Você está na página 1de 4

Desain Divais Optik Beam Expander dengan

Menggunakan Perangkat Lunak OSLO


Karina Anggraeni, Nufiqurakhmah, Angkik Pandu Rizky, Devic Oktora, Sirojulaili
S1 Lintas Jalur Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
karinaanggraeni27@gmail.com
nufiqurakhmah@gmail.com
angkik.pandurizky@gmail.com
oktoradevic@gmail.com
Shirojoel@gmail.com
Abstract Dewasa ini alat optik merupakan kemajuan bagi
peradaban manusia. Alat optik dapat berupa teleskop, kamera,
teropong, mikroskop, dan lain - lain. Dalam perancangan alat
optik perlu diperhatikan komponen komponen dan parameter
yang tersusun dalam desain alat optik tersebut. Hal ini untuk
menghindari adanya aberasi. Beam expander adalah komponen
pada optik yang digunakan untuk memperbesar beam. Beam
expander merupakan konsep dasar yang digunakan pada teleskop.
Desain optik pada beam expander yang telah dirancang
menggunakan perangkat lunak OSLO dan dibandingkan dengan
percobaan secara langsung. Analisa data dilakukan setelah
diperoleh hasil desain beam expander menggunakan OSLO dan
eksperimen langsung.

dalam desain alat optik tersebut. Hal ini untuk menghindari


adanya aberasi.
2.2 Beam Expander
Beam expander adalah komponen pada optik yang
digunakan untuk memperbesar beam. Beam expander
merupakan konsep dasar yang digunakan pada teleskop. Jenis
beam expander ada 2 yaitu :
1) Galilean Beam Expander
Galilean beam expander terdiri dari lensa negatif dan lensa
positif.

Kata kunci desain optik, aberasi, beam expander, OSLO

I. PENDAHULUAN
Penglihatan merupakan indera yang penting bagi
manusia. Dimana dengan penglihatan kita dapat mengenal
dunia. Namun tidak semua dapat dilihat dengan mata
telanjang manusia. Beberapa objek dengan jarak yang jauh
maupun ukuran yang kecil harus kita lihat untuk mendapatkan
informasi dari objek tersebut. Oleh karena itu manusia
merancang divais optik, yang salah satunya berupa lensa.
Pemanfaatan lensa sendiri dewasa ini kita rasakan sangat
besar, mulai dari hanya mengabadikan momen dengan
kamera, melakukan percobaan dengan mikroskop, hingga
penemuan bintang dan planet baru menggunakan teleskop.
Perancangan divais optik diperlukan untuk membantu
dalam kegiatan manusia. Salah satunya adalah desain beam
expander. Beam Expander adalah komponen optik yang
digunakan untuk memperbesar beam. Desain dibuat pada
perangkat lunak OSLO dan selanjutnya diimplementasikan
dalam eksperimen secara nyata. Paper ini akan membahas
mengenai hasil yang diperoleh dari desain beam expander
secara simulasi dan eksperimen.
II. DASAR TEORI

Gambar 2.1 Galilean Beam Expander

2) Keplerian Beam Expander


Keplerian beam expander terdiri dari 2 lensa positif.

Gambar 2.2 Keplerian Beam Expander

Beam divergence tergantung pada diameter beam seperti


pada persamaan berikut :

2.1 Desain Optik


Desain optik adalah membuat rancangan alat optik. Alat
optik dapat berupa teleskop, kamera, teropong, mikroskop dan
lain lain. Dalam perancangan alat optik ini harus
memperhatikan komponen komponen yang terkandung

Perbesaran dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :

Mp =

atau Mp =

Selain itu, untuk mengetahui output diameter beam dapat


dihitung dari panjang sinar keluaran dari input diameter beam.

Sebaliknya jika sinar datang melewati titik fokus akan


dibiaskan sejajar sumbu lensa.
2) Sinar datang pada lensa cekung sejajar dengan sumbu
lensa akan dibiaskan seolah-olah berasal dari titik
fokus lensa. Sebaliknya jika sinar datang menuju titik
fokus akan dibiaskan sejajar sumbu lensa.
3) Sinar yang datang melalui pusat lensa akan diteruskan..
Pembentukan bayangan pada lensa sebagai berikut :
1) Lensa cekung

Gambar 2.3 Jarak input beam dengan output beam

Laser beam divergence menggunakan sudut penuh


sehingga yang digunakan bukan .

Dari persamaan di atas maka


Persamaan di atas bisa digunakan jika besar
tidak
dipengaruhi aberasi sferis. Jika dipengaruhi aberasi sferis
maka seperti ini hasilnya :
1) Galilean beam expander
Gambar 2/6 Pembentukan Bayangan pada Lensa Cekung

2) Lensa cembung

Gambar 2.4 Pengaruh Aberasi Sferis pada Beam Expander Galilean

2) Keplerian beam expander

Gambar 2.7 Pembentukan Bayangan pada Lensa Cembung

Gambar 2.5 Pengaruh Aberasi Sferis pada Beam Expander Keplerian

Dalam mendesain alat optik berdasarkan pada prinsip


optika geometri. Prinsip optika geometri yang digunakan
adalah optika geometri pada lensa cekung dan cembung.
Pembentukan bayangan pada lensa mematuhi aturan berikut::
1) Sinar datang pada lensa cembung sejajar dengan
sumbu lensa akan dibiaskan menuju titik fokus lensa.

2.3 Aberasi
Aberasi disebutj uga kesesatan atau kecacatan lensa.
Aberasi adalah kelainan bentuk bayangan yang dihasilkan
oleh lensa atau cermin. (Tippler, 2001). Aberasi optik adalah
degradasi kinerja suatu sistem optik dari standar pendek atan
paraksial optika geometri. Degradasi yang terjadi dapat
disebabkan sifat-sifat optik dari cahaya maupun dari sifat-sifat
optik sebagai medium terakhir yang dilalui sinar sebelum
mencapai mata pengamatnya.
1) Aberasi Sferis
Aberasi sferis adalah gejala kesalahan terbentuknya
bayangan yang diakibatkan pengaruh kelengkungan lensa atau
cermin. Aberasi semacam ini akan menghasilkan bayangan

yang tidak memenuhi hukum-hukum pemantulan atau


pembiasan. Ada dua jenis aberasi sferis :
2) Aberasi Kromatik
Aberasi kromatik adalah pembiasan cahaya yang berbeda
panjang gelombang pada titik fokus yang berbeda. Prinsip
dasar terjadinya aberasi kromatis oleh karena fokus lensa
berbeda beda untuk tiap tiap warna. Ada dua macam
aberasi kromatik :
3) Aberasi Monokromatik
Aberasi monokromatik sering juga disebut aberasi tingkat
ketiga adalah aberasi yang terjadi walaupun sistem optik
mempunyai lensa dengan bidang sferis yang telah sempurna
dan tidak terjadi dispersi cahaya.
4) Koma
Koma adalah gejala dimana bayangan sebuah titik sinar
yang terletak di luar sumbu lensa tidak berbetuk titik pula.
Dapat dihindari dengan diafragma.

Gambar 3.1 Perancangan Beam Expander dengan menentukan parameter


surfaces

5) Distorsi
Distorsi
adalah gejala bayangan benda yang
berbentuk bujur sangkar tidak berbentuk bujur sangkar lagi.
Dapat dihindari dengan lensa ganda dengan difragma di
tengahnya.
6) Astigmatisme
Astigmatisme adalah gejala dimana bayangan benda titik
tidak berupa titik tapi berupa ellips atau lingkaran.
Astigmatisme itu sama dengan koma namun koma terbentuk
akibat penyebaran gambar dari suatu titik pada suatu bidang
yang tegak lurus pada sumbu lensa sedangkan astigmatisme
terbentuk sebagai penyebaran gambar dalam suatu arah
sepanjang sumbu lensa.
III. DESAIN DIVAIS OPTIK BEAM E XPANDER DENGAN
MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK OSLO
3.1 Pengenalan OSLO
OSLO (Optics Software for Layout Optimization)
adalah software yang digunakan untuk mendesain suatu
divais optik. Umumnya layar permukaan OSLO terdiri
dari dua surfaces yaitu object surface di bagian kiri dan
image surface di bagian kanan. Ada 3 parameter utama
dalam setiap surfaces yaitu jari-jari kelengkungan (ketebalan
material), indeks refraksi (tipe kaca), dan jari jari apperture.
OSLO terdiri dari beberapa bagian, yaitu : Command,
Spreadsheet, Main Window, Graphic Windows, Status Bar,
Text Window, dan Slider-whell Window.
Desain beam expander dilakukan dengan memasukkan
nilai tertentu pada parameter surfaces sebelum disimulasikan.
3.2. Eksperimen Desain Divais Optik Beam Expander
Desain yang dilakukan dengan menggunakan perangkat
lunak OSLO menggunakan dua buah lensa yang memiliki titik
fokus berbeda, yaitu 100mm dan 330mm. Beberapa parameter
surfaces diberikan untuk desain beam expander.

Gambar 3.2 Tampilan desain Beam Expander dengan menggunakan software


OSLO

Setelah dilakukan desain beam expander dengan


menggunakan perangkat lunak OSLO selanjutnya dilakukan
eksperimen secara langsung. Eksperimen dilakukan dengan
menggunakan sebuah laser dan dua buah lensa dengan titik
fokus berbeda dan posisi yang diatur sesuai desain pada
OSLO.
Hasil eksperimen dengan laser dan lensa memberikan hasil
yang berbeda dengan desain divais pada perangkat lunak
OSLO, seperti yang ditampilkan pada tabel berikut ini :
TABLE 4.1
PERBANDINGAN H ASIL DESAIN BEAM EXPANDER MENGGUNAKAN
PERANGKAT LUNAK OSLO DAN EKSPERIMEN LANGSUNG

Desain Divais Optik

Radius

Aperture
Radius

Ukuran
Beam

Perangkat Lunak OSLO

5mm

17.025mm

3.4 X

Eksperimen langsung

2mm

5mm

2.5 X

Pada hasil percoban diperoleh perbesaran beam pada


eksperimen langsung sebesar 2,5 kali. Sementara pada
simulasi dengan OSLO diperoleh perbesaran 3,4 kali.
Perbedaan hasil yang diperoleh dapat terjadi karena beberapa
faktor. Salah satunya adalah pengaturan posisi lensa dan laser.
Pengaturan posisi lensa dan laser sesuai dengan desain pada

OSLO dilakukan secara manual. Hal ini memungkinkan


terjadi kesalahan karena posisi laser yang tidak tepat pada
sumbu utama. Perambatan kesalahan juga terjadi akibat layar
yang berfungsi menangkap beam hanya menggunakan kertas
dan digambar dengan alat tulis.
Perbesaran yang terjadi pada eksperimen langsung pun
tidak mengalami perubahan meskipun jarak kedua lensa
diubah. Hal ini dapat terjadi akibat cahaya laser yang jatuh
tidak tepat pada titik fokus. Berkas cahaya mengalami bias
sehingga titik fokus tidak membentuk conical sempurna dan
berpengaruh pada perbesaran bayangan yang terjadi.
Kecacatan pada lensa atau aberasi juga berpengaruh pada
hasil eksperimen. Simulasi yang dilakukan pada perangkat
lunak OSLO memberikan informasi faktor yang berpengaruh
pada desain beam expander adalah sebagai berikut :

Gambar 3.4 Analis aberasi kromatis

Hasil simulasi dengan menggunakan perangkat lunak


OSLO menunjukkan adanya pengaruh dari aberasi kromatis.
Sementara pada eksperimen langsung yang dilakukan juga
mengindikasikan terjadinya aberasi kromatis. Aberasi ini
terjadi akibat perbedaan panjang gelombang dari sumber
cahaya (laser) mengakibatkan titik fokusnya juga berbeda.
Laser yang digunakan tidak benar - benar bersifat
monokromatis. Pada batas tertentu cahaya berwarna lain yang
menyebabkan perbedaan panjang gelombang cahaya yang
dihasilkan laser.
IV. KESIMPULAN

Gambar 3.3 Ray Intercept Curves Analysis

Dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat


disimpulkan bahwa :
Dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Dalam perancanagan beam expander dan desain optik
lain di gunakan software OSLO.
2. Dalam eksperimen pembuatan beam expander
menggunakan laser dan dua lensa didapatkan nilai
perbesaran beam yang berbeda dengan desain
menggunakan software OSLO .
3. Manfaat atau kegunaan dari ekperimen ini adalah untuk
mendesain optik dengan optimasi untuk menurunkan
aberasi.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]

Modul Praktikum Teknik Optik 2014


Bennett, C.A.,2008. Principles of Physical Optiks. USA: John Wiley &
Sons.
http://optikafisika.blogspot.com/2013/03/teori-aberasi.html
http://www.edmundoptics.com/technical-resources-center/lasers/beamexpanders
http://spie.org/x34432.xml
http://share.its.ac.id/pluginfile.php/2002/mod_resource/
content/1/OPTIKA_GEOMETRI.pdf