Você está na página 1de 8

Monopoli

Teori :
Pasar monopoli (dari bahasa Yunani : monos, satu + polein, menjual) adalah suatu bentuk
pasar di mana hanya terdapat satu penjual yang menguasai pasar. Penentu harga pada pasar ini
adalah seorang penjual atau sering disebut sebagai monopolis. Sebagai penentu harga (pricemaker), seorang monopolis dapat menaikkan atau mengurangi harga dengan cara menentukan
jumlah barang yang akan diproduksi; semakin sedikit barang yang diproduksi, semakin mahal
harga barang tersebut, begitu pula sebaliknya. Walaupun demikian, penjual juga memiliki suatu
keterbatasan dalam penetapan harga. Apabila penetapan harga terlalu mahal, maka orang akan
menunda pembelian atau berusaha mencari atau membuat barang subtitusi (pengganti) produk
tersebut atau lebih buruk lagi mencarinya di pasar gelap (black market).
Ciri ciri dari pasar monopoli :

Hanya ada satu produsen yang menguasai penawaran

Tidak ada barang subsitusi / pengganti yang mirip (close substitute)

Harga dan jumlah kuantitas produk yang ditawarkan dikuasai oleh perusahaan monopoli.

Umumnya monopoli dijalankan oleh pemerintah untuk kepentingan hajat hidup orang
banyak

Sangat sulit untuk masuk ke pasar karena peraturan undang-undang maupun butuh
sumber daya yang sulit didapat

Tidak butuh strategi dan promosi untuk sukses

Ada beberapa penyebab terjadi pasar monopoli, diantara penyebabnya adalah sebagai
berikut:

Ditetapkannya

Undang-undang

(Monopoli

Undang-undang). Atas

pertimbangan

pemerintah, maka pemerintah memberikan hak pada sutau perusahaan seperti PT Pos dan
Giro, PT. PLN. Hasil pembinaan mutu dan spesifikasi yang tidak dimiliki oleh
perusahaan lain, sehingga lama kelamaan timbul kepercayaan masyarakat untuk selalu
menggunakan produk tersebut.

Menetapkan hak

paten atau hak cipta dan hak eksklusif pada suatu barang, yang

biasanya diperoleh melalui peraturan pemerintah. Tanpa kepemilikan hak paten,


perusahaan lain tidak berhak menciptakan produk sejenis sehingga menjadikan
perusahaan monopolis sebagai satu-satunya produsen di pasar.

Sumber daya alam. Perbedaan sumber daya alam menyebabkan suatu produk hanya
dikuasai oleh suatu daerah tertentu seperti timah dari pulau bangka.
Kerugian-kerugian yang disebabkan oleh pasar monopoli:

Ketidakadilan, karena monopolis memperoleh keuntungan diatas keuntungan normal.

Volume produksi ditentukan oleh monopolis

Terjadi eksploitasi oleh monopolis terhadap konsumen dan pemilik faktor-faktor


produksi.

Pemerintah dapat mencegah kerugian-kerugian yang disebabkan pelaku monopoli dengan


cara :

Mencegah munculnya monopoli dengan undang-undang

Pemerintah mendirikan perusahaan tandingan yang mampu menyaingi monopolis

Membuka impor untuk barang yang diproduksi oleh monopolis

Campur tangan pemerintah dalam menentukan harga.

Kasus
http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/19/time/174703/idn
ews/854655/idkanal/399

KPPU: Temasek Terbukti Monopoli


Arin Widiyanti - detikinet
http://openx.detik.com/delivery/ck.php?
n=ad79472d&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE'

target='_blank'>

http://openx.detik.com/delivery/avw.php?
zoneid=45&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=ad79472d' border='0' alt='' />
Jakarta - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memutuskan Temasek Holdings bersalah
melanggar UU no 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak
sehat.
Keputusan tersebut dibacakan oleh Ketua Majelis Komisi Syamsul Maarif didampingi 4 anggota
komisi yakni Erwin Syahril, Tresna P. Soemadi, Sukarni dan Didik Akhmadi di kantor KPPU,
Jalan Djuanda, Jakarta, Senin (19/11/2007). Pembacaan vonis sudah dimulai sejak pukul 14.30
WIB.
"KPPU menyatakan Temasek bersalah melanggar pasal 27 a UU no 5 tahun 1999," jelas
Syamsul.
Sidang kali ini adalah untuk pembacaan putusan perkara no 7/KPPU-L/2007 tentang dugaan
pelanggaran pasal 27 huruf 1 UU No 5 tahun 1999, yang secara bersama-sama dilakukan oleh
kelompok

usaha

Temasek.

Temasek terbukti melanggar pasar 27 yang berbunyi, pelaku bisnis dilarang memiliki saham
mayoritas di beberapa perusahaan sejenis yang bergerak di bidang usaha yang sama di pasar
yang sama, atau membentuk beberapa perusahaan dengan sektor bisnis yang sama di pasar yang
sama jika kepemilikan tersebut mengakibatkan pelaku usaha mengontrol 51% dari market share
untuk produk atau jasa tertentu. Jika dua atau tiga pelaku usaha dalam satu bisnis mengontrol
75%

darai

market

share

di

produk

atau

jasa

tertentu.

Dalam kasus ini, ada 10 pihak terlapor. Terlapor I Temasek Holdings Pte Ltd, Terlapor II:
Singapore Technologies Telemedia Pte Ptd, Terlapor III: STT Communications Ltd, Terlapor IV:
Asia Mobile Holdings Company Pte Ltd, Terlapor V: Asia Mobile Holdings Pte Ltd, Terlapor VI:
Indonesia Communications Ltd, Terlapor VII: Indonesia Communications Pte Ltd, Terlapor VIII:
Singapore Telecommunications

Pte Ltd, Terlapor IX Singapore Telecom Pte Ltd.

Selain itu, ada dugaan pelanggaran pasal 17 dan pasal 25 ayat 1 huruf b UU No 5 tahun 1999
yang

dilakukan

oleh

PT

Telekomunikasi

Seluler

sebagai

terlapor

X.

KPPU dalam dugaan awalnya menemukan bukti monopoli Temasek atas kepemilikannya di
Indosat dan Telkomsel. Seperti diketahui, Temasek melalui dua anak usahanya yakni Singtel dan
Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. (STT) memiliki saham di dua perusahaan
telekomunikasi di Indonesia. Singtel saat ini memiliki 35 persen saham di Telkomsel, sementara
STT menguasai 41,94 persen saham Indosat. ( qom / rou )

Diskriminasi Harga
Teori:
Diskriminasi Harga mengacu pada pengenaan harga berbeda untuk produk atau jasa yang
sama, kepada kelompok pelanggan yang berbeda atau dalam pasar yang berbeda. Diskriminasi
harga internasional disebut dumping. Dalam dumping, produsen menjual suatu komoditas lebih
mahal di dalam negeri (yang kurva permintaan pasarnya kurang elastis) dibanding di luar negeri.
Hubungan dengan Monopoli
Monopoli murni adalah bentuk organisasi pasar dimana terdapat perusahaan tunggal yang
menjual komoditi yang tidak mempunyai substitusi sempurna. Jadi, perusahaan itu sekaligus
merupakan industri dan menghadapi kurva permintaan industri yang memiliki kemiringan
negatif untuk komoditi itu. Akibatnya, jika monopolis itu hendak menjual lebih banyak komoditi,
ia harus menurunkan harganya, dengan demikian, MR < P dan kurva MR terletak dibawah kurva
D.
Kurva MR untuk tiap kurva permintaan yang berbentuk garis lurus adalah garis lurus
yang dimulai pada titik yang sama pada sumbu vertikal seperti kurva permintaan tetapi tingkat
penurunannya dua kali lipat (yaitu, mempunyai kemiringan absolut sebesar dua kali lipat) dari
kurva D. Juga, MR pada tiap tingkat penjualan berhubungan dengan harga pada tingkat
penjualan tersebut dengan rumus MR = P(1 - 1/e), dimana e berarti nilai absolut dari koefisien
elastisitas harga dari permintaan pada tingkat penjualan itu.
Output ekuilibrium jangka pendek untuk monopolis tersebut adalah output di mana
keuntungan total mencapai maksimum, atau kerugian total mencapai minimum (asalkan TR >
TVC).
Sebagaimana halnya dalam kasus persaingan sempurna, adalah bermanfaat untuk
menganalisis ekuilibrium jangka pendek monopolis murni melalui pendekatan marjinal.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa tingkat output ekuilibrium jangka pendek bagi monopoli itu
adalah output di mana MR = SMC dan kemiringan kurva MR lebih kecil daripada kemiringan
kurva SMC (membuktikan bahwa pada tingkat output ini P > AVC).
Dalam jangka panjang, monopolis akan tetap beroperasi hanya jika ia dapat memperoleh laba
(atau setidak-tidaknya mencapai kondisi pulang pokok) dengan memproduksi tingkat output
terbaik menurut skala operasi yang paling sesuai. Tingkat output dalam jangka panjang
ditentukan oleh titik di mana kurva LMC memotong kurva MR dari bawah. Skala operasi yang
paling sesuai adalah skala operasi yang kurva SAC-nya bersinggungan dengan kurva LAC pada
tingkat output yang terbaik.
Dengan menetapkan harga maksimum pada tingkat di mana kurva SMC memotong kurva
D, pemerintah dapat mendorong monopolis itu untuk meningkatkan output sampai tingkat yang
harus diproduksi industri jika diatur sepanjang batas persaingan sempurna. Peraturan ini juga
mengurangi keuntungan monopolis itu.
Dengan membebankan pajak lump-sum (seperti pajak izin usaha ataupun pajak
keuntungan), pemerintah dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan keuntungan monopolis
tanpa mempengaruhi harga komoditi atau output.
Pemerintah dapat pula mengurangi keuntungan monopoli dengan membebankan pajak
per-unit. Akan tetapi, dalam kasus ini monopolis dapat mengalihkan sebagian beban pajak perunit kepada para konsumen, dalam bentuk harga yang lebih tinggi dan output komoditi yang
lebih kecil.
Seorang monopolis dapat meningkatkan TR dan keuntungannya untuk suatu tingkat
output tertentu dengan melakukan diskriminasi harga. Salah satu bentuk diskriminasi harga
terjadi apabila monopolis itu mengenakan harga-harga yang berbeda untuk komoditi yang sama
di dalam pasar yang berbeda sedemikian rupa sehingga unit terakhir dari komoditi yang dijual di
setiap pasar memberikan MR yang sama. Hal ini seringkali disebut sebagai diskriminasi harga
tingkat ketiga.

Kasus
Diskriminasi harga BBM dapat menimbulkan black market dan
penyelundupan
Fri, 16/05/2008 - 2:00pm godam64
Pemerintah memang tidak memiliki banyak pilihan ketika harga minyak dunia meningkat
tajam tidak sesuai dengan harga eceran bahan bakar minyak di dalam negeri. Subsidi akan
semakin besar ditanggung oleh apbn yang tadinya dapat disalurkan untuk anggaran
pembangunan yang lain yang mungkin lebih berguna. Namun di lain sisi apabila harga bbm
dinaikkan maka rakyat kalangan menengah ke bawah akan semakin terpuruk di mana tidak ada
peningkatan penghasilan namun terjadi peningkatan pengeluaran untuk kebutuhan hidup seharihari hasil imbas kenaikan harga bbm secara umum.
Salah satu pilihan dalam menyikapi kenaikan harga minyak mentah dunia adalah dengan
cara membedakan harga yang diberikan untuk orang yang mampu dan orang yang tidak mampu
atau membedakan harga bbm dengan berdasarkan wilayah yang maju dengan yang belum maju.
Dapat juga dibedakan berdasarkan limit atau pembatasan tertentu dari pembelina per individu
atau per kendaraan.
Jika harga bbm dibedakan berdasarkan kemampuan ekonomi seseorang, maka orang yang
tidak mampu akan membeli bbm sebanyak-banyaknya dan menjualnya kepada kalangan yang
mampu dengan harapan mendapatkan keuntungan dari harga yang ada. Orang yang mampu pun
juga bisa berpura-pura tidak mampu untuk membeli bbm dengan harga murah.
Jika bbm harganya didiskriminasikan berdasarkan wilayah maka yang terjadi adalah
terjadinya penyelundupan bbm yang di beli di wilayah yang harganya disubsidi untuk dijual ke
wilayah yang tidak mendapat subsidi dengan harga yang lebih murah dari harga yang berlaku
untuk mendapatkan keuntungan.
Jika harga bbm bersubsidi dibatasi perorangan atau perkendaraan maka para penjahat
yang suka mengambil kesempatan dari kesempitan yang terjadi dengan cara memiliki banyak

kartu pengenal atau menyuruh orang lain yang yang tidak butuh banyak bbm untuk membeli
secara maksimal untuk dirinya. Selain itu akan ada orang yang memiliki banyak kendaraan baik
secara fisik maupun hanya sekedar surat-surat saja (gonta-ganti plat nomor) untuk dapat membeli
banyak bbm dengan harga subsidi demi keuntungan sesaat saja.
Jadi harga diskriminasi memang serba salah dan mampu membuka kesempatan orang
yang tidak takut masuk penjara dan neraka untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari
subsidi pemerintah. Seharusnya pemerintah memberlakukan harga bbm sesuai harga pasar.
Sebagai kompensasinya adalah pemerintah melakukan peningkatan kesejahteraan sesuai
dengan UUD '45 di mana setiap warga negara berhak atas penghidupan yang layak serta
memelihara orang yang tidak mampu. Pemerintah selama ini tidak mampu menanggulangi
kemiskinan karena tidak adanya aspek keberanian inovasi yang sangat kreatif untuk memajukan
perekonomian bangsa ini.
Hanya dengan melirik, mempelajari dan meniru sejarah perekonomian negara seperti
Korea Selatan. Cina, Jepang, Singapura, Malaysia dan lain sebagainya tidak ada alasan lagi bagi
pemerintah untuk tidak bisa memajukan perekonomian bangsa ini ke arah yang lebih baik. Tidak
ada alasan lagi bagi oknum pemerintah untuk tetap membuat rakyat bodoh agar partai miliknya
tetap dipilih dalam pemilu dan pilkada oleh orang-orang yang telah dibuat tetap bodoh dan
miskin. Oknum pemerintah yang semacam itu hanya peduli dan sadar bahwa rakyat itu ada
setiap 5 tahun sekali atau setiap pilkada berlangsung.