Você está na página 1de 12

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN DIABETES MELLITUS

Oleh :
M.Lutfi Hendrawan
Nuryana Agustini
Susi Susanti
Sahrul Hairi
Rendi Amirudin
Zekariya Weis Suyuti

Fakultas Ilmu Kesehatan


Prodi S1 Keperawatan
Universitas Wiraraja Sumenep
2014-2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul Asuhan keperawatan diabetes mellitus
Makalah ini berisikan tentang informasi Pengertian Diabetes mellitus. Diharapkan
Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Asuhan keperawatan
diabetes mellitus.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.

Sumenep, 26 Mei 2014

PENULIS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.
Diagnosis DM umumnya akan dipikirkan bila ada keluhan khas DM berupa poliuria,
polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Secara
epidemiologik diabetes seringkali tidak terdeteksi dan dikatakan onset atau mulai terjadinya
adalah 7 tahun sebelum diagnosis ditegakkan, sehingga morbiditas dan mortalitas dini terjadi
pada kasus yang tidak terdeteksi (Soegondo, et al., 2005).
Diabetes mellitus jika tidak dikelola dengan baik akan dapat mengakibatkan
terjadinya berbagai penyakit menahun, seperti penyakit serebrovaskular, penyakit jantung
koroner, penyakit pembuluh darah tungkai, penyakit pada mata, ginjal, dan syaraf. Jika kadar
glukosa darah dapat selalu dikendalikan dengan baik, diharapkan semua penyakit menahun
tersebut dapat dicegah, atau setidaknya dihambat. Berbagai faktor genetik, lingkungan dan
cara hidup berperan dalam perjalanan penyakit diabetes (Soegondo, et al., 2005).
Berbagai penelitian menunjukan bahwa kepatuhan pada pengobatan penyakit yang
bersifat kronis baik dari segi medis maupun nutrisi, pada umumnya rendah. Dan penelitian
terhadap penyandang diabetes mendapatkan 75 % diantaranya menyuntik insulin dengan cara
yang tidak tepat, 58 % memakai dosis yang salah, dan 80 % tidak mengikuti diet yang tidak
dianjurkan.(Endang Basuki dalam Sidartawan Soegondo, dkk 2004).
Jumlah penderita penyakit diabetes melitus akhir-akhir ini menunjukan kenaikan yang
bermakna di seluruh dunia. Perubahan gaya hidup seperti pola makan dan berkurangnya
aktivitas fisik dianggap sebagai faktor-faktor penyebab terpenting. Oleh karenanya, DM
dapat saja timbul pada orang tanpa riwayat DM dalam keluarga dimana proses terjadinya
penyakit

memakan waktu bertahun-tahun dan sebagian besar berlangsung tanpa gejala.

Namun penyakit DM dapat dicegah jika kita mengetahui dasar-dasar penyakit dengan baik
dan mewaspadai perubahan gaya hidup kita (Elvina Karyadi, 2006).
Penderita diabetes mellitus dari tahun ke tahun mengalami peningkatan menurut
Federasi Diabetes Internasional (IDF), penduduk dunia yang menderita diabetes mellitus
sudsh mencakupi sekitar 197 juta jiwa, dan dengan angka kematian sekitar 3,2 juta orang.

WHO memprediksikan penderita diabetes mellitus akan menjadi sekitar 366 juta
orang pada tahun 2030. Penyumbang peningkatan angka tadi merupakan negara-negara
berkembang, yang mengalami kenaikan penderita diabetes mellitus 150 % yaitu negara
penderita diabetes mellitus terbanyak adalah India (35,5 juta orang), Cina (23,8 juta orang),
Amerika Serikat (16 juta orang), Rusia (9,7 juta orang), dan Jepang (6,7 juta orang).
WHO menyatakan, penderita diabetes mellitus di Indonesia diperkirakan akan
mengalami kenaikan 8,4 juta jiwa pada tahun 2000,menjadi 21,3 juta jiwa pada tahun 2030.
Tingginya angka kematian tersebut menjadikan Indonesia menduduki ranking ke-4 dunia
setelah Amerika Serikat, India dan Cina (Depkes RI, 2004).
Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), terjadi pengukuran
prevalensi Diabetes mellitus (DM) dari tahun 2001 sebesar 7,5 % menjadi 10,4 % pada tahun
2004, sementara hasil survey BPS tahun 2003 menyatakan bahwa prevalensi diabetes
mellitus mencapai 14,7 % di perkotaan dan 7,2 % di pedesaan.
Berdasarkan data rawat jalan di Rumah Sakit Umum Propinsi Sulawesi Tenggara
(Poli Interna) tahun 2009 penderita diabetes melitus sebanyak 779 orang atau 16,1 % dari
jumlah pasien sebanyak 4837 pasien, tahun 2010 penderita diabetes mellitus sebanyak 1124
orang atau 25,8 % dari jumlah pasien sebanyak 4345 pasien, sedangkan pada tahun 2011 dari
Januari sampai dengan Juni 2011 jumlah penderita diabetes mellitus 793 orang atau 38,7 %
dari jumlah pasien sebanyak 2044 orang. Olehnya itu, makalah ini akan membahas penyakit
Diabetes Militus secara terperinci

2.2 Rumusan masalah


1. Apa definisi dari Diabetes Mellitus ?
2. Bagaimana Patofisiologi dari Diabetes mellitus ?
3. Bagaimana asuhan keperawatan Diabetes mellitus ?

2.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Diabetes mellitus
2. Untuk mengetahui Patofisiologi dari Diabetes mellitus
3. Untuk mengetahui komplikasi dari Diabetes mellitus
4. Untuk mengetahui asuhan keperawatan Diabetes mellitus

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Penyakit Diabetes Mellitus


Diabetes Mellitus adalah:
a.

Suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh adanya
peningkatan kadar glukosa dalam darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun
relatif (Subekti, et al.., 1999).

b. Suatu kelompok penyakit metabolik dengan karateristik hiperglikemia yang terjadi karena
kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (American Diabetes Association,
2003; Soegondo, 1999).
c. Keadaan hiperglikemia kronis sebagai akibat dari berbagai faktor lingkungan dan genetik,
sering keduanya bersama-sama (WHO, 1980, disadur dari Wiyono, 2000)
d. Merupakan gangguan metabolisme dan distibusi gula oleh tubuh penderita.
e. Suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh
tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup.

2.2 Patofisiologi
Seperti suatu mesin, tubuh memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan
mengganti sel yang rusak. Disamping itu juga memerlukan energi supaya sel tubuh dapat
berfungsi dengan baik. Energi sebagai bahan bakar itu berasal dari bahan makanan yang
terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak.
Di dalam saluran pencernaan makanan dipecah menjadi bahan dasar dari makanan itu.
Karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi asam amino dan lemak menjadi asam lemak.
Ketiga zat makanan itu akan diserap oleh usus kemudian masuk kedalam pembuluh darah
dan diedarkan ke seluruh untuk dipergunakan oleh organ-organ didalam tubuh sebagai bahan
bakar. Supaya dapat berfungsi sebagai bahan bakar, zat makanan itu harus masuk dulu
kedalam sel supaya dapat diolah. Di dalam sel, zat makanan terutama glukosa dibakar
melalui proses kimia yang rumit, yan hasil akhirnya adalah timbulnya energi. Proses ini
disebut metabolisme. Dalam proses metabolisme itu insulin (suatu zat/ hormon yang
dikeluarkan oleh sel beta pankreas) memegang peranan yang sangat penting yaitu bertugas
memasukan glukosa ke dalam sel, untuk selanjutnya digunakan sebagai bahan bakar. Insulin

yang dikeluarkan oleh sel beta dalam pulau-pulau Langerhans (kumpulan sel yang berbentuk
pulau di dalam pankreas dengan jumlah 100.000) yang jumlahnya sekitar 100 sel beta tadi
dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa kedalam
sel, untuk kemudian dimetabolisir menjadi tenaga. Bila insulin tidak ada, maka glukosa tidak
dapat masuk sel. Dan akibatnya glukosa akan tetap berada didalam pembuluh darah, yang
artinya kadarnya didalam darah meningkat. Dalam keadaan seperti ini tubuh akan menjadi
lemas karena tidak ada sumber energi di dalam sel. Inilah yang terjadi pada DM tipe 1. Tidak
adanya insulin pada DM tipe 1 karena pada jenis ini timbul reaksi otoimun yang disebabkan
karena adanya peradangan pada sel beta (insulitis). Insulitis bisa disebabkan karena macammacam diantaranya virus, seperti virus cocksakie, rubela, CMV, herpes, dan lain-lain.
Kerusakan sel beta tersebut dapat terjadi sejak kecil ataupun setelah dewasa (Suyono, 1999).
Sedangkan pada DM tipe2 jumlah insulin normal, malah mungkin lebih banyak.
Tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang. Reseptor ini
dapat diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk kedalam sel. Pada keadaan tadi jumlah
lubang kuncinya yang kurang, hingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak, tetapi
karena lubang kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa yang masuk sel akan sedikit
sehingga sel akan kekurangan bahan bakar (glukosa) dan glukosa di dalam pembuluh darah
akan meningkat. Dengan demikian keadaan ini sama dengan pada DM tipe 1. Perbedaanya
adalah pada DM tipe 2 disamping kadar glukosa tinggi, juga kadar insulin tinggi atau normal.
Keadaan ini disebut resistensi insulin (Suyono, 1999).
Penyebab resistensi insulin pada DM tipe 2 sebenarnya tidak begitu jelas, tetapi
faktor-faktor di bawah ini banyak berperan, antara lain:
1)

Obesitas terutama yang bersifat sentral (bentuk apel)

2)

Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat

3)

Kurang gerak badan

4)

Faktor keturunan (herediter)


Baik pada DM tipe 1 maupun pada DM tipe 2 kadar glukosa darah jelas meningkat
dan bila kadar itu melewati batas ambang ginjal, maka glukosa itu akan keluar melalui urin.
Mungkin inilah sebabnya penyakit ini disebut juga penyakit kencing manis (Suyono, 1999).

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

1. Analisis data
No
1

Analisis data
Ds : Pasien mengatakan luka ditumit
dikaki kiri

Masalah

Penyebab

Nyeri

Luka ditumit kaki kiri

Do : S : 36,5 C
N : 80X/mnt
RR : 20X/mnt
TD : 160/100mmHg
Skala nyeri 5-6
2.

Ds : Pasien mengatakan lemah

Kekurangan volume

Poliuri, dehidrasi

cairan
Do : Klien terdeteksi DM saat
menjalani perawatan di rumah
sakit
3.

Ds : Pasien mengatakan adanya luka


daerah tumit di kaki kiri

Gangguan integritas

Adanya luka

kulit

Do : Adanya luka pada daerah tumit di


kaki kiri
4.

Ds : Pasien mengatakan aktivitas


terbatas

Intoleransi aktivitas

Luka pada tumit kaki


kiri

Do: Terpasang kateter, luka pada tumit


kaki kiri
5.

Ds : Pasien mengatakan pasrah dengan


penyakitnya
Do : Pasien tampak selalu di damping
keluarganya

Cemas

Proses penyakit

2. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut b/d luka ditumit kaki kiri
b. Kekurangan volume cairan b/d poliuri, dehidrasi
c. Gangguan integritas kulit b/d adanya luka
d. Intoleransi aktivitas b/d luka pada tumit kaki kiri
e. Cemas b/d proses penyakit

BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Diabetes Mellitus adalah Suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh adanya peningkatan kadar glukosa dalam darah akibat kekurangan insulin
baik absolut maupun relatif (Subekti, et al.., 1999). Klasifikasi Etiologis Diabetes Melitus
Menurut ADA 2003 terdriri atas Diabetes Melitus Tipe 1, Diabetes Melitus Tipe 2 dan
Diabetes Melitus Tipe Lain.
Secara epidemiologi DM seringkali tidak terdeteksi. Berbagai faktor genetik,
lingkungan dan cara hidup berperan dalam perjalanan penyakit diabetes. Ada kecenderungan
penyakit ini timbul dalam keluarga. Disamping itu juga ditemukan perbedaan kekerapan dan
komplikasi diantara ras, negara dan kebudayaan. DM tipe 2 akan meningkat menjadi 5 10
kali lipat karena terjadi perubahan perilaku rural-tradisional menjadi urban. Faktor resiko
yang berubah secara epidemiologis adalah bertambahnya usia, jumlah dan lamanya obesitas,
distribusi lemak tubuh, kurangnya aktivitas jasmani dan hiperinsulinemia. Semua faktor ini
berinteraksi dengan beberapa faktor genetik yang berhubungan dengan terjadinya DM tipe 2
(Soegondo, 1999).
Tanpa intervensi yang efektif, kekerapan DM tipe 2 akan meningkat disebabkan oleh
berbagai hal misalnya bertambahnya usia harapan hidup, berkurangnya kematian akibat
infeksi dan meningkatnya faktor resiko yang disebabkan oleh karena gaya hidup yang salah
seperti kegemukan, kurang gerak/ aktivitas dan pola makan tidak sehat dan tidak teratur
(Slamet Suyono Dalam Pusat Diabetes dan Lipid, 2007).
Kejadian DM diawali dengan kekurangan insulin sebagai penyebab utama. Di sisi lain
timbulnya DM bisa berasal dari kekurangan insulin yang bersifat relatif yang disebabkan oleh
adanya resistensi insulin (insuline recistance). Keadaan ini ditandai dengan ketidakrentanan/
ketidakmampuan organ menggunakan insulin, sehingga insulin tidak bisa berfungsi optimal
dalam mengatur metabolisme glukosa. Akibatnya, kadar glukosa darah meningkat
(hiperglikemi) (M.N Bustan, 2007).
Baik pada DM tipe 1 maupun pada DM tipe 2 kadar glukosa darah jelas meningkat
dan bila kadar itu melewati batas ambang ginjal, maka glukosa itu akan keluar melalui urin.
Mungkin inilah sebabnya penyakit ini disebut juga penyakit kencing manis (Suyono, 1999).

Diagnosa DM harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah, tidak dapat
ditegakan hanya atas dasar adanya glukosuria saja. Dalam menentukan diagnosa DM harus
diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai. Untuk
diagnosa DM, pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa dengan cara
enzimatik dengan bahan darah kapiler (Perkeni, 1998).
Apabila glukosa darah tidak terkontrol dengan baik, beberapa tahun kemudian hampir
selalu akan timbul komplikasi. Komplikasi akibat diabetes dapat dibagi dalam dua kelompok
besar: a). Komplikasi akut dan b). Komplikasi kronis. Sedangkan Menurut Sidartawan
Soegondo, prinsip pemberian obat/ pengobatan terhadap pasien DM terdiri atas 2 yaitu:
a. Pengobatan dengan insulin dan,
b. Pengobatan dengan Obat Hipoglikemik Oral.

DAFTAR PUSTAKA

http://kesmas-ode.blogspot.com/2012/10/makalah-diabetes-melitus.html
http://huderi.wordpress.com/2010/12/19/makalah-penyakit-diabetes-militus-dm/