Você está na página 1de 6

ARTROPODA BITES DAN SNAKE BITES

Definisi : adalah keadaan gawat darurat klinis yang ditimbulkan oleh toksin yang masuk kedalam
jaringan baik lokal maupun sistemik melaui gigitan jenis serangga maupun jenis ular.
ARTROPODA BITES ( GIGITAN SERANGGA )
I. SCOLOPENDRA BITES
Di Indonesia dikenal sebagai kelabang
Jenis Toksin :
- Histotoksin
Gejala klinis :
- Rasa Nyeri pada gigitan, Merah, Bengkak
- Perdarahan pada gigitan, Necrosis jaringan setempat
Patofisiologi :
- Histotoksin terikat protein darah menyebabkan hambatan pembentukan fibrinogen sehingga
tidak terjadi pembekuan darah .
- Terjadi penumpukan sel radang disekitar lokasi luka sehingga terjadi iskemia lalu terjadi
fagositosis jaringan mati sehingga terjadi nekrosis jaringan
II. BUTHUS TAMULUS BITES
Di Indonesia dikenal sebagai Kalajengking
Jenis Toksin :
a. Toksin Non Letal : menimbulkan reaksi setempat
b. Toksin Letal : Toksalbumin dan Neurotoksin
Gejala klinis :
- Pada awal gigitan terjadi nyeri local dalam waktu cepat terjadi Hiperestesia
Hipoestesia.
- Gatal-gatal pada mukosa hidung, mulut dan tenggorokan.
- Lidah gatal, muntah, inkontinensia, hipersalivasi, laringospasme, opistotonus dan kejang.
Patofisiologi :
- Toksalbumin terikat pada protein darah menyebabkan hambatan pembentukan Fibrinogen
sehingga tidak tejadi proses pembekuan darah.
- Terjadi Non Letal menyebabkan penumpukan sel radang di sekitar lokasi gigitan sehingga
terjadi iskemia jaringan sekitarnya akhirnya terjadi nekrosis jaringan.
- Neurotoksin yang masuk peredaran darah sistmik akan menghambat Enzim Cholnesterase
sehingga terjadi gajala-gejala parasimpatis.
Penanganan :
1.Pasang Torniquet Proksimal dari tempat gigitan atau sengatan.
2.Kompres dengan es lalu drainase luka seaseptis mungkin
3.Eksisi tempat gigitan
4.Aspirasi darah yang keluar dengan bahan yang bisa menghisap

5.Injeksi Anti bisa kalajengking + 1 cc NS ditempat gigitan.


6.Jika terjadi kejang beri anti kejang.
7.Jika terjadi paralisa pernafasan lakukan stabilisasi ABCD dan siapkan resusitasi.
III. LATRODECTUS MACTANS BITES
Dikenal dengan Black Widow Spider Envenomated
Jenis Toksin :
- Neurotoksin
Gejala Klinis :
- Lokal :
Timbul benjolan merah kebiruan pada tempat gigitan disertai gatal.
- Sistemik :
Menimbulkan gejala Arachneidisme Sistemic, antara lain :
1. Jika letak gigitan pada bagian ekstremitas inferior akan
terdapat nyeri abdomen dan rigiditas peritonitik .
2. Jika letak gigitan pada ekstremitas superior akan terdapat
nyeri dada, retensi urine, mual-muntah, keringat dingin,
vertigo, insomnia dan Priapismus
IV. LOXOSCELES RECLUSA BITES
Dikenal dengan Brown Recluse Spider Envenomated .
Jenis Toksin :
- Hemotoksin dan Neurotoksin
Gejala Klinis :
- Lokal :
- Nyeri pada tempat gigitan, merah dan radang
- Timbul Vesicula
- Ischemia jaringan sekitar gigitan dan dalam waktu 3-4 hari setelahnya akan melebar dan timbul
keropeng jika terlepas terbentuk dibawahny
- Sistemik :
- Panas, menggigil, mual-muntah, rasa lelah, nyeri sendi, Anemia Hemolitik, Trombositopenia,
odema, ikterus, kejang, flebitis dan infark paru
Patofisisologi :
- Hemotoksin menyebabkan reaksi imunologis dimana akan terjadi autolisis dari dinding
erytrosit sehingga terjadi hemolisis.
-Neurotoksin menyebabkan blockade pada neuromuscular junction sehingga jalur penghantaran
saraf terputus.
Penanganan :
1. Pasang tourniquet proksimal dari gigitan
2. Kompres es dan drainase luka seaseptis mungkin
3. Lakukan eksisi luka gigitan dalam 12 jam setelah di gigit
4. Aspirasi darah yang keluar dengan bahanyang menyerap.

5. Injeksi Hidrikortison intra muscular.


6. Tidak ada anti bisa yang spesifik
7. Jika terjadi komplikasi sistemik siapkan Unit live support
8. Jika terdapar perdarahan dan anemia siapkan transfusi darah
9. Stabilisasi ABCD dan Tindakan Resusitasi

V. EMMENES FRATENUS BITES dan VESPULA MACULA


BITES
Intoksikasinya dikenal sebagai Honey Bee Envenomated . Di Indonesia dikenal sebagai
Sengatan tawon madu .
Jenis Toksin :
- Autacoid Toksin
- Peptidase Toksin
Gejala klinis :
- Ringan : Nyeri local, gatal, odema dan kemerahan ditempat
sengatan
- Sedang : Gatal, nyeri dada, mual-muntah, wheezing, Vertigo
- Berat : Disfagia, suara serak, kejang, sianosis
- Kritis : Hipotensi, nadi lemah, inkontinensia, kolaps
pembuluh darah.
Patofisiologi :
-Autacoid Toksin disekresi melalui sengatan akan menyebabkan berbagai reaksi jaringan
sekitarnya dimana akan merangsang reseptor nyeri, gatal dan pelebaran pembuluh darah
setempat kemudian terjadi eksudasi cairan intravascular sehingga terjadi odema jaringan.
-Peptidase Toksin akan menyebabkan lisis pada jaringan setempat yang dapat menyebabkan
nekrosis jaringan setempat.
- Jika kadar dan dosis toksin agak banyak masuk dalam peredaran darah sistemik maka akan
menyebabkan keadaan shock.
Penanganan :
Sengatan Ringan :
1. Disinfeksi lokasi sengatan
2. Eksplorasi dan cabut sengat yang menancap
3. Lakukan eksisi lokasi
4. Salep antibiotic
Sengatan Sedang :
1. Lakukan pendahuluan tindakan seperti pada sengatan ringan
2. Pasang tourniquet proksimal dari sengatan
3. Berikan Adrenalin 0,1% secara intramuskular
4. Berikan Duradryl 1cc intramuskuler.

Sengatan Berat :
1. Lakukan tindakan pendahuluan seperti pada penanganan
sengatan sedang
2. Siapkan Oksigen dan live saving support.
3. Berikan Adrenalin 0,1% setiap 5 menit.
4. Berikan injeksi Hidrocortison intramuskuler.
5. Observasi 2- 4 jam jika tidak membaik putuskan untuk MRS
Kritis :
1. Langkah penanganan seperti pada penanganan sengatan
berat sudah dilakukan
2. Pemantapan dan stabilisasi A B C D antara lain :
Usahakan jalan nafas tidak tersumbat
Pernafasan dijaga agar tetap adekuat ( tidak boleh
<16x/menit)
Mencegah terjadinya hipotensi
Pasang Douer cateter dan Evaluasi urine dan waspada
terjadi GGA
3. Persiapan Resusitasi dan Cardiolive support
4. ICCU
SNAKE BITES ( GIGITAN ULAR )
Terdapat 3 jenis ular di Indonesia yang sering menyebabkan envenomated sehingga sering
menimbulkan kegawat daruratan klinik, yaitu :
1.Famili Elapidae :
- Najabungarus ( King Cobra ) terdapat banyak di Sumatra dan Jawa.
- Najatripudat sputatrix (Black Cobra) dikenal di Jawa sebagai ular sendok
- Najabungarus Black Glass Eyes banyak terdapat di India dan sangat berbahaya
2. Famili Viperidae :
- Ancistrodon rodostom ( Ular Tanah )
- Lacheis graninius ( Ular Hijau Pohon )
- Micrurus fulvius ( Ular Batu Coral )
3. Famili Hidropydae :
- Ular laut
Perbedaan Ular Berbisa dan Tidak
Tanda Fisik
1. Ular Berbisa
2. Ular Tidak Berbisa

Bentuk Mata dan Pupil


1. Elips dan sudut pupil agak lancip
2. Bundar
Taring
1. Ada sepasang, letak simetris
2. Tidak ada
Lubang antara hidung dan mata
1. Ada
2. Tidak ada
Bentuk Kepala
1. Segitiga
2. Bulat telur
Jenis Toksin yang ada pada Bisa Ular :
- Neurotoksin
- Vasculotoksin
- Hemotoksin
- Myotoksin
Tanda dan Gejala Klinis :
Tanda Utama :
- adanya luka tusuk bekas taring di tubuh
Tanda local :
- perdarahan, bengkak dan nyeri hebat disekitar luka.
Keluhan :
- tergantung jenis ular yang menggigit, antara lain :
A. Elapidae Bites :
- Nyeri, odema,mual-muntah, ptosis, suara sengau, pares
lidah dan faring, salvasi, hematuria, melena, flasid otot leher
dan ekstremitas, parese otot
pernafasan.
B. Viperidae :
- Nyeri, ekimosis, GGA, sputum bercampur darah.
C. Hidropydae :
- Nyeri, kaku otot, myalgia 1 jam setelah gigitan dan diikuti
flasid otot, ophthalmoflegia, disfagia, myoglobinuria (3-6 jam
setelah gigitan).

Klasifikasi Derajat Intoksikasi Akibat Gigitan Ular

Grade 0 :
-hanya luka gigitan ringan saja, nyeri minimal, erytema < 1inchi dalam 12 jam, odema ringan,
gejala sistimik tidak ada.
Grade 1 :
-terdapat luka bekas taring, nyeri berat, odema dan erytema 1-5 inci dalam 12 jam, gejala
sistimik tidak ada.
Grade 2 :
- terdapat bekas gigitan dan taring, nyeri berat, odema dan erytema 6-12 inchi dalam 12 jam,
gejala sistemik berupa mual, gejala neurotoksik, shock, lymfa denopati regional.
Grade 3 :
- terdapat bekas taring dan gigitan, nyeri hebat, odema dan erytema >12 inchi dalam 12 jam,
gejala sistemik berupa Hipotensi, Petechien, ekimose, shock
Grade 4 :
- terdapat bekas taring dan gigitan multiple, odema local pada bagian distal extremitas, terdapat
gejala sistemik berupa GGA, sputum berdarah dan koma.
Pemeriksaan Laboratorium
- Hipoproteinemia, trobositopenia, hipofibrinogenemia, anemia.
Penanganan
1. Pasang tourniquet kuat pada bagian proksimal gigitan
2. Longgarkan ikatan tourniquet setiap 30 menit
3. Penderita dilarang banyak bergerak
4. Eksisi luka gigitan pjat dearah sekitarnya kearah gigitan
5. Biarkan darah keluar lewat luka dan hisap dengan bahan
yang absorben
6. Jika yakin tidak ada caries gigi dan luka pada mulut pada
kondisi darurat dapat dilakukan penghisapan dengan mulut.
7. Tidak boleh dikompres dingin
8. Beri Injeksi SABU secara intramuscular atau Polyvalent Anti
Venome secara intravena dilarutkan dalam Normal Saline
selama 20 menit.
9. Siapkan prosedur Transfusi darah
10. Pemantauan ABCD dan stabilisasi Vital Sing
11. Siapkan Prosedur Live saving support meliputi Oksigen ,
calsium gluconat, prosedur tracheostomi dan hemodialysis