Você está na página 1de 99

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL BISNIS MLM

SEBAGAI ALTERNATIF BERWIRAUSAHA


(Studi Kasus : Distributor Amway Indonesia dengan Sistem Network Twentyone)








Oleh :
INDRIA MUKTI EFAYANTI
H24101072













DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKOMONI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2006
i
ABSTRAK
Indria Mukti Efayanti. Analisis Kelayakan Finansial Bisnis MLM Sebagai
Alternatif Berwirausaha ( Studi kasus : Amway Indonesia dengan Sistem Network
Twentyone). Di bawah bimbingan Abdul Basith

Dewasa ini banyak kesempatan berwirausaha. Suatu karir kewirausahaan
dapat mendukung kesejahteraan masyarakat dan menghasilkan imbalan finansial,
selain itu juga dapat menyediakan lapangan kerja baru. Untuk membangun suatu
usaha, seorang wirausaha harus menilai kelayakan usaha tersebut dahulu, terlebih
dari segi finansial. Hal ini dimaksudkan untuk menilai apakah usaha yang akan
dibangun tersebut menguntungkan dan layak untuk dijalankan atau tidak. Metode
yang sering digunakan dalam menganalisis kelayakan usaha secara finansial
diantaranya metode R/C, pendapatan usaha, PBP, NPV, Net B/C, IRR, dan
cashflow. Untuk memulai bisnis Amway sebaiknya dilakukan analisis kelayakan
usahanya, agar dapat diketahui bisnis tersebut menguntungkan dan layak atau
tidak. Bisnis Amway dikatakan bisnis yang murah, karena modalnya yang relatif
kecil. Tetapi dalam pelaksanaannya banyak biaya yang dikeluarkan guna
menjalankan bisnis tersebut, oleh karena itu harus diteliti bagaimana kelayakan
bisnis Amway. Bila bisnis Amway ternyata menguntungkan, maka bisnis ini dapat
dijadikan alternatif berwirausaha.
Penelitian difokuskan pada analisis kelayakan finansial bisnis Amway di
Indonesia dengan sistem pendukung Network Twentyone (N21).
Permasalahan utama yaitu : Bagaimana usaha bisnis IBO Amway, dilihat dari
segi keuntungan, rasio penerimaan dengan biaya, waktu balik modal, dan analisis
kriteria investasi; Bagaimana variabilitas IBO Amway dalam bisnis Amway.
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu : Menganalisis usaha bisnis Amway,
dilihat dari segi keuntungan, rasio penerimaan dengan biaya, waktu balik, dan
analisis kriteria investasi; Menjelaskan variabilitas IBO Amway dalam bisnis
Amway.
Metode yang digunakan yaitu metode analisis usaha dan metone analisis
criteria investasi. Analisis usaha terdiri dari pendapatan usaha,R/C, PBP. Analisis
criteria investasi terdiri dari NPV,Net B/C,dan IRR.
sDari perbandingan keempat IBO dalam pembahasan analisis usaha Amway,
bisnis Amway dinyatakan menguntungkan. Hal ini terlihat pada hasil perhitungan
pendapatan usaha dan R/C dari keempat IBO, dimana keempat-empatnya
menyatakan hasil yang sesuai dengan kriteria menguntungkan. Tetapi berdasarkan
analisis kriteria investasi, IBO 4 dinyatakan tidak layak karena hasil NPV, Net
B/C, dan IRRnya tidak memenuhi syarat layak. Untuk membuat bisnis Amway
menguntungkan dan layak seorang IBO harus memiliki minimal 100.000PV
pribadi per bulan dan jaringan yang terus berkembang minimal mensponsori satu
orang per bulan, begitu juga Downline-downlinenya.
IBO-IBO Amway dalam mencapai keberhasilan sangat beragam. Hal tersebut
tergantung dari keaktifan IBO itu sendiri dalam menjalankan bisnis Amwaynya
dengan mengikuti sistem N21




INSTITUT PERTANIAN BOGOR
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL BISNIS MLM
SEBAGAI ALTERNATIF BERWIRAUSAHA
(Studi Kasus : Amway Indonesia dengan Sistem Network Twentyone)


SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA EKONOMI
Pada Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Oleh :
INDRIA MUKTI EFAYANTI
H24101072

Menyetujui, September 2006


Ir. Abdul Basith, M.Sc
Dosen Pembimbing

Mengetahui,


Dr.Ir. J ono M. Munandar, M.Sc
Ketua Departemen Manajemen
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL BISNIS MLM
SEBAGAI ALTERNATIF BERWIRAUSAHA
(Studi Kasus : Amway Indonesia dengan Sistem Network Twentyone)








Oleh :
INDRIA MUKTI EFAYANTI
H24101072













DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKOMONI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2006
ii
RIWAYAT HIDUP

INDRIA MUKTI EFAYANTI. Lahir di Tasikmalaya pada tangga 16
Desember 1982. Penulis merupakan puteri ke tiga dari enam bersaudara pasangan
Mukiman dan A. Sri Astuti. Sejak usia dua tahun penulis dan keluarga hijrah ke
J akarta dan selanjutnya menetap di Tangerang, Banten hingga saat ini.
Penulis mengenyam pendidikan sekolah dasar dari tahun 1989 s/d 1995 di
SDN Karang Tengah IX Ciledug. Pada tahun 1995 melanjutkan pendidikan ke
sekolah lanjutan tingkat pertama di SLTPN I Pondok Aren, Tangerang dan lulus
dengan nilai yang sangat baik. Setelah menyelesaikan pendidikan di SLTP,
penulis melanjutkan pendidikan ke SMU pada tahun 1998 di SMU Yadika 5,
J akarta Barat dan lulus tahun 2001. Semasa SMU, penulis sering mendapatkan
penghargaan dari yayasan sekolah karena prestasinya di bidang pendidikan.
Penulis memasuki gerbang kehidupan kampus pada tahun 2001 melalui
J alur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis duiterima sebagai mahasiswi
J urusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selama studi di IPB,
penulis aktif mengikuti kepanitiaan beberapa acara yang diadakan baik oleh FEM
ataupun IPB. Penulis juga aktif di sebuah majalah kampus FEM, Papyrus, sebagai
sekretaris sekaligus wartawan.




















iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Kelayakan Finansial Bisnis MLM
Sebagai Alternatif Berwirausaha ( Studi kasus : Distributor Amway Indonesia
dengan Sistem Network Twentyone). Skripsi ini merupakan syarat kelulusan
untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manejemen, Fakultas
Ekonomidan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Topik mengenai bisnis MLM diambil karena saat ini pertumbuhan bisnis
MLM di Indonesia sedang berkembang. Dalam penelitian ini, penulis mencoba
menganalisis mengenai kelayakan bisnis Amway dari segi finansial sehubungan
dengan alternatif berwirausaha.
Pada kesempatan ini,penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang membantu dalam penyelesaian skripsi ini yaitu :
1 Keluarga tercinta : Apih, Ibu, Teteh, AA, Cecep, Samsul, dan Dafit yang
senantiasa memberikan doa, kasih sayang, dukungan, serta senantiasa
menghibur penulis dikala penulis mengalami kepenatan dalam menyusun
Skripsi.
2 Bapak Ir. Abdul Basith, M.Sc selaku dosen pembimbing skripsi yang telah
meluangkan waktu untuk memberi bimbingan, saran, dan motivasi kepada
penulis.
3 Bapak Ir. Pramono D. Fewidarto, MS selaku pembimbing akademik yang
telah banyak membantu penulis selama masa studi di IPB
4 Ibu Wita J uwita Ermawati, STP, MT selaku moderator seminar
5 Ibu Bea Trice Mantoroadi, SE.Ak, MM selaku dosen penguji yang telah
banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi
6 Ibu Erlin Trisyulianti, STP, M.Si selaku dosen penguji
7 My Best Friends : Ida, Omen, Deni, Rita, Irwan, Carina, Lia, dan Ian yang
merupakan tempat berbagi cerita, kebahagiaan, canda, dan tawa. Khususnya
Ida yang senantiasa mendengarkan cerita curahan hati penulis dan selalu
memberikan nasihat-nasihat yang baik.
8 Tias, salah satu teman dekat penulis yang sering menjadi contoh baik bagi
penulis
iv
9 Meidi, Leni, Reni KD, dan Ella yang pernah bersama penulis menjalani hari-
hari bersama di IPB
10 Teman-teman Manajemen 38 atas kebersamaannya selama masa studi
11 Seluruh dosen pengajar dan staf FEM, khususnya Departemen Manajemen
12 Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu oleh penilis.

Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam skripsi ini. Oleh karena
itu kritik dan saran yang membangun sangat dinantikan.Akhir kata, dengan segala
kerendahan hati,penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan
menjadi inspirasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan.



Bogor, September 2006


Penulis















iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Kelayakan Finansial Bisnis MLM
Sebagai Alternatif Berwirausaha ( Studi kasus : Distributor Amway Indonesia
dengan Sistem Network Twentyone). Skripsi ini merupakan syarat kelulusan
untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manejemen, Fakultas
Ekonomidan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Topik mengenai bisnis MLM diambil karena saat ini pertumbuhan bisnis
MLM di Indonesia sedang berkembang. Dalam penelitian ini, penulis mencoba
menganalisis mengenai kelayakan bisnis Amway dari segi finansial sehubungan
dengan alternatif berwirausaha.
Pada kesempatan ini,penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang membantu dalam penyelesaian skripsi ini yaitu :
1 Keluarga tercinta : Apih, Ibu, Teteh, AA, Cecep, Samsul, dan Dafit yang
senantiasa memberikan doa, kasih sayang, dukungan, serta senantiasa
menghibur penulis dikala penulis mengalami kepenatan dalam menyusun
Skripsi.
2 Bapak Ir. Abdul Basith, M.Sc selaku dosen pembimbing skripsi yang telah
meluangkan waktu untuk memberi bimbingan, saran, dan motivasi kepada
penulis.
3 Bapak Ir. Pramono D. Fewidarto, MS selaku pembimbing akademik yang
telah banyak membantu penulis selama masa studi di IPB
4 Ibu Wita J uwita Ermawati, STP, MT selaku moderator seminar
5 Ibu Bea Trice Mantoroadi, SE.Ak, MM selaku dosen penguji yang telah
banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi
6 Ibu Erlin Trisyulianti, STP, M.Si selaku dosen penguji
7 My Best Friends : Ida, Omen, Deni, Rita, Irwan, Carina, Lia, dan Ian yang
merupakan tempat berbagi cerita, kebahagiaan, canda, dan tawa. Khususnya
Ida yang senantiasa mendengarkan cerita curahan hati penulis dan selalu
memberikan nasihat-nasihat yang baik.
8 Tias, salah satu teman dekat penulis yang sering menjadi contoh baik bagi
penulis
v
DAFTAR ISI



ABSTRAK.......................................................................................................... i

RIWAYAT HIDUP............................................................................................ii

KATA PENGANTAR....................................................................................... iii

DAFTAR ISI....................................................................................................... v

DAFTAR TABEL .............................................................................................vii

DAFTAR GAMBAR.........................................................................................vii

DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... ix

I. PENDAHULUAN..................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang.....................................................................................1
1.2. Perumusan Masalah.............................................................................2
1.3. Tujuan Penelitian.................................................................................3
1.4. Kegunaan Penelitian.............................................................................3
1.5. Batasan Penelitian................................................................................3

II. TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 5
2.1. Kewirausahaan.....................................................................................5
2.1.1. Pengertian Wirausaha.................................................................5
2.1.3. Imbalan dan Tantangan Kewirausahaan....................................5
2.1.3. Karakteristik Wirausaha.............................................................6
2.2. Direct Selling.......................................................................................7
2.3. Multilevel Marketing...........................................................................8
2.4. Kelebihan-kelebihan Bisnis MLM......................................................10
2.5. Prinsip Penggandaan MLM ................................................................12
2.6. Independent Business Owner..............................................................13
2.7. Level-level dalam Bisnis Amway.......................................................14
2.8. Pedoman Pendapatan Bisnis Amway..................................................16
2.9. Perhitungan Diskon dan Bonus.......................................................... 19
2.10. Penelitian Terdahulu.........................................................................24

III. METODE PENELITIAN........................................................................ 26
3.1. Kerangka Pemikiran............................................................................26
3.2. Metode Penelitian...............................................................................27
3.3. J enis Data dan Sumber Data...............................................................27
3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data...............................................27
3.4.1. Analisis Usaha..........................................................................28
3.4.1.1. Analisis Penadapatan Usaha.......................................28
3.4.1.2. Analisis Revenue-Cost Ratio (R/C)............................28
vi
3.4.1.3. Pay Back Periode (PBP) .............................................29
3.4.2. Analisis Kriteria Investasi ........................................................29
3.4.2.1. Net Present Value (NPV)............................................29
3.4.2.2. Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C)...............................30
3.4.2.3. Internal Rate of Return (IRR) .....................................30
3.5. Batasan dan Pengukuran....................................................................31

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................ 32
4.1. Ganbaran Perusahaan
4.1.1. Amway Corporation................................................................33
4.1.1.1. Sejarah Amway Corpopration....................................33
4.1.1.2. Sejarah PT Amindoway J aya......................................33
4.1.1.3. Filosofi ........................................................................34
4.1.1.4. Visi ..............................................................................34
4.1.1.5. Prinsip-prinsip.............................................................35
4.1.1.6. Produk-produk PT Amindoway J aya..........................36
4.1.2. Network Twentyone.................................................................38
4.1.2.1. Sejarah Network Twentyone.........................................38
4.1.2.2. Materi-materi Network 21.............................................39
4.1.2.3. Peringkat IBO Amway dengan Siatem N21.................41
4.2. Pertumbuhan Bisnis MLM.................................................................42
4.3. Tingkat Pertumbuhan Bisnis Amway................................................43
4.4. Pola Pertumbuhan Bisnis Amway......................................................43
4.5. Analisis Usaha ...................................................................................44
4.5.1. Investasi ...................................................................................44
4.5.2. Penerimaan ..............................................................................46
4.5.3. Biaya Usaha.............................................................................49
4.5.4. Analisis Pendapatan Usaha......................................................51
4.5.5. Analisis Revenue-Cost Ratio (R/C).........................................52
4.5.6. Pay Back Periode (PBP) .........................................................53
4.5.7. Perkiraan Cashflow..................................................................54
4.6. Analisis Kriteria Investasi ..................................................................55
4.7. Variabilitas IBO Bisnis Amway.........................................................57
4.8. Bisnis Amway Sebagai Kewirausahaan.............................................61

KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................ 63

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 64

LAMPIRAN....................................................................................................... 66






vii
DAFTAR TABEL



No Halaman
1 Beda Prospek Antara Dua Pilihan...............................................................10
2 Tabel Diskon...............................................................................................17
3 Tabel Bonus................................................................................................18
4 Amway Distributor Center (ADC) dan Amway Produck Center (APD)
di Indonesia............................................................................................38
5 Negara-negara Cakupan Network 21..........................................................39
6 Paket-paket Investasi Amway dengan Sistem Network 21.........................45
7 Penerimaan IBO Amway Dalam 12 Bulan.................................................48
8 Biaya Usaha IBO Amway (per tahun)........................................................51
9 Pendapatan Usaha IBO Amway (per tahun)...............................................52
10 PBP IBO Amway........................................................................................54
11 Hasil Analisis Kriteria Investasi .................................................................55































viii
DAFTAR GAMBAR



No Halaman
1 Contoh Penggandaan MLM........................................................................13
2 PV yang diperoleh IBO dengan 6 Downline..............................................20
3 PV yang diperoleh IBO dengan 30 Downline............................................21
4 PV yang diperoleh IBO dengan 78 Downline............................................23
5 Kerangka Pemikiran....................................................................................26






































ix
DAFTAR LAMPIRAN



No Halaman
1 Perusahaan MLM yang terdaftar dalam Keanggotaan APLI ......................66
2 Pertumbuhan J aringan IBO 1......................................................................68
3 Pertumbuhan J aringan IBO 2......................................................................68
4 Pertumbuhan J aringan IBO 3......................................................................69
5 Pertumbuhan J aringan IBO 4......................................................................69
6 Perhitungan Penerimaan IBO 1...................................................................70
7 Perhitungan Penerimaan IBO 2...................................................................74
8 Perhitungan Penerimaan IBO 3...................................................................77
9 Perhitungan Penerimaan IBO 4...................................................................81
10 Perkiraan Biaya Usaha Bisnis IBO Amway...............................................84
11 Perhitungan PBP IBO 1..............................................................................85
12 Perhitungan PBP IBO 2..............................................................................85
13 Perhitungan PBP IBO 3..............................................................................85
14 Perhitungan PBP IBO 4..............................................................................85
15 Perkiraan Cashflow IBO 1..........................................................................86
16 Perkiraan Cashflow IBO 2..........................................................................89
17 Perkiraan Cashflow IBO 3..........................................................................91
18 Perkiraan Cashflow IBO 4..........................................................................93












1
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Wirausaha adalah seorang pembuat keputusan yang membantu
terbentuknya sistem ekonomi perusahaan yang bebas atau seseorang yang
memulai dan mengoperasikan bisnis (Longanecker, et al., 2001), sedangkan
Multilevel Marketing (MLM) merupakan suatu jaringan kerja dimana seorang
usahawan atau pengusaha yang independen mempunyai penjualan dari produk
atau jasa (Wead, 1997). Berdasarkan pengertian tersebut, bisnis MLM dapat
dikatakan sebagai salah satu kewirausahaan karena dalam pelaksanaannya,
seseorang yang menanamkan investasi di bisnis MLM dapat mengoperasikan
bisnisnya sendiri tanpa dikepalai oleh siapapun.
Dewasa ini banyak kesempatan berwirausaha. Suatu karir
kewirausahaan dapat mendukung kesejahteraan masyarakat dan menghasilkan
imbalan finansial, selain itu juga dapat menyediakan lapangan kerja baru.
Untuk membangun suatu usaha, seorang wirausaha harus menilai kelayakan
usaha tersebut dahulu, terlebih dari segi finansial. Hal ini dimaksudkan untuk
menilai apakah usaha yang akan dibangun tersebut menguntungkan dan layak
untuk dijalankan atau tidak. Metode yang sering digunakan dalam
menganalisis kelayakan usaha secara finansial diantaranya metode R/C,
pendapatan usaha, PBP, NPV, Net B/C, IRR, dan cashflow.
Bisnis MLM masuk ke Indonesia sekitar dua puluh tahun yang lalu
(www.sinarharapan.co.id. 15/04/05). Perkembangannya di Indonesia sangat
meyakinkan, ditandai dengan semakin banyaknya perusahaan yang
menggunakan sistem MLM muncul di Indonesia dari tahun ke tahun, seperti
Amway, Herbalife, Forever Young, Tianshi, Avon, Sophie Martin, Oriflame
dan Tupperware, sementara untuk MLM lokal di Indonesia terdapat nama-
nama, seperti CNI, MQ-Net, Triple-S, Ahad Net dan perusahaan MLM
lainnya.
Amway merupakan salah satu perusahaan MLM yang terdaftar di
APLI. Amway masuk ke Indonesia sejak tahun 1992 dan baru terdaftar di
APLI tahun 1993 (www.apli.or.id). Amway merupakan perusahaan MLM
2
terbesar di dunia, sementara di Indonesia Amway berada pada peringkat kedua
setelah PT Citra Nusa Insan atau CNI. (www.sinarharapan.co.id. 15/04/05).
J umlah distributor Amway di Indonesia mencapai lebih dari 250.000
distributor. (www.kompas.co.id. 22/01/05). Sehubungan dengan
kewirausahaan, dalam membangun bisnis Amway seorang distributor Amway
perlu melakukan suatu analisis kelayakan usaha bisnis Amway guna melihat
kelayakan bisnis Amway sebagai suatu kewirausahaan.
Penelitian difokuskan pada analisis kelayakan finansial bisnis IBO
Amway di Indonesia dengan sistem pendukung Network Twentyone (N21).
Sistem N21 merupakan salah satu organisasi atau asosiasi yang dibangun oleh
IBO Amway itu sendiri unuk mendukung menjalankan bisnis Amway agar
berhasil. N21 dibangun oleh J im Dornan dan Nancy Dornan. N21 mendukung
bisnis Amway dengan memberikan berbagai pelatihan dan pengajaran dalam
bisnis serta menyediakan alat bantu untuk membantu kesuksesan IBO
Amway.

1.2. Perumusan Masalah
Dalam membangun suatu usaha, dibutuhkan penelitian terlebih
dahulu. Penelitian yang dimaksud yaitu penilaian kelayakan usaha. Hal ini
dimaksudkan untuk mengetahui bisnis tersebut menguntungkan dan layak
untuk dilanjutkan atau tidak, guna mencegah kerugian atau meminimalis
kerugian.
Dalam penelitian ini yang menjadi permasalahan utama yaitu:
1 Bagaimana kelayakan bisnis IBO Amway, dilihat dari segi keuntungan,
rasio penerimaan dengan biaya, waktu balik modal serta analisis kriteria
investasi ?
2 Bagaimana variabilitas IBO Amway dalam bisnis Amway ?





3
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis kelayakan bisnis
Amway dari segi finansial sebagai alternatif berwirausaha.dan menganalisis
hal-hal yang lebih mempengaruhi besarnya penerimaan, dengan perincian
sebagai berikut :
1 Menganalisis kelayakan bisnis IBO Amway, dilihat dari segi keuntungan,
rasio penerimaan dengan biaya, waktu balik modal, dan analisis kriteria
investasi
2 Menjelaskan variabilitas IBO Amway dalam bisnis Amway

1.4. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah :
1. Menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama duduk di bangku kuliah
dan melatih kemampuan dalam menganalisis masalah berdasarkan data
yang tersedia di lapangan
2. Menambah wacana tentang bisnis MLM bagi para peminat bisnis MLM
3. Dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pengambilan keputusan bagi
siapapun yang sedang merintis usaha baru.

1.5. Batasan Penelitian
Penelitian mengenai bisnis MLM, khususnya Amway, sangat luas.
Penelitian tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek, yaitu aspek pasar, aspek
sumber daya manusia, aspek teknis ataupun aspek finansial. Oleh karena itu,
peneliti membuat batasan penelitian berdasarkan kemampuan peneliti.
Adapun batasan-batasan yang digunakan yaitu :
1 Bisnis MLM yang menjadi objek penelitian adalah Amway di Indonesia
dengan sistem Network Twentyone (N21), dimana N21 merupakan
organisasi pendukung bisnis Amway ada di Indonesia
2 Penelitian difokuskan pada analisis kelayakan bisnis Amway dari aspek
finansial
3 Sampel yang diwawancara terbatas karena ketertutupan individu para IBO
Amway mengenai pendapatan dan biaya usaha dalam bisnis Amway dan
4
adanya batasan komunikasi yang tercipta dalam bisnis Amway, dimana
IBO yang bukan berada pada kelompok yang sama tidak diperbolehkan
membicarakan bisnis Amway pada kondisi apapun
4 Digunakan asumsi-asumsi dalam menganalisis kelayakan finansial bisnis
Amway karena variabilitas setiap IBO yang berbeda-beda, yang
selanjutnya dijelaskan dalam pembahasan.


























5
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kewirausahaan
2.1.1. Pengertian Wirausaha
Wirausaha adalah seorang pembuat keputusan yang membantu
terbentuknya sistem ekonomi perusahaan yang bebas atau seseorang
yang memulai dan atau mengoperasikan bisnis. (Longeneker, et al.,
2001).

2.1.2. Imbalan dan Tantangan Kewirausahaan
Ketertarikan seseorang akan kewirausahaan adalah karena imbalan
yang kuat, seperti keuntungan dan kebebasan. Beberapa orang
khususnya tertarik hanya pada salah satu imbalan, dan yang lainnya
tertarik pada berbagai kepuasan yang mungkin didapatkannya. Imbalan
berwirausaha dapat dikelompokan menjadi tiga kategori dasar
(Longeneker, et al., 2001) yaitu laba, kebebasan, dan kepuasan dalam
menjalani hidup.
Imbalan Berupa Laba
Hasil finansial dari bisnis apapun harus dapat menggantikan
kerugian waktu dan dana sebelum laba yang sebenarnya dapat
direalisasikan. Wirausaha mengharapkan hasil yang tidak hanya
menggantikan kerugian waktu dan uang yang mereka investasikan,
tapi juga memberikan imbalan yang pantas bagi resiko dan
inisiatif yang mereka ambil dalam mengoperasikan bisnis.
Imbalan Berupa Kebebasan
Kebebasan untuk menjalankan secara bebas perusahaannya
merupakan imbalan lain bagi seorang wirausaha. Kebanyakan
wirausaha meninggalkan pekerjaannya di perusahaan lain untuk
dapat menjadi bos atas perusahaannya sendiri. Sehingga dapat
mengambil keputusan sendiri, resiko dan memiliki laba sendiri.


6
Imbalan Berupa Kepuasan Menjalani Hidup
Wirausaha seringkali menyatakan kepuasan yang mereka dapatkan
dalam menjalankan bisnisnya sendiri. Kadang beberapa orang
mengatakan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan merupakan
suatu keceriaan. Kenikmatan yang mereka dapatkan mungkin
berasal dari kebebasan.

Selain imbalan-imbalan yang didapatkan dari berwirausahaa, ada
juga tantangan yang harus dihadapi oleh para wirausaha. Diantara
tantang-tantangan tersebut adalah biaya yang berhubungan dengan
kepemilikan bisnis atau modal. Memulai dan mengoperasikan bisnis
sendiri, biasanya memerlukan kerja keras, menyita banyak waktu, dan
membutuhkan kekuatan emosi. Wirausaha mengalami tekanan pribadi
yang tidak menyenangkan seperti kebutuhan untuk menginvestasikan
lebih banyak waktu dan tenaga. Kemungkinan gagal dalam bisnis adalah
ancaman yang selalu ada bagi wirausaha dan tidak ada jaminan
kesuksesan.

2.1.3. Karakteristik Wirausaha
Longenecker, et al (2001) wirausaha yang sukses memiliki
beberapa karakteristik, diantaranya :
Kebutuhan akan keberhasilan
Setiap orang memiliki tingkat kebutuhan akan keberhasilan yang
berbeda. Orang yang memiliki tingkat kebutuhan akan
keberhasilan yang rendah, terlihat puas dengan status yang
dimiliki, sedangkan orang yang memiliki tingkat kebutuhan akan
keberhasilan yang tinggi senang bersaing dan memilih untuk
bertanggung jawab secara pribadi atas tugas-tugas yang
dibebankannya.
Keinginan untuk mengambil resiko
Resiko yang diambil wirausaha dalam memulai dan menjalankan
bisnisnya berbeda-beda. Resiko keuangan terjadi saat seorang
7
wirausaha menginvestasikan uangnya untuk suatu usaha, resiko
karir terjadi saat seorang wirausaha meninggalkan pekerjaanya
guna menjalankan usaha, dan resiko waktu yang bebih banyak
digunakan untuk mengoperasikan usaha.
Percaya diri
Orang yang memiliki keyakinan pada dirinya sendiri merasa dapat
menjawab tantangan yang ada di depannya. Orang-orang tersebut
mempunyai pemahaman atas segala jenis masalah yang akan
muncul. Wirausaha yang mempercayai bahwa kesuksesan
tergantung pada usaha diri sendiri mempunyai pengendalian yang
disebut Internal Locus of Control ( kepercayaan bahwa kesuksesan
seseorang tergantung pada usahanya), sebaliknya wirausaha yang
merasa bahwa hidup dikendalikan oleh nasib atau keberuntungan
mempunyai pengendalian yang disebut External Locus of Control
(kepercayaan).
Keinginan kuat untuk berbisnis
Wirausaha memperhatikan tingkat keingintahuannya yang dapat
disebut sebagai keinginan kuat untuk berbisnis dengan tujuan
apapun, menciptakan ketabahan dan keamanan untuk bekerja
keras.

2.2. Direct Selling
Direct Selling atau penjualan langsung adalah cara memasarkan
produk maupun jasa langsung kepada pelanggan, yaitu secara temu muka.
Temu muka ini umumnya berlangsung di rumah pelanggan, di rumah teman,
atau di tempat lain di luar lokasi pengecer (www. Amway.co.id/directsale.asp.
24/02/05). Direct Selling mempunyai tiga tipe dasar, yaitu One On One,
Party Plan, dan MLM.
One On One
Dalam sistem ini, seorang penjual yang merupakan
agen/anggota/kontraktor yang mandiri atau lepas, menarik konsumen yang
berpotensi di area khusus berdasarkan pendekatan orang ke orang. Mereka
8
menawarkan produk dan juga mendapat komisi atau basis lain.
Pendapatan mereka juga diperoleh dari selisih harga pembelian dari
pemasok dan penjualan ke konsumen.
Party Plan
Pada metode ini seorang penjual, karyawan lepas atau tetap, bertugas
mencari atau menjadi tuan rumah yang mengundang sekelompok orang di
rumahnya dalam rangka sales party untuk mendemonstrasikan produk.
Penghasilan si penjual atas dasar selisih harga eceran.
Multilevel Marketing
Multilevel Marketing adalah penjualan secara bertingkat, dimana
distributor mandiri mempunyai penghasilan dalam dua cara. Pertama,
penjualan produk langsung ke konsumen, keuntungan didapatkan atas
dasar selisih antara harga distributor dan harga konsumen. Kedua,
potongan harga atas dasar jumlah produk atau jasa yang dibeli oleh
anggota kelompok bisnis untuk penjualan atau pemakaian, termasuk
jumlah penjualan pribadi.

2.3. Multilevel Marketing
Kishel (1992) mendefinisikan MLM sebagai metode penjualan di mana
konsumen mempunyai kesempatan untuk menjadi distributor pabrik yang
dapat membangun jaringan atau level dibawahnya. Setiap level akan berbagi
keuntungan pada level-level di atasnya.
Tracy (2005) menyatakan MLM adalah gambaran jenis pemasaran
lainnya karena sebuah perusahaan MLM adalah salah satu ragam pemasaran
tertentu dan rancangan kompensasinya melibatkan sejumlah tingkat
pengorganisasian kelompok dan pembayaran komisi, serta dapat menerapkan
segala metode penjualan.
Wead (1997) Network Marketing atau MLM adalah suatu jaringan
kerja dimana seorang usahawan atau pengusaha yang independen mempunyai
penjualan dari suatu produk atau jasa. Selain dari hak penjualan, mereka juga
dapat menpromosikan atau memasukkan orang lain ke dalam kelompoknya.
9
Dengan kata lain, MLM dapat diartikan sebagai sistem penjualan
secara langsung kepada konsumen yang dilakukan secara berantai, dimana
seorang konsumen dapat menjadi distributor produk dan dapat
mempromosikan orang lain untuk bergabung dengan dalam rangka
memperluas jaringan distributornya.
Dalam rangkaian distributor terdapat istilah Upline dan
Downline. Upline adalah distributor tingkat pertama yang mempromosikan
distributor tingkat kedua. Sedangkan Downline adalah pihak yang disponsori
oleh distributor tingkat pertama. Downline juga dapat menjadi Upline bagi
orang lain dengan membangun jaringan baru di bawahnya dengan
mensponsori orang lain ke dalam kelompoknya dan demikian seterusnya.
(Kishel, 1992)
MLM lebih memanfaatkan kekuatan manusia daripada institusi ritel
dan lainnya, untuk mempromosikan dan menjual barang atau jasa. MLM juga
menitikberatkan pada kekuatan kontak pribadi dan persuasif dalam penjualan,
dimana si penjual berfungsi lebih dari sekedar seorang juru tulis yang
mencatat hasil penjualan.
MLM berbeda dengan sistem penjualan lainnya. Dalam bisnis MLM,
distributor multilevel tidak hanya berusaha menjual barang kepada konsumen
secara eceran, tetapi juga mencari distributor lain untuk menjual barang atau
jasa kepada konsumen. Karakteristik lain yang menjadi ciri pembeda bisnis
MLM adalah penjual, biasanya disebut distributor, merupakan seorang
kontraktor bebas yang bisa menjual dimana saja, kapan saja, meskipun harus
tunduk pada acuan perusahaan berkenaan dengan iklan maupun cara menjual
produk.
Program-program MLM telah mengalami peningkatan terus-menerus
sejak tahun 1980-an, dikarenakan bisnis MLM menawarkan peluang
memperoleh pendapatan yang tinggi melalui prinsip-prinsip penggandaan
usaha. Seseorang dapat menciptakan sebuah organisasi sebagai wahana dalam
memasarkan produk dan jasa. Penghasilan didasarkan pada apa yang
diperoleh anggota tim maupun usaha sendiri. Proses pengembangan organisasi
ini mengandung makna bahwa seseorang memerankan satu peran penting
10
dalam membantu distributor mencapai kesuksesan, dengan mengerjakan apa
yang harus dilakukan. Prinsip pokok MLM adalah bahwa seseorang akan
berhasil jika membantu orang lain meraih keberhasilan juga.

2.4. Kelebihan-kelebihan Bisnis MLM
Bisnis MLM berkembang dengan cukup pesat karena memiliki
sejumlah kelebihan bagi orang yang ingin terjun kedalam bisnis ini. Rata-rata
kelebihan tersebut terletak pada bentuk penjualan langsung, sedang beberapa
di antaranya pada bisnis itu sendiri.
Yusuf (2002) mengungkapkan beberapa kelebihan yang dimiliki oleh
bisnis MLM yaitu diantaranya:
(1) Setiap orang dapat melakukannya;
(2) Nyaris tanpa resiko;
(3) Tidak ada atasan;
(4) Pelatihan nasional dan bantuan dari perusahaan yang diberikan dalam
bentuk buku pegangan, seminar dan rapat;
(5) Waktu yang diinvestasikan sekarang untuk berguna dikemudian hari;
(6) Rasa aman karena ada sistem pembagian bonus dan royalti ahli warisnya;
(7) Bisnis siap pakai dan siap dijalankan;
(8) Tidak ada wilayah yang membatasi daerah operasi para distributor;
(9) Modal yang diperlukan untuk memulai bisnis sangat kecil yaitu hanya
membayar formulir pendaftaran dan produk perusahaan;
(10) Mendapatkan penghasilan sesuai dengan penjualan dan pembinaan
jaringan yang dikembangkan.
Selain disebutkan di atas, bisnis MLM masih mempunyai beberapa
kelebihan lainnya yang menjadi kekuatan bisnis ini untuk berkembang.
Seperti yang dikemukakan oleh Tracy (2005) dalam bukunya: MLM Sukses.
Bisnis MLM memberikan kebebasan dan keuntungan pajak yang abadi di
dalamnya. Bisnis ini dapat digunakan sebagai perlindungan pajak untuk
mengurangi pajak pendapatan karena bisnis ini mengurangi pajak berbagai
barang, seperti perangkat rumah dan peralatan yang dipakai dalam bisnis.
Biaya tambahan untuk bisnis ini hanya sedikit karena dapat dijalankan di
11
rumah sendiri, tidak perlu membangun kantor sendiri atau menyewa tempat.
Tidak perlu menimbun barang apapun. Cocok bagi suami-istri maupun sebuah
keluarga karena dikerjakan di rumah dan bekerja bersama-sama. Bisnis ini
memberikan peluang dalam melakukan perjalanan yang menyenangkan,
berkenalan dengan teman-teman baru dan pengalaman belajar yang positif.
Dilihat dari segi finansial, bisnis MLM menawarkan suatu penghasilan
yang sangat menarik dibandingkan dengan bisnis atau pekerjaan lain,
misalnya waralaba atau bekerja pada suatu perusahaan. Bila dikerjakan
dengan benar, bisnis ini menawarkan peluang peningkatan penghasilan
maupun volume usaha yang dapat meningkat secara eksponensial.
Perbandingan penghasilan antara pilihan menjadi karyawan dengan
pilihan menjalankan bisnis Amway dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Pertama, sebuah pekerjaan dengan penghasilan Rp 10.000.000,- per bulan.
Kedua, sebuah usaha yang menghasilkan Rp 1,- pada bulan pertama, tetapi
hasil tersebut akan berlipat ganda dua kali lipat setiap bulannya. J ika kedua
pilihan tersebut dihitung dengan masa selama 36 bulan, maka hasilnya seperti
yang terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Beda prospek antara dua pilihan
Bulan ke
Penghasilan (Rp)

Karyawan Pebisnis MLM
1 10 000.000. 1
2 10 000.000. 2
3 10 000.000. 4
4 10 000.000. 8
... ... ...
12 10 000.000. 2.048
... ... ...
20 10 000.000. 524.288
21 10 000.000. 1.048.576
22 10 000.000. 2.097.152
... ... ...
24 10 000.000. 8.388.608
25 10 000.000. 16.777.216
... ... ...
30 10 000.000. 536.870.912
... ... ...
36 10 000.000. 34.359.738.368
Total 360.000.000 68.719.476.735
Sumber: Basith (2004)

12
2.5. Prinsip Penggandaan MLM
Teori dasar yang menjadi pondasi praktek MLM yaitu bahwa
organisasi berkembang secara geometris melalui prinsip penggandaan ke
bawah. Maksudnya, seseorang yang memulai bisnis ini misalnya dengan
hanya mengenal dua orang (atau lebih), kemudian dua orang tersebut masing-
masing mengenalkan dua orang lagi dan begitu seterusnya. Sekelompok orang
tersebut dengan sendirinya akan membentuk sebuah tim yang berada di bawah
kepemimpinan orang pertama.
Pola bisnis MLM yaitu membangun bisnis dari rumah (home based
business) atau pola pemarasan jaringan progresif. Seorang yang mengikuti
pola bisnis MLM merupakan distributor atau member yang menempati suatu
posisi dalam jenjang karir sistem tersebut. Distributor mempunyai seorang
Upline yaitu pihak yang mengajaknya (mensponsori) dalam bisnis MLM,
sedangkan distributor itu sendiri disebut Downline, yaitu pihak yang
disponsori. Seorang Downline akan menjadi Upline jika telah memiliki
Downline lain di bawahnya. Sekumpulan distributor yang membentuk struktur
Upline-Downline akan membentuk suatu jaringan. Dalam jaringan terdapat
kaki dan level. Kaki adalah bagian dari jaringan yang ditinjau secara
vertikal, dan level adalah bagian dari jaringan yang ditinjau secara horizontal.
(Tracy, 2005).
J aringan yang telah terbentuk akan terus tumbuh tanpa ada batasnya,
selama para member terus mensponsori pihak baru untuk masuk dalam bisnis
MLM. Maka jaringan akan terus membesar dan meluas. Dari berawal hanya
mensponsori satu atau dua orang, seorang distributor akan mempunyai
Downline mungkin sampai ratusan. Misalnya seorang distributor mensponsori
dua orang, kemudian masing-masing dari kedua orang tersebut mensponsori
dua orang lagi, demikian seterusnya. Maka dapat dibayangkan berapa
distributor yang akan tergabung dalam kelompok tersebut. Pertumbuhan
kelompok tersebut secara teoritis akan berlipat seperti terlihat di bawah ini.



13


Distributor Distributor

2. Level 1
4 Level 2
8
16 Level 3
30 Level 4
Gambar 1. Contoh Sistem Penggandaan MLM
Sumber: Tracy (2005)

Dalam program penjualan tradisional, penghasilan didasarkan pada
hasil penjualan perorangan. Komisi hanya didapat dari banyaknya barang
yang dapat dijual sendiri. Tetapi dalam bisnis MLM, penghasilan tergantung
pada beberapa faktor selain hasil penjualan perorangan, seperti besarnya
kelompok, banyaknya produk yang dijual oleh kelompok dan besarnya komisi
pada tiap level dalam kelompok. Maka jika kelompok tumbuh semakin besar
dan produk atau jasa yang terjual semakin banyak, penghasilan pun akan
semakin meningkat.
Menurut Kishel (1992) ada beberapa kompensasi yang diperoleh dari
bisnis MLM, yaitu sebagai berikut: (1) Komisi dari penjualan perorangan; (2)
Bonus kelompok; (3) Bonus kepemimpinan; (4) Pendapatan redusial;(5)
Bonus lainnya dari perusahaan, seperti potongan harga dan royalti.
Bonus-bonus yang disediakan oleh perusahaan merupakan rangsangan
yang diberikan kepada distributor agar mensponsori lebih banyak orang dan
melatihnya untuk dapat menjual lebih banyak barang.

2.6. Independent Business Owner (IBO)
Orang yang menjalankan kedistributoran Amway, anggota atau
member yang tergabung dalam jaringan disebut Independent Business Owner
(IBO).
Untuk menjadi IBO yang sukses dalam bisnis MLM dibutuhkan kiat-
kiat tertentu. Harefa (2002) dalam bukunya: 10 Kiat Sukses Distributor MLM.
Memaparkan kiat-kiat untuk menjadi distributor sukses, sebagai berikut:
14
1. Merajut cita-cita dan kebangkitan semangat juang
2. Membangun keyakinan yang teguh
3. Menggunakan produk
4. Merekrut siapa saja, kapan saja dan dimana saja
5. Memotivasi diri dan anggota jaringan
6. Membantu proses distribusi
7. Belajar dengan lahap
8. TP x AH x TN > SK
9. Memberikan kesaksian dan menolong orang lain
10. Mengembangkan karakter.
TP x AH x TN >SK merupakan suatu rumus unik gagasan K. Cooper
dan Ayman Sawaf yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dimana
ketidakpuasan (TP) dikalikan Arah hidup (AH) dikalikan Tindakan nyata
(TN) harus lebih besar dari Situasi kini (SK).

2.7. Level-level IBO Dalam Bisnis Amway
Level IBO merupakan tingkatan peringkat yang dicapai IBO Amway
dalam menjalankan bisnis Amway. Setiap level memiliki syarat tersendiri
untuk dapat mencapainya, syarat tersebut yaitu jumlah kelompok bisnis yang
dimiliki dan jumlah PV yang diperoleh. Semakin banyak grup atau kelompok
yang dimiliki dan semakin besar jumlah PV yang diperoleh IBO, maka level
yang dicapai akan semakin tinggi pula. Bagi Amway, level tersebut
merupakan penghargaan bagi IBO-IBOnya dan untuk menjaga tingkat
motivasi yang tinggi bagi IBO Amway. Level-level yang ada dalam bisnis
Amway yaitu (Amway, 2004):
Silver Producer (SP)
Silver Producer merupakan level yang dicapai oleh IBO jika IBO tersebut
memiliki 1 grup yang telah memperoleh PV grup minimal sebesar
16.000.000 PV atau telah mencapai peringkat 21%. Dan jumlah PV
tersebut tidak termasuk jumlah yang diterima dari grup 21% yang
disponsori, juga tidak termasuk jumlah yang diterima dari grup yang ada
15
diantara IBO yang merupakan grup 21% yang disponsori secara foster.
Setiap 1 grup memiliki IBO setidaknya 10 IBO.
Gold Producer (GP)
Gold Producer merupakan level yang dicapai IBO jika IBO tersebut
memenuhi persyaratan SP sejumlah 3 kali atau 3 bulan dalam masa 12
bulan sejak pertama kali persyaratan SP dicapai.
Platinum
Platinum merupakan level yang dicapai oleh IBO jika IBO tersebut
memenuhi persyaratan SP sejumlah 6 kali atau 6 bulan dalam masa 12
bulan sejak pertama kali persyaratan SP dicapai, 3 kali diantaranya harus
berturut-turut.
Distributor Langsung Ruby
Distributor langsung Ruby dicapai jika IBO memiliki 1 grup yang
mencapai 22.500.000 PV untuk bulan tertentu.
Distributor Langsung Safir
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk mencapai level Distributor
Langsung Safir yaitu:
1 Mensponsori 2 grup yang mencapai 21% dan memperoleh minimal
6.500.000 PV grup, sekurang-kurangnya 6 bulan dalam satu tahun
fiskal
2 Kombinasi antara no 1 yaitu dengan mensponsori 3 grup yang
mencapai 21% pada bulan yang sama dalam satu tahun fiskal.
Distributor Langsung Emerald
Level Emerald dicapai jika IBO berhasil mensponsori 3 grup baik secara
pribadi, foster, maupun internasional yang masing-masing memenuhi
syarat pada peringkat bonus 21% selama 6 bulan pada tahun fiskal.
Distributor Langsung Diamond
Level ini dapat dicapai IBO jika berhasil mensponsori 6 grup 21% baik
secara internasional, foster, maupun secara pribadi, dimana masing-
masing grup memenuhi syarat selama 6 bulan dalam tahun fiskal. Grup
21% yaitu grup yang berhasil memperoleh PV grup minimal 16.000.000
PV.
16
Distributor Langsung Executive Diamond
Executive Diamond merupakan level dimana IBO berhasil mensponsori 9
grup 21% dan masing-masing memenuhi syarat selama 6 bulan dalam
tahun fiskal.
Distributor Langsung Double Diamond
Persyataran untuk mencapai level ini yaitu mensponsori 12 grup 12%,
dimana masing-masing grup memenuhi syarat selama 6 bulan dalam tahun
fiskal.
Distributor Langsung Triple Diamond
Persyaratan untuk mencapai level ini yaitu mensponsori 15 grup 21%,
dimana masing-masing grup memenuhi syarat selama 6 bulan dalam tahun
fiskal.
Distributor Langsung Crown
Persyaratan untuk mencapai level ini yaitu mensponsori 18 grup 21%,
dimana masing-masing grup memenuhi syarat selama 6 bulan dalam tahun
fiskal.
Distributor Langsung Crown Ambassador
Persyaratan untuk mencapai level ini yaitu mensponsori 20 grup 21%,
dimana masing-masing grup memenuhi syarat selama 6 bulan dalam tahun
fiskal.

2.8. Pedoman Pendapatan Bisnis Amway
Penghasilan yang diperoleh seorang IBO dari usaha Amway berasal
dari (Amway, 2003):
1. Keuntungan Eceran dari Penjualan Produk
Keuntungan Eceran diperoleh dari hasil penjualan produk kepada
pelanggan.
Keuntungan Eceran adalah perbedaan antara Harga Eceran kepada
pelanggan dengan Harga Ditributor. Nilai Keuntungan Eceran rata-rata
30% di atas Harga Distributor.
Harga Distributor adalah harga produk yang dibayarkan Distributor
kepada PT Amindoway J aya, sudah termasuk PPn 10%.
17
Harga Eceran adalah harga jual yang dikenakan kepada pelanggan.

2. Diskon atas Pembelian Produk dari PT Amindoway Jaya
Setiap produk Amway mempunyai point Value (PV) dan Business
Volume (BV) yang telah ditentukan nilainya. Bahan literature dan alat
Bantu pemasaran produk Amway tidak dimasukan ke dalam perhitungan
volume.
Point Value (PV) adalah nilai angka tertentu yang berhubungan dengan
nilai produk itu sendiri. (Amway, 2004)
Business Volume (BV) adalah volume pembelian Distributor yang sama
dengan Harga Distributor tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPn).
Diskon dihitung berdasarkan volume pembelian pribadi Distributor selama
satu bulan kalender. Persentase peringkat diskon ditentukan oleh total PV
bulanan pembelian Distributor sebagaimana tercantum dalam tabel 4. J ika
total PV bulanan pembelian pribadi yang didapat oleh seorang IBO
sebesar 350.000 PV atau lebih, berarti IBO tersebut akan mendapatkan
diskon sebesar 3% dari jumlah PV tersebut. Dan jika total PV bulanan
yang didapat oleh seorang IBO sebesar 1.000.000 PV atau lebih, berarti
IBO tersebut akan mendapatkan diskon sebesar 6% dari jumlah Total PV
tersebut, demikian seterusnya. (Amway, 2004)3
Tabel 2. Tabel Diskon











Total PV Bulanan
Pembelian Pribadi
% Diskon
16.000.000 PV atau lebih
11.000.000 PV
6.500.000 PV
4.000.000 PV
2.000.000 PV
1.000.000 PV
350.000 PV
21%
18%
15%
12%
9%
6%
3%
18
3. Bonus atas Pembelian Produk dari PT Amindoway Jaya
Bonus diperoleh apabila (Amway, 2003) :
Distributor mensponsori prospek/calon Distributor (Downline) untuk
bergabung dalam kelompok.
Distributor yang mensponsori (Upline) memberikan pelatihan kepada
Downlinenya untuk melakukan hal yang sama dengan yang
dilakukannya. J uga memberikan pelatihan untuk meningkatkan jumlah
keanggotaan Downline. Dengan cara membantu dan melatih para
Downline, seorang Distributor (Upline) akan memperoleh bonus yang
dihitung berdasarkan volume pembelian kelompok selama 1 bulan
kalender.
Menggunakan kartu kredit/debet yang menawarkan ekstra PV/BV serta
manfaat yang didapat dari program Aliansi Amway.
Persentase peringkat bonus ditentukan oleh total PV bulanan
pembelian kelompok sebagaimana tercantum dalam tabel 5. J ika
kelompok bisnis seorang IBO Amway mencapai total PV bulanan
pembelian kelompok sebesar 350.000 PV atau lebih, maka IBO
tersebut akan mendapatkan bonus sebesar 3% dari jumlah bonus
tersebut. Dan jika kelompok bisnis seorang IBO Amway memperoleh
total PV bulanan pembelian kelompok sebesar 1.000.000 PV atau
lebih, maka IBO tersebut akan mendapatkan bonus sebesar 6% dari
jumlah total PV tersebut, demikian seterusnya.
Tabel 3. Tabel Bonus









Total PV Bulanan
Pembelian Kelompok
% Bonus
16.000.000 PV atau lebih
11.000.000 PV
6.500.000 PV
4.000.000 PV
2.000.000 PV
1.000.000 PV
350.000 PV
21%
18%
15%
12%
9%
6%
3%
19
2.9. Perhitungan Diskon dan Bonus
Perhitungan Diskon dan Bonus dilakukan dengan cara tersendiri
berdasarkan aturan yang berlaku di PT Amindoway J aya dan Amway
Corporation secara keseluruhan. Perhitungan Diskon dan Bonus sangat
dipengaruhi oleh PV dan BV. Adapun contoh perhitungan Diskon dan Bonus
dengan asumsi PV:BV =1:1 adalah sebagai berikut (Amway, 2004) :

Contoh 1 : Peringkat 3%
Misalkan PV pribadi yang diperoleh pada bulan tertentu adalah 350.000 PV,
maka Keuntungan Eceran dan Diskon yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Keuntungan Eceran : (30% x 350.000) =Rp 105.000,-
Diskon Pribadi : ( 3% x 350.000) =Rp 10.500,-
Total Keuntungan Eceran dan Diskon Pribadi =Rp 115.500,-

Cara kerjanya:
Membentuk kelompok pelanggan eceran yang kuat yang memberikan
keuntungan eceran setiap bulannya. Kemudian mensponsori orang lain
(Downline) untuk bergabung dalam kelompok usaha dan memberikan
pelatihan kepada para Downline untuk melakukan hal yang sama. Dengan
demikian artinya usaha akan menjadi besar dan akan terbentuk Grup Usaha
(Business Group) yang mempengaruhi besarnya bonus yang dibayar
perusahaan atas volume kelompok.

Contoh 2 : Peringkat 9%
Misalkan seorang Distributor (Distributor-1) telah mensponsori 6 Distributor
baru dimana masing-masing meraih 350.000 PV dalam satu bulan tertentu.
Sementara Distributor tersebut terus menjual produk dan juga berhasil meraih
350.000 PV untuk diri pribadi.




20
















Gambar 2. PV yang diperoleh IBO dengan 6 Downline
Sumber : Amway, 2003


Total PV Pribadi : 350.000
Total PV Kelompok : 2.450.000 ( 7x 350.000 )

Masing-masing Downline mencapai peringkat 3%, sedangkan Distributor
tersebut mencapai peringkat 9%. Selisih antara peringkat Distributor dengan
peringkat Downline-Downlinenya adalah penghasilan bagi Distributor-1.
Dalam hal ini selisihnya yaitu 9%-3% =6%. Selisih tersebut dibayarkan oleh
Amway sebagai bonus karena telah mensponsori dan membimbing para
Downline.

Perhitungan keuntungan eceran, diskon dan bonus :
Keuntungan Eceran , Diskon dan Bonus yang diperoleh :
Keuntungan Eceran : 30% x 350.000 =Rp 105.000,-
Diskon Pribadi : 3% x 350.000 =Rp 10.500,-

Bonus untuk selisih peringkat atas seluruh pembelian pribadi :
(9%-3%) x 350.000 =Rp 21.000,-
(pribadi)
350.000 PV
(grup)
2.450.000 PV
350.000 PV
350.000 PV
350.000 PV 350.000 PV
350.000 PV 350.000 PV
21


Bonus untuk selisih peringkat Distributor-1 (9%) dengan peringkat
Downline (3%) atas seluruh pembelian Downline :
(9%-3%) x 350.000 x 6 Downline =Rp 126.000,-
Total Keuntungan Eceran, Diskon dan Bonus Rp 262.550,-

Contoh 3 : Peringkat 15%
Berhubungan dengan Contoh 2, misalkan ke 6 Downline (Distributor-2)
masing-masing mencapai 350.000 PV dalam satu bulan tertentu, dan masing-
masing mensponsori 4 Distributor baru lainnya yang juga mencapai 350.000
PV. Berarti distributor tersebut telah memiliki 30 Downline.

Total PV Pribadi Distruibutor-1 : 350.000
Total PV Kelompok : 10.850.000 (31 x 350.000)
Total PV Pribadi Distributor-2 : 350.000
Total PV Kelompok : 1.750.000 (5 x 350.000)



350.000 PV 350.000 PV
(Grup 1.750.000 PV) (Grup 1.750.000 PV)





350.000 PV 350.000 PV 350.000 PV
(Grup 1.750.000 PV) (Grup 10.850.000 PV) (Grup 1.750.000 PV)




350.000 PV 350.000 PV 350.000 PV 350.000 PV
(Grup 1.750.000 PV) (Grup 1.750.000 PV)






350.000 PV 350.000 PV

Gambar 3. PV yang diperoleh IBO dengan 30 Downline
Sumber : Amway, 2003
22
Ke 6 Downline (Distributor-2) masing-masing meraih 350.000 PV dan
berhasil menduplikasi 4 orang Downline baru dalam kelompoknya
sendiri, berarti ke 6 Downline tersebut akan menuju peringkat
6%,sedangkan dengan total PV kelompok Distributor-1 10.850.000 PV,
Distributor-1 akan menuju peringkat 15% sehingga Keuntungan Eceran,
Diskon Pribadi, dan Bonus menjadi :

Perhitungan keuntungan eceran, diskon dan bonus :
Keuntungan Eceran, Diskon dan Bonus yang diperoleh Distributor-1
adalah:
Keuntungan Eceran : 30% x 350.000 =Rp 105.000,-
Diskon Pribadi : 3% x 350.000 =Rp 10.500,-
Bonus untuk selisih antara peringkat Distributor-1 (15%) dengan
peringkat Downline (6%) atas seluruh pembelian Downline:
(15% - 6%) x 1.750.000 x 6 Downline =Rp 945.000,-



Bonus untuk selisih peringkat atas pembelian pribadi :
(15% - 3%) x 350.000 =Rp 42.000,-

Dikurangi PPh Ps 21 =Rp (37.350,-)
*
Total Keuntungan Eceran, Diskon dan Bonus =Rp 1.065.150,-

Berdasarkan ketetapan perpajakan yang berlaku, jika bonsus yang
diperoleh di atas Rp 240.000,-, maka atas bonus tersebut setelah
dikurangi Rp 240.000,- dikenakan pemotongan PPh Ps 21 dengan tariff
5% sampai dengan 35%.
Perhitungan PPh Ps 21 :
Bonus Kotor : Rp 945.000,- +Rp 42.000,- =Rp 987.000,-
PPh : Rp 987.000,- - Rp 240.000,- =Rp 37.350,-



23
Contoh 4 : Peringkat 21%

Berdasarkan contoh sebelumnya, misalkan masing-masing dari 4 Distributor
yang merupakan Distributor baru adari ke 6 Distributor level pertama
mensponsori masing-masing 2 Distributor. Dan setiap Distributor tetap
mencapai 350.000 PV. Maka, grup Distributor tersebut kini terdiri dari 79
Distributor (termasuk Distributor-1)



350.000PV 350.000PV
(Grup 4.550.000 PV) (Grup 4.550.000 PV)







350.000 PV 350.000 PV 350.000 PV
(Grup 4.550.000 PV) (Grup 27.65000 PV) (Grup 4.550.000 PV)







350.000 PV 350.000 PV
(Grup 4.550.000 PV) (Grup 4.550.000 PV)







350.000 PV 350.000 PV 350.000 PV 350.000 PV





350.000 PV 350.000 PV 350.000 PV 350.000 PV 350.000 PV 350.000 PV 350.000 PV 350.000 PV

Gambar 4. PV yang Diperoleh IBO dengan 78 Downline
Sumber : Amway, 2003

Total PV Pribadi Distributor-1 : 350.000
Total PV Kelompok : 27.650.000 (79 x 350.000)

Total PV dari masing-masing grup yang disponsori oleh Distributor-1 secara
pribadi (6 orang Frontliner) adalah 4.550.000. artinya, ke 6 Distirbutor
tersebut berhasil meraih peringkat 12%,dan Distributor-1 mencapai tingkatan
24
Diskon tertinggi, yaitu 21%. Sehingga perhitungan Keuntungan
Eceran,Diskon dan Bonus menjadi sebagai berikut:
Perhitungan keuntungan eceran, diskon dan bonus :
Keuntungan Eceran, Diskon dan Bonus yang diperoleh Distributor-1
adalah:

Keuntungan Eceran : 30% x 350.000 =Rp 105.000,-
Diskon Pribadi : 3% x 350.000 =Rp 10.500,-

Bonus untuk selisih antara peringkat Distributor-1 (21%) dengan
peringkat Downline (12%) atas seluruh pembelian Downline:
(21% - 12%) x 4.550.000 x 6 Downline =Rp 2.457.000,-
Bonus untuk selisih peringkat atas pembelian pribadi :
(21% - 3%) x 350.000 =Rp 63.000,-
Dikurangi PPh Ps 21 =Rp (114.000,-)
*
Total Keuntungan Eceran, Diskon dan Bonus =Rp 2.521.500,-

* Perhitungan PPH Ps 21 :
(RP 2.520.000,- - Rp 240.000,-) x 5% =Rp 114.000,-

2.10. Penelitian Terdahulu
Idris tahun 2004 meneliti tentang kelayakan usaha warung tenda pecel
lele yang berlokasi di Bogor. Peneliti menggunakan metode R/C, Pendapatan
Usaha, NPV, Net B/C, dan IRR. Objek utama penelitian yaitu warung tenda
pecel lele yang berlokasi di Warung J ambu, Pajajaran, Air Mancur, Pakuan,
dan Merdeka.
Hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan tiap-tiap lokasi warung
tenda adalah sebagai berikut, untuk lokasi Warung J ambu diperoleh R/C
sebesar 1,42, NPV sebesar Rp 84.840.954,27, Net B/C sebesar 15,54, dan IRR
sebesar 28,74%. Untuk lokasi Pajajaran diperoleh R/C sebesar 1,28, NPV
sebesar Rp 89.441.164,03, Net B/C sebesar 10,12, dan IRR sebesar 22,12%.
Untuk lokasi Air Mancur diperoleh R/C sebesar 1,47, NPV sebesar
25
Rp 116.634.510,22, Net B/C sebesar 19,98, dan IRR sebesar 32,49%. Untuk
lokasi Pakuan diperoleh R/C sebesar1,16, NPV sebesar Rp 10.944.940,57, Net
B/C sebesar 3,33, dan IRR sebesar 11,26%. Untuk lokasi Merdeka diperoleh
R/C sebesar 1,49, NPV sebesar Rp 81.449.206,42, Net B/C sebesar 9,13, dan
IRR sebesar 20,97%. Dari hasil-hasil tersebut kelima warung tenda tersebut
dinyatakan menguntungkan dan layak untuk dilanjutkan. Lokasi yang paling
menguntungkan terletak di Warung J ambu.
Sitorus tahun 2004 meneliti tentang prospek pengembangan usaha
budidaya ikan kerapu lumpur pada karamba jaringan apung. Prospek usaha
tersebut diteliti dengan menggunakan metode R/C, Pendapatan Usaha, NPV,
Net B/C, IRR, dan Analisis Sensitivitas. Objek utama penelitian yaitu PT
Sembilan-Sembilan.
Hasil penelitian menunjukan nilai R/C sebesar1,14, NPV sebesar
Rp 78.130.116,31, Net B/C sebesar 1,64, dan IRR sebesar 31,65%. Hal ini
artinya bahwa usaha pembesaran Kerapu Lumpur PT Sembilan-Sembilan
layak untuk dilanjutkan dan dikembangkan.
















26
III. METODE PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran
Penelitian didasarkan pada masalah penilaian kelayakan usaha secara
finansial suatu usaha, dimana penelitian difokuskan pada penilaian kelayakan
bisnis IBO Amway dengan sistem N21.
Bisnis IBO Amway dengan sistem N21 akan diteliti kelayakan usahanya
dari segi finansial dengan menganalisis usaha IBO Amway terlebih dahulu dengan
alat R/C, pendapatan usaha, dan PBP. Kemudian dilanjutkan dengan menganalisis
kelayakan usaha Amway dengan alat NPV, Net B/C, dan IRR. Dari hasil analisis
tersebut dapat ditarik kesimpulan mengenai kelayakan bisnis IBO Amway sebagai
alternatif berwirausaha.
















Gambar 5. Kerangka Pemikiran Penelitian





Bisnis Amway sebagai alternatif
berwirausaha
Kelayakan Bisnis IBO Amway dari Segi Finansial
Sebagai Alternatif Berwirausaha
Analisis Kriteria
Investasi :
NPV
Net B/C
IRR
Analisis Usaha :
Pendapatan Usaha
R/C
PBP
Amway dengan Sistem N21
27
3.2. Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan menganalisis data-data primer dan
sekunder yang tersedia. Dari data-data tersebut akan didapat sebuah hasil
yang selanjutnya akan disimpulkan. Penelitian berfokus pada bisnis Amway,
karena Amway merupakan perusahaan MLM terbesar di Indonesia. Dari
seluruh sistem pendukung yang ada dalam bisnis Amway diambil sistem
N21 sebagai fokus utama penelitian. Penelitian dilaksanakan pada bulan
J uni sampai dengan Agustus 2005.

3.3. Jenis Data dan Sumber Data
J enis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data
primer diperoleh dengan cara wawancara dengan beberapa IBO Amway
mulai dari level Leaders Club hingga Emerald, dan data sekunder diperoleh
dari studi literatur, seperti buku-buku, majalah, internet, dan lain-lain.

3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Dalam menganalisis kelayakan bisnis IBO Amway, digunakan
metode analisis usaha dan metode analisis kriteria investasi. Analisis usaha
terdiri dari perhitungan pendapatan usaha, R/C, dan PBP. Sementara analisis
kriteia investasi terdiri dari perhitungan NPV, Net B/C, dan IRR.
Dari perhitungan-perhitungan tersebut akan diketahui apakah bisnis
Amway merupakan bisnis yang menguntungkan dan dan layak untuk
dijadikan alternatif berwirausaha atau tidak. Untuk mempermudah analisis
usaha tersebut digunakan beberapa asumsi yang selanjutnya dijelaskan pada
pembahasan.







28
3.4.1. Analisis Usaha
3.4.1.1. Analisis Pendapatan Usaha
Analisis pendapatan usaha bertujuan mengetahui besar
keuntungan yang diperoleh dari usaha yang dilakukan
(Hernanto, 1989). Rumus ini diformulasikan sebagai berikut:



Keterangan :
TR =Total Penerimaan
TC =Total pengeluaran

Dengan Kriteria :
TR>TC, Usaha Untung
TR=TC, Usaha Impas
TR>TC,Usaha rugi

3.4.1.2. Analisis Revenue-Cost Ratio (R/C)
Analisis R/C digunakan untuk menguji sejauh mana
hasil yang diperoleh dari usaha tertentu (dihitung selama periode
satu tahun) cukup menguntungkan (Hernanto, 1989). Rumus ini
diformulasikan sebagai berikut :




Dengan kriteria :
R/C>1, maka usaha untung
R/C=1, maka usaha impas
R/C<1, maka usaha rugi


Keuntungan =TR - TC

R/C =
Penerimaan Total
Biaya total
29
3.4.1.3. Pay Back Period (PBP)
PBP adalah menghitung seberapa cepat waktu yang
dibutuhkan proyek untuk mengembalikan investasi dan modal
kerja yang ditanam. Kelayakan proyek dari adanya PBP ini
adalah jika nilai PBP lebih pendek dari waktu yang disyaratkan.
Sedangkan jika PBP lebih lama dari yang disyaratkan proyek
tidak layak.
Rumus yang digunakan yaitu : Tahun terakhir negatif +
(absolut (arus kas tahun berjalan) / nilai kumulatif arus kas mulai
tahun ke-0 ).

3.4.2. Analisis Kriteria Investasi
3.4.2.1. Net Present Value (NPV)
NPV adalah nilai sekarang dari keuntungan bersih yang
akan didapatkan pada masa yang akan datang. Secara matematis,
NPV dinyatakan dngan rumus (Kadariah, et al., 1999) :

=
n
t
t
t t
i
C B
NPV
0
) 1 (
) (

Keterangan :
Bt =Benefit Tahunan
Ct =Biaya Tahunan
i =Discount rate
t =0,1,2,3,.....n

Dengan kriteria :
NPV >0 : Usaha layak dilaksanakan
NPV <0 : Usaha tidak layak dilaksanakan
NPV =0 : Usaha mengembalikan sama besar dengan nilai
uang yang ditanamkan



30
3.4.2.2. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Net B/C adalah perbandingan antara jumlah nilai
sekarang dari keuntungan bersih bernilai positif (Bt-Ct >0)
dengan jumlah nilai sekarang dari keuntungan bersih yang
bernilai negatif (Bt-Ct<0). Secara matematis dinyatakan dengan
rumus (Kadariah, et al. 1999) :

=
=
<

>

=
n
t
t
t t
n
t
t
t t
i
C B
i
C B
C NetB
0
0
0
) 1 (
) (
0
) 1 (
) (
/

Dengan kriteria usaha :
Net B/C 1 : Usaha layak dilaksanakan
Net B/C <1 : Usaha tidak layak dilaksanakan

3.4.2.3. Internal Rate of Return (IRR)
IRR merupakan nilai suatu tingkat suku bunga yang
membuat NPV dari pada usaha sama dengan nol. Secara
matematis dinyatakan dalam rumus (Kadariah et al. 1999) :
) (
) (
" '
'
:" ' '
NPV NPV
NPV
i i i IRR

+ =

Keterangan :
i =Tingkat suku bunga yang menghasilkan NPV >0
i =Tingkat suku bunga yang menghasilkan nilai NPV <0
NPV=NPV pada saat tingkat subu kunga i
NPV=NPV pada saat tingkat suku bunga i

Dengan kriteria :
IRR tingkat suku bunga yang berlaku : Usaha layak
IRR <tingkat suku bunga yang berlaku : Usaha tidak layak

31
3.5. Batasan Pengukuran
Batasan dan pengukursan yang digunakan adalah :
1. Analisis kelayakan investasi ditinjau dari aspek pasar, aspek teknis, dan
aspek finansial, namun dalam penelitian ini lebih difokuskan pada aspek
finansial
2. Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah walaupun ada perubahan dan
dinyatakan dalam satuan rupiah
3. Biaya variabel adalah biaya yang berubah sesuai dengan perubahan
volume produksi dan dinyatakan dalam satuan rupiah
4. Biaya total adalah semua biaya yang digunakan untuk menjalankan usaha
termasuk biaya tetap dan biaya variabel dan dinyatakan dalam satuan
rupiah
5. Investasi adalah pengeluaran yang dilakukan pada kegiatan usaha dan pada
saat tertentu untuk mendapatkan keuntungan dimasa mendatang, dan
dinyatakan dalam satuan rupiah
6. Analisis usaha adalah suatu usaha dilihat dari sudut pandang badan atau
orang-orang yang menanamkan modalnya dalam usaha, dan dinyatakan
dalam satuan rupiah
7. Penerimaan dari bisnis Amway berasal dari jumlah keuntungan eceran,
bonus rabat, dan bonus 4%, dan dinyatakan dalam satuan rupiah
8. pendapatan usaha perusahaan berasal dari selisih antara penerimaan
dengan biaya total yang dikeluarkan pada periode tertentu, dan dinyatakan
dalam satuan rupiah
9. R/C adalah perbandingan antara penerimaan total dengan biaya total
selama satu tahun
10. Cashflow adalah aliran kas dalam suatu usaha yang terdiri dari inflow dan
outflow
11. Analisis kelayakan investasi adalah analisis terhadap kegiatan usaha
dengan memperhitungkan biaya dan manfaat dalam suatu usaha, dengan
alat ukur NPV, Net B/C, dan IRR
12. NPV adalah selisih antara PV dari benefit dan PV dari biaya
32
13. IRR adalah tingkat suku bunga dari unit usaha dalam rjangka waktu
tertentu yang membuat NPV sama dengan nol dan dinyatakan dalam
satuan %.






























33
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Perusahaan
4.1.1. Amway Corporation
4.1.1.1. Sejarah Amway Corporation
Amway didirikan pada tahun 1959 oleh Richard M.
DeVos dan J ay Van Andel. Mereka mendirikan Amway
berdasarkan suatu keyakinan, bahwa kesuksessan memasarkan
suatu produk adalah menjualnya secara langsung kepada
pelanggan. Gedung pertama Amway terletak di kota Ada,
Michigan, yang kini menjadi kantor pusat Amway Corporation.
Produk awal yang dijual Amway yaitu LOC (Liquid Organic
Cleaner), suatu cairan pembersih biodegradable yang aman
untuk lingkungan. Amway kemudian terus berkembang menjadi
Amway Corporation, dan saat ini telah mempunyai 59 afiliasi di
berbagai negara.
Bisnis MLM berkembang hingga keluar Amerika Serikat,
dimulai dengan memasuki Kanada pada tahun 1962, Autralia
1971 dan seterusnya sampai ke lebih dari 90 negara. Ini menjadi
suatu peluang bagi Amway untuk ikut mengembangkan
bisnisnya hingga keluar AS. Pada tahun 1972, Amway membeli
perusahaan Nutrilite Inc yang berdiri tahun 1934. Nutrilite Inc.
merupakan perusahaan yang memperkenalkan strategi pemasaran
berjenjang (MLM) pertama di Amerika Serikat untuk produk-
produk vitamin dan makanan tambahan yang diproduksinya.

4.1.1.2. Sejarah PT Amindoway Jaya
Amway mulai beroperasi di Indonesia pada tanggal 17 J uli
1992, melalui PT Amindoway jaya selaku pemegang lisensi
penjualan langsung dan pendistribusian produk-produk Amway
di Indonesia. PT Amindoway J aya kemudian menjadi anggota
34
Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) pada tahun 1993
dengan nomor 0005/06/93.
PT. Amindoway J aya, mendapat dukungan Amway melalui
PT. Amway Indonesia sebagai 'service company' yang
memberikan konsultasi dalam bidang pemasaran, pengembangan
usaha serta dukungan internasional.
Kantor pusat PT Amindoway J aya terletak di Wisma
Aldiron Dirgantara Suite 102-103, J l. Gatot Subroto No.72
J akarta Selatan 12780, Telp (012) 794 9274 Fax (021) 7949277.
Sementara kantor pusat PT Amway Indonesia terletak di Wisma
46-Kota BNI, Lantai 36, Ruang 3610-2, J l. J end. Sudirman Kav.1
J akarta 10220, Telp (021) 57980800 fax (021) 57980801-2.
PT Amindoway J aya juga mengadakan kerja sama dengan
beberapa perusahaan konvensional di Indonesia, diantaranya
Garda Oto, Allianz, Lippobank, Asuransi Ace Ina, Mugen, Optik
Tunggal, Hotel Accor Group, dan beberapa media cetak seperti
Media Indonesia, Gatra, Ayah Bunda, Femina, Fit, dan Swa.

4.1.1.3. Filosofi
Filosofi Amway yaitu Suatu rancangan pemasaran dan
penjualan yang unik. Rancangan pemasaran dan penjualan
Amway menawarkan fleksibelitas yang sesuai dengan gaya hidup
seseorang.

4.1.1.4. Visi
Visi Amway adalah menbantu mewujudkan kehidupan
yang lebih baik. Amway sangat menjunjung tinggi semangat
kewirausahaan dan mendukuang segala bentuk usaha mitra yang
bervisi jangka panjang, memiliki ambisi serta dedikasi terhadap
aspirasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Amway tidak hanya menawarkan peluang bisnis yang
mandiri secara finansial, manun juga kepuasana pribadi yang
35
datang dari pencapaian serta pengakuan atas keberhasilan oleh
mitra dan asosiasi bisnis.

4.1.1.5. Prinsip-Prinsip
Rich DeVos dan J ay Van Andel merintis usaha Amway
atas dasar prinsip-prinsip sebagai berikut:
Kebebasan
Kebebasan adalah kondisi yang alami dan lingkungan
paling kondusif untuk hidup, bekerja, berprestasi, dan
bertumbuh. Bisnis Amway menjunjung tinggi dan
memperluas kebebasan setiap IBOnya, baik dalam aspek
pribadi maupun ekonomi.
Keluarga
Keluarga merupakan struktur sosial terutama bagi setiap
orang, sebagai sumber kasih sayang dan pertumbuhan
sekaligus penyambung tradisi dan warisan. Oleh karena itu
Amway menerapkan pada semua IBOnya untuk
menjadikan keluarga sebagai prioritas utama dalam segala
hal.
Harapan
Harapan merupakan pembangkit semangat untuk merajut
impian, merumuskan tujuan, dan mengantar menuju cita-
cita. Karena adanya harapan itu, Amway membawa
perubahan besar dalam menjawab kebutuhan banyak orang
di seluruh dunia.
Imbalan
Imbalan mengandung tindakan timbal-balik antara memberi
dan menerima. Mendapat imbalan berarti menerima
penghargaan atas komitmen dan kontribusi seseorang, serta
memperoleh kompensasi atas jerih payah yang
dikerjakannya. Imbalan meningkatkan produktivitas atas
rampungnya suatu tugas dan sekaligus sebagai pemacu
36
tugas baru. Oleh karena itu Amway menjadikan imbalan
sebagai prinsip dalam bisnis untuk dapat terus memacu
kinerja IBO-IBOnya.

4.1.1.6. Produk-produk PT Amindoway jaya
PT Amindoway J aya mendistribusikan dan memasarkan 6
produk inti, diantaranya :
1. Kesehatan dan Kebugaran
Makanan tambahan Nutrilite untuk dewasa dan anak-anak
2. Kosmetik dan Perawatan Diri
Kosmetik dan perawatan kulit Artistry
3. Perawatan Diri
Perawatan mulut dan gigi Glister, perawatan tubuh Body
Series, dan perawatan rambut Protique
4. Perawatan Rumah Tangga
Produk perawatan pakaian, perawatan dapur, perawatan
mobil, perawatan rumah dan pewangi ruangan
5. Peralatan Rumah Tangga
Alat masak Amway Queen Cookware dan sistem
pengolahan air bersih Amway Water Treatment Sistem
6. Pertanian
Produk perata dan perekat APSA-800 WSC, pupuk
pelengkap benih Nutrifarm SD dan pupuk pelengkap cair
Nutrifarm AG.
Selain 6 kategori tersebut, Amindoway J aya juga bekerja
sama dengan produsen dan perusahaan lokal dalam memasarkan
produk. Adapun kategori kerja sama tersebut ialah :




Produk:
Fashion
Kesehatan dan kecantikan
Perlengkapan rumah tangga
Permainan edukasi anak
Alat tulis
Kartu telepon
Makanan dan minuman
Jasa dan Manfaat:
Majalah dan Koran
Asuransi
Perbankan
Komputer
Maskapai Penerbangan
Hotel
Optik
Inernet
Provider

Produk-produk Amway hanya bisa dibeli di outlet-outlet
Amway yang biasanya disebut dengan Amway Distribution
Center (ADC) dan Amway product Center (APC). ADC
menyediakan semua produk Amway, sedangkan APC hanya
menyediakan 100 produk Amway yang paling diminati. Yang
dapat memesan produk-produk Amway langsung ke ADC atau
APC hanya IBO Amway yang masih aktif atau yang baru
bergabung. Di Indonesia, saat ini telah ada 15 ADC dan 7 APC
yang tersebar di seluruh Indonesia, lebih rincinya pada Tabel 4.



38
Tabel 4. Amway Distribution Center (ADC) dan Amway Product
Center (APC) di Indonesia
No ADC No APC
1 ADC Pancoran 1 APC Pekan Baru
2 ADC Kebon J eruk 2 APC Solo
3 ADC Kelapa gading 3 APC Makasar
4 ADC Bekasi 4 APC Palembang
5 ADC Bogor 5 APC Balikpapan
6 ADC Bandung 6 APC Samarinda
7 ADC Surabaya 7 APC Manado
8 ADC Medan
9 ADC Denpasar
10 ADC Batam
11 ADC Semarang
12 ADC Pontianak
13 ADC Lampung
14 ADC Yogyakarta
15 ADC Malang
Sumber : Amway, 2003
4.1.2. Network TwentyOne
4.1.2.1. Sejarah
Network TwentyOne adalah sebuah perusahaan yang
didirikan oleh J im dan Nancy Dornan. Mereka bergabung dengan
Amway Amerika pada awal tahun 1970-an karena ingin
mendapatkan penghasilan tambahan untuk membiayai biaya
pengobatan anak keduanya yang menderita kelainan tulang
punggung.
Berdasarkan pengalamannya pada tahun-tahun pertama
mereka membangun bisnis, akhirnya mereka mendirikan
perusahan N21 yang mengkhususkan diri dalam hal pelatihan
bagi para IBO Amway.
N21 merupakan organisasi pendukung yang memberikan
pengajaran-pengajaran di seluruh dunia dan berdedikasi tinggi
untuk kesuksesan para pengusaha pemasaran jaringan produk
Amway
Dukungan dan pelatihan N21 terhadap IBO Amway di
berbagai negara, memberikan pendidikan yang efektif dan
39
struktur lengkap dimana para IBO Amway secara individual
dapat mempelajari bagaimana menjadi produktif dan pemimpin
yang kompeten. Saat ini Network 21 telah mencakupi 39 negara
(www.n21.com), seperti terlihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Negara-negara cakupan Network 21
No No
1 Amerika Serikat 21 Korea
2 Afrika Selatan 22 Kroasia
3 Argentina 23 Meksiko
4 Australia 24 Malaysia
5 Austria 25 Norwegia
6 Brazil 26 Perancis
7 Chili 27 Polandia
8 Cina 28 Republik Czech
9 Denmark 29 Republik Slovakia
10 Filipina 30 Romania
11 Finlandia 31 Selandia Baru
12 Hongkong 32 Singapura
13 Hungaria 33 Slovenia
14 India 34 Swedia
15 Indonesia 35 Switzerland
16 Inggris 36 Thailand
17 Italia 37 Turki
18 J erman 38 Venezuela
19 Kanada 39 Yunani
20 Kolombia
Sumber: www.n21.com

4.1.2.2. Materi-materi Network 21
Pendidikan dan materi pendukung yang disusun oleh N21
untuk dapat digunakan IBO Amway yaitu berupa kaset-kaset,
buku-buku pegangan, vcd, dan juga seminar-seminar. Materi-
materi tersebut bertujuan untuk memudahkan IBO Amway dalam
menjalankan bisnis Amway, dan biasanya berisi mengenai
bagaimana caranya menjalankan bisnis Amway yang efektif yang
dapat diduplikasi atau diikuti oleh semua orang. Salah satu
materi pendukung dari N21 yaitu pertemuan, diantaranya yaitu:

40
Infonite
Merupakan pertemuan yang diadakan setiap minggu sekali.
Dalam seminar ini dijelaskan bagaiman cara menjalankan
bisnis Amway dan keuntungan yang akan didapat dari hasil
menjalankan bisnis Amway. Sebagai pembicara atau
pengajar biasanya IBO-IBO yang telah mencapai
kesuksesan dalam bisnis Amway. Tujuan dari diadakannya
seminar ini yaitu memberikan pembelajaran pada IBO-IBO
lainnya untuk melakukan hal yang sama yang dilakukan
oleh IBO-IBO sebelumnya yang telah sukses. Untuk
menghadiri seminar ini IBO dikenakan biaya administrasi
sebesar Rp 10.000,-.
Network Building Training (NBT)
NBT diadakan satu kali dalam sebulan. Dalam NBT, IBO
akan mendapatkan pelajaran lebih terperinci mengenai cara
menjalankan bisnis Amway serta motivasi agar tetap eksis
dalam bisnis Amway. Untuk menghadiri NBT, setiap IBO
dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 10.000,-.
Business Building Seminar (BBS)
BBS diadakan satu kali dalam sebulan dengan harga tiket
sebesar RP 45.000,-. BBS merupakan seminar yang lebih
besar dibandingkan Infonite dan NBT. Tujuan utama BBS
adalah untuk membangun semangat dan visi para IBO.
Pembicara dalam seminar ini adalah IBO yang telah sukses,
seperti Diamond, pembicara biasanya menceritakan kisah
suksesnya dalam menjalankan bisnis Amway dan kemudian
membagi ilmunya kepada IBO lainnya.
Leadership Seminar (LS)
LS merupakan seminar paling besar dan paling penting
yang diadakan Network 21.LS diadakan setiap 4 bulan
sekali atau 3 kali dalam setahun. Dalam seminar ini yang
berperan sebagai pembicara bukan hanya IBO-IBO dari
41
Indonesia saja tetapi juga dari luar negeri. LS diadakan
selama 3 hari, dan biaya yang dikenakan pada setiap
pesertanya adalah sebesar Rp 475.000,-.

Selain seminar-seminar diatas, para Upline dan Downline
juga sering mengadakan pertemuan yang biasa disebut
konsultasi. Maksud diadakanya konsultasi yaitu untuk menjaga
dan memotivasi membantu para Downline agar tetap semangat
menjalankan bisnis tersebut. Dalam konsultasi tersebut para
Downline dapat bertanya pada UpIinenya mengenai kesulitan
yang dihadapi dalam menjalankan bisnis Amway, dan Upline
akan membantu mencari solusinya dengan cara memberikan
strategi-strategi dalam menjalankan bisnis Amway, hal-hal yang
harus dilakukan untuk kesuksesan menjalankan bisnis Amway,
serta tujuan yang diharapkan baik itu jangka panjang ataupun
jangka pendek. Konsultasi ini bisa dilakukan kapan saja
tergantung dari waktu Upline dan Downline itu sendiri. Dengan
adanya konsultasi ini, maka bisa jadi seorang Downline akan
melakukan hal yang sama dengan Uplinenya.

4.1.2.3. Peringkat IBO Amway dengan Sistem Network TwentyOne
Selain peringkat yang berasal dari Amway, N21
memperkenalkan tiga peringkat yang memcerminkan kestabilan
bisnis para IBO. Level terendah yang ada dalam N21 yaitu level
Leaders Club (LC) yaitu IBO yang memiliki 10 orang Downline,
dengan jumlah PV grup yang diperoleh sebesar 2.000.000
PV,dan memiliki 7 Business Development Program (BDP).
Maksud dari 7 BDP yaitu 7 orang yang berlangganan paket BDP.
BDP itu sendiri adalah paket yang terdiri dari kaset-kaset
pembelajaran bisnis Amway. Di atas LC ada Executive Leaders
Club (ELC), yaitu level dimana IBO berhasil mensponsori 20
Downline, mempunyai 20 orang pelanggan paket BDP, dan
42
memperoleh 6.500.000 PV atau mencapai peringkat 15%. ELC
juga dapat dicapai jika seseorang memiliki 3 LC. LC dan ELC
adalah peringkat-peringkat di bawah Silver Producer. Untuk
peringkat di atas Platinum, N21 memperkenalkan peringkat
Executive Platinum atau Executive Direct Distributor (EDD).
EDD yaitu peringkat yang diberikan kepada seorang Platinum
yang sudah memiliki tiga grup atau kaki ELC. Seorang EDD
diharapkan akan segera menjadi Emerald dengan bisnis yang
stabil. Level selanjutnya yaitu SP, GP, Platinum, Diamond,
Double Diamond, Triple Diamond, Crown, dan terakhir Crown
Ambassador.

4.2. Pertumbuhan Bisnis MLM
Kebanyakan orang hanya mengetahui perusahan-perusahaan MLM
terkenal dan besar saja yang terdapat di Indonesia seperti, Amway, CNI,
Sophie Martin, atau Tupperware. Tetapi kenyataannya saat ini di Indonesia
terdapat lebih dari 150 perusahaan MLM yang resmi beroperasi dan
pertumbuhannya cukup mengesankan, setiap bulannya terdapat dua sampai
tiga perusahaan MLM yang baru berdiri. (www.mlmindonesia.com). Tetapi
yang resmi tercatat di Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) hanya
ada 62 perusahaan MLM. (www.apli.co.id).
Pertumbuhan bisnis MLM juga dapat terlihat dari data perusahaan
MLM yang terdaftar di APLI, sejak tahun 1993 hingga saat ini. Pada tahun
1993 ada delapan perusahaan MLM yang resmi terdaftar di APLI, tahun 1995
hanya satu perusahaan, tahun 1996 ada empat perusahaan MLM yang baru
terdaftar, tahun 1997 ada satu perusahaan, tahun 1998 ada lima perusahaan,
tahun 1999 ada lima perusahaan, tahun 2000 ada enam perusahaan, tahun
2001 ada enam perusahaan, tahun 2002 ada tiga perusahaan, tahun 2003 ada
sembilan perusahaan, tahun 2004 ada sembilan perusahaan, dan tahun 2005
ada empat perusahaan MLM baru terdaftar di APLI. Dengan demikian rata-
rata pertumbuhan bisnis MLM per tahun yaitu lima perusahaan MLM per
tahun.(www.apli.co.id) Untuk lebih rincinya terdapat pada Lampiran 1.
43

4.3. Tingkat Pertumbuhan Bisnis Amway
Amway Corporation adalah sebuah perusahaan network marketing
yang merupakan salah satu anak perusahaan Alticor Corporation. Alticor
Corporation bermarkas di Amerika Serikat dan di bawah kepemimpinan putra
bungsu Rich DeVos, Doug DeVos selaku Precident dan Chief Executive
Officer dan Steve Van Andel (dari pihak J ay Van Andel) selaku Chairman.
Omzet penjualan gabungan seluruh dunia Amway hingga November
2004 mencapai 6,2 miliar dollar AS dengan 80 % omzet penjualan bersumber
dari luar AS, seperti Indonesia, Malaysia, Korea, Cina, J epang dan negara-
negara lainnya. Meskipun baru masuk beberapa tahun lalu, tingkat
pertumbuhan Amway di Singapura berkembang cepat hingga mencapai 40%
per tahun. Di Malaysia, tingkat pertumbuhan Amway masih sekitar 9-10% per
tahun meskipun sudah berdiri sejak 30 tahun lalu. Di Thailand, Amway sudah
ada sejak 20 tahun lalu dengan tingkat pertumbuhan 20-25% per tahun.
Sementara tingkat pertumbuhan Amway di Indonesia mencapai 30% per
tahun. Tingkat pertumbuhan Amway di Korea dan Cina juga cukup pesat
berkisar antara 20-30% per tahun. Pertumbuhan Amway secara keseluruhan
mencapai 30% per tahun. (www.kompas.co.id 25/01/05)

4.4. Pola Pertumbuhan Bisnis Amway
Bisnis MLM hampir mirip dengan bisnis waralaba, dimana kedua
bisnis tersebut sama-sama memiliki sistem yang merupakan kunci sukses dari
kedua bisnis tersebut. Sistem yang dimaksud merupakan sebuah pola bisnis
atau pola penjualan yang diciptakan oleh seseorang. Seseorang tersebut
kemudian menjual sistem tersebut kepada para investor lain. Seseorang yang
menginvestasikan uangnya untuk salah satu dari kedua bisnis tersebut, bisa
dikatakan orang tersebut membeli sebuah sistem, dimana orang tersebut
menduplikasi sistem yang sudah terbukti kesuksesannya. Misalnya saja bisnis
waralaba, seperti Mc Donald, KFC, Video Ezy, dan waralaba lainnya, setiap
gerainya hampir sama satu sama lain, mulai dari tata interior, cara penyajian,
44
produk, jenis pelayanan, dan sebagainya. Kesamaan-kesamaan tersebutlah
yang merupakan sistem yang diduplikasi oleh investor, selain merk atau nama
besar perusahaan waralaba tersebut. Untuk bisnis MLM sendiri, sistem yang
diduplikasi para investor yaitu sistem pemasaran bertingkat, dimana para
investor atau distributor diberikan arahan untuk melakukan hal yang sama
dengan distributor-distributor sebelumnya yaitu memasarkan produk dan
mensponsori orang baru.
Kedua bisnis tersebut merupakan trend bisnis saat ini. Meskipun
sama-sama memiliki sistem yang unik, tetapi pola pertumbuhan usahanya
berbeda. Kebanyakkan usaha menganut pola pertumbuhan linier termasuk
waralaba. Maksud dari pola pertumbuhan linier yaitu pendapatan yang
diterima akan tumbuh secara gradual, misalnya pada bulan pertama
pendapatan yang diterima Rp 5,-, bulan kedua pendapatan meningkat duakali
lipat menjadi Rp 10,-, bulan ketiga meningkat lagi menjadi Rp 20,-, dan
seterusnya. Sementara bisnis MLM menganut pola pertumbuhan eksponensial
(E
2
). Maksud dari pola pertumbuhan eskponensial yaitu pendapatan yang
diterima akan dilipatgandakan setiap bulannya, misalnya pada bulan pertama
pendapatan yang diterima sebesar Rp 5,-, bulan kedua meningkat menjadi
Rp 25,-, bulan ketiga menjadi Rp 625,-, dan seterusnya. (Hedges, 1997)

4.5. Analisis Usaha
Dalam menganalisis bisnis IBO Amway, peneliti membuat empat
skenario IBO yang menjadi objek utama penelitian. Keempat IBO tersebut
diasumsikan memiliki investasi dan biaya total yang sama, tetapi
penerimaannya berbeda. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui pada tingkat
mana bisnis Amway dianggap menguntungkan dan layak, serta hal-hal yang
apa saja lebih mempengaruhi besarnya penerimaan.

4.5.1. Investasi
Dalam bisnis MLM, investasi yang dikeluarkan biasanya relatif
kecil berkisar antara Rp 50.000,- sampai dengan Rp 1.000.000,-. Untuk
dapat bergabung dengan Amway, seseorang harus membayar formulir
45
pendaftaran seharga Rp 97.000,-. Sementara bagi Amway yang
tergabung dengan perusahaan N21 memiliki beberapa paket investasi,
diantaranya seperti terlihat pada Tabel 6:
Tabel 6. Paket-paket Investasi Bisnis Amway dengan Sistem N21
Item Paket 1 Paket 2 Paket 3
Paket
Member
Paket bisnis
Amway 1 1 1 1
BDP
perdana dan
regristasi 1 1 1 1
Paket IBO
baru dan
pemula 1 1 1
Paket
Informasi 1 1
Kaset
Passive
Income 1 1
Kaset
Bincang
Solusi 1 1
VCD 1
Tiket BBS 1 1 1 1
Tiket LS 1
Voucher
paket
produk 1 1 1 1
Harga (Rp)
Sumatera,
J awa, Bali 1.099.000,- 599.000,- 379.000,- 236.000,-
Kalimantan,
NTT, NTB 1.116.000,- 615.000,- 386.000,- 236.000,-
Sumber : N21 (2005)

Untuk anggota yang serius menjalankan bisnis Amway biasanya
membeli paket 1 seharga Rp 1.099.00,-. Karena dalam paket tersebut
sudah termasuk formulir pendaftaran dan beberapa materi pendukung
bisnis tersebut. Maka dari itu dalam penelitian ini diasumsikan keempat
IBO tersebut adalah anggota Amway yang serius menjalankan bisnis
Amway dan membeli paket 1 sebagai modal awal atau investasi. Selain
investasi awal, ada juga investasi modal kerja yang terdiri dari
pembelian buku dan kaset. Buku dan kaset dianggap investasi karena
merupakan alat pendukung bisnis Amway. Untuk pembelian buku,
46
dikeluarkan dana sebesar Rp. 25.000,- per bulan dan kaset atau BDP
sebesar Rp 128.000,- per bulan.

4.5.2. Penerimaan
Penerimaan usaha dalam bisnis MLM bukan hanya dari hasil
penjualan produk pribadi tetapi juga dari hasil penjualan orang-orang
yang telah disponsori ( orang-orang baru untuk bergabung dalam
kelompok bisnisnya).
Perhitungan penerimaan keempat IBO tersebut menggunakan
beberapa asumsi guna mempermudah perhitungan penerimaan, dan
setiap IBO mempunyai asumsi-asumsi yang berbeda dalam hal jumlah
Downline dan jumlah omzet.
Asumsi-asumsi tersebut didasarkan pada hasil wawancara dengan
beberapa IBO Amway serta data-data tahun 2005 yang tersedia di
Amway. Asumsi-asumsi tersebut yaitu :
IBO 1
Setiap kali seminar IBO mengundang 10 orang untuk datang,
dalam sebulan diadakan 10 kali seminar yang terdiri dari
Home Meeting, Infonite, NBT, dan BBS. Maka jumlah orang
yang diundang sebanyak 100 orang per bulan.
Dari 100 orang yang diundang hanya 10% yang datang, ini
berarti 10 yang turut menghadiri seminar. Dari 10 orang yang
datang hanya satu orang yang bergabung, ini berarti IBO
berhasil mensponsori satu orang Downline per bulan yang
ditempatkan pada tim dibawah IBO*. Asumsi ini didasarkan
pada perhitungan statistika N21.
Setiap Downline mendapat satu Downline baru setiap
bulannya yang juga ditempatkan tepat dibawahnya
*

IBO dan Downline-Downlinenya memperoleh omzet 200.000
PV setiap bulannya dan konstan
J ika tim telah mencapai 21%, maka omzet yang diperoleh
dianggap konstan.
47
1 PV disetarakan dengan Rp 4.-.


IBO 2
Setiap bulan IBO mensponsori satu orang Downline yang
ditempatkan pada tim dibawah IBO
*,
dengan proses yang
sama seperti IBO 1
Setiap Downline mendapat satu Downline baru setiap dua
bulannya yang juga ditempatkan tepat dibawahnya
*

IBO dan Downline-Downlinenya memperoleh omzet 200.000
PV setiap bulannya dan konstan
J ika tim telah mencapai 21%, maka omzet yang diperoleh
dianggap konstan.
1 PV disetarakan dengan Rp 4.-.

IBO 3
Setiap bulan IBO mensponsori satu orang Downline yang
ditempatkan pada tim dibawah IBO
*,
dengan proses yang
sama seperti IBO 1
Setiap Downline mendapat satu Downline baru setiap
bulannya yang juga ditempatkan tepat dibawahnya
*

IBO dan Downline-Downlinenya memperoleh omzet 100.000
PV setiap bulannya dan konstan
J ika tim telah mencapai 21%, maka omzet yang diperoleh
dianggap konstan.
1 PV disetarakan dengan Rp 4.-.

IBO 4
Setiap bulan IBO mensponsori satu orang Downline yang
ditempatkan pada tim dibawah IBO
*,
dengan proses yang sama
seperti IBO 1
48
Setiap Downline mendapat satu Downline baru setiap dua
bulannya yang juga ditempatkan tepat dibawahnya
*

IBO dan Downline-Downlinenya memperoleh omzet 100.000
PV setiap bulannya dan konstan
J ika tim telah mencapai 21%, maka omzet yang diperoleh
dianggap konstan.
1 PV disetarakan dengan Rp 4.-.

* Pertumbuhan jaringan Downline dan gambaran pertumbuhan
jaringan terlihat jelas pada Lampiran 2, 3, 4, dan 5

Tabel 7. Penerimaan IBO Amway dalam 12 bulan
Bulan IBO 1 IBO 2 IBO 3 IBO 4
1 Rp. 240.000,- Rp. 240.000,- Rp. 120.000,- Rp. 120.000,-
2 Rp. 288.000,- Rp. 288.000,- Rp. 120.000,- Rp. 120.000,-
3 Rp. 288.000,- Rp. 312.000,- Rp. 168.000,- Rp. 120.000,-
4 Rp. 480.000,- Rp. 432.000,- Rp. 168.000,- Rp. 180.000,-
5 Rp. 864.000,- Rp. 480.000,- Rp. 360.000,- Rp. 204.000,-
6 Rp. 1.632.000,- Rp. 840.000,- Rp. 744.000,- Rp. 386.000,-
7 Rp. 4.704.000,- Rp. 1.032.000,- Rp. 1.512..000,- Rp. 576.000,-
8 Rp. 12.848.000,- Rp. 1.776.000,- Rp. 4.584.000,- Rp. 1.032.000,-
9 Rp. 16.944.000,- Rp. 2.160.000,- Rp. 11.728.000,- Rp. 1.320.000,-
10 Rp. 21.040.000,- Rp. 3.672.000,- Rp. 14.824.000,- Rp. 1.704.000,-
11 Rp. 25.136.000,- Rp. 5.952.000,- Rp. 18.824.000,- Rp. 2.088.000,-
12 Rp. 29.232.000,- Rp. 9.000.000,- Rp. 22.920.000,- Rp. 3.612.000,-
Total Rp.113.696.000,- Rp. 26.232.000,- Rp. 74.952.000,- Rp. 11.412.000,-
Sumber : diolah dari data sekunder

Penerimaan yang diperoleh keempat IBO selama 12 bulan atau satu
tahun sejak awal menjalankan bisnis Amway terlihat pada Tabel 7. Pada
Tabel 7 terlihat bahwa IBO 1 memperoleh total penerimaan paling besar
sebesar Rp 113.696.000,- dibandingkan dengan IBO 2, IBO 3,dan IBO
4. IBO 1 dan IBO 2 memiliki perolehan omzet pribadi yang sama pada
masing-masingnya begitu juga dengan Downline-downlinenya, tetapi
frekuensi perolehan Downline baru berbeda, dimana IBO 1 setiap
49
bulannya berhasil memperoleh 1 Downline baru, begitu juga Downline-
downlinenya. Sementara IBO 2, meskipun sama memperoleh 1
Downline baru setiap bulannya, tetapi Downline- downlinenya hanya
memperoleh 1 Downline baru setiap dua bulan, ini mempengaruhi
besarnya jaringan. Dengan kondisi demikian, IBO 2 memperoleh
penerimaan yang jauh lebih kecil dari pada IBO 1 yaitu sebesar
Rp 26.232.000,-
IBO 1 dan IBO 3 memiliki frekuensi perolehan Downline baru
yang sama, tetapi Omzet pribadi yang peroleh berbeda setiap bulannya,
dimana IBO 3 hanya memperoleh omzet sebesar 100.000PV sedangkan
IBO 1 sebesar 200.000 PV. Dengan kondisi tersebut IBO 3 memperoleh
penerimaan yang lebih kecil dari IBO 1, yaitu sebesar Rp. 74.952.000,-.
IBO 4 memiliki frekuensi perolehan Downline baru sama dengan
IBO 2, tetapi perolehan omzet pribadinya sama dengan IBO 3. Dengan
kondisi tersebut, IBO 4 memperoleh total penerimaan yang lebih kecil.
Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut, total penerimaan IBO 3
lebih mendekati total penerimaan IBO 1 dibandingkan dengan IBO 2.
hal ini berarti bahwa besarnya jaringan atau banyaknya Downline lebih
mempengaruhi kenaikan penerimaan. Perhitungan penerimaan lebih
rinci terlihat pada Lampiran 6, 7, 8, dan 9

4.5.3. Biaya Usaha
Biaya usaha meliputi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap
merupakan biaya yang jumlahnya tetap, tidak tergantung kepada
perubahan tingkat kegiatan dalam menghasilkan produk. Biaya variabel
merupakan biaya yang sifatnya tergantung produksi yang dihasilkan.
Biaya yang sifatnya tetap dalam bisnis MLM adalah biaya
keanggotaan yang dibayar setiap tahun untuk memperpanjang masa
keanggotan dan biaya administrasi seminar dengan asumsi masing-
masing IBO menghadiri setiap pertemuan.
Dari asumsi-asumsi tersebut maka biaya tetap yang dikeluarkan
oleh masing-masing IBO yaitu :
50
Biaya seminar sebesar Rp 2.565.000,- per tahun yang terdiri dari :
Infonite, sebanyak 48 kali per tahun, maka biayanya
sebesar Rp 480.000,-
NBT, sebanyak 12 kali per tahun, maka biayanya sebesar
Rp 120.000,-
BBS, sebanyak 12 kali per tahun, maka biayanya sebesar
Rp 540.000,-
Leadership Seminar, sebanyak 3 kali per tahun, maka
biayanya sebesar Rp 1.425.000,-
Biaya regristasi tahunan sebesar Rp. 40.000,- per tahun

Dengan demikian didapat biaya tetap yang dikeluarkan oleh
masing-masing IBO adalah Rp 2.605.000,- per tahun. J ika dilihat per
periode, biaya tetap berubah setiap empat bulan dan pada periode
terakhir. Hal ini disebabkan karena adanya seminar yang
diselenggarakan empat bulan sekali dan biaya registrasi tahunan yang
hanya di bayar setiap tahun sekali. Perincian biaya dapat dilihat pada
Lampiran 10.
Sementara untuk biaya tetap, dalam bisnis Amway yang termasuk
biaya variabel merupakan biaya tranportasi, komunikasi, dan biaya
variabel lainnya guna mendukung bisnis Amway
Untuk menghitung biaya variabel digunakan beberapa asumsi guna
mempermudah perhitungan biaya variabel. Asumsi-asumsi yang
digunakan yaitu :
Menelepon orang lain dengan maksud mengundang untuk datang
ke seminar atau ke rumah IBO itu sendiri. J ika setiap kali seminar,
IBO menelepon 10 orang dengan jumlah seminar sebanyak 10 kali
per bulan, dan setiap orangnya menghabiskan biaya sebesar
Rp. 2000,-, maka biaya komunikasi yang dikeluarkan sebesar
Rp. 200.000,- per bulan atau Rp.2.400.000,- per tahun.
Biaya transportasi yang dikeluarkan sebesar Rp. 150.000,- per
bulan atau Rp. 1.800.000,- per tahun.
51

Sehingga didapat biaya variabel yang dikeluarkan oleh seorang
IBO adalah Rp 4.200.000,- per tahun.
Tabel 8. Biaya Usaha IBO Amway (per tahun)
IBO Biaya Tetap Biaya Variabel Total Biaya
1 Rp 2.605.000,- Rp.4.200.000,- Rp. 6.805.000,-
2 Rp 2.605.000,- Rp.4.200.000,- Rp. 6.805.000,-
3 Rp 2.605.000,- Rp.4.200.000,- Rp. 6.805.000,-
4 Rp 2.605.000,- Rp.4.200.000,- Rp. 6.805.000,-
Sumber: diolah dari data sekunder

4.5.4. Analisis Pendapatan Usaha
Pendapatan usaha para IBO Amway dalam menjalankan bisnis
Amway diperoleh dari selisih total penerimaan yang didapat dari bisnis
Amway dengan total biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan bisnis
Amway.
Total penerimaan IBO 1 pada tahun pertama sebesar
Rp 113.696.000,- dan total biaya sebesar Rp 6.805.000,-, maka
pendapatan usaha yang diperoleh sebesar Rp 106.891.000,-. Ini berarti
bisnis Amway menguntungkan sebesar Rp 106.891.000,- pada tahun
pertama.
Total penerimaan IBO 2 pada tahun pertama sebesar
Rp 26.232.000,- dan total biaya sebesar Rp 6.805.000,-, maka
pendapatan usaha yang diperoleh sebesar Rp 19.427.000,-. Ini berarti
bisnis Amway menguntungkan sebesar Rp 19.427.000,- pada tahun
pertama.
Total penerimaan IBO 3 pada tahun pertama sebesar
Rp 74.952.000,- dan total biaya sebesar Rp 6.805.000,-, maka
pendapatan usaha yang diperoleh sebesar Rp 68.147.000,-. Ini berarti
52
bisnis Amway menguntungkan sebesar Rp 68.147.000,- pada tahun
pertama.
Total penerimaan IBO 4 pada tahun pertama sebesar
Rp 11.412.000,- dan total biaya sebesar Rp 6.805.000,-, maka
pendapatan usaha yang diperoleh sebesar Rp 4.607.000,-. Ini berarti
bisnis Amway menguntungkan sebesar Rp 4.607.000,- pada tahun
pertama.

Tabel 9. Pendapatan Usaha IBO Amway (per tahun)
IBO
Total
Penerimaan
Total Biaya
Pendapatan
Usaha
1 113.696.000 6.805.000 106.891.000
2 26.232.000 6.805.000 19.427.000
3 74.952.000 6.805.000 68.147.000
4 11.412.000 6.805.000 4.607.000
Sumber: Diolah dari data sekunder

Berdasarkan Tabel 9, IBO 1 memiliki pendapatan usaha terbesar
dibandingkan IBO 2,IBO 3,dan IBO 4. Berdasarkan tabel diatas juga,
bisnis Amway bagi keempat IBO tersebut menguntungkan.

4.5.5. Analisis Revenue-Cost Ratio (R/C)
Analisis R/C adalah hasil bagi antara penerimaan total dengan
biaya total. Analisis R/C dilakukan untuk melihat apakah biaya yang
telah dikeluarkan menghasilkan cukup keuntungan dan menilai efisiensi
biaya.
Nilai R/C yang diperoleh IBO 1 dalam menjalankan bisnis Amway
pada tahun pertama adalah 16,71 yang artinya setiap satu rupiah yang
dikeluarkan untuk bisnis MLM akan mendatangkan penerimaan sebesar
Rp 16,71,-. Nilai ini diperoleh dengan membandingkan penerimaan
53
usaha tahun pertama sebesar Rp 113.696.000,- dengan biaya total tahun
pertama sebesar Rp. 6.805.000,-.
Nilai R/C yang diperoleh IBO 2 dalam menjalankan bisnis Amway
pada tahun pertama adalah 3,85 yang artinya setiap satu rupiah yang
dikeluarkan untuk bisnis MLM akan mendatangkan penerimaan sebesar
Rp 3,85,-. Nilai ini diperoleh dengan membandingkan penerimaan usaha
tahun pertama sebesar Rp 26.232.000,- dengan biaya total tahun pertama
sebesar Rp. 6.805.000,-.
Nilai R/C yang diperoleh IBO 3 dalam menjalankan bisnis Amway
pada tahun pertama adalah 11,01 yang artinya setiap satu rupiah yang
dikeluarkan untuk bisnis MLM akan mendatangkan penerimaan sebesar
Rp 11,01,-. Nilai ini diperoleh dengan membandingkan penerimaan
usaha tahun pertama sebesar Rp 74.952.000,- dengan biaya total tahun
pertama sebesar Rp. 6.805.000,-.
Nilai R/C yang diperoleh IBO 4 dalam menjalankan bisnis Amway
pada tahun pertama adalah 1,68 yang artinya setiap satu rupiah yang
dikeluarkan untuk bisnis MLM akan mendatangkan penerimaan sebesar
Rp 1,68,-. Nilai ini diperoleh dengan membandingkan penerimaan usaha
tahun pertama sebesar Rp 74.952.000,- dengan biaya total tahun pertama
sebesar Rp. 6.805.000,-.

4.5.6. Pay Back Period (PBP)
Perhitungan PBP pada bisnis MLM tidak serumit seperti
perhitungan PBP pada bisnis konvensional, karena biaya investasi yang
dikeluarkan relatif sangat kecil. Seorang IBO bisa saja mencapai PBP
pada bulan pertama menjalankan usaha jika berhasil menjual beberapa
produk.
Dalam kasus yang digunakan peneliti, investasi awal yang
dikeluarkan masing-masing IBO sebesar Rp 1.099.000,- dan investasi
bulanan atau modal berjalan yang dikeluarkan sebesar Rp 153.000.-
yang digunakan untuk pembelian kaset dan buku panduan bisnis
54
Amway. PBP yang terjadi pada masing-masing IBO terihat pada Tabel
10.
Tabel 10. Perhitungan PBP dari Bisnis Amway
IBO PBP
1 5 bulan
2 6 bulan
3 7 bulan
4 8 bulan
Sumber : Diolah dari data sekunder

Berdasarkan Tabel 10, PBP IBO 1 terjadi pada periode ke 5 atau
bulan ke 5 sejak menjalankan bisnis Amway. PBP IBO 2 terjadi pada
periode ke 6, PBP IBO 3 terjadi pada periode ke 7, sedangkan PBP IBO
4 terjadi pada periode ke 8.
Meskipun IBO 3 memiliki total penerimaan yang lebih besar
dibandingkan IBO 2, tetapi PBP IBO 3 terjadi lebih lama dari pada IBO
2. Ini disebabkan karena penerimaan IBO 3 pada periode 1 sampai
dengan 6 lebih kecil dari pada IBO 2. Perhitungan PBP lebih rinci
terlihat pada Lampiran 11, 12, 13, dan 14.

4.5.7. Perkiraan Cash Flow
Cash Flow merupakan arus manfaat bersih tambahan sebagai
akibat pengurangan biaya bersih tambahan selama umur proyek. Dalam
cash flow atau aliran kas diperlukan asumsi-asumsi yang mendukung.
Untuk menyusun aliran kas bisnis Amway, asumsi yang digunakan
adalah :
1. Umur usaha 1 tahun atau 12 periode, ini berdasarkan waktu
registrasi keanggotaan IBO Amway
2. Investasi awal Rp. 1.099.000,- berupa paket awal yang didalamnya
termasuk formulir pendaftaran IBO Amway
55
3. Modal berjalan yang dikeluarkan IBO sebesar Rp. 153.000,- per
periode yang terdiri dari pembelian buku sebesar Rp. 25.000,- dan
pembelian kaset sebesar Rp. 128.000,- per bulan
4. Penerimaan berasal dari penjualan pribadi dan bonus
kepemimpinan
5. Nilai biaya tetap bulan 4, 8, dan 12 berbeda, karena adanya biaya
administrasi seminar empat bulanan
6. Nilai biaya variabel setiap bulannya cenderung sama
7. Tingkat suku bunga yang digunakan adalah tingkat suku bunga
bank sentral sebesar 12% per tahun atau 1% per bulan.

Perkiraan cash flow pada bisnis Amway dapat dilihat pada lampiran ,
15,16,17, dan 18.

4.6. Analisis Kriteria Investasi
Analisis kriteria investasi pada bisnis Amway dilakukan dengan
menggunakan tiga kriteria investasi yaitu NVP, Net B/C, dan IRR.
Perhitungan analisis kriteria investasi dilakukan sesuai dengan kondisi
pembiayaan masing-masing IBO, seperti terlihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Nilai Kriteria Investasi Bisnis IBO Amway
No IBO NPV Net B/C IRR
1 1 83.078.248,10 14,07 21,22%
2 2 3.870.264,87 1,46 12,59%
3 3 47.869.802,19 8,70 18,26%
4 4 -7.909.674,05 0,19 7,73%
Sumber : Diolah dari data sekunder
Berdasarkan Tabel 11, IBO 1 memperoleh NPV sebesar
Rp. 83.078.248,10,- yang berarti nilai ini menunjukan bahwa bisnis Amway
dapat memberikan manfaat bersih selama 12 bulan dengan nilai
Rp. 83.078.248,10,- pada tingkat suku bunga 1%. Net B/C menunjukkan
perbandingan manfaat bersih yang bernilai positif dengan mafaat bersih yang
bernilai negatif selama umur usaha. Nilai Net B/C yang diperoleh adalah
56
14,07, hal ini menunjukkan kontribusi manfaat bersih terhadap biaya selama
12 periode dan dengan suku bunga 1% adalah 14,07. IRR menunjukkan
tingkat pengembalian internal usaha. IRR yang diperoleh dari perhitungan
sebesar 21,22% menunjukkan bahwa investasi yang ditanamkan pada bisnis
Amway tersebut akan mengalami pertambahan nilai sebesar 21,22 %.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, bisnis Amway pada kondisi IBO 1 layak
untuk dilaksanakan.
IBO 2 memperoleh NPV sebesar Rp. 3.870.264,87,- yang berarti nilai
ini menunjukan bahwa bisnis Amway dapat memberikan manfaat bersih
selama 12 periode dengan nilai Rp. 3.870.264,87,- pada tingkat suku bunga
1%. Net B/C menunjukkan perbandingan manfaat bersih yang bernilai positif
dengan mafaat bersih yang bernilai negatif selama umur usaha. Nilai Net B/C
yang diperoleh adalah 1,46, hal ini menunjukkan kontribusi manfaat bersih
terhadap biaya selama 12 periode dan dengan suku bunga 1% adalah 1,46.
IRR menunjukkan tingkat pengembalian internal usaha. IRR yang diperoleh
dari perhitungan sebesar 12,59%menunjukkan bahwa investasi yang
ditanamkan pada bisnis Amway tersebut akan mengalami pertambahan nilai
sebesar 12,59%. Berdasarkan hasil analisis tersebut, bisnis Amway pada
kondisi IBO 1 layak untuk dilaksanakan.
IBO 3 memperoleh NPV sebesar Rp. 47.869.802,19,- yang berarti
nilai ini menunjukan bahwa bisnis Amway dapat memberikan manfaat bersih
selama 12 periode dengan nilai Rp. 47.869.802,19,- pada tingkat suku bunga
1%. Net B/C menunjukkan perbandingan manfaat bersih yang bernilai positif
dengan mafaat bersih yang bernilai negatif selama umur usaha. Nilai Net B/C
yang diperoleh adalah 8,70, hal ini menunjukkan kontribusi manfaat bersih
terhadap biaya selama 12 periode dan dengan suku bunga 1% adalah 8,70.
IRR menunjukkan tingkat pengembalian internal usaha. IRR yang diperoleh
dari perhitungan sebesar 18,26% menunjukkan bahwa investasi yang
ditanamkan pada bisnis Amway tersebut akan mengalami pertambahan nilai
sebesar 18,26%. Berdasarkan hasil analisis tersebut, bisnis Amway pada
kondisi IBO 1 layak untuk dilaksanakan.
57
IBO 4 memperoleh NPV sebesar minus Rp. 7.909.674,05,- yang
berarti nilai ini menunjukan bahwa bisnis Amway belum memberikan manfaat
bersih selama 12 bulan. Net B/C menunjukkan perbandingan manfaat bersih
yang bernilai positif dengan mafaat bersih yang bernilai negatif selama umur
usaha. Nilai Net B/C yang diperoleh adalah 0,19, hal ini menunjukkan
manfaat bersih tidak memberikan kontribusi terhadap biaya selama 12
periode. IRR menunjukkan tingkat pengembalian internal usaha. IRR yang
diperoleh dari perhitungan sebesar 7,73%. Berdasarkan hasil analisis tersebut,
bisnis Amway pada kondisi IBO 4 belum layak untuk dilaksanakan. Tetapi
dalam bisnis Amway kondisi demikian dikatakan sebagai masa investasi.
Karena dengan adanya jaringan yang terus membesar dengan sendirinya
omzet kelompok akan bertambah juga, dan penerimaan ikut naik. Maka
meskipun bisnis Amway pada awalnya merugi, bisnis Amway masih bisa
dijalankan kerena tidak akan selamanya merugi, kecuali jika IBO yang
bersangkutan tidak lagi aktif menjalankan bisnis tersebut.

4.7. Variabilitas IBO Amway
Bisnis Amway memiliki banyak IBO. IBO-IBO tersebut memiliki cara
dan waktu yang beragam dalam mencapai kesuksesan dari bisnis Amway, hal
ini dapat dilihat dari lamanya IBO bergabung dengan Amway, investasi yang
dikeluarkan, penerimaan yang diterima, biaya yang dikeluarkan, waktu
PBPnya, waktu yang terpakai untuk mencapai level tertinggi dalam bisnis
Amway. Berdasarkan keberagaman ini, peneliti melakukan wawancara
langsung pada beberapa IBO Amway yang terdiri dari level Leaders Club
(LC) hingga Emerald.
Dalam penelitian ini, peringkat LC yang diwawancara oleh peneliti
adalah seorang mahasisiwa yang bernama Ella. Ella bergabung dengan
Amway sejak tahun 2004 dengan modal Rp 97.000,-, ini setara dengan harga
formulir pendaftaran keanggotaan Amway. Setiap bulannya Ella
mengeluarkan dana sebesar Rp 153.000,- per bulan untuk pembelian buku dan
kaset. Ella mencapai peringkat LC pada bulan kelima sejak menjalankan
58
bisnis Amway. Biaya tetap yang dikeluarkan pada bulan 4, 8, dan 12 berbeda
dengan bulan lainnya, karena adanya seminar yang diadakan empat bulan
sekali. Maka jika dirata-ratakan, biaya tetap yang dikeluarkan sebesar
Rp 161.250,- atau Rp 1.935.000,- per tahun yang terdiri dari biaya registrasi
keanggotaan Amway tahunan sebesar Rp 40.000,- per tahun dan biaya
seminar sebesar Rp 1.895.000,- per tahun dengan perincian sebagai berikut :
Infonite, sebanyak 12 kali per tahun, maka biayanya sebesar Rp 120.000,-
NBT, sebanyak 8 kali per tahun, maka biayanya sebesar Rp 80.000,-
BBS, sebanyak 6 kali per tahun, maka biayanya sebesar Rp 270.000,-
Leadership Seminar, sebanyak 3 kali per tahun, maka biayanya sebesar
Rp 1.425.000,-
Biaya variabel yang dikeluarkan sebesar Rp 350.000,- per bulan yang
terdiri dari biaya komunikasi sebesar Rp 200.000,- per bulan dan biaya
transportasi sebesar Rp 150.000,- per bulan, maka biaya total yang
dikeluarkan sebesar Rp 511.250,- per bulan. Dengan penerimaan sebesar
Rp 500.000,- per bulan, Ell masih merugi sebesar Rp 11.250,- per bulan.
Untuk peringkat Executive Leaders Club (ELC), peneliti
mewawancarai J onny. Jonny adalah seorang manajer produksi saat bergabung
dengan Amway pada tahun 2002. Modal awal yang dikeluarkan sebesar
Rp 1.099.000,-,ini setara dengan harga paket 1. Setiap bulannya dikeluarkan
dana sebesar Rp. 168.000,- untuk pembelian kaset dan buku. Perolehan
penerimaan J onny saat ini sebesar Rp 2.000.000,- per bulan. Biaya tetap yang
dikeluarkan pada bulan 4, 8, dan 12 berbeda dengan bulan lainnya, karena
adanya seminar yang diadakan empat bulan sekali. Maka jika dirata-ratakan,
biaya tetap yang dikeluarkan sebesar Rp 210.500,- per bulan atau 2.525.000,-
yang terdiri dari biaya registrasi keanggotaan Amway tahunan sebesar
Rp 40.000,- per tahun dan biaya seminar sebesar Rp 2.485.000- dengan
perincian sebagai berikut :
Infonite, sebanyak 40 kali per tahun, maka biayanya sebesa Rp 400.000,-
NBT, sebanyak 12 kali per tahun, maka biayanya sebesar
Rp 120.000,-
59
BBS, sebanyak 12 kali per tahun, maka biayanya sebesar Rp 540.000,-
Leadership Seminar, sebanyak 3 kali per tahun, maka biayanya sebesar
Rp 1.425.000,-
Biaya variabel yang dikeluarkan sebesar Rp 350.000,- per bulan yang
terdiri dari biaya komunikasi sebesar Rp 200.000,- per bulan dan biaya
transportasi sebesar Rp 150.000,- per bulan, maka biaya total yang
dikeluarkan sebesar Rp 560.500,- per bulan. Dengan penerimaan sebesar
Rp 2.000.000,- per bulan, J onny memperoleh keuntungan sebesar
Rp 1.439.500,- per bulan.
Untuk peringkat Silver Producer (SP), peneliti mewawancarai Ken.
Ken bergabung dengan Amway pada tahun 1996 dan saat itu Ken menjabat
sebagai salah satu karyawan perusahaan swasta. Modal awalnya sebesar
Rp 97.000,-. Investasi bulanannya sebesar Rp. 178.000,- per bulan.
Penerimaan yang di peroleh saat ini sebesar Rp. 3.000.000,- per bulan. Biaya
tetap yang dikeluarkan pada bulan 4, 8, dan 12 berbeda dengan bulan lainnya,
karena adanya seminar yang diadakan empat bulan sekali. Maka jika dirata-
ratakan, biaya tetap yang dikeluarkan sebesar Rp 217.100,- per bulan atau Rp
2.605.000,- per tahun yang terdiri dari biaya registrasi keanggotaan Amway
tahunan sebesar Rp 40.000,- per tahun dan biaya seminar sebesar
Rp 2.565.000- dengan perincian sebagai berikut :
Infonite, sebanyak 40 kali per tahun, maka biayanya sebesar Rp 400.000,-
NBT, sebanyak 12 kali per tahun, maka biayanya sebesar Rp 120.000,-
BBS, sebanyak 12 kali per tahun, maka biayanya sebesar Rp 540.000,-
Leadership Seminar, sebanyak 3 kali per tahun, maka biayanya sebesar
Rp 1.425.000,-
Biaya variabel yang dikeluarkan sebesar Rp 350.000,- per bulan yang
terdiri dari biaya komunikasi sebesar Rp 200.000,- per bulan dan biaya
transportasi sebesar Rp 150.000,- per bulan, maka biaya total yang
dikeluarkan sebesar Rp 567.100,- per bulan. Dengan penerimaan sebesar
Rp 3.000.000,- per bulan, Ken memperoleh keuntungan sebesar
Rp 2.439.500,- per bulan.
60
Untuk peringkat Platinum, peneliti mewawancarai Rozak.Rozak
merupakan salah satu direksi dari sebuah perusahaan. Rozak bergabung
dengan Amway pada tahun 2002, dengan modal sebesar Rp 1.099.000,-.
Untuk investasi berjalan dikeluarkan dana sebesar Rp 178.000,- per bulan
Penerimaan saat ini sebesar Rp 60.000.000,- per tahun. Biaya tetap yang
dikeluarkan pada bulan 4, 8, dan 12 berbeda dengan bulan lainnya, karena
adanya seminar yang diadakan empat bulan sekali. Maka jika dirata-ratakan,
biaya tetap yang dikeluarkan sebesar Rp 217.100,- per bulan atau
Rp 2.605.000,- per tahun yang terdiri dari biaya registrasi keanggotaan
Amway tahunan sebesar Rp 40.000,- per tahun dan biaya seminar sebesar
Rp 2.565.000- dengan perincian sebagai berikut :
Infonite, sebanyak 40 kali per tahun, maka biayanya sebesar Rp 400.000,-
NBT, sebanyak 12 kali per tahun, maka biayanya sebesar Rp 120.000,-
BBS, sebanyak 12 kali per tahun, maka biayanya sebesar Rp 540.000,-
Leadership Seminar, sebanyak 3 kali per tahun, maka biayanya sebesar
Rp 1.425.000,-
Biaya variabel yang dikeluarkan sebesar Rp 350.000,- per bulan yang
terdiri dari biaya komunikasi sebesar Rp 200.000,- per bulan dan biaya
transportasi sebesar Rp 150.000,- per bulan, maka biaya total yang
dikeluarkan sebesar Rp 567.100,- per bulan. Dengan penerimaan sebesar
Rp 5.000.000,- per bulan, Rozak memperoleh keuntungan sebesar
Rp 4.439.500,- per bulan.
Untuk peringkat Emerald, peneliti mewawancarai Sukobagio.
Sukobagio bergabungn dengan Amway pada tahun 2000 dengan investasi
sebesar Rp. 1.099.000,-. Investasi bulanan yang dikeluarkan sebesar
Rp 178.000,- per bulan untuk pembelian buku dan kaset. Penerimaan saat ini
sebesar Rp 120.000.000,- per tahun Biaya tetap yang dikeluarkan pada bulan
4, 8, dan 12 berbeda dengan bulan lainnya, karena adanya seminar yang
diadakan empat bulan sekali. Maka jika dirata-ratakan, biaya tetap yang
dikeluarkan sebesar Rp 217.100,- per bulan atau Rp 2.605.000,- per tahun
yang terdiri dari biaya registrasi keanggotaan Amway tahunan sebesar
61
Rp 40.000,- per tahun dan biaya seminar sebesar Rp 2.565.000- dengan
perincian sebagai berikut :
Infonite, sebanyak 48 kali per tahun, maka biayanya sebesar Rp 480.000,-
NBT, sebanyak 12 kali per tahun, maka biayanya sebesar Rp 120.000,-
BBS, sebanyak 12 kali per tahun, maka biayanya sebesar Rp 540.000,-
Leadership Seminar, sebanyak 3 kali per tahun, maka biayanya sebesar
Rp 1.425.000,-

Biaya variabel yang dikeluarkan sebesar Rp 350.000,- per bulan yang
terdiri dari biaya komunikasi sebesar Rp 200.000,- per bulan dan biaya
transportasi sebesar Rp 150.000,- per bulan, maka biaya total yang
dikeluarkan sebesar Rp 567.100,- per bulan. Dengan penerimaan sebesar
Rp 10.000.000,- per bulan, Rozak memperoleh keuntungan sebesar
Rp 9.439.500,- per bulan.

4.8. Bisnis Amway Sebagai Kewirausahaan
Dalam kewirausahaan, seorang wirausaha harus memiliki jiwa
kewirausahaan dan karakteristik wirausaha. Hal ini berpengaruh pada
keberhasilan wirausaha itu sendiri. Beberapa karakteristik yang harus dimiliki
oleh wirausaha yaitu kebutuhan akan keberhasilan, keinginan untuk
mengambil resiko, percaya diri, dan keinginan kuat untuk berbisnis.
Tujuan orang berwirausaha karena menginginkan imbalan finansial
yang besar, kebebasan individu, serta kepuasan dalam menjalankan usahanya.
Sama halnya dengan tujuan IBO Amway menjalankan bisnis Amway yaitu
karena ingin mencapai keberhasilan finansial, waktu, dan resiko usaha yang
kecil. Dalam bisnis Amway dengan N21, seorang IBO akan dipandu
bagaimana menjalankan bisnis Amway hingga tercapai keberhasilan. Dengan
adanya N21, IBO Amway akan dilatih keterampilannya dalam berbisnis,
memotivasi IBO untuk dapat mencapai tujuannya, dimana hal ini tidak
didapatkan oleh wirausaha lainnya. Selain itu juga N21 menyediakan materi-
materi pendukung berbisnis, seperti kaet, buku, dan juga seminar. Dalam
62
bisnis Amway, resiko seorang IBO relatif kecil, hal ini karena investasi yang
dikeluarkan juga retatif kecil, tetapi penerimaan bisa saja sangat besar
tergantung dari jumlah jaringan yang aktif dan bagaimana seorang IBO dapat
menjaga jaringannya untuk tetap eksis.
N21 membantu menumbuhkan jiwa kewirausahaan bagi IBO-IBO
Amway dan mempermudah berwirausaha. Hal ini terjadi karena N21
mengadakan seminar-seminar, pelatihan, dan pengajaran bagi IBO Amway
dengan sistem N21 dan menyarankan IBO untuk menduplikasi sistem IBO-
IBO yang telah sukses. Upline harus memotivasi dan membagi ilmu
wirausahanya dengan Downline-downlinenya untuk keberhasilan bersama.
J adi dalam bisnis Amway, segala kesulitan dalam berwirausaha dapat
dikonsultasikan dengan kelompok bisnisnya.















63
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari perbandingan keempat IBO dalam pembahasan analisis usaha Amway,
bisnis Amway dinyatakan menguntungkan. Hal ini terlihat pada hasil
perhitungan pendapatan usaha dan R/C dari keempat IBO, dimana keempat-
empatnya menyatakan hasil yang sesuai dengan kriteria menguntungkan.
Tetapi berdasarkan analisis kriteria investasi, IBO 4 dinyatakan tidak layak
karena hasil NPV, Net B/C, dan IRRnya tidak memenuhi syarat layak. Untuk
membuat bisnis Amway menguntungkan dan layak seorang IBO harus
memiliki minimal 100.000PV pribadi per bulan dan jaringan yang terus
berkembang minimal mensponsori satu orang per bulan, begitu juga
Downline-downlinenya.
IBO-IBO Amway dalam mencapai keberhasilan sangat beragam. Hal tersebut
tergantung dari keaktifan IBO itu sendiri dalam menjalankan bisnis
Amwaynya dengan mengikuti sistem N21.

Saran
Disarankan bagi setiap orang yang ingin berwirausaha untuk mencoba
menjalankan bisnis Amway. Dan untuk menjalankan bisnis Amway
disarankan untuk melakukan bisnis tersebut dengan aktif dan serius agar
mencapai nilai menguntungkan.
Diharapkan ada yang meneliti lebih lanjut mengenai bisnis MLM, khususnya
Amway, karena bisnis ini sedang berkembang di Indonesia
Pada penetilian selanjutnya diharapkan meneliti tentang kelayakan bisnis
MLM, khususnya Amway, dibandingkan dengan bisnis lainnya agar lebih
terlihat bisnis mana yang lebih kompetitif dan menguntung.
Diharapkan adanya penelitian lanjutan mengenai sumber daya manusia
Amway berhubungan dengan Leadership dalam bisnis Amway
Diharapkan adanya penelitian lanjtan mengenai Passive Income dalam bisnis
Amway.

64
DAFTAR PUSTAKA

Amway. MLM dan J enis-jenis Direct Selling Lainnya.
http://www.Amway.co.id/direct.asp. (24 Februari 2005)
Amway. 2003. Pedoman Usaha. Amway Corp, Ada, Michigan, USA
APLI. Daftar Perusahaan MLM Anggota APLI. http://www.apli.or.id. (2005)
Basith, A. 2004. Hidup Makmur dan Bermakna : Berani sukses. Grhadika Press,
J akarta
. 2005. Refuse To Lose. Britz Publisher. J akarta
Gunarto, I. Bisnis Multilevel Marketing, CIN dan Amway Mengantar Ribuan
Orang Meraih Sukses. http://www.sinarharapan.co.id. (15 April
2005)
Harefa, A. 1999. 10 Kiat Sukses Distributor MLM. PT Gramedia Pustaka Utama,
J akarta
Hedges, B. 1997. Copycat Marketing 101. Dream House Publishing, Capetown,
Republic of South Africa
Hernanto, F. 1989. Ilmu Usaha Tani. PT Penebar Swadaya, J akarta
Idris, D. Analisis Kelayakan Finansial Warung Tenda Pecel Lele di Kota Bogor.
Skripsi pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor, Bogor
Kadariah, Karlina dan Gray, C. 1999. Pengantar Evaluasi Proyek. LPFEUI,
J akarta
Kapan Lagi. Persaingan Bisnis MLM di Indonesia Masih Sehat.
http://www.kapanlagi.com. (1 Agustus 2005)
Kishel, G dan P. Kishel. 1992. Build Your Network Sales Business. J ohn Wiley &
Sons, inc, New York
Kompas. Doug DeVos Membangun Pengusaha Mandiri.
http://www.kompas.co.id. (22 J anuari 2005)
Kuntjoro, N. Kompetisi Membuat Industri DS/MLM Semakin Besar.
http://www.pembelajar.com. (3 Desember 2004)
Longenecker, et al. 2001. Kewirausahaan Manajemen Usaha Kecil. Salemba
Empat, J akarta
65
MLM Indonesia. Pertumbuhan MLM di Indonesia.
http://www.mlmindonesia.com. (2004)
Network Twentyone. http://www.n21.com. (2005)
Purwanto, B. (---). Manajemen Keuangan. Diktat Kuliah
Robinson, W.J . 1997. Empire of Fredom (kerajaan Kebebasan). Binapura Aksara,
J akarta
Sitorus, L. Prospek Pengembangan Usaha Budidaya Ikan Kerapu Pada Karamba
J aring Apung di PT Sembilan-sembilan Sibolga Sumatera Utara.
Skripsi pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor, Bogor
Tracy, B. 2005. MLM Sukses. Delapratasa Publishing,J akarta
Warta Ekonomi. Perusahaan MLM Nakal Belum Ditindak Tegas Pemerintah.
http://www.wartaekonomi.com. (22 Februari 2005)
Wead, D. 1997. The Out of Town Expert With Brief Case. Network
Twentyone,Sandiago, USA
Yusuf, T. Strategi MLM Secara Cerdas dan Halal. Edisi Kedua. PT Gramedia
Pustaka Utama, J akarta



Lampiran 1. Perusahaan MLM yang terdaftar dalamkeanggotan APLI
No No anggota Nama Perusahaan Nama Merek
1 0001/06/93 PT. Avon Indonesia Avon
2 0002/06/93 PT .Matolindo Primantara Matol
3 0003/06/93 PT. Citra Nusa Cermelang CNI
4 0004/06/93 PT. Foreverindo Insan Abadi Foreveryaoung
5 0005/06/93 PT. Amway Indonesia Amway
6 0006/06/93 PT. Busana Sejati Busana Sejati
7 0008/06/93 PT. Multicare Mitra Sejahtera Multicare
8 0009/06/93 PT. Imawi Benjaya Tupperware
9 0011/06/93 PT. Orindo AlamAyu Oriflame
10 0013/11/95 PT. Vivamerindo mitra Sejahtera Vivalife Science
11 0014/01/96 PT. Tara Prima Megah Tara
12 0015/01/96 PT. Berjaya Cosway Indonesia Cosway
13 0016/05/96 PT. Nugrah Aloeverindo Forever Living Products
14 0017/05/96 PT. Identika Prima Indonesia Identik
15 0020/05/97 PT. Luxindo Raya Lux
16 0025/09/98 PT. Nadja Sukses Utama Sophie Martin
17 0027/11/98 PT. Herbalife Indonesia Herbalife
18 0028/11/98 PT. Tiga Raksa Satria TBK Tigaraksa
19 0029/11/98 PT. Solaraja Persada J aya Prime & First New World
20 0031/12/98 PT. Capriasi Multinasional Sejahtera Capriasi
21 0032/03/99 PT. Kharisma Gizindo Perkasa New Image Internasional
22 0033/03/99 PT. Kompak Indopola Kompak
23 0035/09/99 PT. Sunrider Nusa Perdana Surinder
24 0036/09/99 PT. Nusantara Oriental Permai NOP
25 0037/09/99 PT. Daehsan Indonesia DXN
26 0038/02/00 PT. Sinergiplasindo Dinamika Sinergiplasindo
27 0039/02/00 PT. Natura Astravista NAV
28 0043/04/00 PT. Harmoni Dinamika Indonesia High-Direct
29 0046/07/00 PT. Tangguh Sakti Pondasi Megah Bracini
30 0047/07/00 PT. Ultratrend Biotech Indonesia U-Trend
31 0050/09/00 PT. Elken Spirulina Perkasa Elken
32 0053/01/01 PT. Kangsen Kenko Indonesia Kangsen Kenko
33 0056/07/01 PT. Surya Pagoda Mas Supamas
34 0057/07/01 PT. Singa Langit Jata Tianshi
35 0058/09/01 PT. New Module Farma Vitasqua
36 0059/09/01 PT. Trias Sukses Dinamika Javanoni
37 0061/09/01 PT. Revell Indonesia Revell
38 0064/03/02 PT. Immunotec Profarmasia Immunocal
39 0066/07/02 PT. Supreme Indo Pertiwi SIP
40 0067/10/02 PT. Wilsa Makmur Lestari Lavivaci
41 0069/04/03 PT. K-Link Nusantara K-Link

Lampiran 1.Lanjutan
No No anggota Nama Perusahaan Nama Merek
42 0070/05/03 PT. Sehat SugihSejahtera Triple-s
43 0071/06/03 PT. Zhulian Indonesia Zhulian
44 0072/06/03 PT. Surecoindo Surecoindo
45 0073/07/03 PT. Citidirect Interindo Citidirect
46 0074/10/03 PT. Neolab Prima Indonesia Univision
47 0075/11/03 PT. Leading Profile Indonesia Propolis Gold
48 0076/11/03 PT. Ratu Nusantara Ratu Nusantara
49 0077/12/03 PT. Ejolies Ampuh Dua Dua Ejolies Ampuh 22
50 0078/04/04 PT. Dwi konsumsi Investama Dwiki
51 0079/05/04 PT. Eslene Indonesia Eslene
52 0080/06/04 PT. Bio-Yaoung Indonesia Bio Young
53 0081/07/04 PT. Kokopelli Multinasional Indonesia Kokopelli
54 0082/07/04 PT. World Freshly Herb Indonesia Freshly Herb
55 0083/07/04 PT. Elite Mandiri Anugrah Elite Club
56 0084/08/04 PT. Wootekh Wootekh
57 0086/09/04 PT. Lifestyles Indonesia Lifestyles
58 0087/12/04 PT. Centra Java Drinking Water Oxi
59 0088/01/05 PT. DCHL Indonesia Lampe Berger
60 0089/03/05 PT. Ecoclean Internasional Indonesia Ecoclean
61 0090/05/05 PT. Enespi AlamIndo Synergy World Wide
62 0091/08/05 PT. Goodway Network Internasional Goodway



























Lampiran 2. Pertumbuhan J aringan IBO 1

Tim
Periode
IBO 1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
0 0
1 1 0
2 3 1 0
3 7 3 1 0
4 15 7 3 1 0
5 31 15 7 3 1 0
6 63 31 15 7 3 1 0
7 127 63 31 15 7 3 1 0
8 255 127 63 31 15 7 3 1 0
9 383 127 127 63 31 15 7 3 1 0
10 511 127 127 127 63 31 15 7 3 1 0
11 639 127 127 127 127 63 31 15 7 3 1 0
12 766 127 127 127 127 127 63 31 15 7 3 1 0


Lampiran 3. Pertumbuhan J aringan IBO 2

Tim
Periode
IBO 2
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
0 0
1 1 0
2 2 0 0
3 4 1 0 0
4 6 1 1 0 0
5 10 3 1 1 0 0
6 14 3 3 1 1 0 0
7 22 7 3 3 1 1 0 0
8 30 7 7 3 3 1 1 0 0
9 46 15 7 7 3 3 1 1 0 0
10 62 15 15 7 7 3 3 1 1 0 0
11 94 31 15 15 7 7 3 3 1 1 0 0
12 126 31 31 15 15 7 7 3 3 1 1 0 0











Lampiran 4. Pertumbuhan J aringan IBO 3

Tim
Periode
IBO 3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

0 0
1 1 0
2 3 1 0
3 7 3 1 0
4 15 7 3 1 0
5 31 15 7 3 1 0
6 63 31 15 7 3 1 0
7 127 63 31 15 7 3 1 0
8 255 127 63 31 15 7 3 1 0
9 511 255 127 63 31 15 7 3 1 0
10 766 255 255 127 63 31 15 7 3 1 0
11 1022 255 255 255 127 63 31 15 7 3 1 0
12 1277 255 255 255 255 127 63 31 15 7 3 1 0

Lampiran 5..Pertumbuhan J aringan IBO 4

Tim 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Periode
0 0
1 1 0
2 2 0 0
3 4 1 0 0
4 6 1 1 0 0
5 10 3 1 1 0 0
6 14 3 3 1 1 0 0
7 22 7 3 3 1 1 0 0
8 30 7 7 3 3 1 1 0 0
9 46 15 7 7 3 3 1 1 0 0
10 62 15 15 7 7 3 3 1 1 0 0
11 94 31 15 15 7 7 3 3 1 1 0 0
12 126 31 31 15 15 7 7 3 3 1 1 0 0



Lampiran 6. Perhitungan Penerimaan IBO 1

Periode 1
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- = Rp 240.000.-

Periode 2
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-

- Bonus Rabat : 3% x 400.000 PV x Rp 4,- =Rp 48.000,-
Total Penerimaan : Rp 288.000,-
Periode 3
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim1 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : 3% x (800.000 PV 400.000 PV) x Rp 4,- =Rp 48.000,-

Total Penerimaan : Rp 288.000,-
Periode 4
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim1 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim2 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (6% x 1.600.000 PV ) - (3% x 800.000 PV )
(3% x 400.000 PV) x Rp 4,- =Rp 240.000,-

Total Penerimaan : Rp 480.000,-
Periode 5
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim1 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim2 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim3 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (9% x 3.200.000 PV) - (6% x 1.600.000 PV )
-(3% x 800.000 PV) (3% x 400.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 624.000,-

Total Penerimaan : Rp 864.000,-
Periode 6
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 32 x 200.000 PV =6.400.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim1 : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim2 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim3 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim4 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (12% x 6.400.000 PV)-(9% x 3.200.000 PV)
-(6% x 1.600.000 PV) (3% x 1.200.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 1.392.000,-

Total Penerimaan : Rp 1.632.000,-
Periode 7
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 64 x 200.000 PV =12.800.000 PV (18%)
PV Kelompok Tim1 : 32 x 200.000 PV =6.400.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim2 : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim3 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim4 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim5 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (18% x 12.800.000 PV)-(12% x 6.400.000 PV)
-(9% x 3.200.000 PV) (6% x 1.600.000 PV)
- (3% x 1.200.000 PV) x Rp 4,- = Rp 4.464.000,-
Total Penerimaan : Rp 4.704.000,-
Periode 8

PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 128 x 200.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim1 : 64 x 200.000 PV =12.800.000 PV (18%)
PV Kelompok Tim2 : 32 x 200.000 PV =6.400.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim3 : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim4 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim5 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim6 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (24% x 25.600.000 PV)-(18% x 12.800.000 PV)
-(12% x 6.400.000 PV) (9% x 3.200.000 PV)
-(6% x 1.600.000 PV) - (3% x 1.200.000 PV)
x Rp 4,- = Rp 12.608.000,-
Total Penerimaan : Rp 12.848.000,-

Periode 9
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 256 x 200.000 PV =51.200.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim1 : 128 x 200.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim2 : 64 x 200.000 PV =12.800.000 PV (18%)
PV Kelompok Tim3 : 32 x 200.000 PV =6.400.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim4 : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim5 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim6 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim7 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (24% x 51.200.000 PV)(24% x 25.600.000 PV)
-(18% x 12.800.000 PV)-(12% x 6.400.000 PV)
-(9% x 3.200.000 PV) (6% x 1.600.000 PV)
- (3% x 1.200.000 PV) x Rp 4,- =Rp 12.608.000,-
- Bonus 4% : 4% x 25.600.000 PVx Rp 4,- =Rp 4.096.000,-
Total Penerimaan : Rp 16.944.000,-


Periode 10
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 384 x 200.000 PV =76.800.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim1 : 128 x 200.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim2 : 128 x 200.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim3 : 64 x 200.000 PV =12.800.000 PV (18%)
PV Kelompok Tim4 : 32 x 200.000 PV =6.400.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim5 : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim6 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim7 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim8 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (24% x 76.800.000 PV) - (24% x 51.200.000 PV)
-(18% x 12.800.000 PV)-(12% x 6.400.000 PV)
-(9% x 3.200.000 PV) (6% x 1.600.000 PV)
- (3% x 1.200.000 PV) x Rp 4,- =Rp 12.608.000,-
- Bonus 4% : 4% x 25.600.000 PV x Rp 4,- x 2 =Rp 8.192.000,-
Total Penerimaan : Rp 21.040.000,-

Periode 11
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 512 x 200.000 PV =102.400.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim1 : 128 x 200.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim2 : 128 x 200.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim3 : 128 x 200.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim4 : 64 x 200.000 PV =12.800.000 PV (18%)
PV Kelompok Tim5 : 32 x 200.000 PV =6.400.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim6 : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim7 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim8 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim9 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (24% x 102.400.000 PV) - (24% x 76.800.000 PV)
-(18% x 12.800.000 PV)-(12% x 6.400.000 PV)
-(9% x 3.200.000 PV) (6% x 1.600.000 PV)
- (3% x 1.200.000 PV) x Rp 4,- =Rp 12.608.000,-
- Bonus 4% : 4% x 25.600.000 PV x Rp 4,- x 3 =Rp 12.608.000,-
Total Penerimaan : Rp 25.136.000,-

Periode 12
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 384 x 200.000 PV =76.800.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim1 : 128 x 200.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim2 : 128 x 200.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim3 : 128 x 200.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim4 : 128 x 200.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim5 : 64 x 200.000 PV =12.800.000 PV (18%)
PV Kelompok Tim6 : 32 x 200.000 PV =6.400.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim7 : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim8 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim9 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim10 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (24% x 128.000.000 PV) - (24% x 102.400.000 PV)
-(18% x 12.800.000 PV)-(12% x 6.400.000 PV)
-(9% x 3.200.000 PV) (6% x 1.600.000 PV)
- (3% x 1.200.000 PV) x Rp 4,- =Rp 12.608.000,-
- Bonus 4% : 4% x 25.600.000 PV x Rp 4,- x 4 =Rp 16.384.000,-
Total Penerimaan : Rp 29.232.000,-
Total Penerimaan Tahunan : Rp 113.696.000.-


















Lampiran 7. Perhitungan Penerimaan IBO 2

Periode 1
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000.-
Periode 2
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : 3% x 400.000 PV x Rp 4,- =Rp 48.000,-
Total Penerimaan : Rp 288.000,-
Periode 3
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 3 x 200.000 PV =600.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : 3% x 600.000 PV x Rp 4,- =Rp 72.000,-
Total Penerimaan : Rp 312.000,-
Periode 4
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 5 x 200.000 PV =1.000.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim1 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (6% x 1.000.000 PV ) - (3% x 400.000 PV )
x Rp 4,- =Rp 192.000,-
Total Penerimaan : Rp 432.000,-
Periode 5
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 7 x 200.000 PV =1.400.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim1 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim2 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (6% x 1.400.000 PV) - (3% x 800.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 240.000,-
Total Penerimaan : Rp 480.000,-
Periode 6
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 11 x 200.000 PV =2.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim1 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim2 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim3 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (9% x 2.200.000 PV) - (3% x 1.600.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 600.000,-
Total Penerimaan : Rp 840.000,-
Periode 7
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 15 x 200.000 PV =3.000.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim1 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim2 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim3 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim4 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (9% x 3.000.000 PV) (3% x 2.400.000 PV)
x Rp 4,- = Rp 792.000,-
Total Penerimaan : Rp 1.032.000,-
Periode 8
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 23 x 200.000 PV =4.600.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim1 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim2 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim3 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim4 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim5 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (12% x 4.600.000 PV) (6% x 1.600.000 PV)
- (3% x 2.400.000 PV) x Rp 4,- =Rp 1.536.000,-
Total Penerimaan : Rp 1.776.000,-
Bulan 9
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 31 x 200.000 PV =6.200.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim1 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim2 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim3 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim4 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim5 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim6 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (12% x 6.200.000 PV) - (6% x 3.200.000 PV)
- (3% x 2.400.000 PV) x Rp 4,- =Rp 1.920.000,-
Total Penerimaan : Rp 2.160.000,-
Periode 10
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 47 x 200.000 PV =9.400.000 PV (15%)
PV Kelompok Tim1 : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim2 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim3 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim4 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim5 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim6 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim7 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (15% x 9.400.000 PV) - (9% x 3.200.000 PV)
-(6% x 3.200.000 PV) (3% x 2.400.000)
x Rp 4,- =Rp 3.432.000,-
Total Penerimaan : Rp 3.672.000,-
Periode 11
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 63 x 200.000 PV =12.600.000 PV (18%)
PV Kelompok Tim1 : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim2 : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim3 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim4 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim5 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim6 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim7 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim8 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (18% x 12.600.000 PV) - (9% x 6.400.000 PV)
(6% x 3.200.000 PV) - (3% x 2.400.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 5.712.000,-
Total Penerimaan : Rp 5.952.000,-
Periode 12
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 95 x 200.000 PV =19.000.000 PV (21%)
PV Kelompok Tim1 : 32 x 200.000 PV =6.400.000 PV (15%)
PV Kelompok Tim2 : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim3 : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim4 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim5 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim6 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim7 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim8 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim9 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (21% x 19.000.000 PV) - (15% x 6.400.000 PV)
(9% x 6.400.000 PV) (6% x 3.200.000 PV)
- (3% x 2.400.000 PV) x Rp 4,- =Rp 8.760.000,-
Total Penerimaan : Rp 9.000.000,-
Total Penerimaan Tahunan : Rp 26.232.000.-





Lampiran 8. Perhitungan Penerimaan IBO 3

Periode 1
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- = Rp 120.000.-

Periode 2
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 2 x 100.000 PV =200.000 PV
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
Total Penerimaan : Rp 120.000,-

Periode 3
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : 3% x 400.000 PV x Rp 4,- =Rp 48.000,-
Total Penerimaan : Rp 168.000,-

Periode 4
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim1 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (3% x 800.000 PV ) (3% x 400.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 48.000,-
Total Penerimaan : Rp 168.000,-

Periode 5
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 16 x 100.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim1 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim2 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (6% x 1.600.000 PV ) - (3% x 1.200.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 240.000,-
Total Penerimaan : Rp 360.000,-

Periode 6
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 32 x 100.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim1 : 16 x 100.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim2 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim3 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (9% x 3.200.000 PV) - (6% x 1.600.000 PV)
(3% x 1.200.000 PV) x Rp 4,- =Rp 6.24.000,-
Total Penerimaan : Rp 744.000,-

Periode 7
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 64 x 100.000 PV =6.400.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim1 : 32 x 100.000 PV =3.2 00.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim2 : 16 x 100.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim3 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim4 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (12% x 6.400.000 PV) -(9% x 3.200.000 PV)
(6% x 1.600.000 PV) - (3% x 1.200.000 PV)
x Rp 4,- = Rp 1.392.000,-


Total Penerimaan : Rp 1.512.000,-

Periode 8
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 128 x 100.000 PV =12.800.000 PV (18%)
PV Kelompok Tim1 : 64 x 100.000 PV =6.400.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim2 : 32 x 100.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim3 : 16 x 100.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim4 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim5 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 00.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (18% x 12.800.000 PV) - (12% x 6.400.000 PV)
(9% x 3.200.000 PV) - (6% x 1.600.000 PV)
- (3% x 1.200.000 PV) x Rp 4,- = Rp 4.464.000,-
Total Penerimaan : Rp 4.584.000,-

Periode 9
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 256 x 100.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim1 : 128 x 100.000 PV =12.800.000 PV (18%)
PV Kelompok Tim2 : 64 x 100.000 PV =6.400.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim3 : 32 x100.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim4 : 16 x 100.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim5 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim6 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (24% x 25.600.000 PV) - (18% x 12.800.000 PV)
- (12% x 6.400.000 PV) - (9% x 3.200.000 PV)
-(6% x 1.600.000 PV) - (3% x 1.200.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 10.608.000,-
Total Penerimaan : Rp 10.728.000,-



Periode 10
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 512 x 100.000 PV =51.200.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim1 : 256 x 100.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim2 : 128 x 100.000 PV =12.800.000 PV (18%)
PV Kelompok Tim3 : 64 x 100.000 PV =6.400.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim4 : 32 x 100.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim5 : 16 x 100.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim6 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim7 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (24% x 25.600.000 PV) - (18% x 12.800.000 PV)
- (12% x 6.400.000 PV) - (9% x 3.200.000 PV)
-(6% x 1.600.000 PV) - (3% x 1.200.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 10.608.000,-
- Bonus 4% : 4% x 25.600.000 PV x Rp 4,- =Rp 4.096.000,-
Total Penerimaan : Rp 14.824.000,-

Periode 11
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 767 x 100.000 PV =76.700.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim1 : 256 x 100.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim2 : 256 x 100.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim3 : 128 x 100.000 PV =12.800.000 PV (18%)
PV Kelompok Tim4 : 64 x 100.000 PV =6.400.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim5 : 32 x 100.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim6 : 16 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim7 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim8 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (24% x 25.500.000 PV) - (18% x 12.800.000 PV)
-(12% x 6.400.000 PV) - (9% x 3.200.000 PV)
-(6% x 1.600.000 PV) - (3% x 1.200.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 10.512.000,-
- Bonus 4% : 4% x 25.600.000 PV x Rp 4,- x 2 =Rp 8.192.000,-
Total Penerimaan : Rp 18.824.000,-

Periode 12
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 1023 x 100.000 PV =102.300.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim1 : 256 x 100.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim2 : 256 x 100.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim3 : 256 x 100.000 PV =25.600.000 PV (24%)
PV Kelompok Tim4 : 128 x 100.000 PV =12.800.000 PV (18%)
PV Kelompok Tim5 : 64 x 100.000 PV =6.400.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim6 : 32 x 100.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim7 : 16 x 100.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim8 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim9 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 200.000 PV x Rp 4,- =Rp 240.000,-
- Bonus Rabat : (24% x 25.500.000 PV) - (18% x 12.800.000 PV)
-(12% x 6.400.000 PV) - (9% x 3.200.000 PV)
-(6% x 1.600.000 PV) - (3% x 1.200.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 10.512.000,-
- Bonus 4% : 4% x 25.600.000 PV x Rp 4,- x 3 =Rp 12.288.000,-
Total Penerimaan : Rp 22.920.000,-
Total Penerimaan Tahunan : Rp 74.952.000.-



















Lampiran 9. Perhitungan Penerimaan IBO 4

Periode 1
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- Rp 120.000.-
Periode 2
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 2 x 200.000 PV =200.000 PV
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
Total Penerimaan : Rp 120.000,-
Periode 3
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 3 x 100.000 PV =300.000 PV
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
Total Penerimaan : Rp 120.000,-
Periode 4
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 5 x 100.000 PV =500.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : 3% x 500.000 PV x Rp 4,- =Rp 60.000,-
Total Penerimaan : Rp 180.000,-
Periode 5
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 7 x 100.000 PV =700.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : 3% x 700.000 PV x Rp 4,- =Rp 84.000,-
Total Penerimaan : Rp 204.000,-
Periode 6
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 11 x 100.000 PV =21.100.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim1 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (6% x 1.100.000 PV) - (3% x 400.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 216.000,-
Total Penerimaan : Rp 336.000,-

Periode 7
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 15 x 100.000 PV =1.500.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim1 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim2 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (6% x 1.500.000 PV) (3% x 800.000 PV)
x Rp 4,- = Rp 456.000,-
Total Penerimaan : Rp 576.000,-
Periode 8
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 23 x 100.000 PV =2.300.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim1 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim2 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim3 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (12% x 2.300.000 PV) (3% x 1.600.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 912..000,-
Total Penerimaan : Rp 1.032.000,-
Bulan 9
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 31 x 100.000 PV =3.100.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim1 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim2 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim3 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim4 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (12% x 6.200.000 PV) - (3% x 2.400.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 1.200.000,-
Total Penerimaan : Rp 1.320.000,-
Periode 10
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 47 x 100.000 PV =4.700.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim1 : 16 x 100.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim2 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim3 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim4 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim5 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (12% x 4.700.000 PV) - (6% x 1.600.000 PV)
(3% x 2.400.000PV) x Rp 4,- =Rp 1.584.000,-
Total Penerimaan : Rp 1.704.000,-

Periode 11
PV Pribadi IBO : 100.000 PV
PV Kelompok : 63 x 100.000 PV =6.300.000 PV (12%)
PV Kelompok Tim1 : 16 x 100.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim2 : 16 x 100.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim3 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim4 : 8 x 100.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim5 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim6 : 4 x 100.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (12% x 6.300.000 PV) - (9% x 6.400.000 PV)
(6% x 3.200.000 PV) - (3% x 2.400.000 PV)
x Rp 4,- =Rp 5.712.000,-
Total Penerimaan : Rp 5.952.000,-

Periode 12
PV Pribadi IBO : 200.000 PV
PV Kelompok : 95 x 200.000 PV =19.000.000 PV (21%)
PV Kelompok Tim1 : 32 x 200.000 PV =6.400.000 PV (15%)
PV Kelompok Tim2 : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim3 : 16 x 200.000 PV =3.200.000 PV (9%)
PV Kelompok Tim4 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim5 : 8 x 200.000 PV =1.600.000 PV (6%)
PV Kelompok Tim6 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim7 : 4 x 200.000 PV =800.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim8 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
PV Kelompok Tim9 : 2 x 200.000 PV =400.000 PV (3%)
Penerimaan :
- Keuntungan Eceran : 30% x 100.000 PV x Rp 4,- =Rp 120.000,-
- Bonus Rabat : (21% x 19.000.000 PV) - (6% x 3.200.000 PV)
- (3% x 2.400.000 PV) x Rp 4,- =Rp 1.968.000,-
Total Penerimaan : Rp 2.088.000,-
Total Penerimaan Tahunan : Rp 11.412.000.-









Lampiran 5. Perkiraan Biaya Usaha Bisnis Amway

Periode ke
Keterangan
1 2 3 4 5 6 7 8
Biaya Tetap
Seminar 1.140.000 1.140.000 1.140.000 1.615.000 1.140.000 1.140.000 1.140.000 1.615.000
Registrasi Tahunann
Total BiayaTetap 1.140.000 1.140.000 1.140.000 1.615.000 1.140.000 1.140.000 1.140.000 1.615.000

Biaya Variabel
Transportasi 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000
Komunikasi 200.000 20.000 200.000 200.000 200.000 200.000 200.000 200.000
Total Biaya Variabel 350.000 350.000 350.000 350.000 350.000 350.000 350.000 350.000

Total Biaya 1.490.000 1.490.000 1.490.000 1.965.000 1.490.000 1.490.000 1.490.000 1.965.000


Periode ke
Keterangan
9 10 11 12
Biaya Tetap
Seminar 1.140.000 1.140.000 1.140.000 1.615.000
Registrasi Tahunann 40.000
Total BiayaTetap 1.140.000 1.140.000 1.140.000 1.655.000

Biaya Variabel
Transportasi 150.000 150.000 150.000 150.000
Komunikasi 200.000 200.000 200.000 200.000
Total Biaya Variabel 350.000 350.000 350.000 350.000

Total Biaya 1.490.000 1.490.000 1.490.000 2.005.000














Lampiran 10. Perhitungan PBP IBO 1

Periode Pengeluaran Penerimaan Keuntungan
Sisa Modal Yang
Belum Kembali
0 1.099.000 -1.099.000 -1.099.000
1 153.000 240.000 87.000 -1.012.000
2 153.000 288.000 135.000 -877.000
3 153.000 288.000 135.000 -742.000
4 153.000 480.000 327.000 -415.000
5 153.000 864.000 711.000 296.000


Lampiran 11. Perhitungan PBP IBO 2

Periode Pengeluaran Penerimaan Keuntungan
Sisa Modal Yang
Belum Kenbali
0 1.099.000 -1.099.000 -1.099.000
1 153.000 240.000 87.000 -1.012.000
2 153.000 288.000 135.000 -877.000
3 153.000 312.000 159.000 -718.000
4 153.000 432.000 279.000 -439.000
5 153.000 480.000 327.000 -112.000
6 153.000 840.000 687.000 575.000


Lampiran 12. Perhitungan PBP IBO 3

Periode Pengeluaran Penerimaan Keuntungan
Sisa Modal yang
Belum Kembali
0 1.099.000 -1.099.000 -1.099.000
1 153.000 120.000 -33.000 -1.132.000
2 153.000 120.000 -33.000 -1.165.000
3 153.000 168.000 15.000 -1.150.000
4 153.000 168.000 15.000 -1.135.000
5 153.000 360.000 207.000 -928.000
6 153.000 744.000 591.000 -337.000
7 153.000 1.512.000 1.359.000 1.022.000

Lampiran 13. Perhitungan PBP IBO 3

Periode Pengeluaran Penerimaan Keuntungan
Sisa Modal yang
Belum Kembali
0 1.099.000 -1.099.000 -1.099.000
1 153.000 120.000 -33.000 -1.132.000
2 153.000 120.000 -33.000 -1.165.000
3 153.000 120.000 -33.000 -1.198.000
4 153.000 180.000 27.000 -1.171.000
5 153.000 204.000 51.000 -1.120.000
6 153.000 336.000 183.000 -937.000
7 153.000 576.000 423.000 -514.000
8 153.000 1.032.000 879.000 365.000



Lampiran 10. Perhitungan PBP IBO 1

Periode Pengeluaran Penerimaan Keuntungan
Sisa Modal Yang
Belum Kembali
0 1.099.000 -1.099.000 -1.099.000
1 153.000 240.000 87.000 -1.012.000
2 153.000 288.000 135.000 -877.000
3 153.000 288.000 135.000 -742.000
4 153.000 480.000 327.000 -415.000
5 153.000 864.000 711.000 296.000


Lampiran 11. Perhitungan PBP IBO 2

Periode Pengeluaran Penerimaan Keuntungan
Sisa Modal Yang
Belum Kenbali
0 1.099.000 -1.099.000 -1.099.000
1 153.000 240.000 87.000 -1.012.000
2 153.000 288.000 135.000 -877.000
3 153.000 312.000 159.000 -718.000
4 153.000 432.000 279.000 -439.000
5 153.000 480.000 327.000 -112.000
6 153.000 840.000 687.000 575.000


Lampiran 12. Perhitungan PBP IBO 3

Periode Pengeluaran Penerimaan Keuntungan
Sisa Modal yang
Belum Kembali
0 1.099.000 -1.099.000 -1.099.000
1 153.000 120.000 -33.000 -1.132.000
2 153.000 120.000 -33.000 -1.165.000
3 153.000 168.000 15.000 -1.150.000
4 153.000 168.000 15.000 -1.135.000
5 153.000 360.000 207.000 -928.000
6 153.000 744.000 591.000 -337.000
7 153.000 1.512.000 1.359.000 1.022.000