Você está na página 1de 5

TUGAS MATA KULIAH KEPERAWATAN KLINIK 2A

ANALISIS JURNAL TENTANG WSD

oleh :
Julvainda Eka Priya Utama

( 102310101032 )

Program Studi Ilmu Keperawatan


Universitas Jember
2011

ANALISA JURNAL
Pneumothorak merupakan suatu keadaan dimana terdapat udara didalam
rongga dada. Kondisi ini merupakan suatu keadaan yang masuk dalam ketegori
kegawatdaruratan karena kondisi ini sangat berbahaya bagi keselamatan pasien.
Pneumothorak harus segera diatasi karena gangguan tersebut dapat menyebabkan
masalah pada sistem pernapasan pada pasien yang bersangkutan. Pneumothorak
dapat terjadi secara traumatic, iatrogenik, maupun spontan.
Prinsip terapi pada pneumothorak atau hidropneumothorak adalah dengan
mengeluarkan udara maupun cairan yang ada pada pleura baik dengan aspirasi
maupun dengan penggunaan water sealed drainage. Sedangkan terapi lainnya
tergantung pada penyakit paru yang mendasari maupun yang menyertainya.
Dari laporan kasus yang ada, seorang pasien laki-laki datang ke rumah
sakit dengan keluhan sesak napas, nyeri dada dan batuk berwarna kehijauan sejak
dua minggu. Pasien juga mengeluh badan terasa lemas, dan berat badan yang
berkurang selama tiga bulan terakhir.Pada pemeriksaan dada didapat pergerakan
dada yang tidak simetris yaitu pergerakan dada kanan yang tertinggal, perkusi di
dapatkan suara hipersonor pada dada kanan atas dan redup pada area dada kanan
bawah. Pada kasus tersebut, diagnosa yang di dapat adalah hidropneumothorak
kanan spontan sekunder akibat tuberkulosis.
Terapi yang dilakukan adalah pemasangan water sealed drainage dan
pemberian obat. Namun sayangnya, pemasangan WSD tidak dapat dilakukan
karena adanya kendala teknis sehingga dilakukan alternative tindakan yaitu
pemasangan water sealed drainage mini. Perbedaan prosedur pada pemasangan
WSD mini dengan WSD besar adalah pada WSD mini menggunakan kateter iv
dan fiksasi selang transfusi.

Peralatan yang digunakan dalam pemasangan WSD mini adalah botol


infus bekas yang di sterilkan dan diisi dengan desinfektan, kapas alkohol, spuit,
set selang transfusi, plester, dan kasa steril. Prosedur persiapan alat dimulai
dengan memotong botol infus menjadi kotak, kemudian selang dipasang dan
diberi plastik spuit yang telah dilapisi kasa pada area tempat insersi agar tidak
melukai kulit pasien.
Prosedur ini dimulai dengan memposisikan pasien dalam posisi duduk
pada tempat tidur pasien. Kemudian kateter di pasang pada area yang mengalami
pneumothorak setelah area pungsi di sterilkan dan diberi anestesi infiltrat dengan
lidokain 2%. Setelah WSD mini di pasang selama 30 menit, cairan dan udara
dalam pleura telah keluar dan tampak undulasi pada selang WSD saat cairan
keluar dari dada pasien. Setelah dilakukan pungsi cairan dan udara tersebut,
pasien menyatakan bahwa napasnya menjadi lebih lega dan tidak sesak napas lagi.
Pemasangan WSD ini tetap dipertahankan selama 2 jam dan pasien diobservasi
secara ketat.
Dari evaluasi yang dilakukan beberapa hari selama tindakan pemasangan
WSD mini didapatkan hasil yaitu pada hari kedua masih tampak adanya cairan
yang keluar dari dada pasien, pada hari ketiga pasien mengatakan bahwa sesak
napas yang dialami telah hilang dan keadaan pasien terus membaik serta paruparu pasien telah mengembang kembali hingga WSD di lepas pada hari ketujuh.
Pasien pulang pada hari kedelapan dan rencana pengontrolan telah dibuat untuk
memantau kondisi pasien.
Selama ini, tindakan WSD yang selalu menjadi pilihan awal adalah
penggunaan WSD besar, padahal pada kenyataannya, WSD besar tidak selalu
tersedia terutama pada pelayanan tingkat primer.masalah utama yang dihadapi
pada penggunaan WSD besar adalah ukuran kateter yang besar sehingga kateter
tidak stabil dan mudah tertekuk sehingga paling lama hanya dapat bertahan
selama satu hari. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai
modifikasi bentuk WSD sehingga dapat dipergunakan pada kondisi apapun.

Dengan adanya modifikasi pada WSD mini pada kasus diatas, diharapkan
mampu membuat proses penyembuhan pada pasien menjadi lebih optimal. Fiksasi
yang dilakukan terbukti mampu membuat kateter menjadi lebih stabil dan tidak
goyah atau tertekuk sehingga proses pengeluaran udara dan cairan dapat
dilakukan dengan sempurna. Oleh karena itu, diharapkan penggunaan WSD mini
dapat menjadi alternative pilihan untuk menangani pasien yang membutuhkan
pungsi cairan dan udara yang tidak mungkin dilakukan pemasangan WSD biasa.

DAFTAR PUSTAKA

www.ebookpp.com/kateter-mini-hemopthorak
www.scribd.com/pemasangan-wsd