Você está na página 1de 31

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II. Tinjauan Umum Kesehatan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja
1. Kesehatan Kerja

Menurut Sumamur (1976) kesehatan kerja merupakan spesialisasi
ilmu kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja
memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya baik fisik, mental
maupun sosial dengan usaha preventif atau kuratif terhadap penyakit yang
diakibatkan oleh faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap
penyakit umum.

Sebagai bagian spesifik keilmuan dalam ilmu kesehatan,
kesehatan kerja lebih memfokuskan lingkup kegiatannya pada peningkatan
kualitas hidup tenaga kerja melalui penerapan upaya kesehatan yang
bertujuan untuk :

1. Meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan pekerja.
2. Melindungi dan mencegah pekerja dari semua gangguan kesehatan
akibat lingkungan kerja atau pekerjaannya.
3. Menempatkan pekerja sesuai kemampuan fisik, mental dan pendidikan
atau keterampilannya.
4. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
Sedang rekomendasi Komite Bersama ILO/WHO pada tahun 1995,
menekankan upaya pemeliharaan kesehatan dan kapasitas kerja,
perbaikan lingkungan dan pekerjaan yang mendukung keselamatan dan
kesehatan kerja serta mengembangkan organisasi dan budaya kerja
agar tercapai iklim sosial yang positif, kelancaran produksi dan
peningkatan produktivitas. (Adriani Pusparini, 2003)

Kondisi yang mempengaruhi tingkat produktivitas tenaga kerja
adalah kondisi fisik dan kondisi mental pekerja, khususnya disaat
mereka sedang menghadapi pekerjaannya. (Basuki Kristiawan, 2009)

Laporan Kesehatan Dunia 2002 menempatkan risiko kerja pada urutan
ke sepuluh penyebab terjadinya penyakit dan kematian. (Depkes RI,
2008)

5
5
6

WHO melaporkan bahwa faktor risiko kerja memberikan
konstribusi pada beberapa penyakit antara lain penyakit punggung
(37%), kehilangan kemampuan pendengaran (16%), penyakit paru
obstruktif (13%), asma 11%, kecelakaan (10%) kanker paru (9%),
leukemi (2%). (Basuki Kristiawan, 2009)

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007, di Indonesia terdapat
106,3 juta angkatan kerja yang tersebar diberbagai lapangan kerja
dengan berbagai permasalahan yang timbul akibat pekerjaannya. Data
menunjukkan bahwa secara umum 68% bekerja disektor informal dan
32% di sektor formal. (Basuki Kristiawan, 2009)

Kondisi setiap
pekerja ini sangat dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni :
a. Beban kerja

Setiap pekerjaan apapun jenisnya apakah pekerjaan tersebut
memerlukan kekuatan otot dan/ataupun pikiran, adalah
memerlukan beban bagi yang melakukan, baik berupa beban
fisik dan beban mental.
b. Beban tambahan
Disamping beban kerja yang harus dipikul oleh pekerja, pekerja
sering memikul beban tambahan yang berupa kondisi atau
lingkungan yang tidak menguntungkan bagi pelaksanaan
pekerjaan. Beban tambahan inilah yang dapat menyebabkan
penyakit akibat kerja.
c. Kemampuan kerja
Kemampuan seseorang dalam melalui pekerjaan berbeda
dengan orang lain, meskipun pendidikan atau pengalamannya
sama dan bekerja pada suatu pekerjaan atau tugas yang sama.
Perbedaan ini disebabkan karena kapasitas orang tersebut
berbeda, yang dipengaruhi oleh nilai gizi dan kesehatan,
genetik, dan lingkungan. (Basuki Kristiawan, 2009)
2. Penyakit Akibat Kerja
Penyakit akibat kerja adalah penyakit atau gangguan kesehatan
yang diakibatkan oleh pekerjaannya atau lingkungan kerjanya, dan diperoleh
7

pada waktu melakukan pekerjaan dan masyarakat umum biasanya tidak
akan terkena. Berat ringannya penyakit dan cacat tergantung dari jenis dan
tingkat sakit. Cara menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja agak
berbeda dengan diagnosa penyakit-penyakit umum karena untuk penyakit
ini tidak cukup hanya dengan pemeriksaan klinis dan laboratoris. Akan
tetapi, harus pula diperiksa tempat, cara, dan syarat-syarat kerja. Selain itu
sebagai tambahan bagi anamnesis yang biasa, harus pula dipertanyakan
riwayat pekerjaan dari si penderita. (Basuki Kristiawan, 2009)

PENYEBAB PENYAKIT AKIBAT KERJA. (Depkes RI,2008)
1. Golongan Fisik
Bising, radiasi, suhu ekstrem, tekanan udara, vibrasi, penerangan
2. Golongan Kimiawi
Semua bahan kimia dalam bentuk debu, uap, gas, larutan, kabut
3. Golongan Biologik
Bakteri, virus, jamur dan lain-lain
4. Golongan Fisiologik/ Ergonomik
Desain tempat kerja, beban kerja
5. Golongan Psikososial
Stress psikis, monotoni kerja, tuntutan pekerjaan, dan lain-lain.
Secara umum gangguan muskuloskeletal didaerah belakang dapat
terjadi karena posisi duduk, antara lain : neck pain, back pain dan low back
pain. Penelitian mengenai neck pain maupun low back pain telah banyak
dilakukan dan terbukti mempunyai hubungan bermakna dengan posisi
tubuh saat melakukan pekerjaan. Secara teori nyeri punggung mudah
terjadi karena beberapa faktor yaitu posisi duduk yang statis terus menerus
selama kerja dan getaran yang timbul selama aktivitas .

3. Status Kesehatan Kerja. (Depkes RI, 2009)
A. Data Penyakit Akibat Kerja
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik
Depkes RI (2006-2008) mengenai kejadian penyakit akibat kerja
dirumah sakit pada tahun 2005, 2006 dan 2007, dari 10 penyakit
akibat kerja, nyeri punggung bawah menempati jumlah kasus
8

terbanyak, diikuti oleh gangguan daya dengar. Gambaran
selengkapnya tentang sepuluh penyakit akibat kerja dapat dilihat pada
tabel 3.1 berikut ini :
TABEL 1
10 (SEPULUH) KASUS PENYAKIT AKIBAT KERJA (PAK)
TERBANYAK TAHUN 2005-2007

Gambaran mengenai data angka penyakit akibat kerja juga dapat
dilihat dari hasil penelitian. Hasil survey yang dilakukan oleh
Direktorat Bina Kesehatan pada tahun 2006 di beberapa
kabupaten/kota dilaporkan mengenai sepuluh penyakit akibat kerja
menurut pekerja formal dan informal. Dapat dilihat pada tabel 3.3
berikut :
TABEL 2
DISTRIBUSI 10 PENYAKIT AKIBAT KERJA TERBESAR MENURUT
SEKTOR FORMAL DAN INFORMAL TAHUN 2006

9

Dari 10 penyakit terbesar pada pekerja diketahui penyakit
muskuloskeletal menempati persentase terbesar. Hal ini terkait dengan
faktor ergonomik seperti posisi yang salah, frekuensi dan lama kerja
serta desain dan lay out tempat kerja yang tidak sesuai. Penyakit
muskuloskeletal lebih sering terjadi pada sektor informal. (Depkes RI,
2009)

4. Tinjauan Umum Tentang Low Back Pain
a) Definisi Low Back Pain
Nyeri adalah pengalaman sensoris yang tidak menyenangkan dan
pengalaman emosional yang muncul dari kerusakan jaringan.
(International Assosiation For the Study of Pain, 1986).
Nyeri punggung bawah (NPB) adalah rasa nyeri yang dirasakan di
daerah punggung bawah, dapat menyebabkan, dapat merupakan nyeri
lokal maupun nyeri radikuler maupun keduanya. Nyeri ini terasa
diantara sudut iga terbawah sampai lipat bokong bawah yaitu di daerah
lumbal atau lumbo-sakral dan sering disertai dengan penjalaran nyeri
ke arah tungkai dan kaki. NPB yang lebih dari 6 bulan disebut kronik.
(Rahajeng Tunjung, 2009).
Rasa nyeri merupakan mekanisme pertahanan tubuh, rasa nyeri timbul
bila ada jaringan rusak dan hal ini akan menyebabkan individu
bereaksi dengan cara memindahkan stimulus nyeri (Guyton & Hall,
1997). Nyeri ini terasa diantara sudut iga terbawah sampai lipat
bokong bawah yaitu di daerah lumbal atau lumbo-sakral dan sering
disertai dengan penjalaran nyeri ke arah tungkai dan kaki. LBP yang
lebih dari 6 bulan disebut kronik. (Samuel, 2010)
Sifat berlangsungannya adalah akut dan kronis (lebih dari 12
minggu). Low back pain non spesifik adalah low back pain yang tidak
diketahui penyebab patologisnya secara nyata, seperti tumor,
osteoporosis, rheumatoid arthritis, patah tulang atau inflamasi. Dalam
masyarakat LBP tidak mengenal perbedaan umur, jenis kelamin,
pekerjaan, status sosial, tingkat pendidikan, semuanya bisa terkena
LBP. Lebih dari 80 % umat manusia dalam hidupnya pernah
10

mengalami LBP.

Disebutkan juga bahwa LBP adalah perasaan nyeri di
daerah lumbosakral dan sakroiliakal. LBP ini sering disertai penjalaran
ke tungkai sampai kaki. Mobilitas punggung bawah sangat tinggi, di
samping itu juga berfungsi menyangga beban tubuh, dan sekaligus
sangat berdekatan dengan jaringan lain yakni traktus digestivus dan
traktus urinarius. Kedua jaringan atau organ ini apabila mengalami
perubahan patologik tertentu dapat menyebabkan nyeri yang dirasakan
di daerah punggung bawah.

Pasien LBP kronis mungkin merasakan
nyeri terbatas pada garis tengah daerah lumbal (pinggang), atau
menyebar pada beberapa daerah yang lebih luas, termasuk daerah
paraspinal, tulang panggul, pinggul, atau pantat; daerah paha posterior
atau lateral, lutut atau kaki, atau di manapun di sekitar kaki. (Basuki
Kristiawan, 2009)
Nyeri Punggung Bawah merupakan gangguan musculoskeletal yang
paling sering terjadi pada pekerja dan di Negara maju menghabiskan
dana kompensasi dan dana pengobatan yang terbesar diantara penyakit
akibat kerja lainnya. (Depkes RI, 2008)
b) Epidemiologi
Nyeri punggung bawah (NPB) merupakan salah satu dari sepuluh
penyebab penderita datang berkunjung ke dokter. Hasil penelitian yang
dilakukan oleh PERDOSSI (Persatuan Dokter Saraf Seluruh Indonesia)
di Poliklinik Neurologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)
pada tahun 2002 menemukan prevalensi penderita NPB sebanyak
15,6%. Serangan pertama nyeri pinggang biasanya terjadi antara usia
30 dan 40. (Niam, 2010)
c) Faktor Risiko Nyeri Punggung Bawah
Nyeri Punggung Bawah disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor,
yang dapat digolongkan atas tiga faktor, yaitu :
a. Faktor gerakan tubuh yang dapat merupakan beban dinamis
maupun statis bagi punggung : berputar, membungkuk, posisi
stasis.
11

b. Faktor lingkungan : vibrasi seluruh tubuh, suhu dingin dan
kecelakaan: pada punggung seperti jatuh, terpleset dsb.
c. Faktor individu : umur (35-55 tahun), jenis kelamin, ukuran tubuh,
kekuatan otot, stress mental dan penyakit.
Semua sektor pekerjaan berisiko untuk terkena Nyeri Punggung
Bawah, apabila pekerjaan tersebut ada posisi tubuh membungkuk,
berputar, duduk/berdiri yang lama, mengangkat, menarik atau
mendorong beban. (Depkes RI, 2008)

d) Faktor Risiko ditempat kerja
Beberapa faktor risiko yang mengakibatkan nyeri punggung adalah :
Sikap tubuh dan Desain tempat kerja
Sikap dengan posisi menunduk terlalu lama dalam jangka waktu
yang lama dapat menyebabkan sakit punggung. Posisi statis, terus
menerus ini akan menyebabkan otot-otot menjadi spasme dan akan
merusak jaringan lunak. Posisi tubuh yang salah selama duduk
membuat tekanan abnormal dari jaringan sehingga menyebabkan
rasa sakit. Dari hasil penelitian Nachemson dan Elfstrom
ditemukan bahwa tekanan diskus lebih besar pada posisi duduk
tegak (140%) dari pada posisi berdiri (100%) dan menjadi lebih
besar lagi pada posisi duduk dengan badan membungkuk kedepan
(190%). Keadaan ini karena terjadi perubahan mekanisme pelvis
dan sacrum selama perpindahan dari berdiri ke duduk, yaitu : tepi
atas pelvis berotasi kebelakang, sacrum berputar menjadi tegap,
kolumna vertebralis berubah dari lordosis ke posisi lurus atau
kifosis. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan pada
diskus. Dalam kerja duduk,sikap tubuh selama bekerja
berhubungan dengan tempat duduk dan meja kerja.
Sikap duduk yang baik adalah (Between Lutam, 2005) :
a) Tidak menghalangi pernafasan
b) Tidak menghambat sistim peredaran darah
c) Tidak menghalangi gerak otot atau menghalangi fungsi organ
organ dalam tubuh
12

Tempat kerja dirancang dengan baik sehingga, pekerja
dapat melaksanakan dan mempertahankan sikap tubuh yang benar
dan nyaman. Sikap atau perawakan yang tidak nyaman dapat
menimbulkan berbagai masalah. Salah satu penyebab utama adalah
rancangan tempat duduk dan meja yang kurang memenuhi
persyaratan. (Between Lutam, 2005)

Faktor Getaran
Mekanisme dan prevalensi keluhan akibat pengaruh getaran tidak
banyak diketahui. Suatu pegangan alat yang bergetar dapat
mempengaruhi gerakan kontraksi otot dalam rangka menstabilkan
tangan tersebut dan alat dengan demikian dapat menimbulkan efek
lebih pada punggung dan leher.
Faktor Psikososial
Stress dapat menyebabkan otot menjadi tegang sehingga
merupakan faktor psikososial terhadap pekerjaan dan gangguan
daerah punggung. Faktor psikososial ditempat kerja dapat
mempengaruhi tekanan psikososial para pekerja yaitu kontrol yang
rendah dari organisasi pekerjaan ,hubungan yang buruk dari
manajemen, teman kerja dan permintaan yang tinggi dari hasil
produksi, ketelitian dan kecepatan kerja. (Widy, 2010)

e) Faktor individu :
Faktor umur
Umumnya keluhan nyeri otot akan meningkat sesuai dengan
bertambahnya usia. Salah satu penelitian yang menyatakan bahwa
umur 31-40 tahun merupakan umur yang paling rentan untuk
timbulnya gangguan muskuloskeletal. Schattland et al (1991)
melaporkan adanya hubungan antara usia dan kelainan
muskuloskeletal, semakin tua usia responden semakin berisiko
menderita musculoskeletal. (Sugiri Arif, 2007)
Faktor Jenis Kelamin
Laki-laki dan perempuan memiliki resiko yang sama terhadap
keluhan nyeri pinggang sampai umur 60 tahun, namun pada
13

kenyataannya jenis kelamin seseorang dapat mempengaruhi
timbulnya keluhan nyeri pinggang, karena pada wanita keluhan ini
lebih sering terjadi misalnya pada saat mengalami siklus
menstruasi, selain itu proses menopause juga dapat menyebabkan
kepadatan tulang berkurang akibat penurunan hormon estrogen
sehingga memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.
Faktor risiko Kebiasaan Olahraga
Banyak faktor yang mempengaruhi kesegaran jasmani seseorang,
salah satunya adalah gaya hidup seperti konsumsi makan, pola
aktivitas, dan kebiasaan merokok. Perubahan tingkat sosial
ekonomi sangat berdampak pada aktivitas kehidupan sehari-hari,
sehingga pada beberapa kelompok masyarakat khususnya dunia
industri mengalami penurunan aktivitas fisik. Jenis olahraga yang
dapat dilakukan oleh penderita low back pain yang sudah berusia
lanjut adalah jalan cepat, jogging atau mengikuti klub kebugaran
khusus para lansia. Sedangkan bagi yang berusia di bawah 50
tahun dapat memilih jenis olahraga, seperti: berenang, bersepeda
santai dengan posisi punggung tegak, aerobik intensitas rendah
hingga sedang, jogging jalan cepat ataupun naik turun tangga.
Klinik Mayo menyimpulkan bahwa latihan olah raga teratur adalah
senjata yang ampuh untuk melawan nyeri yang ditimbulkan oleh
gangguan punggung bawah. Sebenarnya ada tiga hal utama dalam
usaha pencegahan low back pain yaitu olahraga, sikap atau postur
yang baik dan pengaturan asupan makanan yang seimbang.
(Widy, 2010)

Faktor Status Gizi
Diet yang tidak seimbang menyebabkan obesitas sehingga akan
meningkatkan insidens terjadinya gangguan muskuloskeletal,
terutama pada punggung bawah karena lumbal merupakan titik
mobilitas dari punggung. Falk dan Arnio (1983) yang menemukan
terdapat hubungan bermakna antara indeks masa tubuh dengan
Nyeri punggung bawah.
14

1. Berat Badan
Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih resiko
timbulnya nyeri pinggang lebih besar, karena beban pada sendi
penumpu berat badan akan meningkat, sehingga dapat
memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.
2. Tinggi Badan
Tinggi badan berkaitan dengan panjangnya sumbu tubuh
sebagai lengan beban anterior maupun lengan posterior untuk
mengangkat beban tubuh.

Tabel 3. Klasifikasi Berat Badan yang diusulkan berdasarkan BMI pada
Penduduk Asia Dewasa (IOTF, WHO 2000)

Kategori BMI (kg/m2) Risk of Co-morbidities
Underweight < 18.5 kg/m
2

Rendah (tetapi resiko terhadap
masalah-masalah klinis lain
meningkat)
Batas Normal 18.5 - 22.9 kg/m
2
Rata rata
Overweight: > 23
At Risk 23.0 24.9 kg/m
2
Meningkat
Obese I 25.0 - 29.9kg/m
2
Sedang
Obese II > 30.0 kg/m
2
Berbahaya

Di kutip dari : http://www.obesitas.web.id/2009/01/bmi.html
Faktor Risiko Rokok
Dalam laporan resmi Badan Kesehatan Dunia (WHO), jumlah
kematian akibat merokok tiap tahun adalah 4,9 juta dan menjelang
tahun 2020 mencapai 10 juta orang per tahunnya. Tidak kurang
dari 70 persennya terjadi di Negara-negara berkembang.
(Kristiawan Basuki, 2009)

Postulasi yang di ajukan ialah bahwa
nikotin mengurangi aliran darah ke struktur tulang belakang.
Disamping itu batuk akibat merokok mengakibatkan strain
mekanik. Dan hasil Toropsova NV dkk yang mengatakan merokok
menyebabkan osteoporosis dan itu akan menyebabkan nyeri
punggung bawah. (Anwar W, 2008)
15


Faktor masa kerja
Duduk statis lama terus menerus, akan menyebabkan deformitas
pada diskus intervetebralis, sehingga terjadi peningkatan tegangan
pada bagian annulus posterior dan penekanan pada nukleus.
Pheasant mengatakan bahwa tidak terjadi peningkatan risiko yang
cukup besar pada orang-orang yang bekerja dengan posisi duduk
statis kurang dari 5 tahun.
Faktor bersandar saat kerja
Bekerja dalam posisi duduk dengan sandaran yang tepat
memberikan keuntungan yakni kurangnya kelelahan pada kaki,
terhindarnya sikap-sikap yang tidak alamiah, berkurangnya
pemakaian energi dan kurangnya tingkat keperluan sirkulasi darah.
(Anwar W, 2008)
f) Patologi
Keluhan utama pada pasien nyeri punggung bawah yaitu nyeri dan
keterbatasan aktivitas fungsional terutama yang berhubungan dengan
mobilitas lumbal. Nyeri merupakan pengalaman sensoris dan
emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan pada
tubuh, baik aktual maupun potensial yang digambarkan dalam bentuk
kerusakan tersebut, sehingga nyeri dapat bervariasi berdasarkan
intensitasnya (ringan, sedang, berat), kualitasnya (tajam, terbakar,
tumpul), durasinya (transient, intermitten, persisten), dan
penjalarannya (superfisial, profundus, lokal, difus ) ( Meliana &
Pinzon, 2004).

16


g) Anatomi punggung belakang
Punggung merupakan struktur penyangga sekaligus
penghubung tubuh bagian atas dengan bagian bawah. Komponen
utama punggung adalah tulang belakang, yang tersusun atas ruas-ruas
tulang belakang, mulai dari bagian leher sampai tulang ekor
(Gambar 1).

Gambar 1. Ruas-ruas tulang belakang.
Ada sekitar 32-33 ruas tulang yang menyusun tulang belakang;
7 ruas tulang leher, 12 ruas tulang punggung atas, 5 ruas tulang
punggung bawah, 5 ruas tulang sakrum (saat dewasa menyatu menjadi
sebuah ruas saja) dan 3-4 ruas tulang ekor. Ruas-ruas tulang belakang
tersebut saling berhubungan melalui persendian.Di dalam tulang
belakang terdapat sebuah rongga memanjang dari tulang leher sampai
ekor yang menjadi tempat berjalannya saraf (sumsum) tulang
belakang. Dari saraf tulang belakang ini berjalan sekitar 60-an saraf
tepi melalui lubang-lubang yang terdapat di samping kanan-kiri tulang
belakang (Gambar 2). Disebut saraf tepi, karena otak dan saraf tulang
belakang dikenal sebagai saraf pusat. Saraf tepi akan berjalan dari
sumsum (saraf) tulang belakang sampai ke daerah paling tepi yaitu otot
dan kulit tubuh mulai dari leher, anggota gerak atas, dada, perut,
seluruh bagian punggung, pantat dan kedua tungkai bawah. Oleh
17

karena itu, kelainan pada saraf (sumsum) tulang belakang dan saraf
tepi dapat menimbulkan gejala pada anggota gerak, baik berupa nyeri,
kesemutan atau bahkan kelumpuhan.

Gambar 2. Saraf (sumsum) tulang belakang dan saraf tepi.
Selain ruas-ruas tulang belakang, punggung juga tersusun atas otot dan
ligamen (sejenis otot). Otot dan ligamen tersebut melekat dan
membungkus tulang belakang (Gambar 3) menjadi satu kesatuan yang
kokoh tetapi lentur dapat bergerak ke depan, belakang, samping dan
berputar. (Kisworo, 2009)

Gambar 3. Tulang dan persendiannya, otot, ligamen dan saraf tepi
bersama-sama membentuk punggung
Di kutip dari : http://beritagkmi.com/ 009/07/Anatomi- Punggung -
Belakang.html
18


h) Fisiologi
Kolumna Vertebralis memperlihatkan 4 lengkung anteroposterior yaitu
lengkung vertikal pada daerah leher lengkung di depan, daerah torakal
melengkung ke belakang, daerah lumbal melengkung ke depan dan
daerah pelvis melengkung ke belakang. Kedua lengkung yang
menghadap posterior yaitu torakal dan pelvis disebut primer karena
mempertahankan lengkung asli ke belakang dari tulang belakang yaitu
bentuk C sewaktu janin dengan kepala membengkok ke bawah sampai
batas dada dan gelang panggul dimiringkan ke atas ke arah depan
badan. Kedua lengkung yang menghadap ke anterior adalah lengkung
sekunder. Kolumna vertebralis bukan sebagai pendukung badan yang
kokoh dan sekaligus juga berkerja sebagai penyangga dengan
perantaraan tulang rawan cakram. Intervertebralis yang lengkungnya
memberi fleksibilitas dan memungkinkan membongkok tanpa patah,
Cakramnya juga berguna untuk menyerap goncangan yang terjadi bila
menggerakkan berat badan seperti waktu berlari dan meloncat, dengan
demikian otak dan sumsum tulang belakang terlindungi terhadap
goncangan. Kolumna Vertebralis juga memikul berat badan,
menyediakan permukaan untuk kaitan otot dan membentuk tapal batas
posterior yang kukuh untuk rongga badan dan memberi kaitan pada iga
(Evelyn, 1998:56)
Daerah pinggang mempunyai fungsi yang sangat penting pada tubuh
manusia. Fungsi penting tersebut antara lain, membuat tubuh berdiri
tegak, pergerakan, dan melindungi beberapa organ penting. Saat kita
berdiri, pinggang berfungsi sebagai penyangga sebagian besar berat
badan. Saat kita menggoyangkan pinggul, pinggang akan ikut
membantu pergerakan. Sehingga untuk mendeteksi kelainan pada
pinggang dapat dilakukan dengan menyuruh pasien berdiri tegak atau
menggoyangkan pinggulnya. Fungsi terpenting dari semuanya adalah
sebagai pelindung susunan saraf yang melintas sepanjang tulang
belakang dan organ yang terdapat di dalam rongga perut. (Rahajeng
Tanjung, 2009)
19

i) Etiologi dan Klasifikasi Low Back Pain
LBP biasanya terjadi akibat tekanan pada susunan saraf tepi daerah
pinggang (saraf terjepit). Jepitan pada saraf ini dapat terjadi karena
gangguan pada otot dan jaringan sekitarnya, gangguan pada saraf,
kelainan tulang belakang maupun kelainan di tempat lain, misalnya
infeksi atau batu ginjal. Low back pain (LBP) juga dapat disebabkan
oleh banyak hal, termasuk merosotnya kekuatan tulang belakang,
infeksi, tumor, terlalu letih, atau benturan. Ketegangan otot merupakan
penyebab terbanyak LBP. Hal ini dapat terjadi karena gerakan
pinggang yang terlalu mendadak atau berlebihan melampaui kekuatan
otot-otot tersebut.
Secara umum etiologi (penyebab) LBP dapat dikelompokkan sebagai
berikut:
1. Trauma (rudapaksa) yang terbagi dua:
a. Trauma pada miofasial dengan gejala pegal linu akut dan
menyebar tanpa dapat ditunjuk lokasi nyeri yang tepat.
Biasanya merupakan akibat pembebanan yang mendadak atau
berkepanjangan, misalnya olahraga tanpa pemanasan, duduk
terlalu lama, dan sebagainya.
b. Trauma pada neuromuskuloskeletal misalnya pada fraktur
kompresi dengan gejala berupa keluhan yang biasanya
langsung timbul sehabis trauma, tetapi kadang-kadang baru
timbul beberapa saat setelahnya. Seringkali disertai gejala lain
seperti gangguan gastrointestinal (ileus), genitourinal (miksi,
seksual), pergerakan tungkai.
2. Proses degeneratif, antara lain:
a. HNP (Hernia Nucleus Pulposus), yang disebabkan oleh
robekan anulus fibrosus diskus invertebralis, sehingga terjadi
protrusion diskus.
b. Stenosis spinalis, yakni penyakit yang sering diderita pada
masa usia agak lanjut yang disebabkan oleh penekanan pada
akar saraf karena tumbuhnya osteofit/proliferasi jaringan
20

sekitar canalis vertebralis ataupun pada foramen
intervertebralis.
3. Inflamasi
Proses ini sering dikaitkan dengan arthritis rematoid yang bersifat
akut. Dapat mengenai semua sendi, termasuk sendi panggul baik
unilateral maupun bilateral yang seringkali menyerang pada usia
dewasa muda. Gejalanya berupa adanya peradangan, pegal, linu
dan kaku terutama pada waktu dingin dan lembab.
4. Tumor, terbagi atas:
a. Tumor jinak, seperti osteoma osteroid, hemangioma atau
meningioma biasanya menimbulkan penekanan, dan bila
penekanan terjadi pada radiks, maka akan timbul gejala nyeri
sesuai lokasinya.
b. Tumor ganas (neoplasma). Biasanya terasa nyeri yang makin
lama makin bertambah, terutama pada malam hari ataupun
pada waktu istirahat.
c. Kelainan bawaaan (kongenital) seperti spinabifida, skoliosis, dan
anomali letak organ.
5. Psikoneurotik
Tidak ditemukan adanya gangguan fungsi dan organ pada beberapa
kasus dengan personality neurosis. Untuk itu haruslah dipikirkan
kemungkinan nyeri akibat psikoneurosis. Penderita psikoneurotik
dapat digolongkan ke dalam:
a. Keperibadian histerikal : LBP biasanya merupakan ungkapan
penderitaan mentalnya pada dunia luar.
b. Kepribadian perengek : hidupnya dipenuhi dengan rengekan
nyeri yang berganti, nyeri kepala, punggung, dan lain-lain.
c. Kepribadian kompensatorik : nyeri diungkapkan untuk
mendapatkan kompensasi atau perhatian dari orang lain.
6. Penyakit sistemik
Yang termasuk dalam kategori ini misalnya arthritis, penyakit
ginjal, dan lain-lain. Infeksi juga termasuk dalam kategori ini
21

misalnya infeksi spinal yang biasanya diakibatkan oleh penjalaran
secara hematogen dari infeksi tractus urinarius, TBC, osteomyelitis
pyogenik, abses, dan sebagainya. (Kristiawan Basuki, 2009)
Mahar Marjono tahun 2005 membuat penggolongan LBP yang
sedikit berbeda, namun tetap memiliki substansi yang mirip dengan
klasifikasi yang dibuat oleh Priguna yaitu sebagai berikut:
1) Low back pain mekanik, yang terdiri dari:
a. Akut mula, yaitu apabila gejala mendadak nyeri berat di
punggung bawah dan telah bertahan kurang dari enam minggu.
Biasanya keadaan menjadi tenang secara spontan setelah
beberapa minggu.
b. Sub akut, jika telah bertahan selama 6 12 minggu.
c. Kronik, yaitu periode sakit atau rasa tidak enak di bagian
punggung bawah dirasakan dari waktu ke waktu, dan telah
bertahan lebih dari 12 minggu. (Niniek Soetini, 2009).
2) Low back pain organik, yang terdiri atas:
a. Osteogenik, yaitu LBP yang sering oleh radang atau infeksi,
trauma yang dapat mengakibatkan fraktur, keganasan yang
bersifat primer maupun sekunder/metastatik, kongenital, dan
metabolik.
b. Diskogenik, disebabkan oleh spondilosis, hernia nukleus
pulposus, spondilitis ankilosa.
c. Neurogenik, disebabkan oleh keadaan patologik pada urat
saraf.
d. Miogenik, disebabkan oleh ketegangan otot, spasme otot,
defisiensi otot, dan otot yang hipersensitif.
j) Tanda dan Gejala (Anwar W, 2008)

Tanda dan gejala dari nyeri gerak punggung bawah akibat spasme otot
punggung bawah adalah di temukan nyeri myofasial, yang khas di
tandai dengan nyeri gerak dan nyeri tekan seluruh daerah yang
bersangkutan (trigger point), kehilangan ruang gerak kelompok otot
yang bersangkutan (loss of range of motion), spasme otot punggung
22

bawah. Keluhan nyeri akibat adanya spasme otot daerah lumbosakral
sering hilang bila kelompok otot tersebut diregangkan (Soedomo,
2002). Keluhan nyeri gerak punggung bawah akibat spasme otot
daerah lumbosacral akan dapat gambaran klinis sebagai berikut:
1). Keluhan terasa nyeri yang dirasakan hebat dengan lokasi yang
jelas.
2). Setiap kegiatan menimbulkan rasa sakit dan bila penderita tidur
sakitnya hilang.
3). Penampilan umum dan pola jalan agak pincang
4). Adanya spasme otot daerah lumbosacral
5). Lingkup gerak sendi lumbosacral terbatas
k) Diagnosis Low Back Pain
Untuk menegakkan diagnosis LBP dapat dipergunakan beberapa
langkah sebagai berikut:
a) Anamnesis, yaitu mengajukan sederetan pertanyaan kepada
penderita yang meliputi:
- letak atau lokasi nyeri
- penyebaran
- sifat nyeri
- pengaruh aktivitas terhadap nyeri
- pengaruh posisi tubuh atau anggota tubuh
- trauma
- proses terjadinya nyeri dan perkembangannya
- obat-obat analgetika yang pernah diminum
- kemungkinan adanya proses keganasan
- riwayat menstruasi
- kondisi mental/emosional
b) Pemeriksaan umum, dengan memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
- inspeksi
- palpasi dan perkusi
- pemeriksaan tanda-tanda vital
23

c) Pemeriksaan neurologik, yang meliputi pemeriksaan motorik,
sensorik, refleks fisiologik dan patologik, serta percobaan atau test
untuk menentukan apakah syarafnya ada yang mengalami kelainan.
l) Pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen, CT scan, MRI, dan EMG.
m) Prognosis
Van cer hoogen et al, menyimpulkan bahwa prognosis sebagian besar
pasien nyeri punggung bawah jelas kurang menggembirakan.
Recovery terjadi lebih lama ( kurang lebih 6 minggu) dan dalam satu
tahun kambuh lagi pada sebagian besar pasien ( Soedomo, 2002).
Prognosis suatu penyakit tergantung pada derajat berat penyakit awal,
perkembangan menjadi kronik dan tetap. Prognosis bertambah baik
bila penderita cepat kembali bekerja, demikan pula pada penderita
nyeri punggung bawah. Nyeri punggung bawah mempunyai prognosis
baik jika penderita sudah kembali bekerja tanpa keluhan tetapi
sebagian besar penderita masih mengeluh nyeri. Hal ini di sebabkan
tidak ada ukuran obyektif yang dapat dipergunakan untuk menduga
prognosis nyeri punggung bawah secara individu ( Soedomo, 2002).
n) Pemeriksaan fisik atau penilaian nyeri
Walaupun nyeri merupakan sesuatu yang bersifat : subjektif, namun
demikian terdapat beberapa metode untuk penilaian nyeri yang dipakai
untuk menilai intensitas nyeri punggung seperti :
a. Visual analog scale (VAS)
Pada garis mendatar sepanjang 10cm yang melukiskan rentang
nyeri, dari titik tidak ada nyeri (no pain) hingga nyeri paling hebat
yang pernah dirasakan (worst possible pain). Pasien dinstrusikan
untuk menunjukkan suatu titik pada garis tersebut yang paling tepat
menggambarkan beratnya nyeri. Tingkat nyeri kemudian
ditentukan dengan mengukur jarak dari titik nol menuju titik yang
ditunjuk pasien dalam millimeter .
Ringan : 1-3 mm
Sedang : 4-6 mm
Berat : 7-10 mm
24

b. Face pain rating scale
Skala ini ditujukan bagi anak-anak dan lebih mudah pemakaiannya.
Anak cukup menunjuk wajah yang paling menggambarkan rasa
sakit yang sedang dialaminya. Selain itu, dapat pula digunakan
pada mereka yang menderita gangguan kognisi atau tidak mengerti
bahasa yang digunakan pemeriksa.
c. Numeric pain intensity scalas (NPIS)
Berdasarkan scala ini, nyeri diukur dalam rentang 1-10 yang
menunjukan beratnya nyeri yang dirasakan ( 0 = sama sekali tidak
terasa nyeri, 10 = nyeri terhebat yang mungkin)
1 3 = nyeri ringan
4 6 = nyeri sedang
7 10 = nyeri hebat
d. Laseque test
Mengetahui iritasi radiks pada punggung bawah. Pemeriksaan
dilakukan mengangkat tungkai penderita dalam keadaan lurus.
Tangan pemeriksa yang satu mengangkat tungkai dengan
memegang tumit pasien, sedangkan tangan lain pemeriksa berada
dilutut yang diflexikan. Tidak adanya rasa sakit pada 80 derajat
menunjukkan tes negatif. Fleksi pasif tungkai dalam keadaan lurus
disendi panggul akan memberikan peregangan pada nervus
ishiadikus, sehingga gerakan akan terbatas dan nyeri menjalar bila
iritasi,dan kelumpuhan tungkai terutama pada dorsofleksi tungkai
ada nyeri, jelas telah terjadi kompresi. (Between Lutam, 2005)
o) Penatalaksanaan dan Pencegahan Low Back Pain
Penanganan terbaik terhadap penderita LBP adalah dengan
menghilangkan penyebabnya (kausal) walaupun tentu saja pasien pasti
lebih memilih untuk menghilangkan rasa sakitnya terlebih dahulu
(simptomatis). Jadi perlu digunakan kombinasi antara pengobatan
kausal dan simptomatis. Secara kausal, penyebab nyeri akan diatasi
sesuai kasus penyebabnya. Pengobatan simptomatik dilakukan dengan
menggunakan obat untuk menghilangkan gejala-gejala seperti nyeri,
25

pegal, atau kesemutan. Pada kasus LBP karena tegang otot dapat
dipergunakan Tizanidine yang berfungsi untuk mengendorkan
kontraksi otot (muscle relaxan). Untuk pengobatan simptomatis
lainnya kadang-kadang memerlukan campuran antara obat-obat
analgesik, anti inflamasi, NSAID, obat penenang, dan lain-lain.
Apabila dengan pengobatan biasa tidak berhasil, mungkin diperlukan
tindakan fisioterapi dengan alat-alat khusus maupun dengan traksi
(penarikan tulang belakang). Tindakan operasi mungkin diperlukan
apabila pengobatan dengan fisioterapi ini tidak berhasil misalnya pada
kasus HNP atau pada pengapuran yang berat. Beragamnya penyebab
LBP menuntut penatalaksanaan yang bervariasi pula. Meski demikian,
pada dasarnya dikenal dua tahapan terapi LBP yaitu:
a. Terapi Konservatif, yang meliputi tirah baring, medikamentosa dan
fisioterapi.
b. Terapi Operatif
Kedua tahapan ini memiliki kesamaan tujuan yaitu rehabilitasi.
Pengobatan nyeri punggung sangat tergantung penyebabnya. Jika
dengan bedrest tidak juga sembuh, maka harus ditingkatkan dengan
pemeriksaan sinar X atau dengan MRI (magnetic resonance imaging).
Setelah itu, bisa dilakukan fisioterapi, pengobatan dengan suntikan,
muscle exercise, hingga operasi. Masih ada lagi teknik pengobatan
lain, misalnya melalui pembedahan dengan endoskopi (spinal surgery),
metode pasang pen, sampai penggantian bantalan tulang. Penderita
harus menjalani pemeriksaan untuk mengetahui sumber masalahnya.
Penyembuhan bisa melalui pembedahan atau latihan mengubah kebiasaan
yang menyebabkan nyeri. Latihan itu menggunakan alat-alat pelatihan
medis untuk melatih otot-otot utama yang berperan dalam menstabilkan
serta mengokohkan tulang punggung. (Kristiawan Basuki, 2009)
p) Pencegahan
Duduk yang benar di tujukan untuk mendapatkan kenyamanan selama
duduk dan tidak menunjukan nyeri dan keluhan lain. Beberapa
perpustakaan diperlukan untuk posisi duduk yang benar terutama
26

untuk jangka waktu yang lama . Tinggi alas harus sedemikian rupa
sehingga orang dapat duduk fleksi sempurna baik pada sendi lutut dan
panggul, sedangkan kaki tepat mendatar tepat diatas lantai. Jok mobil
dan sofa merupakan tempat duduk yang ideal namun dalam jangka
waktu yang lama akan menimbulkan nyeri akibat regangan otot-otot
hamstring dan ligamentum longitudinal posterior. Beberapa hal yang
harus dihindarkan selama duduk, diperlukan untuk menghindari
terjadinya nyeri. Duduk dikursi yang terlalu tinggi atau
mencondongkan kepala kedepan perlu dilakukan untuk mencegah
gangguan pada leher. Dengan menghindari duduk tanpa pendukung
lumbal mencegah nyeri pinggang. Duduk dengan lengan terangkat
perlu dihindari untuk mencegah nyeri pada leher dan bahu.
Membengkokan pinggang saat duduk sangat memudahkan kejang otot.
Duduk pada kursi yang tidak mempunyai sandaran dapat menyebabkan
kerusakan otot dan ligamentum. (Kristiawan Basuki, 2009)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pekerja dalam bekerja :

a) Penyesuaian tinggi meja dengan tinggi siku duduk, sehingga duduk
tidak terlalu menunduk. Istirahatkan siku dan lengan pada kursi
dan meja, juga bahu tetap rileks.
b) Menghindari duduk dengan posisi yang selalu sama lebih dari 30
menit.
c) Melakukan pelatihan dan peregangan otot pada interval waktu 2
jam selama 5-10 menit
5. Ergonomi
Pengertian Ergonomi
Ergonomi berasal dari bahasa Yunani, ergon yang artinya kerja dan
nomos artinya peraturan atau hukum. Sehingga secara harfiah ergonomi
diartikan sebagai peraturan tentang bagaimana melakukan kerja, termasuk
sikap kerja. Selanjutnya seirama dengan perkembangan kesehatan kerja ini
maka hal-hal yang mengatur antara manusia sebagai tenaga kerja dan
peralatan kerja atau mesin juga berkembang menjadi cabang ilmu
tersendiri (Notoatmodjo, 2003). Tujuan dari ergonomi itu sendiri adalah
27

bagaimana mengatur kerja agar tenaga kerja dapat melakukan
pekerjaannya dengan rasa aman, selamat, efisien, efektif dan produktif,
disamping juga rasa nyaman serta terhindar dari bahaya yang mungkin
timbul ditempat kerja. (Adriana Pusparini, 2005)
Dua misi pokok ergonomi adalah :
a. Kondisi tenaga kerja ini bukan saja aspek fisiknya (ukuran anggota
tubuh : tangan, kaki, tinggi badan) tetapi juga kemampuan intelektual
atau berpikirnya. Cara meletakkan dan penggunaan mesin otomatik
dan komputerisasi di suatu pabrik misalnya, harus disesuaikan dengan
tenaga kerja yang akan mengoperasikan mesin tersebut, baik dari segi
tinggi badan dan kemampuannya dalam hal ini yang ingin dicapai oleh
ergonomi adalah mencegah kelelahan tenaga kerja yang menggunakan
alat-alat tersebut.
b. Apabila peralatan kerja dan manusia atau tenaga kerja tersebut sudah
cocok maka kelelahan dapat dicegah dan hasilnya lebih efisien. Hasil
suatu proses kerja yang efisien berarti memperoleh produktivitas kerja
yang tinggi. Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa
tujuan utama ergonomic adalah mencegah kecelakaan kerja dan
mencegah ketidakefisienan kerja (meningkatkan produktivitas kerja).
Disamping itu, ergonomi juga dapat mengurangi beban kerja karena
apabila peralatan kerja tidak sesuai dengan kondisi dan ukuran tubuh
pekerja akan menjadi beban tambahan kerja (Notoatmodjo, 2003)
Agar tidak mudah mengalami gangguan musculoskeletal yang bisa
menimbulkan nyeri punggung bawah maka para pekerja harus melakukan
stretching anggota tubuh setiap 20-30 menit, sebagai berikut :

Gambar 4. Senam Ergonomi
28

6. Antropometri
Anthropometri merupakan suatu pengukuran yang sistematis
terhadap tubuh manusia, terutama seluk beluk dimensional ukuran dan
bentuk tubuh manusia. Anthropometri merupakan ukuran tubuh digunakan
untuk merancang atau menciptakan suatu sarana kerja yang sesuai dengan
ukuran tubuh pengguna sarana kerja tersebut. (Ardiana Pusparini, 2005)
Semua peralatan dan barang yang dipergunakan dalam suatu usaha atau
industri serta senua ruangan diperusahaan harus disesuaikan dengan postur
tubuh pekerja. Seperti diketahui bahwa ukuran alat kerja menentukan
sikap, gerak dan posisi kerja tenaga kerja, dengan demikian penerapan
antropometri mutlak diperlukan untuk menjamin adanya sistem kerja yang
baik. Dalam pelaksanaan pengukuran antropometri , dikenal 2 macam
pengukuran yaitu:
a) Antropometri statis
b) Antropometri dinamis
Alat yang digunakan untuk pengukuran antropometri adalah antropometer.
Jika alat-alat kerja tersebut tidak sesuai ukurannya dengan ukuran
tubuh tenaga kerja sebagai pelaku produksi, maka tenaga kerja tersebut
akan merasa tidak nyaman dan akan lebih lamban dalam bekerja, yang
pada akhirnya akan timbul suatu kelelahan kerja atau gejala penyakit otot
yang lain akibat melakukan pekerjaan dengan cara yang tidak alamiah.
Pengukuran terhadap jangkauan tangan tenaga kerjapun mutlak dilakukan
baik itu untuk pekerjaan berdiri maupun duduk. (Ardiana Pusparini, 2005).

Gambar 5. Antropometri Posisi Duduk (Panero dan Zelnik, 1979

(Purwati, 2010)

29

6.1 Sikap tubuh dalam bekerja
Hubungan tenaga kerja dalam sikap dan interaksinya
terhadap saran kerja akan menentukan efisiensi, efektifitas dan
produktivitas kerja, yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan.
Penggunaan meja dan kursi kerja ukuran baku oleh orang yang
mempunyai ukuran tubuh yang lebih tinggi atau sikap duduk yang
terlalu tinggi sedikit banyak akan berpengaruh terhadap hasil kerjanya.
Tanpa disadari tenaga kerja tersebut akan sedikit membungkuk
saat melakukan pekerjaannya. Hal ini akan menyebabkan terjadinya
kelelahan lokal didaerah pinggang dan bahu ,yang pada akhirnya
akan menimbulkan nyeri pinggang dan nyeri bahu. (Ardiana
Pusparini, 2005)

Edukasi sikap duduk ergonomis saat bekerja :
1. Sebaiknya duduk dengan punggung lurus dan bahu berada
dibelakang dengan bokong menyentuh belakang kursi
2. Gulungan handuk kecil dapat digunakan untuk mempertahankan
kurva tulang belakang.
3. Apabila tidak terdapat pendukung lumbal, dapat dilakukan
dengan cara duduk di ujung kursi dan membungkuk sempurna.
Tubuh ditegakkan dan lengkungan tubuh (kurva) dibuat sebisa
mungkin, kemudian tahan beberapa detik. Setelah itu posisi
tersebut dilepaskan secara ringan (sekitar 10 derajat). Keadaan
ini merupakan posisi duduk terbaik
4. Lutut tetap dijaga setinggi/sedikit lebih tinggi dari pinggul
(penyangga kaki dapat digunakan bila perlu)
5. Tungkai tidak menyilang
6. Kaki dijaga tetap rata dengan lantai
7. Hindari duduk dengan posisi yang sama lebih dari 30 menit
8. Ketinggian kursi dan tempat kerja diatur sehingga dapat duduk
dekat ke pekerjaan
9. Siku dan lengan diistirahatkan pada kursi atau meja serta bahu
dijaga agar tetap rileks. (Diana Samara, 2004)
30

6.2 Tempat duduk
Kriteria tempat duduk harus dibuat sedemikian rupa,
sehingga orang yang bekerja dengan duduk merasa nyaman dan otot-
otot menjadi lebih rileks dan tidak mengalami penekanan-penekanan
pada otot, saraf, fasia dan ligamentum.
Kriteria tempat duduk yang direkomendasikan adalah sebagai berikut :
Tinggi alas duduk harus sedikit lebih pendek dari panjang lekuk
lutut sampai ke telapak kaki dengan ukuran antara 38-48cm.
Panjang alas duduk harus lebih pendek dari jarak lutut sampai
garis punggung, dengan ukuran yang disarankan adalah 36cm.
Sandaran punggung bagian atas tidak melebihi tepi bawah ujung
tulang belikat dan bagian bawahnya setinggi garis pinggul.
(Between Lutam, 2005)
6.3 Meja kerja

Tinggi permukaan atas meja kerja dibuat setinggi siku dan
disesuaikan dengan sikap tubuh pada waktu bekerja. Kriteria umum
yang dianjurkan untuk meja kerja sebagai berikut :
Bagi pekerjaan yang memerlukan kekuatan manual yang besar,
atau gerakan-gerakan yang bebas, maka meja kerja dianjurkan
setinggi lutut.
Untuk sikap berdiri ukuran tinggi meja yang diusulkan pekerjaan
yang membutuhkan ketelitian adalah 10-12cm lebih tinggi dari
siku. Sedangkan pada pekerjaan yang memerlukan penekanan
dengan tangan , tinggi meja adalah 10-12cm lebih rendah dari
tinggi siku.
Tinggi meja untuk sikap duduk yang diusulkan 54-58cm dari
permukaan daun meja kelantai, pada wanita ditambah lagi 2-4cm
untuk menyesuaikan dengan ketinggian sepatu.
Tebal daun meja dibuat sedemikian rupa agar dapat memberikan
kebebasan bergerak pada kaki
Permukaan meja rata dan tidak menyilauka
31

II.2. Kerangka teori


































Faktor individu (host)
1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Jenis pekerjaan
4. Psikososial
5. Kebiasaan merokok
6. Kebiasaan olahraga
7. IMT
8. Pendidikan
Faktor pekerjaan / lingkungan

1. Lama menunduk
2. Masa kerja
3. Sikap tubuh dalam
bekerja / posisi duduk
4. Frekuensi menjahit
5. Desain tempat kerja
Agent


1. HNP
2. Tumor
3. Inflamasi
4. Osteoporosis
5. Trauma
6. Stenosis spinalis

Nyeri punggung bawah
32

II.3. Kerangka Konsep























Variabel terikat
Nyeri Punggung
Bawah
Variable Bebas
1. Umur
2. Masa Kerja
3. IMT
4. Kebiasaan
Merokok
5. Kebiasaan
Olahraga


Karyawan Pabrik
bagian Penjahitan
dengan Resiko
ergonomi tinggi
33

II.4. Hipotesis
1. Ada hubungan umur dengan keluhan nyeri punggung bawah pada
karyawan di PT Intigarmindo Persada Jakarta tahun 2010.
2. Ada hubungan masa kerja dengan keluhan nyeri punggung bawah pada
karyawan di PT Intigarmindo Persada Jakarta tahun 2010.
3. Ada hubungan indeks massa tubuh dengan keluhan nyeri punggung
bawah pada karyawan di PT Intigarmindo Persada Jakarta tahun 2010.
4. Ada hubungan kebiasaan merokok dengan keluhan nyeri punggung
bawah pada karyawan di PT Intigarmindo Persada Jakarta tahun 2010.
5. Ada hubungan kebiasaan olahraga dengan keluhan nyeri punggung
bawah pada karyawan di PT Intigarmindo Persada Jakarta tahun 2010.













34

II.5. Penelitian Terkait
Beberapa penelitian yang terkait yang pernah dilakukan mengenai Nyeri
Punggung Bawah antara lain sebagai berikut :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Firman Fajar Hidayah dengan judul
Prevalensi keluhan nyeri punggung bawah dan faktor-faktor yang
berhubungan pada buruh angkut pria di Pasar Babakan Tangerang tahun
2010. Penelitian ini adalah penelitian deskriftif analitik survey. Metode
yang digunakan adalah dengan survey dengan melihat hubungan variabel
bebas terhadap variabel terikat pada saat bersamaan (cross sectional).
Teknik pengambilan sample dengan cara consecutive sampling dan
didapatkan 62 sampel. Prevalensi nyeri punggung bawah di Pasar
Babakan Tangerang tahun 2010 adalah 71,4%. Dari hasil uji chi square
diperoleh kesimpulan bahwa variable-variable dari karakteristik buruh
angkut yang berhubungan dengan keluhan nyeri punggung bawah umur,
masa kerja, IMT, kebiasaan merokok dan kebiasaan olahraga terbukti
tidak berhubungan dengan keluhan nyeri punggung bawah. Diduga
faktor psikososial pada pekerja mempengaruhi keluhan nyeri punggung
bawah.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Between Lutam pada tahun 2005 dengan
judul Analisis nyeri punggung dengan faktor-faktor yang berhubungan
pada pekerja wanita di penjahitan pakaian PT.X Gunung putrid di Bogor.
Desain penelitian adalah suatu studi potong lintang. Pengambilan sampel
secara random sampling. Dari 150 subjek penelitian 80 orang (53,3%)
mengeluh nyeri punggung, dan 70 orang (46,7%) tidak mempunyai
keluhan tersebut.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Kristiawan Basuki dengan judul Analisis
faktor risiko kejadian low back pain pada operator tambang sebuah
perusahaan tambang nickel di Sulawesi Selatan tahun 2007-2008.
Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain case
control, dengan menggunakan rumus Lemeshow dan didapatkan 65
sampel. Variabel yang terbukti secara bermakna berhubungan dengan
35

kejadian LBP adalah jenis kendaraan (nilai p = 0.020, = 0.005, OR=
2.94, confidence interval 95%,) olah raga (p=0.029, = 0.005, OR=
2.94, CI 95%,) dan stres kerja (p=0.0001, = 0.005, OR= 4.71, CI
95%,). Variabel yang tidak terbukti berhubungan adalah umur,
kegemukan, dan merokok.