Você está na página 1de 9

Ujian Akhir

Flsafat Ilmu

S2 Manajemen Kepemimpinan Pemuda PPW Unhas, 2014
Dosen: Prof. Dr Ir. Darmawan Salman, MS.

Atet Jizar Prasetyo

P0205213313

1) a. Kriteria Koherensi :

Dalam teori ini terdapat tiga kesukaran dalam menentukan kebenaran yang
disebabkan karena :

1. Teori korespondensi memberikan gambaran yang menyesatkan dan yang terlalu
sederhana mengenai bagaimana kita menentukan suatu kebenaran atau kekeliruan dari
suatu pernyataan. Bahkan seseorang dapat menolak pernyataan sebagai sesuatu yang
benar didasarkan dari suatu latar belakang kepercayaannya masing-masing.

2. Teori korespondensi bekerja dengan idea, bahwa dalam mengukur suatu kebenaran
kita harus melihat setiap pernyataan satu-per-satu, apakah pernyataan tersebut
berhubungan dengan realitasnya atau tidak. Lalu bagaimana jika kita tidak
mengetahui realitasnya? Bagaimanapun hal itu sulit untuk dilakukan.

3. Kelemahan teori kebenaran korespondensi ialah munculnya kekhilafan karena kurang
cermatnya penginderaan, atau indera tidak normal lagi sehingga apa yang dijadikan
sebagai sebuah kebenaran tidak sesuai dengan apa yang ada di alam.

Sebuah ketelitian dan kesigapan dalam menentukan sebuah kebenaran dalam
menentukan teori kebenaran koresponensi sangat diutamakan sebab untuk menghindari
kesalahan yang terjadi atas tiga hal tersebut. Maka faktor inderawi yang menjadi alat
untuk mengungkap kenyataan alam harus dapat menyatakan yang sebenarnya,
mengetahui/menguasai realitas yang ada dan cermat.

b. Teori Koherensi :

Seorang sarjana Barat A.C Ewing (1951:62) menulis tentang teori koherensi, ia
mengatakan bahwa koherensi yang sempurna merupakan suatu ide yang tak dapat dicapai,
akan tetapi pendapat-pendapat dapat dipertimbangkan menurut jaraknya dari ideal
tersebut. Sebagaimana pendekatan dalam aritmatik, dimana pernyataan-pernyataan terjalin
sangat teratur sehingga tiap pernyataan timbul dengan sendirinya dari pernyataan tanpa
berkontradiksi dengan pernyataan-pernyataan lainnya. Jika kita menganggap bahwa
2+2=5, maka tanpa melakukan kesalahan lebih lanjut, dapat ditarik kesimpulan yang
menyalahi tiap kebenaran aritmatik tentang angka apa saja.

c. Teori Pragmatis :

Menurut filsafat ini dinyatakan bahwa sesuatu ucapan, hukum, atau sebuah teori
semata-mata bergantung kepada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika mendatangkan
manfaat. Suatu kebenaran atau suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan
tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia.
Pragmatisme menantang segala otoritanianisme, intelektualisme dan rasionalisme.
Bagi mereka ujian kebenaran adalah manfaat (utility), kemungkinan dikerjakan
(workability) atau akibat yang memuaskan sehingga dapat dikatakan bahwa pragmatisme
adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan
dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara
praktis.
Teori ini pada dasarnya mengatakan bahwa suatu proposisi benar dilihat dari
realisasi proposisi itu. Jadi, benar-tidaknya tergantung pada konsekuensi, kebenaran suatu
pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam
kehidupan praktis, sepanjang proposisi itu berlaku atau memuaskan.
Satu-satunya yang dijadikan acuan bagi kaum pragmatis ini untuk menyebut
sesuatu sebagai kebenaran ialah jika sesuatu itu bermanfaat atau memuaskan. Apa yang
diartikan dengan benar adalah yang berguna (useful) dan yang diartikan salah adalah yang
tidak berguna (useless). Karena istilah berguna atau fungsional itu sendiri masih
samar-samar, teori ini tidak mengakui adanya kebenaran yang tetap atau mutlak.


2) A. Revolusi Paradigma :
Thomas Khun menjelaskan bahwa Paradigma merupakan suatu cara pandang, nilai-
nilai, metode-metode,prinsip dasar atau memecahkan sesuatu masalah yang dianut oleh
suatu masyarakat ilmiah pada suatu tertentu. Apabila suatu cara pandang tertentu
mendapat tantangan dari luar atau mengalami krisis, kepercayaan terhadap cara pandang
tersebut menjadi luntur, dan cara pandang yang demikian menjadi kurang berwibawa,
pada saat itulah menjadi pertanda telah terjadi pergeseran paradigma.
2
Fungsi dari
Paradigma menyediakan puzzle bagi para ilmuwan. Paradigma sekaligus menyediakan
alat untuk solusinya. Ilmu digambarkan oleh Thomas Kuhn sebagai sebuah kegiatan
menyelesaikan puzzle.Thomas Kuhn pertamakali menggunakannya dalam sains,
menunjukkan bahwa penelitian ilmiah tidak menuju ke kebenaran. Penelitian ilmiah
sangat tergantung pada dogma dan terikat pada teori yang lama. Dalam pemikiran Kuhn
paradigma secara tidak langsung mempengaruhi proses ilmiah dalam empat cara dasar.
Yaitu: Apa yang harus dipelajari dan diteliti, Pertanyaan yang harus ditanyakan, Struktur
sebenarnya dan sifat dasar dari pertanyaan itu, Bagaimana hasil dari riset apapun
diinterpretasikan.
Kuhn mempercayai bahwa ilmu pengetahuan memiliki periode pengumpulan data dalam
sebuah paradigma. Revolusi kemudian terjadi setelah sebuah paradigma menjadi dewasa.
Paradigma mampu mengatasi anomali. Beberapa anomali masih dapat diatasi dalam
sebuah paradigma. Namun demikian ketika banyak anomali-anomali yang mengganggu
yang mengancam matrik(acuan) disiplin maka paradigma tidak bisa dipertahankan lagi.
Ketika sebuah paradigma tidak bisa dipertahankan maka para ilmuan bisa berpindah ke
paradigma baru. Ketika berada pada periode pengumpulan data maka ilmu pengetahuan
mengalami apa yang dikatakan perkembangan ilmu biasa. Dalam perkembangan ilmu
biasa sebuah ilmu pengetahuan mengalami perkembangan. Ketika Paradigma mengalami
pergeseran maka itu disebut masa revolusioner. Ilmu dalam tahap biasa bisa dikatakan
sebagai pengumpulan yang semakin banyak dari solusi Puzzle. Sedangkan pada tahap
revolusi ilmiah terdapat revisi dari kepercayaan ilmiah atau praktek. Thomas Kuhn
menyebutkan kurang lebihnya dalam hal ini yang akan pemakalah jelaskan secara rinci
pada bagian berikutnya yaitu tentang ; pradigma sains yang normal, anomali munculnya
penemuan sains, revolusi sebagai perubahan pandangan atas dunia, dan pemecahan
revolusi.


B. Penggandaan Paradigma :
Di satu pihak paradigma berarti keseluruan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik
yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu. Di pihak lain paradigma
menunjukan sejenis unsur pemecahan teka-teki yang kongkrit yang jika digunakan
sebagai model, pola, atau contoh dapat menggantikan kaidah-kaidah yang secara
eksplisit sebagai menjadi dasar bagi pemecahan permasalahan dan teka-teki normal sains
yang belum tuntas.
Paradigma merupakan elemen primer dalam progress sains. Seorang ilmuan selalu
bekerja dengan paradigma tertentu, dan teori-teori ilmiah dibangun berdasarkan
paradigma dasar. Melalui sebuah paradigma seorang ilmuan dapat memecahkan
kesulitan-kesulitan yang lahir dalam kerangka ilmunya, sampai muncul begitu banyak
anomali yang tidak dapat dimasukkan ke dalam kerangka ilmunya sehingga menuntut
adanya revolusi paradigmatik terhadap ilmu tersebut. Menurut Khun, ilmu dapat
berkembang secara open-ended ( sifatnya selalu terbuka untuk direduksi dan
dikembangkan). Kuhn berusaha menjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan
situasi sejarah dengan demikian diharapkan filsafat ilmu lebih mendekati kenyataan ilmu
dan aktifitas ilmiah sesungguhnya. Menurut Kuhn ilmu harus berkembang secara
revolusioner bukan secara kumulatif sebagaimana anggapan kaum rasonalis dan empiris
klasik sehingga dalam teori Kuhn, faktor sosiologis historis serta psikologis ikut
berperan.
Paradigma membantu seseorang dalam merumuskan tentang apa yang harus
dipelajari, persoalan apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus diikuti dalam
menginterpretasikan jawaban yang diperoleh.

3) Aspek Ontologi :
Newton berhasil menyintesiskan berbagai pandangan sains pendahulunya dengan
apik dan sistematis, sehingga bangunan fisikanya menjadi utuh. Menurut hasil kajian
Sayyed Hossein Nasr, sintesis tersebut ialah,....such as Descartes Universal Science,
the rules and methods outlined by Francis Bacon, the cosmology and physics of Galileo,
William Gilberts theory af attraction between bodies, Keplers idea of force and innertia
and atomism with its roots in neo-Epicurian philosophy (Nasr, 1996: 140).
Newton, dengan melakukan sintesis dari berbagai sumber tersebut, mengkomplitkan
penciptaan sains-baru (new science) yang menandai era baru sains: sains modern.
Newton menggabungkan mimpi visioner rasionalisme Descartes dan visi empirisme
Bacon, agar dapat ditransformasikan ke dalam kehidupan nyata, melalui peletakan dasar-
dasar mekanika. Ia memadukan Copernicus, Kepler, dan Galileo di bawah asumsi
kosmologis Descartesian yang mekanistik, atomistik, deterministik, linear, dan serba
kuantitatif, dan pada saat yang sama, ia menerapkan metode eksperimental-induktif
Baconian (Heriyanto, 2003: 40).Aspek epistemologiAkibat asumsi dari keterpilahan dan
keterpisahan atas kesadaran dan materi, maka dalam pandangan epistemologi modern
terdapat keterpilahan dan keterpisahan antara subjek dengan objek. Epistemologi
newtonian menganggap bahwa objek dengan begitu saja dapat hadir kepada subjek,
tanpa samasekali terkait dengan subjek. Nilai objek bebas konstruksi dari subjek. Hal ini
yang kemudian membuat kalangan ilmuwan modern menganggap bahwa ilmu
pengetahuan bebas dari nilai.

Aspek Aksiologi :

Nilai-nilai (aksiologis) modern ialah suatu nilai yang disandarkan pada pandangan-
dunia modern. Jika dalam pandangan-dunia modern menganggap bahwa semakin mampu
manusia menguasai alam, dan hal itu disebut sebagai kemajuan, maka aksiologinya ialah
menguasai alam merupakan hal baik. Jika nilai kehidupan manusia yang baik itu
dipandang dari upaya kepemilikan, maka aksiologinya ialah ukuran kebaikan hidup
diukur dari seberapa banyak kepemilikannya, kuantitas. Sebagai contoh, kapitalisme
tidak bisa dipungkiri turut menciptakan dengan dominan akan segala kerusakan dan
ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan. Kapitalisme merupakan anak pandangan-
dunia modern. Hal tersebut dapat diidentifikasikan pada pola relasi sosial yang dibangun
oleh kapitalisme, yakni aku dan yang lain, serta penekanannya pada akumulasi
kapital (kepemilikan). Secara ontologis kapitalisme bersifat atomistik, yaitu melihat
individu sebagai atom masyarakat-ekonomi, yang tersusun sedemikian rupa layaknya
puzzle, yang dapat dipisah-pisahkan begitu saja. Ketika pandangan-dunia modern
menghegemoni masyarakat kebanyakan, hingga sampai sekarang, tak ayal kapitalisme
juga menjadi nilai rujukan kehidupan sosial, yakni pola relasi sosial.

Aspek Epistimologi :
Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula
atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan.Pengertian paling
umum pada ontologi adalah bagian dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat
dari sesuatu. Pengertian ini menjadi melebar dan dikaji secara tersendiri menurut lingkup
cabang-cabang keilmuan tersendiri. Pengertian ontologi ini menjadi sangat beragam dan
berubah sesuai dengan berjalannya waktu. Keterkaitannya dengan hukum Newton yaitu
inti atau bunyi dari hokum Newton tersebut.
Paradigma ini memiliki enam asumsi, yakni:
1. Subjektivisme-antroposentik: sebuah kesadaran subjektif yang meyakini manusia
sebagai pusat dunia
2. Dualisme: dikotomi antara subjek dan objek, manusia dan alam, dengan
menempatkan subjek/manusia sebagai yang superior
3. Mekanistik deterministik: alam merupakan mesin raksasa yang bekerja secara
mekanis, tak bernyawa dan statis serta telah dikondisikan seluruhnya oleh sistem
yang telah pasti secara alamiah
4. Reduksionisme-Atomistik: kepercayaan bahwa keseluruhan dapat dipahami secara
sempurna dengan menganalisis bagian-bagiannya, dan segalanya itu adalah unsur
atom-atom
5. Instrumentalisme: Kebenaran mesti diukur secara kuantitatif dan sejauh mana ia
dapat digunakan untuk kepentingan material dan praktis
6. Materialisme-Saintisme: materilah yang merupakan yang riil, dan alam
merupakan dunia materi yang mandiri tanpa sebab atau kendali supranatural dan
yang dapat menjelaskan alam semesta secara memuaskan hanyalah sains.
Filsafat sains baru (Chapra) :

Ritjop Chapra menyebutkan bahwa sains modern menganut paradigma mekanistik-
positivisme Cartesian-Newtonian yang memisahkan antara pikiran dan materi sehingga
membawa kita pada pandangan alam semesta sebagai sebuah sistem mekanis yang terdiri
dari benda-benda yang terpisah, yang nantinya bisa direduksi menjadi balok-balok
bangunan materi pokok yang sifat-sifat dan interaksinya dianggap sangat menentukan
semua fenomena alam. Pandangan alam semesta Cartesian semacam ini kemudian
dikembangkan lebih jauh hingga pada organisme hidup, yang dianggap sebagai mesin
yang dibangun atas bagian-bagian yang terpisah. Kita akan melihat bahwa konsep dunia
mekanis semacam ini masih menjadi dasar bagi sebagian besar ilmu kita dan tetap
memiliki pengaruh yang luar biasa pada banyak aspek kehidupan kita. Konsep ini telah
menimbulkan pemisahan yang begitu terkenal dalam disiplin akademik dan sistem
pemerintahan kita dan telah berfungsi sebagai dasar pemikiran untuk memperlakukan
lingkungan alam seolah-olah terdiri dari bagian-bagian yang terpisah untuk dieksploitasi
oleh berbagai kelompok yang berkepentingan.
Pendapat saya : Pemikiran tentang sains baru akan berdampak positif terhadap
perencanaan, ini disebabkan oleh kebebasan untuk membentuk suatu organisasi kerja
yang baru akan memudahkan kita mengikuti perkembangan zaman yang cukup
dinamis

4) Positivisme :
Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-
satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan
metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.
Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk
memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum idealisme khususnya
idealisme Jerman Klasik).
Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada
kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris
dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan.
Positivisme paradigma IPA.
Istilah ini digunakan pertama kali oleh Saint Simon (sekitar tahhun 1825).
Positivisme berakar pada empirisme. Prinsip filosofik tentang positivisme dikembangkan
pertama kali oleh empirist Francis Bacon.
Tesis positivise adalah : bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan valid, dan fakta-
fakta sajalah yang mungkin dapat menjadi obyek pengetahuan. Dalam perkembangannya
ada tiga positivisme, yaitu positivisme sosial, positivisme evolusioner dan positivisme
kritis.

Pospositivisme :
Munculnya gugatan terhadap positivisme di mulai tahun 1970-1980an. Pemikirannya
dinamai post-positivisme. Tokohnya; Karl R. Popper, Thomas Kuhn, para filsuf mazhab
Frankfurt (Feyerabend, Richard Rotry). Paham ini menentang positivisme, alasannya tidak
mungkin menyamaratakan ilmu-ilmu tentang manusia dengan ilmu alam, karena tindakan
manusia tidak bisa di prediksi dengan satu penjelasan yang mutlak pasti, sebab manusia
selalu berubah. Post positivisme merupakan aliran yang ingin memperbaiki kelemahan-
kelemahan positivisme yang hanya mengandalkan kemampuan pengamatan langsung
terhadap objek yang diteliti. Secara ontologis aliran ini bersifat critical realism yang
memandang bahwa realitas memang ada dalam kenyataan, sesuai dengan hukum alam,
tetapi satu hal yang mustahil bila suatu realitas dapat dilihat secara benar oleh manusia
(peneliti). Oleh karena itu, secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi
tidaklah cukup, tetapi harus menggunakan metode triangulation yaitu penggunaan
bermacam-macam metode, sumber data, peneliti dan teori.
Post positivisme merupakan sebuah aliran yang datang setelah positivism dan
memang amat dekat dengan paradigma positivisme. Salah satu indikator yang membedakan
antara keduanya bahwa post positivisme lebih mempercayai proses verifikasi terhadap suatu
temuan hasil observasi melalui berbagai macam metode. Dengan demikian suatu ilmu
memang betul mencapai objektivitas apabila telah diverifikasi oleh berbagai kalangan
dengan berbagai cara. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas tentang
pembahasan verifikasi secara mendalam.
Asumsi Dasar Post-Positivsme
1. Fakta tidak bebas nilai, melainkan bermuatan teori.
2. Falibilitas Teori, tidak satupun teori yang dapat sepenuhnya dijelaskan dengan bukti-
bukti empiris, bukti empiris memiliki kemungkinan untuk menunjukkan fakta anomali.
3. Fakta tidak bebas melainkan penuh dengan nilai.
4. Interaksi antara subjek dan objek penelitian. Hasil penelitian bukanlah reportase
objektif melainkan hasil interaksi manusia dan semesta yang penuh dengan
persoalandan senantiasa berubah.
5. Asumsi dasar post-positivisme tentang realitas adalah jamak individual.
6. Hal itu berarti bahwa realitas (perilaku manusia) tidak tunggal melainkan hanya bisa
menjelaskan dirinya sendiri menurut unit tindakan yang bersangkutan.
7. Fokus kajian post-positivis adalah tindakan-tindakan (actions) manusia sebagai ekspresi
dari sebuah keputusan.




Paradigma Kritis

Paradigma kritis lahir sebagai koreksi dari pandangan kontruktivisme yang kurang
sensitif pada proses produksi dan reprosuksi makna yang terjadi secara historis maupun
intitusional. Analisis teori kritis tidak berpusat pada kebenaran/ketidakbenaran struktur tata
bahasa atau proses penafsiran seperti pada konstruktivisme. Beberapa teori yang dinaungi
oleh Paradigma Kritis diantaranya yakni Teori Feminis dan Teori Analisis Wacana

Paradigma Konstruktivisme

Paradigma konstruksionis memandang realitas kehidupan sosial bukanlah realitas yang
natural, tetapi terbentuk dari hasil konstruksi. Karenanya, konsentrasi analisis pada
paradigma konstruksionis adalah menemukan bagaimana peristiwa atau realitas tersebut
dikonstruksi, dengan cara apa konstruksi itu dibentuk. Dalam studi komunikasi, paradigma
konstruksionis ini sering sekali disebut sebagai paradigma produksi dan pertukaran makna. Ia
sering dilawankan dengan paradigma positivis atau paradigma transmisi.
Paradigma Konstruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahlkan subjek
dengan objek komunikasi. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat
sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai
penyampai pesan. Konstruktivisme justru menganggap subjek (komunikan/decoder) sebagai
faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosial.
Adabeberapa teori yang terdapat dalam lingkup paradigma Kontruktivisme ini,
diantaranya yaitu Teori Kegunaan dan Kepuasan


: