Você está na página 1de 7

Tugas

Agama











Oleh :
I Dewa Made Agus Dwipayana

BAPPPEPAR
2014/2015

AGAMA

I. Pendahuluan
Tidak bisa dipungkiri bahwa Agama Hindu tidak terlepas dari peradaban zaman
India Kuno pada waktu itu. Peradaban yang dilatarbelakangi oleh adat istiadat dn
kepercayaan-kepercayaan, sungguh menjadi khazanah wawasan keagamaan tersendiri
bagi agama Hindu dan pemeluknya. Agama Hindu merupakan salah satu contoh agama
yang kami angkat tema pada kali ini merupakan hasil dari sejarah. Dari pada itu sejarah
merupakan hal yang mendasari segala aspek kehidupan. Pada kali ini kami ingin
memaparkan secara sederhana tentang asal-usul Agama Hindu. Semoga dapat bermanfaat
bagi kita semua.

II. Asal-usul Agama Hindu dan Pembawanya
Agama Hindu adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India.
Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang
merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan
muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di
dunia yang masih bertahan hingga kini. Agama ini merupakan agama ketiga
terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat
sebanyak hampir 1 miliar jiwa. Dalam bahasa Persia, kata Hindu berakar dari
kata Sindhu (Bahasa Sanskerta). Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut
wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat
daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus).
Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta
(Vendidad: Fargard 1.18) sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada
awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai
Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika
beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman
munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul semuanya
masih mengenal sebagai ajaran Weda. Agama Hindu sebagaimana nama yang
dikenal sekarang ini, pada awalnya tidak disebut demikian, bahkan dahulu ia
tidak memerlukan nama, karena pada waktu itu ia merupakan agama satu-
satunya yg ada di muka bumi. Sanatana Dharma adalah nama sebelum nama
Hindu diberikan. Sanatana dharma yang memiliki makna "kebenaran yg kekal
abadi" dan jauh belakangan setelah ada agama-agama lainnya barulah ia diberi
nama untuk membedakan antara satu dengan yang lainnya. Sanatana dharma
pada zaman dahulu kala dianut oleh masyarakat di sekitar lembah sungai
shindu, penganut Weda ini disebut oleh orang-orang Persia sebagai orang indu
(tanpa kedengaran bunyi s), selanjutnya lama-kelamaan nama indu ini menjadi
Hindu. Sehingga sampai sekarang penganut sanatana dharma disebut
Hindu. Agama hindu adalah suatu kepercayaan yang didasarkan pada kitab suci
yang disebut Weda. Weda diyakini sebagai pengetahuan yang tanpa awal tanpa
akhir dan juga dipercayai keluar dari nafas Tuhan bersamaan dengan terciptanya
dunia ini. Karena sifat ajarannya yng kekal abadi tanpa awal tanpa akhir maka ia
disebut sanatana dharma. Apabila membahas tentang Agama Hindu, kita harus
mengetahui sejarah tempat munculnya agama tersebut. India adalah sebuah
Negara yang penuh dengan rahasia dan cerita dongeng, masyarakatnya
berbangsa-bangsa dan berkasta-kasta, malah ada masyarakat dalam
masyarakat, serta sungguh banyak ditemui agama-agama. Bahasa dan warna
kulit pun bermacam-macam. Pembicaraan mengenai India berarti adalah
pembicaraan yang bercabang-cabang. Dipandang dari sudut ethnologi, India
adalah tanah yang beraneka penduduknya, dan akibatnya orang dapat melihat
kebudayaan yang beraneka pula. Semuanya ini tercermin dalam agamanya.
Oleh karena itu barangsiapa mulai mempelajari agama Hindu ia akan segera
merasa terlibat dalam sejumlah ajaran-ajaran, sehingga hampir tidak dapat
menemukan jalan untuk mengadakan penyelidikan. Sepanjang orang dapat
menyelidikinya, maka sejarah kebudayaan India mulai pada zaman
perkembangan kebudayaan-kebudayaan yang besar di Mesopotamia dan Mesir.
Antara 3000 dan 2000 tahun sebelum Masehi, rupa-rupanya di lembah sungai
Sindhu (Indus) tinggallah bangsa-bangsa yang peradabannya menyerupai
kebudayaan bangsa Sumeria di daerah sungai Efrat dan Tigris. Berbagai cap
daripada gading dan tembikar yang ada tanda-tanda tulisan dan lukisan-lukisan
binatang, menceritakan kepada kita bahwa di dalam zaman itu di sepanjang
pantai dari Laut Tengah sampai ke Teluk Benggala terdapat sejenis peradaban
yang sama dan yang sudah meningkat pada perkembangan yang tinggi. Sisa-
sisa kebudayaan tersebut terutama terdapat di dekat kota Harappa di Punjab
dan di sebelah utara Karachi. Bahkan disitu diketemukan sisa-sisa sebuah kota,
Mohenjodaro namanya, di mana ternyata orang telah mempunyai rumah-rumah
yang berdinding tebal dan bertangga. Dalam hal ini, India menandingi Mesir,
Cina, Assyria, dan Bailonia. Tetapi, peradaban India yang mendahului zaman
Arya hanya baru dapat diketahui dan ditemukan dengan pengungkapan-
pengungkapan baru dalam tingkatan kemajuan yang pernah dicapai oleh India
dalam bidang arsitektur, pertanian, dan kemasyarakatan sejak masa 300 tahun
SM, yaitu 1500 tahun sebelum kedatangan bangsa Arya. Antara 2000 dan 1000
tahun SM masuklah ke India dari sebelah utara kaum Arya, yang memisahkan
diri dari kaum sebangsanya di Iran dan yang memasuki India melalui jurang-
jurang di pegunungan Hindu-Kush. Bangsa Arya itu serumpun dengan bangsa
Jerman, Yunani dan Romawi dan bangsa-bangsa lainnya di Eropa dan Asia.
Mereka tergolong dalam apa yang kita sebut rumpun-bangsa Indo-German.
Hinduisme dapat disamakan dengan rimba raja yang penuh dengan pohon-
pohonan, tanam-tanaman, tumbuh-tumbuhan dan kembang-kembangan,
pendeknya suatu serba ragam yang sulit sekali. Karena Hinduisme
memperlihatkan berbagai bentuk dan bermacam-macam gejala-gejala agama.
Suatu penyampuradukkan dari pada tokoh-tokoh dewa, bentuk-bentuk kultur,
sel-sel agama dan mazhab-mazhab agama berdasarkan filsafat. Suatu
perbedaan yang rumit antara pernyataan-pernyataan mistik yang sangat murni
dan luhur atau pernyataan cinta yang mesra terhadap dewata pemurah yang
tunggal dan bentuk-bentuk keagamaan dimana nafsu-nafsu manusia yang
rendah dengan sejarah kasar menampakkan dirinya. Gambaran yang diberikan
Hinduisme dalam keseluruhannya memang beraneka warna dan mengacaukan.
Pesan pertama yang kita dapat ialah bahwa dalam Hinduisme boleh dikatakan
terhimpun seluruh sejarah agama dengan segala ragam dan bentuk
kesalahannya. Tidaklah mudah untuk menentukan dengan kata-kata singkat,
apa sebenarnya Hinduisme itu. Oleh karena itu, Hinduisme hamper sama sekali
tak mempunyai bentuk dan terlalu merupakan suatu himpunan unsure-uunsur
yang tak sama. Tetapi terutama sekali oleh karena terhadap Hinduisme tak
dapat dipakai rumusan-rumusan yang biasa dipakai untuk merumuskan apakah
agam itu. bangsa-bangsa Arya itu ketika masuk ke India kurang beradab
daripada bangsa Drawida yang ditaklukkannya. Tetapi mereka lebih unggul
dalam ilmu peperangan daripada bangsa Drawida. Pada waktu bangsa Arya
masuk ke India, mereka itu masih merupakan bangsa setengah nomad
(pengembara)., yang baginya peternakan lebih besar artinya daripada pertanian.
Bagi bangsa Arya, kuda dan lembu adalah binatang-binatang yang sangat
dihargai, sehingga binatang-binatang itu dianggap suci. Dibandingkan dengan
bangsa Drawida yang tinggal di kota-kota dan mengusahakan pertanian serta
menyelenggarakan perniagaan di sepanjang pantai, maka bangsa Arya itu
bolehlah dikatakan primitive. Dahulu orang tidak tahu dengan tepat dan selalu
memandang kebudayaan yang dibawa oleh bangsa Arya. Tetapi terutama
sesudah penggalian-penggalian tersebut di atas, berubahlah pandangan orang
dan makin banyak diketahui, bahwa bermacam-macam unsure di dalam
kebudayaan India berasal dari kebudayaan Drawida yang tua itu. Umpamanya
saja bangsa Arya belum mempunyai patung-patung dewa, bangsa Drawida
sudah. Sebuah gejala yang tipik atau khas di dalam agama Hindu ialah
pengakuan adanya dewa-dewi induk. Itupun suatu gejala pra-Arya. Demikian
pula banyak gejala-gejala Agama Hindu yang rupa-rupanya tidak berasal dari
agama bangsa Arya, melainkan berasal dari aama bangsa Drawida. Jadi
dapatlah dikonstatir dengan jelas bahwa Agama Hindu sebagai agama tumbuh
dari dua sumber yang berlainan, tumbuh dari perasaan dan fikiran keagamaan
dua bangsa yang berlainan, yang mula-mula dalam banyak hal sangat berlainan,
tetapi kemudian lebur menjadi satu. Di dalam tulisan-tulisan Hinduistis yang
tertua, unsur-unsur Arya lah yang sangat besar pengaruhnya. Hal itu tidak
mengherankan karena tulisan-tulisan itu berasal dari zaman bangsa Arya
memasuki India dengan kemenangan-kemenangan, jadi pengaruh Drawida
tentunya belum begitu besar. Agama bangsa Arya kita kenal dari kitab-kitabnya
yang mengenai agamanya, yakni kitab-kitab Weda (Weda artinya tahu). Oleh
karena itu masa yang tertua dari agama Hindu disebut masa Weda. Maulana
Mohamed Abdul Salam al-Ramburi juga berkata: Umat India mudah menerima
apa saja pemikiran dan kepercayaan yang ditemuinya. Di kalangan mereka
banyak terdapat pendapat dan kejahilan. Orang-orang berada dalam
kebingungan dan bersedia menerima dan mengukuhkan semua ini.
Kepercayaan mereka bermacam-macam, pemikiran mereka bercabang-cabang,
gejala ketuhanan merebak, begitu juga ilmu-ilmu kebatinan. Sarana-sarana
untuk berfikir dan menyepi telah disediakan di seluruh penjuru negeri India oleh
para Pendeta dan Cendekiawan. Lahirlah beberapa pengkajian moral yang
diikuti oleh segenap golongan masyarakat. Tersebar jugalah latihan-latihan
badan yang berat dan sulit untuk mendapatkan suatu kekuatan yang dapat
menguasai kekuatan alam. Pertapaan di gua-gua sebagai suatu pengawasan
atas diri adalah menjadi tumpuan, begitu juga pengasingan diri ke hutan-hutan
rimba untuk melemaskan tubuh supaya dapat naik mencapai kekuatan rohani.
Oleh karena itu, Negara India terkenal mempunyai banyak agama dan
kepercayaan yang menyamai atau hamper-hampir sama banyaknya dengan
jumlah bahasa India. Agama Hindu adalah yang termasyhur di antara agama-
agama ini dan luas sekali penyebarannya, malah dialah agama umum yang
meliputi kebanyakan atau semua orang India. Kadang-kadangn sekiranya
mereka atau sebgian dari mereka bangkit menentangnya, penentang-penentang
itu lambat laun akan kembali ke pangkuannya. Buku Hinduism telah
menerangkan sebab-sebab terjadinya hal demikian dengan menuliskan: Amat
sulit untuk dikatakan bahwa Hinduisme itu adalah suatu agama dalam
pengertiannya yang sangat luas. Hinduisme lebih meliputi dan lebih dalam
daripada agama. Ini merupakan suatu sifat bagu bentuk masyarakat India
dengan aturan berkasta-kasta dan kedudukan tiap-tiap kasta itu di dalam
masyarakat. Ini merupakan kehidupan India dengan caranya tersendiri yang
dianggap sebagai satu dari semua masalah suci dan masalah hina karena di
dalam pemikiran Hindu tidak ada batas yang memisahkan keduanya. Ini
merupakan aliran-aliran rohani, moral dan perundangan. Di samping itu, ia juga
merupakan prinsip-prinsip, ikatan-ikatan, dan kebiasaan-kebiasaan yang
menguasai dan mengendalikan kehidupan Hindu. Agama Hindu adalah suatu
agama yang berevolusi dan merupakan kumpulan adat-istiadat dan kedudukan
yang timbul dari hasil penyusunan bangsa Arya terhadap kehidupan mereka
yang terjadi pada satu generasi ke generasi yang lain sesudah mereka datang
berpindah ke India dan menundukkan penduduk asli itu. Kedudukan bangsa
Arya sebagai penakluk negeri yang lebih tinggi daripada kedudukan penduduk
asli serta pergaulan mereka telah melahirkan adat-istiadat Hindu itu yang
dianggap menurut perputaran sejarah, sebagai suatu agama yang dianut dan
dipegang tata susilanya oleh orang-orang India. Kiranya dapat dikatakan bahwa
asas Agama Hindu adalah kepercayaan bangsa Arya yang telah mengalami
perubahan sebagai hasil dari percampuran mereka dengan bangsa-bangsa lain,
terutama sekali adalah bangsa Parsi, yaitu sewaktu dalam masa perjalanan
mereka menuju India. Kemudian, kepercayaan-kepercayaan ini menerima kesan
pula di negeri India setelah berbenturan dengan pemikiran-pemikiran penduduk
asli dan dengan falsafah-falsafah dan pemikiran-pemikiran yang telah ada di
India dalam beberapa tingkatan sejarah yang berjauhan hingga Agama Hindu itu
menyimpang jauh dari kepercayaan asli bangsa Arya. Agama Hindu lebih
merupakan suatu cara hidup daripada merupakan kumpulan kepercayaan.
Sejarahnya menerangkan mengenai isi kandungannya yang meliputi berbagai
kepercayaan, hal-hal yang harus dilakukan, dan yang boleh dilakukan. Agama ini
tidak mempunyai kepercayaan yang membawanya turun hingga kepada
penyembahan batu dan pohon-pohon, dan membawanya naik pula kepada
masalah-masalah falsafah yang abstrak dan halus. Seandainya Agama Hindu
tidak mempunyai pendiri yang pasti maka begitu pula halnya dengan Weda.
Kitab suci ini yang mengandung kepercayaan-kepercayaan, adat-istiadat, dan
hukum-hukum juga tidak mempunyai pencipta yang pasti. Para penganut agama
Hindu mempercayai bahwa kitab ini adalah suatu kitab yang ada sejak dahulu
yang tidak mempunyai tanggal permulaan.