Você está na página 1de 4

Fungsi Terapeutik Bermain Bagi Anak Usia Sekolah

Monty P.Satiadarma
Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta
Bermain
Bermain merupakan sarana bagai anak-anak untuk belajar mengenal
lingkungan kehidupannya. Pada saat bermain, anak-anak mencobakan
gagasan-gagasan mereka, bertanya serta mempertanyakan berbagai
persoalan, dan memperoleh jawaban atas persoalan-persoalan
mereka. Melalui permainan menyusun balok misalnya anak-anak
belajar menghubungan ukuran suatu obyek dengan lainnya. Mereka
belajar memahami bagaimana balok yang besar menopang balok
yang kecil. Mereka belajar konsep bagaimana hal-hal yang lebih besar
mampu menopang hal-hal yang lebih kecil.
Bermain tidak sekedar bermain-main. Bermain memberikan
kesempatan pada anak untuk mengembangkan kemampuan
emosional, fsik, sosial dan nalar mereka. Melalui interkasinya dengan
permainan., seorang anak belajar meningkatkan toleransi mereka
terhadap kondisi yang secara potensial dapat menimbulkan frustrasi.
Kegagalan membuat rangkaian sejumlah obyek atau mengkonstruksi
suatu bentuk tertentu dapat menyebabkan anak mengalamai
frustrasi. engan mendampingi anak pada saat bermain, pendidik
dapat melatih anak untuk belajar bersabar, mengendalikan diri dan
tidak cepat putus asa dalam mengkonstruksi sesuatu. Bimbingan
yang baik bagi anak mengarahkan anak untuk dapat mengendalikan
dirinya kelak di kemudian hari untuk tidak cepat frustrasi dalam
menghadapi permasalahan kelak di kemudian hari.
!ecara fsik, bermain memberikan peluang bagi anak untuk
mengembangkan kemampuan motoriknya. Permaian seperti dalam
olahraga mengembangkan kelenturan, kekuatan serta ketahanan otot
pada anak. Permaian dengan kata-kata "mengucapkan kata-kata#
merupakan suatu kegiatan melatih otot organ bicara sehingga kelak
pengucapan kata-kata menjadi lebih baik.
alam bermain, anak juga belajar berinteraksi secara sosial, berlatih
untuk saling berbagi dengan orang lain, menignkatkan tolerasi sosial,
dan belajar berperan aktif untuk memberikan kontribusi sosial bagi
kelompoknya. i samping itu, dalam bermain anak juga belajar
menjalankan perannya, baik yang berkaitan dengan jender "jenis
kelamin# maupun yang berkaitan dengan peran dalam kelompok
bermainnya. Misalnya dalam permainan perang-perangan seorang
anak belajar menjadi pimpinan, kapten sedangkan lainnya
menjalankan peran sebagai pendukung. alam hubungannya dengan
jender, anak-anak melakukan permainan stereotype sesuai dengan
budaya dan masyarakat setempat. Misalnya, anak-anak perempuan
bermain masak-masakan, sementara anak laki-laki bermain perang-
perangan. alam hal ini anak-anak menjalani proses pembentukan
identifkasi diri dengan bercermin pada hal-hal yang ada di tengah
masyarakat.
Melalui bermain, anak juga berkesempatan untuk mengembangkan
kemampuan nalarnya, karena melalui permainan serta alat-alat
permainan anak-anak belajar mengerti dan memahami suatu gejala
tertentu. Kegiatan ini sendiri merupakan suatu proses dinamis di
mana seorang anak memperoleh informasi dan pengetahuan yang
kelak dijadikan landasar dasar pengetahuannya dalam proses belajar
berikutnya di kemudian hari.


$sia !ekolah
alam usia sekolah tuntutan yang dihadapi oleh anak semakin
banyak. %ekanan sekolah, lingkungan sebaya "peer group#, serta
tuntutan belajar yang semakin tinggi membuat anak harus lebih
mampu menghadapi tuntutan sosial masyarakat. Bahkan tidak jarang
orang tua pun menuntut anak demikian besar untuk berprestasi
tinggi, dan adakalanya harapan orang tua melebihi kapasitas anak
untuk dapat mencapainya.
Berbagai kondisi sosial yang penuh tuntutan baik dari sekolah, teman
sebaya maupun orang tua dapat menimbulkan berbagai
permasalahan bagi anak antara lain dalam proses belajar. &nak sulit
berkonsentrasi. Perstasi anak menurun dengan sangat tajam. Moti'asi
anak untuk belajar sangat minim. Berbagai keluhan tersebut
merupakan sebagian kecil keluhan rutin yang kerap disampaikan oleh
para orang tua pada konselor. %idak jarang bahakan orang tua justru
menekankan keluhan bahwa anak-anak mereka terlalu senang
bermain, sehingga kurang belajar. Padahal justru melalui bermain,
mereka bisa belajar lebih banyak lagi.
(ungsi %erapeutik Bermain
Bermain dan alat-alat permainan memiliki fungsi terapeutik. Proses
belajar anak justru sebaiknya dilakukan melalui metode bermain dan
dengan alat-alat permainan. )amun hal ini hendaknya tidak disalah
artikan dengan istilah *main-main*. Proses belajar dapat merupakan
proses yang sangat membosankan untuk dikerjakan oleh anak-anak,
sedangkan anak-anak biasanya lebih tertarik dengan permainan.
Karena, proses bermain dan alat-alat permainan merupakan
perangkat komunikasi bagi anak-anak. Melalui bermain anak-anak
belajar berkomunikasi dengan lingkungan hidupnya, lingkungan
sosialnya serta dengan dirinya sendiri. Melalui bermain anak-anak
belajar mengerti dan memahami lingkungan alam dan sekitarnya.
Melalui bermain anak-anak belajar mengerti dan memahami interaksi
sosial dengan orang-orang di sekelilingnya. Melalui bermain anak-
anak mengembangkan fantasi, daya imajinasi dan kreati'itasnya.
Bermain merupakan proses dinamis yang sesungguhnya tidak
menghambat anak dalam proses belajar, sebaliknya justru menunjang
proses belajar anak. Keberatan orang tua terhadap akti'itas bermain
anak justru menghambat kemampuan kreati'itas anak untuk
mengenal dirinya sendiri sendiri serta lingkungan hidupnya. +anya
saja, proses bermain anak perlu diarahkan sesuai dengan
kebutuhannya. &nak-anak yang cenderung menyendiri sebaiknya
tidak dibiarakan untuk terlalu sibuk dengan *solitary play*. !ebaliknya
mereka sebaiknya diarahkan untuk lebih aktif dalam permainan
kelompok "social game#. Mereka yang kurang mampu untuk
berkonsentrasi dapat diberikan berbagai jenis permainan yang lebih
terarah pada pemusatan perhatian seperti mengkonstruksi suatu
benda tertentu. &nak-anak yang kurang mampu untuk
mengekspressikan diri secara 'erbal dapat dibina untuk
mengembangkan bakat kreatifnya melalui media misalnya
menggambar. )amun pendidik juga selayaknya membimbing anak
dalam mengekspressikan imajinasi serta fantasinya ke dalam bentuk
gambaran yang konkrit dan tidak membiarkan anak-anak berfantasi
tanpa arah yang jelas, karena hal ini dapat mengakibatkan
konfabulasi dalam proses berpikir anak.
Kemampuan mengingat anak adakalanya terbatas karena perhatian
anak yang kurang terhadap hal-hal tertentu. Kondisi seperti ini dapat
diperbaiki dengan menggunakan pola assosiatif misalnya dengan
menggunakan warna-warna tertentu pada hal-hal tertentu sehingga
anak dapat dengan mudah mengingat hal tersebut jika ia mengenal
warnanya. Bentuk-bentuk tertentu dari yang mulai sederhana sampai
yang lebih kompleks juga dapat diberikan pada anak untuk mengingat
hal-hal tertentu. Misalnya mengingat bentuk huruf - dengan
menyertai gambar -umah.
emikian banyak hal yang dapat dikembangkan melalui proses
bermain bagi kesejahteraan pertumbuhan dan perkembangan anak.
.rang tua hendaknya tidak bersikap anti-pati terhadap proses
bermain, karena dalam proses bermain anak terkandung proses
belajar, dan dalam proses belajar anak terkandung unsur terapeutik
bagi anak agar lebih tangguh dalam menghadapi lingkungan hidup
mereka di kalangan masyarakat luas, kelompok sebayanya maupun
lingkungan hidupnya secara umum.


Kepustakaan/
ia0, &. "1223#. (reeing the creati'e spirit. !an (ransisco/ +arper
4abarino, 5., !tott, (.M., 6 (aculty of %he 7rikson 8nstitute "1292#. :hat
children can
tell us. !an (ransisco/ 5ossey-Bass
!chwart0, !., 6 +ellen Miller, 5.7. "1299#. %he language of toys.
Maryland/ :oodbine +ouse.