Você está na página 1de 15

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Antibiotik merupakan obat yang berfungsi menghambat pertumbuhan atau
membunuh mikroorganisme. Penggunaannya dimaksudkan sebagai pencegahan dan
penanganan terhadap infeksi mikroba. Setelah ditemukannya penisilin pada tahun 1928
oleh Alexander Flemming, antibiotik terus menerus dikembangkan. Penemuan dan
pengembangan antibiotik ini berdampak terhadap penurunan angka kesakitan dan
kematian akibat infeksi. Hal ini merupakan suatu kemajuan yang besar di bidang
kesehatan.
1

Akan tetapi, setelah empat tahun semenjak perusahaan farmasi mulai memproduksi
penisilin secara masal, ditemukan beberapa bakteri yang tahan terhadap antibiotik tersebut,
yang pertama kali ditemukan adalah Staphylococcus aureus. Penemuan-penemuan lain yang
serupa menunjukkan resistensi antibiotik merupakan masalah yang berkembang dan
lingkupnya global.
1

Penggunaan antibiotik yang kurang bijak, baik di luar maupun dalam lingkup
pelayanan kesehatan memegang peranan penting dalam resistensi antibiotik. Di negara
berkembang, masyarakat dapat dengan mudah membeli antibiotik tanpa resep dari dokter.
2
Berbagai studi menemukan bahwa sekitar 40-62% antibiotik digunakan secara tidak tepat
antara lain untuk penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik. Pada
penelitian kualitas penggunaan antibiotik diberbagai bagian rumah sakit ditemukan 30%
sampai dengan 80% tidak didasarkan pada indikasi.
3

Penggunaan antibiotik dibagian bedah tidak berbeda dengan penggunaan antibiotik
dibagian lain, hanya saja dibagian bedah antibiotik berfungsi sebagai terapi tambahan bukan
terapi utama.
3

Infeksi luka bekas operasi dari insisi kulit atau soft tissue sering terjadi tetapi potensi
terjadinya komplikasi ini pada bidang pembedahan bisa dihindari.
Infeksi penyakit pada pasien bedah biasanya dibawa oleh dokter, atau siapa saja yang
ikut merawat penderita.
Antibiotik profilaksis merupakan salah satu komponen kebijakan yang efektif untuk
mengontrol infeksi yang didapatkan di rumah sakit. Meskipun antibiotik profilaksis
memainkan peranan penting dalam menurunkan tingkat infeksi luka bekas operasi, tetapi
pengalaman ahli bedah, tingkat kesulitan pembedahan, rumah sakit dan lingkungannya dan
yang paling penting adalah keadaan umum pasien tersebut, juga memiliki pengaruh yang
kuat dalam menentukan tinggkat infeksi luka.
4













Bab II
Tinjauan Pustaka

2.1. Definisi
Penggunaan antibiotik dibagi menjadi dua bagian, yaitu antibiotik profilaksis dan
antibiotik terpiutik.
Definisi dari antibiotik profilaksis adalah antibiotik yang diberikan pada pasien yang
diketahui memiliki potensi yang tinggi terhadap komplikasi infeksi, dan dalam prosedur
yang kemungkinan konsekuensi infeksinya serius dan memerlukan biaya yang mahal,
sebelum infeksi itu terjadi.
4

Definisi antibiotik terapiutik adalah antibiotik substansi yang digunakan untuk
menghambat pertumbuhan atau perkembangbiakam dari bakteri, termaksud terapi
eradikasi.
5

2.2 Tujuan
Pemberian antibiotik profilaktik pada tindakan pembedahan memiliki tujuan tersendiri
untuk :
4

1. Penurunan & pencegahan kejadian Infeksi Luka Operasi (ILO).
2. Penurunan morbiditas & mortalitas pasca operasi.
3. Penghambatan muncul flora normal resisten.
4. Meminimalkan biaya pelayanan kesehatan
2.3. Prinsip penggunaan antibiotik
Secara umum pengunaan antibiotik yang rasional guna meminimalisirkan
resistensi kuman sudah diatur oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO)
6
Appropriate Patient (Tepat Pasien)
Appropriate Indication (Tepat Indikasi)
Appropriate Cost (Tepat Biaya)
Appropriate Drug (Tepat Obat)
Appropriate Information (Tepat Informasi)
Appropriate administration, dosage & duration (Tepat pemberian, dosis dan
lama pemberian)

2.3.1 Indikasi
Pemberian antibiotik profilaksis pada pembedahan diindikasi pada pasien yang
memiliki risiko tinggi untuk terkena infeksi luka operasi (ILO) .
4

Kriteria infeksi luka operasi dibagi menjadi 3 bagian
1. Superficial Infection SSI
Infeksi yang terjadi diantara 30 hari setelah operasi dan infeksi hanya mengenai
pada kulit atau jaringan subkutan pada daerah bekas insisi.

2. Deep Incisional SSI
Infeksi yang terjadi diantara 30 hari setelah operasi dimana tidak menggunakan
alat-alat yang ditanam pada daerah dalam dan jika menggunakan alat-alat yang
ditanam maka infeksi terjadi diantara 1 tahun dan infeksi yang terjadi berhubungan
dengan luka operasi dan infeksi mengenai jaringan lunak yang dalam dari luka
bekas insisi.
4

3. Organ/Space SSI
Infeksi yang terjadi diantara 30 hari setelah operasi dimana tidak menggunakan
alat yang ditanam pada daerah dalam dan jika menggunakan alat yang ditanam
maka infeksi terjadi diantara 1 tahun dan infeksi yang terjadi berhubungan dengan
luka operasi dan infeksi mengenai salah satu dari bagian organ tubuh, selain pada
daerah insisi tapi juga selama operasi berlangsung karena manipulasi yang terjadi.
4


Faktor faktor yang mempengaruhi peningkatan ILO
3,4,7,8

Faktor Pembedahan
Fakta bahwa pembedahan merusak mekanisme benteng pertahanan seperti kulit
dan mukosa saluran pencernaan selam dilakukan pembedahan. Teknik
pembedahan yang baik adalah jalan terbaik untuk mencegah infeksi luka operasi.

Kelas
Operasi

Definisi

Penggunaan Antibiotik

Operasi
Bersih

Operasi yang dilakukan pada daerah
dengan kondisi prabedah tanpa infeksi,
tanpa membuka traktus (respiratorius,
gastrointestinal, urinarius, bilier), operasi
terencana, atau penutupan kulit primer
dengan atau tanpa di gunakan drain
tertutup.

Kelas operasi bersih
terencana umumnya tidak
memerlukan antibiotik
profilaksis kecuali pada
beberapa jenis operasi,
misalnya mata, jantung,
dan sendi.

Operasi

Operasi yang dilakukan pada traktus

Pemberian antibiotika
Bersih
Kontami
nasi
(digestivus, bilier, urinarius, respiratorius,
reproduksi kecuali ovarium) atau operasi
tanpa disertai kontaminasi yang nyata.
profilaksis pada kelas
operasi bersih
kontaminasi perlu
dipertimbangkan manfaat
dan risikonya karena
bukti ilmiah mengenai
efektivitas antibiotik
profilaksis belum
ditemukan

Operasi
Kontami
nasi

Operasi yang membuka saluran cerna,
saluran empedu, saluran kemih, saluran
napas sampai orofaring, saluran reproduksi
kecuali ovarium atau operasi yang tanpa
pencemaran nyata (GrossSpillage).

Kelas operasi kontaminasi
memerlukan antibiotik
terapi (bukan profilaksis).

Operasi
Kotor

Adalah operasi pada perforasi saluran
cerna, saluran urogenital atau saluran
napas yang terinfeksi atau pun operasi
yang melibatkan daerah yang purulen
(inflamasibakterial). Dapat pula operasi
pada luka terbuka lebih dari 4 jam setelah
kejadian atau terdapat jaringan non vital
yang luas atau nyata kotor.

Kelas operasi kotor
memerlukan antibiotik
terapi.
Tabel1. Kelas Operasi dan Penggunaan Antibiotik (permenkes)






Kelas Operasi Indeks Risiko
0 1 2
Bersih 1,0 % 2,3 % 5,4 %
Bersih
Kontaminasi
2,1 % 4,0 % 9,5 %
Kontaminasi/Kotor 3,4 % 6,8 % 13,2 %

Tabel 2. Persentase Kemungkinan ILO Berdasarkan Kelas Operasi dan Indeks Risiko

Faktor Pasien
Kondisi status fisik pasien juga mempengaruhi tingginya ILO oleh sebab itu American
Society of Anesthesiologists (ASA) menyusun skor untuk dijadikan patokan.
Skore ASA Physical Status
1 A normal healthy patient
2 A patient with a mild systemic disease
3 A patient with a severe systemic disease that limits activity, but is not
incapacitating
4 A patient with a severe systemic disease that limits activity, but is not
incapacitating
5 A moribund patient not expected to survive 24 hours with or without
operation
Tabel 3 ASA skore

Lama rawat inap sebelum operasi
Lama rawat inap 3hari atau lebih sebelum operasi akan meningkatkan kejadian
ILO.
Ko-morbiditas ( DM, hipertensi, hipertiroid, gagalginjal, lupus, dll )

Indeks Risiko Infeksi Luka operasi
Faktor Ko-morbid dan durasi operasi memiliki peranan dalam menentukan indeks risiko.
Pemberian profilaksis dapat dilanjutkan pada pasien dengan indeks risiko operasi tinggi.
Indeks risiko operasi dihitung dari ada tidaknya ko-morbid, kategori ASA (>2) dan lama
operasi.

Indeks risiko

Definisi
0
Tidakditemukanfaktorrisiko
1
Ditemukan1faktorrisiko
2
Ditemukan2faktorrisiko
Tabel 4.Indeks Risiko

Pemasangan implan
Pemasangan implan pada setiap tindakan bedah dapat meningkatkan kejadian ILO
2.3.2 Dasar Pemilihan antibiotik
3

Sesuai dengan sensitivitas dan pola bakteri patogen terbanyak pada kasus
bersangkutan.
Spektrum sempit untuk mengurangi risiko resistensi bakteri.
Toksisitas rendah.
Tidak menimbulkan reaksi merugikan terhadap pemberian obat anestesi.
Bersifat bakterisidal.
Harga terjangkau
2.3.3. Rute Pemberian
a. Antibiotik profilaksis diberikan secara intravena.
b.Untuk menghindari risiko yang tidak diharapkan dianjurkan pemberian antibiotik
intravena drip.
3

2.3.4 Waktu Pemberian
Antibiotik profilaksis diberikan 30 menit sebelum insisi kulit. Idealnya diberikan
pada saat induksi anestesi dengan maksud agar pada saat insisi maka kadar antibiotik
didalam jaringan sudah mecapai puncaknya. Pemberian antibiotik profilaksis lebih baik
dilakukan di dalam kamar operasi, pada waktu anestesi melakukan induksi, untuk itu
dapat minta tolong anaestesis untuk memberikannya. Antibiotik tersebut harus mencapai
kadar puncak didalam jaringan sebelum terjadinya inokulasi kuman kedalam jaringan di
lapangan operasi. Antibiotik tidak bermanfaat untuk mencegah terjadinya ILO jika
diberikan
3,9


2.3.5 Lama Pemberian
Durasi pemberian adalah dosis tunggal. Pada operasi yang lama > 3 jam atau
perdarahan selama operasi > 1500 ml akan terjadi penurunan dosis antibiotik didalam
jaringan, oleh karena itu pada kondisi tersebut dapat diberikan dosis tambahan. Jika
operasi sangat memanjang maka pemberian dosis tambahan dapat diberikan setiap 2
jam untuk sefoksitin.
3,9

2.3.6 Dosis Pemberian
Untuk menjamin kadar puncak yang tinggi serta dapat berdifusi dalam jaringan
dengan baik, maka diperlukan antibiotik dengan dosis yang cukup tinggi. Pada jaringan
target operasi kadar antibiotik harus mencapai kadar hambat minimal hingga 2 kali lipat
kadar terapi.
3

Tabel dibawah ini menyajikan regimen dan dosis yang digunakan pada pembedahan :
4



Antibiotik Profilaksis pada Bedah Digestif
No
Type Of surgery

Likely
Patogens

Recommended anti
microbal Regimen

Duration

1 Clean Contaminated
Oesophagus
Gastroduodena
l
Billiary
Surgery
(high Risk)
Streptococcus,
Coliform,
Anaerob Bacteri
includes B.
fragilis

Cefazolin 1 g iv
Or
Clindamycin 600 mg i.v. +
Aminoglycoside 1,5 mg/kg
i.v
1 day

Cholecystectomy
Open

Gram negative
Enteric, S.aureus,
E faecalis,
Clamydia spp
Cefazolin 1 g i.v
Or
Clindamycin 600 mg i.v. +
Aminoglycoside 1,5 mg/kg
i.v
1 day

Appendectomy

Entyeric aerobe
and
anaerob
Cefazolin 1 g 1.v
Or
Clindamycin 600 mg i.v. +
Aminoglycoside 1,5 mg/kg
BW i.v
1 day
Colorectal

Entyeric aerobe
and anaerob

Cefazolin 1 g i.v.
Or
Clindamycin 600mg i.v. +
Aminoglycoside 1,5 mg/kg
i.v
1 day

2 Contaminated
Penetratic abdominal
trauma

Cefazolin 1 g i.v.
Or
Clindamycin 600 mg i.v. +
Aminoglycoside 1,5 mg/kg
i.v
1 day

3 Clean
Hernia with mesh

Cefazolin 1 g i.v.
Or
Clindamycin 600 mg i.v. +
Aminoglycoside 1,5 mg/kg
i.v
1 day



Antibiotik Profilaksis Pada Bedah Onkologi
No Type Of surgery

Likely Patogens

Recommended anti
microbal Regimen
Duration

1 Clean
Involves breast, skin,
soft tissue
S. Aureus
S. Epidemidis
Cefazolin 1 g i.v.
1 day

2 Clean Contaminated
Involves breast, skin,
soft tissue
S. Aureus
S. Epidemidis
,anaerob
S.Pyogenesw
E.colli
Cefazolin 1 g i.v.
Or
Sulbenicillin 2g i.v.
Or
Clindamycin 600 mg i.v.
1 day

3 Contaminated
Involves breast, skin,
soft tissue, with
secondary infection
Cefazolin 1 g i.v.
Or
Sulbenicillin 2g i.v.
Or
Clindamycin 600 mg i.v
1 day



Antibiotik Profilaksis Pada Bidang Bedah Kepala Leher
No Type Of surgery Likely Patogens

Recommended anti
microbal Regimen
Duration

1 Clean
Use the implant in
maxillofacial surgery
S. Aureus
S. Epidemidis

Clindamycin 600 mg i.v
+
Gentamycin 1,5 mg/kg i.v
Or
Cefazolin 1 gr i.v
+
Clindamycin 600 mg i.v


1 day

2 Clean contaminated
Involves oral cavity/
pharynk/ larynk/
esophagus/ paranasalis
- Internal
fixation
- commando
- tumor excision
S. Aureus
S. Epidemidis
Gram negative
baccil, anaerob

Clindamycin 600 mg i.v
+
Gentamycin 1,5 mg/kg i.v
Or
Cefazolin 1 gr i.v
+
Clindamycin 600 mg i.v
1 day

3 Contaminated
Excision of infected
tumor
Open fracture
maxillofacial

S. Aureus
S. Epidemidis
Gram negative
baccil, anaerob

Clindamycin 600 mg i.v +
Gentamycin 1,5 mg/kg i.v
Or
Cefazolin 1 gr i.v
+
Clindamycin 600 mg i.v
1 day


Antibiotik Profilaksis Pada Bidang Bedah Anak
No Type Of surgery Likely
Patogens

Recommended
anti microbal
Regimen
Durati
on


1 Clean Contaminated
Oesophagus
Gastroduodenal
Billiary Surgery

Streptococcus,
Coliform,
Anaerob
Bacteri
includes B.
fragilis

Ampicillin +
Gentamycin
Or
Cefazolin
Or
Clindamycin +
Gentamycin
1 day

Ampicillin
10-25
mg/kg/dose
;4x24h

Appendectomy

Entyeric
aerobe
and
anaerob

Ampicillin +
Gentamycin
with/ without
Metronidazole
Or
Cefazolin +
Metronidazole
Or
1 day

Cefazolin :
6,25-12,5
mg/kg/dose
;2-3x/24h

Clindamycin +
Gentamycin
Colorectal

Entyeric
aerobe and
anaerob

Ampicillin +
Gentamycin +
Metronidazole
Or
Cefazolin +
Metronidazole
Or
Clindamycin +
Gentamycin +
Metronidazole
1 day

Metronidazole
1-6 yrs
250mg/dose ;
3x 24jh
7-14 yrs
500 mg/dose ;
3x/24h

2 Contaminated
Ruptre of viscus organ

Enteric gram
negative
bacilli, anaerob

Ampicillin +
Gentamycin +
Metronidazole
Or
Cefazolin +
Metronidazole
Or
Clindamycin +
Gentamycin +
Metronidazol
2 days

Clindamicin
2,5-5
mg/kg/dose ;
3x/24h
Gentamicycin
<7 yrs 2,5
mg/kg/dose ;
2x /24h
>7 yrs 2,5
mg/kg/dose ;
3x /24h

2.4 Efek samping dari penggunaan antibiotik profilaksis
Allergi
Menyebabkan peningkatan colitis oleh karena pengurangan jumlah Clostridium yg
disebabkan penggunaan cephalosporin generasi 3.
Peningkatan frekuensi bakterimia dan jalur infeksi pembedahan pada pasien yang
menerima pemberian antibiotik profilaksis lebih dari 4 hari
3


DAFTAR PUSTAKA
1. Sykes R. "Penicillin: from discovery to product". World Health Organ. 2001 [cited :
20 Aug 2011]:79(8):7789. Available from :
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.
fcgi?tool=pmcentrez&artid=2566502

2. Simanjuntak CH, Punjabi NH, Wangsasaputra F, Nurdin D, Pulungsih SP, Rofiq A,et
al. Diarrhoea episodes and treatment-seeking behaviour in a slum area of North
Jakarta, Indonesia. J Health Popul Nutr. 2004;22:119-29

3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2406/Menkes/Per/Xii/2011

4. Guidelines Antibiotic Prophylaxis in Surgery, Departement of Surgery Faculty of
Medicine Airlanga University/ Dr.Soetomo Hospital Surabaya. 2003

5. National Centre for Biotechnology Information (NCBI). NCBI Medline thesaurus.
Search terms: antibacterial agent, therapeuticuse. [cited ]. Available from url:
www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?CMD=search&DB=mesh

6. World Health Organization. WHO global strategy for containment of antimicrobial
resistence. Switzerland: WHO; 2001

7. Antibiotic prophylaxis in surgery A national clinical guideline, Scottish
Intercollegiate Guidelines Network.2008
8. American Society of Anesthesiologists. New classification of physical status.
Anesthesiology 1963;24:111.
9. http://www.scribd.com/doc/56235450/Prof-Sunarto-penggunaan-Antibiotik-
Profilaksis)



.