Você está na página 1de 34

I

I Muhammad SAW I My Family


Menu
Skip to content
Beranda
About
Contoh Makalah Laporan Audit
31 Maret 2013 by fauzirahman27 in Uncategorized and tagged akuntan, apa saja, makalah,
pengauditan, ucapan terima kasih
Laporan Audit
Dosen Pengasuh:
Puspita, IMS, SE, M.Sa
Rismanthoro, SE, M.Si, Ak
Matakuliah Pengauditan II
Disusun Oleh:
Kelompok XI:
Afryan Hidayat C1C110228
Erny Novita C1C110229
Fauzi Rahman C1C110092
Indah Lestari C1C110231
Putri Oktavia C1C110226
S-1 AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2012
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Laporan Audit tepat sesuai
waktu yang ditentukan.
Dengan selesainya tugas ini, kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu menyelesaikan tugas ini.
Akhirnya perlu juga dikatakan bahwa tugas ini bukanlah merupakan sesuatu yang sempurna,
mengingat kami hanyalah manusia biasa yang sangat jauh dari kesempunaan. Sejalan dengan
keterbatasan yang kami miliki tersebut, maka tugas ini masih sangat terbuka terhadap kritik
maupun saran yang bertujuan agar lebih menyempurnakan makalah ini. Semoga dengan
selesainya tugas ini akan memeberikan manfaat sebagaimana yang diharapakan.
Banjarmasin, 2 Desember 2012
Penulis
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam bidang akuntansi, tidak akan asing dengan yang namanya Laporan Audit. Namun
demikian, banyak mahasiswa akuntansi yang masih bingung apa saja manfaat Pemeriksaan
Akuntansi, Jenis Pemeriksaan Akuntansi, Jenis-jenis Opini Akuntan, serta Unsur-unsur
Laporan Audit.
1.2 Rumusan Masalah
Didasari oleh latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan rumusan
masalah untuk Laporan Audit ini adalah:
Mengentahui Manfaat Pemeriksaan Akuntansi
Apa saja Jenis Pemeriksaan Akuntansi
Jenis-jenis Opini Akuntan
serta Unsur-unsur Laporan Audit.
1.3 Tujuan
Laporan penting sekali dalam suatu audit atau proses astetasi lainnya karena laporan
menginformasikan pemakai informasi mengenai apa yang dilakukan auditor dan kesimpulan
yang diperolehnya.Dari sudut pandang pemakai,laporan dianggap sebagai produk utama dari
proses astetasi.
Pembuatan laporan audit adalah langkah terakhir dari seluruh proses audit.Alasan mengapa
dipelajari sekarang,dan bukan pada bagian akhir buku adalah karena dapat dijadikan dasar
untuk mempelajari cara mengumpulkan bahan bukti.
2. Pembahasan
2.1 LAPORAN AUDIT
Laporan Audit merupakan media yang dipakai oleh auditor dalam berkomunikasi dengan
masyarakat lingkungannya. Dalam laporan tersebut auditor menyatakan pendapatnya
mengenai kewajaran laporan keuangan auditan. Pendapat auditor tersebut disajikan dalan
suatu laporan tertulis yang umumnya berupa laporan audit baku. Berikut contoh laporan audit
yang berisi pendapat wajar tanpa pengecualian.
Laporan audit baku terdiri dari tiga paragraf :
1. paragraf pengantar,
2. paragraf lingkup, dan
3. paragraf pendapat.
a. Paragraf pengantar dicantumkan sebagai paragraf pertama laporan audit baku. Terdapat 3
fakta yang diungkapkan oleh auditor dalam paragraf pengantar ;
1. Tipe jasa yang diberikan auditor
2. Objek yang diaudit
3. Pengungkapan tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dan tanggung jawab
auditor atas pendapat yang diberikan atas laporan keuangan berdasarkan hasil auditnya.
b. Paragraf lingkup berisi pernyataan ringkas mengenai lingkup audit yang dilaksanakan
auditor. Dan paragraf pendapat berisi pernyataan ringkas mengenai pendapat auditor tentang
kewajaran laporan keuangan auditan.
c. Paragraf ketiga dalam laporan audit baku merupakan paragraf yang digunakan oleh auditor
untuk menyataka n pendapatnya mengenai laporan keuangan yang disebutkannya dalam
paragraf pengantar. Dalam paragraf ini auditor menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran
laporan keuangan auditan , dalam semua hal yang material, yang didasarkan atas kesesuaian
penyusunan laporan keuangan tersebut dengan prinsip akuntansi berterima umum.
2.1.1 Manfaat-manfaat Pemeriksaan Akuntansi
Pemeriksaan laporan keuangan yang dilakukan oleh eksternalauditor (KAP) sebagai pihak
yang independen dapat memberikan manfaat praktis sebagai berikut :
1. Pihak Perusahaan yang diaudit
Menambah kredibilitas laporan keuangan badan usaha / organisasi. Dapat mengurangi
kecurangan di kalangan manajemen dan para karyawan perusahaan. Dapat memberikan dasar
yang lebih di percaya untuk penyiapan surat pemberitahuan pajak dan laporan keuangan yang
harus diserahkan kepada pemerintah , sehingga mengurangi audit pemerintah. Dapat
membuka pintu masuknya sumber-sumber pembiayaan dari luar (investor). Seringkali dapat
menyingkapkan kesalahan/ penyimpangan moneter dalam catatan keuangan klien, sehingga
dapat menemukan biaya atau pendaptan yang hilang.
2. Pihakpihak luar perusahaan yang diaudit :
Dapat memberikan dasar yang lebih meyakinkan kepada para investor / kreditor untuk
mengambil keputusan yang menyangkut pemberian kredit.
Dapat memberikan dasar yang terpercaya kepada para investor dan calon investor untuk
menilai prestasi investasi dan kepengurusan manajemen.
Dapat memberikan dasar yang lebih meyakinkan kepada perusahaan asuransi untuk
menyelesaikan klaim atas kerugian yang bisa diasuransikan.
Dapat memberikan dasar yang obyektif kepada serikat buruh dalam menyelesaikan sengketa
mengenai upah dan tunjangan.
Dapat memberikan dasar yang independen kepada pembeli maupun penjua luntuk
menentukan syarat-syarat pembelian, penjualan atau penggabungan perusahaan.
Dapat memberikan dasar yang lebih meyakinkan kepada para pelanggan atau klien untuk
menilai profitabilitas atau rentabilitas perusahaan, efisiens ioperasionalnya dan keadaan
keuangannya.
3. Pihak Pemerintah dan Badan Hukum
Dapat memberikan tambahan kepastian yang independen tentang kecermatan dan
keterandalan kepada badan pemerintah.
Dapat memberikan dasar yang independen kepada mereka yang bergerak dibidang hukum
untuk mengurus harta/ menyelesaikan masalah dalam kebangkrutan dan menentukan
pelaksanaan perjanjian, persekutuan dengan cara semestinya.
Dapat memegang peranan yang menentukan dalam mencapai tujuan undang-undang
keamanan Nasional.
2.1.2 Jenis Pemeriksaan Pemeriksaan Akuntansi
1. Ditinjau dari luasnya pemeriksaan, audit dibedakan menjadi :
General Audit (PemeriksaanUmum) Adalah suatu pemeriksaan umum atas laporan keuangan
yang dilakukan oleh KAP independen dengan tujuan untuk bisa memberikan pendapat
mengenai kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.
Special Audit (PemeriksaanKhusus) Adalah suatu pemeriksaan terbatas yang dilakukan oleh
KAP independen, dan pada akhir pemeriksaan auditor tidak perlu memberikan pendapat
mengenai kewajaran laporan keungan. Pendapat yang diberikan terbatas pada pos atau
masalah tertentu yang diperiksa. Misalnya KAP diminta memeriksa apakah terdapat
kecurangan terhadap penagihan piutang usaha perusahaan.
2. Ditinjau dari jenis pemeriksaannya, audit dibedakan menjadi :
Management Audit (Operational Audit) Adalah pemeriksaan terhadap kegiatan operasi suatu
perusahaan, untuk mengetahui apakah kegiatan operasi tersebut sudah dilakukan secara
efektif, efisien, dan ekonomis.
Compliance Audit (Pemeriksaan Ketaatan) Adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan untuk
mengetahui apakah perusahaan sudah mentaati peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan
yang berlaku, baik yang ditetapkan oleh pihak intern perusahaan (manajemen, dewan
komisaris), maupun pihak eksternal (pemerintah, BAPEPAM, BI, Dirjen Pajak, dll)
Internal Audit (Pemeriksaan Intern) Adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh bag. Internal
Audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun
ketaatan terhadap kebijakan manajemen yang telah ditentukan.
Computer Audit Adalah pemeriksaan oleh KAP terhadap perusahaan yang memproses data
akuntansi nya dengan menggunakan sistem EDP.
2.1.3 Jenis-jenis Opini Akuntan
Menurut SPAP (PSA 29 SA Seksi 508) ada 5 jenis pendapat akuntan, yaitu:
Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified Opinion).
Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan bahasa penjelasan (Unqulified Opinion with
explanatory language).
Pendapat Wajar Dengan Pengecualian (Qualified Opinion) .
Pendapat Tidak Wajar (Adverse Opinion).
Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer Opinion).
1. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified Opinion)
Akan diberikan oleh akuntan publik jika auditor telah melaksanakan pemeriksaan sesuai
dengan standar auditing yang ditetapkan oleh IAI (Standar Profesional Akuntan Publik), dan
telah mengumpulkan bahan-bahan pembuktian yang cukup untuk mendukung opininya, serta
tidak menemukan adanya kesalahan material atau penyimpangan dari prinsip akuntansi yang
berlaku umum(SAK).
2. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan bahasa penjelasan(Unqulified Opinion with
explanatory language)
Akan diberikan oleh akuntan publik jika terdapat keadaan tertentu yang mengharuskan
auditor menambahkan paragraf penjelasan dalam laporan audit, meskipun tidak
mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian yang dinyatakan oleh auditor.
Misal: -pendapatsebagiandidasarkanataslaporanauditor independenlain.
-Adanya keadaan-keadaan yang luar biasa,
-Diantara dua periode akuntansi terdapat suatu perubahan material dalam penggunaan prinsip
akuntansi atau dalam metode penerapannya,
-Keadaan tertentu yang berhubungan dengan laporan audit atas laporan keuangan komparatif,
-Data keuangan kuartalan tertentu yang diharuskan oleh BAPEPAM, namun tidak disajikan
atau tidak review.
3. Pendapat Wajar Dengan Pengecualian (Qualified Opinion)
Laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi
keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia, kecuali untuk dampak hal yang berkaitan dengan yang
dikecualikan.
Pendapat ini diberikan bilamana:
-Ketiadaan bukti kompeten yang cukup atau adanya pembatasan terhadap lingkup audit, dan
ia berkesimpulan bahwa ia tidak dapat menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian, dan
ia berkesimpulan tidak menyatakan tidak memberikan pendapat.
-Auditor yakin, atas dasar auditnya, bahwa laporan keuangan berisi penyimpangan dari SAK,
yang berdampak material, dan ia berkesimpulan untuk tidak menyatakan pendapat tidak
wajar.
4. Pendapat Tidak Wajar (Adverse Opinion)
Laporan keuangan menyajikan secara tidak wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan
ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Pendapat ini diberikan bila menurut pertimbangan auditor, laporan keuangan secara
keseluruhan tidak disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
di Indonesia.
Auditor harus menjelaskan dalam paragraf terpisah sebelum paragraph pendapat dalam
laporannya, semua alasan yang mendukung pendapat tidak wajar, dampak utama hal yang
menyebabkan pemberian pendapat tidak wajar, terhadap posisi keuangan, hasil usaha,
perubahan ekuitas, dan arus kas.
5. Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer Opinion)
Suatu pernyataan tidak memberikan pendapat menyatakan bahwa auditor tidak menyatakan
pendapat atas laporan keuangan.
-Auditor dapat tidak menyatakan suatu pendapat bilamana ia tidak dapat merumuskan atau
tidak merumuskan suatu pendapa tentang kewajaran laporan keuangan sesuai dengan prinsip
akuntansi berlaku umum di Indonesia.
-Jika auditor tidak melaksanakan audit yang lingkupnya memadai untuk memungkinkannya
memberikan pendapat atas laporan keuangan.
2.1.4 Unsur-unsur Laporan Audit
a. Judul, Laporan Audit Independen.
b. Alamat , Pihak yang memberi penugasan.
c. Paragraf Pendahuluan, Harus berisi:
Pernyataan telah melakukan Pemeriksaan.
Periode Laporan keuangan yang diaudit.
Jenis Laporan keuangan.
Tanggung jawab manajemen terhadap Laporan keuangan.
Tanggung jawab auditor terhadap pernyataan pendapat atas Laporan keuangan yang
diaudit.
d. Paragraf Ruang Lingkup
Pernyataan auditor , bahwa pelaksanaan Pemeriksaan sesuai dengan standar auditing yang
disahkan oleh IAI.
Pernyataan auditor bahwa Pemeriksaan dilakukan dengan perencanaan, pengujian,
pengumpulan Bukti- bukti dan pengungkapan dalam Laporan keuangan.
e. ParagrafPendapat
Auditor menyatakan pendapatnya, terhadap Laporan keuangan secara keseluruhan pada
nilai yang material.
f. Identitas Kantor Akuntan Publik, Nama, No register, Tanda tangan.
g. Tanggal Laporan, Tanggal yang dicantumkan adalah tanggal diselesaikannya
pemeriksaan.
Untuk pendapat selain pendapat wajar tanpa pengecualian, maka unsur laporan audit
ditambah paragraph penjelasan sebagai penjelasan atas pengecualian pos dalam laporan
keuangan atau ketidakwajaran dalam laporan keuangan.
2.2 MATERIALITAS
Materialitas adalah faktor penting dalam mempertimbangkan jenis laporan yang tepat untuk
diterbitkan dalam keadaan tertentu.
Definisi dari materialitas dalam kaitannya dengan akuntansi dan pelaporan audit,adalah :
Suatu salah saji dalam laporan keuangan,dapat dianggap material jika pengetahuan atas
salah saji tersebut dapat mempengaruhi keputusan pemakai laporan keuangan yang rasional.
Dalam menerapkan definisi ini,digunakan tiga tingkatan materialitas dalam
mempertimbangkan jenis laporan yang akan dibuat.
Jumlah tidak material.Jika terdapat salah saji dalam laporan keuangan,tetapi cenderung tidak
mempengaruhi keputusan pemakai laporan,salah saji tersebut dianggap tidak material.
Jumlahnya material tetapi tidak menganggu laporan keuangan secara keseluruhan.Tingkat
materialitas kedua terjadi jika salah saji di dalam laporan keuangan dapat mempengaruhi
keputusan pemakai,tetapi keseluruhan laporan keuangan tersebut tersaji dengan benar
sehingga tetap berguna.
Jumlah sangat material atau pengaruhnya sangat meluas sehingga kewajaran laporan
keuangan secara keseluruhan diragukan.Tingkat materialitas tertinggi terjadi jika para
pemakai dapat membuat keputusan yang salah jika mereka mengandalkan laporan keuangan
secara keseluruhan.
KEPUTUSAN MENGENAI MATERIALITAS
Keputusan materialitas-kaitan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.Jika seorang
klien tidak menerapkan prinsip akuntansi yang berlaku umum dengan benar laporan audit
dapat wajar tanpa pengecualian,wajar dengan pengecualian atau tidak wajar,tergantung
kepada materialitas dari penyimpangan tersebut.Harus dipertimbangkan beberapa aspek dari
materialitas.
Jumlah rupiah dibandingkan tehadap tolok ukur tertentu
Daya ukur
Sifat salah saji.
Salah saji berikut dapat mempengaruhi keputusan pemakai laporan keuangan dan dengan
demikian juga akan mempengaruhi pendapat auditor,dengan cara yang berbeda dari salah saji
yang lazim terjadi :
1. Transaksi-transaksi adalah melanggar hokum
2. Sesuatu pos yang dapat mempengaruhi periode mendatang,meskipun jumlahnya tidak
berarti jika hanya periode sekarang yang diperhitungkan.
3. Sesuatu yang menimbulkan akibat psikis(sebagai contoh,laba kecil versus kerugian
kecil,atau saldo bank versus cerukan)
4. Sesuatu yang dapat menimbulkan konsekuensi penting bila dipandang dari segi kewajiban
kontrak (contoh : pelanggan persyaratan kredit dapat mengakibatkan dibatalkannya fasilitas
kredit tersebut).
Keputusan materialitas-kaitan dengan pembatasan lingkup audit.Besar kecilnya salah saji
yang mungkin terjadi akibat pembatasan lingkup audit penting untuk diperhatikan dalam
menentukan jenis pendapat yang sesuai,yaitu apakah laporan wajar tanpa pengecualian,wajar
dengan pengecualian atau pernyataan tidak memberikan pendapat.
Contoh Laporan audit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian (laporan audit baku)
(a) Laporan Audit Independen
Kepada Yth.
(b) Direksi dan Dewan Komisaris
PT. BOLA DUNIA
Jl. MargondaRaya
Depok
( c) Kami telah mengaudit neraca PT. BOLA DUNIA per 31 Desember 2005 serta laporan
rugi laba, laporan perubahan laba ditahan, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir
pada tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan.
Tanggung jawab kami adalah pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan
audit kami.
(d) Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan
Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar
kami memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji
material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang
mendukung jumlah- jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi
penilaian atas standar akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh
manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami
yakin bahwa audit kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
(e) Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan secara
wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT. BOLA DUNIA per 31 Desember
2005, dan hasil usaha, serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
(f) Kantor akuntan Eliya
(Eliya )
Reg. Neg-D110369
(g) Tanggal, 13 Maret 2006
3. Penutup/Kesimpulan
Laporan audit merupakan sebuah hasil akhir dari pemeriksaan akuntansi, laporan audit ini
terbagi 2 yakni laporan audit intern untuk pihak-pihak dalam perusahaan dan laporan audit
ekstern yang mana laporan ini untuk pihak luar perusahaan, laporan audit juga akan
menghasilkan sebuah opini audit












Terdiri dari 3 standar umum, 3 standar pekerjaan lapangan, dan 4 standar pelaporan.
1. Standar Umum
Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan
pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.
Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap
mental harus dipertahankan oleh auditor.
Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan
kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.
2. Standar Pekerjaan Lapangan
Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus
disupervisi dengan semestinya.
Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan
audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup oengujian yang akan dilakukan.
Bukti audit yang kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan,
permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan
pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.
3. Standar Pelaporan
Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Laporan audit harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidakkonsistensian
penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan
dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode
sebelumnya.
Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali
dinyatakan lain dalam laporan auditor.
Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan
keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahea pernyataan demikian tidak dapat
diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya
harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka
laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit
yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor.
Penjelasan standar umum pertama yaitu: audit harus dilaksanakan oleh seseorang atau
lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor. Dalam
melaksanakan audit untuk sampai pada suatu pernyatan pendapat, auditor harus senantiasa
bertindak sebagai seorang ahli dalam bidang akuntansi dan bidang auditing. Pencapaian
keahlian tersebut dimulai dengan pendidikan formalnya, yang diperluas melalui pengalaman-
pengalaman selanjutnya dalam praktik audit.
Penjelasan standar umum kedua yaitu: dalam semua hal yang berhubungan dengan
perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor. Standar ini
mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karene ia
melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum. Dengan demikian tidak dibenarkan
memihak kepada kepentingan siapapun, sebab bagaimanapun sempurnanya keahlian teknis
yang dimiliki, ia akan kehilangan sikap tidak memihak, yang justru sangat penting untuk
mempertahankan kebebasan pendapatnya.
Penjelasan standar umum ketiga : Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya,
auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama. Standar
ini menuntut auditor independen untuk merencanakan dan melaksanakan pekerjaannya
dengan menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama. Penggunaan
kemahiran profesional dengan kecermatan dan keseksamaan menekankan tanggung jawab
setiap profesional yang bekerja dalam organisasi auditor independen untuk mengamati
standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan.
Penjelasan standar pekerjaan lapangan pertama yaitu: Pekerjaan harus direncanakan
sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya. Perencanaan
audit meliputi pengembangan strategi menyeluruh pelaksanaan dan lingkup audit yang
diharapkan. Sifat, lingkup, dan saat perencanaan bervariasi dengan ukuran dan kompleksitas
entitas, pengalaman mengenai entitas, dan pengetahuan tentang bisnis entitas. Dalam
perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan, antara lain :
1. Masalah yang berkaitan dengan bisnis entitas dan industri yang menjadi tempat usaha
entitas tersebut..
2. Kebijakan dan prosedur akuntansi entitas tersebut.
3. Metode yang digunakan oleh entitas tersebut dalam mengolah informasi akuntansi
yang signifikan, termasuk penggunaan organisasi jasa dari luar untuk mengolah
informasi akuntansi pokok perusahaan.
4. Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan.
5. Pertimbangan awal tentang tingkat materialitas untuk tujuan audit.
6. Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan penyesuaian (adjustment).
7. Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubahan pengujian audit,
seperti resiko kekeliruan atau kecurangan yang material atau adanya transaksi antar
pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa.
8. Sifat laporan laporan auditor yang diharapkan akan diserahkan (sebagai contoh,
laporan auditor tentang laporan keuangan konsolidasi, laporan keuangan yang
diserahkan ke Bapepam, laporan khusus untuk menggambarkan kepatuhan klien
terhadap kontrak perjanjian).
Supervisi: Pekerjaan yang dilaksanakan oleh asisten harus di review untuk menentukan
apakah pekerjaan tersebut telah dilaksanakan secara memadai dan auditor harus menilainya
apakah hasilnya sejalan dengan kesimpulan yang disajikan dalam laporan auditor.
Penjelasan standar pekerjaan lapangan kedua: Pemahaman memadai atas pengendalian
intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup
pengujian yang dilakukan. Pengendalian intern adalah suatu proses yang didesain untuk
memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan : keandalan laporan keuangan,
efektivitas dan efisiensi operasi dan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
Pengendalian intern terdiri dari lima komponen yang saling terkait yaitu :
1. Lingkungan pengendalian
2. Penaksiran risiko
3. Aktivitas pengendalian
4. Informasi dan komunikasi
5. Pemantauan
Dalam semua audit, auditor harus memperoleh pemahaman masing-masing dari lima
komponen pengendalian intern yang cukup untuk merencanakan audit dengan melaksanakan
prosedur untuk memahami desain pengendalian yang relevan dengan suatu audit laporan
keuangan, dan apakah pengendalian tersebut dioperasikan. Dalam perencanaan audit,
pengetahuan tersebut digunakan untuk:
1. Mengidentifikasi salah saji potensial.
2. Mempertimbangkan faktor-faktor yang berdampak terhadap risiko salah saji material
3. Mendesain pengujian substantif.
Penjelasan standar pekerjaan lapangan yang ketiga: Bukti audit kompeten yang cukup
harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan dan konfirmasi sebagai
dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.Pernyataan
manajemen (asersi) yang terkandung di dalam komponen laporan keuangan dapat
diklasifikasikan menjadi 5 golongan yaitu: keberadaan atau keterjadian (exitence or
occurrence), kelengkapan (completeness), hak dan kewajiaban (right and obligation),
penilaian (valuation), dan Penyajian dan pengungkapan (presentation and
disclosure).Didalam memperoleh bukti audit yang mendukung asersi dalam laporan
keuangan, auditor independen merumuskan tujuan audit spesifik ditinjau dari sudut asersi
tersebut dengan mempertimbangkan kondisi khuisus entitas termasuk sifat aktivitas ekonomi
dan praktik akuntansi yang khas dalam industrinya.
Penjelasan standar pelaporan pertama menyatakan: Laporan audit harus menyatakan
apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
di Indonesia. Pendapat auditor, bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi
keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
harus didasarkan atas pertimbangannya apakah :
1. Prinsip akuntansi yang dipilih dan diterapkan telah berlaku umum di Indonesia.
2. Prinsip akuntansi yang dipilih tepat untuk keadaan yang bersangkutan
3. Laporan keuangan beserta catatannya memberikan informasi cukup yang dapat
mempengaruhi penggunaan, pemahaman, dan penafsirannya.
4. Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan diklasifikasikan dan diikhtisarkan
dengan semestinya, yang tidak terlalu rinci atau ringkas.
5. Laporan keuangan mencerminkan peristiwa dan transaksi yang mendasarinya dalam
suatu cara yang menyajikan posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas dalam batas-
batas yang layak dan praktis untuk dicapai dalam laporan keuangan.
Penjelasan standar pelaporan kedua yaitu: laporan auditor harus menunjukkan, jika ada,
ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam pnyusunan laporan keuangan priode
berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode
sebelumnya. Tujuan standar konsistensi adalah untuk memberikan jaminan bahwa jika daya
banding laporan keuangan di antara dua periode dipengaruhi secara material oleh perubahan
prinsip akuntansi, auditor akan mengungkapkan perubahan tersebut dalam laporannya.
Penjelasan standar pelaporan ketiga yaitu: Pengungkapan informatif dalam laporan
keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.
Penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum mencakup
dimuatnya pengungkapan informatif yang memadai atas hal-hal material. Hal-hal tersebut
mencakup bentuk, susunan, dan isi laporan keuangan, serta cataan atas laporan keuangan
yang meliputi, sebagai contoh, istilah yang digunakan, rincian yang dibuat, penggolongan
unsur dalam laporan keuangan, dan dasar-dasar yang digunakan untuk menghasilkan jumlah
yang dicantumkan dalam laporan keuangan. Auditor harus mempertimbangkan apakah
masih terdapat hal-hal tertentu yang harus diungkapkan sehubungan dengan keadaan dan
fakta yang diketahuinya pada saat audit.
Penjelasan standar pelaporan keempat yaitu: Laporan auditor harus memuat suatu
pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa
pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat
diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan
laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat
pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada , dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh
auditor. Tujuan standar pelaporan keempat adalah untuk mencegah salah tafsir tentang
tingkat tanggung jawab yang harus dipikul oleh akuntan bila namanya dikaitkan dengan
laporan keuangan.
























Berikut ini
adalah
penyebab paling
penting dari
penambahan
paragraf
penjelasan atau
modifikasi kata-
kata pada
laporan wajar
tanpa
pengecualian
standar:

Tidak adanya
aplikasi yang
konsisten dari
prinsip-prinsip
akuntansi yang
berlaku umum

Keraguan yang
substansial
mengenai going
concern

Auditor setuju
dengan
penyimpangan
dari prinsip
akuntansi yang
dirumuskan

Penekanan pada
suatu hal atau
masalah

Laporan yang
melibatkan
auditor lain.
Keempat
laporan yang
pertama
memelurkan
suatu paragraf
penjelasan.
Pada setiap
kasus, tiga
paragraf laporan
standar tetap
disertakan tanpa
modifikasi dan
paragraf
penjelasan yang
terpisah akan
diikuti dengan
paragraf
pendapat.
KONSISTENSI
DAN
KOMPARABI
LITAS
Auditor harus
mampu
membedakan
antara
perubahan yang
mempengaruhi
konsistensi
pelaporan
dengan
perubahan yang
dapat
mempengaruhi
komparabilitas
tetapi tidak
mempengaruhi
konsistensi.
Berikut ini
contoh
perubahan yang
mempengaruhi
konsistensi dan
karenanya
memerlukan
paragraf
penjelasan jika
perubahan
tersebut
material: 1.


Perubahan
prinsip
akuntansi,
seperti
perubahan
metode
penilaian
persediaan dari
FIFO menjadi
LIPO. 2.

Perubahan
entitas
pelaporan. 3.

Koreksi
kesalahan yang
melibatkan
prinsip-prinsip
akuntansi yaitu
dengan
mengubah
prinsip
akuntansi yang
tidak berlaku
umum menjadi
prinsip
akuntansi yang
berlaku umum.
Perubahan yang
mempengaruhi
komparability
tetapi tidak
mempengaruhi
konsistensi
sehingga tidak
perlu
dimasukkan
dalam laporan
audit yaitu: 1.

Perubahan
estimasi seperti
penurunan umur
manfaat aktiva
untuk tujuan
penyusutan. 2.

koreksi
kesalahan yang
tidak
melibatkan
prinsip
akuntansi. 3.

variasi format
dan penyajian
informasi
keuangan




Profesi akuntan publik atau auditor independen memberikan berbagai macam jasa bagi
masyarakat, yang dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yaitu:
1. Jasa Penjaminan (Assurance
Services
)
Jasa penjaminan adalah jasa profesional independen yang meningkatkan mutu informasi bagi
pengambil keputusan. Pengambil keputusan memerlukan informasi yang andal dan relevan
sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Oleh karena itu, mereka mencari jasa
penjaminan untuk meningkatkan mutu informasi yang akan dijadikan sebagai dasar
keputusan yang akan mereka lakukan.
Profesional yang memberikan atau menyediakan jasa penjaminan harus memiliki
kompetensi dan independensi berkaitan dengan informasi yang diperiksanya. Jasa
penjaminan dapat dibrikan oleh profesi akuntan publik atau auditor independen atau berbagai
profesi lain. Contoh jasa penjaminan yang disediakan oleh profesi lain (selain yang dilakukan
oleh Kantor Akuntan Publik) adalah jasa pengujian berbagai produk oleh organisasi
konsumen, jasa pemeringkatan televisi (television rating), dan jasa pemeringkatan radio
(radio rating). Laporan yang dikeluarkan oleh perusahaan pemeringkat tersebut sangat
dipercaya oleh masyarakat atau perusahaan yang bermaksud memasang iklan di televisi dan
radio, terutama karena sifatnya yang independen.
Jasa penjaminan bukan merupakan jasa baru yang diperlukan oleh masyarakat. Profesi
akuntan publik atau auditor independen telah lama menyediakan jasa penjaminan tentang
informasi laporan keuangan historis kepada masyarakat. Jasa penjaminan ini lebih dikenal
dengan jasa auditor. Akhir-akhir ini, profesi akuntan publik atau auditor independen
Indonesia semakin sering mendapat penugasan untuk memberikan jasa penjaminan atas
informasi, seperti misalnya penjaminan tentang peramalan keuangan perusahaan dan
penjaminan tentang pengawasan web site. Salah satu jenis jasa penjaminan yang diberikan
oleh profesi akuntan publik atau auditor independen adalah jasa atestasi.

Jasa Atestasi
Jasa atestasi (attestation services) adalah jenis jasa penjaminan yang dilakukan profesi
akuntan publik atau auditor independen dengan menerbitkan suatu laporan tertulis yang
menyatakan kesimpulan tentang keandalan pernyataan tertulis yang dibuat oleh pihak lain.
Ada tiga bentuk jasa atestasi, yaitu:
1). Audit atas Laporan Keuangan Historis
Audit atas laporan keuangan historis adalah salah satu bentuk jasa atestasi yang dilakukan
auditor. Dalam pemberian jasa ini auditor menerbitkan laporan tertulis yang berisi pernyataan
pendapat (opinion) apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan Prinsip Akuntansi
Berterima Umum (PABU). Auditing merupakan bentuk pemberian jasa penjaminan yang
paling banyak dilakukan oleh profesi akuntan publik atau auditor independen dibandingkan
dengan jasa penjaminan lainnya.
2). Penelaahan (Review) atas Laporan Keuangan Historis
Penelaahan (review) atas laporan keuangan historis adalah jenis lain dari jasa atestasi yang
diberikan oleh profesi akuntan publik atau auditor independen. Banyak perusahaan non-
publik menginginkan jaminan atas laporan keuangannya dengan biaya yang lebih murah.
Audit sebagaimana diuraikan di atas menghasilkan jaminan yang tinggi, sedangkan
penelaahan (review) hanya menghasilkan jaminan yang moderat atas laporan keuangan, dan
untuk mendapatkan jaminan demikian dibutuhkan bukti yang lebih sedikit. Penelaahan
(review) untuk keperluan tertentu dipandang sudah cukup memadai dan dapat dilakukan oleh
akuntan publik atau auditor independen dengan biaya auditing yang lebih murah.
3). Jasa Atestasi Lainnya
Profesi akuntan publik atau auditor independen dapat memberikan berbagai macam jasa
atestasi. Kebanyakan dari jasa atestasi tersebut merupakan perluasan dari auditing atas
laporan keuangan, karena pemakai laporan membutuhkan jaminan independen tentang
informasi lainnya (selain informasi dalam laporan keuangan), contoh bank sering minta
kepada debiturnya (pengambil kredit) agar diperiksa oleh akuntan publik atau auditor
independen untuk mendapatkan jaminan bahwa debitur telah melaksanakan ketentuan-
ketentuan tertentu sebagaimana tercantum dalam akad kredit. Profesi akuntan publik atau
auditor independen dapat juga melakukan atestasi atas laporan keuangan prospektif kliennya
yang sering diperlukan sebagai syarat untuk memperoleh pinjaman.
Kebanyakan jasa penjaminan lain yang diberikan profesi akuntan publik atau auditor
independen tidak merupakan jasa atestasi. Jasa-jasa tersebut mirip dengan jasa atestasi, yaitu
auditor harus independen dan harus memberikan jaminan atas informasi yang akan dipakai
para pengambil keputusan. Perbedaannya ialah bahwa akuntan publik atau auditor
independen tidak diminta untuk menerbitkan laporan tertulis dan penjaminan tidak mengenai
keandalan pernyataan tertulis yang dibuat pihak lain dalam kaitannya dengan suatu kriteria
tertentu.
Dalam penugasan jasa penjaminan semacam ini, jaminan diberikan atas keandalan dan
relevansi informasi yang dinyatakan atau tidak dinyatakan oleh pihak lain. Karakteristik
umum jasa penjaminan, termasuk auditing dan jasa atestasi lainnya, dititikberatkan pada
perbaikan kualitas informasi yang dipakai para pengambil keputusan.
2. Jasa Bukan Penjaminan (Non-Assurance Services)
Jasa bukan penjaminan adalah jasa yang diberikan oleh akuntan publik atau auditor
independen yang didalamnya ia tidak memberikan suatu pendapat, keyakinan negatif,
ringkasan temuan, atau bentuk lain keyakinan. Profesi akuntan publik atau auditor
independen juga memberikan berbagai jenis jasa lain yang pada umumnya tidak atau bukan
merupakan jasa penjaminan. Jenis jasa bukan penjaminan yang diberikan oleh akuntan publik
atau auditor independen adalah jasa akuntansi dan pembukuan, jasa perpajakan, dan jasa
konsultasi manajemen.
Sumber: Auditing Pendekatan Sektor Publik dan Privat, Penulis: Sekar Mayangsari, Puspa
Wandanarum, Hal: 4-7.
- See more at: http://keuanganlsm.com/jasa-yang-diberikan-oleh-profesi-auditor-
lndependen/#sthash.TotYHPZ8.dpuf