaan disebab
oleh anggapan bahwa distribusi butiran seragam sepanjang kedalaman aliran. Kedua rumus
tersebut menjadi sebanding, jika C dihitung dengan rumus sebagai berikut;

(2.24)
Dengan kata lain kedua rumus (2.22) dan (2.23) sebanding jika rumus (2.24) dapat memenuhi
kondisi distribusi butir yang seragam sepanjang kedalaman aliran.
Takahashi (1977) telah melakukan penelitian dengan menggunakan saluran percobaan
(flume) terbuat dari baja, lebar 20 cm, dalam 40 cm dan panjang 7 m. Kemiringan saluran
bervariasi dari 0
o
s/d 30
o
. Salah satu dinding saluran tersebut terbuat dari kaca transparan,
sehingga kelakuan aliran dapat diamati dengan seksama memakai motor kamera 35mm dan
kamera video 16mm. Material sedimen setebal 10 centimeter ditebar merata sepanjang dasar
saluran. Kemudian diglontor dengan air yang disalurkan melalui ujung hulu saluran. Sesaat
setelah penglontoran, terjadi gerombolan aliran campuran (kerikil dan air) sebagai hasil erosi
material yang ada di dasar saluran. Pada kemiringan saluran lebih besar dari 15
o
tetapi lebih
kecil dari 20
o
, gerombolan aliran campuran tersebut bertambah tinggi dalam waktu yang
sangat singkat, kemudian secara perlahan menurun sampai ketinggian ekuilibrium. Pada saat
awal mulai terbentuk gerombolan aliran campuran, terjadi pencerai-beraian butiran.
Gerombolan aliran campuran tersebut dapat dikategorikan sebagai aliran debris. Debit dan
konsentrasi butiran diukur dengan menampung aliran di ujung hilir saluran. Sifat fisik
material yang dipakai dalam percobaan dasar saluran tererosi dikemukakan dalam Tabel-2.1.
Tabel-2.1 Material yang dipakai untuk percobaan dasar saluran tererosi (Takahashi, 2007)

PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-10

Dalam hal ini, d
m
adalah rata-rata diameter butir, d
84
/d16 adalah rasio antara butiran diameter
lolos saring 84% dan butir diameter lolos saring 16% (batas butiran yang dipakai dalam
percobaan). Dalam salah satu seri percobaan, dipakai cairan campuran lumpur halus dan silt
(1,35 g/cm
3
) sebagai pengganti air bersih.
Untuk dasar saluran rigid (tidak tererosi), dasar saluran dibuat kasar, kemudian air dan
sedimen diglontorkan sendiri-sendiri dari ujung hulu, tujuannya untuk mempelajari aliran
dengan konsentrasi yang tidak diketahui. Sifat fisik material yang dipakai dalam percobaan
dasar saluran rigid (tidak tererosi), dikemukakan dalam Tabel-2.1
Tabel-2.2 Material yang dipakai untuk percobaan dasar saluran tidak tererosi (Takahashi, 2007)

Konsentrasi butiran dalam gerombol aliran dikemukakan dalam Gambar-2.7. Percobaan
dilakukan dengan berbagai debit aliran per satuan lebar saluran, q
0
(lihat legenda dalam
Gambar 2.7).

Gambar-2.8 Konsentrasi butiran ekuilibrium dalam aliran debris batu
(Takahashi, 2007)
Meskipun plot data hasil percobaan tersebar, namun masih dapat terlihat konsentrasi butiran
tidak tergantung debit aliran, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh kemiringan saluran. Kurva
dalam Gambar-2.7 dihitung berdasarkan rumus (2.25) dimana tan
i
dalam rumus (2.24)
diganti dengan tan , sebagai berikut;

(2.25)

Menurut Bagnold (1966), tan
i
dan tan akan mempunyai nilai yang sama dalam
konsentrasi butiran yang ekuilibrium. Kadang-kadang, hasil perhitungan dengan rumus
tersebut diperoleh konsentrasi butiran C lebih besar dari C
*
. Hal ini tidak mungkin terjadi,
suatu aliran debris dengan konsentrasi butiran sama atau lebih besar dari C
*
. Berdasarkan
hasil beberapa percobaan, C selalu lebih kecil dari 0,9C
*
. Gambar-2.8 menunjukan beberapa
hasil percobaan dihitung memakai rumus (2.25) untuk aliran debris dengan kerapatan cairan
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-11

interstisial lebih besar dari air. Gambar tersebut membuktikan bahwa rumus (2.25) dapat
diterapkan untuk kondisi cairan interstisial yang lebih berat (cairan yang mengandung banyak
silt dan lempung) dari konsentrasi ekuilibrium.
Jika rumus (2.25) menggunakan parameter kemiringan dasar saluran, diperoleh rumus
sebagai berikut;

(2.26)
Gambar-2.9 menunjukan distribusi kecepatan aliran debris yang dihitung secara teoritis dan
berdasarkan percobaan untuk kondisi dasar saluran mudah tererosi. Kurva dengan garis
putus-putus menunjukan distribusi kecepatan aliran Newton. Kemiringan distribusi kecepatan
aliran kental (dilatant) lebih seragam dibandingkan cairan Newton.

Gambar-2.9 Distribusi kecepatan aliran debris batu di saluran
mudah tererosi (Takahashi, 2007)
Gambar-2.10 menunjukan hasil beberapa percobaan untuk dasar saluran tidak tererosi (rigid)
dengan menerapkan rumus (2,22). Kurva dalam Gambar-2.10 membuktikan bahwa rumus
(2,22) dapat dipakai dalam percobaan unuk menentukan distribusi kecepatan dan kedalaman
aliran debris dengan mengganti tan
i
= 0.75 dan a
i
=0.04. Hal ini dimungkinkan, jika
konsentrasi butiran mendekati konsentrasi ekuilibrium seperti rumus (2.25).

Gambar-2.10 (a) Distribusi kecepatan aliran debris batu di saluran tidak
tererosi/rigid, material butiran pasir (b) Normalisasi distribusi
kecepatan, material agregat ringan (Takahashi, 2007)
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-12


< Pendekatan kedua mengenai aliran debris batu >
Anggapan mengenai distribusi butiran sebanding dengan kedalaman aliran, secara teoritis
masih terlalu banyak menerapkan pemudahan. Pemudahan diterapkan karena ada kontradiksi
antara rumus (2.22) dan (2.23) mengenai suatu kecepatan yang tidak diketahui (Iverson &
Denlinger, 1987). Sebagaimana ditunjukan Gambar-2.9; kurva distribusi kecepatan setinggi
kedalanam aliran debris yang mengalir di dasar saluran yang mudah tererosi, mempunyai titik
belok, ketika kurva tersebut mendekati dasar saluran. Pendekatan pertama tersebut di atas,
tidak dapat menjelaskan kenapa terjadi demikian.
Karakteristik bentuk kurva tan i sebagai fungsi dari C, secara teoritis belum pernah dibahas.
Takahashi (1991) menganggap rumus yang diperoleh dari penelitan Savage & Sayeds
(1984) berikut ini dapat digunakan;

(2.27)
Rumus tersebut dapat diterapkan jika >3 (C >0.3). Hal ini, biasa terjadi dalam uji mekanika
tanah statis kuasi. Jika
i
bertambah besar, maka C menjadi kecil. Mekanisme tersebut dapat
difahami, dengan membayangkan butiran-butiran di dalam lapisan atas dan lapisan bawah
(lihat Gambar-2.6) bertumbukan dengan sudut arah tumbukan z yang besar (butiran di suatu
lapisan dapat masuk ke lapisan yang lebih dalam). Semakin tipis lapisan, semakin tinggi
konsentrasinya. Kebenaran rumus (2.27) dapat dikonfirmasi dengan memasukan rumus ini ke
rumus (2.18) dan (2.19), kemudian dibandingkan dengan hasil penelitian Bagnold. Hal ini
telah dibuktikan juga oleh Straub (2001).
Dengan memasukan rumus (2.27) ke dalam rumus (2.20) dan (2.21) menghasilkan dua rumus
untuk menentukan u dan C pada ketinggian z. Gambar-2.11 menunjukan perbandingkan
antara teori dan hasil percobaan mengenai konsentrasi butiran dalam aliran debris.

Gambar-2.11 Teori konsentrasi butiran dan data percobaan (Takahashi, 2007)
Seperti terlihat dalam gambar tersebut di atas, penyebaran beberapa data sangat menyimpang
dari teori. Hal ini disebabkan, pengukuran distribusi konsentrasi setinggi kedalaman aliran
debris sangat sulit dilakukan. Namun demikian, secara keseluruhan, kecenderungan dari
distribusi konsentrasi setinggi kedalaman aliran dapat diketahui.
Normalisasi distribusi kecepatan menghasilkan rumus sebagai berikut;

(2.28)
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-13

dimana u
s
adalah kecepatan di permukaan aliran dan Z =z/h. Perbandingan rumus (2.28)
dengan data hasil percobaan dikemukakan dalam Gambar-2.12. Dengan demikan, adanya
pembelokan kurva distribusi kecepatan di dekat dasar saluran dan di dekat permukaan aliran
dapat difahami.

Gambar-2.12 Teori distribusi kecepatan dan data percobaan (Takahashi, 2007)

2.3 Model Aliran Rangkaian Butiran Dua Fase
2.3.1 Persamaan Keseimbangan Gaya
Model aliran campuran dua fase mengangap rangkaian butiran padat dan cairan mengalir
dengan caranya sendiri-sendiri. Karakteristik aliran campuran tergantung mekanisme setiap
fase. Rumus konservasi momentum sering digunakan untuk menganalisa kedua fase tersebut.
Secara garis besar, keseimbangan gaya-gaya yang bekerja dalam aliran campuran dua fase
sudah dibahas dalam Bab 2.1.
Uraian berikut ini membahas kondisi setiap aliran dalam sistem dua dimensi menurut
koordinat Cartesian dengan arah mengikuti kemiringan dasar aliran, .
Rumus konservasi momentum arah x untuk fase zat padat dan fase zat cair sebagai berikut;

(2.29)


(2.30)
Rumus-rumus konservasi momentum arah z (tegak lurus dasar aliran) untuk fase zat padat
dan fase zat cair sebagai berikut;
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-14


(2.31)


(2.32)
dimana
x
,
z
adalah komponen x dan z untuk kecepatan fase padat;
x
,
z
adalah komponen
x dan z kecepatan face cair ; T
ds
, T
f
, P
ds
, P
f
komponen x dan z untuk gaya dimanis fase padat
dan fase cair. F
x
dan F
z
adalah tenaga interaksi arah x dan z , p adalah tekanan statis fase
cair dan t adalah waktu. Persamaan sebelah kiri dalam rumus tersebut adalah percepatan dari
setiap fase.
Jika persamaan sebelah kanan dan persamaan sebelah kiri dari kedua rumus (2.29) dan (2.30)
dijumlahkan, diperoleh rumus sebagai berikut;

(2.33)
Sama halnya, jika persamaan sebelah kanan dan persamaan sebelah kiri dari kedua rumus
(2.31) dan (2.32) dijumlahkan, diperoleh rumus sebagai berikut;

(2.34)

Rumus (2.33) dan (2.34) adalah persamaam konservasi momentum untuk campuran kedua
fase ke arah x dan z . Dalam hal ini,
T
adalah kerapatan campuran dan
x
,
z
adalah
komponen kecepatan di pusat masa campuran ke arah x dan z , yang didifisikan sebagai
berikut;

(2.35)

(2.36)
Persamaan terakhir yang ada di sebelah kanan dalam rumus (2.33) dan (2.34) adalah tekanan
campuran yang disebabkan oleh kecepatan relatif antara zat padat dan zat cair. Sehingga, jika
kecepatan relatifnya besar, maka fenomena aliran campuran menjadi semakin rumit. Tetapi,
jika kecepatan relatif kecil dan aliran mendekati tetap-seragam, persamaan terakhir sebelah
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-15

kiri dari rumus (2.33) dan (2.34) mendekati nol. Jika T
ds
, T
f
, P
ds
, P
f
dan p ke arah x tidak
berubah dan sama dengan nol, maka rumus (2.33) menjadi ;

(2.37)
Sama halnya, rumus (2.34) menjadi;

(2.38)
Jika p terbagi secara hidro statis, maka;

(2.39)
Sehingga dengan memasukan rumus (2.39) ke rumus (2.38) diperoleh;

(2.40)
Di permukaan aliran, z =h, T
ds
dan T
f
sama dengan nol. Hasil integrasi rumus (2.40) dari z ke
h seperti rumus (2.3) tersebut di muka. Hal ini berarti, total berat fase zat padat yang
tenggelam di lapisan z , sama dengan keimbangan tekanan fase zat padat dan tekanan dinamis
fase cair di ketinggian z. Hal yang sama untuk; gaya geser di permukaan aliran sama dengan
nol seperti rumus (2.4) tersebut di muka. Kondisi ini berarti gaya yang bekerja di ketinggian z
arah x dalam aliran debris adalah keseimbangan gaya-gaya fase padat dan fase cair di
ketinggian z arah x. Perlu dicatat, dalam konsep aliran campuran, aliran dibagi menjadi fase
padat dan fase cair. Fase cairnya tidak berarti hanya air, tetapi air yang banyak mengandung
partikel halus, yang tersebar akibat turbulensi (olakan) cairan, atau disebabkan oleh tenaga
elektro maknetik di antara partikel-partikel. Sedang yang dimaksud dengan fase padat
hanyalah fraksi partikel kasar yang tidak tersuspensi dalam aliran.
2.3.2 Teori campuran Coulomb (Aliran debris kuasi statis)
Iverson & Denlinger (2001) mengevaluasi bilangan Savage untuk berbagai aliran debris
alami dan aliran debris skala besar berdasarkan percobaan, diperoleh hasil; nilai bilangan
Savage selalu kecil. Sehingga diperoleh kesimpulan, gaya kekasaran Coulomb untuk aliran
debris alami lebih berpengaruh dibandingkan gaya tumbukan antar partikel dan faktor-faktor
lainnya.
Rumus bilangan Savage;

(2.41)
Rumus (2.41) tersebut di atas tidak persis sama dengan rumus bilangan Savage seperti rumus
(1.8), tetapi mempunyai konsep yang sama. Numerator dalam rumus (2.41) mewakili rumus
(1.8) mengenai gaya tumbukan antar partikel, sedang denominator mewakili gaya yang
bekerja di dasar sungai yang timbul karena berat tenggelam partikel-partikel.
Menurut Iverson & Denlinger (2001), denominator merupakan gaya kekasaran Coulomb.
Tetapi perlu dicatat bahwa gaya kontak statis partikel dapat disalurkan dari permukaan aliran
ke dasar aliran hanya jika seluruh partikel saling berhubungan langsung (kontak), meskipun
titik-titik kontak berpindah-pindah sewaktu rangkaian partikel begerak (mengalir). Keadaan
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-16

seperti ini memerlukan konsentrasi volume partikel antara C
3
s/d C
2
, sebagaimana dibahas
dalam Bab 1. Jika konsentrasi volume partikel lebih kecil dari C
3
, maka gaya yang diwakili
denominator harus dipertahankan oleh gaya-gaya lainnya. Numerator dalam rumus (2.41)
tidak mengindikasikan gaya tumbukan antar partikel yang sebenarnya. Untuk
mengindikasikan gaya tumbukan antar partikel yang sesungguhnya, numerator tersebut harus
dikalikan suatu nilai konsentrasi, seperti rumus (1.1) dalam Bab 1. Menurut Iverson (1997)
nilai tersebut adalah suatu koefisien yang nilainya sama dengan C. Untuk menjadikan
denominator sungguh-sungguh mewakili tekanan yang bekerja di dasar sungai, maka
denominator harus dikalikan dengan C tersebut. Dengan demikian, sepanjang konsep tersebut
dianggap berlaku, maka nilai C dalam rumus (2.41) dihilangkan, dan denominator merupakan
rasio gaya tumbukan terhadap gaya kekasaran Coulomb. Sebagaimana rumus (2.18),
koefiesien yang dikalikan ke numerator adalah bukan C, tetapi
2
. Jika konsentrasi partikel
sangat besar, maka nilai
2
antara 10 (C
*
=0.65 dan C 0.3) s/d 120 (C
*
=0.65 dan C 0.5)
menurut Campbell, 1990, dan
2
(du/dz)
2
d
p
2
akan sama dengan C( )gh. Sebagaimana
diketahui rumus (2.20) adalah persamaan keseimbangan gaya-gaya kondisi seperti ini.
Sehingga teori campuran Coulomb yang dipakai Iverson & Denlinger (2001) hanya berlaku
untuk aliran kuasi statis, jika konsentrasi volume partikel lebih besar dari C
3
.
Iverson & Denlinger (2001) mengemukakan teori kedalaman rata-rata aliran system tiga
dimensi yang sangat rumit, tapi dalam uraian berikut ini disederhanakan menjadi aliran dua
dimensi dengan kemiringan aliran yang konstan. Tiga persamaan keseimbangan gaya-gaya
dirumuskan sebagai berikut;

(2.42)

(2.43)

(2.44)

(2.45)
dimana, P
ds
, P
f
, dan T
f
adalah nilai rata-rata kedalaman (tapi bukan nilai z sebagaimana yang
telah dibahas sebelumnya) dari gaya tumbukan antar partikel, tekanan dinamis dan gaya
kekasaran aliran, T
ds
|
z =0
adalah T
ds
di dasar sungai yang tetap tertinggal di dasar sungai,
e

rasio tekanan efektif cairan interstisial terhadap total tekanan butiran (jika terjadi likuifasi
penuh, maka
e
=1 ), tan
bed
adalah koefisien kekasaran dasar sungai, p
bed
adalah tekanan
aliran ke dasar sungai, adalah kecepatan aliran interstisial, dan U adalah kecepatan aliran
laminar Newton. Untuk aliran dengan kemiringan dasar sungai yang konstan, persamaan
terakhir sebelah kiri dalam rumus (2.33) diabaikan, tetapi persamaan sebelah kanan tetap ada,
sehingga rumus konservasi momentum, sebagai berikut;

(2.46)
Jika didifinisikan sebagai;

(2.47)
dianggap konstan, maka rumus (2.46) dengan kondisi awal U =U
0
di t = 0, menjadi;

(2.48)
Hasilnya menunjukan bahwa kecepatan aliran campuran meningkat secara perlahan-lahan
sampai mencapai asimtot tetap. Namum untuk mencapai kecepatan asimtot tetap diperlukan
waktu yang sangat lama, yang secara virtual sukar tercapai.
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-17

Hasil yang sama, diperoleh dengan rumus (2.48) menggunakan model Johnson (Johnson
1970) dan rumus (2.12) dengan anggapan nilai kohesi, c =0. Tetapi cara ini menggunakan
sistem aliran yang sederhana dan hasilnya tidak sesuai.
Denlinger & Iverson (2001) menerapkan sistem aliran tiga dimensi untuk berbagai
permukaan tiga dimensi dengan perhitungan numeric dan kecocokan (validitas) dicek
berdasarkan berbagai percobaan (ekperimen).
2.4 Teori Aliran Granular
Uraian berikut membahas granular (butiran padat) yang mengalir cepat di permukaan tanah
daratan (bukan aliran granular yang mengalir di bawah lautan). Teori aliran campuran
Coulomb untuk partikel-partikel yang mengalir secara laminar seperti Gambar-2.13.


Gambar-2.13 Tekanan rangkaian partikel padat dalam aliran kuasi statis
(Takahashi, 2007)

Tekanan partikel-partikel disalurkan dari permukaan ke dasar aliran melalui sistem rangkaian
partikel yang saling berhubungan secara langsung (kontak), meskipun titik-titik kontak
berpindah-pindah sewaktu rangkaian partikel begerak (mengalir). Sistem aliran seperti ini
akan tetap berlangsung, jika konsentrasi volume partikel lebih besar dari ukuran geometri C
3
.
Rangkaian partikel seperti ini mengalir sangat lambat. Sebaliknya, aliran yang cepat terjadi
apabila jarak antar partikel relative besar dan saling bertumbukan. Untuk aliran debris, ruang-
ruang diantara partikel terisi air atau lumpur halus. Tetapi, sebagaimana yang telah dibahas
sebelumnya, khusus untuk tipe aliran dimana gaya-gaya tumbukan antar partikel lebih
dominan, maka gaya-gaya dinamis dalam aliran jumlahnya mendekati gaya-gaya tumbukan
antar partikel tersebut ditambah tekanan cairan dalam aliran interstisial. Dalam hal ini,
interaksi antara partikel-partikel dan cairan diabaikan. Dalam suatu aliran granular cepat,
setiap partikel bergerak sendiri-sendiri dengan bebas dan kecepatannya dapat dibedakan
menjadi kecepatan rata-rata dan kecepatan fluktuasi. Konsep ini menyerupai teori kinetik
rangkaian molekul-molekul dalam gas. Karena nilai rata-rata kecepatan fluktuasi dalam
termodinamika gas dinyatakan temperature, maka disebut temperature granular.
Temperatur granular dinyatakan dalam enerji per satuan massa yang menghasilkan tekanan.
Meskipun, sistem granular dan sistem molecular mempunyai banyak perbedaan. Terutama,
granular bersifat tidak elastic, sehingga temperature granular ditentukan oleh tumbukan antar
partikel dan enerji penggerak harus selalu ditambah. Hal ini seperti gravitasi memberikan
enerji suatu aliran untuk menuruni lereng permukaan tanah. Temperatur granular disebabkan
oleh dua mekanisme (Campbell 1990). Pertama, disebabkan oleh tumbukan antar partikel,
ketika dua partikel bertubrukan, resultan kecepatan tergantung tidak saja oleh kecepatan
awal, tetapi juga sudut tumbukan, kekasaran permukaan di titik tumbukan, dan faktor-faktor
lainnya. Oleh sebab itu tumbukan tersebut mengandung komponen-komponen kecepatan
yang bersifat random Kecepatan yang bersifat random sebanding dengan kecepatan relatif
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-18

partikel-partikel pada saat tumbukan dan sebanding dengan rata-rata kecepatan aliran
menuruni kemiringan. Oleh karena temperature granular adalah akar dari rata-rata kecepatan
yang bersifat random, maka temperature granular sebanding dengan akar rata-rata kecepatan
aliran menuruni kemiringan . Kedua, disebabkan oleh perpindahan partikel-partikel dari satu
lapisan ke lapisan lainnya.
Suatu partikel bergerak secara ramdom dengan kecepatan yang bersifat random juga.
Keceapatan random sama dengan rata-rata kecepatan untuk bergerak dari suatu titik ke titik
lainnya. Temperatur granular sebanding dengan akar rata-rata kecepatan menuruni
kemiringan. Skema temperature granular yang menyebabkan terjadinya aliran granular
dikemukakan dalam Gambar-2.14.

Gambar-2.14 Gaya-gaya dinamis dalam aliran granular (Takahashi, 2007)

Gaya-gaya yang terjadi dengan cara pertama disebut gaya tumbukan dan gaya-gaya yang
terjadi dengan cara kedua disebut gaya kinetik.
Savage & Jeffrey, 1981; Jenkins & Savage, 1983; Lun et al. 1984; Johnson & Jackson, 1987
mengemukakan teori aliran granular berdasarkan analogi gerakan molecular untuk gerakan
granular. Sebagian besar penelitian tersebut hanya merupakan teori mengenai aspek-aspek
aliran horisontal Couette. Hanya sedikit penelitian mengenai teori aliran granular yang
berdasarkan aliran menuruni suatu kemiringan (slope).
Berikut ini dibahas aliran granular yang menuruni suatu kemiringan (slope) menurut
Gidaspow 1994. Jika fungsi distribusi kecepatan partikel dianggap tergantung; kecepatan c,
posisi r dan waktu t, maka jumlah partikel yang menpunyai kecepatan sebesar dc dalam
elemen dengan volume dr dinyatakan sebagai as f
p
(c,r,t)dcdr. Sehingga jumlah partikel n
p

(t,r), kecepatan v(t,r) dalam aliran dan temperature granular dirumuskan sebagai berikut;

(2.49)

(2.50)

(2.51)
dimana, C
t
adalah kecepatan fluktuasi yang didifinisikan sebagai ;

(2.52)
Gaya luar yang bekerja di suatu partikel sebesar mA, dimana m adalah massa partikel dan A
adalah percepatan; A=dc/dt. Perubahan jumlah partikel dalam suatu fase disebabkan oleh
tumbukan antar partikel, dirumuskan sebagai berikut;
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-19


(2.53)
dalam hal ini,fc adalah perubahan fungsi distribusi yang disebabkan oleh tumbukan antar
partikel. Untuk limit dt0, maka rumus tersebut menjadi;

(2.54)
Persamaan tersebut di atas dikenal sebagai rumus Boltzmann. Apabila sebelah kanan dan kiri
rumus tersebut dikalikan suatu fungsi c; (c) dan diintegrasikan kedalam kecepatan (Jenkins
& Savage 1983) diperoleh;

(2.55)
Rumus (2.55) dikenal sebagai rumus angkutan Maxwellian, yang dipakai untuk menghitung
perubahan nilai rata-rata kuantitas fisik <> dalam satuan waktu per volume dari konveksi,
perubahan kecepatan dan tumbukan partikel-partikel. Rumus (2.55) merupakan rumus dasar
aliran granular.
2.4.1 Gaya tumbukan partikel
Jika dalam rumus (2.55) adalah momentum, maka persamaan sebelah kiri merupakan gaya
tumbukan. Untuk merinci besarnya gaya tumbukan maka jumlah tumbukan dalam satuan
waktu harus dihitung secara pasti. Analog dengan fungsi distribusi frekuensi suatu partikel
f
p
(c,r,t), maka dikemukakan fungsi distribusi frekuensi tumbukan f
p
(2)
(c
1
,r
1
,c
2
,r
2
). Dalam hal
ini, f
p
(2)
(c
1
,r
1
,c
2
,r
2
) dc
1
dc
2
dr
1
dr
2
adalah probabilitas suatu pasangan partikel dengan volume
dr
1
dr
2
dan radius ke pusat r
1
, r
2
serta mempunyai kecepatan antara c
1
dan c
1
+dc
1
sampai
dengan c
2
and c
2
+dc
2
.
Ruang tumbukan partikel P
1
(diameter d
1
) dan partikel P
2
(diameter d
2
) dikemukakan dalam
Gambar-2.15.


Gambar-2.15 Tumbukan dua partikel berdiameter d
1
dan d
2
(Takahashi, 2007)

Dalam hal ini, partikel P
1
posisinya tetap. Partikel P
2
bergerak mendekati dengan kecepatan
relatif c
21
dan menabrak partikel P
1
di suatu titik dimana arah vector k , yang mana ;

(2.56)



PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-20


Dalam hal ini, h, i dan j adalah vector-vektor arah z, x dan y. Jarak dari pusat P
1
ke titik
tumbukan adalah d
12
=(d
1
+d
2
)/2. Luas permukaan daerah tumbukan (warna hitam dalam
Gambar-2.15) ;

(2.57)
Volume ruangan dimana partikel mendekati daerah tumbukan tersebut (silinder tumbukan);


(2.58)
Konsekuensinya, jumlah tumbukan per waktu per volume N12. Sebagai brikut;

(2.59)
dimana dk = sin dd sudut zat padat. Rata-rata nilai perubahan sifat tumbukan <c>
dalam rumus (2.55) menjadi, dari rumus (2.59);

(2.60)
dimana kuantitas setelah tumbukan dan untuk memudahkan, partikel-partikel dianggap
mempunyai diameter yang seragam, dp.
Intergrak rumus (2.60) untuk P
1
and P
2
harus dilakukan secara terpisah. Nilai f
(2)
untuk jarak
d
p
k dievaluasi dengan cara seri Taylor sebagai berikut;

(2.61)
Konsekuensinya, nilai rata-rata intergral tumbukan menjadi sebagai berikut;

(2.62)
dimana:

(2.63)
dan;

(2.64)
Mengganti;

(2.65)
ke rumus (2.63) dan (2.64), diperoleh:

(2.66)
dan ;

(2.67)
Untuk tumbukan partikel tidak elastic dengan massa yang sama, maka perubahan kecepatan
dihitung dengan rumus berikut, dimana e adalah koefisien restitusi (pengurangan);
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-21


(2.68)
Integrasi rumus (2.66), dengan menyertakan rumus (2.68) dan temperatur granular
T = (1/3) C
2
t
, akhirnya diperoleh ;

(2.69)
dimana I adalah satuan tensor;
s
v adalah deformasi tensor; dan g
0
adalah fungsi distribusi
radial yang dirumuskan sebagai berikut:
(2.70)
Persamaan sebelah kiri pertama dari rumus (2.69) adalah tekanan, persamaan kedua adalah
tekanan kekentalan yang disebabkan perubahan volume, dan persaman ketiga adalah gaya
tahanan.
2.4.2 Gaya kinetik
Gidaspow (1994) meneliti gaya kinetik suatu larutan (g
0
mendekati 1) dengan analogi teori
panjang campuran dalam mekanika aliran. Takahashi & Tsujimoto (1997) mengembangkan
teori ini untuk kekasaran aliran dengan konsentrasi partikel sangat rapat.
Dalam keadaan seimbang dan fungsi distribusi kecepatan dianggap tidak tergantung ruang
dan waktu, maka fungsi distribusi kecepatan menurut distribusi Gauss, sebagai berikut;

(2.71)
Nilai rata-rata fluktuasi kecepatan;

(2.72)
Dalam arah vertikal untuk aliran dua dimensi, maka angkutan kuantitas fisik arah z ;

(2.73)
dimana, b adalah kuantitas fisk; Q adalah rata-rata laju angkutan; dan l adalah jarak
angkutan. Momentum u dipertimbangkan sebagai kuantitas yang terangkut, maka laju
angkutan momentum yang disebabkan oleh fluktuasi kecepatan arah z; seperti kecepatan
geser ;

(2.74)
dimana
k
adalah gaya kinetik. Jarak angkutan yaitu rata-rata perjalanan bebas sebelum
tumbukan dan berhubungan dengan waktu sebelum tumbukan t
F
sebagai berikut:
(2.75)
Nilai t
F
ditentukan dengan membagi jumlah tumbukan dalam satuan volume berdasarkan
frekuensi tumbukan seperti rumus (2.59). Sehingga diperoleh;

(2.76)
Perbandingan gaya geser yang disebabkan oleh tumbukan partikel-partikel yang dihitung
memakai persamaan sebelah kiri ketiga dari rumus (2.69) dengan yang disebabkan oleh
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-22

gerakan partikel secara random yang dihitung memakai rumus (2.76) ditunjukan dalam
Gambar-2.16.

Gambar-2.16 Hubungan gaya tumbukan dan gaya kinetic dengan
konsentrasi partikel dalam aliran granular (Takahashi, 2007)
Gaya yang disebabkan oleh tumbukan antar partikel,
c
, akan melebihi
k
, jika konsentrasi
partikel lebih besar dari 15%, dimana C
*
= 0.65 dan e = 0.85 merupakan hal yang biasa untuk
aliran pasir di permukaan tanah.
2.4.3 Gaya aliran rangkaian partikel
Dalam aliran lambat (laminar) seperti dikemukakan dalam Gambar-2.13, temperature
granularnya kecil dan dorongan butiran yang bersentuhan langsung terus-menerrus berperan
penting dalam menyalurkan gaya-gaya dalam aliran, seperti gaya rangkaian partikel. Gaya-
gaya tersebut bukan gaya dinamis yang disebabkan oleh mikro partikel individu, melainkan
gaya kuasi statis yang disalurkan oleh struktur makro dari konstituen-konstituen (kelopok-
kelopok pendukung). Tenakan kuasi statis dan gaya geser dapat beroperasi hanya jika
konsentrasi partikel lebih besar dari C
3
dan lebih kecil dari C
2
, sebagaimana yang telah
dibahas sebelumnya. Untuk pasir pantai lepas C
3
= 0.51 dan C
2
= 0.56 (Bagnold 1966).
Sebagaimana telah dibahas dalam teori campuran Coulomb, gaya-gaya rangkaian partikel
tidak tergantung kecepatan akibat kemiringan. Untuk aliran granular di dararaan, efek cairan
interstisial diabaikan (tidak berpengaruh), sehingga gaya-gaya rangkaian partikel di
ketingian z dalam keadaan aliran tetap seragam dengan kedalaman h dan sudut kemiringan ,
sebagai berikut:

(2.77)
(2.78)
dimana C adalah konsentrasi butiran rata-rata yang berdasa di atas ketinggian z dan
e
adalah
rasio tekanan kuasi statis rangkaian partikel terhadap total tekanan dalam aliran.
e
dianggap
sebagai berikut:

(2.79)
Eksponen m sesuatu yang belum diketahui sampai saat ini.

PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-23

2.4.4 Hubungan parameter-parameter utama

Bedasarkan pembahasan sebelumnya, hubungan parameter-parameter utama aliran debris
dikemukakan dalam Gambar-2.17.

Gambar-2.17 Aliran granular dalam keaadaan
tetap seragam (Takahashi, 2007)

Dalam hal ini;
(2.80)

(2.81)
dan menurut rumus (2.69):

(2.82)

(2.83)

k
menuruti rumus (2.76) dan p
s
menurut rumus (2.77). Persamaan sebelah kiri kedua dalam
rumus (2.69) diabaikan, karena aliran dalam keadaan tidak tertekan.
2.4.5 Penerapan teori untuk aliran granular kering
Keseimbangan gaya-gaya aliran granular seperti Gambar-2.17, sebagai berikut:

(2.84)

(2.85)
Persamaan tanpa dimensi untuk kedua rumus tersebut;

(2.86)

(2.87)
dimana, Z = z/h; u* = u/(gh sin )
1/2
; T* = T/gd
p
cos ; f
2
= 8C
2
g0/(5); f
22
=1/(3g
0
);
f
1
= 4C
2
g
0
; = (1+e)/2; A = h/d
p
; dan B = tan .
Parameter yang belum diketahui dalam rumus (2.86) dan (2.87) adalah u*, C dan T*, dengan
demikian ada satu persamaan yang masih hilang. Temperatur granular merupakan vibrasi
enerji dari pergerakan partikel-partikel. Untuk menentukan nilai temperatur granular, nilai
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-24

dalam rumus (2.55) diganti dengan enerji kinetic setiap partikel = (1/2)mc
2
, sehingga
diperoleh rumus sebagai berikut (Jenkins & Savage 1983; Gidaspow 1994);

(2.88)
dimana adalah koefisien kondutivitas panas dari temperature butiran, dan adalah laju
penambahan panas temperature granular disebabkan tumbukan tidak elastic. Rumus dan ,
sebagai berikut;

(2.89)
(2.90)
Persamaan tanpa dimensi untuk rumus (2.88), sebagai berikut;

(2.91)
dimana f
3
=4C
2
g
0
/ dan f
5
=48(1) C
2
g
0
/. Kecepatan, konsentrasi partikel dan
temperature granular untuk aliran granular ditentukan memakai rumus (2.86), (2.87) dan
(2.91) secara bersama-sama, tetapi karena rumus (2.91) mengandung persamaan difusi, maka
tidak mudah untuk dikerjakan.
Sehingga, sebagai pendekatan awal, dipakai anggapan bahwa persamaan sebelah kanan
pertama dari rumus (2.88) diabaikan dan sama dengan
c
. Dengan demikian, rumus (2.91)
menjadi:

(2.92)
Integrasi rumus (2.86) dari Z ke permukaan aliran, Z =1, diperoleh rumus distribusi kecepatan
sebagai berikut;

(2.93)
dimana, |Z =1 gaya geser permukaan aliran. Dengan memasukan rumus (2.93) kedalam
rumus (2.92) dan menggunakan pendekatan konsentrasi butiran sama dengan konsentrsai
rata-rata, diperoleh distribusi temperature granular, sebagai berikut;

(2.94)
Distribusi konsentrasi diperoleh dengan mengubah rumus (2.87) menjadi;

(2.95)
Kurva distribusi spesifik dari kecepatan, konsentrasi partikel dan temperature granular
berdasarkan rumus (2.93), (2.94) dan (2.95), memerlukan kondisi batas di permukaan dan
dasar aliran. Kondisi batas di permukaan aliran |Z =1, didifinisikan sebagai bidang yang
menghubungkan pusat-pusat partikel yang berada di lapisan paling atas dari aliran, dan
partikel-partikel dianggap mempunyai distribusi seperti Gambar-2.6. Oleh karena luas
partikel, b
2
d p
2
, maka tenaga yang bekerja dalam suatu area, yaitu; |Z =1 adalah:
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-25


(2.96)
Berdasarkan percobaan di laboratorium, aliran granular dapat dikategorikan sebagai aliran
laminar (lambat), yang merupakan aliran lambat partikel cerai-berai. Aliran tipe seperti ini
tergantung sudut kemiringan dan kondisi dasar sungai dan konsentrasi partikel melebihi 50%
serta partikel-partikelnya mengalir secara teratur. aliran lambat partikel cerai-berai akan
terjadi jika kemiringan dasar sungai lebih besar dari aliran laminar, dimana kecepatan
partikel-partikel secara ramdom tampak jelas di permukaan aliran. Semakin curam
kemiringan dasar sungai, perpindahan posisi partikel-partikel semakin sering, hal ini
disebabkan oleh tumbukan antar partikel, sehingga berubah menjadi aliran dengan partikel
cerai berai. Dalam aliran lambat partikel cerai berai dan aliran partikel cerai berai akan terjadi
bidang gelincir (slip) di dasar aliran.
Jumlah partikel N
b
per satuan luas dalam lapisan yang dekat dengan dasar sungai, dirumuskan
sebagai berikut;

(2.97)
dan frekuensi tumbukan per satuan waktu, t
c
, yang nilainya sama dengan <c>/s
p
, menurut
rumus (2.51) dengan menggunakan difinisi T, diperoleh ;

(2.98)
Jika kecepatan gelincir di dasar sungai adalah u
sl
, maka perubahan momentum arah aliran
per satu kali tumbukan adalah d
p
3
u
sl
/6.
Dengan mempertimbangkan gaya geser sama dengan perubahan momentum per satuan luas
per satuan waktu, diperoleh rumus sebagai berikut;

(2.99)
Persamaan tanpa dimensi untuk rumus tersebut di atas;

(2.100)
dimana f
88
=23C
*
/(Cg
0
), dan adalah koefisien laju perubahan momentum yang
disebabkan oleh tumbukan antara partikel-partikel dengan dasar sungai; 0< <1. Semakin
besar nilai , semakin besar kehilangan momentum tersebut dan semakin kecil kecepatan
gelincirnya.
Dalam percobaan di laboratorium; Nilai = 0,042 dengan menggunakan partikel yang
dibuat dari bahan polystyrene dan dasar saluran percobaan menggunakan papan polyvinyl
chloride. Nilai = 0,12 jika dasar saluran percobaan dibuat dari bahan lembaran karet.
Nilai = 0,12 jika dasar saluran percobaan terdiri dari deretan silinder diameter 2,9 mm
terbuat dari bahan polyvinyl chloride yang diletakan tegal lurus arah aliran.
Dengan menggunakan kondisi batas tersebut di atas, dihitung kecepatan, konsentrasi dan
bentuk distribusi temperature granular. Untuk mengecek teori tersebut di atas , telah
dilakukan percobaan-percobaan dengan saluran terbuat dari baja lebar 10 cm, panjang 5 m
PENANGGULANGAN DAYA RUSAK A LI RAN DEBRI S Joko Cahyono, e book & free download

2-26

dan salah satu sisi saluran terbuat dari kaca transparan (tembus pandang). Kondisi dasar
saluran dirubah-rubah seperti tersebut di atas.
Partikel dengan diameter 4,51 mm dibuat dari bahan polystyrene, kerapatan partikel
1,052 g/cm
3
, dan sudut geser dalam dibuat 25.0
o
. Pergerakan partikel diamati melalui sisi
saluran yang terbuat dari kaca tembus pandang menggunakan kamera video kecepatan tinggi
(200 gambar/dt).
Analisa terhadap setiap partikel dilakukan setiap 1/100 detik menggunakan data rekaman
video tersebut di atas. Kecepatan aliran utama, u searah dengan aliran dan w diukur tegak
lurus arah aliran. Dengan menggunakan data tersebut, dihitung besarnya temperatur granular,
T =(1/3){(uU)
2
+(wW)
2
}
1/2
, dimana U dan W adalah nilai rata-rata u and nilai rata-rata w.
Jika kemiringan dasar sungai lebih landai dari nilai
1
, maka aliran menjadi tipe laminar, dan
konsentrasi makro, C menpunyai nilai mendekati konstan C
ct
. Nilai
1
(5) untuk dasar
sungai yang halus, dan 1 untuk dasar sungai yang kasar.
Hubungan gaya geser dan tekanan sebagai berikut;

(2.101)
Karena =
c
+
k
dan p = p
c
, dengan menggabungkan rumus (2.76), (2.82) dan (2.83),
diperoleh:

(2.101)
Untuk temperature granular, berdasarkan rumus (2.88) diperoleh:

(2.102)
Nilai tan
i
sebanding dengan koefisien kekasaran kinetik. Untuk aliran granular tetap
seragam tan
i
sama dengan tan . Sehingga, berdasarkan rumus (2.102), akan diperoleh
hubungan antara kemiringan dasar sungai dan C sebagai berikut:

(2.103)
dimana, untuk dasar sungai yang kasar,
1
= ; untuk dasar sungai yang halus,
1
= (5
o
), dan

sp
adalah sudut geser dalam, untuk partikel seperti bola nilainya mendekati 26
o
.